8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Susu Ibu (ASI) 2.1.1 Pengertian ASI

Teks penuh

(1)

8 2.1 Air Susu Ibu (ASI)

2.1.1 Pengertian ASI

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose (gula) dan garam organik yang diproduksi karena pengaruh hormon prolaktin dan oksitosin yang didapat setelah kelahiran bayi pada buah dada atau mamae ibu. ASI sebagai anugerah, hadiah terbaik yang dapat diberikan ibu kepada bayinya (Byrom dan Edward, 2009).

ASI merupakan makanan pertama dan terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah yang dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang senantiasa diberi ASI jarang mengalami salesma dan infeksi saluran pernafasan bagian atas pada tahun pertama kelahiran, jika dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI (Prasetyono, 2009).

Dalam ASI selain terkandung antibodi, mudah, murah serta praktis dalam pemberian, kebutuhan psikologis anak juga terpenuhi, karena saat memberikan ASI ibu dapat memeluk dan mendekap anak sehingga anak merasa hangat dan nyaman dalam pelukan ibunya (Supartini, 2004).

2.1.2 Komposisi Gizi dalam ASI 1. Komposisi Kandungan ASI

ASI merupakan makanan yang utama bagi bayi yang sangat dibutuhkan. Tidak ada makanan lain yang mampu menyaingi kandungan gizinya (Prasetyono, 2009).

(2)

berbeda dengan ASI untuk bayi yang umurnya lebih tua, komposisi ASI berubah seiring dengan pertumbuhan bayi (Henderson dan Jones, 2005). Komposisi kandungan ASI dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.1 Komposisi kandungan ASI

Kandungan Kolostrum Transisi ASI matur

Sumber : Ambarwati dan Wulandari, 2009.

2.1.3 Perbedaan Komposisi ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Bayi 0-12 bulan memerlukan ASI, susu formula dan makanan padat, tetapi pada enam bulan pertama yang dibutuhkan oleh bayi ialah ASI tanpa diberikan susu formula. Karena dalam ASI selain vitamin dan mineral yang sesuai untuk bayi 0-6 bulan juga pemberiannya mudah, murah dan praktis (Supartini 2004). Perbedaan komposisi ASI, susu sapi dan susu fomula dapat di lihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.2 Perbedaan komposisi ASI, susu sapi dan susu formula

Komposisi/ 100 ml ASI matur Susu sapi Susu formula

Kalori 75 69 67

Protein 1,2 3,5 1,5

Lactalbumin (%) 80 1,8 60

(3)

Tabel 2.1 (Lanjutan)

Komposisi/ 100 ml ASI matur Susu sapi Susu formula

Air (ml) 87,1 87,3 90

Sumber : Ambarwati dan Wulandari, 2009 2.1.4 Jenis-jenis ASI

Menurut Maritalia (2012) ASI dibedakan dalam tiga stadium yaitu: 1. Kolostrum

(4)

mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi yang tinggi dari pada ASI matur, yang berfungsi :

a. Sebagai pembersih selaput usus Bayi Baru Lahir (BBL) sehingga saluran pencernaan siap untuk menerima makanan.

b. Mengandung kadar protein yang tinggi terutama globulin sehingga dapat memberikan perlindungan tubuh terhadap infeksi.

c. Mengandung zat antibodi sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari berbagai penyakit infeksi untuk jangka waktu sampai dengan enam bulan. 2. ASI transisi / peralihan

Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur, disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi. Selama dua minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah warna serta komposisinya. Kadar immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan kadar lemak dan laktosa meningkat.

3. ASI matur

Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke sepuluh dan seterusnya, komposisinya relatif konstan. ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Susu ini lebih cair dan lebih encer dari pada susu transisi tetapi dikeluarkan dalam kuantitas yang meningkat.

2.1.5 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Produksi ASI

Menurut Saleha (2009), faktor – faktor yang memengaruhi produksi ASI ialah:

(5)

2. Usia kehamilan saat melahirkan 3. Usia ibu dan paritas

4. Stress dan penyakit akut. 5. Mengonsumsi rokok 6. Mengonsumsi alkohol.

7. Menggunakan pil kontrasepsi. 2.2 ASI eksklusif

ASI ekslusif adalah pemberian ASI saja selama 6 bulan kepada bayi tanpa tambahan apa pun sejak dari lahir, dengan kata lain pemberian susu formula, air matang, air gula, dan madu untuk bayi baru lahir tidak dibenarkan (Saleha, 2009).

ASI eksklusif mengandung zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi, mudah dicerna dan efisien, mencegah berbagai penyakit infeksi pada bayi, dan dapat sebagai KB (metode amenore laktasi) pada ibu (Muslihatun, 2010).

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2001 menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi.

2.2.1 Manfaat Pemberian ASI eksklusif

(6)

karena mengandung zat immunoglobuluin. ASI bersifat praktis, mudah diberikan kepada bayi, murah serta bersih (Prasetyono, 2009).

1. Bagi bayi

a. Komposisi sesuai kebutuhan.

ASI adalah sumber gizi yang paling ideal, berkomposisi seimbang, dan sesuai dengan kebutuhan masa pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan tunggal yang paling sempurna untuk bayi baik kualitas atau kuantitas bayi hingga 6 bulan.

b. ASI mengandung antibodi.

ASI mampu memberikan perlindungan bagi bayi karena ASI mengandung zat immonoglobulin. ASI juga mengandung zat anti infeksi, sehingga bayi dapat terlindung dari berbagai macam infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur atau parasit. Maka dari itu pemberian ASI sampai 6 bulan pertama sangat dianjurkan yang dilanjutkan sampai 2 tahun dengan makanan padat (Ambarwati dan Wulandari, 2009).

c. Mengurangi kejadian karies dentis.

(7)

d. Memberikan rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan bayi.

Dengan ibu memberikan ASI kepada bayinya maka akan terjadi kontak kulit ibu ke kulit bayi yang mengakibatkan perkembangan psikomotor maupun sosial yang lebih baik kepada bayi.

e. Terhindar dari alergi.

Pada bayi baru lahir sistem IgE belum sempurna. Pemberian susu formula akan merangsang sistem ini dan dapat menimbulkan alergi.

f. ASI meningkatkan kecerdasan bagi bayi.

Faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan otak anak adalah nutrisi yang diterima saat pertumbuhan otak, dimana nutrisi yang paling sempurna utnuk bayi pada saat pertumbuhan otak adalah ASI, dimana Lemak pada ASI adalah lemak tak jenuh yang mengandung omega 3 untuk pematangan sel-sel otak sehingga jaringan otak bayi yang mendapat ASI eksklusif akan tumbuh optimal.

g. Membantu perkembangan rahang

Gerakan menghisap mulut bayi pada payudara ibu dapat membantu merangsang perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi.

2. Manfaat bagi ibu

(8)

a. Mengurangi perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim kebentuk semula.

Menyusui bayi segera setelah lahir akan mengurangi perdarahan pada ibu, karena dengan langsung menyusui bayi akan terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna untuk kontraksi/penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti dan involusi rahim juga akan lebih cepat pulih (Rukiyah dkk, 2011). b. Mencegah anemia defisiensi zat besi.

Dengan berkurangnya perdarahan pasca persalinan maka kejadian prevalensi anemia defisiensi besi akan berkurang.

c. Menunda kesuburan.

Pemberian ASI secara eksklusif memberikan 98% metode kontrasepsi akan efisien selama 6 bulan. Hisapan mulut bayi pada puting susu ibu merangsang ujung syaraf sensorik sehingga post anterior hipofise mengeluarkan prolaktin masuk ke indung telur, menekan produksi estrogen akibatnya tidak ada ovulasi.

d. Aspek penurunan berat badan.

(9)

e. Aspek psikologis.

Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi, tetapi juga bermanfaat untuk ibu. Ibu akan merasa bangga dan diperlukan, serta meningkatkan rasa kasih sayang terhadap keduanya.

3. Manfaat bagi keluarga a. Aspek ekonomi.

ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain. selain itu, penghematan juga terjadi karena bayi yang diberi susu formula akan jarang sakit, sehingga mengurangi dana untuk berobat.

b. Aspek psikologi.

Ibu yang memberikan ASI eksklusif akan dapat menjarangkan kehamilan, sehingga ibu akan lebih fokus terhadap bayi yang dimilikinya sekarang, dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.

c. Aspek kemudahan.

(10)

4. Manfaat bagi Negara

Menurut Ambarwati dan Wulandari (2009), manfaat ASI eksklusif bagi Negara ialah:

a. Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.

Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian bayi. Karena beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah. Manfaat ASI kecuali karena adanya zat antibodi, juga nutrien yang berasal dari ASI seperti, asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi ASI ternyata juga terlindung dari diare yang disebabkan makanan yang tercemar oleh bakteri.

b. Menghemat devisa negara.

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional, jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa negara sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula.

c. Peningkatan kualitas generasi penerus.

Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.

2.2.2 Faktor Yang Memengaruhi Pemberian ASI Eksklusif

(11)

perkotaan maupun pedesaan di Indonesia dan negara berkembang lainnya, menunjukkan bahwa faktor sistem dukungan, pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI secara eksklusif, promosi susu formula dan makanan tambahan mempunyai pengaruh terhadap praktek pemberian ASI eksklusif itu sendiri.

Adapun faktor-faktor yang dapat memengaruhi kegagalan pemberian ASI eksklusif, dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor Internal 1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan akan mempengaruhi sikap terhadap prilaku hidup sehat dan dalam menanggulangi masalah yang kurang mengerti tentang manfaat pemberian ASI eksklusif tersebut (Notoatmodjo, 2003).

2. Sikap

Menurut Notoatmodjo (2003), sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap itu masih merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

3. Status Pekerjaan

(12)

Banyak diantaranya disebabkan karena ketidaktahuan dan kurangnya minat untuk menyusui. Ibu yang bekerja sebenarnya tidak ada alasan untuk menghentikan menyusui, khususnya bagi ibu yang bekerja diluar rumah, dapat melakukan langkah – langkah sebagai berikut:

 Susuilah bayi sebelum berangkat kerja.

 Peras atau pompa ASI yang berlebihan, kemudian simpan dilemari pendingin untuk diberikan pada bayi saat ibu bekerja.

 Selama ibu bekrja, ASI dapat diperas atau dan disimpan di lemari es di tempat kerja atau diantar pulang.

 Setelah ibu dirumah, perbanyak menyusui termasuk pada malam hari.

 Sebaiknya ibu banyak beristirahat, banyak minum dan makan makanan dengan gizi untuk menambah produksi ASI.

4. Faktor fisik ibu

Keadaan payudara ibu mempunyai peran dalam keberhasilan menyusui, seperti putting tenggelam, mendatar atau putting terlalu besar yang sebenarnya dapat diatasi. Alasan ibu yang sering muncul untuk tidak menyusi adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengaharuskan ibu untuk berhenti menyusui. Lebih jauh berbahaya untuk mulai memberi bayi berupa makanan buatan dari pada membiarkan bayi menyusui dari ibunya yang sakit (Sugiarti, 2013).

(13)

pengobatan yang diberikan, serta memeriksakan status tuberkulosis bayi, dan hepatitis (A,B, dan C) ibu tetap dapat menyusui karena transmisi virus hepatitis melalui ASI sangat rendah. Kemudian tetap berkonsultasi pada dokter imunisasi apa yang perlu diberikan pada bayi. Ada beberapa obat yang efek sampingnya dapat timbul pada bayi dan atau mengurangi produksi ASI sehingga perlu dipikirkan alternatif lain. Jika ibu sakit jangan lupa memberitahu dokter bahwa ibu sedang menyusui, agar dapat diberikan obat yang lebih sesuai untuk ibu dan bayi serta tidak mengganggu proses menyusui (Handy, 2010).

2. Faktor Eksternal 1. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain, baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatan (Sarwono, 2003).

2. Budaya

(14)

lemah, madu dengan maksud agar kelak setelah besar anak akan kelihatan manis dan cantik, dan roti atau nassi dicampur pisang, dengan maksud agar tubuh bayi padat, disamping itu bayi akan selalu tidur denagn pulas, dan ibu lebih leluasa mengerjakan tugas rumah tangga. Pada 41 responden (52,6%) menyatakan salah asupan gizi ibu dalam ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi 0-6 bulan. Pada 43 responden (55,1%) mmenyatakan salah dalam ASI terdapat zat antibodi yang dapat melindungi bayi dari penyakit. Terdapat 46 responden (59,0%) menyatakan salah ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi samapi umur 6 bulan, kemudian terdapat 46 responden (59,0%) mengatakan salah tentang ASI boleh disimpan dalam termos, pada suhu dan kemasan yang benar.

5. Dukungan petugas kesehatan

Kurangnya petugas kesehatan didalam memberikan informasi kesehatan, menyebabkan masyarakat kurang mendapatkan informasi atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No 900/Men.Kes/SK/VII/2002/ tentang Registrasi dan praktik Bidan yang menyatakan diharapkan semua bidan yang memberikan pelayanan kesehatan melahirkan dan menyusui senantiasa berupaya memberikan penyuluhan mengenai pemberian ASI eksklusif sejak pemeriksaan kehamilan (Prasetyono, 2009).

(15)

2.2.3 Masalah dalam Pemberian ASI Eksklusif Masalah dalam pemberian ASI eksklusif yaitu : a. Kurang atau salah informasi

Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula yang mahal itu sama baiknya atau mala lebih baik dari ASI sehingga ibu langsung memberi susu formula. Petugas kesehatanpun masih banyak yang tidak memberikan informasi pada saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi.

Terkadang ASI belum keluar pada hari pertama, sehingga bayi dianggap perlu diberikan minuman lain, padahal bayi yang lahir cukup bulan dan sehat mempunyai persediaan kalori dan cairan yang dapat mempertahankannya tanpa minuman selama beberapa hari.

Karena payudara berukuran kecil dianggap kurang menghasilkan ASI padahal ukuran payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau kurang karena ukuran tidak mempengaruhi produksi ASI. Produksi ASI tetap mencukupi apabila manajemen laktasi dilaksanakan dengan baik dan benar.

b. Sindrom ASI kurang

Sering sekali ibu dan keluarga merasa bahwa bayinya tidak cukup dengan diberi ASI saja. Padahal terkadang bayi menangis belum tentu dikarenakan kurang minum, melainkan bisa karena hal yang lain seperti popok bayi yang basah.

c. Ibu yang bekerja

(16)

1. Susuilah bayi sebelum ibu bekerja.

2. ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat bekerja. 3. Pengosongan payudara di tempat kerja setiap 3-4 jam.

4. ASI dapat disimpan di lemari pendingin.

5. Pada saat ibu di rumah sesering mungkin bayi disusui. 6. Minum dan makan makanan yang bergizi.

2.3 Kerangka Konsep Variabel Independen

Variabel Dependen

Gambar 2.1 Kerangka konsep Hubungan Faktor Internal dan Faktor Eksternal ibu dalam Pemberian ASI Eksklusif.

2.4 Hipotesis

1. Ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. 2. Ada hubungan sikap dengan pemberian ASI eksklusif.

(17)

4. Ada hubungan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif. 5. Ada hubungan budaya dengan pemberian ASI eksklusif.

Figur

Tabel 2.1 Komposisi kandungan  ASI

Tabel 2.1

Komposisi kandungan ASI p.2
Tabel 2.2  Perbedaan komposisi ASI, susu sapi dan susu formula

Tabel 2.2

Perbedaan komposisi ASI, susu sapi dan susu formula p.2
Tabel 2.1 (Lanjutan)

Tabel 2.1

(Lanjutan) p.3
Gambar 2.1  Kerangka konsep Hubungan Faktor Internal dan Faktor Eksternal ibu

Gambar 2.1

Kerangka konsep Hubungan Faktor Internal dan Faktor Eksternal ibu p.16

Referensi

Memperbarui...