• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membedah Laporan EITI KAP SUKRISNO SARWOKO & SANDJAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Membedah Laporan EITI KAP SUKRISNO SARWOKO & SANDJAJA"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

KAP SUKRISNO SARWOKO & SANDJAJA

Membedah Laporan EITI

(2)

Signifikansi Laporan EITI terhadap Pembangunan di Daerah

Agenda

3 4

Apa itu EITI 1

Penerapan Standar EITI 2013 dan Dampak Terhadap Laporan

Komponen dalam Laporan EITI

2

(3)

EITI

Apa itu

(4)

Apa itu EITI ?

Extractive Industries Transparency Initiative (EITI) atau Inisiatif Transparansi untuk industri Ekstraktif adalah standar global bagi transparansi penerimaan negara dari sektor ekstraktif;

termasuk didalamnya minyak, gas bumi, mineral dan batu bara. Untuk Indonesia, kegiatan ini diatur dalam Peraturan Presiden No 26 tahun 2010 tentang Transparansi Pendapatan Negara dan Pendapatan Daerah yang Diperoleh dari Industri Ekstraktif.

EITI memiliki tujuan jangka panjang yaitu mewujudkan

pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam.

(5)

Apa itu EITI ?

Companies Disclose Payments

Government

Discloses Receipt of Payments

Independent Verification of Tax

& Royallty Payments

Oversight by a Multi- Stakeholder Group Prinsip kerja dan proses EITI

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(6)

Standar EITI

(7)

Entitas Pelapor Sektor Migas

Instansi Pemerintah :

• SKK Migas, Kementerian ESDM

• Ditjen Migas, Kementerian ESDM

• Dit PNBP, Ditjen Anggaran, Kementerian Keuangan

• Ditjen Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan

• Propinsi Jawa Timur

• Propinsi Kalimantan Timur

• Propinsi Riau

Kontraktor Migas :

• Operator adalah pemegang participating interest yang ditunjuk sebagai wakil oleh pemegang participating interest lainnya yang menjalankan kegiatan operasi Migas.

• Non Operator adalah pemegang participating interest yang tidak menjalankan kegiatan operasi Migas.

• Participating Interest adalah hak dan kewajiban sebagai kontraktor kontrak kerja sama, baik secara langsung maupun tidak langsung pada suatu wilayah kerja.

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(8)

Entitas Pelapor Sektor Minerba

Instansi Pemerintah :

• Ditjen Minerba, Kementerian ESDM

• Ditjen Pajak, Kementerian Kementerian Keuangan

• Dit PNBP, Ditjen Anggaran, Kementerian Keuangan

• Ditjen Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan

• Propinsi Jawa Timur

• Propinsi Kalimantan Timur

• Propinsi Riau

Perusahaan Minerba :

• Perusahaan Batubara pemegang kontrak PKP2B dan IUP-Batubara yang membayar royalty >25 M di tahun 2012 & 2013.

• Perusahaan Mineral pemegang kontrak KK-Mineral dan IUP-Mineral yang membayar royalty >25 M di tahun 2012 & 2013.

(9)

Dalam Laporan EITI

Komponen

(10)

Komponen dalam Laporan EITI

Contextual Report

Reconciliation Report

Laporan yang berisi informasi rekonsiliasi penerimaan pajak dan non pajak yang berasal dari sektor migas dan minerba antara yang telah dibayarkan oleh perusahaan dan diterima oleh pemerintah.

Laporan yang berisi informasi konteks dari industri ekstraktif di Indonesia untuk memperkuat laporan EITI dalam rangka

memperbaiki proses validasi dan tata kelola untuk memaksimalkan dampak dalam industri ekstraktif.

(11)

Komponen dalam Laporan EITI

Contextual Report

Contoh dari isi laporan kontekstual mencakup:

• Ringkasan Eksekutif

• Latar Belakang

• Tata kelola industri ekstraktif di Indonesia

• Proses tender kontrak pertambangan migas dan perijinan pertambangan minerba

• Manajemen penerimaan Negara dan industri esktraktif

• Pengelolaan industry ekstraktif

• Badan usaha milik Negara (BUMN)

• Kesimpulan dan rekomendasi

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(12)

Komponen dalam Laporan EITI

Reconciliation Report

Contoh dari isi laporan rekonsiliasi mencakup:

• Ringkasan Eksekutif

• Ruang lingkup rekonsiliasi

• Metodologi

• Hasil rekonsiliasi

• Dana Bagi Hasil

• Prosedur audit

• Kesimpulan dan rekomendasi

(13)

Dan Dampak Terhadap Laporan

Penerapan Standar EITI 2013

(14)

Standar EITI 2013

Contextual Report

• A description of the legal framework and fiscal regime govevrning the extractive industries (Requirement 3.2)

• An overview of the extractive industries, including any significant exploration activities (Requirement 3.3)

• Where available, information about the contribution of the exctractive industries to the economy for the fiscal year

covered by the EITI Report (Requirement 3.4)

• Production data for the fiscal year covered by the EITI Report (Requirement 3.5)

• Information regarding state participation in the extractive industries (Requirement 3.6)

(15)

Standar EITI 2013

Contextual Report (lanjutan)

• Distribution of revenues from the extractive industries (Requirement 3.7)

• Any further information requested by the MSG on revenue management and expenditures (Requirement 3.8)

• Information on the licensing process and register (Requirement 3.9) and the allocation of the licenses (Requirement 3.10)

• Any information requested by the MSG on beneficial ownership (Requirement 3.11)

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(16)

Standar EITI 2013

Reconciliation Report - Oil and Gas Non-tax revenue:

• Revenue from oil production

• Revenue from gas production

• Revenue from crude oil

• Signature bonus

• Production bonus

• NOC Dividends

• Social expenditures

Taxes:

• Oil income tax

• Gas income tax

• Land and building tax

• Value added tax (VAT)

• Local tax and retribution

(17)

Standar EITI 2013

Reconciliation Report - Minerals and Coal Non-tax revenue:

• Royalties

• Sales Revenue Share

• Dividends

• Dead rent

• Forestry fees

• Social expenditures

Taxes:

• Corporate income tax

• Land and building tax

• Other taxes and levels (regional taxes)

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(18)

Standar EITI 2013

Additional commentary on scope

• The materiality and inclusion of sub-taxnational payments (Requirement 4.2(d))

• The disclosure and reconciliation of payments to and from state-owned enterprises (Requirement 4.2(c))

• The materiality and inclusion of sub-national transfers in accordance with Requirement 4.2(e)

(19)

Terhadap Pembangunan

Signifikansi Laporan EITI

Di Daerah

(20)

EITI-DBH SDA-Pemda

EITI

DBH SDA Pemda

Hubungan antara EITI - DBH SDA - Pemda

(21)

Mulai tahun 2013 EITI International telah menerbitkan EITI standard yang baru.

Beberapa perubahan yang terkait dengan DBH SDA adalah:

a. Berdasarkan requirement 4.2 (e) bahwa transfer DBH SDA Migas dan Pertum dari Pemerintah kepada seluruh Pemda yang selama ini belum menjadi bagian yang wajib dicantumkan dalam pelaporan telah diubah menjadi bagian yang wajib terdapat dalam laporan EITI;

b. MSG didorong agar dapat melakukan rekonsiliasi data transfer tersebut dan menjelaskan apabila terdapat perbedaan data antara Pemerintah dengan Pemda-pemda, namun rekonsiliasi data tersebut belum menjadi suatu kewajiban.

Hubungan antara EITI dengan Pemda

EITI-DBH SDA-Pemda

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(22)

Berdasarkan EITI requirement 4.2 (d) setiap pembayaran (yang jumlahnya material) oleh perusahaan kepada Pemda harus menjadi bagian dari

Pelaporan EITI dan merupakan data yang wajib direkonsiliasi;

Pembayaran dimaksud dapat berupa Pajak dan Retribusi Daerah.

Dengan adanya laporan EITI, Pemda dituntut untuk menyampaikan

penerimaan PDRD dari setiap perusahaan industri ekstraktif yang beroperasi di daerahnya.

Hubungan antara EITI dengan DBH SDA

EITI-DBH SDA-Pemda

(23)

DBH:

Dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah

berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

DBH SDA:

Bagian daerah yang berasal dari PNBP SDA Kehutanan, Pertambangan Umum, Perikanan, Pertambangan Minyak Bumi, Pertambangan Gas Bumi, dan Pertambangan Panas Bumi.

Hubungan antara DBH SDA dengan Pemda

EITI-DBH SDA-Pemda

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(24)

• Penerimaan Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH)

• Penerimaan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH)

• Penerimaan Dana Reboisasi (DR)

DBH Kehutanan

• Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan

• Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan

DBH Perikanan

• Penerimaan Pungutan Pengusahaan Perikanan

• Penerimaan Pungutan Hasil Perikanan

DBH Pertambangan Umum

• Penerimaan SDA Minyak Bumi

• Penerimaan SDA Gas Bumi

DBH Pertambangan Migas

EITI

Cakupan/Jenis DBH-SDA

EITI-DBH SDA-Pemda

(25)

Prinsip Penyaluran

BY ORIGIN BASED ON ACTUAL

REVENUE

• Daerah penghasil Mendapatkan porsi

lebih besar

• Daerah lain

(dalam provinsi ybs.) Mendapatkan bagian

pemerataan dengan porsi tertentu

Penyaluran DBH SDA berdasarkan realisasi penerimaan T.A.

berjalan (Ps. 23 UU 33/2004)

EITI-DBH SDA-Pemda

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(26)

Peranan Pemda dalam transparansi penerimaan Industri Ekstraktif

Dalam tahapan perencanaan

Dalam tahapan

realisasi penerimaan

1 2

EITI-DBH SDA-Pemda

(27)

Siklus DBH-SDA

Perencanaan Penerimaan

Perencanaan DBH

Rekonsiliasi Realisasi Proses

Penyaluran APBD

1

2

4 3 5

1. Perencanaan Penerimaan masuk dalam APBN

2. PMK merupakan Perkiraan Alokasi

3. Rekonsiliasi dilaksanakan secara Rutin

4. Penyaluran mengikuti Pagu PMK/DIPA

5. APBD dapat lebih

rendah/tinggi dari PMK

EITI-DBH SDA-Pemda

EITI Workshop - 7 September 2015

Independent Administrator for EITI Indonesia 2012-2013

(28)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Kumulasi dari frekwensi relatif tumor-tumor itu adalah 35,10%, clan bila diasumsikan bahwa separo di antaranya adalahjenis yang layak ootuk diterapi (pertimbangan jenis

Sebagai tambahan, konstruk laten tidak dapat diukur secara langsung (bersifat laten) dan membutuhkan indikator-indikator untuk mengukurnya. Indikator-indikator tersebut

Hasil Verifikasi Kedalaman Pemeruman SBES Verifikasi data pemeruman menggunakan SBES dimaksudkan untuk mengetahui standar deviasi lajur yang akan dijadikan sebagai

maka ketentuan yang harus digunakan mengenai batasan terhadap pesawat mili- ter yang diterbangkan dari kapal induk adalah bahwa sisi-sisi yang diambil dari sumbu

Pada tahap pendefinisian kebu- tuhan awal meliputi data yang berhu- bungan dengan perancangan sistem keha- diran dosen, tool yang digunakan untuk membuat perancangan

Tipe pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe pendekatan studi kasus feminis, karena saya ingin mengamati fenomena dan peran perempuan dalam komunitas

Secara teoritis, munculnya sejumlah pekerja anak merupakan bye product (produk ikutan) dari suatu pelaksanaan rencana program pembangunan sosial-ekonomi di

Tujuan dari penulisan ini adalah membuat sebuah sistem yang dapat membantu kinerja dari departeman kesehatan dalam menentukan kelayakan suatu perusahaan kecil atau industri