• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUANG SOSIAL RUMAH TRADISIONAL BAANJUNGAN DI BANJARMASIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RUANG SOSIAL RUMAH TRADISIONAL BAANJUNGAN DI BANJARMASIN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)RUANG SOSIAL RUMAH TRADISIONAL BAANJUNGAN DI BANJARMASIN Muhammad Rifqi, Antariksa, Noviani Suryasari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Jln. Mayjen Haryono No. 167 Malang [email protected] ABSTRAK Manusia mempunyai naluri dan akal untuk mempertahankan dirinya yang diwujudkan dengan aktivitas seperti makan, beribadah, beristirahat. Semua aktivitas ini memperlukan tempat berupa ruang. Manusia juga memiliki kebutuhan sosial yang juga memperlukan ruang, karena hakikat manusia sebagai makhluk sosial, sehingga dapat disimpullan bahwa, ruang sosial merupakan ruang yang tidak dapat dilepaskan dari ilmu arsitektur maupun kehidupan manusia. Terbentuknya 11 tipe Rumah Tradisional Banjar tidak dapat dilepaskan dari aspek sosial. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ruang sosial pada rumah tradisional Baanjungan. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif kualitatif yang membantu dalam proses mengidentifikasi dan menganalisis ruang sosial rumah Baanjungan secara langsung dengan pendekatan naturalistik. Hasil studi menunjukan bahwa terdapat beberapa unsur pembentuk ruang sosial dalam rumah Baanjungan, namun yang paling penting merupakan unsur non fixed berupa aktivitas. Kata kunci: ruang sosial, aktivitas, rumah Baanjungan.. ABSTRACT Human have instinct and mind to defend him that realized with activity like eat, worship, rest and etc. All of this activity needs some space. Human also have social needs that also need space, because of human nature as social creature, so that can concluded social space is space cannot be separated from architecture or human life. Formation of 11 type Banjar tradicional house cannot be separated from social aspect. This method of this study use descriptif qualitative that help processing on identificating and analyzing on social space of Baanjungan house directly with a naturalistic approach. The results of the study show that there are some elements forming social space in the Baanjungan house, but the most important element is the non-fixed elements such as activity. Keywords: social space, activity, Baanjungan house.. 52. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014.

(2) Pendahuluan Perbedaan identitas, geografis ekologis, pengalaman sejarah, sistem sosial, kepercayaan menimbulkan berbagai kebudayaan daerah yang berlainan. Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu dari bagian pulau terbesar di Indonesia, yaitu Pulau Kalimantan. Suku Banjar adalah suku yang hidup sejak dulu dan mendominasi Pulau Kalimantan khususnya Provinsi Kalsel. Banyak hasil budaya sejak berdirinya Kesultanan Banjar, salah satunya adalah Rumah Tradisional Banjar Baanjung. Rumah Banjar atau Rumah Baanjung adalah rumah tradisional Suku Banjar. Perkembangan arsitektur dari jaman dahulu sampai sekarang merupakan usaha mewadahi aktivitas manusia, sehingga arsitektur berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan manusia. Manusia mempunyai naluri dan akal untuk mempertahankan dirinya yang diwujudkan dengan kebutuhan fisik dan nonfisik seperti makan, minum, beribadah, beristirahat, rasa aman. Semua aktivitas ini memperlukan tempat berupa ruang. Selain kedua kebutuhan tersebut, manusia juga memiliki kebutuhan sosial yang juga memperlukan ruang, dikarenakan hakikat manusia sebagai makhluk sosial, sehingga dapat disimpullan ruang sosial merupakan ruang yang tidak dapat dilepaskan dari ilmu arsitektur maupun kehidupan manusia. Studi ini mengambil ruang sosial yang dipengaruhi oleh aspek sosial masyarakat Banjar sebagai objek studi, dikarenakan ruang sosial sangat penting bagi rumah-rumah tradisional manapun, tidak terkecuali Rumah Banjar. Ruang merupakan unsur pokok dalam memahami arsitektur, ruang berfungsi sebagai wadah aktivitas manusia baik secara fisik maupun nonfisik. Arsitektur tidak bisa dilepaskan dari aspek sosial yang merupakan bagian nonfisik dari arsitektur. Rumah Baanjungan yang berjumah 11 tipe (Seman 2001) mengakibatkan perbedaan ruang sosial yang dipengaruhi oleh aspek sosial masing-masing keluarga yang menarik untuk dilakukan penelitian. Rumah tradisional yang masih bertahan berada dalam kondisi yang memprihatinkan, banyak bagian-bagian rumah tersebut yang sudah rusak sama sekali. Pemerintah sudah mengusahakan subsidi untuk perawatan bangunan-bangunan tersebut. Namun tidak jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak bantuan Pemerintah tersebut karena alasan-alasan tertentu, seperti malu atau gengsi. Nilai-nilai yang ada dalam Rumah Tradisional Banjar pun sudah banyak terkikis dikarenakan perubahan zaman. Nilai yang menitikberatkan pada tata karma, kesopansantunan dalam kegiatankegiatan masyarakat zaman dahulu sudah banyak yang hilang. Padahal nilai-nilai tersebut adalah warisan kekayaan budaya yang harus dijaga oleh generasi penerus. Berdasarkan latar belakang yang ada, permasalahan yang diungkapkan pada studi adalah Bagaimana Ruang Sosial Pada Rumah Tradisional Baanjungan di Banjarmasin?. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis ruang sosial rumah tradisional Baanjungan. Metode Penelitian Studi ini dilakukan dengan tujuan pokok mengetahui ruang sosial dalam rumah Baanjungan di Kota Banjarmasin dengan cara mengamati aspek sosial pada ruang dalam setiap sampel lewat gambar denah atau pengamatan langsung dan wawancara dengan penghuni untuk menggali data dokumenter, yaitu dengan metode deskriptif kualitatif. Metode ini menggunakan data-data yang ada berdasarkan survei primer maupun sekunder, menganalisis dan menginterpretasi data-data yang ditemukan dengan pendekatan secara naturalistik (fenomena yang ada di lapangan). Data-data yang ada merupakan hasil observasi lapangan, wawancara, pengambilan foto, dokumen pribadi atau resmi dan data lain yang mempunyai hubungan dengan studi ini. Ruang sosial diidentifikasi dengan menganalisis gambar denah dari segi peletakan ruang yang satu dengan ruang yang lain, dengan dasar teori aspek sosial ruang yang sudah diambil, sehingga akan diketahui ruang sosial yang terbentuk pada. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014. 53.

(3) rumah Baanjungan tersebut. Jika semua variabel studi telah ditemukan, maka selanjutnya akan dianalisis untuk mencari kesimpulan dari sampel ruang sosial dalam rumah tradisional ini. Dalam studi ini, nantinya akan digunakan gambar denah yang telah terkumpul dari kasus yang diambil. Tidak semua contoh denah pada akan dibahas, namun akan terwakili oleh sampel. Aspek Sosial Rumah Tinggal Rumah merupakan institusi, tidak hanya sebuah struktur yang dibuat untuk tujuan yang komplek. Membangun rumah merupakan fenomena budaya, bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan budayanya berasal. Rapoport (1969) berpendapat bahwa bentuk sebuah rumah tidak secara sederhana hasil dari faktor kekuatan fisik atau sebab yang lain, tetapi merupakan konsekuensi jangkauan yang luas dari faktor sosial-budaya yang terlihat pada masa tersebut. Menurut Rapoport (1969) aktivitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi bentukan ruang sosial. Ketika melihat aktivitas dari istilah yang umum, akan memberikan informasi yang sedikit, akan menarik jika melihatnya dari istilah yang spesifik. Jika kita mempertimbangkan bernafas sebagai istilah yang spesifik, kita akan sadar itu akan memberikan efek yang komplek pada sebuah bentuk. Kita telah melihat bagaimana agama dapat memengaruhi cara makan dan masih banyak contoh aspek keperluan dari cara makan yang dapat memengaruhi bentukan rumah. Kesimpulannya adalah aktivitas dasar seperti tidur, makan, berkumpul dengan keluarga dan orang lain, menerima tamu, beribadah dan faktor-faktor lain dapat berpengaruh besar terhadap bentukan, organisasi, tata letak ruangan maupun rumah itu sendiri jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.. Hasil dan Pembahasan Ada kalanya ruang tidak dapat dibedakan dengan tegas, jika dalam pengelolaan desain dan penataan elemen-elemen tidak menggunakan elemen-elemen pembatas secara tegas. Rapoport dalam Triyanto (1980) menyatakan bahwa ruang terbentuk karena adanya tiga hal, yaitu a. Ruang yang dibentuk oleh unsur-unsur tetap (misalnya dinding, lantai, plafon) yang mencakup organisasi ruang, orientasi, ukurannya, lokasi dan hierarki. b. Ruang yang dibentuk oleh unsur-unsur semi tetap (misalnya pola taman dalam dan tabir pembatas), bahkan furnitur/perabot dalam sebuah ruangan. c. Ruang yang dibentuk unsur-unsur tidak tetap, yakni ruang yang ditimbulkan oleh kerumunan orang (aktifitas) dan ini lebih bersifat abstrak. Ruang aktivitas merupakan ruang yang terbentuk dari keberagaman aktivitas pengguna dalam menyikapi suatu lingkungan dan saling tumpang tindih antar aktivitas yang terbentuk. Ruang yang terbentuk karena aktivitas bermasyarakat merupakan ruang sosial. Pemanfaatannya tidak bersifat pribadi, namun dilakukan oleh beberapa orang. Terbentuknya ruang sosial dimungkinkan karena adanya proses pembentukan hunian sebagai wadah fungsional yang dilandasi oleh pola aktifitas/kegiatan dan pewadahannya (Indeswari 2013). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa ruang sosial merupakan ruang yang bisa dibatasi oleh salah satu maupun ketiga unsur pembentuk ruang, yaitu unsur tetap, semi tetap dan tidak tetap. Adapun ruang sosial juga dipengaruhi oleh aspek-aspek sosial dalam rumah tinggal. Tata Ruang Dalam Rumah Tradisional Banjar secara umum dapat dibagi menjadi (Seman 2011): a. Pelatar/Teras pada bagian paling depan seletah melewati tangga hadapan/tangga naik, dengan ukuran cukup besar. Ruangan ini didukung oleh empat batang tiang panjang yang kokoh.. 54. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014.

(4) b. Penampik Besar, merupakan Ruang tamu yang besar dan lebar setelah melewati Lawang Hadapan/pintu masuk. Lawang hadapan bisa terletak di tengah, atau berjejer sebagai lawang kembar tiga c. Palidangan atau Ambin Dalam, ruangan setelah melewati tawing halat, permukaan lantainya sama tinggi dengan Penampik Besar. Ruang Palidangan merupakan ruang tengah yg berisi kamar tidur dan ruang keluarga. d. Padapuran, ruang belakang setelah melalui Palidangan. Lantai pada ruang ini lebh rendah daripada Ruang Palidangan. Pada zaman dahulu bagian belakang ruang ini terdapat tangga yang menuju keluar rumah yang dimaksudkan untuk jalan keluar masuk kaum perempuan saat melangsungkan acara yang memanggil banyak orang, misalnya Salamatan atau Batasmiyahan. Studi ini mengambil kota Banjarmasin sebagai lokasi studi, dikarenakan merupakan daerah asal mula dari berdirinya Rumah Adat Banjar. Objek studi yang diambil merupakan rumah yang memiliki ruang dalam yang tidak terlalu banyak mengalami perubahan, hal ini bisa dilihat dari jenis ruang yang ada, yaitu Padapuran, Palidangan, Anjung (Jika rumah menggunakan Anjung), Panampik, Palataran (Jika rumah menggunakan Palataran). Umur objek studi minimal berusia 50 tahun, karena menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya rumah Baanjungan merupakan cagar budaya. Keluarga yang menempati rumah tidak hanya keluarga inti (Ayah, Ibu dan Anak), namun juga terdapat seperti keponakan, kakek, nenek dan hubungan kekerabatan yang lain. Batasan selanjutnya, yaitu mengenai urgensi tipe rumah, misalkan terdapat satu-satunya rumah dengan tipe tertentu, maka akan diambil sebagai sampel studi. Batasan terakhir mengenai temuan-temuan menarik yang ada di lapangan, yang mungkin tidak termasuk dalam salah satu batasan, tetapi terdapat keunikan ruang dalam rumah tersebut. (Gambar 1). Kecamatan Banjar Utara. Kecamatan Banjar Tengah. Kecamatan Banjar Timur. Kecamatan Banjar Barat. Kecamatan Banjar Selatan. Gambar 1. Peta Kota Banjarmasin.. Aktivitas dasar Aktivitas Dasar masyarakat Banjar dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti aspek sosial dan religi. Aktivitas dasar dapat membentuk suatu aktivitas yang berulang, sehingga menghasilkan ruang-ruang sosial.. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014. 55.

(5) 56. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014.

(6) berada di bagian tengah rumah dengan dibatasi unsur tetap yang berupa dinding kayu. Hal ini menandakan ruang Palidangan yang berada di tengah rumah bukan merupakan ruang yang sembarangan untuk dimasuki. Unsur fixed berupa yang berupa denah rumah memposisikan ruang Palidangan berada pada bagian tengah rumah. Hal ini mengidentifikasikan bahwa ruang Palidangan bukan merupakan ruang publik, karena terdapat batasan berupa dinding melintang pada tiap-tiap ruangan seperti ruang Palataran dan Panampik besar. Ukuran ruang Palidangan juga merupakan ruang yang cukup besar dalam rumah ini, hal ini membuktikan ruangan ini memungkinkan untuk digunakan dalam aktivitas yang diikuti seluruh anggota keluarga. (Gambar 4). 1. 2. 3. 4. 5. 6. 2. 1 3 4. 7. 5 6. 7. Gambar 4. Penjelasan ruang sosial kebutuhan dasar aktivitas beribadah.. Aktivitas makan Peletakan ruang makan pada rumah Bapak H. Karim berada pada ruang Palidangan bagian belakang yang berdekatan dengan dapur. Biasanya aktivitas ini dilakukan bersamaan di Palidangan, namun seringkali juga dilakukan di ruang lain, seperti di padapuran. Padapuran sangat sering digunakan oleh kaum ibu yang terbiasa memasak dan menyajikan makanan, hal ini juga dipengaruhi oleh peletakan meja makan yang berada di padapuran. Jika terdapat keluarga besar yang datang mereka menggunakan ruang palidangan namun secara lesehan. (Gambar 5). arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014. 57.

(7) Palidangan. Ruang makan yang berada di Palidangan. Padapuran. Ruang makan yang berada di Padapuran. Panampik Besar. Ruang makan tamu. Gambar 5. Penjelasan ruang sosial kebutuhan dasar aktivitas makan.. Ruang sosial untuk aktivitas makan sangat dipengaruhi oleh aktivitas penghuni. Aktivitas ini memiliki kecenderungan berdekatan dengan ruang Padapuran, untuk mempermudah melakukan aktivitas. Unsur semi fixed dapat ditandai dengan terdapatnya meja makan, baik di Palidangan bahkan di ruang Panampik. Aktivitas menerima tamu Peletakan ruang menerima tamu dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Lakilaki biasanya berbicara di ruang palataran, apabila merupakan hal penting dipersilahkan masuk ke ruang tamu, hal ini berbeda apabila tamu merupakan wanita yang dipersilahkan duduk ke panampik besar, sedangkan tamu yang merupakan keluarga biasanya langsung dipersilahkan ke ruang Palidangan. Ruang sosial pada variabel aktivitas dasar-menerima tamu sangat dipengaruhi hakikat aktivitas ini sendiri. Menerima tamu berarti mempersilahkan orang lain yang bukan penghuni rumah untuk memasuki rumah, sehingga terdapat batasan ruang untuk menerima tamu. (Gambar 6). 1 Sekat berupa dinding. Panampik Ruang digunakan menerima wanita.. Besar: yang untuk tamu. 1. Palataran: Ruang yang digunakan untuk menerima tamu laki-laki.. Gambar 6. Penjelasan ruang sosial kebutuhan dasar aktivitas menerima tamu.. 58. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014.

(8) Ruang sosial untuk aktivitas menerima tamu sangat dipengaruhi oleh aktivitas penghuni. Aktivitas ini memiliki kecenderungan untuk berada pada bagian depan rumah, baik di ruang Panampik maupun Palataran. Unsur semi fixed ditandai oleh terdapatnya meja dan kursi tamu pada ruang Palidangan, dan kursi panjang pada Palataran. Unsur fixed terlihat dengan jelas, bahwa tiap ruangan dibatasi oleh dinding kayu, terlebih pada ruangan Panampik terdapat pintu untuk menuju ruangan palidangan, hal ini menandakan adanya batasan antara penghuni dan tamu. Dapat disimpulkan ruang Panampik merupakan ruangan semi publik dan ruang Palataran merupakan ruang publik. Aktivitas beristirahat Peletakan ruang beristirahat secara umum berada di bagian tengah rumah. Peletakan ini dikarenakan bagian tengah dari sebuah rumah Baanjungan merupakan ruang paling kondusif untuk beristirahat, karena ruang ini tidak terlalu bising seperti pada ruang Panampik dan Padapuran. Peletakan ruang beristirahat pada bagian tengah ditemukan pada ruang Palidangan samping atau berada pada ruang Anjung. (Gambar 7). Ruang beristirahat privat Ruang beristirahat privat. Ruang beristirahat privat Ruang beristirahat yang terdapat di Palidangan.. Gambar 7. Penjelasan ruang sosial kebutuhan dasar aktivitas beristirahat.. Ruang sosial dalam aktivitas beristirahat sangat dipengaruhi oleh sifat aktivitas tersebut yang memperlukan ketenangan, sehingga peletakannya berada di samping Palidangan. Aktivitas beristirahat merupakan aktivitas yang sangat privat tergantung dengan siapa penghuni melakukan aktivitas ini, sehingga aktivitas ini juga dibatasi oleh unsur-unsur fixed seperti dinding kayu. Terdapat aktivitas beristirahat yang tidak dilakukan dalam kamar masing-masing, yaitu berada pada ruang Palidangan tengah pada siang hari, yang ditandai oleh unsur semi fixed berupa kasur dimana penghuni yang melakukan aktivitas ini adalah kaum wanita atau beberapa anggota keluarga. Unsur fixed sangat terlihat pada aktivitas bersistirahat, yaitu terdapa dinding yang membatasi ruang beristirahat dengan ruang yang lain. Pada ruang ini juga terdapat pintu yang mengisyaratkan bahwa harus ada izin jika ingin memasuki ruangan ini, bahkan bagi sesama penghuni rumah. Aktivitas berkumpul Berkumpul disini merupakan kegiatan yang mempererat hubungan keluarga dan tetangga. Kegiatan berkumpul antar keluarga dilakukan sehabis makan atau kapan pun terdapat waktu luang, biasanya menanyakan kabar dan bercerita aktivitas sehari-hari, sehingga peletakannya pada ruang Palidangan, panampik besar, padapuran dan palataran. Kegiatan ini dipengaruhi oleh waktu, dan dapat mempengaruhi ruang-ruang. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014. 59.

(9) yang digunakan. Ruang sosial dalam variabel kebutuhan dasar-berkumpul dipengaruhi oleh aktivitas berkumpul yang mempunyai sifat bersama-sama, sehingga ruang yang digunakan bukan ruang yang bersifat privat. (Gambar 8) Ruang Padapuran Ruang Padapuran Aktivitas: Memasak, Menerima tamu, Berinteraksi dengan tetangga. Ruang Palidangan belakang. Aktivitas: Memasak, makan pagi, menonton TV bersama. Ruang Panampik Besar. Ruang Palataran Sore Hari. Pagi Hari. Ruang Padapuran. Ruang Palidangan Ruang Palidangan. Siang Hari. Aktivitas: Memasak, makan siang, menonton TV bersama. Malam Hari. Aktivitas: Makan bersama, Menonton TV. Gambar 8. Penjelasan ruang sosial kebutuhan dasar aktivitas berkumpul.. Kesimpulan Ruang sosial pada rumah Baanjungan meliputi ruang Palataran, Panampik dan Palidangan, sedangkan ruang lainnya terdapat semakin banyak batasan bagi orang yang ingin memasukinya. Ruang sosial kebutuhan dasar masyarakat Banjar dipengaruhi oleh beberapa aktivitas utama yaitu beribadah, menerima tamu, beristirahat, makan dan berkumpul. Hasil studi dapat disimpulkan bahwa ruang yang terbentuk karena aktivitas bermasyarakat merupakan ruang sosial. Pemanfaatannya tidak bersifat pribadi, namun. 60. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014.

(10) dilakukan oleh beberapa orang. Terbentuknya ruang sosial karena adanya proses pembentukan hunian sebagai wadah fungsional yang dilandasi oleh pola aktifitas/kegiatan dan pewadahannya. Ruang sosial rumah Baanjungan mempunyai sifat semakin ke dalam maka akan semakin terasa lebih privat. Daftar Pustaka Indeswari, A. 2013. Pola Ruang Bersama pada Permukiman Madura Medalungan di Dusun Baran Randugading. Malang. Rapoport, A. Cross-Cultural Aspect of Environmental Design. Makalah dalam Seminar tentang Rancang Bangun. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Rapoport, A. House Form and Culture. University of Winconsin-Millwaukee. PRENTICEHALL, INC, Englewood Cliff, N. J. Seman, S. 2001. Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan. Banjarmasin. Ikatan Arsitek Indonesia.. Antariksa © 2014. arsitektur e-Journal, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014. 61.

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Pembinaan Pegawai ini merupakan variabel yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapai pada Badan Kepegawaian,

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan pedoman indikator sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh siswa dalam pembelajaran yang mengindikasikan pula komitmen

Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dikelas, tidak hanya tergantung dalam penguasaan bahan ajar atau penggunaan metode pembelajaran, tetapi proses pembelajaran yang baik

Hasil uji mutu hedonik Nata de banana skin pada tabel 4.3 dapat dilihat penilaian terhadap aroma yang diberikan oleh panelis yaitu 2,3-4,7 (berbau menyengat hingga

ABSTRAK: Kajian deskriptif ini adalah bertujuan untuk mengenalpasti faktor- faktor yang mempengaruhi persepsi pelatih- pelatih Sekolah Henry Gurney Telok Mas,

Di samping itu, beberapa karya yang dihasilkan program unggulan ini diharapkan menjadi indikator dinamika dan komitmen sivitas akademika terhadap pelaksanaan tridharma

Berdasarkan hasil penelitian ini dan penelitian terdahulu dapat ditunjukkan bahwa pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) terhadap kemampuan berhitung

 Pertumbuhan PDRB penggunaan Kalimantan Barat triwulan IV/2009 terhadap triwulan III/2009 (q to q) 5,02 persen didorong oleh pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah