• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Asia Tenggara. Pada tahun 1987 Pusat Survei dan Pemetaan ABRI (Pussurta ABRI) menyatakan bahwa jumlah pulau di Indonesia adalah sebanyak 17.508 (Wikipedia, 2016). Karena merupakan negara kepulauan, maka wilayah Indonesia terdiri atas lautan dan daratan, dimana secara geografis tiga per empat dari keseluruhan wilayah Indonesia dipenuhi oleh laut yang sangat luas, yaitu sebesar 5,8 juta km². Wilayah laut tersebut dikelilingi garis pantai sepanjang 95.181 km, yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Ardianto, 2014).

Sebagai negara kepulauan yang memiliki laut yang luas dan garis pantai yang panjang, sektor maritim dan kelautan berperan sangat penting bagi Indonesia baik dalam aspek ekonomi dan lingkungan, sosial-budaya, hukum dan keamanan (Naskah Akademik, 2015). Posisi geografis Indonesia yang sangat strategis, yaitu terletak di antara persilangan dua benua dan dua samudera, juga telah menjadikan wilayah laut Indonesia sebagai urat nadi perdagangan dunia. Hal itu dapat dibuktikan dari Selat Malaka dan jalur ALKI yang secara umum merupakan jalur perdagangan strategis yang dilalui kapal-kapal perdagangan dunia dengan volume perdangangan mencapai 45 persen dari total nilai perdagangan seluruh dunia (Nugroho, 2014).

Özpeynirci, Duman, dan Arsu (2012) menyatakan struktur geografis merupakan alasan utama suatu negara atau wilayah untuk menentukan sistem transportasi yang digunakannya. Dengan melihat fakta-fakta struktur geografis Indonesia, dimana wilayah laut Indonesia lebih luas dari wilayah daratannya, seharusnya transportasi laut merupakan pilihan utama yang digunakan Indonesia untuk membantu memajukan perekonomiannya. Di negara kepulauan seperti Indonesia transportasi laut berperan dalam menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya sehingga aktivitas perekonomian dapat berjalan secara lancar.

Disamping itu, sektor transportasi laut dapat berperan besar dalam merangsang

(2)

pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tertingal (konsep transport promote the trade) dan sebagai sarana penunjang perekonomian bagi daerah-daerah yang telah berkembang (konsep trade follow the ship). Dengan kata lain transportasi laut memiliki peran dalam menggerakkan dinamika pembangunan melalui mobilitas manusia, barang dan jasa serta mendukung pola distribusi nasional.

Adanya fakta-fakta tersebut ternyata tidak menjamin transportasi laut Indonesia mendapat perhatian yang serius, salah satunya dapat dilihat dari kualitas pelabuhan di Indonesia, dimana seperti yang dikatakan Direktur Utama Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Emma Sri Martini, kualitas pelabuhan Indonesia berada di peringkat 77 dunia, sementara kualitas pelabuhan Singapura dan Malaysia masing-masing di peringkat 2 dan 19 dunia (“Kualitas Infrastruktur RI ...”, 2016).

Kualitas ini dinilai dari durasi dwelling time (waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muat kapal) di Indonesia pada akhir 2015 yang membutuhkan waktu selama 5-6 hari, sedangkan di Malaysia kurang dari 4 hari, dan di Singapura hanya kurang dari 2 hari. Dan untuk informasi, biaya menunggu selama 4 hari untuk kapal ukuran 2.000 TEU sebesar USD 10.000 (Martono, 2016). Selain itu ukuran kapal di Indonesia yang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia juga menyebabkan inefisiensi, karena skala ekonomis akan tercapai bila pengangkutan kargo dilakukan sekaligus dalam jumlah yang besar.

Berdasarkan penghitungan bank-bank dunia, biaya angkutan barang di Indonesia melalui transportasi darat sebesar 40% dan transportasi laut 60%

(Endah, 2014), dimana sebagian besar wilayah Indonesia adalah laut. Selama ini pun total aktivitas distribusi barang di Indonesia masih menggunakan jalur darat yaitu sebesar 90%, sementara jalur laut hanya dimanfaatkan sebesar 9% dan 1%

menggunakan kereta api (“Distribusi Barang Lewat Laut …”, 2014). Menurut

Tseng, Taylor, dan Yue (2005), transportasi berkontribusi sebagai penyumbang

biaya tertinggi dalam unsur-unsur yang berhubungan dengan sistem logistik,

dimana peningkatan efisiensi transportasi dapat merubah seluruh kinerja dari

suatu sistem logistik. Ketidakmampuan Indonesia untuk mengefisiensikan

transportasi laut inilah yang akhirnya menyebabkan biaya logistik di Indonesia

merupakan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Biaya logistik

(3)

yang tinggi ini mempengaruhi harga produk ekspor asal Indonesia sehingga menyebabkan daya saing Indonesia dibanding negara-negara lain lebih lemah (Ardhanareswari, Lawi, dan Alaydrus, 2016).

Selain hal-hal tersebut, kurangnya ketersediaan infrastruktur juga disebut- sebut sebagai penyebab tingginya biaya logistik di Indonesia, terutama adalah infrastruktur pelabuhan (Deny, 2015). Fasilitas dan peralatan di pelabuhan- pelabuhan Indonesia umumnya minim, dermaganya juga tidak memadai untuk melayani kapal ukuran besar, terutama di kawasan timur (Lazuardi, 2015).

Permasalahan biaya logistik inilah yang akhirnya menimbulkan disparitas harga antara wilayah barat Indonesia dan wilayah timur Indonesia (Deny, 2015).

Selama ini pembangunan infrastruktur Indonesia mayoritas masih terpusat di Pulau Jawa, sehingga pengiriman barang ke wilayah timur Indonesia menjadi mahal. Kapal yang penuh mengangkut barang ke wilayah Timur juga seringkali kembali ke Pulau Jawa dalam keadaan kosong atau hanya memuat sedikit barang saja. Tidak adanya barang yang diangkut dari Indonesia Timur inilah yang menyebabkan kebanyakan perusahaan pelayaran enggan untuk menentukan jadwal yang tetap untuk keberangkatan kapal pengangkut barang ke dan dari Indonesia Timur (ship follow the trade). Daftar masalah inilah yang akhirnya menimbulkan besarnya kesenjangan harga barang-barang antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur, atau yang biasa kita kenal dengan disparitas harga.

Masalah tingginya biaya logistik yang terjadi di Indonesia menyebabkan seringkali harga produk lokal jauh lebih tinggi dari produk impor. Pengamat Ekonomi Faisal Basri mengatakan harga jeruk medan dapat mencapai Rp 3.400/100 gram, sedangkan harga jeruk mandarin hanya Rp 3.200/100 gram (“Jeruk Medan Rp 20 Ribu/kg …”, 2014). Untuk masalah disparitas harga kita dapat melihat contoh perbandingan harga semen di Pulau Jawa dan di Papua, menurut Presiden Joko Widodo harga satu sak semen di Jakarta hanya sebesar 65 ribu rupiah, sedangkan di Papua harga satu sak semen dapat mecapai harga 1 juta rupiah (Praditya, 2014).

Untuk mengatasi masalah disparitas harga yang terjadi antara wilayah

barat dan wilayah timur Indonesia tersebut, Presiden Republik Indonesia Joko

Widodo meluncurkan program tol laut. Menurut Presiden Jokowi, tol laut

(4)

bukanlah jalan aspal di atas laut (“Jokowi Kembali Jelaskan …”, 2014).

Melainkan, sistem jalur distribusi logistik menggunakan angkutan kapal barang dengan rute terjadwal dari ujung barat hingga timur dan dari utara ke selatan Indonesia. Di dalam program tol laut ini terdapat jalur kapal-kapal besar yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan utama Indonesia.

Tol laut bertujuan untuk mengembangkan ekonomi maritim, dengan menjadikan laut sebagai basis konektivitas produksi dan pemasaran antar daerah/pulau di Indonesia dan regional. Pemerintah berharap dengan adanya program tol laut ini dapat menurunkan biaya logistik yang selama ini memegang kunci penting untuk disparitas harga yang terjadi antara pulau Jawa dan pulau non-Jawa. Sehingga, stabilitas harga barang maupun komoditas antar daerah dapat terjaga

Dalam pelaksanaanya PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) yang merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan sebagai pelaksana penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang dalam rangka pelaksanaan program tol laut 2015. Sebelumnya PT PELNI hanya melayani layanan angkutan kapal penumpang, namun setelah adanya program tol laut pemerintah menunjuk PELNI untuk menjalankan juga layanan angkutan kapal barang. Sesuai dengan Perpres Nomor 2 Tahun 2016 yang dikeluarkan pada tanggal 12 Januari 2016 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Pelayanan Publik Kapal Perintis Milik Negara, disebutkan bahwa Pelni ditugaskan untuk melaksanakan pelayanan publik berupa kegiatan pelayaran perintis, yakni melayani daerah yang masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil dan belum berkembang. Sampai saat ini telah terbentuk 6 trayek tol laut yang telah dijalankan oleh PELNI.

Dalam aturan tersebut Presiden Joko Widodo menjelaskan, alasan

ditunjuknya satu badan usaha milik negara (BUMN) untuk menjalankan tugas

khusus tersebut adalah demi menjamin ketersediaan barang sehingga mengurangi

disparitas harga di masyarakat. Dalam Perpres itu juga ditegaskan, pengiriman

barang oleh PELNI merupakan kegiatan Kewajiban Pelayanan Publik (Public

Service Obligation/PSO) sehingga perseroan akan menerima subsidi dari

pemerintah. Sementara subsidi yang diperlukan untuk mengapalkan barang

(5)

tersebut akan dialokasikan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada bagian anggaran Kementerian Perhubungan.

Dari berbagai fakta data dan fenomena di atas, peneliti tertarik untuk meneliti pelaksanaan program tol laut oleh PT. Pelayaran Nasional Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana perkembangan pelaksanaan program tol laut oleh PT. PELNI sejak pertama kali diluncurkan pada 4 November 2015 sampai sekarang baik perkembangan dari segi rute, volume, maupun frekuensi.

1.2. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: bagaimana perkembangan pelaksanaan tol laut yang dilaksanakan oleh PT. PELNI ditinjau dari aspek rute, frekuensi, volume?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

untuk mendeskripsikan perkembangan pelaksanaan tol laut oleh PT. PELNI ditinjau dari aspek rute, volume, dan frekuensi.

1.4. Manfaat Penelitian

Penulisan tugas akhir ini memiliki manfaat bagi:

a. Bagi PT. PELNI

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi yang diharapkan dapat menjadi referensi guna pengambilan keputusan lebih lanjut.

b. Bagi perusahaan jasa pelayaran swasta

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang peluang yang ditawarkan tol laut untuk trayek-trayek ke wilayah Timur Indonesia c. Bagi pembaca

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang pelaksanaan

program tol laut oleh PT PELNI dan dampak yang dihasilkannya.

(6)

1.5. Ruang Lingkup

Untuk mempermudah penulisan penelitian ini agar menjadi lebih terarah

dan berjalan dengan baik, diperlukan suatu batasan masalah. Oleh sebab itu, ruang

lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini adalah program tol laut dengan rute

dari Surabaya ke wilayah Timur Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Jenis penelitian ini tergolong kualitatif dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah: historis, antropologi, politik, pendidikan dan agama. Selanjutnya, metode

isterinya R, jadi saya harus nurut sama R, lalu pendidikan buat anak-anak saya nanti, agama itu yang utama, terus kalau ekonomi ya perlu mbak, ekonominya harus baik.” “Konsep

Selain itu penulisan ini juga dimaksudkan supaya pembaca bisa memahami bagaimanakah faktor yang melatarbelakangi dan juga dampak psikologis anak SD yang menonton

Menimbang, bahwa untuk memenuhi azas hukum yang terkandung dalam ketentuan Pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1

keterangan atau bukti yang tidak benar, yang seharusnya tidak memenuhi syarat untuk diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, apabila telah memperoleh NIP dan diangkat

Norma hukum itu berjenjang dalam suatu hierarki tata susunan, sehingga norma yang lebih rendah bersumber dan berdasar pada norma yang lebih tinggi, norma yang lebih

Pembuatan sistem pendukung keputusan dalam penentuan jumlah produksi barang pada CV.Kurnia Alam metode Fuzzy Mamdani dengan menggunakan MATLAB 5.

Siswa memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia dan memiliki sikap positif berbahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (1) faktor pengalaman: siswa tahu