2
KEKUASAAN DI ATAS LOGIKA UANG
Oleh
Ida Bagus Gde Pujaastawa
“Hari gini tidak korupsi, apa kata dunia?” Barangkali itulah slogan yang tepat bagi
para koruptor, mengingat kian maraknya fenomena korupsi di negeri ini. Berbagai kasus korupsi dan tindakan lainnya yang merugikan keuangan negara yang dilakukan oleh aparatus negara dikhawatirkan akan menggeser kultur demokrasi ke arah kultur kekuasaan kleptokrasi yang dilandasi oleh logika uang. Fenomena ini kiranya menarik untuk difahami sebelum korupsi benar-benar menjadi bencana nasional.
Hedonisme Penguasa dan Pengusaha
Umumnya motif korupsi di kalangan elite bukanlah sekadar untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup, melainkan untuk memenuhi hasrat keinginan yang tiada batas. Akibatnya, jabatan dan kekuasaan yang identik dengan tugas dan tanggungjawab untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat justru menjadi arena penyemaian gaya hidup hedonis. Bagi kaum hedonis, mengejar kedudukan atau jabatan bukanlah terdorong oleh amanat penderitaan rakyat, melainkan untuk melampiaskan hasrat kekuasaan, karena di dalamnya mereka memperoleh kenikmatan sebagai kelas penguasa yang memiliki kewenangan memerintah atau mengatur kelas yang dikuasai. Melalui kekuasaan mereka dapat melakukan praktik abuseofpower, yakni tindakan-tindakan untuk mempertahankan kekuasaan dengan menggunakan instrumen kekuasaan termasuk membangun kolaborasi dengan elite pengusaha (korporat) sebagai sponsor politik.
Dari sejumlah kasus korupsi yang melibatkan para elite kekuasaan di negeri ini terindikasi bahwa para elite penguasa sejatinya juga adalah pengusaha yang memanfaatkan kekuasaan untuk memaksimalisasi laba. Logika kekuasaan bukan lagi logika pengabdian, melainkan logika dalam lembaran mata uang. Berkembangnya logika uang tak terlepas dari pengaruh ideologi kapitalisme global yang mengusung semangat mengejar keuntungan tiada batas. Semangat ini tidak hanya dianut oleh kalangan korporat, tapi juga telah menyusup pada kalangan birokrat. Bagi mereka, nikmatnya tahta belum terasa sempurna tanpa dukungan harta yang melimpah. Kesempatan sebagai penguasa sekaligus juga dimanfaatkan sebagai pengusaha untuk mencari kekayaan melalui sejumlah perusahaan yang dibangun dan dijalankan dengan relasi primordial.
Jika di kalangan elite penguasa terdapat hasrat berusaha, maka di kalangan elite pengusaha pun terdapat hasrat berkuasa. Bagi mereka, kenikmatan hidup bergelimang harta belumlah lengkap sebelum merasakan nikmatnya tahta. Dengan dukungan dana yang berlimpah, kekuasaan dapat ”dibeli” dengan mudah. Kekuasaan baik di bidang politik maupun ekonomi telah menjadi bagian dari gaya hidup hedonis kelompok elite yang diraih dengan segala cara. Akibatnya, para pemimpin negeri bukanlah orang-orang yang memiliki jiwa kenegarawanan, melainkan kelompok oligarki ”pengusaha yang berkusa” dan
”penguasa yang berusaha”.
Logika Uang dan Integritas
3 mencapai posisi strategis jika tidak didukung modal finansial yang kuat. Sebaliknya, mereka yang culas dengan integritas moral yang rendah, namun didukung modal finansial yang kuat, memiliki peluang lebih besar untuk mencapai posisi strategis.
Berkembangnya logika uang membuat demokrasi bukanlah merupakan sistem politik tanpa cela. Jauh sebelumnya Socrates bahkan cenderung menolaknya, karena menurut filosof ini demokrasi memberi peluang bagi orang-orang yang secara kebetulan mendapat dukungan suara untuk memerintah. Socrates tentulah memahami dengan baik bahwa rakyat tidaklah selalu memberi dukungan kepada orang-orang yang dianggap paling mampu, tetapi lebih kepada orang-orang yang mereka sukai. Celakanya, orang-orang yang disukai dan dipilih oleh rakyat, bukanlah selalu orang-orang yang berkompeten untuk membela nasib mereka, melainkan orang-orang yang bersedia membayar suara mereka.
Ketidakpercayaan
Maraknya kasus korupsi yang melibatkan kalangan elite di negeri ini telah membuat masyarakat kian kurang percaya pada para pemimpinnya. Disadari atau tidak, dramaturgi korupsi yang gemar dimainkan oleh kalangan elite tidak saja mengajarkan kepada rakyat untuk selalu bersikap curiga atau tidak percaya terhadap kebijakan-kebijakan para pemimpinnya. Di satu sisi, sikap seperti ini memang perlu ditumbuhkan untuk mengontrol hegemoni kekuasaan, namun di sisi lain, dapat membuat masyarakat apatis karena menganggap di balik berbagai kebijakan yang mengatasnamakan pembangunan kerap terselip hasrat-hasrat pribadi penguasa. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila berbagai program pembangunan dengan jargon pemberdayaan masyarakat mengalami kegagalan karena rakyat tidak percaya bahwa program tersebut akan benar-benar memberdayakan mereka.