• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH JAWA TENGAH BULAN MARET 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DAN HARGA PRODUSEN GABAH JAWA TENGAH BULAN MARET 2017"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

No. 24/04/33/Th.XI, 3 April 2017

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI DAN

H

ARGA

P

RODUSEN

G

ABAH

J

AWA

T

ENGAH

B

ULAN

M

ARET

2017

A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

NILAI TUKAR PETANI (NTP) MARET 2017 SEBESAR 97,50

ATAU TURUN 0,53 PERSEN

 Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah bulan Maret 2017 mengalami penurunan 0,53 persen, yaitu dari

posisi 98,02 menjadi 97,50. Hal ini disebabkan karena perubahan indeks harga yang diterima petani (It) lebih rendah dibandingkan dengan perubahan indeks harga yang dibayar petani (Ib). It mengalami penurunan 0,56 persen, dari posisi 124,97 pada bulan Februari menjadi 124,27 pada bulan Maret 2017. Dan Ib juga mengalami penurunan 0,03 persen, dari posisi 127,50 menjadi 127,46.

 Dari lima sub sektor pertanian komponen penyusun NTP, tiga sub sektor mengalami penurunan indeks yaitu : sub sektor Tanaman Pangan turun 0,77 persen, sub sektor Hortikultura turun 0,47 persen, dan sub sektor Peternakan turun 0,84 persen. Sedangkan dua sub sektor yang mengalami kenaikan indeks yaitu sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,06 dan sub sektor Perikanan naik 0,66 persen.

 Secara umum, indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan indeks sebesar 0,56 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu dari posisi 124,97 menjadi 124,27. Penurunan It dipengaruhi oleh penurunan It pada 3 sub sektor, yaitu : sub sektor Tanaman Pangan turun 0,85 persen, sub sektor Hortikultura turun sebesar 0,46 persen, dan sub sektor Peternakan turun sebesar 0,86 persen. Sedangkan 2 sub sektor lainnya yang mengalami kenaikan yaitu: sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 0,10 persen dan sub sektor Perikanan naik sebesar 0,38 persen.

 Indeks harga yang dibayar petani pada bulan Maret 2017 mengalami penurunan sebesar 0,03 persen bila dibandingkan dengan bulan Februari 2017 yaitu dari posisi 127,50 menjadi 127,46. Penurunan itu dipengaruhi oleh penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,27 persen. Sedangkan Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen.  Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) di Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan

sebesar 1,04 persen atau dari posisi 105,53 menjadi 104,44 dibanding NTUP bulan sebelumnya.  Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) atau IHK perdesaan di Provinsi Jawa Tengah mengalami

penurunan atau terjadi deflasi perdesaan sebesar 0,27 persen. Deflasi terjadi disebabkan penurunan dua kelompok harga, antara lain turunnya kelompok harga Bahan Makanan sebesar 1,05 persen dan kelompok Transportasi dan Komunikasi sebesar 0,04 persen. Sedangkan kelompok harga yang mengalami kenaikan yaitu kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 0,41 persen, kelompok Perumahan sebesar 0,63 persen, kelompok Sandang sebesar 0,27 persen, kelompok Kesehatan sebesar 0,50 persen dan kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga sebesar 0,05 persen.  Dari 33 provinsi di Indonesia, perubahan NTP Maret terhadap NTP Februari 2017 ternyata sangat

beragam. Kenaikan indeks NTP terjadi di 4 provinsi, sedangkan 29 provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 0,58 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 1,37 persen.

(2)

1.

Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah

ilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. Penghitungan indikator ini diperoleh dari perbandingan antara Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib) yang dinyatakan dalam persentase. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) antara produk pertanian yang dijual petani dengan barang dan jasa yang dibutuhkan petani dalam berproduksi dan konsumsi rumah tangga. Dengan membandingkan kedua perkembangan angka tersebut, maka dapat diketahui apakah peningkatan pengeluaran untuk kebutuhan petani dapat dikompensasi dengan penambahan pendapatan petani dari hasil pertaniannya. Atau sebaliknya, apakah kenaikan harga jual produksi pertanian dapat menambah pendapatan petani yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan para petani. Semakin tinggi nilai NTP, relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Mulai Desember 2013 dilakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan NTP dari tahun dasar 2007=100 menjadi tahun dasar 2012=100. Perubahan tahun dasar ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan/pergeseran pola produksi pertanian dan pola konsumsi rumah tangga pertanian di perdesaan, serta perluasan cakupan subsektor pertanian dan provinsi

dalam penghitungan NTP, agar penghitungan Perbedaan antara NTP tahun dasar 2007=100 dengan NTP tahun dasar 2012=100 adalah meningkatnya cakupan jumlah komoditas baik pada paket komoditas It maupun Ib. Penghitungan NTP (2012=100) juga mengalami perluasan khususnya pada Subsektor Perikanan. Selain NTP Perikanan secara umum yang dihitung di 33 provinsi termasuk Provinsi DKI Jakarta, Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) juga disajikan secara terpisah.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di perdesaan di wilayah Jawa Tengah pada bulan Maret 2017, NTP Jawa Tengah mengalami penurunan indeks 0,53 persen dibanding NTP Februari 2017 yaitu dari posisi 98,02 menjadi 97,50. Besarnya indeks NTP tersebut disebabkan karena perubahan indeks harga produk pertanian yang diterima petani lebih kecil dibanding dengan perubahan indeks harga barang dan jasa yang dibayar petani.

Penurunan NTP pada bulan Maret 2017 juga disebabkan oleh penurunan tiga sub sektor yaitu sub sektor Tanaman Pangan turun 0,77 persen, NTP sub sektor Hortikultura turun sebesar 0,47 persen dan NTP sub sektor Peternakan turun sebesar 0,84 persen. Sedangkan NTP sub sektor yang mengalami kenaikan yaitu sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 0,06 persen dan NTP Perikanan naik sebesar 0,66 persen.

2

. Indeks Harga Yang Diterima Petani (It)

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) menunjukkan fluktuasi harga yang beragam dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani.

Gambar 1 NTP Jawa Tengah Februari – Maret 2017 (2012 = 100)

Gambar 2

Perubahan NTP Jawa Tengah per Subsektor Februari-Maret 2017(2012 = 100) 99.00 99.40 99.80 100.20 100.60 101.00 Februari Maret 98.02 97.50 -0.77 -0.47 0.06 -0.84 0.66 -1.00 -0.80 -0.60 -0.40 -0.20 0.00 0.20 0.40 0.60 0.80

(3)

Pada Maret 2017, secara umum It mengalami penuruan indeks yang cukup signifikan sebesar 0,56 persen dibandingkan dengan It Februari 2017, yaitu: dari 124,97 menjadi 124,27. Penurunan It terjadi pada tiga sub sektor, yaitu :sub sektor Tanaman Pangan turun 0,85 persen, sub sektor Hortikultura turun 0,46 persen dan sub sektor Peternakan turun 0,86 persen. Sedangkan 2 sub sektor lainnya mengalami kenaikan yaitu: sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,10 persen dan sub sektor Perikanan naik 0,38 persen..

3. Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib)

elalui Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harg a barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan khususnya petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Maret 2017, Ib tercatat turun sebesar 0,03 persen bila dibandingkan Februari 2017, yaitu dari

127,50 menjadi 127,46. Penurunan Ib terjadi pada 3sub sektor penyusun NTP yaitu: Ib sub sektor Tanaman Pangan turun 0,09 persen; Ib sub sektor Peternakan turun 0,02 persen; Ib sub sektor Perikanan turun 0,28 persen. Sementara kenaikan Ib terjadi pada 2 sub sektor yaitu sub sektor Hortikultura naik 0,01 persen dan Ib sub sektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik sebesar 0,04 persen.

4. NTP Sub Sektor

a. Sub sektor Tanaman Pangan (NTPP)

ada bulan Maret 2017 NTPP mengalami penurunan indeks sebesar 0,77 persen. Penurunan NTPP disebabkan karena penurunan indeks yang diterima petani sebesar 0,85 persen, lebih rendah dibandingkan penurunan indeks yang dibayar petani sebesar 0,09 persen. Penurunan Ib disebabkan oleh turunnya Indeks

Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,29 persen. Sementara Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,49 persen.

105.00 110.00 115.00 120.00 125.00 130.00 135.00 140.00

TP Horti TPR Ternak Ikan

118.70 127.76 136.05 123.12 128.30 117.70 127.17 136.18 122.05 128.78 Februari Maret Gambar 3

Indeks Yang Diterima Petani Jawa Tengah per Subsektor dan Perubahannya Februari - Maret 2017 (2012 = 100)

Gambar 4

Perubahan Indeks Yang Dibayar Petani Jawa Tengah per Sub sektor Februari-Maret 2017 (2012 = 100)

Tabel 1

NTP Subsektor Tanaman Pangan Jawa Tengah dan Perubahannya Februari-Maret 2017 (2012 = 100) -0.30 -0.25 -0.20 -0.15 -0.10 -0.05 0.00 0.05

TP Horti TPR Ternak Ikan

-0.09

0.01

0.04

-0.02

-0.28

No Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17

thd Feb '17 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 118.70 117.70 -0.85

1. Padi 109.61 107.78 -1.67

2. Palawija 143.05 144.24 0.83

II. Indeks Dibayar Petani 130.88 130.77 -0.09 1. Konsumsi Rumah Tangga 133.60 133.21 -0.29

2. BPPBM 123.80 124.40 0.49

III. Nilai Tukar Petani 90.69 90.00 -0.77 Rincian

(4)

b. Subsektor Hortikultura (NTPH)

ilai Tukar Petani subsektor Hortikultura (NTPH) pada Maret 2017 dilaporkan terjadi penurunan indeks sebesar 0,47 persen. Hal ini terjadi karena indeks yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,46 persen, lebih rendah dibanding kenaikan indeks yang dibayar petani, dimana Ib mengalami kenaikan sebesar 0,01 persen. Penurunan yang terjadi pada It disebabkan oleh perubahan indeks harga pada kelompok sayur-sayuran turun sebesar 1,06 persen. Sementara

kelompok yang mengalami kenaikan yaitu kelompok buah-buahan naik sebesar 0,03 persen dan tanaman obat naik sebesar 0,68 persen.

Kenaikan Ib disebabkan oleh kenaikan indeks Biaya Produksi kenaikan dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,64 persen. Sementara indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami penurunan sebesar 0,23 pesen.

c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR)

ada Maret 2017 NTPR mengalami kenaikan indeks sebesar 0,06 persen. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks yang diterima petani sebesar 0,10 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,04 persen.

Kenaikan pada Ib terjadi karena naiknya indeks sub Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,78 persen. Sementara untuk indeks Konsumsi Rumah Tangga mengalami penurunan sebesar 0,30 persen.

d. Subsektor Peternakan (NTPT)

TP sub sektor Peternakan pada bulan Maret 2017 dilaporkan mengalami penurunan sebesar 0,84 persen. Penurunan ini terjadi karena Indeks harga yang diterima petani turun 0,86 persen dan indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,02 persen.

Penurunan yang terjadi pada It disebabkan oleh turunnya indeks harga semua kelompok sub sektor Peternakan yaitu: kelompok Ternak Besar turun

sebesar 0,77 persen, kelompok Ternak Kecil turun sebesar 1,35 persen, kelompok Unggas turun sebesar 0,90 persen dankelompok Hasil Ternak turun 0,67 persen. Sementara itu, penurunan yang terjadi pada Ib

Tabel 3

NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat dan Perubahannya Februari-Maret 2017 (2012 = 100) Desember 2014 – Januari 2015 (2012 = 100)

Tabel 2

NTP Subsektor Hortikultura Jawa Tengah dan Perubahannya Februari-Maret 2017 (2012 = 100)

Tabel 4

NTP Sub sektor Peternakan Jawa Tengah dan Perubahannya Februari-Maret 2017 (2012 = 100)

No Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17 thd Feb '17 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 127.76 127.17 -0.46 1. Sayur-sayuran 113.15 111.96 -1.06 2. Buah-buahan 145.87 145.92 0.03 3. Tanaman Obat 122.36 123.20 0.68 II. Indeks Dibayar Petani 129.10 129.10 0.01 1. Konsumsi Rumah Tangga 134.05 133.74 -0.23

2. BPPBM 117.38 118.13 0.64

III. Nilai Tukar Petani 98.97 98.50 -0.47 Rincian

(2)

No Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17

thd Feb '17 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 136.05 136.18 0.10

1. TPR 136.05 136.18 0.10

II. Indeks Dibayar Petani 128.20 128.26 0.04

1. Konsumsi Rumah Tangga 133.50 133.09 -0.30

2. BPPBM 118.17 119.10 0.78

III. Nilai Tukar Petani 106.12 106.18 0.06 Rincian

(2)

No Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17 thd Feb '17 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 123.12 122.05 -0.86

1 Ternak Besar 127.82 126.84 -0.77 2 Ternak Kecil 107.78 106.33 -1.35 3 Unggas 125.69 124.55 -0.90 4 Hasil Ternak 122.41 121.59 -0.67

II. Indeks Dibayar Petani 121.45 121.42 -0.02

1. Konsumsi Rumah Tangga 133.77 133.41 -0.27 2. BPPBM 113.22 113.41 0.17

III. Nilai Tukar Petani 101.38 100.52 -0.84

Rincian

(5)

disebabkan karena penurunan pada IKRT sebesar 0,27 persen yaitu dari 133,77 menjadi 133,41. Sedangkan BPPBM mengalami kenaikan sebesar 0,17 persen dari 113,22 menjadi 113,41.

e. Subsektor Perikanan (NTN)

ada bulan Maret 2017, NTN

mengalami kenaikan indeks sebesar 0,66 persen. Kenaikan indeks NTN ini disebabkan karena indeks yang diterima petani naik sebesar 0,38 persen, jauh ebih tinggi dibandingkan dengan indeks yang dibayar petani yang mengalami penurunan sebesar 0,28 persen.

Kenaikan yang terjadi pada It disebabkan oleh perubahan indeks harga pada kelompok Perikanan Tangkap yang naik 0,52 persen dan kelompok

Perikanan Budidaya mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen. Penurunan pada Ib disebabkan karena turunnya IKRT sebesar 0,39 persen dan turunnya BPPBM sebesar 0,10 persen.

5. NTUP Sub Sektor

ilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), dimana komponen Ib hanya terdiri dari Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.

Pada Maret 2017 terjadi penurunan NTUP sebesar 1,04 persen dari posisi 105,53 menjadi 104,44. Penurunan NTUP disebabkan oleh turunnya NTUP pada empat sub sektor penyusun NTUP, yaitu sub sektor Tanaman Pangan turun 1,33 persen, sub sektor Hortikultura turun 1,09, sub sector Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 0,68 persen dan sub sektor Peternakan turun sebesar 1,03 persen. Sedangkan sub sektor yang mengalami kenaikan NTUP yaitu sub sektor Perikanan naik 0,48 persen.

6. Indeks Harga Konsumen Perdesaan

erubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka Inflasi/ deflasi di wilayah perdesaan. Pada Maret 2017, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) atau IHK di daerah perdesaan di

Tabel 5

NTP Subsektor Perikanan Jawa Tengah dan Perubahannya Februari-Maret 2017 (2012 = 100)

Tabel 7

IHK Perdesaan Jawa Tengah dan Perubahannya (%) Februari-Maret 2017 (2012 = 100)

Tabel 6

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor, dan PersentasePerubahannya, Maret 2017

(2012=100)

No Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17 thd Feb '17 (%)

(1) (3) (4) (5)

I. Indeks Diterima Petani 128.30 128.78 0.38

1 Tangkap 138.81 139.53 0.52

2 Budidaya 125.96 126.39 0.34

II. Indeks Dibayar Petani 126.53 126.18 -0.28 1. Konsumsi Rumah Tangga 135.97 135.43 -0.39

2. BPPBM 114.02 113.91 -0.10

III. Nilai Tukar Petani 101.40 102.06 0.66 Rincian

(2)

Sub Sektor Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17 thd Feb '17 (%)

(1) (2) (3) (4)

1.Tanaman Pangan 95.89 94.61 -1.33

2.Hortikultura 108.85 107.66 -1.09

3. Tanaman Perkebunan Rakyat115.13 114.35 -0.68

4.Peternakan 108.75 107.62 -1.03

5. Perikanan 112.52 113.06 0.48

a. Tangkap 122.66 123.02 0.29

b. Budidaya 110.28 110.85 0.51

Jawa Tengah 105.53 104.44 -1.04

Rincian Feb '17 Maret '17 Perub Maret'17

thd Feb '17 (%)

(1) (2) (3) (4)

Konsumsi Rumah Tangga 133.79 133.43 -0.27

a. Bahan Makanan 150.44 148.86 -1.05 b. Makanan Jadi 125.58 126.09 0.41 c. Perumahan 125.13 125.92 0.63 d. Sandang 124.79 125.12 0.27 e. Kesehatan 118.49 119.08 0.50

(6)

Provinsi Jawa Tengah mengalami penurunan atau terjadi deflasi sebesar 0,27 persen. Deflasi dipicu oleh turunnya dari dua kelompok, yaitu: kelompok Bahan Makanan turun sebesar 1,05 persen dan kelompok Transportasi dan Komunikasi turun sebesar 0,04 persen. Sedangkan 5 kelompok yang mengalami kenaikan yaitu kelompok Makanan Jadi naik 0,41 persen, kelompok Perumahan naik sebesar 0,63 persen, kelompok Sandang naik sebesar 0,27 persen, kelompok Kesehatan naik sebesar 0,50 persen dan kelompok Pendidikan, rekreasi dan Olahraga naik sebesar 0,05 persen.

7. Perbandingan Antar Provinsi

ari 33 provinsi yang dilaporkan, perubahan NTP Maret terhadap NTP Februari 2017 ternyata sangat beragam. Kenaikan nilai NTP terjadi di 4 provinsi, dan 29 provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP tertinggi Maret 2017 terjadi di Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 0,58 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi pada Provinsi DKI Jakarta yaitu sebesar 1,37 persen.

Tabel 8

NTP 33 Provinsi dan Persentase Perubahannya (%) Februari-Maret 2017 (2012 = 100)

No Provinsi Feb'17 Maret '17 Perub Maret'17

thd Feb'17 (%) (1) (2) (3) (4) (5) 1 PAPUA BARAT 100.74 101.33 0.58 2 MALUKU 100.02 100.39 0.37 3 BANTEN 97.92 98.19 0.27 4 NTB 104.58 104.71 0.13 5 SUMUT 99.80 99.77 -0.03 6 PAPUA 96.10 96.07 -0.03 7 JATIM 101.81 101.66 -0.15 8 JABAR 102.53 102.37 -0.16 9 MALUKU UTARA 101.19 101.01 -0.18 10 NTT 101.02 100.84 -0.18 11 RIAU 103.79 103.50 -0.29 12 NAD 95.44 95.11 -0.35 13 LAMPUNG 104.19 103.82 -0.36 14 KALTENG 100.51 100.14 -0.37 15 YOGYAKARTA 101.78 101.32 -0.45 16 SUMBAR 98.64 98.19 -0.46 17 BENGKULU 95.87 95.37 -0.52 18 JATENG 98.02 97.50 -0.53 19 SULSEL 101.41 100.74 -0.66 20 KALTIM 98.99 98.25 -0.74 21 JAMBI 101.77 100.99 -0.77 22 GORONTALO 105.32 104.43 -0.84 23 SULUT 92.47 91.65 -0.89 24 SULBAR 106.41 105.44 -0.91 25 SUMSEL 95.85 94.94 -0.94 26 SULTENG 96.28 95.36 -0.96 27 KEPRI 99.14 98.16 -0.99 28 BALI 105.79 104.72 -1.01 29 BABEL 99.17 98.14 -1.03 30 SULTRA 97.26 96.16 -1.13 31 KALSEL 98.56 97.38 -1.20 32 KALBAR 98.71 97.42 -1.30 33 DKI 100.33 98.95 -1.37

(7)

Fe b '1 7 M ar et '1 7 Pe ru b M ar et '1 7 th d Fe b' 17 (%) Fe b '1 7 M ar et '1 7 Pe ru b M ar et '1 7 th d Fe b' 17 (%) Fe b '1 7 M ar et '1 7 Pe ru b M ar et '1 7 th d Fe b' 17 (%) Fe b '1 7 M ar et '1 7 Pe ru b M ar et '1 7 th d Fe b' 17 (%) Fe b '1 7 M ar et '1 7 Pe ru b M ar et '1 7 th d Fe b' 17 (%) Fe b '1 7 M ar et '1 7 Pe ru b M ar et '1 7 th d Fe b' 17 (%) (2 ) (3 ) (4 ) (5 ) (6 ) (7 ) (8 ) (9 ) (1 0) (1 1) (1 2) (1 3) (1 4) (1 5) (1 6) (1 7) (1 8) (1 9) In de ks D ite ri ma P et an i 11 8.7 0 11 7.7 0 -0 .8 5 12 7.7 6 12 7.1 7 -0 .4 6 13 6.0 5 13 6.1 8 0.1 0 12 3.1 2 12 2.0 5 -0 .8 6 12 8.3 0 12 8.7 8 0.3 8 12 4. 97 12 4. 27 -0 .5 6 In de ks D ib ay ar P et an i 13 0.8 8 13 0.7 7 -0 .0 9 12 9.1 0 12 9.1 0 0.0 1 12 8.2 0 12 8.2 6 0.0 4 12 1.4 5 12 1.4 2 -0 .0 2 12 6.5 3 12 6.1 8 -0 .2 8 12 7. 50 12 7. 46 -0 .0 3 1. K on su m si R um ah T an gg a 13 3.6 0 13 3.2 1 -0 .2 9 13 4.0 5 13 3.7 4 -0 .2 3 13 3.5 0 13 3.0 9 -0 .3 0 13 3.7 7 13 3.4 1 -0 .2 7 13 5.9 7 13 5.4 3 -0 .3 9 13 3. 79 13 3. 43 -0 .2 7 a. B ah an M ak an an 15 1. 33 14 9. 67 -1 .1 0 14 9. 85 14 8. 46 -0 .9 3 14 8. 78 14 7. 24 -1 .0 4 15 0. 05 14 8. 50 -1 .0 3 15 8. 59 15 6. 08 -1 .5 8 15 0. 44 14 8. 86 -1 .0 5 b. M ak an an J ad i, M in um an , R ok ok d an T em ba ka u 12 5. 66 12 6. 18 0. 42 12 5. 82 12 6. 35 0. 42 12 5. 64 12 6. 12 0. 38 12 5. 33 12 5. 83 0. 40 12 4. 62 12 5. 04 0. 33 12 5. 58 12 6. 09 0. 41 c. P er um ah an 12 4. 49 12 5. 29 0. 64 12 4. 67 12 5. 46 0. 64 12 4. 59 12 5. 37 0. 63 12 6. 82 12 7. 58 0. 60 12 4. 04 12 4. 90 0. 69 12 5. 13 12 5. 92 0. 63 d. S an da ng 12 3. 91 12 4. 24 0. 27 12 4. 96 12 5. 30 0. 27 12 5. 84 12 6. 18 0. 27 12 5. 22 12 5. 56 0. 26 12 3. 48 12 3. 81 0. 27 12 4. 79 12 5. 12 0. 27 e. K es eh at an 12 0. 44 12 1. 14 0. 58 11 7. 29 11 7. 82 0. 45 11 7. 40 11 7. 93 0. 45 11 7. 59 11 8. 13 0. 46 12 0. 59 12 1. 29 0. 58 11 8. 49 11 9. 08 0. 50 f. P en di di ka n, R ek re as i & O la h ra ga 11 3. 11 11 3. 15 0. 04 11 3. 70 11 3. 75 0. 05 11 2. 33 11 2. 38 0. 04 11 3. 58 11 3. 64 0. 05 11 6. 60 11 6. 77 0. 15 11 3. 33 11 3. 39 0. 05 g. T ra ns po rta si d an K om un ik as i 11 9. 00 11 8. 87 -0 .1 1 12 2. 37 12 2. 36 0. 00 12 1. 16 12 1. 14 -0 .0 1 12 1. 74 12 1. 69 -0 .0 4 13 6. 16 13 6. 29 0. 09 12 1. 28 12 1. 23 -0 .0 4 2. B PP B M 12 3.8 0 12 4.4 0 0.4 9 11 7.3 8 11 8.1 3 0.6 4 11 8.1 7 11 9.1 0 0.7 8 11 3.2 2 11 3.4 1 0.1 7 11 4.0 2 11 3.9 1 -0 .1 0 11 8. 42 11 8. 99 0. 48 a. B ib it 12 8. 42 12 8. 93 0. 40 11 3. 71 11 5. 46 1. 54 10 5. 99 10 5. 99 0. 00 11 3. 96 11 3. 81 -0 .1 4 11 2. 23 11 2. 23 0. 00 11 7. 27 11 7. 80 0. 46 b. P up uk d an O ba t-o ba ta n 11 1. 82 11 1. 91 0. 08 11 3. 43 11 3. 52 0. 07 10 9. 96 11 0. 05 0. 08 10 9. 38 10 9. 46 0. 07 11 4. 56 11 3. 80 -0 .6 6 11 1. 35 11 1. 41 0. 06 c. B ia ya S ew a da n Pe ng el ua ra n La in 12 3. 72 12 3. 97 0. 20 12 3. 04 12 3. 33 0. 23 11 2. 15 11 2. 17 0. 01 11 1. 68 11 2. 88 1. 07 11 4. 59 11 5. 22 0. 55 11 8. 39 11 8. 86 0. 40 d. T ra ns po rta si 13 5. 88 13 6. 66 0. 57 11 2. 51 11 2. 92 0. 36 12 1. 87 12 3. 15 1. 05 11 8. 86 11 8. 87 0. 01 11 7. 86 11 8. 01 0. 13 12 3. 34 12 3. 90 0. 45 e. P en am ba ha n Ba ra ng M od al 12 1. 26 12 1. 30 0. 03 12 0. 39 12 0. 63 0. 20 12 0. 56 12 1. 15 0. 49 11 3. 75 11 4. 24 0. 43 11 5. 39 11 5. 46 0. 06 11 8. 86 11 9. 15 0. 24 f. U pa h Bu ru h 13 1. 07 13 2. 35 0. 98 12 0. 57 12 2. 04 1. 22 12 6. 96 12 9. 15 1. 72 12 3. 21 12 3. 21 0. 00 11 5. 41 11 5. 41 0. 00 12 5. 53 12 6. 64 0. 88 N ila i T uk ar P et an i 90 .6 9 90 .0 0 -0 .7 7 98 .9 7 98 .5 0 -0 .4 7 10 6.1 2 10 6.1 8 0.0 6 10 1.3 8 10 0.5 2 -0 .8 4 10 1.4 0 10 2.0 6 0.6 6 98 .0 2 97 .5 0 -0 .5 3 95 .8 9 94 .6 1 -1 .3 3 10 8.8 5 10 7.6 6 -1 .0 9 11 5.1 3 11 4.3 5 -0 .6 8 10 8.7 5 10 7.6 2 -1 .0 3 11 2.5 2 11 3.0 6 0.4 8 10 5. 53 10 4. 44 -1 .0 4

N

TP

P

ER

S

U

B

S

EK

TO

R

JA

W

A

TE

N

G

A

H

B

U

LA

N

FE

B

R

U

A

R

I

M

A

R

ET

20

17

TA

B

EL

8

ila i T uk ar U sa ha P er ta ni an Ja w a T en ga h (1 ) T an am an P an ga n H or tik ul tu ra T an am an P er ke bu na n R ak ya t Pe te rn ak an Pe rik an an R in ci an

(8)

B. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH MARET 2017

RATA-RATA HARGA GABAH DI TINGKAT PETANI GKG TURUN 3,32% DAN GKP TURUN 0,32%

 Pada Maret 2017, Survei Harga Produsen Gabah di Jawa Tengah mencatat 134 observasi transaksi

penjualan gabah di 17 kabupaten terpilih. Komposisi observasi gabah bulan ini didominasi oleh transaksi penjualan Gabah Kering Panen sebanyak 82 observasi (61,19%) diikuti kelompok gabah kualitas rendah sebanyak 42 observasi (31,34%) dan kelompok Gabah Kering Giling sebanyak 10 observasi (7,46%).

Di tingkat petani, harga Gabah tertinggi Maret 2017 tercatat Rp. 4.950,00 per kg berasal dari transaksi kelompok gabah kualitas GKG varietas IR 64 yang berasal dari Kecamatan Trucuk di Kabupaten Katen. Sedangkan harga terendah di tingkat petani ditemukan seharga Rp. 2.850,00 per kg berasal dari kelompok gabah kualitas rendah varietas Cisedenok di Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang.

Di tingkat penggilingan, harga gabah tertinggi Maret 2017 tercatat Rp. 5.000,00 per kg berasal dari kelompok gabah kualitas GKG dengan varietas IR 64 yang berasal dari Kecamatan Trucuk di Kabupaten Klaten. Harga terendah di tingkat penggilingan ditemukan juga pada kelompok gabah kualitas rendah varietas Situ Bagendit di Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal seharga Rp. 3.025,00 per kg.

 Rata-rata harga gabah kelompok GKG di tingkat petani mengalami penurunan sebesar 3,32 persen dari 4.851,25/Kg pada Februari menjadi Rp. 4.690,00/Kg pada Maret 2017. Jika dibandingkan bulan Maret 2016 turun 8,93 persen dari angka Rp. 5.150,00/Kg. Kelompok GKP juga mengalami penurunan sebesar 0,32 persen dari Rp. 4.095,16/Kg pada Februari menjadi Rp. 4.082,20/Kg pada Maret 2017 dan jika dibandingkan Maret 2016 dimana harga mencapai Rp. 4.311,29/Kg maka Maret 2017 mengalami penurunan sebesar 5,31 persen.

ada Maret 2017, Survei Harga Produsen Gabah di Jawa Tengah berhasil mencatat sebanyak 134 observasi transaksi penjualan gabah di 17 kabupaten terpilih. Dari 134 transaksi penjualan gabah yang berhasil dicatat, komposisi jumlah observasi bulan ini didominasi oleh transaksi penjualan Gabah Kering Panen yaitu sebanyak 82 observasi (61,19%) diikuti kelompok gabah kualitas rendah sebanyak 42 observasi (31,34%) dan kelompok Gabah Kering Giling sebanyak 10 observasi (7,46%).

Tabel 9.

Jumlah Observasi, Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Dan HPP Menurut Kelompok Kualitas Maret 2017

Terendah Tertinggi HPP*) Terendah Tertinggi HPP*)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

10 4.550,00 4.950,00 - 4.600,00 5.000,00 4.600,00

7,46 (Pati) (Klaten) (Pati) (Klaten)

82 3.700,00 4.700,00 3.700,00 3.750,00 4.800,00 3.750,00

61,19 (Klaten,

Kendal) (Blora) (Klaten) (Blora)

42 2.850,00 4.300,00 - 3.025,00 4.350,00

-31,34 (Semarang) (Purworejo) ( Kendal) (Purworejo)

Keterangan

*) HPP berdasarkan Inpres No.5 Tahun 2015 tanggal 17 Maret 2015, diberlakukan mulai bulan Maret 2015

Kelompok Kualitas

Jumlah Observasi

Harga di Tingkat Petani (Rp/Kg) Harga di Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) GKG GKP Kualitas Rendah

(9)

Dari 134 observasi transaksi harga penjualan gabah yang berhasil dikumpulkan selama Maret 2017, terbanyak berasal dari Kabupaten Klaten yang sebanyak 21 observasi (15,67%) diikuti Kabupaten Kendal sebanyak 18 observasi (13,43%), Kabupaten Brebes sebanyak 13 observasi (9,70%), Kabupaten Kebumen sebanyak 12 observasi (8,96%), Kabupaten Pati sebanyak 9 observasiselebihnya 6,72 persen dan selebihnya 45,52 persen tersebar di 12 kabupaten lainnya.

Dari sejumlah 92 pemantauan harga gabah kualitas GKG dan GKP yang berhasil diobservasi selama Maret 2017 tidak ditemukan kasus harga di bawah HPP.

Tabel 10.

Jumlah dan Persentase Observasi Harga Gabah di Bawah HPP Menurut Kelompok Kualitas, Maret 2017

1. Rata-rata Komponen Mutu Menurut Kelompok

ata-rata Kadar Air (KA) gabah di Jawa Tengah, pada Maret 2017 menunjukkan kadar air yang bervariatif dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata KA kelompok gabah kualitas GKG tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan Februari yang tercatat sebesar 10,02 persen sedangkan bulan ini tercatat 11,03 persen. Namun rata-rata KA kelompok GKP mengalami sedikit penurunan dari 16,42 persen pada Februari menjadi 16,20 persen pada Maret 2017.

Rata-Rata Kadar Hampa (KH) bulan Maret 2017 juga menunjukkan penurunan. Kelompok gabah kualitas GKG mengalami penurunan dari 2,52 persen pada Februari menjadi 2,37 persen pada Maret 2017. Sedangkan kelompok gabah kualitas GKP turun dari angka 5,70 persen pada Februari menjadi 5,20 Maret 2017.

Tabel 11

Rata-Rata Komponen Mutu Menurut Kelompok Kualitas Februari – Maret 2017 Kelompok Kualitas Jumlah Observasi observasi % observasi % (1) (2) (3) (4) (5) (6) GKG 10 - - - -GKP 82 - - - -GKG dan GKP 92 - - - -Petani Penggilingan

Februari Maret Februari Maret

(1) (2) (3) (4) (5) (6) GKG 10 10,02 11,03 2,52 2,37 GKP 82 16,42 16,20 5,70 5,20 Kualitas Rendah 42 27,51 24,68 11,18 8,26 Kelompok Kualitas Jumlah Observasi

(10)

2. Rata-rata Harga Gabah Menurut Kelompok Kualitas

ata-rata harga gabah GKG di tingkat petani pada Maret 2017 mengalami penurunan sebesar 3,32 persen dari Rp. 4.851,25/Kg pada Februari menjadi Rp. 4.690,00/Kg. Namun jika dibandingkan bulan Maret 2016 mengalami penurunan 8,93 persen yaitu dari harga Rp. 5.150,00/Kg. Demikian pula dengan gabah kualitas GKP bulan ini mengalami penurunan sebesar 0,32 persen dari Rp. 4.095,16/Kg pada Februari menjadi Rp. 4.082,20/Kg pada Maret 2017 dan jika dibandingkan dengan Maret 2016 dimana harga mencapai Rp. 4.311,29/Kg maka pada Maret 2017 mengalami penurunan 5,31 persen.

Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah kelompok GKG pada Maret 2017 juga mengalami penurunan yaitu sebesar 3,76 persen dari bulan Februari yang tercatat Rp. 4.925,00/Kg menjadi Rp. 4.740,00/Kg, Sementara kelompok kualitas GKP mengalami penurunan 0,42 persen dari Rp. 4.150,48/Kg pada Februari menjadi Rp. 4.133,23/Kg pada Maret 2017. Adapun jika dibandingkan dengan Maret 2016 maka gabah kelompok GKG mengalami penurunan 8,45 persen yaitu dari harga Rp. 5.177,50/Kg dan kelompok GKP turun 5,41 persen dari harga Rp. 4.369,52/Kg.

Tabel 12

Rata-Rata Harga Gabah di Tingkat Petani dan Tingkat Penggilingan Menurut Kelompok Kualitas, Februari – Maret 2017

Februari'17-Maret'17 Maret'16-Maret'17 Februari'17-Maret'17 Maret'16-Maret'17 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) GKG 5.150,00 4.851,25 4.690,00 -3,32 -8,93 5.177,50 4.925,00 4.740,00 -3,76 -8,45 GKP 4.311,29 4.095,16 4.082,20 -0,32 -5,31 4.369,52 4.150,48 4.133,23 -0,42 -5,41 Kualitas Rendah 3.399,25 3.148,41 3.492,14 10,92 2,73 3.463,51 3.208,73 3.559,76 10,94 2,78

Maret'16 Februari'17 Maret'17

Perubahan Kelompok

Kualitas

Tingkat Petani (Rp/Kg) Tingkat Penggilingan (Rp/Kg)

Maret'16 Februari'17 Maret'17

Gambar

Gambar 1  NTP  Jawa Tengah   Februari – Maret 2017 (2012 = 100)
TABEL 8 ilai Tukar Usaha Pertanian

Referensi

Dokumen terkait

Indikator kinerja Renstra STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta terdiri dari tujuh bidang yaitu : Keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui

Hasil temuan di tujuh negara yang dikaji di dalam studi ini—Kanada, China, Jerman, India, Indonesia, Singapura dan Thailand—menunjukkan bahwa sektor TIK dan

Langkah selanjutnya adalah membuat RAID-1 dengan perintah berikut, dimana device baru bernama /dev/md20, menggunakan mode=1 (mirroring) dimana device pasangannya adalah /dev/sdd1

Hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran matematika berbasis learning cycle 7E dengan pendekatan saintifik diperoleh persentase

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka didapat kesimpulan bahwa pada Kecamatan Depok yang di bagi menjadi 3 strata yaitu Desa Maguwoharjo sebagai strata 0, Desa

Data pelaksanaan tindakan kelas penerapan Numbered Heads Together untuk meningkatkan motivasi dan komunikasi belajar matematika pada siswa kelas VII A SMP Negeri

Secara umum format penulisan fungsi pada Octave ada dua tipe yaitu yang pertama fungsi dan program utama dipisah (private function), yang kedua antara fungsi dan

Kebijakan pemberian bantuan pembangunan rusunawa lembaga perguruan tinggi dan lembaga pendidikan berasrama telah diatur dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah