4. PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
4.1 Proses Produksi
PT. Alfa Sarana Insani bergerak di bidang pembuatan denim. Proses produksi denim secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu proses persiapan, proses tenun, dan proses finishing. Proses persiapan terdiri dari dua proses di dalamnya, yaitu proses warping (penghanian) dan proses dyeing sizing (celup indigo dan pengkanjian). Proses tenun terdiri dari satu proses tenun itu sendiri. Proses finishing terdiri dari tiga proses di dalamnya, yaitu proses bakar bulu, proses sunforize, dan proses rolling dan packing.
4.1.1 Bagian Persiapan
Proses pertama yang dilakukan adalah proses warping. Benang di dalam cones akan diletakkan pada creel (rak) yang tersedia, kemudian ditarik ke dalam satu beam besar. Jumlah helai dalam satu beam besar berkisar antara 408 hingga 480 helai. PT. Alfa Sarana Insani memiliki dua buah mesin warping, dengan kapasitas berbeda. Mesin warping dan creel dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Mesin Warping dan Creel
Satu shift pada proses warping terdiri dari tiga orang, namun pada shift pagi mendapat tambahan seorang normal shift sehingga menjadi empat orang. Satu mesin umumnya dikendalikan oleh seorang operator. Operator lainnya akan membersihkan area produksi untuk memastikan kebersihan pada saat proses produksi berlangsung. Operator akan berjaga di bagian samping ketika sudah selesai membersihkan area produksi, untuk berjaga-jaga ketika ada benang yang putus agar segera dapat diperbaiki. Waktu yang dibutuhkan untuk memproses satu beam pada proses warping berkisar antara 80 menit (kondisi lancar dengan sedikit benang putus) hingga bisa lebih dari 150 menit bila benang banyak putus.
Proses selanjutnya adalah proses dyeing sizing. Waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan satu set beam warping pada proses dyeing sizing berkisar antara 24 hingga 27 jam (bergantung pada panjang tarikan dan kelancaran proses).
Satu set beam yang terdiri dari sepuluh beam dari proses warping akan dipasangkan pada creel mesin dyeing sizing. Benang pada kesepuluh beam tersebut akan disatukan menjadi satu jalur kemudian ditarik bersama-sama di sepanjang mesin dyeing sizing. Benang yang telah disatukan dari beam creel akan ditarik untuk melewati proses pencelupan warna. Total helai benang yang akan melewati bak pencelupan adalah 4080 helai atau lebih. Benang akan melewati proses mercer (buka pori-pori), kemudian akan dicuci agar kotoran pada benang lepas, baru akan melewati proses pewarnaan. Jumlah bak yang digunakan adalah sebanyak 12 bak dari total 15 bak yang tersedia. Benang yang telah diwarna kemudian akan dicuci kembali, umumnya sebanyak tiga kali pencucian (melalui tiga bak cuci), dan akan dikeringkan dengan menggunakan dryer vertikal. Benang kering yang telah melewati dryer vertikal kemudian akan dicelupkan ke dalam size box (bak kanji).
Tujuan dari pemberian kanji pada benang adalah agar benang menjadi kuat, tidak
mudah rapuh pada saat proses tenun benang menjadi kain. Benang yang telah
dicelup ke dalam kanji selanjutnya akan dikeringkan di dalam dryer horizontal dan
akan dilanjutkan masuk ke dalam head stock. Proses terakhir pada bagian headstock
adalah benang disatukan kembali ke dalam beam untuk dilanjutkan ke proses
selanjutnya yaitu proses tenun. Gambar mesin dan proses selengkapnya dapat
dilihat pada Lampiran 1. Headstock mesin dyeing sizing dapat dilihat pada Gambar
4.2.
Gambar 4.2 Mesin Headstock
4.1.2 Bagian Tenun
Proses selanjutnya adalah proses tenun benang. Benang dalam beam indigo akan dicucukkan terlebih dahulu baru kemudian dipasang pada mesin tenun (weaving). Beam yang telah dicucuk akan di-tying dan disisir pada mesin tenun.
Proses tenun akan dimulai setelah persiapan selesai dilakukan. Mesin tenun akan berjalan secara otomatis, dan akan berhenti secara otomatis juga ketika terjadi putus benang lusi atau putus benang pakan. Operator harus memperbaiki jika ada benang yang putus. Operator juga harus mencatat data terjadinya putus, dengan tujuan sebagai bahan evaluasi untuk melihat penyebab terjadinya putus tersebut. Setiap hari akan dilakukan proses potong kain hasil tenun dari tiap mesin tenun yang beroperasi. Kain dalam bentuk roll akan dibawa ke bagian greige inspection untuk diperiksa kualitasnya.
4.1.3 Bagian Finishing
Kain yang telah lolos pemeriksaan kualitas akan dibawa ke bagian
finishing. Kain pertama-tama akan di-brushing, melewati mesin tanpa
menggunakan api dan keluar dalam bentuk tumpukan kain. Tumpukan kain yang
telah di-bruhing kemudian akan melewati proses bakar bulu, dimana kain akan
melewati semburan api panas. Proses bakar bulu bertujuan agar bulu-bulu yang tersisa pada kain hilang/lepas. Proses selanjutnya adalah proses sunforize. Proses sunforize merupakan proses dimana kain akan dimasukkan ke dalam mesin dan diberi softener. Proses ini bertujuan untuk membuat kain menjadi halus. Kain yang telah melalui proses sunforize kemudian akan dibawa ke bagian terakhir dari keseluruhan proses. Kain akan dibawa ke bagian rolling untuk di-roll dan di- packing ke dalam plastik. Kain dalam bentuk gelondongan yang telah di-packing siap untuk dikirim ke customer.
4.2 Metode DMAIC
Metode DMAIC merupakan sebuah metode yang seringkali digunakan untuk mengurangi tingkat kecacatan. Metode ini merupakan satu dari sekian banyak metode six sigma. DMAIC membentuk sebuah siklus yang berulang guna menjamin perbaikan kualitas yang berkesinambungan. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengurangi waste yang ada di lantai produksi, dalam penelitian ini adalah lantai produksi bagian persiapan PT.
Alfa Sarana Insani. Metode DMAIC terdiri dari lima tahap, yaitu define (D), measure (M), analyze (A), improve (I), dan control (C).
4.2.1 Tahap Define
Tahap ini merupakan tahap pertama dari keseluruhan proses, dimana pada tahap ini tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan akan didefinisikan. Fokus perbaikan yang perusahaan ingin lakukan akan dijabarkan secara jelas pada tahap pertama ini. PT. Alfa Sarana Insani ingin mengurangi waste yang ada di lantai produksi. Pengurangan waste diharapkan terjadi pada seluruh lini produksi, namun untuk saat ini dimulai dari bagian awal produksi yaitu pada bagian persiapan.
Bagian persiapan memegang peranan sangat penting karena bahan baku akan mulai diproses pada bagian ini. Semakin banyak masalah/kecacatan yang terjadi pada bagian persiapan, maka akan berpengaruh pada proses-proses selanjutnya.
Perusahaan ingin mengurangi waste pada seluruh lini produksi, oleh sebab itu
perusahaan memulai dari bagian persiapan. Waste yang terjadi di bagian persiapan
PT. Alfa Sarana Insani antara lain defect, delay/waiting, non-utilized talent, inventory, dan overprocessing.
Pendefinisian proses kunci dapat dilakukan dengan menggunakan diagram SIPOC (Supplier, Input, Process, Output, Customer). Pembuatan diagram SIPOC memungkinkan perusahaan untuk dapat mengetahui bagian mana yang dapat menjadi penyebab masalah/kecacatan di bagian persiapan. Diagram SIPOC untuk bagian persiapan dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Diagram SIPOC Bagian Persiapan
Supplier
Pemasok (supplier) bahan baku benang berasal dari supplier lokal di daerah Pulau Jawa. Pemasok bahan baku obat kimia dan kanji dari distributor lokal (dipesankan dari luar negeri). Pemasok bahan baku indigo dari supplier luar negeri.
Input
Bahan baku utama yang digunakan untuk pembuatan kain jeans adalah benang.
Bahan baku penunjang untuk pewarnaan benang adalah indigo, sulfur, dan obat kimia. Bahan baku penunjang untuk memperkuat benang (agar tidak mudah rapuh) adalah kanji.
Process
Proses produksi dimulai dengan mempersiapkan bahan baku yang dibutuhkan,
baik untuk proses warping maupun proses dyeing sizing. Benang akan terlebih
dahulu diproses pada proses warping (penjelasan ada pada bagian sebelumnya),
kemudiaan diproses pada proses dyeing sizing. Bahan penunjang akan disiapkan pada proses dyeing sizing untuk bersama-sama diproses dengan benang yang telah dihani pada proses warping.
Output
Hasil dari kedua proses persiapan ini adalah benang berwarna dalam beam indigo. Jumlah helai benang sebanyak 4080 helai (minimal) atau lebih. Benang berwarna ini siap untuk dilanjutkan ke proses selanjutnya.
Customer
Customer dari proses persiapan bukan berasal dari luar perusahaan, melainkan customer dalam perusahaan. Customer dalam perusahaan yang dimaksud adalah proses selanjutnya setelah proses persiapan, yaitu bagian tenun. Benang berwarna dalam beam indigo siap untuk ditenun menjadi kain jeans.
4.2.2 Tahap Measure
Pengukuran dilakukan pada kedua proses di bagian persiapan PT. Alfa Sarana Insani. Pengukuran dilakukan dengan mengambil data-data yang berhubungan dengan waste. Data yang dikumpulkan merupakan data hasil observasi periode Januari pertengahan hingga awal April 2016. Data yang dikumpulkan adalah data harian warping, data benang, data tunggu beam, data waktu set up warping dan data waktu set up dan produksi dyeing sizing.
4.2.2.1 Data Harian Warping
Data harian warping merupakan data hasil produksi proses warping setiap
hari untuk setiap set. Satu set terdiri dari sepuluh beam. Data ini diambil dengan
tujuan untuk mengetahui penyebab utama dari kecacatan yang terjadi (penyebab
benang putus dan mesin berhenti). Data dikumpulkan dari tanggal 11 Januari 2016
sampai 5 April 2016. Contoh data harian warping dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Contoh Data Harian Warping
Keterangan
Tanggal 11 Jan-12
Jan
12 jan-13 Jan
13 Jan-14 Jan
SET 226 227 228
Jenis Benang 7s OE Batamtex
16s Indiratex
7s OE APAC Total Lusi (helai) 4080 4600 4080
Produk DENIM
LERVAS TP
FANTA BLUE
DENIM MEXICO
BLUE Panjang tarikan 28000 33000 28000
Sebab putus/stop (kejadian)
Lemah 34 73 34
Melintir 0 0 0
Sambungan lepas 0 0 0
Slubs 1 0 1
Gulungan kusut 0 0 0
Gulungan cacat 8 8 21
Kotoran 11 23 9
Cone habis 135 0 20
Twist kurang 0 0 0
Nyangkut cones/ring 98 31 31
Gulungan empuk 0 0 0
Bobin cacat/gepeng 0 0 0
TOTAL 287 135 116
Data harian warping berisikan tanggal produksi set tersebut, nomor set,
jenis benang yang digunakan, total lusi, jenis produk yang diproduksi, panjang
tarikan, dan penyebab dari putus/mesin berhenti. Data harian warping
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2. Data harian tersebut kemudian
dirangkum dalam satu tabel rekapitulasi. Rekapitulasi penyebab benang
putus/mesin berhenti dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Penyebab Benang Putus/Mesin Berhenti
Sebab putus/stop TOTAL (kejadian)
Lemah 4324
Melintir 9
Sambungan lepas 300
Slubs 449
Gulungan kusut 170 Gulungan cacat 1188
Kotoran 1664
Cone habis 1571
Twist kurang 7
Nyangkut cones/ring 1533
Gulungan empuk 2
Bobin cacat/gepeng 20
Tabel rekapitulasi berguna untuk melihat penyebab benang putus/mesin berhenti secara keseluruhan selama periode pengamatan. Penyebab putus terbanyak dari 57 set beam (total panjang 1.490.450 meter) yang dihasilkan selama pengamatan adalah karena benang lemah, yaitu sebanyak 4324 kali. Angka ini terpaut jauh dengan penyebab putus selanjutnya, yaitu karena kotoran (1664 kali kejadian) dan penyebab lain dengan frekuensi yang lebih rendah. Data ini selanjutnya akan dianalisa lebih dalam pada bagian selanjutnya.
4.2.2.2 Data Benang
Data benang merupakan data hasil pemeriksaan benang pada proses warping. Pengukuran dan pencatatan dilakukan sebelum benang ditarik/diproses dan setelah benang tersebut diproses. Pencacatan yang dilakukan adalah pencacatan terhadap berat awal benang dalam cones dan berat cones starter (sisa) hasil tarikan.
Contoh data berat awal dan berat starter benang dapat dilihat pada Tabel 4.3. Data
berat awal dan berat starter benang (data benang) untuk beberapa supplier dapat
dilihat pada Lampiran 3.
Tabel 4.3 Contoh Data Berat Awal dan Berat Starter
berat awal berat starter panjang
sisa (meter) brutto
(kg)
netto (kg)
netto (gr)
brutto (kg)
netto (kg)
netto (gr)
2.52 2.46 2460 0.15 0.09 90 1066.78
2.5 2.44 2440 0.14 0.08 80 948.25
2.53 2.47 2470 0.14 0.08 80 948.25
2.52 2.46 2460 0.14 0.08 80 948.25
2.48 2.42 2420 0.14 0.08 80 948.25
2.51 2.45 2450 0.13 0.07 70 829.72
2.5 2.44 2440 0.13 0.07 70 829.72
2.53 2.47 2470 0.13 0.07 70 829.72
2.46 2.4 2400 0.14 0.08 80 948.25
2.5 2.44 2440 0.14 0.08 80 948.25
2.52 2.46 2460 0.14 0.08 80 948.25
2.49 2.43 2430 0.14 0.08 80 948.25
2.48 2.42 2420 0.14 0.08 80 948.25
2.5 2.44 2440 0.12 0.06 60 711.19
2.51 2.45 2450 0.14 0.08 80 948.25
2.53 2.47 2470 0.14 0.08 80 948.25
2.49 2.43 2430 0.13 0.07 70 829.72
2.48 2.42 2420 0.14 0.08 80 948.25
2.47 2.41 2410 0.14 0.08 80 948.25
2.42 2.36 2360 0.14 0.08 80 948.25
2.5 2.44 2440 0.14 0.08 80 948.25
2.48 2.42 2420 0.14 0.08 80 948.25
2.52 2.46 2460 0.15 0.09 90 1066.78
2.53 2.47 2470 0.14 0.08 80 948.25
2.47 2.41 2410 0.14 0.08 80 948.25
2.51 2.45 2450 0.14 0.08 80 948.25
2.49 2.43 2430 0.13 0.07 70 829.72
2.49 2.43 2430 0.14 0.08 80 948.25
2.52 2.46 2460 0.14 0.08 80 948.25
2.46 2.4 2400 0.13 0.07 70 829.72
Tabel 4.3 merupakan contoh berat awal dan berat starter dari benang 7
sOE dari supplier Pangestu. Variasi berat awal benang dan berat sisa tarikan pada
data di atas tergolong tidak terlalu besar. Penghitungan panjang sisa tarikan
dilakukan dengan mengalikan berat sisa tarikan (dalam gram) dengan NE benang
dan konstanta 768, kemudian dibagi dengan konstanta 453,6.
Perhitungan selanjutnya adalah perhitungan NE (ukuran benang) sebenarnya dari sampel benang yang diperiksa. Ukuran benang akan berpengaruh pada proses produksi selanjutnya, yaitu proses dying sizing. Contoh data NE benang dapat dilihat pada Tabel 4.4. Data NE benang untuk beberapa supplier (data benang) dapat dilihat pada Lampiran 3.
Tabel 4.4 Contoh Data NE Benang Selisih
berat awal dan starter
(gram)
Panjang tarikan/selisih berat awal dan starter (meter/gr)
NE (Ukuran
benang)
2370 11.8143 6.9771
2360 11.8644 7.0067
2390 11.7155 6.9187
2380 11.7647 6.9478
2340 11.9658 7.0666
2380 11.7647 6.9478
2370 11.8143 6.9771
2400 11.6667 6.8899
2320 12.0690 7.1275
2360 11.8644 7.0067
2380 11.7647 6.9478
2350 11.9149 7.0365
2340 11.9658 7.0666
2380 11.7647 6.9478
2370 11.8143 6.9771
2390 11.7155 6.9187
2360 11.8644 7.0067
2340 11.9658 7.0666
2330 12.0172 7.0969
2280 12.2807 7.2525
2360 11.8644 7.0067
2340 11.9658 7.0666
2370 11.8143 6.9771
2390 11.7155 6.9187
2330 12.0172 7.0969
2370 11.8143 6.9771
2360 11.8644 7.0067
2350 11.9149 7.0365
2380 11.7647 6.9478
2330 12.0172 7.0969
Angka pada kolom selisih didapat dari pengurangan antara berat awal benang (dalam gram) dengan berat starter (dalam gram). Angka pada kolom meter/gram didapat dari pembagian antara panjang tarikan (dalam contoh ini adalah 28.000 meter) dengan selisih berat awal benang dengan berat starter benang.
Penghitungan NE dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satu cara penghitungan NE adalah dengan mengalikan panjang tarikan (28.000 meter) dengan konstanta 453,6 kemudian dibagi dengan selisih berat (berat benang terpakai) yang dikali dengan konstanta 768. Perhitungan ini akan menghasilkan NE sesungguhnya dari benang yang diperiksa, yang selanjutnya akan dibandingkan dengan standar NE seharusnya.
4.2.2.3 Data Tunggu Beam
Data tunggu beam berisi jumlah kejadian proses warping harus menunggu beam kosong dari proses dyeing sizing. Data diambil mulai tanggal 29 Januari 2016 hingga 5 April 2016. Data tunggu beam dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Data Tunggu Beam
Tanggal Jumlah Menunggu Beam (shift)
Durasi (menit)
1-Feb-16 2 960
15-Feb-16 1 420
16-Feb-16 1 340.2
17-Feb-16 1 480
18-Feb-16 1 480
20-Feb-16 2 873
21-Feb-16 1 60
26-Feb-16 2 694.8
2-Mar-16 2 319.2
8-Mar-16 1 180
9-Mar-16 1 375
17-Mar-16 3 1080
2-Apr-16 1 90
3-Apr-16 1 65
Jumlah 20 6417.2
Tabel 4.5 menunjukkan dalam jangka waktu pengamatan sekitar dua bulan telah terjadi 14 kali (dalam hari) menunggu beam kosong. Angka pada kolom jumlah menunggu beam (shift) menunjukkan bahwa dalam satu hari tidak menutup kemungkinan terjadi lebih dari satu shift menunggu beam. Total shift yang mengalami proses menunggu adalah sebanyak 20 shift. Total waktu menunggu beam dalam dua bulan pengamatan adalah 6.417,2 menit atau setara dengan 4 hari 10 jam.
4.2.2.4 Data Waktu Set Up Warping
Waktu set up warping merupakan waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan benang sebelum diproses. Persiapan yang dilakukan antara lain memotong sisan tarikan beam sebelumnya, menyambung benang baru dengan sisa pancingan sebelumnya, dan mengganti beam isi dengan beam kosong. Data diambil mulai tanggal 11 Januari 2016 hingga 5 April 2016. Data waktu set up dapat dilihat pada Lampiran 4. Rangkuman data waktu set up proses warping dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Rangkuman Data Waktu Set Up Warping Waktu (menit)
20’ 25’ 30’ 35’ 40’ 45’ 50’ Total
Bulan
Januari 0 0 34 0 95 12 1 142
0% 0% 24% 0% 67% 8% 1% 100%
Februari 0 0 47 3 105 3 8 166
0% 0% 28% 2% 63% 2% 5% 100%
Maret 0 2 63 18 101 3 0 187
0% 1% 34% 10% 54% 2% 0% 100%
April 0 6 1 13 0 0 0 20
0% 30% 5% 65% 0% 0% 0% 100%
Rangkuman data waktu set up warping menunjukkan bahwa pada bulan
Januari mayoritas waktu set up adalah 40 menit. Data bulan Februari dan bulan
Maret juga tidak jauh berbeda berada di 40 menit, namun secara persentase berbeda
karena jumlah total dan jumlah waktu yang lain berbeda. Hasil setiap bulan bila
dibandingkan dengan bulan sebelumnya telah mengalami peningkatan. Secara
waktu memang masih mayoritas berada di 40 menit, namun angka lain seperti 30 menit sudah mulai menyusul.
4.2.2.5 Data Waktu Set Up dan Produksi Dyeing Sizing
Waktu set up (persiapan) dyeing sizing merupakan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pergantian set pada proses tersebut. Pergantian set merupakan peralihan dari satu set ke set lain dimana operator harus menyambung set baru dengan sisa pancingan pada set sebelumnya, memasak obat, dan bersih-bersih.
Waktu set up dihitung sejak beam terakhir set ini selesai digulung di headstock dan akan berakhir pada saat benang baru pada set selanjutnya masuk ke beam awal.
Waktu produksi dyeing sizing merupakan waktu yang dibutuhkan untuk memproses satu set dari awal masuk beam hingga selesai digulung pada beam terakhir. Data waktu set up dan produksi dyeing sizing diambil mulai tanggal 11 Januari hingga 5 April 2016. Data waktu set up dan produksi dyeing sizing selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5. Contoh data waktu set up dan waktu produksi dyeing sizing dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Contoh Data Waktu Set Up dan Produksi Dyeing Sizing
Tanggal Set awal (nomor)
Waktu Produksi
(menit)
Tanggal
Set selanjutnya
(nomor)
Waktu persiapan
(menit)
11-Jan 224 1410 12-Jan 225 151
12-Jan 225 1433 13-Jan 226 257
13-Jan 226 1455 14-Jan 227 225
14-Jan 227 1820 16-Jan 228 150
16-Jan 228 1545 18-Jan 229
18-Jan 229 1397 19-Jan 230 227
19-Jan 230 1255 20-Jan 231 185
20-Jan 231 1555 21-Jan 233
21-Jan 233 25-Jan 234
25-Jan 234 1655 26-Jan 237 285
26-Jan 237 970 27-Jan 232 180
27-Jan 232 2130 29-Jan 235
29-Jan 235 1470 30-Jan 240 345
30-Jan 240 1-Feb 236
1-Feb 236 1468 2-Feb 239 258
2-Feb 239 1467 3-Feb 238
Tabel 4.7 Contoh Data Waktu Set Up dan Produksi Dyeing Sizing (Lanjutan)
Tanggal Set awal (nomor)
Waktu Produksi
(menit)
Tanggal
Set selanjutnya
(nomor)
Waktu persiapan
(menit)
3-Feb 238 1445 5-Feb 242
5-Feb 242 1457 9-Feb 241
9-Feb 241 10-Feb 244 235
10-Feb 244 767 11-Feb 243 253
11-Feb 243 1122 12-Feb 246 168
Data waktu set up dan produksi diperoleh dari catatan yang dibuat oleh operator pada bagian headstock. Operator akan mencatat setiap beam yang diproduksi berikut jam dimulainya, jam selesainya, panjang benang, jumlah putus, dan keterangannya. Contoh buku catatan headstock dapat dilihat pada Lampiran 8.
Blok hitam merupakan data waktu yang tidak tercatat. Tidak tercatatnya waktu dapat dikarenakan oleh terpotongnya waktu karena ada masalah yang berlanjut hingga ke hari berikutnya atau terpotong akhir minggu (proses berhenti). Warna merah pada tabel menunjukkan bahwa waktu tersebut berada diluar/melebihi batas waktu yang ditentukan perusahaan. Batas waktu set up yang ditentukan perusahaan adalah selama tiga jam atau setara dengan 180 menit. Batas waktu produksi yang ditargetkan perusahaan adalah selama 24 jam atau setara dengan 1440 menit.
4.2.3 Tahap Analyze
Tahap analyze dilakukan dengan tujuan untuk mencari akar permasalahan dari permasalahan (waste) yang ada. Analisa dan pencarian akar permasalahan dilakukan dengan menggunakan data-data yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Tools yang digunakan dalam melakukan analisa pada bagian ini adalah Pareto Chart dan Fishbone Diagram (diagram sebab akibat).
4.2.3.1 Analisa Akar Penyebab Timbulnya Defect
Analisa akar penyebab timbulnya defect dilakukan dengan menggunakan
data harian warping sebagai tolok ukur. Data harian warping menunjukkan jumlah
penyebab benang putus dan mesin berhenti (break ratio). Semakin banyak mesin
berhenti maka menandakan banyak kecacatan terjadi.
Proses analisa dilakukan dengan menggunakan pareto chart. Pareto chart dibuat untuk melihat akar penyebab masalah mana saja yang mengambil andil banyak pada kecacatan yang terjadi. Pareto chart untuk penyebab benang putus/mesin berhenti dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 Pareto Chart Penyebab Benang Putus/Mesin Berhenti
Pareto chart menunjukkan terdapat enam penyebab benang putus/mesin berhenti. Total penyebab permasalahan termasuk yang berada di dalam kelompok other adalah 12 penyebab. Prinsip pareto 80-20 menunjukkan bahwa 80 persen permasalahan yang terjadi disebabkan oleh 20 persen penyebab permasalahan.
Penyebab utama yang menyebabkan 80 persen permasalahan benang putus/mesin berhenti adalah karena benang lemah, terdapat kotoran, cones habis, dan benang menyangkut di ring tensioner.
Akar permasalahan juga dapat dicari dengan menggunakan fishbone diagram. Fishbone diagram menunjukkan akar permasalahan secara terperinci.
Fishbone diagram penyebab break ratio (benang putus/mesin berhenti) tinggi dapat dilihat pada Gambar 4.5.
TOTAL 4324 1664 1571 1533 1188 449 508 Percent 38.5 14.8 14.0 13.6 10.6 4.0 4.5 Cum % 38.5 53.3 67.3 80.9 91.5 95.5 100.0 Sebab putus/stop
Other Slubs
Gulungan cacat Nyangkut cones/ring
Cone habis Kotoran Lemah
12000 10000 8000 6000 4000 2000 0
100 80 60 40 20 0
TOTAL Percent