• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUALITAS DAN KUANTITAS DNA DARAH KERING PADA BESI DAN KAYU YANG DISIMPAN DALAM KURUN WAKTU BERBEDA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KUALITAS DAN KUANTITAS DNA DARAH KERING PADA BESI DAN KAYU YANG DISIMPAN DALAM KURUN WAKTU BERBEDA."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

23(1-2851$/6<67(06

86 ( 5

8VHUQDPH

3DVVZRUG

5HPHPEHUPH

/RJ,Q

12 7, ), &$ 7 ,2 16

9LHZ

6XEVFULEH8QVXEVFULEH

/ $ 1* 8$ *(

(QJOLVK

- 285 1$ / & 217 (17

6 HD UF K

$OO

6HDUFK

- X U Q D O % L R O R J L

(2)

%U RZ VH

%\,VVXH

%\$XWKRU

%\7LWOH

2WKHU-RXUQDOV

) 2 17 6 ,=(

, 1)2 50$ 7 ,2 1

)RU5HDGHUV

)RU$XWKRUV

)RU/LEUDULDQV

( $%287 /2*,1 5(*,67(5 6($5&+ &855(17 $5&+,9(6 $87+25

'(/,1(6 )2&86$1'6&23( (',725,$/7($0 &217$&7

+RPH

!

$UFKLYHV

!

9RO1R

9RO1R

7DEOHRI&RQWHQWV

$UWLFOHV

.(7 $+$1$1/DF WREDF LOOXVVS,62/$76868.8'$680%$:$7 (5+$'$3S+5(1'$+'$1$6$0

'(2.6,.2/$76(57$.(0$038$11<$0(17 5$16)250$6,$6$0.2/$7 0(1-$',$6$0'(2.6,.2/$7

3')

,*XVWL$JXQJ*GH%D\X:LUDPD<DQ5DPRQD&RN,VWUL6UL$ULVDQWL

)((',1*$&7 ,9,7,(62)/21* 7$,/('0$&$48(60DF DF DIDVF LF XODULV5DIIOHV$7 /8+858/8:$78

7 (03/(7 285,67'(67,1$7 ,21%$/,

3')

1L0DGH'HZL:DK\XQL$$*GH5DND'DOHP,.HWXW*LQDQWUD

*(1(7 ,&',9(56,7< 2)6.,3-$&.781$.DWVXZRQXVSHODPLV)520-(0%5$1$$1'.$5$1*$6(0

5(*(1&,(6%$/,

3')

)DNKUXUUDVL)DNKUL,QQD1DUD\DQL,*1JXUDK.DGH0DKDUGLND

7 2.6,6,7 <2)'(7 (5*(17$1'$57 ,),&,$/7(;7 ,/&2/2572:$7 (567 5,'(5*HUULVPDUJLQDW XV 3')

,.3XWUD-XOLDQWDUD1L/XK:DWLQLDVLK,:D\DQ.DVD

.8$/,7 $6'$1.8$17 ,7$6'1$'$5$+.(5,1*3$'$%(6,'$1.$< 8<$1*',6,03$1'$/$0.8581 3')

(3)

:$.78%(5%('$

1L3XWX3XQLDUL(ND3XWUL,.HWXW-XQLWKD

8-,$.7 ,9,7$6(.67 5$.5(%81*%$0%87$%$+*LJDQW RF KORDQLJURF LOLDWD%86( .85=7 (5+$'$3

3(5,/$.8.$:,10(1&,7 -$17 $10XVPXVF XOXV/

3')

$$,VWUL0DV3DGPLVZDUL$$6$6XNPDQLQJVLK.1L3XWX$GULDQL$VWLWL

3(1*$58+0(',$7 (5+$'$33(5780%8+$1'$1%,20$66$&(1'$:$1$OWHUQDULDDOWHUQDW D)ULHV

.HLVVOHU

3')

3LQNL3UDKDUD7DXULVLD0HLWLQL:3URERULQL,UVDQ1XKDQWRUR

.(.$<$$163(6,(6%8581*',:,/$<$+'(6$%8$+$1.(&$0$7 $1.,17 $0$1,.$%83$7(1%$1*/,

'$1',+87$1+8-$1'$7$5$17 ,1**,6(.,7 $51<$

3')

,.DGHN7HJXK,QGUD'HZDQWDUD1L/XK:DWLQLDVLK,1HQJDK1X\DQD

5$6,2-(1,6.(/$0,13$'$.(/$+,5$1$17 $5$%8/$1'(6(0%(56$03$,129(0%(5',

568':$1*$< $'(13$6$5'$1568'%$1*/,%$1*/,',3529,16,%$/,

3')

9LFWRU3HWHU3ROL,.HWXW-XQLWKD1L0DGH5DL6XDUQL

.$1'81*$1),7 2.,0,$(.675$.'$81.$0%2-$3OXPHULDVS'$13(1*$58+1< $7 (5+$'$3

3(5780%8+$17$1$0$1-$+((035,7 =LQJLEHURIILF LQDOHYDU$PDUXP

3')

3XWX<D\XQ$QWDUL%XGD\D1L3XWX$GULDQL$VWLWL(QLHN.ULVZL\DQWL

7KLVZRUNLVOLFHQVHGXQGHUD&UHDWLYH&RPPRQV$WW ULEXWLRQ,QW HUQDWLRQDO/LF HQVH,661 9LHZ0\6W DWV

(4)

21

KUALITAS DAN KUANTITAS DNA DARAH KERING

PADA BESI DAN KAYU YANG DISIMPAN DALAM KURUN WAKTU BERBEDA

QUALITY AND QUANTITY OF DNA FROM DRIED BLOOD ON IRON 

AND WOOD, STORED IN DIFFERENT PERIOD OF TIME

NI PUTU PUNIARI EKA PUTRI1, I KETUT JUNITHA1,2

1Jurusan Biologi FMIPA Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali 2Laboratorium UPT Forensik dan Biosains, Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali

Email: [email protected]

INTISARI

DNA merupakan materi genetik yang berfungsi untuk mengatur aktivitas biologis seluruh bentuk kehidupan. Darah merupakan salah satu sumber DNA yang sering digunakan sebagai barang bukti dalam bidang forensik. Kondisi darah sebagai barang bukti di TKP (tempat kejadian perkara) yang ditemukan diantaranya pada besi, kayu, pakaian, tembok, lantai, kertas dan gunting dapat mempengaruhi hasil ekstraksi dan analisis DNA. Dalam ilmu forensik menerapkan prinsip Locard yaitu adanya pertukaran materi ketika terjadi kontak dari dua buah benda. Materi yang tertinggal akibat kontak dari dua buah benda tersebut akan menjadi barang bukti kuat yang sangat menentukan dalam penyelesaian suatu kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas DNA dari darah kering pada besi dan kayu yang disimpan dalam kurun waktu berbeda (satu, dua, tiga, dan empat

!"#$%&'( )*+",-$%( ,-*)./0$).-( ,*%1$%( +*%11"%$)$%( +*/2,*( 3*%2#( )#202320+( /*0+2,-4)$.-5( 6$.-#( 7*%*#-/-$%( -%-(

menunjukkan bahwa DNA dari darah kering pada besi dan kayu masih dapat diekstraksi menggunakan metode

3*%2#( )#202320+( 8$%1( ,-+2,-4)$.-( .$+7$-( *+7$/( !"#$%( 7*%8-+7$%$%'( /*/$7-( /*09$,-( 7*%"0"%$%( )"$%/-/$.( :;<(

sejalan dengan lama waktu penyimpanan.

Kata kunci: besi, darah, DNA, kayu, waktu penyimpanan

ABSTRACT

DNA is a genetic material that serves to regulate the biological activity of life. Blood is one of DNA sources, that

$0*(23/*%(".*,($.(*=-,*%>*(-%(320*%.->(4*#,5(?@*(>2%,-/-2%(23(!#22,($.(*=-,*%>*($/(/@*(>0-+*(.>*%*(A.>*%*(72-%/&(32"%,( 2%( -02%'( B22,'( >#2/@*.'( B$##.'( C220-%1'( 7$7*0'( 20( .>-..20.( >2"#,( $D*>/( /@*( 0*."#/.( 23( :;<( *E/0$>/-2%( $%,( $%$#8.-.5(

Locard’s principle in forensic science states that every time contact was made between person, place, or other things can results in an exchange of physical materials. Material left behind as the result of contact among two objects can be strong evidence in solving a case. This research aimed to determine the quality and quantity of

:;<(302+(,0-*,(!#22,(>2##*>/*,(302+((-02%($%,(B22,(B@->@(B$.()*7/(-%(,-D*0*%/(7*0-2,(23(/-+*.(A2%*'(/B2'(/@0**'( $%,( 32"0( +2%/@.&5( ?@*( .$+7#*.( B*0*( *E/0$>/*,( -%( +2,-4*,( 7@*%2#( >@#202320+( +*/@2,5( ?@*( 0*."#/.( ( -%,->$/*,( /@$/( :;<( 302+( ,0-*,( !#22,( 2%( -02%( $%,( B22,( >$%( ./-##( !*( *E/0$>/*,( ".-%1( $( +2,-4*,( 7@*%2#( >@#202320+( +*/@2,'(

however, the quantity of DNA decreased in line with the length of storage time.

Keywords: blood, DNA, iron, storage time, wood

PENDAHULUAN

Dalam forensik dikenal motto yang menyatakan bahwa tidak ada peristiwa kejahatan yang tidak meninggalkan jejak. Setiap tindak pidana pasti akan membawa dan meninggalkan sesuatu di TKP (Tempat Kejadian Perkara) sebagai jejak yang dijadikan barang bukti. Besi, kayu, kain (serat baju), rambut, air liur, darah, sperma, kulit, sidik jari merupakan saksi bisu yang harus ditemukan di TKP. Prinsip Locard menyatakan bahwa pertukaran materi terjadi akibat adanya kontak dari dua buah benda. Prinsip ini dikemukakan oleh Dr. Edmond Locard yang merupakan seorang pionir dalam ilmu forensik (Laupa, 2013). Dalam mendapatkan jejak yang dapat dijadikan

barang bukti di TKP diperlukan usaha dan alat-alat

)@".".( "%/")( +*%*+")$%( !")/-( 4.-)( 8$%1( /-,$)( ,$7$/( ,-.$%1)$#5( F")/-( 4.-)( /*0.*!"/( $)$%( +*%1"%1)$7)$%(

pelaku kejahatan sekaligus menjelaskan bagaimana dan kapan pelaku melakukan tindak pidana (Departemen Forensik dan Medikolegal FKUI/RSCM, 2013).

Ekstraksi atau isolasi DNA adalah salah satu teknik dasar yang harus dikuasai dalam mempelajari teknik biologi molekuler. Tujuan dari ekstraksi atau isolasi DNA adalah memisahkan DNA (asam nukleat) dan membuangnya dari komponen sel lainnya seperti protein, karbohidrat dan lemak sehingga DNA yang diperoleh

,$7$/( ,-$%$#-.-.( ,$%( ,-+2,-4)$.-( #*!-@( #$%9"/( ,*%1$%(

teknik biologi molekuler (Davis et al., 1993). Ekstraksi

(5)

JURNAL BIOLOGI VOLUME 19 NO.1 JUNI 2015

DNA dari darah kering dan segar dilakukan dengan menggunakan metode fenol kloroform (Sambrook and Russell, 2001).

Darah merupakan salah satu sumber DNA yang sering digunakan sebagai barang bukti dalam bidang forensik. Kondisi darah sebagai barang bukti di lapangan (TKP) dapat ditemukan di berbagai macam media diantaranya pada besi, kayu, kain, tembok, lantai, kertas dan gunting yang dapat mempengaruhi hasil ekstraksi dan analisis DNA. Dalam ilmu forensik, hasil analisis DNA merupakan alat bukti yang sangat menentukan dalam menyelesaikan beberapa kasus kriminal (Fessenden, 1986).

Darah segar mempunyai nilai yang lebih penting daripada darah kering, karena dari hasil uji kualitas darah segar dapat diperoleh hasil yang lebih baik. Dalam hubungannya dengan forensik maka kecepatan penanganan dari sebuah kasus yang melibatkan darah sebagai barang buktinya menjadi sangat penting. Menurut Eckert (1980), seorang polisi yang bertindak sebagai penyidik memiliki kemampuan dalam pengenalan dan pengumpulan barang bukti secara tepat dalam menangani kasus tindak pidana. Mereka bertanggung jawab terhadap pengujian (analisis) dari berbagai jenis barang

!")/-( 8$%1( ,-7*02#*@( ,-( ?GH'( +*#$)")$%( -,*%/-4)$.-'( )"$%/-4)$.-(.*0/$(,2)"+*%/$.-(!$0$%1(!")/-5(:$0-(@$.-#(

analisis tersebut kemudian dievaluasi, diinterpretasi dan dibuatkan laporan berdasarkan keterangan ahli untuk kepentingan hukum atau peradilan.

Darah akan mengering setelah kontak dengan udara luar dalam waktu 3-5 menit. Begitu darah mengering maka darah akan berubah warna dari merah menjadi coklat kehitaman. Darah pada sebuah kasus kriminal dapat berbentuk genangan darah, tetesan, usapan atau bentuk kerak. Dari genangan darah akan diperoleh hasil DNA yang lebih baik karena itu merupakan darah segar (Darmono, 2001).

MATERI DAN METODE

Sampel darah kering pada kayu diambil dengan cotton buds steril yang telah dibasahi aquades steril dan darah kering pada besi dikerok dengan skalpel steril, sedangkan untuk darah segar langsung diteteskan pada tabung

eppendorf sebanyak tiga tetes. Usapan atau kerokan darah kering baik pada besi dan kayu dimasukkan ke dalam tabung 1,5 mL yang telah diisi dengan 300 µL

!"D*0( #-.-.( .*!$%8$)( IJ( !"$@( #$!*#( .$+7*#5( F"D*0( #-.-.(

memiliki komposisi NaCl 5M, EDTA 0,2M, Tris-HCl 2M, Urea 4M dan air distilasi. Ekstraksi DNA menggunakan

+*/2,*( 3*%2#( )#202320+( 8$%1( ,-+2,-4)$.-( AK$+!022)(

and Russell, 2001).

Uji kualitas DNA dilakukan dengan eloktroforesis pada gel agarosa 1,2%. Sampel sebanyak 5 µL dicampur dengan 1 µL loading dye( ,-( $/$.( )*0/$.( 7$0$4#+'( )*+",-$%(

dimasukkan ke dalam sumuran gel. Selanjutnya proses elektroforesis dijalankan pada tegangan 100 volt selama 30 menit (Rianta, 2001). Uji kuantitas dilakukan dengan membandingkan pendaran DNA hasil ekstraksi terhadap Lambda DNA (Merk Biolab Made England) yang konsentrasinya telah diketahui sebagai berikut:

konsentrasi 0,01 µg/µL, konsentrasi 0,005 µg/µL, konsentrasi 0,00375 µg/µL, konsentrasi 0,0025 µg/µL, konsentrasi 0,0016 µg/µL, konsentrasi 0,00125 µg/µL, konsentrasi 0,000625 µg/µL dan konsentrasi 0,0003125 µg/µL.

HASIL

Uji kualitas hasil ekstraksi DNA dari darah kering pada kayu (Gambar 1) DNA dari semua sampel berhasil diekstraksi. Keseluruhan sampel terlihat memiliki perpendaran pita DNA yang berbeda, seperti sampel KW1 sampai KW4 serta SWW sampai SWP terlihat lebih tipis dibandingkan sampel KP1 sampai KR4. Kualitas DNA hasil ekstraksi dari darah kering pada besi dan kayu dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hasil ekstraksi dengan pita-pita DNA yang tipis dari sampel KW1, KW2, KW3, KW4, KP1, KP2, KP3, KP4, KR1, KR2, KR3, KR4, PW1, PW2, PW3, PW4, SWW, SWP dan SWR seperti yang ditunjukkan pada lajur sampel tersebut.

Gambar 1!" #$%&'(%)" *%)'&" +,)(-%,)'" ./0" 1%-'" 1%-%*" ,+-'23" 4%1%" ,%5$" 5%23" disimpan selama 1, 2, 3 dan 4 bulan dan darah segar.

Keterangan gambar : menunjukkan tidak semua sampel memiliki pendaran pita DNA yang sama. Hal ini ditunjukkan pada lajur terlihat (Gambar 2). Pada Gambar 2 dapat dilihat dari 12 sumuran/ lajur pada gel menunjukkan adanya pendaran yang menandakan bahwa terdapat DNA hasil ekstraksi dari sampel darah kering pada besi dengan kuantitas yang berbeda. Sampel PP1 sampai PR4 terlihat lebih tipis dibandingkan sampel PW1, PW2, PW3 dan PW4 (Gambar 2).

Gambar 2!" #$%&'(%)" *%)'&" +,)(-%,)'" ./0" 1%-'" 1%-%*" ,+-'23" 4%1%" A+)'" 5%23"

(6)

23

Kualitas dan Kuantitas DNA Darah Kering pada Besi dan Kayu yang Disimpan dalam Kurun Waktu Berbeda [Ni Putu Puniari Eka Putri, I Ketut Junitha]

Keterangan gambar :

PW1, PW2, PW3 dan PW4 : Lajur sampel darah kering probandus satu.

PP1, PP2, PP3 dan PP4 : Lajur sampel darah kering probandus dua.

PR1, PR2, PR3 dan PR4 : Lajur sampel darah kering probandus tiga.

Uji Kuantitas DNA Hasil Ekstraksi

Dalam uji kuantitas DNA tidak semua sampel darah kering (sebanyak 27 sampel) digunakan, karena banyak sampel yang memiliki pendaran pita DNA yang rendah. Sehingga, pada uji kuantitas DNA hasil ekstraksi hanya beberapa sampel yang digunakan, seperti sampel SWP yang menampakkan pendaran paling terang dan tebal dan menunjukkan bahwa sampel ini memiliki kuantitas yang paling tinggi dibandingkan dengan Lambda DNA dengan konsentrasi 0,005 µg/µL daripada sampel lainnya. Sampel lainnya berturut-turut dari yang paling tebal hingga tipis adalah SWR, PW1, KW2, KP3, PW4,

selama 1 dan 4 bulan.

#69"1%2"#6;"<"=%>$-")%?4+&"1%-%*",+-'23"4-@A%21$)")%($"4%1%",%5$"5%23"1')'?4%2"

selama 2 dan 4 bulan.

#B:"<"=%>$-")%?4+&"1%-%*",+-'23"4-@A%21$)"1$%"4%1%",%5$"5%23"1')'?4%2")+&%?%":"

bulan.

#C7"1%2"#C:"<"=%>$-")%?4+&"1%-%*",+-'23"4-@A%21$)"D3%"4%1%",%5$"5%23"1')'?4%2"

selama 1 dan 3 bulan.

E6B"<"=%>$-")%?4+&"1%-%*")+3%-"4-@A%21$)"1$%! E6C"<"=%>$-")%?4+&"1%-%*")+3%-"4-@A%21$)"D3%

PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini DNA dari sampel darah segar maupun darah kering memberikan gambaran pita DNA yang bersih. Hal ini menunjukkan hasil ekstraksi DNA tersebut relatif baik (murni/ tanpa adanya kontaminan RNA maupun protein). Hasil estraksi DNA yang masih mengandung protein atau RNA memberikan gambaran

smear pada elektrogramnya (Syafaruddin dan Santoso, 2011). Menurut Noer dan Gustiananda (1997), pita DNA yang smear dapat disebabkan oleh terdegradasinya sampel DNA. Konsentrasi DNA yang rendah akan menyebabkan terbentuknya pita DNA yang tipis untuk dapat dideteksi pada gel agarosa (Innis and Gelfand, 1990).

Tingkat kuantitas hasil ekstraksi DNA ditunjukkan oleh tebal tipisnya DNA yang berpendar dibandingkan dengan pendaran pengenceran Lambda DNA, sedangkan kualitas

ekstraksi DNA dilihat dari ketajaman dan kebersihan pita yang berpendar. Dalam penelitian ini ditemukan adanya perbedaan kuantitas DNA hasil ekstraksi antara darah kering pada besi dan kayu dalam kurun waktu yang sama. Sampel darah kering pada besi (Gambar 2) menunjukkan lajur PW1 sampai PR4 lebih tipis pendaran pita DNAnya daripada sampel darah kering pada kayu yaitu KW1 sampai KR4 (Gambar 1). Besi dan kayu yang mengalami korosi dan lapuk oleh karena beberapa faktor lingkungan seperti temperatur, kelembaban, udara dan sinar dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi mikroorganisme (jamur dan bakteri) (Hanan et al., 1978). Konsentrasi DNA hasil ekstraksi dapat dipengaruhi oleh kondisi sampel darah kering, seperti sedikitnya jumlah sel pada sampel dan terbawanya karat pada besi saat melakukan kerok dengan menggunakan skalpel steril hingga karat pada besi tersebut ikut tercampur dengan reagen reaksi yang dapat mengganggu proses ekstraksi (Junitha. Kom. Pri, 2014). Hal ini didukung oleh Peccia dan Hernandez (2006), bahwa pemurnian DNA merupakan proses untuk memisahkan DNA dari lisat sel (protein, karbohidrat, lipid) dan kontaminan lainnya seperti materi ikutan lain yang mengakibatkan

smear.

Secara umum darah kering memberikan hasil ekstraksi DNA yang lebih sedikit dibandingkan darah segar pada volume darah yang sama. Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh lama waktu penyimpanan yang menyebabkan kerusakan sel-sel darah termasuk DNA akibat terdegradasi secara alami atau oleh mikroorganisme (jamur dan bakteri) (Liu et al., 2007). Kerusakan sel darah yang menyebabkan kuantitas DNA menurun dapat disebabkan oleh adanya mikroorganisme seperti jamur yang memanfaatkan darah sebagai sumber nutrisinya (Reynolds, 2005). Mikroorganisme mempunyai pertumbuhan yang sangat baik pada kondisi lembab dan panas. Pulau Bali yang merupakan bagian dari Negara Indonesia yang beriklim tropis memiliki suhu udara yang lembab (Stamets and Chilton, 1983), sehingga mendukung pertumbuhan mikroorganisme seperti jamur dengan baik dan cepat (Chang, 1993) dan jamur tersebut berperan sebagai agen dekomposisi utama dibandingkan dengan kawasan yang beriklim subtropis.

(7)

JURNAL BIOLOGI VOLUME 19 NO.1 JUNI 2015

SIMPULAN

DNA dari darah kering pada besi dan kayu yang disimpan dalam kurun waktu empat bulan masih dapat diekstraksi, namun terjadi penurunan kuantitas DNA sejalan dengan lama waktu penyimpanan darah.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kami sampaikan kepada Kepala Laboratorium UPT Forensik dan Biosains Universitas Udayana dan seluruh probandus yang sudah dengan sukarela bersedia diambil sampel darahnya serta semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.

KEPUSTAKAAN

Anderson, S., Bankier, A. T., Barrel, B. G., De Bruijin, M. M. L., Coulson, A. R., Drouin, J., Eperon, I. C., Nierlich, D. P., Roe, B. A., Sanger, F., Schreicer, P. H., Smith, A. J. H., Staden, R., and Young, I. G. 1981. Sequence and Organization of

The Human Mitochondrial Genome. Nature. 290: 457-465.

Chang, S. T. 1993. Mushroom Biology: The Impact on Mushroom

Production and Mushroom Products. p. 3-20. The Chinese University Press: Hongkong.

Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran.

Hubungan-nya dengan Toksikologi SeHubungan-nyawa Logam. Penerbit

Universi-/$.(L%,2%*.-$(AML(H0*..&5(@#+5(NOPQNNN5

Davis, Leonard G., W.M. Kuehl, J.F. Battey. 1993. Basic Methods

in Molecular Biology. Second Edition. Appelton & Lange. Norwalk, Connecticut, USA.

Departemen Forensik dan Medikolegal FKUI/RSCM. 2013.

Ran-cangan Modul Forensik Molekuler, Jakarta.

Eckert, W. G. 1980. Introduction to Forensic Sciences. St. Louis:

The CV Mosby Co.

Fessenden. 1986. Forensik. Erlangga, Jakarta.

Innis, M. A., and D. H. Gelfand. 1990. PCR Protocol A Guide to

Methods and Applications. Academic Press Inc, New York.

Laupa, J. 2013. Sains Forensik Pastikan Penjenasah Tidak

Terlepas. Utusan Melayu, Jakarta.

Liu, Q. P., G. Sulzenbacher, H. Yuan, E. P. Bennett, G. Pietz, K. Saunders, J. Spence, E. Nudelman, S. B. Levery, T. White, J. M. Neveu, W. S. Lane, Y. Bourne, M. L. Olsson, B. Henrissat and H. Clausen. 2007. Bacterial Glycosidases for The

Produc-tion of Universal Red Blood Cells. Nat. Biotech. 25: 454-464.

Noer, A. S., and M. Gustiananda. 1997. PCR Tanpa Isolasi DNA

Dari Sel Epitel Rongga Mulut. JMS Journal. Vol. 2. No. 1.

Hal. 35-45. ITB Press, Bandung.

Peccia, J., and M. Hernandez. 2006. Incorporating Polymerase

R@$-%(S*$>/-2%TF$.*,(L%,*%/-4>$/-2%(H27"#$/-2%(R@$0$>/*0

--U$/-2%($%,(V"$%/-4>$/-2%(23(W->02201$%-.+.(L%/2(<*02.2#X(<(

Review. Atmospheric Environment. 40: 3941-3961.

Reynolds, J. 2005. !"#$%&'()%&*$+*,+-.$/&0 New York.

Rianta, P. 2001. Mengenal Metode Elektroforesis. Oseana. vol.

XXVI.

Sambrook, J. and D. W. Russell. 2001. Molecular Cloning a

Labo-ratory Manual 3rd Edition. Cold Spring Harbor Laboratory

Press, New York.

Stamets, P. and J. Chilton. 1983. The Mushroom Cultivator.

Agrikon Press, Washington.

Syafaruddin dan T.J. Santoso. 2011. Optimasi Teknik Isolasi dan

H"0-4)$.-(:;<(8$%1(Y4.-*%(,$%(Y3*)/-3(H$,$(G*+-0-(K"%$%(

Gambar

Gambar 2����������������������������������������������������������������disimpan selama 1, 2, 3 dan 4 bulan.
Gambar 3�����������������������������������������������

Referensi

Dokumen terkait

Ukuran fragmen DNA 300 bp, 400 bp dan 500 bp diiris dari gel agarosa dan disimpan dalam tabung untuk digunakan pada tahapan selanjutnya yaitu ekstraksi gel jika

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perasan kering kulit nanas terhadap perpanjangan waktu perdarahan dan pembekuan darah pada tikus putih jantan,

Hasil pengamatan kandungan bahan kering daun eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang difermentasi dengan EM-4 dalam waktu yang berbeda selama penelitian dapat dilihat

Ukuran fragmen DNA 300 bp, 400 bp dan 500 bp diiris dari gel agarosa dan disimpan dalam tabung untuk digunakan pada tahapan selanjutnya yaitu ekstraksi gel jika

Hasil Penelitian Hasil penelitian pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi DNA yang berasal dari sampel buffy coat, whole blood, dan buccal swab..

Penelitian ini mengevaluasi perbedaan waktu dan durasi efek obat tergantung pada rute pemberian dan perolehan sampel darah dari mencit melalui metode