• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hak Pendidikan

2.1.a Hak

1. Pengertian HAM

Dalam pengertiannya Hak Asasi Manusia (HAM) menurut definisi para ahli ialah hak-hak yang sudah dipunyai oleh seseorang sejak ia masih dalam kandungan. Sedangkan pengertian HAM menurut perserikatan bangsa-bangsa (PBB) adalah hak yang melekat dengan kemanusiaan kita sendiri, yang mana tanpa hak itu kita mustahil hidup sebagai manusia. Hak Asasi Manusia umumnya dipahami sebagai hal yang mutlak dan sebagai hal-hak dasar yang seseorang secara inheren berhak karena dia adalah manusia. Oleh karena itu Hak Asasi Manusia tidak dapat dipisahkan dengan manusia dan Hak Asasi tidak dapat dilepas dengan kekuasaan atau dengan hal lainnya, karena bila hal itu sampai terjadi maka akan memberikan dampak kepada manusia yakni manusia akan kehilangan martabat sebenarnya yang menjadi inti dari nilai kemanusiaan.1

Hak asasi manusia dapat berlaku secara universal. terdapat juga beberapa dasar-dasar Hak Asasi Manusia (HAM) yang ada didalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat atau Declaration of Independence of USA serta yang tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti yang terdapat pada pasal 30 ayat 1, pasal 31 ayat 1, pasal 27 ayat 1, pasal

1Soetandyo Wignjosoebroto, hak asasi Manusia Konsep Dasar dan Perkembangan Pengertiannya dari Masa ke Masa, ELSAM, Jakarta, 2007, hlm. 1.

(2)

16 29 ayat 1, dan pasal 28 ayat 1. Serta perlu diketahui bahwa ada juga beberapa pembagian-pembagian Hak Asasi Manusia yang dimana akan memudahkan kita dalam mengetahui serta memahami Hak Asasi Manusia (HAM). Diantaranya ada hak asasi politik, hak asasi hukum, dan hak asasi pribadi. oleh sebab itu setiap hak asasi memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda-beda.2

Secara umum Hak adalah segala sesuatu yang berhak dimiliki oleh seseorang baik sejak ia dilahirkan didunia ini, maupun sampai ia meninggal. Dan didalam kamu besar bahasa indonesia hak itu meliputin kepunyaan, kekuasaan, kewenangan, dan kepemilikan dalam melakukan sesuatu atau menuntut sesuatu karena sudah ditentukan oleh sebuah peraturan perundang-undangan. Dan pada umumnya hak ini di dapatkan dari perjuangan yang telah lakukan oleh seseorang, maksudnya ialah perjuangannya dalam melakukan sebuah pertanggung jawaban atas kewajiban yang telah ia lakukan. Contohnya yaitu hak bebas dari perbudakan, hak mengusulkan pendapat, hak untuk mendapat pendidikan, hak untuk memilih agama, dan lain sebagainya. Selain itu menurut Satjipto Rahardjo sebagaimana dikutip oleh Marwan Mas, hak adalah kekuasaan yang diberikan oleh hukum kepada seseorang dengan tujuan untuk melindungi kepentingan seseorang tersebut.

2. Jenis-jenis HAM

2 Suryadi Radjab, Dasar-dasar Hak Asasi Manusia, PBHI, Jakarta, 2002, hlm. 7.

(3)

17 Macam Macam HAM (Hak Asasi Manusia) dan contohnya sebagai berikut:

1. Hak Asasi Pribadi (Personal Rights)

Hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan pribadi manusia.

Contoh hak-hak asasi pribadi adalah sebagai berikut:

a) Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat.

b) Hak untuk hidup, berperilaku, tumbuh dan berkembang.

c) Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian, dan berpindah- pindah tempat.

d) Hak untuk tidak dipaksa dan disiksa.

e) Hak kebebasan memilih aktif dalam organisasi atau perkumpulan.

f) Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini oleh masing-masing individu.

2. Hak Asasi Politik (Political Rights)

Hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan politik, hak untuk memilih dan dipilih, hak ikut dalam pemerintahan. Contoh hak asasi politik adalah sebagai berikut:

a) Hak untuk membuat dan mendirikan suatu partai politik dan organisasi politik lainnya.

b) Hak membuat dan mengajukan suatau usulan petisi.

c) Hak untuk memilih dan dipilih salam suatu pemilihan.

d) Hak diangkat dalam jabatan pemerintah.

(4)

18 e) Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan.

3. Hak Asasi Hukum (Legal Equality Rights)

Hak asasi yang memiliki kedudukan sama didepan hukum dan pemerintahan, yakni hak yang berkaitan dengan kehidupan hukum dan pemerintahan. Contoh hak-hak asasi hukum adalah sebagai berikut:

a) Hak dalam mendapatkan dan memiliki pembelaan hukum dalam peradilan.

b) Hak mendapatkan layanan dan perlindungan hukum.

c) Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

d) Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.

4. Hak Asasi Ekonomi (Property Rigths)

Hak yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian. Contoh hak-hak asasi ekonomi ini adalah sebagai berikut:

a) Hak kebebasan melakukan kegiatan transaksi jual beli.

b) Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak.

c) Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa dan utang piutang.

d) Hak kebebasan untuk memiliki sesuatu.

e) Hak untuk menikmati SDA.

f) Hak untuk memperoleh kehidupan yang layak.

g) Hak untuk meningkatkan kualitas hidup.

h) Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak.

5. Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights)

(5)

19 Hak untuk diperlakukan sama dalam tata cara pengadilan. Contoh hak-hak asasi peradilan adalah sebagai berikut:

a) Hak persamaan dan perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan penyelidikan dimuka umum.Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan.

b) Hak menolak digeledah tanpa surat adanya surat penggeledahan.

c) Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan.

d) Hak mendapatkan perlakuan adil dalam hukum.

e) Hak memperoleh kepastian hukum.

6. Hak Asasi Sosial Budaya (Social Culture Rights)

Hak yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. Contoh hak-hak asasi sosial budaya adalah sebagai berikut: 3

a) Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat.

b) Hak mendapatkan pengajaran.

c) Hak menentukan, memilih, dan mendapatkan pendidikan.

d) Hak untuk mengembangkan Hobi.

e) Hak untuk berkreasi.

f) Hak untuk memperoleh jaminan social.

g) Hak untuk berkomunikasi.

3. Ketentuan dan Pengaturan Tentang HAM

Pada dasarnya Hak Asasi Manusia (HAM) secara tegas diatur dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999, pada pasal 2 tentang asas- asas dasar yang menyatakan “Negara Republik Indonesia mengakui dan

3 Ibid.

(6)

20 menjunjung tinggi hak asasi manusia serta kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara dasar melekat dan tidak terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat kemanusiaan, kebahagiaan, kesejahteraan dan kecerdaan serta keadilan”.4

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 sampai sekarang telah berlaku tiga undang-undang dalam empat periode yakni sebagai berikut:

a. Periode 18 Austus 1945 – Desember 1949, berlaku Undang-ndang Dasar 1945.

b. Periode 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950, berlaku Konstitusi Republik Indonesia Serikat.

c. Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959, berlaku Undang-undang Dasar Sementara 1950.

d. Periode 5 Juli 1959 – Saat ini, berlaku kembali Undang-undang Dasar 1945.

Perlu diketahui juga bahwa Komnas HAM merupakan lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga Negara lainnya yang berfungsi untuk melaksanakan penelitian, penyuluhan, pengkajian, pemantauan dan mediasi hak asasi manusia.

Tujuan Komnas HAM antara lain : 5

4Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM.

5 Pasal 75 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999.

(7)

21 1. Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia di Indonesia seutuhnya serta kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.

2. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada pancasila, UUD 1945 dan piagam PBB serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Dalam peraturan perundang-undangan Republik Indonesia paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis yang memuat aturan tentang HAM. Pertama, dalam konstitusi (Undang-undang Dasar Negara).

Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP MPR). Ketiga, dalam Undang- undang. Keempat, dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan yakni keputusan presiden, peraturan pemerintah serta peraturan pelaksanaan lainnya. Terdapat pula kelebihan pengaturan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam konstitusi memberikan jaminan yang sangat kuat, karena perubahan dan atau penghapusan suatu pasal dalam konstitusi misalnya didalam ketatanegaraan Indonesia mengalami suatau proses yang sangat panjang dan berat antara lain melalui amandemen dan referendum. Sedangkan kelemahannya adalah karena yang diatur dalam konstitusi hanya memuat aturan yang masih umum seperti ketentuan tentang Hak Asasi Manusia dalam konstitusi Republik Indonesia yang masih bersifat umum.

Sementara itu apabila pengaturan Hak Asasi Manusia melalui TAP MPR, kelemahannya yakni tidak dapat memberikan sanksi hukum bagi

(8)

22 pelanggarnya. Sedangkan pengaturan Hak Asasi Manusia dalam bentuk Undang-undang kelemahannya pada kemungkinan sering mengalami perubahan. 6

Menurut Undang-undang No. 26 Tahun 2000 pada Pasal 1 tentang Pegadilan Hak Asasi Manusia, dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan Hak Asasi Manusia adalah sebagai berikut: 7

1. Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat adalah Pelanggaran Hak Asasi Manusia sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang ini.

2. Pengadilan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut sebagai Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat.

3. Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa kita wajib menghormati anugerah yang telah diberikan, menjunjuang tinggi serta mendapat perlindungan negara, pemerintah, hukum, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

4. Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan ada tidaknya suatu peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat guna

6 Ibid, Hal. 8.

7 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000.

(9)

23 ditindaklanjuti dengan penyidikan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini.

5. Setiap orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, baik sipil, polisi, maupun militer yang bertanggungjawab secara individual.8

Kemudian terdapat juga Pelanggaran Hak Asasi Manusia dimana Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) banyak yang sudah terjadi termasuk yang telah terjadi di Indonesia, dari sekian banyak macam pelanggaran HAM yang terjadi tidak sedikit juga yang belum tuntas secara hukum, hal itu tentu saja tak lepas dari kemauan dan itikad baik dari pemerintah untuk menyelesaikannya sebagai pemegang kekuasaan sekaligus pengendali keadilan bagi bangsa inikasus yang terjadi Banyak macam Pelanggaran HAM di Indonesia, dari sekian banyak kasus ham yang terjadi, tidak sedikit juga yang belum tuntas secara hukum, hal ini tentu saja tidak lepasdari pengawasan pemerintah dan kemauan serta itikad baik dari pemerintah untuk menyelesikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang telah terjadi tersebut, karena mereka sebagai pemegang kekuasaan sekaligus pengendali keadilan bagi bangsa ini.

Beberapa kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang bersifat berat sebagai berikut:

8 Ibid.

(10)

24 a. Penyiksaaan

b. Penghilangan orang secara paksa

c. Perbudakan atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis d. pembunuhan sewenang-wenang atau diluar putusan pengadilan e. pembunuhan masal (genosida: setiap perbuatan yang dilakukan

dengan maksud menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa).

Beberapa kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang bersifat biasa sebagai berikut: 9

a. Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya b. Pencemaran nama baik

c. Pemukulan d. Penganiayaan.

2.2 Pendidikan

2.2.a Pengertian Pendidikan

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian,

9 Ibid, Hlm. 9.

(11)

25 kecerdasan, akhlak mulia, spiritual keagamaan, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai usaha yang dijalankan seseorang atau suatu kelompok agar menjadi lebih dewasa dan mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.

Sebab itu pendidikan merupakan suatu kegiatan yang sifatnya universal dalam kehidupan manusia, karena dimanapun dan kapanpun di dunia terdapat pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha dari manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk membudayakan manusia. 10

Pengertian pendidikan menurut para ahli : 1. Ki Hajar Dewantara

Pendidikan adalah tuntunan didalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksdunya yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak ituagar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan serta kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

2. John Dewey

Pendidikan adalah suatu proses pembentukan berupa kecakapan- kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

3. Langeveld

Pendidikan merupakan setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak itu,

10 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(12)

26 atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usada sadar dan terencana untuk memberikan bimbingan atau pertolongan dalam mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak untuk mencapai tingkat kedewasaannya serta mencapai tujuan agar anak mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri.

2.2.b Jenis-jenis Pendidikan

Jenis-jenis Pendidikan yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut: 11 a. Pendidikan Formal

Pendidikan Formal adalah pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan formal juga terdiri dari pendidikan formal yang berstatus negeri dan pendidikan formal yang berstatus swasta. Pendidikan formal ini sudah terstruktur dengan baik, yang mengelolanya jelas, memiliki sistem yang jelas dan diakui sehingga setiap menyelesaikan satuan pendidikan anak didiknya bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Satuan pendidikan penyelenggara Pendidikan Formal ini adalah:12 1) Taman Kanak-kanak (TK)

2) Raudatul Athfal (RA) 3) Sekolah Dasar (SD) 4) Madrasah Ibtidaiyah (MI)

5) Sekolah Menengah Pertama (SMP) 6) Madrasah Tsanawiyah (MTs) 7) Sekolah Menengah Atas (SMA) 8) Madrasah Aliyah (MA)

9) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 10) Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

11 Wens Tanlain, Dasar- Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta, Gramedia, 1989, hlm. 20.

12 Ibid.

(13)

27 11) Perguruan tinggi

12) Akademi 13) Politeknik 14) Sekolah Tinggi 15) Institut

16) Universitas.

b. Pendidikan Nonformal

Pendidikan Nonformal merupakan jalur pendidikan yang dilakukan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui suatu proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar-standar nasional pendidikan. Pendidikan nonformal ini sering kita jumpai disekitar kita dan banyak yang telah mengikutinya, contohnya seorang yang sudah berusia remaja namun tidak punya ijazah SD kemudian ia ingin ijasah SD tersebut maka ia bisa mengikuti penyetaraan. 13

Sasaran dari pendidikan nonfornal ini hanya untuk warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah serta pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Fungsi dari pendidikan nonformal ialah mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Adapun jenis pendidikan formal yakni meliputi

13 Soelaman Joesoef, Konsep Dasar Pendidikan non formal. Jakarta: Bumi Aksara. 1992 hlm.

50.

(14)

28 pendidikan anak usia dini, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan kepemudaan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, serta pendidikan keaksaraan. Pendidikan kesetaraan meliputi pendidikan Paket A, Paket B, serta Paket C kemudian juga pendidikan lain yang ditunjukan sesuai aturan untuk mengembangkan kemampuan dari peserta didik.

Satuan pendidikan penyelenggara Pendidikan Nonformal ini adalah: 14 1) Lembaga kursus

2) Lembaga pelatihan 3) Kelompok belajar 4) Kelompok bermain 5) Taman penitipan anak

6) Pusat kegiatan belajar masyarakat 7) Majelistaklim

8) Sanggar

Kursus dan pelatihan diselenggarakan hanya untuk masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, kecakapan hidup, keterampilan, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, usaha mandiri, bekerja, serta yang mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

14 Ibid.

(15)

29 c. Pendidikan Informal

Pendidikan informal merupakan jalur pendidikan bagi keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil dari pendidikan informal telah diakui sama dengan pendidikan formal dan pendidikan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. 15

Satuan pendidikan penyelenggara Pendidikan Informal ini adalah: 16 1) Agama

2) Budi pekerti 3) Etika

4) Sopan santun 5) Moral

6) Sosialisasi 7) Keluarga 8) Lingkungan.

2.2.c Pengaturan Tentang Pendidikan

Tiap-tiap negara memiliki peraturan perundang-undangan sendiri. terdapat landasan yuridis pendidikan di Indonesia yang memiliki seperangkat peraturan perundang-undangan yang menjadi titik tolak sistem pendidikan di Indonesia, yang meliputi antara lain sebagai berikut:

1) Pembukaan UUD 1945

2) UUD 1945 sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Indonesia.

3) Pancasila sebagai Landasan Idiil Sistem Pendidikan Indonesia.

4) Ketetapan MPR sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Nasional

15 A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986, hlm. 61-62.

16 Ibid.

(16)

30 5) Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah sebagai Landasan Yuridis

Pendidikan Nasional

6) Keputusan Presiden sebagai Landasan Yuridis Pelaksanaan Pendidikan Nasional

7) Keputusan Menteri sebagai Landasan Yuridis Pelaksanaan Pendidikan Nasional

8) Instruksi Menteri sebagai Landasan yuridis Pelaksanaan Pendidikan Nasional

Undang-Undang dan Peraturan Pendidikan antara lain: 17 a. Undang-Undang Pendidikan

1) Pembukaan Undang-undang Dasar 1945:

Pada Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang menjadi landasan hukum pendidikan ada pada alinea keempat.

2) Pendidikan menurut Undang-Undang Dasar 1945:

Undang-undang Dasar 1945 merupakan hukum tertinggi di Indonesia. Pasal-pasal yang berkaitan dengan pendidikan yakni ada pada Bab XIII yaitu Pasal 31 dan Pasal 32. Pasal 31 ayat 1 berisi tentang hak setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan, sedangkan pasal Pasal 31 ayat 2-5 berisi tentang kewajiban negara dalam memberikan pendidikan. Pasal 32 berisi tentang kebudayaan. Kebudayaan dan pendidikan merupakan dua unsur yang saling mendukung satu sama lain. 18

17 Undang-Undang Dasar 1945.

18 Pasal 31 dan 32 Undang-Undang Dasar 1945.

(17)

31 3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang

Pendidikan Nasional: 19

Undang-undang ini memuat 59 Pasal yang mengatur tentang ketentuan umun dari undang-undang ini yakni kedudukan fungsi dan tujuan, hak-hak warga negara untuk memperoleh pendidikan, jenjang pendidikan, satuan jalur dan jenis pendidikan, tenaga kependidikan, peserta didik, kurikulum, sumber daya pendidikan, hari belajar dan libur sekolah, penilaian, bahasa pengantar, badan pertimbangan pendidikan nasional, pengelolaaan, pengawasan, peran serta dari masyarakat, ketentuan pidana, ketentuan lain-lain, serta ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.

4) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:

Undang-undang ini selain memuat pembaharuan visi dan misi pendidikan nasional, di dalamnya juga terdapat 77 Pasal yang mengatur tentang ketentuan umum terkait dunia pendidikan yakni dasar, fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional, hak dan kewajiban warga negara, prinsip penyelenggaraan pendidikan, peserta didik, orang tua dan masyarakat, jalur janjang dan jenis pendidikan, bahasa pengantar, kurikulum, standar nasional pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pendanaan pendidikan, pengelolaan

19 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional.

(18)

32 pendidikan, avaluasi akreditasi dan sertifikat, peran serta masyarakat dalam pendidikan, pendirian satuan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan oleh lembaga negara lain, ketentuan pidana, pengawasan, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.

5) Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen: 20 Undang-undang ini berisi 84 Pasal yang mengatur tentang ketentuan umum dalam undang-undang ini yakni kedudukan fungsi dan tujuan, seluruh peraturan tentang guru dan dosen dari kualifikasi akademik, prinsip profesionalitas, hak dan kewajiban sampai organisasi profesi dan kode etik, sanksi bagi guru dan dosen yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya atau yang telah diatur, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.

6) Undang-Undang No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan: 21

Undang-undang ini berisi 97 Pasal yang mengatur tentang ketentusn umum, lingkup, fungsi dan tujuan, standar proses, standar isi, standar pendidikan, standar kompetensi lulusan, standar pendidikan dan tenaga pendidikan, standar penilaian pendidikan, standar sarana prasarana, standar pembiayaan, badan standar nasional pendidikan, evaluasi, akreditasi, sertifikaasi, penjamin mutu, serta ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.

20 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

21 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

(19)

33 Menurut peraturan pemerintah maksud dari peraturan ini ialah

“Standar nasional pendidikan merupakan suatu kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

b. Peraturan Pendidikan

1) Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1990 Tentang Status Pendidikan Pancasila dalam Kurikulum Pendidikan Tinggi ditetapkan sebagai mata kuliah wajib untuk setiap program studi dan bersifat nasional.

2) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

3) Peraturan menteri No. 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan.

4) Peraturan Menteri No. 13 Tahun 2007 Tentang Kepala Sekolah.

5) Peraturan Menteri No. 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksana Peraturan Menteri No. 22 dan No. 23.

6) Peraturan Menteri No. 16 Tahun 2007 dan No. 32 Tahun 2008 Tentang Guru.

7) Peraturan Menteri No. 19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan.

8) Peraturan Menteri No. 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian.

9) Peraturan Menteri No. 24 Tahun 2007 dan Permen No. 33 Tahun 2008 Tentang Standar Sarana Prasarana.

10) Peraturan Menteri No. 3 Tahun 2003 Tentang Tunjangan Tenaga Kependidikan.

11) Keputusan Menteri No. 34/ U/03 Tentang Pengangkatan Guru Bantu.

12) Peraturan Menteri No. 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses.

13) Peraturan Menteri No. 47 Tahun 2008 Tentang Standar Isi.

14) Peraturan Menteri No. 24 Tahun 2008 Tentang TU.

15) Peraturan Menteri No. 25 Tahun 2008 Tentang Perpustakaan.

16) Peraturan Menteri No. 26 Tahun 2008 Tentang Laboraturium.

17) Peraturan Menteri No. 39 Tahun 2008 Tentang Kesiswaan.

Dalam batang tubuh Undang-ndang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Pada

(20)

34 kenyataannya masih terdapat banyak warga negara beik kelompok masyarakat miskin, daerah tertinggal dan sebagainya yang belum mendapatkan pengajaran seperti yang dimaksud dalam undang-undang tersebut.

Sementara itu menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 Tentang Sisdiknas pada Pasal 4 Ayat 2 yang berbunyi: “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi amnusia (HAM), nilai kultural, nilai keagamaan, serta kemajemukan bangsa”. Namun kenyataannya sebagian penyelenggaraan pendidikan belum sesuai dengan peraturan yang sesuai dengan pasal tersebut. penyelenggaraan pendidikan masih saja ada yang bersifat diskriminatif dan tidak menjunjung hak asasi manusia. Contohnya dalam penyelenggaraan pendidikan di SBI dengan pelajarannya yang begitu padat, siswa telah kehilangan hak-haknya untuk bermain, karena hanya siswa yang pandai dan mampu saja yang bisa menempuh pendidikan tempat tersebut.

Kedepannya kita akan menemukan masih banyak beberapa undang- undang yang belum mencapai tujuannya, karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, maka dari itu tentu tidaklah mudah mencapai semua tujuan dengan singkat dan cepat. untuk tercapainya tujuan pendidikan kita membutuhkan dukungan positif dari segala aspek masyarakat, penyelenggara pendidikan dan pemerintah. karena tujuan dari penyelanggaraan pendidikan yang baik dan sesuai dengan landasan-

(21)

35 landasan pendidikan serta pelaksanaan pendidikan yang berlandaskan hukum agar menjadikan penyelanggara pendidikan yang terarah, teratur dan sesuai dengan akar kebudayaan nasional.

2.3 Pembinaan Narapidana

2.3.a Pengertian Pembinaan Narapidana

Menurut ketentuan Keputusan Menteri Kehakiman Nomor: M.02- PK.04.10 Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana / Tahanan, menyatakan pengertian pembinaan adalah Pembinaan meliputi tahanan, pelayanan tahanan, pembinaan narapidana dan bimbingan klien.22

a) Pelayanan tahanan adalah segala kegiatan yang dilaksanakan dari mulai penerimaan sampai dalam tahap pengeluaran tahanan.

b) Pembinaan narapidana adalah semua usaha yang ditujukan untuk memperbiki dan meningkatkan akhlak (budi pekerti) para narapidana yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan / Rutan.

c) Bimbingan klien ialah semua usaha yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan akhlak (budi pekerti) para klien pemasyarakatan di luar tembok.

Ditinjau dari segi bahasa, Pembinaan diartikan sebagai Proses, cara, perbuatan membina , kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif

22 Dwidja Priyanto, Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara Di Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2006, hlm. 102.

(22)

36 untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Kamus Besar Bahasa Indonesia : 655).23

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pembinaan adalah bentuk corak, model kegiatan atau tindakan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna memperoleh hasil yang lebih baik.

Pada ketentuan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lapas dilakukan pengelolaan atas dasar sebagai berikut: 24

1) Jenis Kelamin 2) Umur

3) Jenis Kejahatan

4) Lama Pidana yang dilakukan

5) Kriteria lainnya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pembinaan.

2.4 Narapidana

2.4.a Pengertian Narapidana

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia memberikan arti bahwa Narapidana adalah orang hukuman (orang yang sedang menjalani hukuman karena tindak pidana). Dan sementara itu, menurut kamus induk dalam istilah ilmiahnya mengatakan bahwa Narapidana adalah orang hukuman (orang buaian). Kemudian

23 Ibid.

24 Ibid.

(23)

37 dalam kamus hukum, Narapidana sendiri diartikan sebagai orang yang menjalani pidana didalam Lembaga Pemasyarakatan. 25

Sementara itu berdasarkan Pasal 1 ayat 7 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, narapidana adalah terpidana yang sedang menjalani pidana hilang kemerdekaan di dalam Lembaga Pemasyarakatan.

Kemudian menurut Pasal 1 ayat 6 Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, terpidana adalah seseorang yang di pidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.

Berdasarkan pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa narapidana adalah orang atau terpidana yang sedang menjalani masa hukumannya di dalam Lembaga Pemasyarakatan dimana kemerdekaannya hilang. Atau seseorang yang melakukan tindak kejahatan dan telah dinyatakan terbukti bersalah oleh hakim di pengadilan serta dijatuhi hukuman penjara.

2.4.b Hak-hak Narapidana

Pada dasarnya konsep HAM memiliki dua pengertian dasar , konsep yang pertama merupakan hak-hak yang tidak dapat dipisahkan atau dicabut.

Hak dimaksud ialah hak-hak moral yang berasal dari kemanusiaan setiap insan serta hak-hak itu bertujuan untuk menjamin martabat setiap manusia.26 Konsep yang kedua yaitu hak menurut hukum, yang dibuat sesuai dengan proses pembuatan hukum dari masyarakat itu sendiri, baik secara nasional maupun internasional. Dasar dari hak-hak ini ialah

25 Bambang Waluyo, Loc.cit.

26 Ibid, Hlm. 102.

(24)

38 persetujuan orang yang diperintah, yaitu persetujuan dari para warga yang tunduk pada hak-hak itu dan tidak hanya tertib secara alamiah.

Menurut Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Lembaga Pemasyarakatan pada Pasal 14 di tentukan bahwa hak Narapidana ialah sebagai berikut: 27

1) Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi);

2) Mendapat upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan;

3) Menerima kunjungan keluarga, penasehat hukum, dan orang-orang tertentu lainnya;

4) Mendapatkan pembebasan bersyarat;

5) Mendapat cuti menjelang bebas;

6) Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya;

7) Mendapat perawatan, baik perawatan jasmani maupun rohani;

8) Mendapat pendidikan dan pengajaran;

9) Mendapat pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;

10) Menyampaikan keluhan;

11) Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak di larang;

12) Mendapat hak-hak lain yang diataur sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku; dan

13) Medapat kesempatan berasimilasi termasuk cuti untuk mengunjungi keluarga.

2.4.c Hak Pendidikan Bagi Narapidana

Beberapa peraturan perundang-undangan yang memberikan amanat kepada pemerintah dan negara untuk tetap memberikan hak atas pendidikan secara penuh dan sama meskipun status anak adalah narapidana.28 Salah satu peraturan itu adalah Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, pasal 21 ayat (1) menyebutkan bahwa anak pidana memperoleh

27 Pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995.

28 Muladi, Hak Asasi Manusia,Politik, dan Sistem Peradilan Pidana, Pembinaan Narapidana diLembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008, hlm. 223.

(25)

39 hak-hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 kecuali huruf g. Hak-hak tersebut termasuk di dalamnya adalah hak untuk memperoleh pendidikan.

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasionalpun diatur hal yang serupa, pemenuhan hak atas pendidikan bagi anak didik pemasyarakatan harus sama seperti anak pada umumnya. Karena pada hakekatnya, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dijelaskan pula bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

2.4.d Pengertian Tentang Hak Pendidikan Narapidana

Ketika seseorang menyandang status sebagai narapidana (istilah sekarang warga binaan) seringkali merasa hidupnya sudah tidak berguna, menjadi “sampah masyarakat” dan menganggap masa depannya suram. Oleh karena itu kemudian menjadi permisif terhadap dirinya dan menjalani program-program pembinaan yang dilaksanakan atau dikerjakan selama di Lembaga Pemasyarakatan hanya untuk sekedar menghabiskan masa pidananya. Akibatnya setelah bebas, narapidana merasa tidak mendapat pencerahan di Lembaga Pemasyarakatan dan kepribadiannya tidak berubah secara signifikan sehingga konsep rehabilitasi dan reintegrasi sosial diperlukan agar narapidana manyadari kesalahannya, serta tidak lagi berkehendak untuk melakukan tindak pidana dan kembali menjadi warga masyarakat yang bertanggungjawab dilingkungan tempat tinggalnya.

Di sinilah pentingnya pembinaan pendidikan dan pengajaran agar setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan seorang warga binaan bisa menjadi warga yang baik dan mendapatkan pelajaran yang baik selama menjalani kehidupannya

(26)

40 di Lembaga Pemasyarakatan.29 Selain itu tujuan dari Hak pendidikan bagi Narapidana ialah untuk menciptakan masyarakat yang memiliki nilai-nilai positif dan memiliki jiwa profesionalitas dilingkungannya masing-masing, karena di penjara, pendidikan menjadi bernilai sosial yang bahkan melampaui nilai privat dan diterima oleh setiap orang.

2.4.e Jenis-jenis Pendidikan Bagi Narapidana

Bentuk jenis pendidikan yang diberikan kepada Narapidana meliputi:

a. Pendidikan Kemandirian

Pendidikan Kemandirian yang diberikan berupa pendidikan keterampilan meliputi pendidikan keterampilan pertukangan dan pengelasan, pendidikan jahit-menjahit, pendidikan keterampilan membuat bingkai foto, serta keterampilan tata boga / membuat kue.

b. Pendidikan Kepribadian

Pendidikan Kepribadian meliputi pendidikan kesadaran beragama, pendidikan kesadaran berbangsa, bernegara dan sadar hukum, pendidikan kesehatan jasmani dan rohani, pendidikan kemampuan intelektual, serta pendidikan kesenian.30

2.5 Lembaga Pemasyarakatan

2.5.a Pengertian Lembaga Pemasyarakatan

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia.

29 Ibid.

30 Dwidja Priyanto, Op.cit. hlm, 104.

(27)

41 Pada saat sebelum dikenal dengan istilah Lapas di Indonesia, tempat tersebut biasanya disebut dengan istilah penjara. Lembaga Pemasyarakatan juga merupakan suatu unit pelaksanaan teknis yang diataur dibawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Jika dilihat dari namanya Lembaga Pemasyarakatan mempunyai fungsi untuk memasyarakatkan para narapidana agar dapat diterima dikalangan masyarakat. 31

Menurut Pasal 3 UUD No.12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, fungsi Lembaga Pemasyarakatan adalah menyiapkan warga binaan pemasyarakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab. Untuk membina para narapidana agar bisa bergaul kembali dengan masyarakat secara normal, maka petugas dari lembaga pemasyarakatan harus berupaya menyelenggarakan kegiatan yang bisa membuat para napi sadarkan perbuatannya dan mereka tidak mengulangi perbuatannya sehingga apabila mereka keluar dari lembaga pemasyarakatan, mereka bisa diterima oleh masyarakat. Para pegawai negeri sipil yang bertugas menangani pembinaan narapidana dan tahanan di Lembaga pemasayarakatan (Lapas) biasa disebut sebagai petugas pemasyarakatan, sedangkan pada jaman dulu lebih dikenal dengan istilah sipir penjara. 32

2.5.b Dasar Hukum Lembaga Pemasyarakatan

Lapas mempunyai dasar hukum sebagai berikut: 33 a) Pancasila.

b) UUD 1945.

31Rizako Yusafat. Implementasi Sistem Pemasyarakatan. Jakarta. Universitan UI, 2009, hlm.

68.

32 Ibid.

33 Ibid, Hlm. 69.

(28)

42 c) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.

d) Peraturan Pemerintah RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.

e) Undang-undang No. 3 Tentang Peradilan Anak.

f) Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Kemasyarakatan.

g) Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor M-01-PK.04.10 Tahun 1998 Tentang Ketentuan Mengenai Tugas, Kewajiban, dan SyaratSyarat Pembimbing Kemasyarakatan.

h) Petunjuk Pelaksanaan Menteri Kehakiman RI Nomor E.39- PR.05.03 Tahun 1987 Tentang Bimbingan Klien Pemasyarakatan.

i) Petunjuk Teknis Menteri Kehakiman RI Nomor E.40-PR.05.03 Tahun 1987 Tentang Bimbingan Klien Pemasyarakatan.

2.5.c Kedudukan, Tugas Dan Fungsi Lembaga Pemasyarakatan Kedudukan, tugas, dan fungsi Lapas adalah sebagai berikut: 34

1) Kedudukan Lembaga Pemasyarakatan 12 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) adalah unit pelaksana teknis di bidang pembinaan narapidana.

Lembaga Pemasyarakatan berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM.

2) Tugas Lembaga Pemasyarakatan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) bertugas memberikan bimbingan kemasyarakatan dan pelayanan masyarakat, bimbingan klien pemasyarakatan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Fungsi Lembaga Pemasyarakatan Dalam melaksanakan tugasnya, masing-masing Lembaga Pemasyarakatan mempunyai fungsi:

a. Lembaga Permasyarakatan dewasa dipergunakan untuk penempatan Narapidana dewasa pria berumur lebih dari 21

34 Ibid, Hlm. 70.

(29)

43 (duapuluh satu) tahun, serta terdapat Narapidana anak yang berumur di bawah 21 Tahun.

b. Lembaga Permasyarakatan wanita dipergunakan untuk penempatan Narapidana dewasa wanita yang berumur lebih dari 21 (duapuluh satu) tahun, serta terdapat Narapidana anak yang berumur di bawah 21 Tahun.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa permasalahan tersebut, dapat diasumsikan bahwa Perpustakaan STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh masih terdapat ketidakpuasan dan belum sesuai

Berbagai fakta yang telah dipaparkan pada bagian latar belakang penelitian beserta konsep impilikasinya yang mendukung perlu merumuskan program intervensi bimbingan

Guru IPS SMP Muhammadiyah Purwojati dalam mebuat perencanaan pembelajaran hal pertama yang dilakukan adalah menentukan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) dengan

Untuk membuang pengaruh perubahan PDRB yang berarti pertumbuhan ekonomi dianggap eksogen, berarti kemiskinan berdampak langsung terhadap degradasi lingkungan ternyata luas

October 1998, Lygaeus saxatilis (2 specimens) found in the localities Vinkovci and Lupoglav in October 1998 and Pyrrhocoris apterus found in the locality Stari Mikanovci in

Judul skripsi: Sikap Berbahasa Masyarakat Batak Simalungun di Desa Tonduhan Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun: Kajian Sosiolinguistik. Desa Tonduhan di

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari hasil wawancara secara mendalam dan observasi lapangan terhadap 10 orang informan yang merupakan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, menunjukkanbahwa pada Tahun 2017 mendapat skor 6,00 adalah skor maksimal kemudian dibagi dengan 6,00 hasil skor yang diperoleh