1
A. Sejarah Nusantara
Ancangan Sejarah manapun tidak akan mencapai tujuannya jika tidak memperhatikan faktor geografis.1
Berdasarkan latar belakang historis bahwa tata ”Nusantara” adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa kuno. Kata ini terdiri dari kata-kata nusa yang berarti ‘pulau’ dan antara berarti ‘lain’. Istilah ini digunakan dalam konsep kenegaraan “Jawa” artinya daerah di luar pengaruh budaya Jawa. Dalam penggunaan bahasa modern, istilah nusantara biasanya meliputi daerah kepulauan Asia Tenggara atau wilayah Austronesia. Sehingga pada masa sekarang ini banyak orang menggunakan istilah geografis ini untuk menunjukkan sebagai satu kesatuan pulau di Nusantara termasuk wilayah-wilayah di Semenanjung Malaya (Malaysia, Singapura) dan Filipina bahkan beberapa negara di wilayah Indochina seperti Kamboja akan tetapi tidak termasuk wilayah Papua. Di sisi lain, istilah geografis Nusantara saat ini sering diartikan sebagai Indonesia yang merupakan satu entitas politik. Fokus dari diskusi buku ajar ini adalah kepada istilah geografis Nusantara sebagai wilayah Indonesia pada masa sekarang ini.
A.1. Sejarah Singkat Nusantara
Wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau sebaliknya. Persinggahan para pelayar dan pedagang dari berbagai mancanegara telah
menjadikan Nusantara sebagai tempat kehadiran semua kebudayaan besar didunia. Bukti-bukti penemuan artefak-artefak seperti prasasti, uang logam dan gerabah memberikan informasi kehadiran bangsa-bangsa besar tersebut. Seperti prasasti berbahasa Tamil ditemukan di desa Lobu Tua pesisir Barat Sumatra (Barus)1, porselin dan gerabah Cina ditemukan di Palembang, nisan dan
uang logam Arab ditemukan di Aceh. Dari penemuan-penemuan tersebut, para arkeolog dan sejarahwan menyusun kronologis sejarah Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sekitar seribu tahun lamanya, dari abad ke-5 sampai ke-15, kebudayaan-kebudayaan India mempengaruhi Sumatra, Jawa dan Bali, dan Kalimantan bersamaan dengan dataran-dataran rendah yang luas di
Semenanjung Indocina. Kebudayaan India ini awalnya pada penyebaran agama Hindu dan Buddha dan Islam di Indonesia. Di Jawa Tengah, candi Borobudur dan Prambanan adalah monumen yang sama nilainya dengan Angkor dan Pagan.
Pada abad ke-7 hingga ke-14, kerajaan Budha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah TiongkokI Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan
Semenanjung Melayu. Pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracaritaRamayana.
Sumatra. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoriti Hindu. Agama Islam ini dibawa oleh pedagang Arab dari Parsi dan Gujarat melalui pembauran. Kesultanan kecil Samudra Pasai disebelah utara Sumatra menjadi bandar yang ramai pada masa itu. Berdasarkan catatan Gastaldi (1548), seorang ahli kosmografi dan enjineer dari Italia, pelabuhan atau bandar kesultanan Samudra sebagai yang terbaik di pulau tersebut, dan melalui proses evolusi nama, istilah Sumatra dikenalkan pertama kali oleh orang Eropa Nicholò de’ Conti, sebelumnya Marcopolo menyebut dengan “Samara”, kemudian Friar dan Odoric menyebut dengan “Sumoltra”, Ibnu Battuta menyebut “Samudra”. 2 Melalui evolusi yang sama, nama Borneo pada mulanya adalah nama sebuah pelabuhan
Brunei, yang pada masa itu merupakan nama kerajaan terpenting di Kalimantan Barat.3
Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut. Penyebaran Islam didorong hubungan perdagangan di luar Nusantara; umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan penting termasuk Mataram di Jawa Tengah, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku di timur.
Peradaban Eropa, hadir sejak abad ke-16, mula-mula dalam bentuk peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan Belanda. Marcopolo menjadi orang Eropa pertama yang bercerita tentang perjalanannya ke bandar-bandar pantai utara “Samara” pada tahun 1291.
Mulai tahun 1602Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah Nusantara dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Pada dekad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara
langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta. VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan
Banten. Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir dekad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Pada 1901 pihak Belanda melancarkan Politik Etis (Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini. Pada saat ini, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan kota-kota dengan berbagai macam fasilitas seperti bangunan perkantoran, rumah sakit, bangunan ibadah (masjid dan gereja) dan lain sebagainya.
Penetrasi Jepang di Asia Tenggara pada tahun 1941 disambut pada bulan yang sama dengan menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
A.2. Geografi dan Lingkungan
Nusantara beriklim tropis sesuai dengan letaknya yang melintang di sepanjang garis khatulistiwa. Dataran Indonesia kurang lebih 1.904.000 kilometer persegi terletak antara 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur.
Ternate, Tidore, Seram dan Ambon), dan Irian Jaya beserta kepulauan Aru. Seluruh pulau di Indonesia termasuk dalam zona iklim khatulistiwa dengan suhu yang hampir konstan serta dipengaruhi oleh angin musim dan angin pasat.
Secara geologis, Nusantara terdiri dari bentukan vulkanik dan nonvulkanik yang saling berjalin, sehingga Indonesia merupakan wilayah seismik paling aktif di dunia, tercatat kira-kira 500 gempa bumi setahun. Sejak akhir tahun 2004 hingga 2006 tercatat lebih dari 1000 kali gempa bumi. Selain gempa bumi, wilayah Nusantara juga merupakan wilayah yang rawan tsunami, berdasarkan katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali, terakhir kali bencana tsunami yang paling besar terjadi akhir 2004 melanda wilayah Naggroe Aceh Darussalam.
A.3. Keragaman Budaya
Indonesia memiliki 18,018 buah pulau yang tersebar di sekitar khatulistiwa mulai dari 60 garis lintang utara dan 110 garis lintang
selatan serta 950 dan 1400 garis bujur timur. Diantara puluhan ribu pulau tersebut terdapat lima pulau besar, yaitu: Jawa, Sumatra,
Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, dengan pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana lebih dari setengah (65%) populasi Indonesia hidup dipulau ini. Flora dan fauna Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Setiap pulau memiliki kekhasan sendiri dan sering menjadi ikon dalam perkembangan wilayah atau daerah tersebut. Selain itu, Indonesia juga kaya dengan keberagaman etnis, terdapat kurang lebih 300 suku yang berbicara dalam 500 bahasa dan dialek.
Berdasarkan sosial linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Austronesia yang kelompok wilayahnya persebarannya meliputi banyak pulau di Asia Tenggara, sebagian dari Vietnam Selatan, Taiwan Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar sehingga memiliki banyak kesamaan warisan budaya. Pengaruh budaya Austronesia pada budaya Indoenesia terlihat dalam budaya materi, organisasi sosial, kepercayaan, mitos, serta bahasa. Indonesia, selain kekayaan bahasa, masing-masing etnis memiliki keunikan adat istiadat dan budaya yang sering direfleksikan dalam keunikan arsitektur lokal atau vernakular. Apabila setiap etnik memiliki satu karakteristik arsitektur vernakular, maka terdapat kurang lebih 500 arsitektur vernakular di Indonesia yag merupakan kekayaan tiada tara bagi bangsa Indonesia.
B. Nusantara dan Jaringan Asia
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, wilayah Nusantara terletak pada persilangan jalan, antara Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik, atau lebih khusus, Benua Asia dan Australia. Persilangan ini telah menjadikan wilayah Nusantara sebagai tempat persinggahan bagi pelayar dan pedagang terutama dari China ke India atau sebaliknya. Selain kedua bangsa Asia ini, terdapat juga pengaruh lain dari berbagai budaya hebat di dunia seperti peradaban Iberia (Spanyol dan Portugis), kemudian Britania Raya, dan Belanda. Dari luas dan letak wilayahnya, Indonesia dikategorikan sebagai negara besar yang cukup berpengaruh di Asia. Jaringan ini telah berlangsung beratus tahun lamanya, beberapa peninggalan budaya yang nampak atas pengaruh yang pernah singgah masih ada seperti misalnya kebudayaan India pengaruhnya mencakup terhadap penyebaran dan perkembangan Hindu Buddha dan Islam di Indonesia yang bisa diketahui dari tinggalan budayanya yaitu arsitektur candi dan arsitektur masjid bergaya Moghul di Indonesia. Sama halnya dengan India, pengaruh kebudayaan China hingga sekarang ini masih sangat besar dapat terlihat dalam berbagai sapek kehidupan; kepercayaan, bahasa, makanan, sistem pertanian dan lain sebagainya.
Kemajuan maritim di China pada masa Dinasti Ming telah membawa pelayar-pelayar tangguh mengarungi wilayah Nusantara. Perdagangan silang antara China dan India telah membuat Nusantara dan Asia Tenggara menjadi tempat persinggahan setiap kali berlayar. Pertukaran budaya terjadi dengan adanya interaksi perdagangan antara pedagang atau pelayar China dengan penduduk setempat yang disinggahi. Terdapat banyak tinggalan sejarah yang mendapat pengaruh peradaban Cina di Indonesia terutama pada klenteng dan bangunan pertokoan yang tersebar pada kota-kota lama di seluruh wilayah Indonesia.
Budaya Jepang pertama kali masuk ke Nusantara pada sepertiga abad ke 20. Melalui propaganda militer ”saudara tua” Jepang dengan leluasa masuk ke wilayah Nusantara. Penetrasi politik Jepang selama 3,5 tahun tidak banyak meninggalkan monumen atau tinggalan bangunan bersejarah di Indonesia seperti halnya India dan Cina, akan tetapi kemiripan pada arsitektur vernakular yang sangat dipengaruhi oleh budaya Austronesia menjadi pembahasan yang menarik dalam buku ajar ini. Sebagai salah satu negara besar dengan konsep arsitektur timur yang kuat pernah menduduki Nusantara maka sangat penting untuk diketahui bagaimana sejarah perkembangan dan konsep arsitektur Jepang.
Pembahasan buku ajar ini selain menjabarkan sejarah perkembangan arsitektur di Indonesia yang mendapatkan pengaruh dari peradaban Asia (India, Cina dan Jepang) di Indonesia juga membahas konsep dan perkembangan arsitektur di ketiga negara tersebut. Arsitektur Nusantara, dan Arsitektur Asia : India, Cina dan Jepang mewakili pemikiran tentang arsitektur timur.
Gambar 1.1. Indonesia dan Jaringan Asia
C. Sejarah Perkembangan Arsitektur Indonesia
Perkembangan kebudayaan erat kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Secara umum periodisasi sejarah budaya Indonesia dibagi atas tiga bagian besar yaitu Zaman Hindu-Budha, Zaman Islamisasi dan Zaman Modern, dengan proses oksidentalisasi. Sebenarnya terdapat satu zaman lagi sebelum zaman Hindu Buddha yaitu Zaman prasejarah akan tetapi pembahasan serta diskusi tentang zaman ini tidak banyak contoh yang tersisa dalam bidang arsitektur terutama pada masa prasejarah awal.1 Perkembangan
arsitektur mulai dari masa Prasejarah Akhir yang ditandai dengan ditemukannya kubur batu di Pasemah, Gunung Kidul dan Bondowoso. Kemudian situs-situs megalitikum punden berundak di Leuwilang, Matesih, Pasirangin.
Sebagaimana diketahui bahwa sejarah budaya yang melahirkan peninggalan budaya termasuk arsitektur sejalan dengan periodisasi tersebut diatas, maka dapat dikategorikan sebagai arsitektur percandian, arsitektur selama peradaban Islam (bisa termasuk
arsitektur lokal atau tradisional, dan pra modern) dan arsitektur modern (termasuk arsitektur kolonial dan pasca kolonial).
Keberadaan arsitektur lokal yang identik dengan bangunan panggung berstruktur kayu telah ada sebelum atau bersamaan dengan pembangunan candi-candi. Hal ini ditunjukkan dari berbagai keterangan pada relief candi-candi dimana terdapat informasi tentang
ada di Indonesia, tidak ada yang lebih dari 150 tahun.
Pembahasan pada buku ajar ini tentang perkembangan arsitektur Indonesia dapat diurutkan sebagai berikut :
− Arsitektur vernakular
− Arsitektur klasik atau candi
− Arsitektur pada masa perabadan atau kebudayaan Islam
− Arsitektur Kolonial
− Arsitektur Modern (pasca kemerdekaan)
.
A
rsitektur NUSANTARA PADA ERA
Hindu dan Buddha
A. Kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara
Selama era kerajaan Hindu dan Buddha terdapat dua dinasti yang berkuasa sekitar abad ke-8 hingga ke-10 yaitu dinasti Sanjaya dan Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu aliran Siwa, sementara dinasti
Syailendra menganut agama Buddha Mahayana atau Vajrayana. Peninggalan dari ketdua dinasti ini berupa prasasti dan candi. Keluarga Sanjaya memiliki kekuasaan di bagian utara Jawa Tengah, dan keluarga Syailendra di bagian Selatan Jawa Tengah. Sehingga dari abad ke-8 dan ke-9, candi yang ada di Jawa Tengah Utara bersifat Hindu, dan yang ada di Jawa Tengah Selatan bersifat Buddha
Pembangunan candi terkait dengan kerajaan di Nusantara pada masa perkembangan agama Buddha dan Hindu di Indonesia. Terdapat ratusan prasasti-prasasti yang ditanda tangani oleh raja-raja yang berkuasa pada saat itu.
Keberadaan kerajaan-kerajaan Hindu Budha dimasa lampau diketahui dari prasasti-prasasti. Prasasti dari kerajan tertua di nusantara ditemukan di Kutei, Kalimantan Timur. Prasati ni berbentuk ‘yupa’. Yaitu tugu peringatan upacara kurban. Menurut bentuk dan tulisan yang digunakan, prasasti ini diperkirakan dibuat pada tahun 400 Masehi, prasasti ini menceritakan sebuah kerajaan di Kalimantan timur (Kutei) diperintah oleh seorang raja bernama Mulawarman. Setelah prasasti Kutei ini, terdapat ratusan prasasti yang bercerita tentang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara sekaligus juga bercerita tentang bangunan suci (candi), bahkan ada nama candi di prasasti yang tidak bisa ditelusuri namanya dengan candi yang dikenal. Umumnya prasasti tersebut dibuat pada abad ke-9. Selain peninggalan prasasti, terdapat pula candi-candi yang didalamnya terdapat arca yang menjadi bukti keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut di masa lampau. Ada juga berita tentang keberadaan kerajaan tersebut berasal dari berita ekspedisi pada pendeta Buddha Tiongkok (Cina) ke nusantara misalnya berita dari pendeta I-Tsing yang menyebutkan keberadaan kerajaan Holing (Kaling), kerajaan-kerajaan di Sumatera : Tulang Bawang (Sumatera Selatan), Melayu (Jambi), dan Sriwijaya. Dari I-Tsing diketahui bahwa Sriwijaya merupakan pusat kegiatan ilmiah agama Budha pada masa itu. Buku atau kitab kuno juga merupakan sumber informasi keberadaan kerajaan-kerajaan di masa lampau,
Berikut adalah rangkuman dari berbagai sumber terhadap beberapa prasasti dan candi peninggalan kerajaan-kerajaan pada era Hindu dan Buddha atau sebelumnya.
Tabel 2.1. Tinggalan Sejarah Kerajaan-kerajaan selama era Hindu Budha
Nama Kerajaan/ Dinasti
Prasasti Arca/Monumen Candi Agama
Kutei, Kalimantan Timur 7 buah prasasti Mulawarman, 400 M - - -Taruma-negara, Jawa Barat 7 buah prasasti Purnawarman, 400-500 M
- Batu Jaya, Kerawang Budha
Kaling, Jawa Tengah
Tuk Mas, 650 M - - Hindu-Budha
Sriwijaya 5 buah prasasti, 683 M Arca Buddha, 600 M Muara Takus. Muara jambi, 1064 M Biara di Padang Lawas, 1024 M Budha Budha Budha Mataram, Jawa Tengah Canggal, 732 M Arjuna, 809 M
Lingga dan Yoni Gunung Wukir Kelompok C.Dieng Hindu Hindu Kanjuruhan, Jawa Timur/ Dinasti Sanjaya Kanjuruhan, Dinoyo, 760 M 3 prasasti (a,b,c),856 M Raja Balitung, 907 M Lingga Badut
Wihara Ratu Boko
Siwa, Hindu Hindu-Budha Dinasti Syailendra Kalasan, 778 M Kelurak, 782 M Karang Tengah, 824 M Arca Tara Arca Manjucri Kalasan, Prambanan Plaosan Sewu, Lorojonggrang, Borobudur, Pawon, Mendut Budha Hindu-Budha Hindu-Budha Budha Keluarga Isana, Jawa Timur Sindok, sekitar 929 M Pucangan, dikenal dengan Prasasati Calcutta -Arca Durga Ngetos, Ngawi Gunung gangsir, gempol-Pasuruan Hindu Hindu Keluarga Warmadewa
Sanur, 914 M - Padas, Gunung Kawi,
Tampak Siring
Hindu
Airlangga Pucangan, dikenal dengan Prasasati Calcutta
Arca Wisnu dan garuda (garuda-mukha)
Belahan, Jawa TImur Hindu
Kerajaan Kadiri Sri Jayawarsa, 1104 - - Hindu
Singhasari Wur are,1289 M Pamalayu. 1292 M Prajnaparamita (Ken Dedes) Joko Dolok Amoghapaca Kidal, 1427 M Jago. 1268 M Jawi Singhasari Hindu-Budha Budha Siwa-Budha Siwa-Budha
Majapahit
-Batutulis, Bogor, 1333 M Adityawarman,
Batusangkar
Harihara
Candi Sumberjati, Blitar Candi Anta Antapura Candi Rimbi, Mojokerto Candi Panataran Candi Jabung, 1354 M Candi Surawana dan Candi Tigawangi,1365M Siwa Budha Hindu Hindu Hindu Hindu Hindu B. Arsitektur Candi B.1. Fungsi Candi
Kata Candi pada umumnya dianggap berasal dari kata candikagrha, nama tempat tinggal Candika, Dewi Kematian dan Permaisuri Siwa. Maka, secara harfiah Candi bisa ditafsirkan sebagai bangunan yang digunakan
untuk keperluan pemakaman, atau bahkan sebagai makam. 1. Dahulukala, diduga abu dari jenazah seorang
raja dikubur dibawah bagian tengah candi (peripih). Sehingga seringkali dulu candi digunakan sebagai tempat pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal. Akan tetapi, Candi dibangun bukan semata hanyalah sebagai makam atau tempat pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal, lebih dari candi itu, candi juga difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa yang dilambangkan sebagai arca. Arca tersebut diletakan di ruang tengah candi dahulu kala hanya Pendeta yang memimpin acara pemuajaan yang diperkenankan masuk kedalam ruang tersebut. Candi lebih diyakini sebagai kuil atau tempat pemujaan daripada sebagai makam.
Secara vertikal, struktur bangunan candi terdiri dari tiga bagian yang melambangkan kosmologi atau kepercayaan terhadap pembagian dunia sebagai satu kesatuan alam semesta yang sering disebut dengan ‘Triloka’ terdiri dari dunia manusia (bhurloka), dunia tengah untuk orang-orang yang disucikan (bhuvarloka) kemudian dunia untuk para dewa (svarloka). Ketiga tingkatan ini, dalam struktur candi adalah digambarkan sebagai bagian kaki, badan dan kepala. Arsitektur candi sering juga diidentikan dengan makna perlambangan Gunung Meru. Dalam mitologi Hindu-Buddha, Gunung Meru adalah sebuah gunung di pusat jagat yang berfungsi sebagai pusat bumi dan mencapai tingkat tertinggi surga. Keyakinan seolah-olah mengatakan bahwa gunung sebagai tempat tinggal para dewa.
dalam candi, elemen atau bagian bangunan yang terdapat pada arsitektur candi baik candi Hindu dan Buddha yaitu kala-mekara, peripih, stupa, ratha (mahkota), lingga dan yoni.
Kala merupakan makhluk legenda yang diciptakan Siwa untuk membunuh seorang raksasa. Kala ini diwujudkan dalam berbagai variasi bentuk seperti mahkluk aneh tanpa rahang bawah atau hiasan dengan satu mata. Sedangkan Mekara adalah binatang mitologi berbelalai gajah, surai singa, paruh burung nuri,
dan ekor seperti ikan, yang semuanya merupakan lambang air dan birahi.2 Hiasan mekara ini sering
ditemukan baik pada candi Hindu dan Buddha. Biasanya patung makara ditemukan pada gapura sebagian besar candi klasik awal, makara jarang ditemukan pada jaman klasik akhir di Jawa, tetapi di Sumatra, seperti di kompleks candi Padang Lawas, dimana didirikan perkiraan pada abad 10 mekara ini masih terus digunakan.
Peripih adalah sebuah peti batu yang digunakan awalnya sebagai tempat abu jenazah seorang raja, kemudian pada kenyataan lain, peripih digunakan sebagai wadah untuk menaruh unsur-unsur yang melambangkan dunia materi : emas, perak, perunggu, batu akik dan biji-bijian yang diduga sebagai benda-benda upacara pemujaan. Di dalam peripih terdapat bagian-bagian yang diatur dalam pola seperti
mandala, sembilan atau 25 titik. 3
Stupa merupakan unsur perlambang Buddha dengan bentuk setengah bulatan mempunyai pengertian falsafah melambangkan “kubah syurga” (Dome og Heaven) atau melambangkan struktur kosmik yang menetap. Biasanya diletakkan di bagian atas candi.
Lingga dan yoni adalah sepasang relief atau monumen yang terdapat pada candi Hindu Siwa. Lingga terdiri dari silinder terpadu atau berdiri diatas dasar yang disebut yoni.
B.3. Teknik Konstruksi dan Pembangunan Candi
Bangunan candidi Indonesia umumnya dibangun dengan cara a joint vif, yaitu bebatuan yang saling ditumpuk diatasnya tanpa ada bahan pengikat. Pada awalnya teknik penumpukan batu dilakukan dengan cara membuat perkuatan dengan memotong bagian balok batu untuk membuat semacam lidah dan tekukan yang saling mengunci dengan balok-balok yang bersebelahan baik secara mendatar maupun ke atas. Pada awal abad ke-9, ahli bangunan Jawa menggunakan teknik India mengenai dinding batu berdaun ganda. Jawa merupakan satu-satunya wilayah di Asia Tenggara yang menggunakan cara konstruksi seperti ini. Teknik ini memerlukan pembuatan sepasang dinding sejajar dan pengisian rongga diantaranya dari puing atau dari batu dengan bentuk yang tidak beraturan direkatkan dengan lumpur, kadang-kadang ditambah sedikit kapur
seperti di Loro Joggrang. Lapisan luar batu biasanya diarahkan ke bagian luar dalam serangkaian bebatuan menggantung berjarak tidak rata yang menghasilkan kesan bagian luar bagikan dipahat atau di sesak. Setelah abad ke 9, teknik kontruksi candi agak sedikit berubah sejalan dengan peralihan pusat politik pada masa itu ke Jawa Timur.
Pembangunan candi memiliki tata cara dn upacara ritual. Upacara yang dilaksanakan serigkali dicatat dalam tulisan batu (piagem) atau lempengan perak atau tembaga. Yang brinisiatif membangun candi pada pertama kalinya adalah bangsawan (orang suci) dengan mengajak orang-orang di kampungnya (sekelilingnya) untuk bergotong royong membangun candi. Pertama sekali bangsawan yang menyelenggarakan acara membagikan hadiahpada semua orang yang datang. Kemudian peserta menghiasi diri dengan bunga dan pewarna dan batu suci diletakkan ditengah halaman candi yang yang akan dibangun. Tata cara urutan pembangunan candi seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.
B.4. Pembagian kelompok arsitektur candi
Melihat dari masa pembangunan candi-candi di Nusantara, maka dibagi atas tiga periode1 yaitu masa Klasik
Awal (600 M-900 M), dimana candi Prambanan dan Borobudur dibangun pada masa ini, kemudian masa Klasik Madya (900 M- 1250 M) yaitu candi-candi yang terdapat di Sumatera seperti candi-candi yang ada di Padang Lawas, Muara Takus, dan Muara Jambi. Candi-candi yang dibangun pada Masa Klasik Akhir (1250 M – 1500 M) umumnya terdiri dari konstruksi bata yang secara meluas banyak terdapat di Jawa Timur dimana candi berundak di lereng gunung popular pada akhir periode ini.
Jika dilihat dari sudut pengelompokkan langgam atau jenis serta agama yang mewakili keberadaan candi tersebut, Soekmono membagi menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa tengah Utara mewakili agama Hindu (Siwa),
jenis Jawa Tengah Selatan mewakili agama Budha (Mahayana) dan jenis Jawa Timur mewakili aliran Tantrayana (baik Siwa maupun Budha). Dalam hal ini kellompok candi Loro Jonggrang meruipakan perkecualian, karena berasal dari jaman setelah berpadunya keluarga Sanjaya dan keluarga Syailendra sehingga susunannya terlihat sebagai kelompok candi di Jawa Tengah Selatan akan tetapi keagamaannya mewakili agama Hindu. Pengelompokkan ini sejalan dengan pengelompokkan candi berdasarkan masa pembangunannya.
Candi-candi di Jawa Tengah Utara merupakan candi pada masa klasik awal. Candi di wilayah ini merupakan pemujaan terhadap Siwa dengan bentuk mendekati tipe candi di India, sebagai contoh yaitu candi Arjuna yang merupakan kelompok candi Dieng. Dahulunya, diperkirakan di candi tersebut pernah terdapat arca atau
menembus tembok, upacara ini mirip dengan upacara Siwais dengan cara yang sama seperti candi-candi Palawa di India selatan. Begitu pula halnya dengan candi Bima dimana pada awalnya sama dengan bentuk candi dari provinsi Orissa di India, akan tetapi kemudian banyak mengalami perubahan sekitar tahun 800 M disesuaikan dengan penggunaannya oleh penganut Budha. Beberapa candi yang terpenting lain pada masa dan wilayah ini adalah Candi Gunung Wukir dekat Magelang (732 M), Candi Badut, dekat Malang (760 M), kelompok candi Gedong Songo di lereng gunung Ungaran.
Candi-candi di Jawa Tengah Selatan merupakan candi-candi Budha pertama di Jawa atau dikategorikan juga sebagai candi pada masa Klasik awal. Candi yang termasuk adalah candi Kalasan, dekat Yogyakarta (778 M), candi Sari di dekat candi kalasan, candi Borobudur, candi Mendut di sebelah timur Borobudur, kelompok candi Sewu di dekat Prambanan, kelompok candi Plaosan disebelah timur candi Sewu.
Sebenarnya, terdapat perbedaaan yang cukup signifikan antara candi Jawa Tengah Utara dengan candi Jawa tengah Selatan karena perbedaan peruntukan bangunan keagamaannya. Misalnya, kelompok candi Dieng dan kelompok candi Gedung songo yang merupakan candi Hindu didalamnya terdapat yoni dan lingga, dan
sebagian besar menghadap ke barat. Akan tetapi kemudian, dominasi candi Budha di Jawa tengah Selatan telah memberikan image bahwa candi di Jawa tengah adalah candi budha, dan memang kemudian pengruh Budha juga terdapat pada candi-candi di Jawa tengah Utara. Sehingga akhirnya bisa dikatakan tidak ada perbedaan yang mendasar antara candi di Jawa tengah Utara dengan candi di Jawa tengah Selatan, hanya candi di Jawa tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah dari segi bentuk dan hiasan daripada candi di Jawa Tengah Utara. Oleh karena itu, sering tipe candi di kedua wilayah ini disatukan, perbedaan yang mendasar terlihat dengan candi di Jawa Timur.
Candi-candi terpenting di Jawa Timur adalah candi-candi di sekitar Malang : candi Kidal (candi Anusapati), candi Jago disebut juga candi Wisnuwardhana, candi Singosari (candi Krtanagara). Kemudian candi Jawi dekat Prigen, kelompok candi Panataran dekat Blitar, candi Jabung dekat Kraksaan.
Perbedaan dari kedua tipe candi antara dua wilayah ini dijelaskan pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Perbedaan bentuk dan langgam candi Jawa tengah dan Jawa Timur.
Bentuk dan Tipe candi Jawa Tengah Bentuk dan Tipe candi Jawa Timur
− Bentuk bangunan candi lebih tambun/lebar
− Atapnya nyata berundak-undak
− Puncaknya berbentuk ratna atau stupa
− Gawang pintu dan relung berhiaskan kala mekara
− Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalistik
− Letak candi di tengah halaman
− Bentuk bangunan candi lebih ramping
− Atapnya merupakan perpaduan tingkatan
− Puncaknya berbentuk kubus
− Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja diberi kepala Kala
− Reliefnya timbul sedikit saja dan
lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit
− Letak candi di bagian belakang halaman
− Kebanyakan menghadap ke Barat
− Kebanyakan terbuat dari batu andesit
Sumber : Soekmono, 1973, vol.2, hal 86
Di pulau Sumatra seperti candi Muara takus, candi-candi di Padang Lawas terdapat beberapa candi yang digolongkan sebagai candi pada masa klasik madya. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad 11 dan ke-13 merupakan tempat pemujaan dari batubata aliran Budha esoterik. Diperkirakan bahwa keberadaan candi-candi ini berhubungan erat dengan kerajaan Adityawarman, seorang putra Pangeran Jawa yang pindah dan mendirikan kerajaan di pedalaman Sumatra. Bukti sejarah berupa prsasasti Adityawarman mengungkapkan beberapa fakta sejarah di pedalaman sumatra saat itu. Selain prasasti, terdapat cerita sajarah Kerajaan Pannei (di daerah sekitar sungai Panai, Padang Lawas) diserang oleh kerajaan Cola (India Selatan) pada tahun 1025. Salah satu Bangunan biaro (berasal dari kata vihara) di Padang Lawas memiliki hiasan singa yang mirip dengan ukiran di Polonaruva, ibukota Sriklanka abad ke-11.
Selain kedua bentuk dan langgam diatas, terdapat tipe lain dari candi yang berbeda yang sering disebut dengan pertirtaan dan candi padas. Kelompok ini dimasukan kedalam candi pada masa klasik akhir. Pentirtaan dan Candi padas yang terkenal adalah candi belahan di lereng gunung Penanggungan dekat Mojokerto, dikenal dengan candi berundak, candi Tikus di bekas kota Majapahit (abad ke-14), dan gunung kawi di Tampaksiring (Bali). Kemudian ada lagi jenis bangunan candi yang berupa gapura, terdapat dua jenis gapura yaitu yang pertama, bagian pintu keluar masuk yang mana bagian tubuhnya terdapat lobang pintu, misalnya candi Jedong, candi Plumbangan, dan candi Bajang Ratu. Jenis gapura kedua, rupanya seperti bangunan candi yang dibelah dua atau disebut juga dengan candi bentar yang biasanya identik dengan seni bangunan pada masa Majapahit. Selain candi Waringin Lawang di Majapahit, juga terdapat di Kapal, Bali.
.
A
rsitektur
NUSANTARA pADa masa
perkembangan ISLAM
A. Kerajaan Islam di Nusantara
Islam masuk ke Indonesia kurang lebih abad ke-13 sangat terkait dengan perkembangan perdagangan di wilayah Nusantara. Pada awalnya kedatangan Islam ke nusantara melalui pembauran para pedagang yang berasal dari Gujarat, sebuah wilayah di bagian barat India. Pada masa tersebut terdapat beberapa kota-kota pelabuhan seperti Barus, Pasai, Banten, Demak, Madura yang menjadi titik pertemuan dan penyebaran Islam di nusantara.
Dalam ekspedisi Marco Polo dari Tiongkok ke Persia tahun 1292, kemudian singgah di Peureula’, bagian utara Sumatera (Aceh), pada waktu itu dijelaskan bahwa terdapat penduduk yang beragama Islam dan juga pedagang-pedagang dari India yang giat menyebarkan agama tersebut walaupun disekitar kota masih banyak yang belum memeluk Islam. Tak lama setelah persinggahannya tersebut, pada tahun 1297 di Samudra, sebuah kerajaan di Aceh, ditemukan makam raja Islam, salah satunya makam Sultan Malik al-Saleh. Dari bukti sejarah ini, disimpulkan bahwa Kerajaan Samudra menjadi kerajaan Islam yang pertama di Nusantara. Samudra menjadi pelabuhan niaga yang terpenting di Nusantara hingga akhir abad ke-14. Pada awal abad ke-15, Malaka timbul sebagai pusat perdagangan dan pangkal penyebaran agama Islam.
Sementara di bagian Timur Nusantara timbul pula pusat kegiatan Islam, yaitu Ternate (1430) yang
meluaskan ajaran Islam hingga ke pantai timur Sulawesi. Kejayaan Malaka mencapai daerah Riau (Kampar,
Indragiri), akan tetapi tidak lama bertahan hingga Portugis menakhlukan Malaka pada tahun 1511. Di pulau Jawa, kerajaan Majapahit mendekati masa punjak kejayaannya dibawah pemerintahan raja Hayam Wuruk (1611). Demikian pula, Majapahit digantikan kedudukannya oleh Kerajaan Demak yang kemudian meluaskan agama Islam ke seluruh Jawa hingga bagian selatan Kalimantan sehingga tersebut kerajaan Mataram dan Banten menjadi kerajaan Islam yang besar setelah Demak. Pada abad ke-16 juga timbul kerajaan Brunei yang meluaskan ke Islaman hingga bagian barat Kalimantan, dan juga Filipina. Atas kegiatan orang-orang
Tenggara. Kerajaan Goa menjadi kerajaan besar Islam pada masa itu. Dari Ternate (Kesultanan Ternate dan Tidore), Islam meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku, dan di daerah pantai Timur Sulawesi serta Sulawesi Utara. Demikianlah, hingga akhir abad ke 16, boleh dikata bahwa Islam telah tersebar dan mulai
mengakar di Nusantara. 1
Penyebaran Islam keseluruh Kepulauan Indonesia terbagi dalam tiga tataolahsejarah berbeda (three dintinct historical processes), yang mana masing-masing dikaitkan dengan pola perkembangan. Pendirian negara Islam di Sumatera utara mencerminkan pemunculan pemerintah baru bukan melalui penakhlukan atau peralihan kerajaan yang ada. Namun di Jawa, penguasa Islam menggantikan kekuasaan politis raja Hindu. Elit politik baru tidak sepenuhnya merombak ideologi ataupun lambang penampilan luar penguasa lama; melainkan mereka sangat mempertahankan kesinambungan dengan masa sebelumnya seraya memperkuat peralihan dan perluasan pemerintahan Hindu terdahulu. Sementara di Indonesia timur
(Kalimantan, Sulawesi dan Maluku), raja-raja dengan mudah beralih ke Islam, tidak ada perubahan berarti
dalam hukum dasar negara (kerajaan).2
B. Pertumbuhan Kota-Kota Islam Awal
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kota pertama di Indonesia adalah peningkatan
perdagangan kelautan Asia secara umum pada abad ke-13 dan ke-14. Pada masa itu, perdagangan rempah-rempah dari nusantara ke beberapa negara Asia seperti India dan China mengalami kemajuan yang pesat sementara bangsa Eropa mulai menapak kakinya menguasai pusat pemasok utama rempah-rempah saat itu di Banda. Pusat kerajaan Hindu dan Budha yang sebelumnya menjadi tempat tujuan dan persinggahan dari pedagang dan biksu China maupun India seperti Sriwijaya/Palembang, Mataram dan Trowulan telah tumbuh menjadi pemukiman perkotaan. Disamping itu pusat kerajaan Islam yang tumbuh setelah pudarnya
kejayaan kerajaan Hindu Budha menjadi bandar-bandar baru sebagai titik pintu masuk menuju perairan internasional bersamaan dengan perkembangan kota-kota pelabuhan yang mulai dikuasai oleh Potugis dan VOC.
Bukti kebahasaan sering dikaitkan dengan kemunculan tradisi pemukiman perkotaan di Asia Tenggara. Sebutan Bandar sering digunakan untuk kota-kota pelabuhan saat itu, kata ini berasal dari bahasa Persia yang berarti ”pelabuhan dagang resmi” diterjemahkan secara bebas sebagai town dan city dalam bahasa
Inggris, cicade (Portugis), stad (Belanda). Sementara, istilah ”kota” dalam babad tanah Jawi padanannya khita, kuta, kuto dan negeri, istilah yang sering digunakan sebelumnya pada masa Hindu. Sebutan kuto dalam beberapa sastra Jawa Kuno dan Jawa Peralihan juga dicantumkan seperti dalam Kitab Bomakywya, Ramayana, Bharatayuddha, dan Pararaton. Sebutan kuto ini memiliki persamaan dengan kata yang lazim
didapatkan dalam bahasa Belanda sebagai burcht, kaasteel, vesting, vesterkte legerplaats. 3 Kemudian
dalam bahasa Hindi, ”kota” semula menggambarkan pemukiman bertembok atau benteng, tetapi kemudian menjadi pusat masyarakat, dan sekarang mencakup konsep kota Metropolitan. Dari bukti kebahasaan tersebut diketahui ada dua model kota yang dilihat dari pola modern kehidupan kota yaitu pelabuhan dan benteng.
Pada saat itu, tampaknya ada dua jenis kota yang muncul; pertama, kota sebagai pelabuhan dagang dengan pintu masuk menuju jalur perairan internasional, dan kedua,
kota sebagai pusat administratif dengan daerah pertanian yang makmur. Kota yang terletak di pesisir dan muara-muara sungai besar disebut sebagai pusat Kerajaan Maritim berfungsi sebagai pelabuhan atau titik masuk dan keluar pelayaran seperti Sriwijaya/Palembang, Aceh/Pasai, Banten, Batavia, Banjarmasin, Semarang, Demak, Jepara, Gersik, Tuban, Surabaya, Makassar, Ternate dan Banda. Sedangkan kota jenis kedua, kota yang berada di pedalaman (hinterland) seperti Pagaruyung, Jambi dan Mataram. Perkembangan
perdagangan monopoli rempah oleh Persekutuan Dagang Hindia Timur (VOC) juga mempengaruhi perkembangan kota-kota tersebut di atas pada masa pendudukan Belanda.
Pertumbuhan kota dan permukiman pada kedua kota memiliki karakteristik dan pola sendiri. Kota pesisir di utara pulau Jawa dalam sejarah sangat berbeda dengan daerah pedalaman. Kota pedalaman dicirikan dengan kota dengan istana yang memiliki upacara yang rumit dengan arsitektur yang didasarkan pada penduduk yang bermata pencaharian utama pertanian. Sementara disepanjang pantai utara digambarkan sebagai masyarakat kosmopolitan dengan sederet bandar perdagangan yang lebih cenderung memandang ke luar daripada ke dalam. Perkembangan kota-kota pesisir ini mendapat dukungan dari Pemerintah Hindia Belanda sehingga pada abad ke-17 berkembang pesat dapat dilihat dari perwujudan arsitekturnya.
Kemajuan kota-kota tersebut selain didukung oleh faktor geografi, politik dan ekonomi, juga tidak terlepas dari faktor magis-religius atau unsur kosmologi. Seperti halnya pada pendirian kota kerajaan di Indonesia seperti Yogyakarta, Surakarta, Demak, Cirebon, Banten, dan lain-lain biasanya dihubungkan simbol meru dalam mitologi Hindu. Umumnya kota-kota di Jawa mengikuti poros utara-selatan. Dari beberapa
keterangan, lukisan, map, terhadap beberapa kota tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa morpologi kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Nusantara mempunyai ciri antara lain : ada yang berpagar keliling/benteng (Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Demak, Banten) ada juga yang tidak berpagar keliling (kota Majapahit, Aceh, Gersik, Tuban, Surabaya), pasar, tempat peribadatan (mesjid),
perkampungan, kelompok bangunan keraton, tempat raja atau penguasa yang biasanya terletak di bagian selatan. Pembuatan pagar keliling masa itu ber fungsi sebagai benteng pertahanan terhadap gangguan dari luar kota. Selain itu, dari sudut ekonomi, pagar keliling diperlukan sebagai tempat pemungutan bea-cukai barang-barang dagangan yang keluar masuk kota. Biasanya perkampungan pendatang atau pedagang baik dari wilayah Indonesia yang lain, maupun dari Gujarat, Parsi, Arab, dan Cina (perkampungan dan pasar berada di luar pagar keliling. Pengelompokan perkampungan pendatang ada yang berdasarkan etnis dan ada juga yang berdasarkan pekerjaannya. Sehingga pada saat itu terdapat sebutan Kampung Melayu, Kampung Makasar, Bugis, Ternate, Banda, dan Banjar dan lain sebagainya. Demikian pula kampung
pendatang dari luar wilayah Indonesia dikenal dengan nama kampung Gujarat, Arab, Benggala dan Cina. Di Aceh, kampung pendatang juga dikelompokkan berdasarkan pekerjaannya seperti kampung Pande
( tukang), begitu pula halnya di kota Cirebon, ada yang disebut dengan Panjunan, adalah sebutan untuk kampung para pembuat periuk belanga (a jun). Elemen lain dalam kota masa Islam awal adalah lebuh
agung atau alun-alun, lapangan yang terletak di tengah-tengah kota dan berfungsi sebagai tempat berkumpul atau upacara ritual kerajaan/kota dan kegiatan hiburan.
Perekembangan pesat pada kota-kota pelabuhan dagang Islam membentuk titik perhatian utama pembaharuan arsitektur dan pembangunan kota saat itu, masyarakat pertanian melanjutkan penyesuaian susunan ruang sejenis ”mandala” pada zaman Hindu-Budha. Sementara itu, masjid menggantikan candi sebagai titik utama kehidupan keagamaan. Islam datang ke Indonesia tidak menyebabkan revolusi dalam gaya bangunan, sehingga peralihan dari zaman Hindu-Budha ke era Islam memberikan suatu warna eklektisme seperti halnya yang terlihat peninggalan yang tersisa pemakaman Imogiri di Yogyakarta, Masjid Kudus, Istana Keraton Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Deli dan Ternate.
C. Makam dan Pekuburan Orang Islam
Masa Islam Awal ditandai dengan ditemukannya bentuk monumen seperti makam, mesjid, kuburan dan keraton. Beberapa makam berasas Islam yang ditemukan diperkirakan dibangun pada masa sebelum masyarakat Indonesia sepenuhnya beralih ke Islam. Batu nisan Islam tertua di Indonesia adalah nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin Habatallah ditemukan di Leran Surabaya sebelah barat,
Jawa Timur. Akan tetapi tidak ada informasi yang detail mengenai wanita tersebut.4 Makam yang lain
masih terawat hingga saat ini adalah makam Malik Ibrahim yang meninggal tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur. Dari segi perletakan, makam kadang-kadang berada di dekat mesjid, dan seringkali terletak di tanah lapang di luar desa/kota bersangkutan. Makam tidak pernah ditemukan dalam lingkungan istana setempat. Tidak ada bentuk dan hiasan makam yang spesifik, salah satu ciri utama bentuk makam yaitu balok batu persegi panjang yang menyerupai bangunan, terukir dengan ayat-ayat yang diambil dari Al Quran serta dibubuhi ragam hias yang disebut sayap; sedangkan jenis yang satu lagi lebih umum disebut sebagai bentuk jada atau club. Jenis ini dipakai oleh orang-orang sepanjang Sumatera, dekat kepulauan Riau, dan
Semenanjung Malaka pada abad ke-15 dan 17. 5 Bentuk dan makam di Jawa dipengaruhi oleh budaya Hindu
yang berkembang pada masa sebelumnya. Beberapa makam para sufi atau ulama sperti di Jawa dikenal dengan 9 wali menjadi tempat berziarah hingga saat ini.
Berdasarkan uraian tentang kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam awal dijelaskan bahwa mesjid menjadi tempat peribadatan menggantikan fungsi candi pada masa tersebut. Letak mesjid di kota-kota pusat kerajaan di Jawa disebelah barat alun-alun dan tidak terpisahkan dari komponen inti kota yaitu keraton. Dahulu, pusat kota kerajaan terdiri dari bangunan keraton/istana, alun-alun, masjid, dan tempat tinggal para bangsawan. Dari keterangan dan data sejarah disebutkan bahwa pada sebuah kota pusat kerajaan terdapat beberapa buah mesjid disamping beberapa langgar atau surau atau meunasah. Biasanya inisitaif dari mendirikan mesjid mula-mula timbul dari sultan atau wali, diperkuat dengan unsur-unsur tradisional yang memandang raja atau sultan dan wali sebagai orang-orang magis. Menurut babad, mesjid-mesjid kuno yang didirikan di bawah pimpinan Wali Sanga secara gotong royong adlah mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Cirebon. Di Sumatera, pendirian mesjid juga di inisiasi oleh Sultan atua Raja, begitu juga dari segi letak, seringkali dekat dengan istana. Pada awalnya mesjid didirikan sebagai tempat ibadaah, sejalan dengan perkembangan politik dan pemerintahan, mesjid juga digunakan sebagai pusat kehidupan masyarakat yang berhubungan urusan keagamaan seperti wakaf, peradilan, hukum Islam, zakat.
D.1. Kronologis perkembangan arsitektur masjid
Mesjid-mesjid kuno di Indonesia menunjukkan kekhasan yang membedakannya arsitektur mesjid-mesjid di negeri Islam. Mesjid-mesjid kuno pada awal perkembangan Islam yang mengadopsi konsep-konsep
arsitektur Candi (Hindu/Budha), arsitektur lokal serta arsitektur Cina. Kekhasan gaya arsitektur mesjid-mesjid kuno ini dinyatakan oleh bentuk atap tumpang atau bertingkat 2,3,5, dengan puncaknya dihiasi mustaka atau memolo, denahnya persegiempat atau bujursangkar dengan serambi di depan atau di samping; fondasinya pejal dan tinggi, pada bagian depan atau samping terdapat parit berair (kulah) serta gerbang. Umumnya mesjid tua di Jawa berciri seperangkat empat tiang yang dikenal dengan saka guru seperti :
• Masjid Menara Kudus, di Kudus,Jawa Tengah • Masjid Sendang Dawur di Lamongan, Cirebon • Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah
• Masjid Lima Kaum, Tanah Datar di Sumatera Barat
• Masjid Sultan Abdul Rahman, Kalimantan • Masjid Agung Anke di Jakarta
• Masjid Sumenep di Madura
• Mesjid Angke dan Marunda di Jakarta • Mesjid Agung Demak
• Mesjid Agung Banten
• Mesjid Baiturrahman pada masa Sultan Iskandar Muda • Mesjid di Ternate tahun abad ke 19 (sebelum perubahan)
Kemudian, sekitar awal abad ke-19, arsitektur mesjid-mesjid yang mendapat pengaruh arsitektur India, Timur Tengah dan Kolonial Belanda. Beberapa mesjid yang mendapat pengaruh gaya ini adalah :
• Masjid Raya Baiturahman di Aceh • Masjid Raya Al Osmani di Labuhan, Deli • Masjid Azizi Tanjung Pura, Langkat • Masjid Raya Al Maksum di Deli, Medan • Masjid Agung di Palembang
• Masjid Al Azhar di Jakarta • Masjid Agung Yogyakarta • Masjid Syuhada Yogyakarta • Masjid Agung di Banyuwangi
Perkembangan mesjid sangat pesat setelah kemerdekaan Negara Indonesia. Pada masa ini arsitektur mesjid dipengaruhi oleh gaya modern yang berkembang pada masa itu. Mesjid-mesjid pasca kemerdekaan Indonesia awal yang menonjol yaitu Masjid Agung Istiqlal Jakarta dirancang oleh arsitek F.Silaban, kemudian masjid Salman di Bandung, dan masjid Agung di Jember
D2. Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Mesjid
Arsitektur mesjid di Indonesia beragam, tidak ada suatu rancangan atau pola tertentu yang mengikat. Namun, pada umumnya arsitektur mesjid Indonesia mempunyai konsep dan elemen sebagai berikut:
− Ruang Utama, ruang utama tempat sholat, terdapat didalamnya mihrab dan mimbar
− Mihrab, ruang tempat berdiri imam ( pemimpin sholat berjamaah ) yang berbentuk ceruk atau relung di dinding sisi Kiblat
− Mimbar, kursi atau singgahsana atau tahta tempat para pemimpin memberikan atau menyampaikan masalah-masalah kepada umat atau rakyat.
− Maksurah, bilik berbentuk kotak, berdindingkan pagar atau terali sehingga tembus pandang yang diperuntukan khusus untuk pemimpin pada waktu sholat
− Halaman Terbuka, bagian dari masjid yang berupa lapangan terbuku biasanya dibangun tamana dan sebuah kolam atau pancuran air sebagai tempat bersuci
− Serambi, selasar atau koridor yang mengelilingi ruang utama, biasanya tidak berdinding penuh atau hanya dibatasi tiang saja.
− Menara (minaret), bangunan tinggi tempat muazin mengumandangkan azan.
− Tempat bersuci, tempat mengambil wudhu sebelum masuk ke dalam Masjid berupa kolam, pancuran dan kamar mandi
Dibagian belakang dan samping mesjid kuno di Indonesia biasanya terdapat pula makam raja-raja atau
sultan-sultan, anggota keluarga raja dan orang-orang yang dianggap keramat, H.A.R Gibb dan Kramer6
menjelaskan mengutip dari Masjid makam ini digolongkan sebagai masyhad, contohnya mesjid Demak, mesjid Kadilangu, mesjid Ampel, mesjeid Kuto Gede, Mesjid banten dan sebagainya.
E. Istana Kerajaan Islam
Keraton atau istana selama masa Islam tumbuh subur di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sumbawa, Sulawesi dan Maluku. Setiap raja, besar atau kecil, membangun gugus bangunan lambang kejayaan dan kekuasaan. Umumnya keraton atau istana berada di dalam pagar keliling dan di pusat kota kerajaan. Sehingga terdapat perbedaan di antara dunia ” dalam” dan dunia ”luar” yang diwakili oleh istana (di Jawa terkadng dikenal dengan Dalem) serta lingkungan alam sekitar di luar istana. Pagar keliling tersebut juga membedakan antara ruang yang sakral dan profan. Lingkungan di dalam istana dikenal sebagai ruang yang bersifat sakral, beradab dan halus, dan lingkungan di luar istana sebagai sesuatu yang liar, kasar dan profan. Tata letak istana/keraton diibaratkan berporos pada gunung yang suci atau berada dalam satu garis imajiner dengan gunung dan laut, seperti halnya yang terjadi di Jawa, Sumatera, Sumbawa, dan ternate, dibelakang keraton/istana terdapat gunung yang dianggap suci. Didalam satu kompleks istana terdapat beberapa bangunan yang mana orientasi atau penempatannya mengekspresikan perumpamaan tingkatan atau hierarki dalam masyarakat tersebut. Hal ini terlihat dalam kompleks keraton Yogyakarta.
Di Sumatera, terdapat beberapa istana Kerajaan Islam yang berkuasa pada masa lampau. Sekarang ini masih terdapat beberapa peninggalan bangunannya meskipun kekuasaan raja telah hilang karena
perubahan sistem pemerintahan di negara Indonesia, dengan perkecualian Kesultanan Yogyakarta.
Seperti halnya dengan mesjid, hampir tidak ada suatu pola khusus dalam rancangan istana. Unsur arsitektur lokal dan kolonial mendominasi konsep arsitektural istana pada abad ke-19 dan ke-20, seperti yang terlihat bangunan istana di Sumatera dan Ternate.
.
A
rsitektur VERNAKULAR INDONESIA
A. Sejarah Perkembangan Arsitektur Vernakular Indonesia
A.1. Hubungan Austronesia dan Indonesia
Berdasarkan linguistik, kebanyakan orang Indonesia berbahasa Austronesia, suku bangsa ini memiliki kekayaan 700 - 800 bahasa tersebar pada banyak pulau di Asia Tenggara, termasuk pula Vietnam Selatan, Taiwan, Mikronesia, Polinesia dan Madagaskar. Selain kekayaan bahasa, juga memiliki kekayaan dari budaya materi seperti arsitektur. Budaya Austronesia diperkirakan berasal dari masyarakat yang hidup disepanjang sungai di Cina Selatan dan Vietnam utara sekitar pertengahan abad ke-4 SM. Persebaran orang-orang ini dari tanah leluhur berlangsung sekitar 6.000 tahun yang lalu, dan memuncak sekitar 500 M
dengan menyebarkan penggunan bahasa Austronesia ke sekeliling dunia.1
Pengaruh budaya Austronesia terlihat dalam budaya materi, organisasi sosial, kepercayaan, mitos, dan bahasa. Pengaruh
4
kambing, penggunaan logam yang sederhana, dan pelayaran. Termasuk pula budaya berburu, mendirikan megalit, upacara ritual kematian, berlayar, menenun, membuat gerabah juga peralatan kampak batu untuk bertukang dan sebagai peralatan memotong. Kearifan nenek moyang, mitos, animisme, penguburan mayat dalam peti, tempat pemujaan yang terletak di tempat yang tinggi merupakan pengaruh dalam
kepercayaan. Tradisi monumen-monumen dari batu besar masih subur di beberapa tempat di Indonesia; yang paling menonjol di pulau Nias (pantai barat Sumatra) dan Sumba di kepulauan Nusa Tenggara. Banyak kosa kata dalam bahasa Austronesia saat ini mempunyai asal yang sama, misalnya kata rumah, di Jawa disebut omah, toraja ”banua”, di Roti (Nusa tenggara) ”uma”, minangkabau ” rumah”. Begitu pula halnya pengaruh dalam konsep dan bentuk rumah Austronesia di Indonesia, bagi orang Austronesia rumah bukan sekedar tempat tinggal, melainkan merupakan bangunan teratur berlambang yang menunjukkan sejumlah ide penting perwujudan keramat para leluhur, perwujudan fisik jatidiri kelompok, dunia kecil di jagad raya, dan ungkapan tingkat dan kedudukan sosial. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Rapoport,
bahwa rumah pada masyarakat tradisional mengekspresikan hierarki status masyarakat dan budaya lokal.1
Ciri dan karakteristik mendasar dari rumah austronesia yaitu terdiri atas bangunan persegi empat, berdiri di atas tiang-tiang, beratap ilalang. Pintu masuk berupa tangga yang ditakik dan ada perapian dengan rak di atasnya untuk kayu bakar dan penyimpanan. Bentuk dasar ini mengalami pembaharuan di daerah
Austronesia dan ditemukan di rumah Batak, ”rumah gadang” di Minangkabau, ”rumah Tongkonan” di Toraja, dan ”rumah panjang” di dayak, Kalimantan.
Pengaturan perlambang rumah di dalam rumah yang merupakan ciri lain dari rumah austronesia sering
menggunakan pasangan koordinasi ruang yang berlawanan − ”dalam” dan ”luar”, ”depan” dan ”belakang”,
”kiri” dan ”kanan” , ”timur” dan ”barat” dipetakan dalam kelompok sosial yang dikaitkan dengan hubungan erat antar jenis kelamin, sanak dan saudara, generasi muda dan tua, bahkan antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal, untuk membentuk opografi perlambang yang mengatur dan mewakili hubungan
sosial ini.2
Perlambangan dalam rumah austronesia nampak pada struktur dan bentuk atap menggambarkan berbagai macam bentuk dan simbol dari benda seperti kipas, perahu, dan tanduk kerbau yang mencerminkan
kekuasaan dan nilai kesakralan. Simbol tersebut umumnya juga terdapat pada dinding penutup atap (gable-end). Status sosial atau hierarki dari rumah sering digambarkan dalam dekorasi yang ada di dinding penutup atap.
A.2. Pengertian Arsitektur Vernakular
Kata Vernakular berasal dari vernaculus (latin) berarti asli (native). Maka vernakular arsiektur dapat diartikan sebagai arsitektur asli yang dibangun oleh masyarakat setempat. Paul Oliver dalam bukunya Ensikolopedia Arsitektur Vernakular menjabarkan bahwa arsitektur vernakular konteks dengan lingkungan sumber daya setempat yang dibangun oleh suatu masyarakat dengan menggunakan teknologi sederhana untuk memenuhi kebutuhan karakteristik yang mengakomodasi nilai ekonomi dan tantanan budaya
masyarakat dari masyarakat tersebut. Arsitektur vernakular ini terdiri dari rumah dan bangunan lain seperti lumbung, balai adat dan lain sebagainya.
Beberapa rangkuman pengertian vernakular arsitektur :
" Vernacular architecture owes its spectacular longevity to a constant redistribution of hard-won knowledge,
channeled into quasi-instinctive reactions to the outer world. 3
" Vernacular architecture is the manual-artisan culture of building, based on tectonic logic..." "Building is a craft culture which consists in the repetition of a limited number of types and in their
adaptation to local climate, materials and custom. 4
" Vernacular buildings are built by ordinary people who possess principles, or patterns, that have traditionally been handed over from generation to generation. A living pattern language is essential to true
vernacular construction by those not trained in architecture.4
Dalam hal ini, pengertian vernakular arsitektur sering juga disamakan dengan arsitektur tradisional. Josep Prijotomo berpendapat bahwa secara konotatif kata tradisi dapat diartikan sebagai pewarisan atau
penerusan norma-norma adat istiadat atau pewarisan budaya yang turun temurun dari generasi ke
generasi. Kemudian, Ismunandar menjelaskan bahwa arsitektur traditional, yang diturunkan dari generasi
ke generasi. Arsitektur dan bangunan tradisional merupakan hasil seni budaya tradisional, yang merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia budaya tradisional, yang mampu memberikan ikatan lahir bathin. Di dunia global, kata tradisional sering digunakan untuk membedakan dengan modern. Di
diberikan untuk karya-karya arsitektur asli daerah di Indonesia, salah satu alasannya adalah untuk
membedakan jenis arsitektur yang timbul dan berkembang dan merupakan karakteristik suku-suku bangsa di Indonesia dari jenis arsitektur yang tumbuh dan berkembang atas dasar pemikiran dan perkembangan
arsitektur di Eropa, khususnya arsitektur kolonial Belanda. 5 Kata tradisional berasal dari kata tradisi yang
di Indonesia sama artinya dengan adat (custom), kata adat ini di adopsi dari bahasa Arab. Sehingga seringkali bangunan tradisional disebut dengan “rumah adat.” Pada prinsipnya, baik di dunia global dan Indonesia, kata tradisional diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Selain itu, istilah-istilah lain sering bersentuhan arti dan maknanya dengan vernakular arsitektur yaitu arsitektur rakyat (Folk Architecture), arsitektur lokal atau kontekstual (indigenous architecture) bahkan ada juga yang kemiripan dengan arsitektur alamiah (spontanous architecture). Secara garis arsitektur rakyat diartikan sebagai arsitektur yang menyimbolkan budaya suatu suku bangsa dengan beberapa atribut yang melekat dengannya. Sementara itu, arsitektur lokal atau kontekstual, adalah arstektur yang beradaptasi dengan kondisi budaya, geografi, iklim dan lingkungan dan arsitektur alamiah adalah arsitektur yang dibangun oleh satu masyarakat berdasarkan proses alamiah seperti kebutuhan dasar manusia.
Terdapat beberapa perdebatan tentang sebutan yang tepat bagi arsitektur Indonesia ini, akan tetapi karena kemiripan makna dan arti satu dengan yang lainnya yang semuanya terangkum dalam pengertian arsitektur vernakular seperti yang di jelaskan oleh Paul Oliver dalam bukunya Ensiklopedia Vernacular Architecture, maka penggunaan istilah vernakular menjadi pilihan dalam buku ajar ini.
B. Tipe Arsitektur Vernakular Indonesia: Keberagaman dan
Kesamaannya
Indonesia adalah negara kaya dengan ratusan etnis yang mana setiap etnis memiliki kekhususan budaya tersendiri, sehingga terdapat pula ratusan tipe rumah vernakular di Indonesia. Dari semua tipe tersebut, terdapat beberapa tipe yang memiliki keunikan dan karakteristik yang sangat kuat seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar 4.4. Macam ragam arsitektur vernakular Indonesia
Dari keberagaman arsitektur vernakular Indonesia, jika ditelusuri terdapat kesamaan dari keberagaman tersebut yang berasal dari akar yang sama yaitu budaya Austronesia. Bahkan kesamaan dari keberagaman itu juga nampak dari pada arsitektur non-austronesia seperti Papua. Kesamaan ciri-ciri arsitektur vernakular Nusantara yang juga merupakan ciri dari arsitektur austronesia :
− Tipe rumah panggung
Sebagian besar rumah vernakular Indonesia kecuali rumah Jawa, Bali, Lombok dan Papua,
menggunakan struktur rangka tiang kayu atau tipe rumah panggung sebagai upaya adaptasi dengan iklim dan geografi, menggunakan sistem sambungan tarik dan tekan (sistem pen) tanpa menggunakan paku dan sistem cros-log foundation (balok kayu yang saling tumpang tindih secara horizontal).
− Tiang bangunan mempunyai alas batu. Tiang tidak ditanam didalam tanah, melainkan beralas batu sehingga lebih fleksibel ketika ada guncangan atau gempa.
− Lantai bangunan didukung oleh tiang dan balok kayu yang saling mengikat satu sama lain, biasanya tanpa menggunakan paku.
− Pemanjangan bubungan atap sering dangan sopi-sopi mencondong keluar. Seringklai pemanjangan dibuat lekukan sehingga menimbulkan daya tarik estetis. Dominasi atap tampak pada keseluruhan bangunan. Proporsi atap lebih besar dari pada badan dan kaki (bagian bawah) bangunan. Selain itu itu atap pelana (saddle roof) lebih umum digunakan.
− Memiliki ornamen pada dinding penutup atap (gable end) yang menyimbolkan status sosial, kekuasaan dan karakteristik budaya.
B.1. Pola Perkampungan
Tipikal perkampungan di Indonesia pada dasarnya menggambarkan respon terhadap kondisi alam, tatanan sosial, sistem bercocok tanam, dan kosmologi masyarakat yang mendiaminya. Konsep ruang dalam tatanan rumah dan kampung merupakan bagian penting dari tradisi vernakular. Di Indonesia, terdapat dua tipe tatanan permukiman dan rumah dari kampung-kampung tradisional yaitu linear dan konsentris. Di masa mendatang tatanan ini mengalami evolusi dalam perkembangannya seperti bentuk radial pada kampung di Sumba Barat dan Ruteng di Flores, begitu pula bentuk huruf T pada kampung di Nias Selatan
(Bawomataluo) dan bentuk silang (cross type) pada kampung di Bali.
juga terdapat di pedalaman Sumatra, Nias, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan beberapa wilayah di Jawa. Bangunan pada kampung bersifat linear letaknya berbaris dan berhadapan satu sama lainnya, diantara barisan bangunan tersebut terdapat ruang bersama yang digunakan untuk berbagai macam kegiatan seperi berkumpul, pemujaan atau ritual keagamaan, acara kesenian dan lain sebagainya. Pada ruang terbuka ini pula sering ditempatkan batu megalith, tugu dan tiang sakral keagamaan seperti halnya yang nampak pada kampung-kampung di Nias dan Sumba. Bangunan pemimpin (chief house) atau raja ditempatkan dekat dekat batu atau tugu tersebut atau di ujung pelataran yang membelah barisan rumah dan menjadi akhir dari deretan rumah dan kampung, tetapi ada juga yang ditempatkan di tengah-tengah barisan seperti halnya pada permukiman di Batak Toba.
Ditinjau dari fungsinya, bangunan vernakular Indonesia umumnya terdiri dari tiga bagian ; rumah tinggal, bale adat atau ruang pengadilan atau ruang musyawarah, dan lumbung. Letak ketiga bangunan tersebut bisa saling berhadapan seperti halnya yang terjadi di perkampungan Batak Toba dan Bali Aga.
Perkampungan dengan pola konsentris terdapat di Flores dan Sumba dan Jawa Tengah. Tantanan perkampungan seperti ini memiliki bagian tengah yang dianggap sakral dan penting, misalnya ruang terbuka (tempat berkumpul), batu megalith, tugu atau kuburan para nenek moyang. Orientasi dari barisan rumah menghadap ke titik tersebut yang terdiri dari beberapa layer berdasarkan hierarki atau kedudukan dari status sosial masyarakat. Secara evolusi beberapa kampung memiliki pola gabungan dari linear dan kosentris yang sering disebut dengan compound type.
Pola perkampungan dan perletakan rumah pimpinan menandakan sistem sosial dan kekuatan masyarakat yang mendiaminya. Kampung dengan pola kosentris menyimbolkan penerapan sistem pemerintahan pada kekuatan tunggal yang memusat. Terdapat strata sosial agak kompleks dengan kekuatan terpusat pada satu orang, grup atau kelompok. Semetara, kampung dengan pola linear menggambarkan demokrasi dari distribusi kekuasaan dengan strata sosial lebih sederhana.
Selain kedua tatanan tersebut, ada juga yang disebut dengan pola menyebar (scattered type) atau disperse settlement pattern. Pola perkampungan ini seringkali menggambarkan persamaan struktur sosial (less stratified social struktur) dan kelompok masyarakat yang lebih kecil, bahkan seringkali mencerminkan kehidupan yang berpindah-pindah sebagai akibat dari pergantian sistem bercocok tanam.
B.2. Rumah dan Tatanan Ruang
Konsep tatanan ruang dalam rumah umumnya sama dengan konsep tantanan ruang dalam satu
perkampungan. Pembagian ruang dapat dikategorikan secara vertikal dan horizontal, seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa pembagian ruang ini sebagai respon terhadap sistem sosial kekerabatan, kosmologi dan kondisi alam sekitar.
Secara horizontal, terdapat bagian dari rumah yang dianggap paling sakral atau suci adalah bagian yang paling dalam atau belakang, sehingga menjadi tempat pemujaan atau penyimpanan benda-benda keramat atau warisan leluhur. Di dalam rumah Jawa, ruang yang paling suci berada pada bagian inti rumah yang disebut dengan ”dalem” tepatnya di senthong. Di rumah Batak Toba, bagian yang paling inti atau penting yaitu terletak pada sisi sebelah kanan belakang dari interior rumah yang diebut dengan jabu bona,.
Secara vertikal, pembagiann ruang terdiri dari bagian atas, tengah dan bawah, dengan bagian atas sebagai ruang yang paling sakral sehingga barang-barang yang dianggap keramat disimpan di dalam ruang atas ini. Ruang tengah, adalah untuk kehidupan manusia dan ruang bawah adalah untuk binatang ternak atau
gudang. Pembagian atas tiga bagian ini (tripatite) dipengaruhi oleh kondisi alam dan kosmologi dari
masyarakatnya. Umumnya masyarakat primitif memiliki kepercayaan terhadap pembagian dunia atau alam ke dalam tiga bagian yaitu dunia atas sebagai tempat para dewa, dunia tengah bagi kehidupan manusia, dan dunia bawah bagi roh-roh jahat.
Dari segi bentuk dan morphologi ruang, umumnya rumah vernakular di Indonesia terdiri dari persegi panjang dan bujur sangkar seperti halnya rumah Aceh, Melayu, Batak, Nias Selatan, Mentawai, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Sumba. Namun ada juga yang menggunakan bentuk lingkaran dan ellips seperti rumah di Nias Utara, Lombok dan Papua. Bentuk dan organisasi ruang bergantung kepada kebiasaan dan adat istiadat setempat. Beberapa rumah vernakular Indonesia merupakan tipe rumah komunal artinya terdapat beberapa keluarga yang memiliki kekerabatan dengan beberapa generasi yang berbeda, tinggal dalam satu rumah besar seperti rumah Batak Toba, Karo, Mingkabau, Mentawai,
Kalimantan, Lio (Flores), Sumba. Keluarga tersebut menempati masing ruang dengan masing-masing letak yang telah disepakati, ada yang hanya dibatasi oleh dinding ada pula yang dibatasi oleh perbedaan tinggi lantai, alas (tikar) saja. Ruang-ruang tersebut dihubungkan oleh ruang bersama. Umumnya dalam satu rumah terdapat pemimpin sebagai kepala suku mendiami salah satu ruang yang dianggap paling utama.
Salah satu ciri arsitektur vernakular adalah menggunakan bahan yang alami dan teknik konstruksi yang sederhana dengan cara menyusun tiang dan balok. Penyatuan semua bagian bangunan dilakukan dengan cara membentuk dan menyambung bagian kayu dengan beberapa alat khusus sederhana seperti kampak, gergaji, pahat, golok (parang). Untuk kemudahan pemasangan, seringkali tiang dan balok disambung di tanah sebelum diletakkan di atas batu pondasi.
Penyusunan tiang dan balok pada prinsipnya tidak menggunakan paku, tapi menggunakan sambungan lubang dengan pasak, sambungan pangku dan sambungan takik. Susunan tiang-tiang tersebut bersandar di atas batu pondasi dengan stabilitas didapat dari rel-rel melintang yang masuk ke lubang yang dibuat di dalam tiang.
Perkuatan sistem konstruksi rumah untuk mengantisipasi kondisi alam yang arawan gempa terlihat pada rumah Nias, dengan menambahkan penopang atau batang silang menbentuk huruf X dan V.
Pada bangunan lumbung di Indonesia memiliki kekhususan dari teknik konstruksi yaitu pemasangan
piringan kayu besar disusun di atas puncak tiang dasar untuk mencegah hewan pengerat mencapai tempat penyimpanan padi.
B.4. Upacara Pendirian Bangunan
Bagi orang Indonesia rumah lebih dari sekedar tempat tinggal, tempat berteduh dari panas dan hujan melainkan merupakan bangunan yang ditata secara perlambang yang konteks dengan sosial budaya masyarakat yang tinggal didalamnya. Dengan kata lain, rumah menjadi perlambang status kedudukan seseorang dalam masyarakat, sehingga diperlukan tata cara dalam pendirian rumah. Dalam hal ini, mendirikan rumah dapat dilihat sebagai penerapan hidup dalam lingkungan sosial yang diwakilinya. Upacara dilakukan mulai dari pembersihan lahan rumah, penentuan titik pembangunan rumah, pendirian tiang utama/seri/tengah, pemasangan bubungan atau atap rumah, sampai upacara masuk/penghunian rumah. Hal ini dilakukan secara bertahap dan melibatkan pemilik rumah dan pemuka kampung atau ahli tukang (chief carpenter) atau orang yang dianggap keramat atau sakti. Misalnya, proses pembersihan dan pendirian tanda rumah dilakukan pemilik rumah dalam hal ini ibu/perempuan pemilik rumah dengan orang sakti yang dipanggil bomoh yang tahapannya dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Upacara pembersihan dan meminta izin kepada roh di dunia dan dewa-dewa yang memiliki tanah dilakukan oleh hampir semua etnis atau masyarakat tradisional Indonesia. Ritual ini bertujuan untuk memberikan spirit atau jiwa bagi kehidupan yang berlangsung didalam rumah/bangunan yang didirikan. Spirit atau jiwa dari rumah yang didirikan sering disimbolkan dalam benda keramat yang diletakkan di dalam rumah,
seringkali di letakkan pada bagian tengah atau atas (atap) rumah. Misalnya raga-raga6 yang digantung
dibawah atap rumah Batak Toba. Selain menjadi jiwa atau nyawa dari rumah, berfungsi juga mengusir roh-roh atau gangguan dari luar terhadap keselamatan penghuni rumah.
Selain itu, rumah juga dianggap sebagai perwujudan jagad kecil dari jagat raya. Rumah adalah tempat kelahiran, perkawinan dan kematian. Seringkali upacara yang berhubungan dengan ketiga hal tersebut dikaitkan dengan arah mata angin dan pergerakan matahari. Sehingga unsur kejagadan ini menciptakan tatanan upacara yang mengatur kegiatan di dalam rumah. Sebagai contoh timur dianggap serupa dengan hal-hal memberi kehidupan dan barat identik dengan kematian; maka wanita melahirkan ditempatkan di bagian timur rumah dan orang meninggal ditempatkan dibaringkan di bagian barat. Dalam sisi tegak, pembagian ruang dalam rumah sebagai jagad kecil merefleksikan pembagian ruang dalam alam semesta. Sebagian besar masyarakat tradisional Indonesia membagi alam kedalam tiga bagian; dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Kosmologi ini juga mempengaruhi pembagian ruang dalam rumah ; ruang dibawah atap disamakan dengan alam dewa dan leluhur, lantai mewakili dunia biasa pengalaman sehari-hari dan ruang kosong dibawah rumah dihubungkan dengan alam baka yang dihuni oleh roh jahat, jiwa orang mati dan hal-hal gaib lainnya. Pembagian ini sangat jelas terlihat pada rumah-rumah di Sumatra
khususnya Batak Toba7, rumah di Kalimantan, Tongkonan di Toraja, Sulawesi dan beberapa rumah Sumba
Dalam masyarakat tradisional, selain pembagian rumah yang dikaitkan dengan simbol sebagai jagad kecil, arah kejagadan rumah sesuai dengan penataan ruang perlambang
lain, seperti pembagian dengan konsep berdasar gender serta gagasan mengatur perilaku pria dan wanita. Seringkali wanita dikaitkan dengan bagian dalam atau belakang rumah, dan pria serupa dengan bagian depan atau luar rumah. Pengaturan ruangan keluarga di dalam rumah suku Minangkabau di Sumatera Barat sangat dipengaruhi oleh konsep gender tersebut.
C. Arsitektur Vernakular Indonesia
C.1. Sumatra C.2. Jawa
C.3. Kalimantan
C.4. Bali dan Nusat Tenggara C.5. Sulawesi