1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Orang miskin juga manusia memiliki kebutuhan, keinginan dan hasrat-hasrat lain dalam menjalani kehidupan. Terlahir sebagai orang miskin bukanlah sebuah hal yang salah kendati menjadi permasalahan saat kini.
Kita hidup dalam masyarakat yang berbentuk piramid. Pada level tertinggi adalah orang yang kita anggap hebat, seperti para selebritis, orang-orang kaya, dan sebagainya. Sementara di level terendah ada para pecundang, yakni para pengangguran, pengungsi, dan gelandangan. Dengan pola pikir seperti ini, kita mengabaikan orang-orang miskin. Bagi kita mereka adalah perusak sistem dan tatanan yang indah. Mereka mengingatkan kita betapa bobroknya sistem yang kita punya. Kita juga takut kalau menjadi miskin, seperti mereka (Wattimena, 2011: 65-66).
Stigma yang diberikan masyarakat miskin tentu bukan hal yang terlalu penting untuk dilakukan, mengingat itu hanyalah sebuah hal pasif yang sebenarnya justru menimbulkan pesimisme mendalam bagi yang lain, lebih-lebih jika mengkaitkannya dengan kodrat yang diberikan Tuhan. Kemiskinan terkesan sangat menjadi hal yang sudah terpatri dan tak bisa untuk diatasi.
Masalah kemiskinan tadi menjadi sebuah tugas rumah yang musti dikerjakan para pemegang kebijakan. Tolok ukur kesejahteraan masyarakat adalah rendah dan tingginya kemiskinan namun nyatanya yang sekarang ini yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Faktanya, kaum miskin tidak memiliki ruang, sekaligus lemah dalam kemampuan menegosiasikan haknya demi membela diri agar mendapatkan keadilan (Sujito, 2010: 4). Permasalahan inilah yang sampai saat ini dihadapi oleh masyarakat miskin. Mereka yang tidak mampu cenderung memiliki kelemahan dalam menyampaikan apa yang mereka butuhkan, mereka terkalahkan oleh golongan-golongan yang ada diatas yang suaranya lebih didengar dan lebih berani. Ditambah minimnya akses mereka dalam menyampaikan aspirasi karena terhalang kepentingan-kepentingan golongan sudah barang pasti hanya untuk mengeluh saja mungkin mereka enggan melakukannya.
2
Disetiap wilayah selalu ada masyarakat miskin yang perlu ditangani dan diberikan haknya. Pemerintah menyalurkan bantuan bagi masyarakat miskin berupa BLM, tentu tidak serta merta begitu saja. Perlu adanya perencanaan khusus dan matang agar bantuan yang disalurkan dapat digunakan secara bijak dan yang paling penting dari itu adalah tepat sasaran. Itulah sebabnya badan penyalur bantuan untuk masyarakat miskin membentuk (Lembaga Keswadayaan Masyarakat) LKM yang dibentuk di setiap wilayah di kelurahan.
Tak banyak orang yang tahu mengenai LKM, apa yang dilakukan, apa yang dikerjakan oleh mereka. Perlu diketahui bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang yang sebenarnya memiliki pengaruh besar dalam kaitannya membantu masyarakat untuk mendapatkan haknya. Terutama masyarakat miskin yang menjadi sasaran dari LKM ini. Anggota LKM terdiri dari orang-orang sukarelawan masyarakat yang berasal dari kelurahan yang sama yang dihimpun untuk dapat membuat perencanaan sedemikian rupa agar bantuan dari pemerintah untuk masyarakat miskin bisa tersalurkan dengan baik dan benar. Proses pembentukannya sendiri dibuat secara sistematis seperti yang ada yaitu selalu melibatkan masyarakat atau dapat dikatakan ada usaha pemberdayaan masyarakat. Untuk menjadi anggota LKM tentu didasari rasa sukarela dimana hal itu akan menunjang pekerjaannya dalam menjalankan tugas sebagai anggota LKM. Anggota LKM haruslah benar-benar orang yang mengerti bagaimana seharusnya menyalurkan bantuan bagi masyarakat miskin dengan perencanaan-perencanaan tertentu serta tepat sasaran dan sepenuhnya bekerja untuk masyarakat miskin. Fakta yang terjadi di Surakarta tidak selalu seperti itu ada diantaranya anggota LKM justru orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu dan bekerja tidak maksimal sebagai anggota LKM. Banyak kasus-kasus yang melibatkan anggota LKM atau sering disebut juga BKM yang justru menyelewengkan dana BLM yang seharusnya diberikan pada masyarakat miskin.
Dari tujuan yang dilakukan oleh LKM dan sifat sukarelanya tentu anggota-anggotanya memiliki tujuan khusus masing-masing dalam menjalani kegiatanya. Lebih mendalami lagi mereka memiliki makna tertentu perihal kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat yang bisa dibilang tak jauh dari apa yang menjadi
3
kegiatan yang dijalankan LKM. Di dunia ini makna kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat sangatlah beragam. Banyak studi-studi dan penelitian mengenai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat di belahan dunia manapun mengkaji secara detail. Bahkan bisa dikatakan kemiskinan adalah salah satu masalah terbesar di dunia dan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu solusi yang ditawarkan untuk menurunkan angka kemiskinan. Dari sini peneliti mencoba untuk menggali makna kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat dari berbagai sudut pandang baik nasional maupun internasional untuk nantinya menjadi pedoman penelitian dalam menggali pemaknaan oleh anggota LKM.
Menjadi miskin dianggap oleh mereka yang memang miskin dan sebagian besar mereka yang tidak miskin, sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Jika ada perbedaan pendapat antara si kaya dan si miskin, maka ia terdapat pada kedalaman perasaan tentang keadaan itu, suatu hal yang menurut pengalaman akan dituduh hanya untuk membangkitkan keharuan perasaan, meskipun ini tidak seluruhnya pasti (Galbraith, 1983: 11).
Dari pernyataan tadi terkadang sedikit membingungkan untuk menyebut seseorang atau sekelompok orang itu dapat disebut miskin atau tidak. Ada tolok ukur tertentu yang membuat seseorang atau sekelompok dapat disebut miskin.
Salah satu tolok ukur kemiskinan yang paling populer selama ini adalah apa yang disebut dengan GNP perkapita. Tolok ukur ini semula dikembangkan para ahli ekonomi yang menganut strategi modernisasi. Strategi modernisasi pada umumnya melihat kesejahteraan dan kemiskinan masyarakat dari tingkat pendapatan nasional yang ditandai adanya proses peningkatan produkasi dan konsumsi masyarakat. ini dipakai dengan asumsi bahwa setiap peningkatan produksi nasional akan meningkatkan pendapatan nasional yang menunjukan semakin meningkatnya standar hidup dan kemajuan material masyarakat. (Trijono dalam Suyanto, 1995:8)
Meski tolok ukur itu adalah tolok ukur terpopuler namun jika mengkaji dari bidang sosiologis tentu saja kemiskinan tidak hanya mencakup pada hal yang bersifat material saja seperti halnya pendapat perkapita di masyarakat. Ada kemungkinan yang terjadi pada keluarga ataupun masyarakat dengan pendapatan perkapita rendah dapat merasa sejahtera jika kebutuhan yang mereka butuhkan telah terpenuhi.
4
Secara teoritis kemiskinan dibedakan menjadi dua teori, yang pertama yaitu teori Neo-Liberal yaitu yang mencakup kemiskinan absolut dengan penyebab kemiskinan dari kelemahan individu dalam mengatur pendapatan. Sementara teori kedua yaitu Sosial Demokrat dimana kemiskinan disebut relatif yang disebabkan oleh ketimpangan ekonomi, politik dan ketidakadilan sosial. Dalam penelitian ini kemiskinan absolut lah yang menjadi permasalahan utama. Hal ini dikarenakan di wilayah yang menjadi tempat penelitian cenderung memiliki permasalahan kemiskinan absolut yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh individu yang lemah dalam mengatur pendapatan sehingga mengalami kekurangan dalam keadaan sandang, pangan maupun papan. Piven dan Cloward juga mengemukakan pendapat mengenai kemiskinan juga yaitu kemiskinan berhubungan dengan kekurangan materi. Seperti yang disebutkan, Piven dan Cloward menjabarkannya sebagai berikut:
Kemiskinan menggambarkan adanya kelangkaan materi atau barang-barang yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti makanan, pakaian dan perumahan. Kemiskinan dalam artian ini dipahami sebagai kesulitan yang dihadapi orang dalam memperoleh barang-barang yang bersifat kebutuhan dasar.(Piven dan Cloward dalam Suharto, 2013: 15).
Kemiskinan yang dimaksud diatas adalah kemiskinan absolut, kemiskinan absolut lebih jelasnya adalah suatu kondisi seseorang dengan pendapatan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti halnya sandang, pangan dan papan, bahkan mungkin ditambah juga tidak bisa memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan.
Dari segi konseptual pakar-pakar yang mengkaji kemiskinan mempunyai sudut pandang yang relatif berbeda tentang kemiskinan. Ahli sosiologi misalnya memberikan konsep kemiskinan sebagai suatu keadaan masyarakat yang secara moral dan material berada di bawah standart kehidupan yang ditentukan oleh masyarakat (Theodorson dalam Tantoro, 2014: 28). Cheyne et al juga memberikan pengertian kemiskinan sebagai kemiskinan absolut dimana kemiskinan dilihat daripada ketidakupayaan individu-individu dalam masyarakat untuk memenuhi keperluan bidang politik. (Cheyne dalam Tantoro, 2014:29).
5
Namun selain itu kemiskinan juga tidak termasuk pada permasalahan materi saja ada masalah lain yang menjadi permasalahan kemiskinan lain yang juga termasuk dalam kekurangan. Nasikun memberikan pendapatnya mengenai kemiskinan dari dimensi lain selain kekurangan sandang, pangan dan papan yaitu sebagai berikut:
Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di dalam kondisi kekurangan sandang, pangan dan papan. Hidup dalam kemiskinan seringkali juga berarti akses yang rendah terhadap berbagai ragam sumber daya dan aset produktif yang sangat diperlukan untuk memperoleh sarana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang paling dasar tersebut, antara lain: informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kapital. (Nasikun dalam Trijono, 1995: 13). Sudut pandang dari beberapa tokoh tadi menyimpulkan bahwa kemiskinan identik dengan suatu keadaan yang kekurangan. Dalam kaitannya dengan kemiskinan, materi dianggap sebagai kebutuhan dasar agar dapat memenuhi kebutuhan. Jika seseorang kekurangan dalam hal materi maka kehidupan tidak akan mengalami keseimbangan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan tertentu. Statement semacam itu ternyata juga terbantahkah. Menilik dari beberapa negara jika dikatakan miskin karena kurangnya materi dan sumber daya alam, akan pas rasanya jika Jepang menjadi negara yang miskin namun kenyataan berkata lain, Jepang adalah negara yang kaya dan di segani di Asia. Sebaliknya negara yang dipandang layak menjadi kaya seperti Iran dengan kekayaan sumber daya alam justru belum bisa dikatakan sebagai negara kaya. Penduduk Jepang sudah bisa dikatakan berada di garis kesejahteraan namun penduduk Iran sebagian besar belum bisa merasakan yang namanya kesejahteraan. Begitu pula negara Indonesia dengan segala sumber daya alamnya yang di cap sebagai negara kaya, namun status itu tidak dapat di raih karena penduduk yang belum sepenuhnya merasa sejahtera.
Klaim-klaim kenapa negara yang seharusnya kaya justru miskin, dan kenapa negara yang miskin justru bisa menjadi kaya, menjadikan sebuah perdebatan tersendiri. Mereka yang meneliti menganggap negara yang seharusnya kaya namun justru penduduknya hidup miskin karena kekayaannya justru dieksploitasi
6
dan pemerintahan negara yang tidak mampu melaksanakan pembangunan. Sementara klaim atas negara kaya yang sebenarnya justru tak memiliki kekayaan negara. Jika kita bertanya dorongan apakah yang menyebabkan itu semua. Seorang tokoh Psikologi David C. Mc Clelland dalam essaynya “Dorongan Hati Menuju Modernisasi” mengemukakan sebuah dorongan yang mendasar dari negara-negara tadi dalam melakukan pertumbuhan ekonomi hingga menjadi negara makmur. Dikutip langsung dari essay beliau.
Para Psikolog telah berhasil memberi sumbangan yang tak terduga-duga kepada usaha kita untuk memahami misteri ini – tak terduga-duga, dalam artian bahwa mereka sebenarnya sedang meneliti persoalan lain ketika mereka sampai pada suatu kesimpulan yang akhirnya bisa sedikit menjelaskan terjadinya proses pertumbuhan ekonomi. Pada waktu itu mereka sedang bekerja dalam suatu laboratorium untuk mengisolir apa yang untuk mudah nya saja dapat disebut sebagai sejenis “virus mental”, yakni suatu cara berpikir tertentu yang kurang-lebih sangat jarang dijumpai tetapi apabila terjadi pada diri seseorang, cenderung untuk menyebabkan orang itu bertingkah-laku secara sangat giat (David C. McClelland dalam Weiner, 1980: 2)
“Virus mental” tadi diberi nama n Ach singkatan dari need for Achievement, yang berarti kebutuhan untuk meraih hasil dan prestasi. Hasil dan prestasi tadi lah yang menjadi dorongan pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Secara singkat untuk menjelaskannya negara yang menerapkan n Ach haruslah menerapkan pola pikir untuk bekerja dengan baik dan giat pada orang-orang yang tinggal di dalamnya, termasuk usaha untuk menjangkiti virus n Ach ini sejak dini atau masa kanak-kanak. Sangat disayangkan negara Indonesia belum bisa menerapkan “virus mental” semacam ini. Padahal kita memiliki banyak sarana untuk bisa dipakai. Keanekaragaman suku, budaya dan juga sejarah perjuangan dari jaman kerajaan hingga penjajahan dapat digunakan untuk memupuk “virus mental” semacam n Ach ini. Akan sangat besar peluangnya bila dilakukan dengan tekun serta memupuk semangat bekerja dengan giat dan baik sejak dini.
Selanjutnya ada konsep pemberdayaan masyarakat yang akan dikaji dalam penelitian ini. Peneliti ingin menggali makna dari pemberdayaan masyarakat.
7
Memiliki makna yang luas pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan memiliki konsep dengan melewati masa yang cukup panjang.
Konsep pemberdayaan (empowerment) mulai tampak ke permukaan sekitar dekade 1970-an, dan terus berkembang sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an (akhir abad ke-20). Kemunculan konsep ini hampir bersamaan dengan aliran-aliran, seperti eksistensialime, fenomenologi, dan personalisme. Disusul kemudian dengan masuknya gelombang pemikiran neo-marxisme, freudianisme, termasuk di dalamnya aliran-aliran strukturalisme dan sosiologi kritik sekolah Frankurt. Bermunculan pula konsep-konsep seperti elite, kekuasaan, antikemapanan (anti-establishment), gerakan populis, antistruktur, legitimasi, ideologi, pembebasan, dan civil society (Pranarka dan Vidhyansika dalam Hikmat, 2004: 1).
Dalam proses perjalanannya yang cukup panjang konsep pemberdayaan lahir sebagai sebuah usaha alternatif dalam menciptakan metode pembangunan masyarakat yang baru. Sebagai sebuah perlawanan yang tak terlihat dari kekuasaan atau jika dibahasakan lebih halus sebagai depowerment dari sistem kekuasaan yang mutlak absolut baik itu intelektual, religius, politik, ekonomi, dan militer). Semakin lama konsep pemberdayaan semakin memperbarui dan digantikan dengan sistem yang baru yang lebih humanis. Mengkaji pemberdayaan juga dilakukan oleh Parsons dengan sosiologi struktural fungsionalisnya. Parsons mencoba menjelaskan bahwa power dalam pemberdayaan mengacu pada masyarakat yang memiliki tujuan kolektif. Dengan pengertian lain, kelompok miskin dapat diberdayakan melalui ilmu pengetahuan dan kemandirian sehingga dapat berperan sebagai agen pembangunan. Hal inilah yang oleh Schumacker disebut pemberdayaan (Thomas dalam Hikmat, 2004: 2). Sebagai sebuah kesimpulan dari konsep pemberdayaan masyarakat, makna pemberdayaan masyarakat bisa diartikan sebagai sebuah proses kemandirian dari sekelompok orang yang disebut masyarakat untuk melakukan perlawanan halus dengan yang namanya keterbatasan seperti kemiskinan misalnya dan dalam pemberdayaan perlu adanya pendorong berupa ilmu pengetahuan yang melandasi masyarakat untuk menuju kemandirian.
Dengan begini mencoba menggali makna kemiskinan dan pemberdayaaan adalah sebuah runtutan yang benar mengingat kemiskinan adalah masalah yang
8
masif dan perlu untuk diatasi. Kemiskinan juga menjadi permasalahan yang sering dialami oleh masyarakat terutama di negara-negara dunia ketiga dengan berbagai penyebab masing-masing. Sementara ilmuwan dunia berproses untuk mencari sebuah pemecahan masalah, dari hanya mengkritisi, mengkaji hingga menemukan solusi yang salah satu diantaranya adalah pemberdayaan masyarakat. Karena pemberdayaan memiliki konsep kemandirian sehingga dalam mengatasi masalah juga ada keberlanjutan, bukan hanya metode tebang pilih saja melainkan memotong hingga keakar-akarnya sehingga tumbuh sebuah kehidupan baru di masyarakat.
LKM yang menjadi objek penelitian ini adalah agen-agen dari pemberdayaan masyarakat yang harusnya memiliki pola pikir tersendiri dalam memaknai kemiskinan dan pemberdayaan. Menjalankan program penanggulangan kemiskinan dari pemerintah dengan solusi pemberdayaan haruslah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang ada. Diberikan pelatihan dan pengertian mengenai cara kerja haruslah membuat setiap anggota LKM menjadi lebih mampu memaknai apa itu kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Apa yang menjadi motivasi dan pendorong mereka untuk menjadi anggota LKM tentu saja bisa didasari dengan berbagai kemungkinan untuk bisa memaknai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat dari berbagai aspek. LKM di daerah kecamatan Laweyan menjadi pilihan peneliti karena kondisinya yang heterogen terbagi oleh beberapa kelurahan dan setiap LKM di kecamatan Laweyan juga memiliki perbedaan yang cukup beragam. Dari sini informasi yang beragam juga bisa didapat karena setiap kelurahan memiliki latar belakang wilayah yang berbeda.
Dari penelitian ini peneliti mencoba untuk memberikan inovasi baru mengenai penelitian tentang LKM atau hal-hal yang terkait seperti program PNPM maupun BLM dan P2KP yang memiliki kaitan. Karena peneliti lebih memilih untuk mencoba mengkaji makna dari kemiskinan dan pemberdayaan dimana peneliti-peneliti sebelumnya lebih terpusat pada partisipasi. Dalam hal ini peneliti melakukannya karena peneliti ingin menggali secara teoritis yang mendasar hasil dari program pemerintah.
9
Studi serupa yang dilakukan peneliti terdahulu dilakukan beberapa orang termasuk mahasiswa UNS jurusan Sosiologi yaitu pada tahun 2010 dengan judul Partisipasi Masyarakat Miskin terhadap Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). penelitian lebih mengarah pada partisipasi dengan obyek penelitian masyarakat sendiri. Dengan metode deskriptif kualitatif Sementara studi terkait lain yang juga adalah skripsi belum lama ini di tahun 2014 oleh mahasiswa UNS jurusan sosiologi mengambil judul Analisis Kebutuhan Gender terhadap Perempuan Anggota KSM Sosial Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Mandiri Perkotaan (PNPM-MP) di Desa Ngasem Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar. Skripsi ini mencoba menganalisis kebutuhan gender bagi anggota KSM (KSM bisa dikatakan bentuk kecil dari LKM yang dibentuk, jika di kota Surakarta KSM dibentuk seseuai dengan proyek yang dibentuk di wilayah) dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat PNPM Mandiri Perkotaan.
Dari studi diatas saya sebagai peneliti mengklaim bahwa penelitian yang akan saya lakukan adalah penelitian yang memiliki perbedaan dari dua penelitian sebelumnya. Dengan memfokuskan pada studi mengenai pemaknaan maka dari itu judul “ Makna Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat bagi Anggota Lembaga Keswadayaan Masyarakat “. Menggunakan pendekatan fenomenologi penelitian ini diharapkan bisa menggali lebih dalam apa itu makna dari kemiskinan dan pemberdayaan dan diharapakan pula dalam memberikan sesuatu yang baru.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas mengenai penelitian tentang “Makna Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat bagi Anggota Lembaga Keswadayaan Masyarakat” maka rumusan masalah yang dapat dipaparkan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana makna kemiskinan bagi anggota LKM di wilayah kecamatan Laweyan?
10
2. Bagaimana makna pemberdayaan masyarakat bagi anggota LKM di wilayah kecamatan Laweyan?
3. Bagaimana keterkaitan pemaknaan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat dari anggota LKM dengan kinerjanya?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mencoba memaparkan makna-makna kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat dari tiap anggota LKM, tentu ada tujuan yang ingin dicapai, diantaranya;
1. Mendeskripsikan makna kemiskinan bagi anggota LKM di wilayah kecamatan Laweyan.
2. Mendeskripsikan makna pemberdayaan masyarakat bagi anggota LKM di wilayah kecamatan Laweyan.
3. Menganalisis keterkaitan pemaknaan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat dari anggota LKM dengan kinerjanya.
D. Manfaat Penelitian
Sebagai sebuah penelitian tentu akan lengkap jika memiliki manfaat bagi siapapun, adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu sebagai
1. Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kajian sosiologi serta teorinya. Terutama dalam memberikan sumbangan pemikiran mengenai pemaknaan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Serta mendorong ide-baru untuk dapat menanggulangi kemiskinan dan inovasi ide-baru di bidang pemberdayaan masyarakat.
2. Praktis
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi publik tentang peran LKM yang sesungguhnya dalam program penanggulangan kemiskinan, serta juga menjadi evaluasi alternatif dari program penanggulangan kemiskinan.