GAMBARAN ATTACHMENT STYLE PADA PEREMPUAN YANG FATHERLESS
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Psikologi
Oleh :
TANTHI HIDHAYANTHY NIM: 141301023
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
ABSTRAK
Gambaran Attachment Style Pada Perempuan yang Fatherless Tanthi Hidhayanthy, Josetta M. R. Tuapattinaja, M.Si, Psikolog
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
Kehilangan seorang ayah mempunyai pengaruh terhadap keluarganya, salah satunya adalah anak perempuannya. Perempuan merasakan kesedihan yang mendalam sehingga membuatnya menutup komunikasi pada orang lain khususnya orang terdekat. Mereka cenderung menjauhi orang terdekatnya karena merasa tidak aman. Rasa tidak aman ini dapat dijelaskan dengan attachment style.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran attachment style pada perempuan yang fatherless. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Alat ukur yang digunakan ialah Relationship Style Questionnaire (RSQ) dari Bartholomew dan Griffin. Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan fatherless dari rentang usia 20 hingga 34 tahun yang berjumlah 50 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa attachment style perempuan yang fatherless ialah dismissing style dengan persentase 64%.
Gambaran seorang dengan dismissing style ialah mereka lebih memilih tidak dalam hubungan kedekatan apapun dengan orang lain, mandiri, dan independen.
Kata Kunci: Attachment style, fatherless
Abstract
Attachment Style of Fatherless Women
Tanthi Hidhayanthy, Josetta M. R. Tuapattinaja, M.Si, Psikolog Faculty of Psychology, University of North Sumatera
The loss of a father has an influence on his family, especially his daughter.
Women feel a deep sadness that makes it close communication to others, especially those closest. They tend to stay away from their closest people because they feel insecure. This insecurity can be explained by attachment style.
This study aims to look at the attachment style of fatherless women. The method used in this research is descriptive quantitative method. The measuring instrument used was the Relationship Style Questionnaire (RSQ) from Bartholomew and Griffin. The subjects in this study were fatherless women from the age range of 20 to 34 years, totaling 50 people. The results showed that female fatherless attachment style was dismissing style with a percentage of 64%.
The description of a person with dismissing style is that they prefer not to be in any close relationship with others, self-sufficient, and independent.
Keywords: Attachment Style, Fatherless
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia dan kekuatan sehingga saya dapat menyusun skirpsi yang berjudul
“Gambaran Attachment Style pada Perempuan yang Fatherless”. Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, penyusunan proposal penelitian ini, tentu sangatlah sulit untuk diselesaikan. Maka, dengan kerendahan hati peneliti mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Zulkarnain, Ph. D., Psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Josetta M. R. Tuapattinaja, M.Si.,Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing peneliti dan memberikan nasehat-nasehat serta dorongan motivasi dalam hal penulisan proposal penelitian.
3. Ibu Ika Sari Dewi, M.Pd., Psikolog selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan memotivasi peneliti dari awal perkuliahan hingga saat ini.
4. Bapak dan Ibu Dosen staf pengajar, serta staf pegawai Fakultas Psikologi USU yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terimakasih atas kemurahan dan kesabaran dalam pemberian ilmu selama ini.
5. Teman-teman subjek para perempuan fatherless yang telah bersedia memberikan waktu dan informasinya pada penelitian ini.
6. Mama, Ayah dan Abangda yang senantiasa mendukung dan memberikan makan. Terima kasih untuk Mama yang menginspirasi terciptanya skripsi ini, mama bisa berjuang tanpa hadirnya EyangKakung , terima kasih Ayah yang sudah membuat adinda bersyukur bisa merasakan kasih sayang, perhatian dari seorang lelaki, dan terima kasih abangda yang telah selalu bersedia direpotkan karena adinda yang begitu keras kepala ini.
7. Jofisah tersayang, Gimmick Reunited (Ifa dan Bang Kikin), Yuk Kita Magang (Miya, Felix, Rendy, Ifo), Cilla Aprillaura, Mbak ziah, Rizka dan Mando, Keluarga Seperbimbingan PA Bu Ika, yang senantiasa memberikan semangat dan membantu peneliti menyusun proposal ini. Al Khairi yang senantiasa membuat peneliti kesal sekaligus kangen. Kak Rizki Mardiyah yang kali ini sangat membantu dalam merindukannya.
8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan semangat dan bantuannya kepada peneliti.
Medan, 19 Agustus 2019
Tanthi Hidhayanthy
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI………...vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 2
I. A Latar Belakang Masalah ... 2
I. B Rumusan Masalah ... 16
I. C Tujuan Penelitian ... 16
I. D Manfaat Penelitian ... 17
1. Manfaat Teoritis ... 17
2. Manfaat Praktis ... 17
I. E Sistematika Penulisan ... 17
BAB II LANDASAN TEORI ... 19
II. A Attachment Style ... 19
II. A. 1 Definisi Attachment ... 19
II. A. 2 Definisi Attachment Style ... 20
II. B Dewasa Awal ... 27
II. C Fatherless ... 29
II. C. 1 Peran Ayah ... 29
II. C. 2 Faktor yang Mempengaruhi Peran Ayah ... 32
II. D Attachment Style pada Perempuan yang Fatherless ... 34
II. E Kerangka Berpikir ... 38
BAB III METODE PENELITIAN ... 39
III. A Metode Penelitian ... 39
III. A. 1 Identifikasi Variabel ... 39
III. A. 2 Defenisi Operasional ... 39
III. B Populasi dan Sampel Penelitian ... 40
III. B. 1 Populasi ... 40
III. B. 2 Teknik Sampling ... 41
III. C Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 41
III. D Uji Alat Ukur Penelitian ... 43
III. D. 1 Uji Validitas ... 43
III. D. 2 Uji Daya Beda Aitem ... 43
III. D. 3 Uji Reliabilitas ... 44
III. E Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 44
III. F Prosedur Pelaksanan Penelitian ... 45
III. F. 1 Tahap persiapan ... 45
III. F. 2 Tahap Pelaksanaan... 46
III. F. 3 Tahap Pengolahan Data ... 46
III. G Metode Pengolahan Data ... 46
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN... 47
IV. A Analisa Data ... 47
IV. A. 1 Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 47
IV. B Hasil Penelitian ... 50
IV. B. 1 Gambaran Attachment Style Secara Umum ... 50
IV. B. 2 Gambaran Attachment Style Berdasarkan Gambaran Umum Subjek ... 51
IV. C Pembahasan ... 56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 60
V. A Kesimpulan ... 60
V. B Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 63
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Deskripsi Diri Attachment Style ... 24
Tabel 2.2 Model Attachment Style ... 25
Tabel 3.1 Blueprint Skala Relationship Style Questionnaire ... 42
Tabel 3.2 Blueprint Skala Relationship Style Questionnaire Setelah Uji Coba ... 44
Tabel 4.1 Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Usia ... 47
Tabel 4.2 Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Status ... 48
Tabel 4.3 Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Latar Belakang Menjadi Fatherless ... 49
Tabel 4.4 Gambaran Umum Subjek Berdasarkan Lama Waktu Ditinggalkan Ayah ... 49
Tabel 4.5 Gambaran Attachment Style Secara Umum ... 51
Tabel 4.6 Gambaran Attachment Style Berdasarkan Usia... 52
Tabel 4.7 Gambaran Attachment Style Berdasarkan Status ... 53
Tabel 4.8 Gambaran Attachment Style Berdasarkan Latar Belakang Menjadi Fatherless ... 54
Tabel 4.9 Gambaran Attachment Style Berdasarkan Lama Waktu Ditinggalkan ... 55
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Hasil Uji Daya Beda Aitem... 66 LAMPIRAN 2 Hasil Data ... 68 LAMPIRAN 3 Skala Relationship Style Questionnaire (RSQ) ... 72
BAB I PENDAHULUAN I. A Latar Belakang Masalah
Keyakinan bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab dari seorang ibu bukan hanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia melainkan budaya di negara lain juga meyakini hal yang sama. Pengasuhan merupakan tugas dari pasangan suami-istri ketika mereka sudah mempunyai keturunan. Sejauh ini, pengasuhan cenderung terlihat dibebankan pada sang ibu meski pun tidak dapat dipungkiri beberapa persen dari keseluruhan pengasuhan anak dilakukan oleh para ayah (Andayani & Koentjoro, 2004).
Ayah juga memiliki keterlibatannya dalam hal pengasuhan. Menurut Lamb, Pleck, Charnov, dan Levine (dalam Pleck, 2010) mengkategorikan keterlibatan ayah dalam tiga bentuk, yaitu: (a) paternal engagement atau interaksi langsung dengan anak, meliputi kegiatan seperti memberi makan, bermain bersama di waktu luang; (b) accessibility merupakan bentuk keterlibatan dengan kehadirannya untuk anak; dan (c) responsibility atau membuat perencanaan, pengambilan keputusan dalam penyediaan kebutuhan anak.
Menurut Gottman & Declaire (dalam Andayani & Koentjoro, 2004) keterlibatan ayah dapat mengembangkan kemampuan anak untuk berempati, bersikap penuh perhatian, dan kasih sayang, serta hubungan sosial yang lebih baik. Penelitian dari Gottman & DeClaire menunjukkan bahwa keterlibatan ayah akan memberikan manfaat yang positif bagi anak laki-laki dalam mengembangkan kendali diri dan kemampuan menunda pemuasan keinginan.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dapat meningkatkan self-esteem anak perempuan dan juga pencapaian akademiknya (Zia, Ali, &
Malik, 2015).
Pada kenyataan tidak semua anak memiliki Ayah disepanjang kehidupannya. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak kehilangan Ayah seperti kematian atau pun perceraian kedua orang tua. Suatu keadaan tanpa adanya kehadiran salah satu orang tua yaitu ayah disebut juga dengan fatherless.
Kehadiran seorang ayah yang seharusnya dapat membantu dalam mengurus anak, berpartisipasi dalam membuat keputusan-keputusan yang sulit, dan untuk mengambil alih ketika pasangan butuh untuk istirahat dari mengurus anak tidak ada karena kematian atau pun perceraian. Selain istilah fatherless, istilah lainnya juga muncul dalam menyoroti ketidakhadiran dari ayah yaitu father absence.
Father absence atau bisa juga disebut dengan ayah yang tidak tinggal bersama (nonresidence) mungkin akan sangat berpengaruh tetapi bukan karena peran panutan seks tidak ada namun karena banyak peran parental – ekonomi, sosial, emosional – berkurang di dalam keluarga (Lamb, 2010). Peneliti melakukan wawancara awal dengan salah satu perempuan yang sudah ditinggalkan oleh Ayahnya karena perceraian kedua orang tuanya.
“Pertama dari SD, waktu SD mau tamat atau SMP baru mau masuk gitu nikah lagi (rujuk) sampek SMA kelas 1 mau masuk kelas 2 gitu pisah lagi sampek sekarang”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Isu fatherless memang saat ini menjadi isu internasional, termasuk di Indonesia. Dilansir dari portal berita Warta Ekonomi, Menteri Sosial Khofifah Indra Parawasana mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara nomor tiga di
dunia yang masuk dalam fatherless country (Saepulloh, 2017). Beberapa kasus fatherless pada negara-negara Barat dikarenakan Ayah dan Ibu yang tidak menikah dan mempunyai anak kemudian sang Ayah pergi meninggal Ibu dan anaknya, hal ini berbeda dengan di Indonesia yang disebabkan karena sang Ayah meninggal atau pun perceraian orang tua (Ashari, 2017). Dilansir dari portal berita Detiknews yang mengutip dari website Mahkamah Agung (MA) sebanyak 419.268 pasangan bercerai sepanjang tahun 2018. Jumlah tersebut merupakan perceraian yang dilakukan atas dasar pernikahan pasangan muslim dan belum termasuk pasangan nonmuslim, yang dilakukan di pengadilan umum (Saputra, 2019). Di kota Medan sendiri angka perceraian tiap tahunnya bertambah, dilansir dari portal berita Tribun-Medan pada tahun 2018 Pengadilan Agama Medan Kelas 1A di Jl. Sisingamangaraja menangani 2861 kasus perceraian (Hutauruk, 2019).
Angka perceraian dapat menunjukkan bahwa fenomena fatherless juga hadir di kota Medan.
Sebuah penelitian dilakukan di kota Medan mengenai komunikasi antarpribadi dengan lewan jenis pada perempuan fatherless, subjek dari penelitian tersebut merupakan perempuan yang sudah ditinggalkan oleh Ayah atau fatherless dan berusia di atas 20 tahun. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perempuan fatherless tidak bersikap terbuka dan cenderung untuk menutup diri dan enggan untuk terlibat dalam percakapan panjang dengan lawan jenis. Pada penelitian tersebut juga, digambarkan hubungan kedekatan perempuan fatherless, seperti berpacaran. Responden pertama dengan latar belakang ditinggalkan Ayah (tidak bercerai dan tidak meninggal), mengutarakan bahwa kekosongan yang ia
rasakan akan sosok ayah terisi dengan kehadiran pasangannya hal ini dikarenakan perhatian yang cukup besar dan baik dari pasangannya. Responden kedua dengan latar belakang ditinggal Ayah karena orang tua bercerai, mengutarakan bahwa ia lebih selektif dan memperhatikan komitmen dari calon pasangannya terlebih dahulu sebelum membangun hubungan kedekatan hal ini dikarenakan ia tidak ingin disakiti atau dianggap rendah oleh laki-laki. Dan responden terakhir dengan latar belakang ditinggalkan Ayah (tidak bercerai dan tidak meninggal) mengutarakan bahwa ia sering melakukan aktivitas bersama-sama dan sering menghabiskan waktu bersama pula hal ini dikarenakan ia sangat manja terhadap pasangannya dan sebisa mungkin memastikan bahwa pasangannya tidak akan berselingkuh atau dekat dengan perempuan lainnya (Mardiyah, 2019).
Kematian salah satu orang tua memiliki dampak tersendiri bagi anak, yaitu kesedihan yang mendalam, hilangnya figur orang tua, kasih sayang yang berkurang, tiada lagi tempat berbagi, dan kondisi keluarga yang tidak lagi utuh.
Kesedihan yang mendalam berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Bagi anak laki-laki memiliki perasaan kehilangan yang sulit untuk diungkapkan, oleh karena itu mereka memilih untuk menahan dan memendam. Sedangkan anak perempuan cenderung untuk memiliki perasaan sensitif dan lebih peka sehingga mereka lebih menunjukkan kesedihan dan rasa kehilangannya (Suzanna, 2018).
Penelitian tersebut juga didukung oleh Miller, Caughlin & Huston (dalam Andayani & Koentjoro, 2004) yang mengungkapkan bahwa perempuan diyakini sebagai sosok yang mempunyai kemampuan afektif yang tinggi, serta memiliki ciri feminim seperti baik hati, lembut, dan penuh pengertian.
Dampak selanjutnya yaitu, hilangnya figur orang tua. 4 dari 6 subjek penelitian tersebut mengatakan bahwa kehilangan sosok Ayah teramat menyakitkan dan perasaan itu sering menghampirinya, ditemukan bahwa responden merasakan kehilangan peran Ayah sebagai role model yaitu contoh yang dapat ditiru oleh anak-anaknya (Suzanna, 2018). Ayah merupakan sumber utama anak perempuan untuk dapat mengenal dunia laki-laki, bagaimana cara mereka berpikir, berkata, dan bertindak. Sosok ayah juga merupakan patokan atau panutan bagi seorang anak untuk dapat menjalankan tugas perkembangannya dalam memasuki masa dewasa muda (Dianti & Sutarmanto, 2016). Selain itu, peran ayah dengan anaknya sudah mencapai masa dewasa awal salah satunya adalah keterlibatan ayah pada pemilihan calon pasangan hidup bagi anak perempuannya (Fajrin & Rangkuti, 2015).
Dampak selanjutnya yaitu kasih sayang yang berkurang. Responden merasa kehilangan pada sosok Ibu yang biasanya memberikan perhatian dan juga merasa kehilangan pada sosok Ayah yang memberikan kasih sayang, rasa nyaman, serta perlindungan (Suzanna, 2018). Miller, Caughlin, & Huston (dalam Andayani & Koentjoro, 2004) mengungkapkan bahwa perempuan memiliki ciri- ciri afektif yang tinggi dan menunjukkan kemampuan perempuan untuk
‘memberi’ juga merupakan suatu ‘pertanda’ bahwa perempuan mempunyai kebutuhan yang tinggi dalam hal kasih sayang. Oleh karena itu, kebutuhan perkembangan anak perempuan akan kasih sayang dan perhatian afektif dari ayah juga sangat dibutuhkan. Anak-anak perempuan yang mendapatkan perhatian yang positif dari ayahnya akan mendapatkan pemenuhan kebutuhan afektif dan pada
saat yang sama ia akan belajar bagaimana berhubungan dengan lawan jenis yang sehat.
Dampak lainnya adalah kehilangan tempat berbagi, ditemukan bahwa responden merasakan kehilangan pada sosok Ibu yang menjadi tempat untuk menyelesaikan masalah, dan sosok Ayah sebagai tempat berbagi cerita dan setelah kehilangan responden tidak dapat menceritakan kehidupan keluarganya pada orang lain dan memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dampak yang terakhir yaitu kehilangan keutuhan keluarga. Kehilangan keutuhan keluarga merupakan salah satu bentuk dampak yang sulit diterima responden penelitian tersebut (Suzanna, 2018).
Selain kematian, perceraian juga merupakan salah satu sebab kehilangan keutuhan keluarga. Sebuah penelitian dilakukan oleh Jennifer O’Loughlin yang menunjukkan dampak jangka pendek pada remaja yang menghadapi perceraian orang tuanya dan berpisah dengan ayahnya. Dampaknya ialah, stres, cemas dan juga depresi (O'Loughlin, 2015). Dampak perceraian dan terpisah dari ayah pada dewasa awal ditunjukkan oleh sebuah penelitian yaitu perilaku yang kasar, minum-minuman keras, dan perilaku melawan pada orang tua. Menurut responden penelitian tersebut, hal ini dikarenakan perceraian orang tuanya disebabkan oleh penghianatan dari sang Ayah (Devi, 2016). Pada hasil temuan wawancara awal bahwa perempuan yang fatherless juga mengalami kesedihan hingga ia sakit, kehilangan tempat berbagi cerita, hilang peran Ayah sebagai pemberi nafkah utama dan kehilangan sosok Ayah sebagai pemberi nasihat tentang pemilihan pasangan.
“Waktu pertama kali pas kakak masih SD ya sedih, sering nangis gitu, kakak juga suka demam dulu kalo lagi rindu bapak kakak, nanti kalo udah dijenguk langsung turun panasnya. Nah cerai yang kedua kali sedih juga, tapi gak sesedih yang pertama.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Setelah perceraian kedua orang tuanya, subjek mengutarakan bahwa ia jarang untuk berbagi cerita dengan Ayahnya karena ia juga jarang berjumpa. Hal- hal yang diperbincangkan pun hanya sekedar pembahasan aktivitas subjek sehari- hari.
“Ngo-brol (terdapat jeda pengucapan di antara kata ngo dan brol), kek mana kuliahnya, kerja apa. Gitulah.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
“Kakak gak mau (bercerita pada Ayah) karna dah gak terbiasa ngobrol karna udah terlalu lama gak serumah jadi ngobrolnya ya biasa-biasa aja.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
“Ya, ditanya kadang kerjaannya apa, aktivitas sekarang apa, ngapain aja.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Peran Ayah sebagai pemberi nafkah utama pun setelah kedua orang tuanya bercerai menjadi hilang. Hal ini diutarakan sebagai berikut.
“Kalo untuk menopang perekonomian keluarga engga sih, Cuma kadang- kadang kirim uang ke kami anak-anaknya, bukan kirim ke mamak.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
“tapi itu jarang. Jadi kalok di persenin 10% bapak 90% mamak.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Ketidakterlibatan Ayah dirasakan bukan hanya mengenai perekenomian keluarga tetapi juga mengenai pemilihan pasangan. Subjek mengaku bahwa ia tidak diberikan saran dan juga tidak ingin diberikan saran mengenai pemilihan pasangan.
“Gak lah, kakak milih sendiri. Bapak kak juga gak ada ngomentarin apa- apa. Karna udah gak deket lagi itu, ya kan gak mungkin tiba-tiba dia komentari cowok kak atau ngelarang segala macem. Ya kakak pun gak mau juga dikomentari, ya biarlah kakak milih sendiri.”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Dampak fatherless terlihat pada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa anak perempuan yang kehilangan sosok ayah lebih dini melakukan pengalaman pertama seks intercourse dibandingkan dengan anak perempuan yang masih memiliki sosok ayah (La Guardia, Nelson, & Lertora, 2014). Kehilangan ayah pada perempuan menunjukkan rendahnya tingkat personal mastery dan rendahnya tingkat psychological wellness (Marks, Jun, & Song, 2007). Penelitian lainnya dari LaToya Marie Jackson , mengatakan bahwa salah satu akibat dari fatherless ialah mengalami kesulitan-kesulitan pada hubungan kedekatannya (Jackson, 2010). Subjek yang telah peneliti wawancarai memiliki kesulitan pada hubungan kedekatan yaitu pacaran di masa lalunya. Subjek mengungkapkan bahwa sebab putusnya hubungan pacarannya karena pasangannya tidak memberikan kabar dan membuat ia khawatir.
“Putusnya karena gak papa udah gak enak, satu bukan eehh dia ada sekitar sebulanan gak ada ngabarin tapi gak ada dikabarin, kakak gak bisa gak dikabarin. Bawaannya tu khawatir aja kalo gak dikabarin”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
“Kakak itu harus semua hal-hal dikabarin, misalnya gini lah kakak janjian itu kakak bisa hampir tiap menit mastiin kalo udah dimana.
Jangankan sama orang lain, sama mamak kakak aja gitu. Apalagi sama yang namanya pacar”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
“Kakak pun gak tau kenapa hrs kek gitu, rasanya harus aja gitu (saling memberikan kabar), kalo gak gitu kakak rasanya eh dia kemana ya kok gk ngabarin, langsung mikirin yang aneh-anehlah, jeleknya ya dia ntah pergi kemana gk ijin sama kakak, amit amit selingkuh ya ahahaha”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Penelitian serupa juga menunjukkan dampak dari kehilangan ayah yang dirasakan oleh perempuan juga berhubungan dengan hubungan kedekatannya, khususnya dengan lawan jenis. Menurut penelitian Dianti & Sutarmanto, kesedihan yang mendalam dari perempuan membuatnya menutup diri dengan orang lain. Kemudian hal ini berpengaruh pada interaksi dengan orang lain khususnya dengan lawan jenis. Sehingga menimbulkan perasaan ketidaknyamanan pada perempuan untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Mereka tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Ketidakmampuan dalam berinteraksi ini akhirnya berdampak pada kemampuan perempuan untuk menjalin hubungan kedekatan dengan orang yang mereka sukai ataupun yang menyukai mereka. Mereka cenderung menjauhi orang yang menyukai mereka karena merasa tidak aman. Mereka juga kesulitan untuk menunjukkan perasaan yang mereka miliki terhadap lawan jenis (Dianti &
Sutarmanto, 2016). Subjek yang diwawancarai saat itu mengaku sedang menyukai seseorang namun sulit menunjukkan perasaannya.
“…gini ya sebenarnya kakak males ngungkapin diluan eh bukan males deng tapi kadang-kadang is pengen bilang lah gitu. Kek gini lho, kayak difilm-film ada malaikat baik ada setan gitu. Seriusan bingung lho. Di satu sisi kak pengen dia tau tapi kak juga takut. Takut ditolak atau dia menghindarlah”
(Komunikasi Personal, Mei 2018)
Hubungan kedekatan atau intimacy dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk membangun sebuah hubungan yang terbuka, suportif, dan penuh kasih sayang dengan orang lain tanpa merasa takut akan kehilangan ciri khas diri (Newman & Newman, 2012). Kemungkinan-kemungkinan dalam pengembangan hubungan kedekatan tergantung pada persepsi individu dalam menilai dirinya
sebagai orang yang berharga, kompeten, dan bermakna bagi orang lain. Pada hubungan kedekatan, pasangan haruslah mengerti aspirasi satu sama lainnya.
Menurut Finkel dan Kumashiro (dalam Newman & Newman, 2012) sebuah hubungan kedekatan yang sebenarnya adalah ketika pasangan saling berinteraksi dalam hal untuk memuaskan satu sama lain (self-fulfillment), memastikan pasangannya mencapai tujuan dan mendukung untuk aktualisasi diri.
Ketika individu pada masa dewasa awal tidak dapat mencapai intimacy, maka yang terjadi pada individu tersebut ialah isolation. Isolation atau rasa keterasingan, hal ini terjadi karena ketidakmampuan individu untuk membangun hubungan kedekatan. Bentuk dari isolation berupa penghindaran-penghindaran pada hubungan kedekatan, tidak mudah berbagi perasaan dan emosi kepada orang lain, depresi, dan mudah rapuh (Newman & Newman, 2012).
Keluarga merupakan salah satu sumber utama individu dalam membangun hubungan kedekatannya dengan orang lain. Individu belajar untuk saling percaya, menunjukkan rasa kasih sayang, dan menunjukkan sisi kebergantungannya di dalam keluarga. Faktanya, terdapat bukti bahwa orientasi attachment orang tua dapat mempengaruhi kemampuan dalam membentuk hubungan kedekatan baru (Newman & Newman, 2012). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki hubungan yang baik dengan pengasuh utamanya misalnya orang tuanya di waktu kecil dapat membantu individu tersebut dalam membangun hubungan yang baik dengan pasangannya (Agusdwitanti, Tambunan, &
Retnaningsih, 2015).
Attachment awal antara bayi dengan pengasuh utamanya dikemukan oleh John Bowlby, ia berpendapat bahwa attachment merupakan kecenderungan manusia dalam membentuk ikatan kasih sayang pada orang yang spesial. Menurut Bowlby (dalam Bartholomew & Horowitz, 1991) sistem attachment dikembangkan untuk mempertahankan kedekatan antara bayi dan pengasuhnya atau attachment figure dalam kondisi berbahaya. Sistem attachment berfungsi secara terus menerus untuk memberikan anak rasa aman yang dicari oleh anak.
Seiring dengan berjalannya waktu, anak dan pengasuh utamanyanya membangun attachment awal yang kemudian anak membangun bentuk attachment serupa pada hubungannya dengan orang lain di luar dari keluarganya.
Menurut Ainsworth (dalam Miller, 2015) ketika anak menghadapi situasi yang menurutnya mengancam, anak yang secure akan lari mencari ibunya atau pengasuh utama lainnya untuk ditenangkan dan kemudian berani menghadapi situasi lainnya yang tidak ia kenali. Dalam situasi yang sama, anak yang anxious- ambivalent akan menangis dan melengket kepada ibunya atau pun pengasuh utama lainnya, dan mengabaikan penenangan yang diberikan oleh pengasuh utamanya. Menurut Cindy Hazan dan Philip Shaver (dalam Miller, 2015) bentuk seperti ini memiliki orientasi yang sama pada hubungan kedekatan di masa dewasa. Cindy dan Philip melakukan survei dan menemukan bahwa individu lebih rileks dan nyaman bergantung pada orang lain, hal ini bisa disebut dengan secure dalam hubungan kedekatan. Minoritas dalam survei tersebut (sekitar 40%) mengatakan diri mereka insecure, mereka menemukan diri mereka sulit untuk percaya dan bergantung pada pasangannya, atau mereka cemas dan khawatir
bahwa hubungannya tidak akan bertahan lama. Pada survei tersebut juga ditemukan bahwa pengalaman masa kecil dan sikap mereka ketika dewasa memiliki kecocokan dengan attachment style. Individu yang secure pada umumnya membangun gambaran diri dan memandang orang lain secara positif serta mengingat orang tua mereka menyayangi mereka. Sebaliknya, individu yang insecure memandang orang lain dengan ketidak percayaan dan mengingat kenganan tentang orang tua yang memperlakukan mereka dengan dingin dan tidak konsisten.
Sebuah studi dari Lewis, Feiring, & Rosenthal pada tahun 2000 (dalam Santrock, 2015) menghubungkan antara attachment style awal dan attachment style selanjutnya dapat berubah dipengaruhi oleh tingkat stress dan pengalamanan-pengalaman yang buruk seperti kematian orang tua (atau salah satunya) serta ketidakstabilan dari pengasuhan.
Menurut Shaver (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) hubungan romantis pada dewasa secara konsep memiliki hubungan paralel dengan ikatan emosional masa bayi dengan pengasuh utamanya. Sebuah penelitian dilakukan untuk melihat gambaran adult romantic attachment pada dewasa muda berusia 18 hingga 25 tahun yang pernah mengalami childhood abuse ketika berusia 0 sampai 6 tahun.
Penelitian tersebut dilakukan untuk melihat kekerasaan yang dialami di masa kanak-kanak akan berpengaruh pada attachment dan akan menjadi penentu pola attachment individu di masa dewasa. Hasil penelitian adalah kekerasaan yang dilakukan pada subjek dilakukan oleh pengasuh utamanya. Oleh karena itu, attachment yang dimiliki pada masa kanak-kanak tidak terbangun dengan
sempurna, yaitu insecure attachment. Tidak terbangunnya rasa aman dan pencarian figur attachment merupakan salah satu bentuk perilaku yang mencerminkan insecure attachment (Irdhanie & Cahyanti, 2013).
Kim Bartholomew mengajukan empat attachment style untuk dewasa terhadap hubungan kedekatannya dengan orang lain, baik itu pasangan romantis ataupun teman dekat. Barthlomew melihat bahwa terdapat dua alasan mengapa individu menginginkan untuk menghindari terlalu dekat dengan orang lain.
Individu mungkin menginginkan kedekatan dengan orang lain tetapi merasa perlu berhati-hati, takut akan penolakan dan ketidak percayaan pada orang lain. Hal lainnya seperti, individu lebih independen dan mandiri, lebih memilih untuk sendiri dan bebas dibandingkan memiliki kedekatan dengan oran lain. Oleh karena itu, Bartholomew mengungkapkan empat attachment style. Pertama adalah secure, sama halnya dengan secure yang terjadi pada anak-anak. Kedua ialah preoccupied, merupakan salah satu bentukkan baru dari anxious-ambivalence.
Bartholomew menamakan preoccupied sebagai gambaran bahwa individu khawatir dalam bergantung pada penilaian orang lain untuk merasa baik tentang diri mereka, seperti individu yang khawatir tentang status pada hubungan mereka.
Ketiga dan keempat menggambarkan dua cara yang berbeda dalam menghindari.
Individu yang fearful menghindari hubungan kedekatan dengan orang lain karena mereka takut akan penolakan. Walaupun mereka mengingingkan orang lain untuk menyukai mereka, mereka khawatir pada resiko kebergantungan dengan orang lain. Sebaliknya, individu yang dismissing merasa bahwa hubungan kedekatan dengan orang lain hanya akan membawa masalah. Mereka menolak
kebergantungan dengan orang lain karena mereka merasa mandiri, dan mereka tidak memperdulikan apakah orang lain menyukai mereka atau tidak (Miller, 2015).
Tugas khusus pada masa dewasa awal ialah membangun hubungan kedekatan dengan orang lain di luar dari keluarganya. Baik itu dalam hal pacaran, pertemanan, dalam lingkup pekerjaan, atau pun hubungan kedekatan lainnya seperti pernikahan. Dalam lingkup pekerjaan, afiliasi dan juga pertemanan dekat berkembang diantara para pekerja. Melalui perbincangan, korespondensi, konferensi, atau interaksi informal dalam acara-acara yang diselenggarakan kantor, para pekerja dapat mencapai hubungan yang dekat, menyenangkan, dan mengembangkan hubungan-hubungan lainnya. Ditemukan bahwa perempuan lebih banyak mendapatkan dukungan dari teman-temannya, dan mereka memiliki tingkat integrasi sosial (keikutsertaannya dalam membentuk hubungan kedekatan yang bermakna) lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki (Newman & Newman, 2012). Sebuah penelitian dilakukan pada dewasa awal yang belum menikah dan menemukan bahwa 36% dari respondennya menganggap pertemanan mereka sebagai sangat dekat, sangat dalam, dan lebih intim (Miller, 2015). Menurut Balzarini (dalam Miller, 2015), hal yang membedakan pertemanan dengan hubungan romantis (seperti pacaran atau menikah) ialah hubungan romantis lebih melibatkan perasaan yang kompleks, seperti daya tarik dari pasangan, keinginan seksual, dan keinginan yang besar terhadap rasa memiliki dibandingkan dengan pertemanan.
Bentuk hubungan kedekatan lainnya adalah pacaran. Pada sebuah penelitian ditemukan bahwa dewasa awal yang membangun hubungan pacaran memiliki tingkat attachment yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek yang menikah. Menurut penelitian tersebut, hal ini dikarenakan pada saat pacaran, individu memiliki pengharapan yang tinggi terhadap status hubungan yang lebih serius lagi sehingga menimbulkan tingkat attachment yang lebih erat dibandingkan dengan subjek yang sudah menikah. Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa perempuan lebih memiliki attachment yang tinggi dibandingkan dengan laki-laki (Agusdwitanti, Tambunan, & Retnaningsih, 2015). Hubungan kedekatan yang lebih dalam lagi adalah pernikahan. Pada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola attachment dengan penyesuaian perkawinan yang berarti individu memiliki penyesuaian perkawinan yang tinggi maka memiliki attachment yang secure (Afni, 2016). Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai “Gambaran attacment style pada perempuan yang fatherless.”
I. B Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini ialah bagaimana gambaran attachment style pada perempuan yang fatherless.
I. C Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran attachment style pada perempuan yang sudah tidak memiliki sosok ayah lagi atau biasa disebut fatherless.
I. D Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bisa membantu mengembangkan teori mengenai fenomena perempuan yang kehilangan sosok ayahnya, khususnya pada attachment style.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi tentang fenomena perempuan yang kehilangan sosok ayahnya. Peneliti berharap agar para orang tua mampu mempertimbangkan bahwa peran ayah dalam sebuah keluarga sama pentingnya dengan peran ibu.
I. E Sistematika Penulisan
Proposal penelitian ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan akan dipaparkan uraian singkat mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan pustaka berisikan uraian tentang teori-teori yang mendukung penelitian ini dalam menjelaskan masalah yang menjadi objek penelitian. Pada penelitian ini, teori yang utama yang digunakan adalah teori attachment style dan peran ayah.
BAB III : Metode penelitian ini menjelaskan mengenai metode penelitian yang digunakan, identifikasi variabel, definisi operasional, populasi dan sampel penelitian, metode dan alat pengumpulan data, uji alat ukur penelitian, prosedur pelaksanaan penelitian, dan metode pengolahan data.
BAB IV : Analisa data dan pembahasan berisi mengenai penjabaran data dan pembahasan mengenai data tersebut.
BAB V : Kesimpulan dan saran berisi uraian kesimpulan dari hasil penelitian dan saran untuk pihak terkait dan penelitian selanjutnya.
BAB II
LANDASAN TEORI II. A Attachment Style
II. A. 1 Definisi Attachment
Teori Attachment merupakan kecenderungan individu untuk membuat ikatan afeksi yang kuat kepada orang-orang tertentu. Hal ini bermula dari masa awal kehidupan individu sebagai seorang bayi. Attachment merupakan hubungan resiprokal, yang terjadi di antara dua orang berawal dari pada masa bayi dengan orang terdekatnya yang mana saling memberikan kontribusinya untuk kualitas hubungannya (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).
Attachment merupakan ikatan emosional menetap yang bertimbal balik antara bayi dan orang terdekatnya, yang masing-masing berkontribusi terhadap kualitas hubungan tersebut. Attachment memiliki nilai adaptif bagi bayi, memastikan bahwa kebutuhan psikososial dan fisik mereka akan dipenuhi.
Menurut teori etologis, bayi dan orang tua sudah cenderung secara biologis lekat antara satu dengan yang lain, dan kelekatan mendukung kelangsungan hidup bayi (Papalia, Ojds, & Feldman, 2009).
Menurut Bowlby, attachment meliputi mempertahankan kedekatan bayi dengan orang terdekatnya pada kondisi-kondisi berbahaya atau mengancam.
Prinsip dasar dari teori attachment berkelanjutan sepanjang kehidupan (Bartholomew & Horowitz, 1991).
Beberapa penelitian mengatakan bahwa terdapat hubungan paralel antara attachment pada saat masa bayi terhadap figur orang tua dengan percintaan
dewasa muda pada pasangannya dipandang dari sisi teori attachment. Ketika orang dewasa sedang dalam hubungan romantis sama halnya dengan anak bayi dengan orang terdekatnya, memiliki ikatan afeksi yang kuat dengan pasangannya, ingin selalu dekat, nyaman ketika berdekatan, dan kecewa jika berjauhan. Seperti halnya pasangan yang menikah namun terpisah karena suami bekerja jauh, sama dengan seorang bayi yang terpisah dengan orang terdekatnya. Attachment adalah ikatan yang berkembang di antara seorang anak dengan individu lain sebagai hasil dari hubungan jangka panjang. Ikatan pertama seorang bayi biasanya dikarakteristikkan dengan kuatnya saling ketergantungan, memiliki perasaan saling memiliki, dan ikatan emosional yang kuat (Sigelman & Rider, 2003).
Sedangkan menurut Santrock (2015), attachment adalah ikatan emosional di antara dua orang. Menurut Hazan & Zeifman (dalam Mikulincer & Shaver 2007) attachment merupakan fenomena yang terjadi sepanjang masa kehidupan manusia.
Berdasarkan dari definisi di atas, dapat dijelaskan bahwa attachment merupakan kecenderungan individu untuk membentuk ikatan emosional terhadap individu tertentu lainnya yang berkelanjutan sepanjang kehidupan.
II. A. 2 Definisi Attachment Style
Menurut Fraley dan Shaver (dalam Mikulincer, Shaver, 2007) attachment style merupakan bentuk-bentuk dari ekspektasi, kebutuhan, emosi, dan perilaku sosial yang adalah hasil dari pengalaman-pengalaman attachment sebelumnya yang biasanya dimulai dari hubungan dengan orang tua.
Attachment style individu dapat dilihat dari working model yang dimiliki dan fungsi dari sistem attachment pada hubungan khusus (attachment style pada hubungan yang khusus) atau antar hubungan. Working model menurut Ainsworth, Blehar, Waters, & Wall (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) meliputi pengharapan dan keyakinan tentang kasih sayang dan saling bergantung antara individu dengan orang terdekatnya. Serta keyakinan tentang apakah dirinya berharga untuk diberi kasih sayang dan juga perhatian. Itulah yang dikembangkan individu pada saat awal kehidupannya yang kemudian membentuk attachment style atau ikatan yang terbentuk antara individu dengan orang terdekatnya (Becker, Billings, Eveleth, & Gilbert, 1997; Mikulincer & Shaver, 2007).
Menurut Bowlby (dalam Mikulincer & Shaver, 2007), hubungan masa awal kehidupan individu dengan orang terdekatnya merupakan alasan adanya working model dan kemudian berkembang pada hubungannya dengan individu lainnya.
Bartholomew (dalam Miller, 2015) mengungkapkan ada empat jenis attachment pada orang dewasa. Menurut Mikulincer dan Shiver (dalam Miller, 2015) Terdapat dua tema besar yang membedakan keempat style tersebut.
Pertama, individu berbeda dalam melakukan penghindaran terhadap hubungan kedekatan (avoidance of intimacy) yang berpengaruh pada kenyamanan dan kepercayaan yang mereka dapatkan dari hubungan kedekatan dengan orang lain.
Individu yang nyaman pada hubungan dekat merupakan individu yang memiliki tingkat yang rendah dalam penghindaran (avoidance), sebaliknya jika individu tidak memiliki kepercayaan pada orang lain dan membuat dirinya menjauh dari hubungan dekat merupakan individu yang memiliki tingkat yang tinggi dalam
avoidance. Kedua, individu juga berbeda dalam hal kekhawatirannya pada keadaan ditinggalkan (anxiety of abandonment), yaitu ketakutan pada kemungkinan orang lain menilai mereka tidak berguna dan meninggalkannya (Miller, 2015).
Bartholomew (dalam Miller, 2015) mengungkapkan ada empat jenis attachment pada orang dewasa. Menurut Bartholomew, empat jenis attachment yang diperoleh dari dua dimensi. Jika gambaran self dibagi dalam dua bagian yaitu positif dan negatif (bagaimana diri menghargai cinta dan mendukung atau tidak) dan jika gambaran terhadap orang lain juga dibagi dalam dua bagian yaitu positif dan negatif (orang lain dilihat bisa dipercaya dan keberadaannya vs. tak bisa dipercaya serta penolakan), kemudian keempatnya dikombinasikan sebagai sebuah konsep (Bartholomew & Horowitz, 1991).
1. Secure, jenis ini sama seperti dengan attacment pada masa kanak-kanak.
Individu yang secure memiliki kenyaman dalam membangun hubungan kedekatan dengan orang lain dan tidak khawatir orang lain akan memperlakukan mereka dengan tidak baik, sehingga individu yang secure dengan nyaman saling bergantung dengan orang lain (Miller, 2015). Bagian pertama mengindikasikan sense of worthiness (rasa cinta) serta juga ekspektasi yang biasanya orang lain terima. Bagian ini juga disebut sebagai securely attached atau hanya disebut dengan secure (Bartholomew & Horowitz, 1991).
2. Preoccupied, sebuah nama baru untuk anxious ambivalence.
Bartholomew memberikan nama baru untuk kategori yang
menggambarkan kekhawatiran mereka akan ketergantungannya pada penerimaan orang lain agar mereka merasa lebih baik. Individu yang preoccupied menginginkan hubungan kedekatan tetapi takut akan penolakan (Miller, 2015). Bagian kedua mengindikasikan sense of unworthiness (merasa tidak dicintai) dikombinasikan dengan evaluasi positif dari orang lain. Kombinasi ini terdiri dari karakteristik yang akan mengarahkan seseorang untuk mencapai penerimaan diri dengan memperoleh penerimaan dari penilaian orang lain. Bentuk ini hampir sama dengan konsep kelompok ambivalen dari Hazan dan Shaver dan kelompok preoccupied dari konsep Main (Bartholomew & Horowitz, 1991).
3. Sense of unworthiness (merasa tidak dicintai) dikombinasikan dengan ekspektasi bahwa orang lain akan cenderung negatif terhadapnya (tak dapat dipercayai dan penolakan). Bagian ini juga menampilkan penghindaran keterlibatan dengan orang lain, bentuk attachment ini memungkinkan individu untuk melindungi diirnya terhadap penolakan dari orang lain. Attachment ini disebut dengan fearful-avoidant (Miller, 2015) .
4. Sense of love-worthiness dikombinasikan dengan pandangan negatif terhadap orang lain. Seperti halnya individu yang melindungi diri mereka terhadap kekecewaan dengan menghindari hubungan dekat dan lebih independen. Bentuk ini disebut dengan dismissing avoidant. Individu
yang dismissing tidak memiliki ketertarikan untuk membangun hubungan kedekatan dan juga penolakan (Miller, 2015).
Tabel 2. 1 Deskripsi Diri Attachment Style
Jenis ketiga dan keempat menggambarkan dua cara yang berbeda dalam hal “avoidant.” Individu yang memiliki jenis fearful attachment menghindari hubungan intim dengan orang lain karena ketakutan mereka akan penolakan.
Walaupun mereka menginginkan orang lain untuk menyukai mereka, mereka
Jenis Attachment Deskripsi Diri
Secure
Mudah bagi saya untuk dekat dengan orang lain. Saya nyaman bergantung dengan orang lain dan mempunyai orang yang bergantung pada saya. Saya tidak khawatir menjadi sendirian atau orang lain tidak menerima saya.
Preoccupied
Saya ingin dekat dengan orang lain, tetapi saya terkadang menemukan orang lain enggan untuk dekat dengan saya. Saya tidak nyaman jika tidak memiliki hubungan dekat tetapi terkadang saya khawatir orang lain tidak menilai saya sebanyak seperti saya menilai mereka.
Fearful
Saya tidak nyaman dekat dengan orang lain.
Saya menginginkan hubungan dekat, tetapi saya sulit percaya dengan orang lain sepenuhnya atau bergantung pada orang lain.
Saya khawatir saya akan terluka jika saya terlalu dekat dengan orang lain.
Dismissing
Saya nyaman dengan tidak terikat dengan hubungan apapun. Hal yang sangat penting bagi saya adalah untuk merasa bebas dan mandiri. Saya lebih menyukai untuk tidak bergantung pada orang lain atau pun tidak memiliki orang yang bergantung pada saya.
khawatir akan resiko dari bergantung pada orang lain. Sebaliknya, individu yang memiliki jenis dismissing attachment merasa bahwa tidak masalah tidak mempunyai hubungan kedekatan dengan orang lain. Individu dengan dismissing menolak untuk saling bergantung pada orang lain karena mereka merasa self- sufficient dan mereka tidak memperdulikan orang lain menyukai mereka atau tidak (Miller, 2015).
Tabel 2.2 Model Attachment Style
SELF
Others
Positif Negatif
Positif
Bagian I Secure
Merasa nyaman dengan ikatan emosional
Bagian II Preoccupied Merasa terpenuhi dengan adanya penilaian positif dari orang lain
Negatif
Bagian IV Dismissing Menolak membangun ikatan emosional
Bagian III Fearful
Adanya ketakutan pada penolakan oleh orang lain
Penghindaraan akan hubungan intim terlihat dari bagaimana individu menghindari hubungan dekat dengan orang lain sebagai hasil ekspektasi dari konsekuensi yang tidak diinginkan. Kelompok preoccupied dan fearful serupa dalam menunjukkan ketergantungan yang kuat pada orang lain untuk menjaga penilaian positif dalam dirinya, tetapi mereka berbeda dalam keterlibatannya hubungan kedekatan. Bagian preoccupied membutuhkan orang lain untuk
memenuhi kebutuhan depency, bagian fearful menghindari kedekatan untuk memperkecil kekecewaan (Miller, 2015).
Bartholomew mengatakan bahwa terdapat dua perbedaan alasan mengapa orang mungkin berkeinginan untuk menghindar terlalu dekat dengan orang lain.
Seseorang menginginkan suatu hubungan dengan orang lain namun ia tetap merasakan kewaspadaan, takut akan penolakan, dan mencurigai pasangannya.
Adapun, seseorang akan menjadi mandiri dan self-relient, cenderung lebih memilih hidup mandiri dan bebas dibandingkan terikat pada suatu hubungan (Bartholomew & Horowitz, 1991).
II. A. 2. 1 Faktor yang Mempengaruhi Attachment Style
Beberapa faktor diketahui dapat mempengaruhi attachment. Menurut Ainsworth (dalam Feeney & Noller, 1996) mengatakan bahwa hal-hal yang akan mempengaruhi attachment ialah sebagai berikut:
1. Pengalaman Masa Lalu
Faktor ini berkaitan dengan kehidupan seseorang sebelum memasuki usia remaja/dewasa. Pengasuhan orang tua dan orang sekitar akan mempengaruhi dirinya dalam membangun attachment. Hal ini ia alami dari kecil hingga memasuki masa dewasa awal dan akan menjadi pengalaman yang dapat membentuk attachment pada individu tersebut. Perpisahan atau kehilangan orang-orang yang dikasih juga akan menjadi bagian yang membentuk attachment, selain itu perceraian orang tua juga turut mempengaruhi attachment.
2. Faktor Keturunan
Keturunan dapat dikatakan mempengaruhi attachment karena anak cenderung untuk melakukan peniruan terhadap orang tuanya. Anak menyaksikan perilaku orang-orang disekitarnya secara berulang-ulang sehingga anak pada akhirnya akan meniru tidak hanya perilaku tetapi juga emosi yang mengikutinya. Hal-hal yang diikutinya seperti karakter serta sifat yang dimunculkan dalam menyikapi sebuah hubungan.
3. Jenis Kelamin
Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding pria.
Pada hubungan romantis, tingkat kecemasan ini akan mempengaruhi kualitas hubungannya dengan pasangan. Pada hubungan orang tua dan anak, ibu memiliki tingkat kecemasan yang lebih yang diartikan sebagai kekhawatiran yang terjadi karena rasa sayang yang terkadang berlebihan.
II. B Dewasa Awal
Pada masa dewasa awal, menurut Erikson akan menjadi masa yang lebih panjang dari tahap yang sebelumnya, yaitu dari akhir masa remaja hingga sekitar 35 tahun. Selama periode ini, individu membentuk kemandirian dari orang tuanya, seperti kuliah dan mulai berfungsi secara matang dan bertanggung jawab sebagai individu yang dewasa (Schultz & Schultz, 2005). Menurut Erikson, intimacy menuntut individu untuk membangun komitmen dengan individu lain, walaupun terkadang komitmen tersebut disebut dengan pengorbanan (Hall, Lindzey, Loehlin, & Manosevitz, 1985).
Intimacy didefinisikan sebagai kemampuan untuk sebuah hubungan yang terbuka, suportif, hubungan yang penuh kasih sayang dengan orang lain tanpa
merasakan ketakutan akan kehilangan identitasnya selama proses hubungan berlangsung. Sebuah hubungan intim mempunyai komponen kognitif dan afektif.
Pasangan memiliki kemampuan untuk memahami pandangan pasangannya.
Intimacy dalam sebuah hubungan mendukung pendapat satu sama lain. Hal ini juga memberikan perasaan kedekatan sebagaimana saling berbagi dan mengembangkan ide-ide serta rencana-rencana bersama (Newman & Newman, 2012). Ketika individu tidak dapat membuka dirinya, mempercayai orang lain, mereka mungkin akan mengalami penolakan, terkucilkan, atau ketidakmampuan untuk menerima afeksi dari orang lain, yang membuatnya merasakan isolation.
Isolation menurut Jordan (dalam Newman & Newmaan, 2012) merupakan rasa dari ketidakmampuan untuk intersubjektivitas atau berbagi makna dengan orang lain, hal ini bisa memicu terjadinya psychological distress.
Tidaklah sulit untuk melihat individu berada dalam sebuah hubungan intim dengan keluarga ataupun saudaranya. Keluarga adalah pusat kegiatan dari saling berbagi cinta, mengemukakan kelemahan dan saling bergantung. Hubungan dengan orang tua juga dapat mempengaruhi anaknya untuk membentuk hubungan intim dengan orang lain selain keluarganya dan tugas perkembangan pada masa dewasa awal adalah untuk membentuk hubungan intim dengan seseorang selain keluarganya (Newman & Newman, 2012). Dua orang yang membangun hubungan kedekatan mungkin awalnya bertemu sebagai orang yang asing yang memiliki banyak perbedaan, jika pun ada kesamaan biasanya kesamaan berupa ikatan kebudayaan. Menurut Murray, Homes, & Griffin (dalam Newman &
Newman, 2012) hubungan intim dicirikan dengan atmosfer romantic seperti,
“Bersama kita dapat menaklukan dunia.” Keromantisan dari hubungan intim merupakan gambaran dari energi dan rasa dari well-being yan datang dari dukungan dan saling memahami satu sama lain. Ada rasa yang dalam pada hubungan intim yang tidak dapat tergantikan.
II. C Fatherless
Fatherless ialah ketidakhadiran salah satu orang tua yaitu ayah bisa karena kematian, perceraian, atau pun bertugas militer yang seharusnya dapat membantu dalam mengurus anak, berpartisipasi dalam membuat keputusan-keputusan yang sulit, dan untuk mengambil alih ketika pasangannya butuh untuk istirahat dari mengurus anak (Lamb, 2010).
Father absence atau bisa juga disebut dengan ayah yang tidak tinggal bersama (nonresidence) mungkin akan sangat berpengaruh tetapi bukan karena peran panutan seks tidak ada namun karena banyak peran parental – ekonomi, sosial, emosional – berkurang di dalam keluarga. Salah satu penelitian membuktikan bahwa peran ganda dari seorang ayah sebagai penghasil nafkah utama, orang tua, dan pendukung emosional sangatlah penting untuk dipahami bagaimana ayah mempengaruhi perkembangan anaknya (Lamb, 2010).
II. C. 1 Peran Ayah
Menurut Lamb dan Pleck (2010), terdapat 5 komponen utama dalam peran ayah yaitu:
1. Aktivitas keterlibatan ayah yang positi
Perubahan pengertian terjadi pada pengertian selama ini tentang keterlibatan ayah dilihat dari jumlah waktu yang ia habiskan
bersama anaknya, kini keterlibatan ayah lebih berfokus pada kegiatan- kegiatan positif yang dilakukan ayah bersama anaknya (Pleck, 2010).
Analisis dari total jumlah interaksi ayah dengan anak ternyata menunjukkan sedikit pengaruhnya dengan perkembangan anak.
Penelitian tentang fathering merubah konseptual dari keterlibatan ayah yaitu seluruh waktu yang dihabiskan sang ayah bersama anak menjadi bentuk kegiatan interaktif yang dapat membantu mengembangkan perkembangan anak.
2. Kehangatan dan responsif
Penelitian Hofferth dan Carlson (dalam Pleck, 2010) mengatakan bahwa keterlibatan ayah meliputi peran-peran yang bersifat hangat dan responsif terhadap anak. Pleck juga mengumpulkan beberapa cara dalam mengukur peran ayah sebagai keterlibatan yang dikombinasikan dengan kehangatan atau responsif dengan frekuensi kegiatan positif yang ayah lakukan dengan anak.
3. Kontrol
Penelitian Hofferth dan Carlsson (dalam Pleck, 2010) juga mengukur adanya peran ayah dalam pengawasan sang ayah. Salah satu aspek dalam pengawasan ayah, digambarkan pada pengetahuan sang ayah tentang anaknya. Partisipasi ayah dalam pembuatan keputusan tentang anak juga termasuk di dalamnya.
4. Pengasuhan tidak langsung (indirect care)
Pengasuhan tidak langsung (indirect care) merupakan aktivitas-aktivitas yang dijalankan untuk anak, tetapi tidak melibatkan interaksi langsung dengan anak, dengan pengecualian terhadap memberikan dukungan ekonomi. Pengasuhan tidak langsung terbagi menjadi dua yaitu material dan sosial. Pengasuhan tidak langsung secara materiil adalah perencanaan terhadap kebutuhan-kebutuhan anak seperti pendidikan anak. Pengasuhan tidak langsung secara sosial merupakan memberikan anak sebuah komunitas yang membantu perkembangan sosialnya, seperti pertemanan anak (Pleck, 2010).
5. Proses pertanggung jawaban
Proses pertanggung jawaban meliputi pengambilan insiatif dan pengawasan pada apa saja yang dibutuhkan anak. Menurut Doucet (dalam Pleck, 2010), ayah memiliki tanggung jawab secara sosial dan juga emosional. Tanggung jawab dalam peran ayah adalah sesuatu hal yang berbeda. Menurut Lamb, tanggung jawab didefinisikan sebagai
“bukan dari jumlah waktu yang dihabiskan dengan anak tetapi peran ayah dalam memastikan anak diasuh dengan baik dan mengatur sumber-sumber kehidupan bagi sang anak, sebagai contoh mencarikan pengasuh (babysitter) yang baik, membuat janji dengan dokter anak, dan mengawasi pengasuhan anak, dan menentukan kebutuhan- kebutuhan anak.” Tanggung jawab sebagai sebuah proses di mana