• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. 2 Definisi Attachment Style

BAB II LANDASAN TEORI

II. A. 2 Definisi Attachment Style

Menurut Fraley dan Shaver (dalam Mikulincer, Shaver, 2007) attachment style merupakan bentuk-bentuk dari ekspektasi, kebutuhan, emosi, dan perilaku sosial yang adalah hasil dari pengalaman-pengalaman attachment sebelumnya yang biasanya dimulai dari hubungan dengan orang tua.

Attachment style individu dapat dilihat dari working model yang dimiliki dan fungsi dari sistem attachment pada hubungan khusus (attachment style pada hubungan yang khusus) atau antar hubungan. Working model menurut Ainsworth, Blehar, Waters, & Wall (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) meliputi pengharapan dan keyakinan tentang kasih sayang dan saling bergantung antara individu dengan orang terdekatnya. Serta keyakinan tentang apakah dirinya berharga untuk diberi kasih sayang dan juga perhatian. Itulah yang dikembangkan individu pada saat awal kehidupannya yang kemudian membentuk attachment style atau ikatan yang terbentuk antara individu dengan orang terdekatnya (Becker, Billings, Eveleth, & Gilbert, 1997; Mikulincer & Shaver, 2007).

Menurut Bowlby (dalam Mikulincer & Shaver, 2007), hubungan masa awal kehidupan individu dengan orang terdekatnya merupakan alasan adanya working model dan kemudian berkembang pada hubungannya dengan individu lainnya.

Bartholomew (dalam Miller, 2015) mengungkapkan ada empat jenis attachment pada orang dewasa. Menurut Mikulincer dan Shiver (dalam Miller, 2015) Terdapat dua tema besar yang membedakan keempat style tersebut.

Pertama, individu berbeda dalam melakukan penghindaran terhadap hubungan kedekatan (avoidance of intimacy) yang berpengaruh pada kenyamanan dan kepercayaan yang mereka dapatkan dari hubungan kedekatan dengan orang lain.

Individu yang nyaman pada hubungan dekat merupakan individu yang memiliki tingkat yang rendah dalam penghindaran (avoidance), sebaliknya jika individu tidak memiliki kepercayaan pada orang lain dan membuat dirinya menjauh dari hubungan dekat merupakan individu yang memiliki tingkat yang tinggi dalam

avoidance. Kedua, individu juga berbeda dalam hal kekhawatirannya pada keadaan ditinggalkan (anxiety of abandonment), yaitu ketakutan pada kemungkinan orang lain menilai mereka tidak berguna dan meninggalkannya (Miller, 2015).

Bartholomew (dalam Miller, 2015) mengungkapkan ada empat jenis attachment pada orang dewasa. Menurut Bartholomew, empat jenis attachment yang diperoleh dari dua dimensi. Jika gambaran self dibagi dalam dua bagian yaitu positif dan negatif (bagaimana diri menghargai cinta dan mendukung atau tidak) dan jika gambaran terhadap orang lain juga dibagi dalam dua bagian yaitu positif dan negatif (orang lain dilihat bisa dipercaya dan keberadaannya vs. tak bisa dipercaya serta penolakan), kemudian keempatnya dikombinasikan sebagai sebuah konsep (Bartholomew & Horowitz, 1991).

1. Secure, jenis ini sama seperti dengan attacment pada masa kanak-kanak.

Individu yang secure memiliki kenyaman dalam membangun hubungan kedekatan dengan orang lain dan tidak khawatir orang lain akan memperlakukan mereka dengan tidak baik, sehingga individu yang secure dengan nyaman saling bergantung dengan orang lain (Miller, 2015). Bagian pertama mengindikasikan sense of worthiness (rasa cinta) serta juga ekspektasi yang biasanya orang lain terima. Bagian ini juga disebut sebagai securely attached atau hanya disebut dengan secure (Bartholomew & Horowitz, 1991).

2. Preoccupied, sebuah nama baru untuk anxious ambivalence.

Bartholomew memberikan nama baru untuk kategori yang

menggambarkan kekhawatiran mereka akan ketergantungannya pada penerimaan orang lain agar mereka merasa lebih baik. Individu yang preoccupied menginginkan hubungan kedekatan tetapi takut akan penolakan (Miller, 2015). Bagian kedua mengindikasikan sense of unworthiness (merasa tidak dicintai) dikombinasikan dengan evaluasi positif dari orang lain. Kombinasi ini terdiri dari karakteristik yang akan mengarahkan seseorang untuk mencapai penerimaan diri dengan memperoleh penerimaan dari penilaian orang lain. Bentuk ini hampir sama dengan konsep kelompok ambivalen dari Hazan dan Shaver dan kelompok preoccupied dari konsep Main (Bartholomew & Horowitz, 1991).

3. Sense of unworthiness (merasa tidak dicintai) dikombinasikan dengan ekspektasi bahwa orang lain akan cenderung negatif terhadapnya (tak dapat dipercayai dan penolakan). Bagian ini juga menampilkan penghindaran keterlibatan dengan orang lain, bentuk attachment ini memungkinkan individu untuk melindungi diirnya terhadap penolakan dari orang lain. Attachment ini disebut dengan fearful-avoidant (Miller, 2015) .

4. Sense of love-worthiness dikombinasikan dengan pandangan negatif terhadap orang lain. Seperti halnya individu yang melindungi diri mereka terhadap kekecewaan dengan menghindari hubungan dekat dan lebih independen. Bentuk ini disebut dengan dismissing avoidant. Individu

yang dismissing tidak memiliki ketertarikan untuk membangun hubungan kedekatan dan juga penolakan (Miller, 2015).

Tabel 2. 1 Deskripsi Diri Attachment Style

Jenis ketiga dan keempat menggambarkan dua cara yang berbeda dalam hal “avoidant.” Individu yang memiliki jenis fearful attachment menghindari hubungan intim dengan orang lain karena ketakutan mereka akan penolakan.

Walaupun mereka menginginkan orang lain untuk menyukai mereka, mereka

Jenis Attachment Deskripsi Diri

Secure saya terkadang menemukan orang lain enggan untuk dekat dengan saya. Saya tidak nyaman jika tidak memiliki hubungan dekat tetapi terkadang saya khawatir orang lain tidak menilai saya sebanyak seperti saya menilai mereka.

Fearful

Saya tidak nyaman dekat dengan orang lain.

Saya menginginkan hubungan dekat, tetapi saya sulit percaya dengan orang lain sepenuhnya atau bergantung pada orang lain.

Saya khawatir saya akan terluka jika saya terlalu dekat dengan orang lain.

Dismissing memiliki orang yang bergantung pada saya.

khawatir akan resiko dari bergantung pada orang lain. Sebaliknya, individu yang memiliki jenis dismissing attachment merasa bahwa tidak masalah tidak mempunyai hubungan kedekatan dengan orang lain. Individu dengan dismissing menolak untuk saling bergantung pada orang lain karena mereka merasa self-sufficient dan mereka tidak memperdulikan orang lain menyukai mereka atau tidak (Miller, 2015).

Penghindaraan akan hubungan intim terlihat dari bagaimana individu menghindari hubungan dekat dengan orang lain sebagai hasil ekspektasi dari konsekuensi yang tidak diinginkan. Kelompok preoccupied dan fearful serupa dalam menunjukkan ketergantungan yang kuat pada orang lain untuk menjaga penilaian positif dalam dirinya, tetapi mereka berbeda dalam keterlibatannya hubungan kedekatan. Bagian preoccupied membutuhkan orang lain untuk

memenuhi kebutuhan depency, bagian fearful menghindari kedekatan untuk memperkecil kekecewaan (Miller, 2015).

Bartholomew mengatakan bahwa terdapat dua perbedaan alasan mengapa orang mungkin berkeinginan untuk menghindar terlalu dekat dengan orang lain.

Seseorang menginginkan suatu hubungan dengan orang lain namun ia tetap merasakan kewaspadaan, takut akan penolakan, dan mencurigai pasangannya.

Adapun, seseorang akan menjadi mandiri dan self-relient, cenderung lebih memilih hidup mandiri dan bebas dibandingkan terikat pada suatu hubungan (Bartholomew & Horowitz, 1991).

II. A. 2. 1 Faktor yang Mempengaruhi Attachment Style

Beberapa faktor diketahui dapat mempengaruhi attachment. Menurut Ainsworth (dalam Feeney & Noller, 1996) mengatakan bahwa hal-hal yang akan mempengaruhi attachment ialah sebagai berikut:

1. Pengalaman Masa Lalu

Faktor ini berkaitan dengan kehidupan seseorang sebelum memasuki usia remaja/dewasa. Pengasuhan orang tua dan orang sekitar akan mempengaruhi dirinya dalam membangun attachment. Hal ini ia alami dari kecil hingga memasuki masa dewasa awal dan akan menjadi pengalaman yang dapat membentuk attachment pada individu tersebut. Perpisahan atau kehilangan orang-orang yang dikasih juga akan menjadi bagian yang membentuk attachment, selain itu perceraian orang tua juga turut mempengaruhi attachment.

2. Faktor Keturunan

Keturunan dapat dikatakan mempengaruhi attachment karena anak cenderung untuk melakukan peniruan terhadap orang tuanya. Anak menyaksikan perilaku orang-orang disekitarnya secara berulang-ulang sehingga anak pada akhirnya akan meniru tidak hanya perilaku tetapi juga emosi yang mengikutinya. Hal-hal yang diikutinya seperti karakter serta sifat yang dimunculkan dalam menyikapi sebuah hubungan.

3. Jenis Kelamin

Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding pria.

Pada hubungan romantis, tingkat kecemasan ini akan mempengaruhi kualitas hubungannya dengan pasangan. Pada hubungan orang tua dan anak, ibu memiliki tingkat kecemasan yang lebih yang diartikan sebagai kekhawatiran yang terjadi karena rasa sayang yang terkadang berlebihan.

Dokumen terkait