34
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Penelitian
Populasi dalam perusahaan ini adalah semua perusahaan di
Indonesia tahun 2013. Dari semua perusahaan tersebut yang memenuhi
kriteria sampel penelitian hanya 30 perusahaan. Data penelitian ini
diperoleh dari annual report dan sustainability report.
Tabel 4.1
Pemilihan Sampel
Keterangan Jumlah
Perusahaan yang menerbitkan sustainability report dan
annual report
30
B. Deskripsi Hasil Penelitian
Data penelitian ini didasarkan pada sustainability report dan laporan
tahunan pada tahun 2013. Dalam penelitian ini sustainability report
merupakan variabel dependen dengan menggunakan proksi indikator GRI
(Global Reporting Initiative), dan untuk variabel independen
menggunakan proksi rata-rata kehadiran rapat dewan komisaris, dewan
direksi dan komite audit.
Dewan komisaris selaku organ harus melaksanakan tugas mereka
dengan baik, demi kepentingan Perseroan, dan juga harus memastikan
memperhatikan kepentingan berbagai pihak (stakeholders) perusahaan.
Rapat dewan komisaris harus dilakukan secara berkala, dan dalam rapat
juga dewan komisaris harus menentukan tata tertib rapat dan
mencantumkannya dalam risalah rapat (Naja, 2004).
Dewan direksi menurut undang-undang perseroan terbatas maupun
menurut anggaran dasar perseroan, bertugas dan bertanggung jawab untuk
mengelola perusahaan. Salah atau benarnya keputusan menentukan kinerja
perusahaan dalam jangka waktu tertentu (Darmadji, 2006).
Komite audit berfungsi sebagai pemeriksa dan penyeimbang yang
independen untuk fungsi audit internal dan perantara dengan para auditor
eksternal. Komite ini berinteraksi dengan pihak internal dan eksternal
untuk tujuan memastikan integritas data dalam laporan keuangan dan
menghindari penipuan atau aktivitas ilegal. Komite ini juga mencari
berbagai cara untuk mengidentifikasi berbagai peristiwa yang dapat
menyebabkan kekacauan (Singleton, 2007).
Berikut rata-rata tingkat kehadiran rapat dewan komisaris, dewan
direksi, komite audit dan rata-rata indikator yang diungkapkan dalam
Tabel 4.2
Daftar Nama Perusahaan Sampel
No Nama Perusahaan Jumlah (%)
SR DK DD KA
1 Bank CIMB Niaga 23 92 88 96
2 Bank Internasional Indonesia 23 79 88 87
3 Bank Mandiri 39 81 88 76
4 Bank Negara Indonesia 24 67 82 78
5 Bank OCBC NISP 81 100 77 78
6 Bank Pembangunan Daerah Jabar dan Banten 81 58 68 79
7 Bank Rakyat Indonesia 66 86 87 85
8 Bank Syariah Mandiri 48 100 89 71
9 Bank Tabungan Negara 22 74 88 45
10 PT. Aneka Tambang Tbk 61 85 88 91
11 PT. Angkasa Pura (Persero) 71 73 75 46
12 PT. Asabri (Persero) 72 100 88 100
13 PT. Astra Internasional Tbk 33 90 91 100
14 PT. Bukit Asam Tbk 59 96 92 95
15 PT. Indo Tambangraya Megah Tbk 35 100 100 96 16 PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 100 100 100 100
17 PT. Inti Agro Resources Tbk 100 89 100 100
18 PT. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) 66 75 92 100
19 PT. Jasa Raharja (Persero) 43 90 98 100
20 PT. Kaltim Prima Coal Tbk 100 63 77 88
21 PT. LEN Industri (Persero) 94 100 100 100
22 PT. Medco Energy Tbk 42 86 87 87
23 PT. Patra Jasa (Persero) 11 100 100 100
24 PT. Pertamina (Persero) 51 47 86 59
25 PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk 56 82 83 81 26 PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk 59 72 100 74 27 PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk 28 90 88 86
28 PT. Total Bangun Persada Tbk 20 100 96 81
29 PT. United Tractors Tbk 39 93 85 100
Keterangan: SR : Sustainability Report DK : Dewan Komisaris DD : Dewan Direksi KA : Komite Audit 1. Analisis Deskriptif
Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen ( dewan
komisaris, dewan direksi dan komite audit) yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh dewan komisaris, dewan direksi dan komite
audit terhadap pengungkapan sustainability report. Deskriptif variabel
atas data yang berjumlah 30 sampel untuk semua perusahaan. Setelah
mengetahui banyaknya sampel yang akan digunakan dan melakukan
pengukuran terhadap variabel-variabel tersebut, peneliti berusaha
mendeskripsikan data yang diuji. Berdasarkan hasil pengolahan data
dengan bantuan SPSS versi 21.0 diperoleh hasil perhitungan sebagai
berikut:
Tabel 4.3 Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Sustainability 30 11,00 100,00 52,4667 26,36447 Komisaris 30 47,00 100,00 85,2000 14,03297 Direksi 30 68,00 100,00 88,5000 8,60132 Komite 30 45,00 100,00 85,4333 15,28732 Valid N (listwise) 30
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah sampel atau N data
valid yang akan diteliti adalah 30 sampel. Dari data sustainability
report menunjukkan nilai minimum sebesar 11,00 pada PT. Patra Jasa
dan untuk data maksimum sebesar 100,00 pada PT. Inti Agro
Resources dan PT. Kaltim Prima Coal. Dengan nilai mean sebesar
52,4667 dan standar deviasi 26,36447 menggambarkan standar deviasi
yang sangat besar (sebesar 50% dari mean). Hal ini menunjukkan
adanya kesenjangan yang besar dari sustainability report minimum
dan maksimum.
Untuk variabel dewan komisaris memiliki nilai minimum 47,00
pada PT. Pertamina dan nilai maksimum 100,00 pada beberapa
perusahaan yaitu PT. Asabri (Persero), Bank Syariah Mandiri, Bank
OCBC NISP, PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT. Indo
Tambangraya Megah Tbk, PT. Total Bangun Persada Tbk, PT. LEN
Industri (Persero) dan PT. Patra Jasa (Persero). Dari 30 sampel yang
digunakan dalam penelitian tingkat kehadiran komisaris memiliki nilai
mean 85,2000 dengan standar deviasi 14,03297 yang menjelaskan
bahwa tingkat kesenjangan sebesar 16% dari rata-rata tingkat
kehadiran dewan komisaris minimum dan maksimum.
Variabel dewan direksi memiliki nilai minimum 68,00 pada Bank
Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten dan nilai maksimum
100,00 pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT. Inti Agro
Indonesia (Persero) Tbk, PT. LEN Industri (Persero) dan PT. Patra
Jasa (Persero). Dari seluruh sampel yang digunakan dalam penelitian
ini, rata-rata tingkat kehadiran dalam rapat memiliki nilai mean
sebesar 88,5000 dengan standar deviasi 8,60132 yang menjelaskan
nilai kesenjangan sebesar 9,72%.
Variabel komite audit memili nilai minimum 45,00 pada Bank
Tabungan Negara, sedangkan nilai maksimum 100,00 terdapat pada
PT. Asabri (Persero), PT. Astra Internasional Tbk, PT. Indocement
Tunggal Prakarsa Tbk, PT. Inti Agro Resources Tbk, PT. Jaminan
Sosial Tenaga Kerja (Persero), PT. Jasa Raharja (Persero), PT. United
Tractors Tbk, PT. LEN Industri (Persero) dan PT. Patra Jasa (Persero).
Nilai mean pada variabel komite audit sebesar 85,4333 dan standar
deviasinya sebesar 15,28732. Hal ini menunjukkan tingkat
kesenjangan sebesar 18%.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui distribusi data
dalam variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Data yang
baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang
memiliki distribusi normal (Sujarweni, 2014). Pada penelitian ini
pengujian dilakukan dengan menggunakan model uji normalitas
Gambar 4.1 Uji Normalitas Data
Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa terlihat
titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis.
Dengan ini maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Sehingga model regresi layak dipakai untuk pengungkapan
sustainability report berdasarkan variabel independennya.
b. Uji Asumsi Klasik
Uji Multikolinearitas
Untuk mengetahui terjadi atau tidak multikolinearitas dapat
dilihat dari nilai tolerance dan nilai VIF. Jika nilai tolerance >
0,10 dan nilai VIF < 10 maka multikolinearitas tidak terjadi.
Tabel 4.4 Coefficientsa
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1
komisaris ,632 1,582
direksi ,711 1,406
audit ,664 1,506
a. Dependent Variable: sustainability
Pada tabel di atas terlihat bahwa untuk ketiga variabel
independen mempunyai angka VIF kurang dari 10 yaitu 1,582,
1,406 dan 1,506. Sedangkan angka tolerance lebih dari 0,10
yaitu 0,632, 0,711 dan 0,664. Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi
multikolinieritas. Untuk lebih meyakinkan dapat juga dilihat
pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.5 Coefficient Correlationsa
Model Komite Direksi Komisaris
1 Correlations Komite 1,000 -,252 -,410 Direksi -,252 1,000 -,330 Komisaris -,410 -,330 1,000 Covariances Komite ,162 -,070 -,074 Direksi -,070 ,478 -,103 Komisaris -,074 -,103 ,202 a. Dependent Variable: Sustainability
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa semua angka
korelasi antar variabel di bawah nilai 0,5. Seperti korelasi
0,330; korelasi antara dewan direksi dengan komite audit
-0,252 dan korelasi antara komite audit dan dewan komisaris
adalah -0,410. Hal ini menunjukkan tidak adanya permasalahan
multikolinieritas pada model regresi di atas.
1. Analisis Regresi Linear Berganda
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel independen dan satu
variabel dependen. Variabel independennya adalah dewan komisaris,
dewan direksi dan komite audit. Sedangkan variabel dependennya
adalah sustainability report. Berdasarkan hal tersebut maka persamaan
matematikanya sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e Di mana: Y = Sustainability Report X1 = Dewan Komisaris X2 = Dewan Direksi X3 = Komite Audit a = Konstanta b1b2b3 = koefisien regresi e = Variabel Pengganggu
Tabel 4.6 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 68,012 52,296 1,301 ,205 Komisaris -,349 ,450 -,186 -,775 ,445 Direksi -,299 ,692 -,098 -,432 ,669 Komite ,476 ,403 ,276 1,181 ,248 a. Dependent Variable: Sustainability
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan
program SPSS 21.0 diketahui bahwa persamaan regresi linear
berganda adalah sebagai berikut:
Sustainability Report = 68,012 - 0,349Komisaris -0,299Direksi + 0,476Komite + e
Dari hasil persamaan di atas dapat diinterprestasikan
bahwa:
- Nilai konstanta adalah 68,012; artinya apabila dewan
komisaris, dewan direksi dan komite audit bernilai 0, maka
sustainability report akan bernilai 68,012.
- Nilai koefisien dewan komisaris adalah -0,349 menyatakan
bahwa setiap peningkatan dewan komisaris 1% (dengan
asumsi bahwa nilai koefisien lain tetap) maka akan
menurunkan sustainability report sebesar 0,349. Begitu juga
sebaliknya, jika dewan komisaris mengalami penurunan
sebesar 1% (dengan asumsi bahwa nilai koefisien lain tetap)
- Dewan direksi mempunyai nilai koefisien sebesar -0,299
menyatakan bahwa setiap peningkatan dewan direksi 1%
(dengan asumsi bahwa nilai koefisien lain tetap) maka akan
menurunkan sustainability report sebesar 0,299. Begitu juga
sebaliknya, jika dewan direksi mengalami penurunan sebesar
1% (dengan asumsi bahwa nilai koefisien lain tetap) maka
akan meningkatkan sustainability report sebesar 0,299.
- Komite audit mempunyai nilai koefisien regresi sebesar
0,476 menyatakan bahwa setiap peningkatan komite audit 1%
(dengan asumsi bahwa nilai koefisien lain tetap) maka akan
meningkatkan sustainability report sebesar 0,476. Apabila
komite audit mengalami penurunan sebesar 1% (dengan
asumsi bahwa nilai koefisien lain tetap) maka akan
menurunkan sustainability report sebesar 0,476.
2. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Pengujian koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur
seberapa jauh kemampuan variabel dependen. Nilai yang mendekati
satu variabel berarti variabel-variabel independen memberikan hampir
semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel
dependen. Berikut hasil perhitungan koefisien determinasi (R2) yang
Tabel 4.7 Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,242a ,058 -,050 27,01885 2,357 a. Predictors: (Constant), Komite, Direksi, Komisaris
b. Dependent Variable: Sustainability
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa R square atau koefisien
determinasinya 0,058 (berasal dari 0,242 x 0,242). Hal ini berarti
variabel independen dalam penelitian ini menerangkan variabel
dependennya sebesar 5,8% dan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor
lain.
3. Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk menguji seberapa jauh semua
variabel bebas yang dimasukkan dalam model mampu mempengaruhi
variabel terikat (Widianto, 2011). Dalam hal ini terdapat dua uji
hipotesis yaitu:
a. Uji Simultan (Uji-F)
Uji simultan (Uji-F) digunakan untuk menguji signifikansi
semua variabel independen memiliki pengaruh simultan atau
bersama-sama terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini,
uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh dewan komisaris,
dewan direksi dan komite audit secara bersama-sama terhadap
Tabel 4.8 ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1176,995 3 392,332 ,537 ,661b Residual 18980,472 26 730,018 Total 20157,467 29 a. Dependent Variable: Sustainability
b. Predictors: (Constant), Komite, Direksi, Komisaris
Dari uji ANOVA dapat dilihat bahwa hasil uji F yang telah
dilakukan mempunyai nilai signifikansi atau probabilitasnya 0,661.
Nilai probabilitas tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga H0
diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara
simultan atau bersama-sama seluruh variabel independen tidak
berpengaruh terhadap sustainability report.
b. Uji Parsial (Uji-t)
Uji parsial (Uji-t) digunakan untuk melihat seberapa jauh
pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen
dengan menganggap variabel lainnya konstan. Pengujian ini
digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh dewan
komisaris, dewan direksi dan komite audit secara signifikan atau
Tabel 4.9 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 68,012 52,296 1,301 ,205 Komisaris -,349 ,450 -,186 -,775 ,445 Direksi -,299 ,692 -,098 -,432 ,669 Komite ,476 ,403 ,276 1,181 ,248 a. Dependent Variable: Sustainability
Dari tabel di atas dapat diketahui hasil bahwa signifikansi
untuk variabel dewan komisaris dengan proksi rata-rata tingkat
kehadiran anggota dalam rapat sebesar 0,445. Hal ini menunjukkan
bahwa probabilitas dewan komisaris lebih besar dari 0,05 sehingga
dewan komisaris ditolak dan H0 diterima. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap
sustainability report.
Pada variabel dewan direksi yang diproksi dengan rata-rata
tingkat kehadiran anggota dalam rapat diketahui nilai
signifikansinya lebih besar dari 0,05 yakni 0,669. Dengan
demikian hipotesis untuk dewan direksi ditolak dan H0 diterima.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dewan direksi tidak
berpengaruh terhadap sustainability report.
Pada variabel komite audit yang diproksi dengan rata-rata
tingkat kehadiran anggota dalam rapat diketahui bahwa nilai
demikian hipotesis untuk komite audit ditolak dan H0 diterima.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa komite audit tidak berpengaruh
terhadap sustainability report.
C. Pembahasan
Pada penelitian ini variabel yang digunakan untuk menunjukkan
bagaiman praktik corporate governance pada perusahaan dengan
menggunakan rata-rata tingkat kehadiran dalam rapat anggota dewan
komisaris, dewan direksi dan komite audit. Berdasarkan hasil uji yang
dilakukan dapat di analisa bahwa praktik corporate governance pada 30
perusahaan yang dijadikan sampel masih ada beberapa tingkat kehadiran
rata-rata anggota dalam rapat yang di bawah angka 50%, seperti rata-rata
tingkat kehadiran dalam rapat dewan komisaris pada PT. Pertamina
(Persero) sebesar 47% dan untuk komite audit yang rata-rata tingkat
kehadiran anggota dalam rapat yang di bawah 50% adalah Bank Tabungan
Negara sebesar 45% dan PT. Angkasa Pura (Persero) sebesar 46%.
Sustainability report pada penelitian ini diukur dengan menggunakan metode content analysis. Content analysis yang dilakukan
berdasarkan pada pedoman pengungkapan sustainability report yaitu GRI
(Global Reporting Initiative) 3.0. GRI 3.0 terdiri dari 3 indikator dengan
total 79 item pengungkapan, yaitu indikator ekonomi (9 item), indikator
lingkungan (30 item) dan indikator sosial (40 item). Pada perusahaan
sampel menunjukkan hasil yang belum cukup baik dalam pengungkapan
sampel yang hanya mengungkapkan sustainability report kurang dari
setengah dari total 79 item yang harus diungkapkan.
Perusahaan dengan rata-rata pengungkapan tertinggi adalah PT.
Indocement Tunggal Prakarsa, PT. Inti Agro Resources dan PT. Kaltim
Prima Coal. Ketiga perusahaan tersebut adalah perusahaan sampel yang
memiliki rata-rata pengungkapan tertinggi yaitu 100%. Sedangkan
perusahaan yang mempunyai prosentase pengungkapan terendah adalah
PT. Patra Jasa sebesar 11% dari total item sustainability report.
Dalam penelitian ini dewan komisaris, dewan direksi dan komite
audit secara uji-F tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan
sustainability report. Berdasarkan perhitungan statistik dengan
menggunakan uji-t juga menunjukkan hasil bahwa masing-masing variabel
independen memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 maka H0
diterima. Sehingga dapat dikatakan bahwa variabel independen tidak
berpengaruh terhadap pengungkapan sustainability report.
Hasil penelitian ini dengan menggunakan rata-rata tingkat
kehadiran anggota dewan komisaris, dewan direksi dan komite audit
dalam rapat menunjukkan ketidaksesuaian antara hasil dan hipotesis. Pada
hipotesis pertama menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh
terhadap pengungkapan sustainability report, sedangkan berdasarkan hasil
penelitian ditemukan tidak adanya pengaruh pengungkapan sustainability
report. Hipotesis kedua menyatakan bahwa dewan direksi berpengaruh terhadap pengungkapan sustainability report, sedangkan berdasarkan hasil
penelitian didapat bahwa dewan direksi tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan sustainability report. hipotesis terakhir menyatakan bahwa
komite audit berpengaruh terhadap pengungkapan sustainability report,
namun berdasarkan hasil penelitian juga ditemukan nahwa komite audit
tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sustainability report.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang telah dilakukan
oleh Fitri dan Subroto (2013) dan Pratiwi (2013) yang menyatakan bahwa
dewan komisaris, dewan direksi dan komite audit tidak berpengaruh
terhadap pengungkapan sustainability report. Namun hasil ini tidak
konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Marsono (2013),
Suryono dan Prastiwi (2011) dan Widianto (2011) yang menyatakan
bahwa dewan komisaris, dewan direksi dan komite audit berpengaruh
terhadap pengungkapan sustainability report.
Tujuan dari sustainability seharusnya adalah selalu mendorong
perlakuan yang bertanggung jawab lebih dari pada hanya mencegah
perbuatan yang salah (Sutedi, 2011 : 12). Bentuk tanggung jawab ini bisa
dicerminkan dengan praktik corporate governance dalam sebuah
perusahaan. Salah satu praktiknya adalah dengan mengadakan pertemuan
berkala secara teratur antar organ perusahaan. Dari teori tersebut peneliti
menyimpulkan bahwa semakin besar rata-rata tingkat kehadiran rapat yang
dilakukan dewan komisaris, dewan direksi dan komite audit seharusnya
Akan tetapi hasil penelitian ini bertolak belakang dengan teori
tersebut. Hal ini disebabkan karena hasil pembahasan dalam rapat hanya
membahas kinerja perusahaan yang lebih dititik beratkan pada laporan
yang bersifat wajib. Berdasarkan BAPEPAM No. 38/PM/1996 (dalam
Putri, 2014) terdapat dua jenis laporan tahunan yaitu laporan wajib berupa
laporan keuangan dan laporan bersifat suka rela seperti sustainability
report. sehingga pembahasan kinerja terhadap pengungkapan
sustainability report menjadi hal yang tidak diutamakan jika dibandingkan dengan pengungkapan laporan keuangan.