• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea) HATCHERY TECHNIQUE AT THE BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea) HATCHERY TECHNIQUE AT THE BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

THE BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea) HATCHERY TECHNIQUE AT THE BALAI

BESAR PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN HIAS BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea) DI BALAI BESAR

PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

Diah Ayu Puspitarini

1

, Sapto Andriyono

2 1

Undergraduate Student of Industrial Technology of Fisheries, Faculty of Fisheries and Marine,

Universitas Airlangga, Kampus C UNAIR Jl. Mulyorejo, Surabaya 60115

2

Department of Marine, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Airlangga, Kampus C UNAIR Jl.

Mulyorejo, Surabaya 60115

Abstract

Blue devil (Chrysiptera cyanea) is a group of marine ornamental fish (damsel fish groups) which have

a bright blue color, slim and very agile. The fish is marine ornamental fish are economically important.

Because of this, these fish hatchery activities is done. Field Work Activities of the fish hatchery is

done with descriptive method. The writer have done and observe any measures regarding ornamental

fish hatchery techniques blue devil (Chrysiptera cyanea) at the Balai Besar Perikanan Budidaya Laut

Lampung on 12

nd

January to 12

nd

February 2015. The result from this field practice can be know that

fish hatchery blue devil (Chrysiptera cyanea) at the Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung

carried out in the laboratory of ornamental fish is used as many as 110 broodstock which has 7.5 cm

long for males and 5.3 cm long for females. Naturally spawning was conducted. Larvae was feed

given in the form of natural feed that was adapted to the mouth opening. Water quality is the most

crucial affected to the blue devil fish larvae survival rate. Blue devil fish have FR and HR values

reached 100%, but on survival rate is 0% due to the high ammonia content at the 18 day larvae

rearing.

Keywords : Hatchery, Ornamental fish blue devil, Survival Rate

Abstrak

Blue devil (Chrysiptera cyanea) merupakan ikan hias laut dari kelompok damsel fish yang

memiliki warna biru cerah, berbadan ramping dan sangat gesit. Ikan tersebut merupakan ikan

hias air laut yang ekonomis penting. Karena hal tersebut, kegiatan pembenihan ikan ini mujlai

dilakukan. Kegiatan PKL tentang pembenihan ini dilakukan dengan metode deskriptif. Dalam hal

ini telah dilakukan dan diamati segala bentuk kegiatan mengenai teknik pembenihan ikan hias blue

devil (Chrysiptera cyanea) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung pada tanggal 12 Januari

- 12 Februari 2015. Dari hasil Praktek Kerja Lapang yang telah dilakukan, diketahui bahwa

pembenihan ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut

Lampung dilakukan dalam laboratorium ikan hias dengan jumlah indukan 110 ekor yang mempunyai

panjang rata-rata 7,5 cm untuk jantan dan 5,3 cm untuk betina. Pemijahan dilakukan secara alami.

Pakan yang diberikan pada larva berupa pakan alami yang disesuaikan dengan bukaan mulut.

Kualitas air berpengaruh terhadap nilai SR dari larva ikan blue devil. Ikan blue devil mempunyai nilai

FR dan HR mencapai 100% dengan nilai SR sampai 0% akibat kandungan amoniak yang tinggi

setelah 18 hari pemeliharaan larva.

Kata kunci: Pembenihan, Ikan hias blue devil, Survival Rate

PENDAHULUAN

Perkembangan bisnis produk perikanan

non-konsumsi termasuk komoditas ikan hias di

Indonesia mengalami perkembangan yang

cukup pesat dan memiliki prospek yang

menjanjikan secara ekonomi. Sejak tahun

2011 nilai perdagangan ikan non-konsumsi

melebihi target yang telah ditetapkan yaitu

mencapai Rp 565 miliar dari target sebesar Rp

350 miliar. (Kementerian Kelautan dan

Perikanan, 2013). Potensi ikan hias air laut

perlu

di

gali

secara

optimal

untuk

meningkatkan volume dan nilai ekspor ikan

hias Indonesia. Berdasarkan data statistik

perikanan budidaya, volume produksi ikan hias

selama

periode

2010-2013

mengalami

(2)

peningkatan rata-rata sebesar 18,9% pertahun

yaitu 605 juta ekor pada tahun 2010 dan

mencapai 1,137 milyar ekor pada tahun 2013

(Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014).

Ikan

hias

merupakan

salah

satu

komoditas perikanan yang menjadi komoditas

perdagangan yang potensial di dalam maupun

di luar negeri. Ikan hias dapat dijadikan

sebagai sumber pendapatan devisa bagi

negara. Ikan hias memiliki daya tarik tersendiri

untuk menarik minat para pecinta ikan hias

(hobiis) dan juga kini banyak para pengusaha

ikan konsumsi yang beralih pada usaha ikan

hias. Kelebihan dari usaha ikan hias adalah

dapat diusahakan dalam skala besar maupun

kecil ataupun skala rumah tangga, selain itu

perputaran modal pada usaha ini relatif cepat

(Sihombing, 2013).

Blue devil (Chrysiptera cyanea) yang

juga dikenal sebagai damsel fish blue

merupakan ikan hias air laut yang sangat

digemari oleh masyarakat karena warnanya

begitu cantik, agresif dan termasuk ikan

rakus serta tahan terhadap perubahan

lingkungan dan harganya relative terjangkau

sehingga ikan ini biasanya dijadikan sebagai

ikan pemula dalam pemeliharaan diaquarium

air laut bahkan, ikan ini merupakan ikan hias

yang terlaris di Amerika Serikat (Gani, 2012).

METODOLOGI

Praktek

Kerja

Lapang

ini

telah

dilaksanakan di Balai Besar Perikanan

Budidaya Laut (BBPBL) Lampung pada

tanggal 12 Januari-12 Februari 2015. Metode

yang digunakan dalam kegiatan Praktek Kerja

Lapang ini adalah metode deskriptif. Dalam

hal ini telah dilakukan dan diamati segala

bentuk kegiatan mengenai teknik pembenihan

ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) di

Balai

Besar

Perikanan

Budidaya

Laut

Lampung sehingga diperoleh data diantaranya

data sarana prasarana, data kualitas air

(pengukuran pH, suhu dan salintas), data

induk (jenis, ukuran dan jumlah induk), data

pakan (jenis dan frekuensi pakan), serta data

telur (jumlah telur fertile, Fertilization Rate,

nilai Hatching Rate, Survival Rate dan

Mortalitas).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi PKL

Balai

Budidaya

Laut

ditetapkan

berdasarkan KEPRES RI No. 23 Tahun 1982

yang pelaksanaannya tertuang dalam Surat

Keputusan

Menteri

Pertanian

Nomor

437/Kpts/Um/7/1982 tanggal 8 Juli 1982 yang

menyebutkan

tentang

penetapan

lokasi

budidaya, teknik budidaya dan izin usaha.

Keberadaan Balai Budidaya Laut ditetapkan

secara resmi berdasarkan Surat Keputusan

Menteri

Pertanian

Nomor

347/Kpts/OT.210/8/1986 tanggal 5 Agustus

1986, Surat Keputusan Menteri Pertanian

Nomor 347/Kpts/OT.210/5/1994 tanggal 6 Mei

1994 dan disempurnakan dengan Surat

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan

Nomor KEP.26F/MEN/2001.

Pada

tahun

2014

berdasarkan

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

Nomor

6/PERMEN-KP/2014

tanggal

3

Februari 2014 berubah menjadi Balai Besar

Perikanan

Budidaya

Laut.

Balai

Besar

Perikanan

Budidaya

Laut

Lampung

mempunyai tugas melaksanakan uji terap

teknik dan kerjasama, pengelolaan produksi,

pengujian laboratorium, mutu pakan, residu,

kesehatan

ikan

dan

lingkungan,

serta

bimbingan teknis perikanan budidaya laut.

Fasilitas Pembenihan Ikan Hias Blue devil

Pembenihan blue devil merupakan

salah

satu

kegiatan

pembenihan

yang

dilakukan di BBPBL Lampung sejak tahun

2011.

Kegiatan

pembenihan

meliputi

pemeliharaan induk, pemijahan, penanganan

telur, pemeliharaan larva, pengelolaan kualitas

air, pencegahan hama dan penyakit, dan

pemeliharaan benih dan panen. Teknik yang

digunakan dalam pembenihan blue devil

adalah

pemijahan

alami

dengan

memanipulasi lingkungan (BBPBL Lampung,

2013).

Gambar 1. Chrysiptera cyanea a.betina;

b.jantan

Sarana dan prasarana pembenihan ikan

hias blue devil (Chrysiptera cyanea) yang

dibutuhkan

untuk

menunjang

dan

mempermudah kegiatan sehingga tujuan

pembenihan

dapat

tercapai

diantaranya

laboratorium ikan hias, wadah pemeliharaan,

dan bak pakan alami.

Laboratorium ikan hias merupakan

tempat diadakannya pembenihan ikan hias

(3)

blue devil. Fasilitas ini digunakan untuk

menunjang

kegiatan

pembenihan.

Laboratorium ikan hias terletak diantara

Laboratorium

kuda

laut

dan

bangsal

pendederan.

Wadah pemeliharaan meliputi bak

pemelliharaan induk, bak pemeliharaan larva

dan

bak

pemeliharaan

benih.

Bak

pemeliharaan induk berupa bak fiber persegi

volume 500 liter yang dilengkapi dengan pipa

inlet dan outlet dan satu buah aerator serta

beberapa paralon dan cangkang mutiara yang

berfungsi

sebagai

substrat

tempat

menempelnya telur. Bak pemeliharaan induk

juga digunakan sebagai bak pemijahan. Bak

penampung larva yang terbuat dari bak ember

dengan volume 20 liter yang pada bagian

atasnya dilubangi sehingga air yang mengalir

dapat terbuang. Bak pemeliharaan larva

berupa bak fiber silinder dengan volume 500

liter yang dilengkapi dengan pipa outlet dan

inlet,

aerator

dan

termometer.

Bak

pemeliharan benih berupa akuarium kaca

dengan volume 100 liter dan bak beton ukuran

1000 liter yang dilengkapi dengan aerator dan

pipa outlet dan inlet untuk mengurangi dan

menambah

pasokan

air

pada

bak

pemeliharaan benih serta pipa paralon yang

digunakan sebagai tempat persembunyian

benih.

Bak pakan alami terdiri dari bak

fitoplankton dan bak zooplankton. Jenis

fitoplankton yang digunakan pada pembenihan

ikan

hias

blue

devil

ini

adalah

Nannochloropsis.

Nannochloropsis

yang

digunakan

berasal

dari

laboratorium

fitoplankton yang dialirkan ke laboratorium

ikan hias menggunakan pipa. Nannochloropsis

yang dialirkan ditampung pada bak volume 20

liter dilengkapi dengan aerator dan pipa inlet.

Zooplankton yang digunakan pada

pembenihan adalah Artemia dan Branchionus

plicatilis yang ditampung pada bak plastik

ukuran 20 liter. Pada kultur Artemia bak yang

digunakan sama dengan bak penampungan

Artemia dan bak penampungan Branchionus

plicatilis. Bak penampungan Artemia dan

Branchionus plicatilis dilengkapi dengan satu

aerator pada masing-masing bak, sedangkan

untuk bak bak kultur Artemia diberi empat

buah aerator, ini bertujuan untuk menghindari

kekurangan oksigen pada proses penetasan

Artemia.

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk blue devil pada

proses pembenihan di BBPBL Lampung

dilakukan

secara

massal.

Balai

Besar

Perikanan Budidaya Laut Lampung memiliki

induk Chrysiptera cyanea sebanyak 110 ekor

yang terdiri dari 16 ekor yang berasal dari

alam enam jantan dan 10 betina, dan 94 ekor

induk keturunan pertama 44 jantan dan 50

betina yang memiliki panjang rata-rata 7,5 cm

untuk induk jantan dan rata-rata 5,3 cm untuk

induk betina. Induk-induk blue devil di pelihara

dalam bak fiber volume 500 liter.

Gani (2012) menyatakan bahwa ciri-ciri

induk ikan blue devil yang baik yaitu ukuran

tubuh induk jantan yang lebih besar dari induk

betina yaitu berukuran 6-7 cm dan dibagian

ekor terdapat warna kuning yang menambah

keindahan ikan blue devil. Induk betina

berukuran lebih kecil dari pada induk jantan

yaitu berkisar 4,5-5,5 cm dan terdapat bercak

putih pada sirip.

Induk yang digunakan dalam budidaya

ikan blue devil di BBPBL Lampung dapat

berasal dari hasil tangkapan di alam. Kriteria

dalam pemilihan calon induk yang akan

digunakan dalam pemijahan hampir sama

dengan jenis ikan-ikan lainnya yaitu sehat,

tidak cacat, gesit, mempunyai warna yang

cerah serta siap memijah. Induk blue devil

yang siap memijah berumur 8-9 bulan, untuk

jantan berukuran 7-8 cm dan betina 5-6 cm.

Pada blue devil induk jantan lebih besar

ukurannya dibandingkan dengan induk betina.

Suharno (2013) mengatakan bahwa induk

betina yang akan memijah mempunyai ciri-ciri

perut buncit dan genital papilanya menonjol,

sedangkan induk yang jantan agresif bergerak

mengejar induk betina.

Pakan yang diberikan untuk induk

Chrysiptera cyanea adalah pakan pellet

sedangkan pakan hidup/beku yang diberikan

yakni cacing darah dan jentik nyamuk. Pakan

beku diberikan setelah selang satu jam

pemberian pakan pellet. Pellet yang biasa

diberikan

pada

induk

ikan

blue

devil

(Chrysiptera cyanea) adalah pellet dengan

merk dagang Love Larva 6 (LL6) yang tertera

pada kemasan pakan memiliki ukuran

1500-1700 µm. Frekuensi pemberian pakan (feeding

frequency) induk Chrysiptera cyanea yakni

dua kali dalam sehari. Pemberian pakan

pertama pada kisaran pukul 07.30 dan

pemberian pakan kedua pada kisaran pukul

14:00. Dipertegas Kusumawati dan Setiawati

(2010) bahwa pemberian pakan dilakukan

dengan frekuensi dua kali sehari secara

adlibitium.

Pemindahan larva

Telur-telur induk

blue

devil

yang

menetas setelah masa inkubasi selama empat

hari ditampung pada bak penampungan larva

yang telah dilengkapi dengan saringan yang

akan menyaring telur agar tidak terbawa oleh

air. Bak penampungan larva dipasang pada

(4)

sore hari karena telur blue devil menetas pada

malam hari, larva yang menetas terbawa air

yang terus mengalir kemudian keluar melalui

pipa outlet dan tersaring masuk pada bak

penampungan larva.

Larva

blue

devil

pada

bak

penampungan larva akan dipindahkan pada

bak pemeliharaan larva dengan cara sangat

berhati-hati karena larva blue devil sangat

sensitif dan mudah sekali mati. Larva beserta

bak penampungan larva dimasukkan pada bak

pemeliharan larva dan kemudian larva digiring

untuk keluar dari bak penampungan.

Tabel 1. Hasil Penghitugan Telur dan larva

pada kegiatan pembenihan

Pada saat praktikum lapang terdapat 6

cangkang mutiara yang ditempeli oleh telur

indukan blue devil dengan masa inkubasi yang

berbeda. Jumlah keseluruhan telur adalah

6768 butir dengan FR dan HR mencapai

100%. Menurut Suharno (2013) telur blue devil

dapat melakukan pemijahan dengan nilai FR

dan HR mencapai diatas 99%. Penghitungan

telur

dilakukan

dengan

membagi

satu

cangkang mutiara menjadi empat bagian

kemudian satu bagian dari empat bagian yang

dibagi dihitung secara manual. Didapat hasil

bahwa pada satu bagian tersebut terdapat

telur berjumlah 282 kemudian dikalikan empat

yang merupakan jumlah telur pada satu

cangkang yaitu sebanyak 1128 butir telur pada

satu cangkang.

Pemeliharaan Larva

Larva blue devil dipelihara pada bak

fiber dengan volume 500 liter dilengkapi

dengan saluran pemasukan dan pengeluaran

air menggunakan pipa paralon ukuran ½ inch

serta dilengkapi pula dengan dua buah titik

aerasi untuk mensuplai oksigen. Pada bak

pemeliharaan

larva

sebelum

dilakukan

pemindahan larva telah diberi pakan alami

berupa Nannochloropsis sebanyak dua liter

sebagai pakan bagi larva. Menurut Setiawati

dan Gunawan (2013) pada bak pemeliharan

larva dilengkapi dengan aerasi yang diatur

dengan ukuran sedang dan pemberian pakan

alami untuk larva D

0

berupa plankton dengan

kepadatan 1-3x10

5

sel/ml.

Pakan yang diberikan selama proses

pemeliharaan larva ialah pakan alami, yaitu

berupa

Nannochloropsis,

Rotifera

dan

Artemia. Nannochloropsis diberikan pada larva

D

1

dan tetap diberikan sampai panen

berdampingan dengan pemberian pakan alami

lainnya. Nannochloropsis selain berfungsi

sebagai pakan bagi larva maupun rotifera juga

berfungsi sebagai grend water system. Pada

D

4

Rotifera sudah mulai diberikan sebagai

pakan bersamaan dengan Nannochloropsis

dan pada larva D

18

Artemia mulai diberikan.

Pemberian pada larva diberikan sesuai

dengan ukuran bukaan mulut dari larva. Pada

pakan Artemia dilakukan pengkayaan pakan

dengan menambahkan probiotik pada Artemia

yang akan diberikan pada ikan.

Pakan yang diberikan pada larva cukup

bervariasi tergantung umur dan disesuaikan

dengan bukaan mulut. Larva yang berumur

satu hari diberikan pakan alami berupa

Chlorella sp. sebanyak 5-7% dari volume air

dalam bak dan rotifer dengan kepadatan 10

sel/ml sampai larva berumur 20 hari. Setelah

larva berumur 15 hari baru diberikan naupli

Artemia dengan kepadatan dua sampai lima

ekor per ml air dalam bak, tergantung

kepadatan larva dalam bak, khusus pakan

pellet (pakan buatan) diberikan pada larva

yang berumur satu hari sampai larva dipanen

dan ukurannya disesuaikan dengan bukaan

mulut larva (Gani, 2012).

Tabel 2. Pemberian Pakan Pada Larva Blue

devil

*) belum sempat diberikan pada larva Blue

devil

Pengelolaan Kualitas Air

Air merupakan sarana terpenting yang

menunjang kehidupan ikan hias di dalam

akuarium atau kolam. Kualitas air merupakan

salah satu faktor penting dalam pembenihan

ikan blue devil. Kualits air yang diukur selama

kegiatan adalah pH, DO, suhu, salinitas, nitrit

dan amoniak. Data pengukuran kualitas air

selama pembenihan ikan hias blue devil

menunjukkan bahwa seluruh parameter masih

dalam batas yang mampu ditoleransi untuk

kehidupan ikan, kecuali pada parameter nitrit

dan amoniak yang melebihi baku mutu untuk

kehidupan

ikan

laut.

Lesmana

(2002)

mengatakan bahwa sebagai media hidup ikan

hias, kualitas air yang baik memegang

peranan dalam upaya meningkatkan kualitas

warna ikan hias. Salah satu kriteria kualitas air

yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan

(5)

masing-masing jenis ikan. Ikan akan hidup

sehat dan berpenampilan prima dilingkungan

dengan kualitas air yang sesuai.

Thoyibah (2012) menyatakan bahwa

kualitas air merupakan salah satu faktor

pembatas baik langsung maupun tidak

langsung. Dalam usaha budi daya ikan,

kualitas air yang terkendali sangat baik dalam

mendukung kelangsungan hidup ikan dalam

meningkatkan pertumbuhannya.

Pada pengukuran yang dilakukan pada

media pemeliharaan bak induk maupun pada

bak pemeliharaan larva mendapatkan nilai pH

sebesar 7,98. Nilai DO yang terukur adalah

4,68 pada bak induk dan 4,34 pada bak

pemeliharaan larva. Nilai ini masih diatas baku

mutu

untuk

kehidupan

ikan

yang

mensyaratkan harus diatas nilai empat ppm.

Salinitas pada pada bak induk maupun pada

bak pemeliharaan larva masih dalam kisaran

30-34 ppt yaitu 32-33 ppt.

Nilai yang melebihi baku mutu adalah

nitrit dan amoniak. Pada bak-bak induk dan

pada bak pemeliharaan larva terukur 0,054

dan 0,231 ppm. Pada bak pemeliharaan larva

sangat tinggi jika dibandingkan baku mutu

yang mensyaratkan nilai nitrit dibawah nilai

0,05 ppm. Pada nilai amoniak, pada bak induk

maupun

dan

bak

pemeliharaan

larva

menunjukkan nilai yang cukup berbeda. Pada

bak induk nilai amoniak masih dibawah baku

mutu yaitu sebesar 0,07 ppm, sedangkan

pada bak pemeliharaan larva sangat tinggi

hingga mencapai nilai amoniak sebesar 1,056

ppm atau melampau batas baku mutu pada

nilai 0,3 ppm.Tingginya kandungan amonia

dalam bak pemeliharaan larva dikarenakan

adanya sisa-sisa metabolisme dan sisa pakan

dalam jumlah yang tinggi serta karena tidak

dilakukannya penyiponan untuk membuang

sisa-sisa

pakan

yang

ada

dan

tidak

dilakukannya

penyiponan

selama

pemeliharan. Pemberian pakan yang terlalu

banyak akan berpengaruh pada meningkatnya

kandungan amoniak, sehingga berbahaya bagi

komunitas akuarium (Kuncoro, 2004). Boyd

(1982) menyatakan bahwa amoniak dapat

bersifat racun apabila kensentrasinya antara

0,2-2,0 ppm.

Tabel 3. Hasil Penghitungan Nilai Survival

Rate dan Mortalitas larva ikan

Dari hasil penghitungan nilai SR dan

Mortalitas dari pembenihan ikan hias blue devil

(Tabel 3) didapat nilai SR 0% dan nilai

Mortalitasnya 100% dari awal pemindahan

sampai pada D

18

. Terjadi kematian total pada

D

18

hal ini dimungkinkan karena kandungan

amonia yang tinggi pada bak pemeliharaan

larva berdasarkan hasil uji kualitas air yang

telah

dilakukan.

Tingginya

kandungan

amoniak dalam kolam pemeliharaan larva ini

disebabkan

karena

tidak

dilakukannya

penyiponan selama proses pemeliharaan.

Pengelolaan kualitas air pada pemeliharaan

induk meliputi penyiponan dan pergantian air.

Menurut Subiyanto, dkk. (2015) mengatakan

bahwa penyiponan dilakukan bertujuan untuk

membersihkan

sisa-sisa

kotoran

yang

mengendap di dasar bak sehingga kebersihan

bak tetap terjaga.

Pencegahan Hama dan Penyakit

Pencegahan hama dan penyakit pada

proses pembenihan ikan hias blue devil di

Balai

Besar

Perikanan

Budidaya

Laut

Lampung

adalah

diantaranya

dengan

melakukan pencucian semua peralatan yang

akan digunakan maupun telah digunakan

menggunakan air tawar. Pemberian antibiotik

dengan dosis 0,25 ml/liter air atau tergantung

pada kepadatan ikan sebagai anti bakterial,

juga dilakukan sebagai upaya pencegahan

penyakit

menyerang

biota

yang

dibudidayakan. Penyiponan dilakukan setiap

hari untuk menghilangkan sisa-sisa pakan

yang dapat menimbulkan penyakit non

infeksius pada ikan karena menurunnya

kualitas

air

pada

media

pemeliharaan.

Penyakit non infeksius juga dapat disebabkan

oleh faktor genetis dan malnutrisi. Faktor

lingkungan yang buruk seperti pH yang tidak

sesuai, kesadahan air yang terlalu tinggi atau

terlalu rendah dan kurangnya kandungan

oksigen terlarut, merupakan faktor utama yang

sering mengakibatkan timbulnya penyakit non

infeksius pada ikan hias (Sitanggang, 2001).

KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan Praktek Kerja

Lapangan yang telah dilaksanakan maka

dapat disimpulkan bahwa teknik pembenihan

ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) di

Balai

Besar

Perikanan

Budidaya

Laut

Lampung adalah tradisional atau alami yang

meliputi pemeliharaan induk dan pemeliharaan

larva. Jumlah indukan ikan hias blue devil

sebanyak 110 ekor dengan perbandingan

jantan dan betina 5:6. Pakan yang diberikan

pada larva berupa Nannochloropsis oculata,

Rotifera dan Artemia. Kualitas air yang diukur

selama proses pemeliharaan yaitu suhu

dengan kisaran 27-29

o

C, pH 8, salinitas 32-33

ppt, DO 4-5 ppm, nitrit 0,03-0,2 ppm dan

amoniak 0,07-1 ppm. Nilai FR dan HR

(6)

mencapai

100%,

begitu

pula

dengan

mortalitasnya yang mencapai 100% pada D

18

.

Saran yang dapat diberikan penulis

yaitu perlu adanya kajian lebih lanjut berkaitan

dengan rendahnya nilai kelulushidupan larva

ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea)

sehingga kematian yang sering terjadi pada

larva ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea)

dapat diminimalkan.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut.

2014.

Pangeran

Biru

Blue

Devil

(Chrysiptera

cyanea).

http://bbpbl.djpb.kkp.go.id.15/11/2014

.

Boyd, C.E. 1982. Water quality management

in aquaculture and fisheries science.

Elvesier. Scientific publishing company.

Amsterdam.

Gani, A. 2012. Teknologi Budidaya Ikan Hias

Laut (Chrysiptera cyanea). Balai Besar

Laut

Ambon.

http://abganfish.blogspot.com.15/11/2014

.

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2013.

KKP Mendorong Diversifikasi Ekspor Ikan

Hias

ke

Timur

Tengah.

http://www.p2hp.kkp.go.id. 8/12/2014.

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2014.

Perikanan Budidaya Tingkatkan Produksi

Ikan Hias Berkualitas Menuju Pasar

Bebas.http://

www.djpb.kkp.go.id

.

/8/12/2014

Kuncoro, E.B. 2014. Akuarium Laut. Kanisius.

Yogyakarta. 221 hal

Kusumawati, D dan K. M. Setiawati. 2010.

Profil Pemijahan dan Perkembangan

Morfologi Larva dan Yuwana Ikan Clown

Hitam (Amphiprion percula). Jurnal Riset

Akuakultur, 5 (1) : 59-67 hal.

Lesmana, D.S. 2002. Agar Ikan Hias

Cemerlang. Penebar Swadaya. Jakarta.

80 hal.

Setiawati, K. H dan Gunawan. 2013.

Pemeliharaan Larva Ikan Hias Balong

Padang (Premnas beaculeatus) Dengan

Pengkayaan Pakan Alami. Jurnal Ilmu

Teknologi Kelautan. 5(1). 47-53 hal.

Sihombing, F., N. W. Artini dan R. K. Dewi.

2013. Kontribusi Pendapatan Nelayan

Ikan Hias Terhadap Pendapatan Total

Rumah Tangga di Desa Serangan.

E-Jurnal

Agribisnis

dan

Agrowisata

Universitas Udayana. 2(4).13 hal.

Sitanggang, M. 2001. Mengatasi Penyakit dan

Hama Pada Ikan Hias. Agromedia

Pustaka. Jakarta. 52 hal.

Subiyanto. R., N. Ely, Hariyano dan L. Darto.

2015. Pemeliharaan Benih Ikan Hias

Mandarin

(Synchiropus

splendidus)

dengan Warna Wadah Yang Berbeda.

Balai Budidaya Laut Ambon. 6 hal.

Suharno, A. Gani dan A. S. 2013. Efektivitas

Pemijahan Ikan Blue Devil (Chrysiptera

cyanea) dengan jumlah pasangan jantan

betina yang berbeda. Balai Besar Laut

Ambon.

http://abganfish.blogspot.com.

20/2/2015

Thoyibah Z. 2012. Pertumbuhan dan

Kelangsungan Hidup Ikan Betok (Anabas

testudineus)

yang

Dipelihara

pada

Salinitas Berbeda. Jurnal Ikan Betok 9 (2).

1-8 hal.

Gambar

Gambar 1. Chrysiptera cyanea a.betina;
Tabel  1.  Hasil  Penghitugan  Telur  dan  larva  pada kegiatan pembenihan
Tabel  3.  Hasil  Penghitungan  Nilai  Survival  Rate dan Mortalitas larva ikan

Referensi

Dokumen terkait

“Pembenihan dan Pembesaran Ikan Patin Siam Pangasianodon hypophthalmus di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi” adalah karya saya dengan arahan

Kegiatan pembenihan ikan kakap putih terdiri dari pemeliharan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemanenan telur, kultur pakan alami, pemeliharaan dan

Teknik pembenihan ikan lele masamo dengan metode clear water system di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang dimulai dari penyediaan induk

Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan kegiatan Praktek Kerja Lapang mengenai Teknik Pembesaran Abalon (Haliotis squamata) dengan Metode Keramba Jaring Apung di Balai

Pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dalam bentuk pengujian sampel uji baik kualitas air maupun identifikasi hama dan

Pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dalam bentuk pengujian sampel uji baik kualitas air maupun identifikasi hama dan

Pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dalam bentuk pengujian sampel uji baik kualitas air maupun identifikasi hama dan

Pelayanan laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon dalam bentuk pengujian sampel uji baik kualitas air maupun identifikasi hama dan