1
DRAFT REKOMENDASI KEBIJAKAN
JUDUL REKOMENDASI
Sistem Rantai Pasok Dalam Mendukung Pengembangan Komoditas Patin Pasopati di Tulung Agung, Jawa Timur
SASARAN REKOMENDASI
Kebijakan Pasar dan Perdagangan, Kebijakan Budidaya
LATAR BELAKANG
Saat ini Patin merupakan salah satu komoditas perikanan dengan permintaan yang cukup tinggi. Hal ini salah satunya disebabkan karena adanya perubahan preferensi dari protein berbahan dasar unggas ke bahan dasar ikan untuk mengikuti pola hidup sehat.
Kadar kolesterol ikan patin relatif lebih rendah dari kolesterol unggas. Kandungan proteinnya sebesar 68,6%, lemak 5,8%, abu 3,5% dan air 59,3%. (Kholis Mahyudin, 2010)
Permintaan patin yang tinggi bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri saja namun juga sudah merambah ke pasar luar negeri. Biasanya patin untuk konsumsi dalam negeri berbentuk ikan segar sedangkan untuk permintaan pasar internasional, patin dijual dalam keadaan fillet (sayatan tipis). Untuk menjual dalam bentuk fillet, berat 1 (satu) ekor patin minimal 800 gram. Selera pasar internasional juga menginginkan patin yang berdaging putih karena terkesan bersih dan sehat. Sedangkan, patin yang banyak dibudidayakan saat ini adalah patin jambal memiliki ciri daging yang putih namun berbadan kecil dan patin siam yang memiliki daging berwarna abu-abu kekuningan tetapi bertubuh besar.
Untuk menjawab tantangan permintaan internasional dengan spesifikasi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI), membuat terobosan penelitian dengan mengembangan jenis patin baru yang diharapkan memiliki daging ikan yang putih dan bentuk yang besar. Jenis patin baru
2 tersebut adalah patin pasupati. Patin Pasupati merupakan jenis ikan patin hasil persilangan antara induk patin siam betina dengan induk patin jambal jantan.
Saat ini sedang dikembangkan Patin Pasupati di daerah Tulung Agung, Jawa Timur.
Wilayah Tulung Agung dipilih sebagai daerah pengembangan patin jenis pasupati karena di wilayah ini banyak pembudidaya yang sudah berhasil memproduksi Patin jenis Siam sebelumnya. Berdasarkan data statistik perikanan Kabupaten Tulungagung, pada tahun 2011 produksi ikan Patin Siam di Tulungagung sebanyak 344 ton dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 4,948 ton. Diharapkan patin pasupati dapat pula berhasil di wilayah ini seperti halnya pada budidaya patin siam.
Selain memiliki potensi budidaya patin yang cukup menunjang, dalam setiap produk perikanan dibutuhkan rantai pasok yang baik dalam mewujudkan keberhasilan pengembangan produk. Terlebih lagi patin pasupati di Tulung Agung memiliki keunggulan dalam mewujudkan rantai pasok yang baik karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari wilayah pengekspor yaitu Kota Surabaya. Untuk itu perlu dihasilkan sebuah rekomendasi mengenai sistem rantai pasok yang dapat diterapkan di wilayah ini guna menunjang pengembangan jenis patin pasopati untuk kebutuhan ekspor.
OPSI REKOMENDASI
Berdasarkan usaha budidaya patin pasopati yang ada saat ini, maka terdapat opsi kebijakan yang perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan rantai pasok dalam menunjang kebutuhan ekspor antara lain:
1. Integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir untuk komoditas patin pasopati 2. Segmentasi pasar yang jelas bagi produk patin pasopati dan patin siam
3 DASAR PERTIMBANGAN REKOMENDASI
Opsi 1: Integrasi rantai pasok dari hulu-hilir untuk komoditas patin pasopati
1. Kendala dalam pengembangan akibat terpisah-pisahnya sistem usaha patin pasopati Saat ini sebagai wilayah percontohan pengembangan patin pasopati kedua setelah Kota Palembang Sumatera Selatan, BBPPI Sukamandi telah memberikan bantuan sebanyak 10.000 ekor benih ikan yang diperuntukan bagi para pembudidaya melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung. Meskipun sudah dirintis pengembangan benih patin pasupati di Tulungagung oleh BPPI Sukamandi, namun masih belum bisa berkembang dengan baik.
Beberapa kendala yang ditemui adalah masih rendahnya pengetahuan tentang budidaya patin ini, benih didatangkan dari sukamandi yang letaknya cukup jauh sehingga kemungkinan dapat menjadi salah satu penyebab survival rate (SR) yang rendah, biaya pakan mahal, permintaan yang masih tergolong rendah untuk patin pasopati dan orientasi pasar yang belum jelas. Kendala ini berada pada kegiatan subsistem sarana produksi, subsistem produksi, subsistem pasca panen, subsistem pemasaran dan sistem penunjang.
Pada subsistem sarana produksi antara lain sulitnya mendapatkan benih patin terutama pasupati yang harus didapatkan dari luar daerah yaitu Sukamandi. Letaknya yang jauh membuat para pembudidaya mengambil indukan dari tempat lain yang tidak terjamin kualitasnya. Harga sarana produksi juga seperti pakan juga tinggai, menyerap 90% dari seluruh biaya operasional (BPPI Sukamandi, 2013) Sedangkan pada subsistem produksi, penguasaan teknologi budidaya patin pasupati oleh pembudidaya masih kurang karena ikan pasupati relatif masih baru di kalangan pembudidaya di Tulungagung. BPPI Sukamandi baru melakukan diseminasi budidaya patin pasupa ti pada tahun 2011 lalu, dan hanya dalam diseminasi pembenihan patin pasupati, terhadap 20 UPR selama 12 hari dalam bentuk pendampingan. Tentunya budidaya ini masih menyulitkan bagi para pembudidaya patin di Tulungagung.
4 Pada subsistem pasca panen dan pengolahan adalah belum berfungsinya rumah filet yang ada di Tulungagung sehingga pembudidaya harus menjual patin ke Surabaya melalui pedagang besar (pelaku hanya 3 orang). Selain itu masyarakat belum memiliki keterampilan memfilet ikan sehingga kesulitan dalam pengoperasian rumah filet.
Rendemen patin yang hanya 50% dari total berat tubuh, menyebabkan terjadinya banyak limbah dari proses pemfiletan patin. Menurut hasil penelitian Rusli (2004), rendemen patin adalah sebagai berikut: daging 54%, tulang 12%, kulit 4,5%, kepala 20,6%, isi perut 5,5% dan ekor 2,8%. Pemanfaatan limbah patin diantaranya untuk sisa daging sebagai produk olahan ikan (bakso, nugget, abon), kulit ikan sebagai kerupuk rambak, minyak ikan, gelatin, tepung ikan dan lainnya. Sedangkan untuk subsistem pemasaran yang menjadi kendala terbatasnya daya saing terhadap hasil produksi patin adalah penguasaan pasar pada kelompok tertentu serta fasilitas pemasaran yang terbatas. Pedagang besar yang ada, menyediakan benih yang berasal dari Kab. Bogor, serta menyalurkan hasil panen patin ke pengusaha di Surabaya.
Selain, masalah dalam subsistem, kendala lainnya adalah lemahnya keterkaitan antar subsistem. Kurangnya koordinasi dan pendampingan menyebabkan antara subsistem yang satu dan lainnya tidak terkoneksi. Penyuluh perikanan yang ada di lokasi adalah 1 orang setiap kecamatan atau sekitar 10 orang dalam kabupaten, dan hanya 2 orang yang optimal melakukan penyuluhan terhadap masyarakat terutama pembudidaya ikan. Pendampingan teknologi yang tidak holistik membuat para pelaku usaha tidak memahami kaedah pembenihan maupun pembesaran patin pasupati secara benar
2. Infrastruktur untuk integrasi telah tersedia di Tulungagung
Tulungagung telah memiliki banyak fasilitas infrastruktur untuk mendukung pengembangan budidaya patin pasopati. Infrastruktur dalam pengembangan patin di Kab. Tulungagung:
a) Rumah fillet
5 Bantuan rumah fillet yang diberikan pada tahun 2012 lalu oleh P2HP KKP dengan luas ± 300 m² belum dapat dioperasionalisasikan akibat adanya beberapa peralatan yang masih harus dipenuhi dan belum adanya kesepakatan harga beli patin antara pembudidaya dan perusahaan. Jika sesuai dengan rencana, rumah filet ini akan dikelola oleh PT. ADIB Global Food dengan sistem bagi hasil.
Diharapkan rumah fillet ini dapat memproduksi sejumlah 5 ton/hari dan menyerap banyak tenaga kerja yang banyak sehingga penduduk Tulungagung lebih terampil dalam pemfiletan ikan.
b) Laboratorium percobaan pembibitan patin pasupati
Laboratorium ini merupakan kerjasama antara Dinas KP Tulungagung dengan BPPI Sukamandi yang berlokasi di kantor Dinas KP Tulungagung. BPPI Sukamandi menyediakan bibit induk patin jambal unggul untuk dapat dikawinkan dengan patin siam yang ada di Tulungagung sehingga dapat menghasilkan benih patin pasupati unggul untuk dapat dibesarkan di Tulungagung sehingga tidak perlu mengambil dari Sukamandi.
c) Pabrik es
Terdapat 2 unit pabrik es di Tulingagung, dimana 1 unit milik perorangan dan 1 unit milik Dinas yang dihibahkan kepada KUB Nelayan Mina Jaya dari P2HP KKP up DKP Tulungagung (Berita acara hibah dengan syarat tidak dipindahtangankan).
Pabrik es berada di PPI Popoh Kec. Besuki, dengan kapasitas 15 ton, namun produksi maksimal 10 ton/hari dengan mempertimbangkan BEP, dengan rata-rata 5,5 ton/hari untuk kebutuhan sebagian besar nelayan dan juga pembudidaya baik di sekitar Tulungagung maupun daerah Gresik dan Jombang. Pengoperasian pabrik es ini akan didukung oleh alat transportasi mobil angkutan es untuk pemasaran yang akan diberikan oleh P2HP tahun 2013 ini sebanyak 1 unit
d) Pasar ikan
Pasar ikan ini berada di Kecamatan Bandung dengan ukuran 20 x 40 m, merupakan pasar ikan terbesar di wilayah Jawa Timur. Pasar ini ditujukan sebagai tempat
6 penjualan ikan laut karena letaknya yang dekat dengan pantai, tapi dapat juga diperuntukan bagi pemasaran ikan hasil budidaya. Pasar ikan ini biasanya digunakan untuk tempat transit ikan dari daerah Trenggalek, Lamongan, Tuban.
Untuk ikan budidaya banyak dipasarkan di pasar tradisional untuk konsumsi domestik. Ada 9 supplier besar yang menguasai pasar ini. Untuk kapasitas, pasar ini dapat menampung 40 ton/hari untuk kapasitas normal, pada musim panen 90 ton/hari, dan musim paceklik: 20-30 ton/hari.
e) Sarana Jalan
Infrastruktur berupa jalan raya yang menghubungkan antara Tulungagung dengan kota-kota lainnya sudah cukup baik. Rata-rata jalan yang menghubungkan antar daerah tersebut dalam kondisi baik dan dapat dilalui oleh angkutan truk.
f) Pengolahan patin
Terdapat beberapa unit pengolahan patin di Tulungagung meski masih dalam skala mikro dan kecil. Rata-rata ikan patin diolah dalam bentuk bakso ikan, nugget, burger, rambak kulit, abon, crispy ikan, keripik sirip ikan. Untuk saat ini, kapasitas pembuatan bakso patin sebesar 200 kg/bulan dengan harga Rp. 30.000,- s.d. RP.
35.000,-/kg.
g) Pabrik pakan mini
Terdapat sentra pabrik pakan mini dalam kondisi tidak beroperasi. Pabrik pakan mini ini merupakan bekas pabrik pakan mini untuk kebutuhan ternak ayam. Pabrik pakan mini ini dapat digunakan sebagai pabrik pakan mandiri untuk pembudidaya ikan Tulungagung, sehingga tidak terlalu tergantung pada pakan pabrikan yang harganya mahal dan menyedot hampir 90% biaya operasional.
Dengan adanya berbagai infrastruktur yang telah tersedia di Tulungagung, hal ini akan memudahkan peng-integrasian kegiatan usaha budaidaya mulai dari hulu hingga ke hilir. Setiap unit infrastruktur harus dapat dioptimalkan untuk mendorong pengembangan patin pasopati di wilayah Kabupaten Tulungagung.
7 Opsi 2: Segmentasi pasar yang jelas bagi produk patin pasopati dan patin siam
1. Keuntungan yang diterima oleh pembudidaya patin pasopati masih rendah
Dengan adanya pengembangan patin jenis baru ini tentunya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya. Namun pengembangan patin pasopati yang sebenarnya berorientasi untuk pasar ekspor, membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi. Benih ikan yang digunakan berasal dari Bogor dengan ukuran ¾ inchi. Harga benih di lokasi adalah Rp. 90,- s.d. Rp. 95,- /ekor. Bila benih dibeli di Bogor, harganya berkisar antara Rp. 70,- s.d. Rp. 75,- /ekor dengan biaya transportasi Rp. 500.000,- per trip. Sedangkan untuk biaya pakan, patin pasopati membutuhkan pakan sebanyak 580 sak per 16.000 ekor benih ikan sampai dengan panen dengan waktu 7-8 bulan. Harga per sak dari pakan adalah 236.000,-. Jumlah tersebut akan menghasilkan ikan patin sebanyak 15 ton dengan ukuran 1 kg/ekor.
Dengan demikian total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 11.760,-/kg. Dengan harga penjualan ikan patin pasopati seharga Rp. 15.000/kg, maka keuntungan yang diperoleh hanya sebesar Rp. 3239,-/kg. Patin siam justru dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan patin pasopati. Berikut tabel Rantai nilai patin siam dari pembudidaya ke pabrik filet (530 m2)
Tabel 1. Rantai nilai patin siam dari pembudidaya ke pabrik filet (530 m2)
Faktor Biaya & Keuntungan berdasarkan Pelaku Usaha
Jenis Ikan Patin
Pasupati Siam
1. Pembudidaya
Harga Penjualan Ikan (Rp/kg) 15,000 14,000
Total biaya (Rp/kg) 11,760.52 9,795.14
Keuntungan (Rp/kg) 3,239 4,205
Keuntungan per tahun (Rp) 46,072,595 89,703,614
BC Ratio 1.28 1.43
2. Pengumpul
Harga Penjualan Ikan (Rp/kg) 16.500 15,400
Total biaya (Rp/kg) 15545 14545
Keuntungan (Rp/kg) 955 855
Keuntungan per tahun (Rp) 695,208,500 622,408,500
Sumber: da ta pri mer di ol a h, 2013
Dengan ketiadaan segmentasi pasar, membuat patin siam dan patin pasupati harus bersaing dengan biaya produksi yang berbeda. Sementara keunggulan dari
8 masing-masing produk akhirnya menjadi tidak berarti. Patin siam dengan size yang besar dapat dikhususkan untuk menjadi bahan pasokan terhadap rumah fillet dengan orientasi ekspor. Sedangkan patin siam berbadan lebih kecil namun dengan biaya produksi yang lebih rendah dapat dikhususkan untuk melayani pasar domestik (kebutuhan rumah tangga, catering dan hotel). Dengan demikian diharapkan adanya perbedaan harga yang signifikan antara patin pasopati dan patin siam jika ada segmentasi pasar yang jelas. Jika tidak ada segmentasi yang jelas dalam produk patin yang dikembangkan, maka dapat dimaklumi pembudidaya patin pasopati akan beralih kembali untuk membudidayakan hanya jenis patin siam saja.
Harga tinggi yang diberikan oleh rumah fillet, dapat terbayarkan dengan harga penjualan ikan patin fillet di luar negeri yang cukup tinggi dan karena ukurannya yang besar, patin pasopati dapat dijual kembali oleh perusahaan rumah fillet untuk digunakan sebagai bahan baku tepung ikan, minyak gelatin dan makanan olahan siap saji.
STRATEGI IMPLEMENTASI
Strategi implementasi yang dapat dilakukan untuk melaksanakan opsi integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir untuk komoditas patin pasopati adalah:
1. Mengoptimalkan infrastruktur yang tersedia dalam rangka pengembangan usaha budidaya.
2. Menguatkan peran penyuluh untuk dapat mengkordinasikan sistem sarana produksi, subsistem produksi, subsistem pasca panen dan subsistem pemasaran .
Strategi implementasi selanjutnya adalah segmentasi yang jelas terhadap patin pasopati. Strategi yang dapat dilakukan adalah:
1. Melakukan sosialisasi keunggulan patin pasopati kepada para pelaku ekspor patin fillet 2. Membuat kesepakatan dengan para pengusaha fillet untuk menerima patin pasopati
untuk kebutuhan ekspor.
9 PRAKIRAAN DAMPAK REKOMENDASI
Bila opsi rekomendasi ini diimplementasikan, prakiraan dampak dari rekomendasi ini antara lain:
1. Terciptanya sistem rantai pasok yang terintegrasi dari hulu ke hilir 2. Minat pembudidaya terhadap patin pasopati semakin meningkat.
3. Kebutuhan patin baik untuk domestik dan luar negeri dapat terpenuhi
Penyusun Rekomendasi:
Nama: Hertria Maharani Putri dan Maharani Yulisti No Hp: 08111874607, 081388588509
Email: [email protected], [email protected]