• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mengetahui lebih jelas bagaimana pelaksanaan program tanggap darurat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. untuk mengetahui lebih jelas bagaimana pelaksanaan program tanggap darurat"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara untuk mengetahui lebih jelas bagaimana pelaksanaan program tanggap darurat kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT.

PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juli 2013.

3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh anggota tim penanggulangan keadaan darurat di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT.

PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan sebanyak 50 orang.

3.3.2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang dijadikan responden. Responden dalam penelitian ini adalah anggota tim penanggulangan keadaan darurat di Kantor

(2)

yang dipilih berdasarkan metode kesesuaian dan kecukupan yaitu 5 orang dengan kriteria mengetahui lebih mendalam informasi tentang sarana proteksi kebakaran aktif, sarana penyelamatan jiwa, manajemen penanggulangan keadaan darurat dan bersedia meluangkan waktu untuk melakukan wawancara. Adapun yang menjadi responden antara lain:

1. Dari Kantor Sektor

a. 1 orang Asisten Manajer Keuangan, SDM dan ADM sebagai komandan TPKD.

b. 1 orang koordinator satpam sebagai anggota regu komunikasi dan P3K.

2. Pusat Listrik Paya Pasir

a. 2 orang operator sebagai anggota regu pengamanan area.

b. 1 orang petugas keamanan sebagai anggota regu pemadaman api dengan APAR.

3.4.Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden dengan menggunakan pedoman wawancara yang kemudian akan dibandingkan dengan standar nasional Indonesia yang merupakan acuan yang digunakan dalam program tanggap darurat tersebut, antara lain:

1. Permenaker RI No.04/Men/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan.

2. Permenaker RI No.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik.

(3)

3. Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran Di Perkotaan.

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

5. Kepmenaker RI No.186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

Data sekunder berupa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan program tanggap darurat kebakaran yang diperoleh dari Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, antara lain:

1. Profil Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

2. Struktur organisasi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

3. Struktur organisasi tanggap darurat di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

4. Dokumen tentang elemen yang berpotensi menimbulkan kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

5. Dokumen sarana proteksi aktif di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

6. Dokumen sarana penyelamatan jiwa di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

(4)

7. Dokumen manajemen penanggulangan keadaan darurat kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

8. Prosedur tanggap darurat kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

3.5. Definisi Operasional

Sarana proteksi aktif merupakan sarana perlindungan terhadap kebakaran dengan mengggunakan peralatan yang dapat bekerja secara otomatis maupun manual yang digunakan dalam melaksanakan operasi pemadaman kebakaran, antara lain:

1. Detektor adalah alat deteksi awal kebakaran yang bekerja secara otomatik, terdiri dari detektor jenis panas, asap dan nyala.

2. Alarm adalah alat tang berguna untuk memberitahukan kebakaran tingkat awal yang mencakup alarm kebakaran manual maupun otomatis, dan alarm ini dapat berupa audible dan visible.

3. APAR (alat pemadam api ringan) adalah alat pemadam kebakaran yang dapat dibawa dan digunakan/dioperasikan oleh satu orang serta berdiri sendiri.

4. Hidran adalah tempat untuk mendapatkan sumber air yang dirancang khusus untuk keperluan pemadaman kebakaran yang dilengkapi dengan selang dan pipa pemancar untuk mengalirkan tekanan air.

Sarana penyelamatan jiwa merupakan sarana yang bertujuan mencegah terjadinya kecelakaan atau luka pada waktu melakukan evakuasi pada saat keadaaan darurat terjadi, antara lain:

(5)

1. Tempat berhimpun adalah area terbuka di luar bangunan gedung yang dipergunakan untuk berkumpul pada saat evakuasi keadaan darurat/kebakaran.

Manajemen penanggulangan keadaan darurat kebakaran merupakan perencanaan atau rancangan yang dibentuk untuk menghadapi keadaan darurat kebakaran, antara lain:

1. Organisasi tanggap darurat kebakaran adalah organisasi khusus yang dibentuk untuk mengantisipasi dan menanggulangi bahaya kebakaran.

2. Prosedur tanggap darurat adalah tata cara dalam mengantisipasi keadaan darurat yang meliputi rencana/rancangan dalam menghadapi keadaan darurat, pendidikan dan latihan, penanggulangan keadaan darurat, pemindahan dan penutupan.

3. Pelatihan kebakaran adalah pendidikan dan latihan yang dimaksudkan sebagai simulasi dalam menghadapi keadaan darurat.

3.6. Analisa Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini kemudian akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan induktif untuk menjelaskan tentang pelaksanaan program tanggap darurat kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

(6)

BAB IV HASIL

4.1. Gambaran Umum Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan

4.1.1. Sejarah

PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan merupakan pemekaran dari PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Belawan yang sebelumnya bernama Pusat Listrik Paya Pasir dan sekarang sebagai salah satu unit kerja di lingkungan PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara yang berdiri dan beroperasi tanggal 20 Maret 2007 sesuai SK General Manager No.014.K/GMKITSU/2007 dan SK DIR 261.K/DIR/2012 tentang formasi Jabatan Unit Pelaksana dan Sub Unit Pelaksana di Pembangkitan PT PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Utara.

Untuk memenuhi segala kebutuhan akan tenaga listrik di kota Medan dan sekitarnya yang semakin meningkat, ditetapkan agar dibangun suatu pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Adapun lokasi pembangunannya dipilih sebelah utara kota Medan tepatnya di Medan Marelan. PT PLN Wilayah II Sumatera Utara memilih daerah tersebut sebagai lokasi PLTG adalah berdasarkan pertimbangan yang matang, baik masa kini maupun yang akan datang. Pertimbangan-pertimbangan tersebut antara lain:

1. Mengingat PLTG Glugur dan PLTD Titi Kuning tidak mungkin lagi membangun pembangkit yang baru karena arealnya tidak memungkinkan lagi dan semakin banyaknya perumahan penduduk di sekitarnya.

(7)

2. Lancarnya sarana lalu lintas ke PLTG sehingga memungkinkan transportasi berjalan dengan baik.

3. Lokasi PLTG Paya Pasir dekat ke sungai yang bermuara di Medan, sehingga terjadinya banjir sangat kecil karena aliran air parit dari lokasi dapat dialirkan ke sungai.

4. Untuk membantu daya listrik daerah Kecamatan Medan Marelan, Medan Labuhan dan sekitarnya mengingat di daerah ini banyak didirikan pabrik-pabrik industri dan perumahan penduduk.

5. Dekatnya PLTG Paya Pasir dengan Pertamina Labuhan Medan sehingga memungkinkan penyaluran bahan bakar untuk unit pembangkit listrik melalui pipa bawah tanah.

Komponen utama dari PLTG Paya Pasir ini terdiri dari 7 unit mesin pembangkit yang pengembangannya terbagi 4 tahap, yaitu:

1. Tahap pertama.

Pembangunan dimulai tahun 1974 yaitu dengan membangun sarana jalan ke lokasi PLTG, serta membangun pondasi. Tahun 1975-1976 pemasangan mesin pembangkit listrik unit 1 dan unit 2 serta alat bantu yang dilakukan oleh teknisi dari Canada. Unit 1 dan unit 2 mulai beroperasi tahun 1976.

2. Tahap kedua.

Tahun 1976 membangun unit 3 dan unit 4 yang dilakukan oleh Alsthom Antlantique dari Negara Perancis. Unit 3 dan unit 4 mulai beroperasi pada tahun 1978.

(8)

3. Tahap ketiga.

Tahun 1983 membangun satu unit pembangkit yaitu unit 5 dengan kapasitas 21,350 MW yang dilakukan oleh Alsthom dari Negara Perancis.

4. Tahap keempat.

Tahun 2008 membangun dua unit pembangkit yaitu unit 6 yang kini telah direlokasi ke Palembang dan unit 7 dengan kapasitas 34,1 MW yang dilakukan oleh NTC dari Negara Cina.

4.1.2. Gambaran Kegiatan Proses Produksi

Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi modern pada era globalisasi ini, maka dampaknya pada kebutuhan energi akan semakin meningkat, sumber atau penyedia energi listrik selama ini dilandaskan pada suatu rangkaian penemuan dan pengembangannya dari perusahaan konversi suatu energi menjadi energi listrik.

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Paya Pasir adalah suatu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang merupakan salah satu dari sekian banyak pembangkit atau pensuplai daya listrik untuk kota Medan dan sekitarnya. PLTG Paya Pasir ini digerakkan oleh suatu turbin gas dengan bahan bakar solar atau gas, namun saat ini PLTG Paya Pasir memakai bahan bakar solar. Bahan bakar solar ini dipasok dari Pertamina Labuhan Medan yang disalurkan ke PLTG Paya Pasir melalui pipa bawah tanah.

Komponen utama merupakan turbin gas, tanki bahan bakar, trafo dan gardu induk, switch yard dengan relay daya bertegangan 150 KV yang sekarang diambil alih oleh PLN P3B Sumatera.

(9)

PLTG Paya Pasir mempunyai kapasitas daya terpasang dengan total 110,25 MW yang terdiri dari 7 unit, 1 unit (GPP unit 1) sudah di ATTB, 1 unit (GPP unit 6) di relokasi ke Palembang dan 5 unit masih beroperasi memiliki daya terpasang 110,25 MW.

Tabel 4.1. Kapasitas Dasar Terpasang PLTG Paya Pasir

Unit Operasi Bahan

Bakar

Daya Terpasang (MW)

GPP Unit 1 Westcan Tahun 1976 HSD -

GPP Unit 2 Westcan Tahun 1976 HSD 14,6

GPP Unit 3 Alsthom Tahun 1978 HSD 20,1

GPP Unit 4 Alsthom Tahun 1978 HSD 20,1

GPP Unit 5 Alsthom Tahun1983 HSD 21,35

GPP Unit 6 TM 2500 Tahun 2008 HSD -

GPP Unit 7 PLTG Task Force 22 Paya Pasir

Tahun 2008 HSD 34,1

Jumlah Kapasitas 110,25

Dalam hal mensuplai daya listrik, maka PLTG Paya Pasir mengadakan sistem interkoneksi dengan beberapa pembangkit antara lain seperti: PLTU Belawan, PLTD Titi Kuning, PLTG Glugur, PT INALUM, PLTA Sipanisihaporas, PLTA Rerun, PLTD Lueng Bata Aceh, PLTM Tersebar dan PLTD Sewa lainnya (PLTD BGP, PLTD AKE, PLTD Arti Duta, dan lain-lain).

(10)

Gambar 4.1. GPP Unit 4 Alsthom

Gambar 4.2. Tanki Bahan Bakar 4.1.3. Visi dan Misi

Visi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan yaitu diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuhkembang, unggul, dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.

(11)

Misi PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, antara lain:

1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.

2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.

4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

4.1.4. Struktur Organisasi

Menurut data sekunder yang diperoleh, PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan memiliki struktur organisasi untuk memenuhi sistem manajemen terpadu secara jelas sesuai dengan fungsi dan tugas kerjanya masing- masing. Sistem manajemen terpadu tersebut sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2008, ISO 14001:2004, SMK3 dan Standard Asset Manajemen serta sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.

Pada dasarnya Manajer Sektor membawahi Analis Kinerja, Analis Quality Assurance, Analist Manajemen Resiko, Asisten Manajer Enjiniring, Asisten Manajer Operasi dan Pemeliharaan, Asisten Manajer Keuangan, SDM dan Administrasi, Manajer Pusat Listrik Paya Pasir, Manajer Pusat Listrik Glugur dan Manajer pusat Listrik Titi Kuning. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar bagan struktur organisasi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan berikut:

(12)

Gambar 4.3. Struktur Organisasi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan 4.1.5. Identifikasi Potensi Keadaan Darurat Kebakaran

Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan terdapat beberapa bidang kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran baik di area kantor smaupun di pusat listrik paya pasir, antara lain sebagai berikut:

Manajer Sektor Senior Spesialist/ Analyst/

Assistant Analyst Kinerja

Senior Spesialist/ Analyst/

Assistant Quality Assurance Senior Spesialist/ Analyst/

Assistant Manajemen Resiko

Asisten Manajer Keuangan, SDM dan Administrasi Supervisor K3 Dan Umum

Supervisor Keuangan

Supervisor Logistik Asisten Manajer Operasi Dan

Pemeliharaan

Engineer/ Assistant Engineer/

Junior Engineer Perencanaan Dan Pengendalian Operasi Engineer / Assistant / Junior Engineer Perencanaan Dan Pengendalian Pemeliharaan Engineer / Assistant / Junior Engineer Lingkungan Dan K2 Asisten Manajer

Enjiniring

Engineer/ Assistant/

Junior Engineer Pengelola Sistem

Engineer/ Assistant/

Junior Engineer

Pemeliharaan Prediktif

Engineer/ Assistant/

Junior Engineer Teknologi Informasi Prediktif

Pusat Listrik : 1. PLTG Paya Pasir 2. PLTG Glugur 3. PLTD Titi Kuning

(13)

Tabel 4.2. Sumber Potensi Kebakaran Di Bidang Operasi Unit Paya Pasir

No Kegiatan Sumber Potensi

1 Separator oil (Penyaringan BBM) Ceceran oil 2 Transfer BBM lewat pipa (Labuhan

Deli – Paya Pasir)

Kebocoran pipa, sisa kain lap/ majun, ceceran BBM

3 Penggantian filter Ceceran BBM dan oli

4 Oil catcher Ceceran oli, oli bekas

5 Pembangkitan (start/ stop unit pembangkit)

Penggunaan BBM 6 Penerimaan dan penyimpanan BBM

di storage tank

Kebocoran tangki, ceceran/ tumpahan BBM, peningkatan suhu dalam tangki

7 Sounding BBM Majun terkontaminasi BBM

8 Pengisian dan penyimpanan BBM di daily tank

Majun terkontaminasi BBM, peningkatan suhu dalam tangki

9 Cleaning tanki Ceceran BBM, majun terkontaminasi BBM

10 Drain tanki Ceceran BBM, majun terkontaminasi

BBM

Tabel 4.3. Sumber Potensi Kebakaran Di Bidang Pemeliharaan Unit Paya Pasir

No Kegiatan Sumber Potensi

1 Pencucian majun yang

terkontaminasi

Ceceran bahan bakar HSD, majun kotor

2 Penggantian lube oil filter Ceceran oli

3 Pengisian air battery Majun kotor

4 Pencucian filter bekas dan kemasan kaleng bekas

Filter bekas 5 Perawatan/ pembersihan motor dan

pompa

Sisa kain lap/ majun, oli bekas, ceceran oli

6 Perawatan dan pembuatan ruang pemeliharaan

Penggunaan air, listrik (kontak listrik) 7 Penggantian air filter generator Kertas FAAR

8 Penambahan oli turbin Sisa kain lap/ majun 9 Penggantian oil diesel start Sisa kain lap/ majun 10 Perawatan dan perbaikan battery Sisa kain lap/ majun

(14)

Tabel 4.4. Sumber Potensi Kebakaran Di Bidang Administrasi dan Umum Unit Paya Pasir

No Kegiatan Sumber Potensi

1 Perawatan dan perbaikan fasilitas fotocopy dan printer

Sisa toner, cartridge

2 Pengambilan oli Sisa drum oli

3 Penampungan bahan buangan Drum oli, oli bekas, filter bekas 4.1.6. Tenaga Kerja

Menurut data sekunder, dalam melaksanakan kegiatannya Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan mempekerjakan tenaga kerja dari dalam dan luar perusahaan. Tenaga kerja yang berstatus karyawan PLN terdiri dari karyawan tetap dan karyawan kontrak. Selain itu digunakan juga pihak luar seperti kontraktor dan subkontraktor dalam membantu pekerjaan-pekerjaan tertentu di perusahaan. Berikut uraian tenaga kerja yang terdapat di kantor sektor dan pusat listrik paya pasir:

Tabel 4.5. Data Tenaga Kerja di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir No Klasifikasi Pekerja Kantor Sektor Pusat Listrik paya

Pasir

1 Pegawai 51 32

2 Outsourcing 20 18

3 Cleaning Service 10 10

4 Pengemudi 4 0

Bagi perusahaan, penempatan sumberdaya manusia merupakan asset utama dan pengembangannya secara maksimal dilakukan melalui pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan untuk berbagai tingkatan manajemen.

(15)

4.2. Pelaksanaan Program Sarana Proteksi Aktif 4.2.1. Detektor dan Alarm

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, sudah terdapat detektor dan alarm di Kantor Sektor PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan. Detektor dan alarm merupakan suatu rangkaian alat untuk mendeteksi kebakaran secara otomatik yang disebut juga dengan fire system alarm. Jumlah fire system alarm yang terdapat di area Kantor Sektor sebanyak 10 zona yang terdiri dari 59 titik. Jenis detektor yang terdapat di area Kantor Sektor adalah detektor asap, yaitu detektor yang sistem kerjanya didasarkan atas asap. Jenis alarmnya yaitu audible alarm atau alarm yang memberikan tanda atau isyarat berupa bunyi khusus.

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa rangkaian detektor dan alarm yang tersedia sudah berfungsi dengan baik dan juga memiliki bunyi yang khusus serta bunyi alarm dapat di dengar di seluruh area Kantor Sektor. Seluruh rangkaian alat pendeteksi kebakaran otomatik tersebut dipelihara dan diuji secara berkala per triwulan. Pemeriksaan seluruh rangkaian tersebut dilakukan oleh Supervisor K3 dan Umum dibantu oleh Ahli K3. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang ke dua yaitu anggota tim komunikasi dan P3K, yang berkata:

“Detektor dan alarm berfungsi dengan baik; Bunyinya bisa didengar dengan jelas di seluruh tempat karena bunyinya kuat; Dilakukan berkala per triwulan dan itu dilakukan bagian pemeliharaan dan K3”.

(16)

Pada pemeriksaan fire system alarm yang terakhir kali dilakukan ditemukan beberapa alarm yang tidak berfungsi dengan baik namun sudah dilakukan perbaikan, seperti yang diungkapkan informan yang pertama yaitu komandan tim:

“Pada pemeriksaan terakhir memang ada ditemukan beberapa alarm tidak

berfungsi, bisa disebabkan karena gangguan alam seperti digigit tikus atau karena sudah lama sehingga kabelnya ada yang putus, namun sudah dilakukan perbaikan dan kondisinya sudah baik”.

Gambar 4.4. Detektor Gambar 4.5. Alarm

4.2.2.APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan sudah terdapat APAR yang digunakan untuk memadamkan api pada mula terjadinya kebakaran. Jumlah APAR yang terdapat di area Kantor Sektor sebanyak 41 tabung dan di Pusat Listrik Paya Pasir sebanyak 57 tabung dengan kapasitas yang berbeda-beda. Berikut rincian dari kapasitas tabung APAR:

(17)

Tabel 4.6. Rincian Kapasitas APAR di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir

No Kapasitas APAR Jumlah

Kantor Sektor Pusat Listrik Paya Pasir

1 2 kg 6 tabung 1 tabung

2 3 kg 26 tabung 8 tabung

3 3,5 kg - 1 tabung

4 5 kg 4 tabung 9 tabung

5 6 kg 5 tabung 7 tabung

6 7 kg - 3 tabung

7 9 kg - 3 tabung

8 20 kg - 8 tabung

9 40 kg - 4 tabung

10 50 kg - 5 tabung

11 6 liter - 8 tabung

Total 41 tabung 57 tabung

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa jenis dan klasifikasi APAR sudah sesuai dengan jenis kebakaran yang kemungkinkan terjadi, yaitu APAR jenis foam atau busa, karbondioksida dan tepung yang digunakan untuk kebakaran yang diakibatkan oleh bahan cair (bensin dan oli), gas dan alat-alat listrik bertegangan yang termasuk dalam klasifikasi kebakaran kelas B dan C seperti yang terdapat pada perusahaan. APAR juga ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat, mudah dicapai, mudah diambil karena sudah tersedia pada masing-masing ruangan di kantor sektor dan masing- masing unit pembangkit serta tidak terhalang oleh benda lain. Tanda pemasangan APAR juga ada pada masing-masing APAR berupa segi tiga dengan warna dasar merah. Petunjuk cara pemakaian sudah terdapat pada masing-masing tabung APAR dan dapat dibaca dengan jelas. APAR dengan bobot kurang dari 18,14 kg

(18)

dengan bobot lebih dari 18,14 kg ditempatkan pada sekang beroda. Kondisi tabung APAR juga dalam keadaan baik, yaitu tidak berlubang dan tidak ada cacad karena karat. Pemeriksaan masing-masing APAR dilakukan berkala setiap semester atau enam bulan sekali oleh pihak ke 2 atau pihak perusahaan yang memproduksi APAR tersebut dengan dipantau dari Supervisor K3 Umum dan dibantu oleh Ahli K3.

Pemeliharaan dilakukan setiap bulan oleh Supervisor K3 Umum dan dibantu oleh Ahli K3. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang pertama yaitu komandan tim penaggulangan keadaan darurat, yang berkata:

“Ya, APAR sudah sesuai dengan jenis kebakaran yang mungkin terjadi;

Seluruh APAR ditempatkan di tempat yang mudah dilihat dan setiap ruangan terdapat APAR sehingga saat terjadi kebakaran mudah diambil; Ya setiap APAR ada tanda pemasangannya; Seluruh APAR sudah ada petunjuk cara pemakaiannya, dapat dilihat di tabung APAR; Ada APAR yang digantung dengan menggunakan sekang dan ada juga APAR yang menggunakan roda kalau APAR yang ukuran besar; Ya, dari hasil pemeriksaan terakhir, seluruh APAR dalam kondisi baik; Diperiksa per semester atau per 6 bulan, dan ada juga pemeliharaan yang dilakukan per bulan dilakukan oleh pihak ke 2 dengan dipantau dari K3 dan dibantu ahli K3”.

(19)

Gambar 4.6. APAR 5 Kg Gambar 4.7. APAR 50 Kg 4.2.3.Hidran

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, hidran sudah terdapat di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

Hidran adalah tempat untuk mendapatkan sumber air yang dirancang khusus untuk keperluan pemadaman kebakaran yang dilengkapi dengan selang dan pipa pemancar untuk mengalirkan tekanan air. Pada area Kantor Sektor terdapat 2 hidran dan di Pusat Listrik Paya Pasir terdapat 8 hidran. Selain itu terdapat juga mesin yang digunakan untuk mengoperasikan hidran secara otomatik dan dapat memperbesar volume air yang dihasilkan, antara lain diesel fire hydrant, electric fire hydrant dan joky pump masing-masing terdapat 1 set.

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa kelengkapan hidran seperti selang, sambungan selang, kepala selang, dan keran pembuka sudah tersedia pada masing-masing hidran yang

(20)

tersusun rapi di dalam kotak hidran. Hidran dan kotak hidran ditempatkan di tempat yang mudah dilihat, mudah dicapai karena letaknya dekat dengan unit yang dilindungi dari kebakaran serta tidak terhalang benda lain. Seluruh komponen hidran diperiksa setiap bulan oleh bagian pemeliharaan perusahaan sehingga kondisinya dapat dipastikan selalu dalam keadaan siap pakai. Sumber persediaan air hidran yang disebut bak tempat penampungan air juga diperiksa secara berkala setiap minggu oleh bagian keamanan perusahaan sehingga jumlah air dapat dipastikan selalu cukup.

Hidran dapat mengalirkan air lebih dari 30 menit dan selalu dilakukan simulasi pompa kebakaran dua kali dalam setahun. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang pertama yaitu komandan tim penaggulangan keadaan darurat, yang berkata:

“Ya, seluruh komponennya sudah lengkap dan dalam keadaan baik; Ya, kotak

hidran sudah dibuat sesuai standar; Seluruh peralatan fire hidran diperiksa setiap bulan oleh bagian pemeliharaan sehingga kondisinya selalu siap pakai. Bak tempat penampungan air juga diperiksa setiap minggu oleh bagian keamanan sehingga jumlah air selalu mencukupi; Bahkan bisa lebih dari 30 menit; Ya, kebetulan baru dilakukan pengecekan secara otomatis dan manual dan keseluruhan dalam kondisi siap”.

(21)

Gambar 4.8. Hidran 4.3.Pelaksanaan Program Sarana Penyelamatan Jiwa 4.3.1. Tempat Berhimpun

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan memilihi lima lokasi tempat berhimpun.

Terdapat satu tempat berhimpun di Kantor Sektor tepatnya di halaman depan gedung Kantor Sektor dengan luas kurang lebih 100m2dan empat tempat berhimpun di Pusat Listrik Paya Pasir yang letaknya berada dekat dengan mesin pembangkit dengan luas kurang lebih 50 m2dan 100 m2. Jika terjadi keadaan darurat seperti kebakaran maka setiap karyawan akan segera dievakuasi menuju tempat berhimpun terdekat yang sudah disediakan perusahaan. Luas masing-masing tempat berhimpun tersebut sudah sesuai dengan jumlah pekerja yang terdapat di perusahaan karena ketetapan luas tempat berhimpun untuk tiap orang adalah 0,3 m2. Selain itu tempat berhimpun juga sudah dilengkapi dengan tanda petunjuk tempat berhimpun yang dapat dilihat dengan

(22)

terhindar dari bahaya kebakaran dan bahaya lainnya. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang ke tiga yaitu anggota tim pengamanan area, yang berkata:

“Ada, plank warna hijau, di tiap tempat berhimpun ada tandanya; Sesuai karena bisa dibilang cukup luas lah; Sudah jauh dari tempat berpotensi kebakaran, sudah aman lah”.

Gambar 4.9. Tempat Berhimpun Gambar 4.10. Tanda Tempat Berhimpun 4.4. Pelaksanaan Program Manajemen Penanggulangan Keadaan Darurat

Kebakaran

4.4.1. Organisasi Tanggap Darurat

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan sudah terdapat organisasi tanggap darurat. Karena lokasi Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir berdekatan, maka tim penanggulangan keadaan darurat (TPKD) bertanggung jawab terhadap kedua lokasi tersebut jika terjadi keadaan darurat. Kejadian darurat dapat terjadi kapan saja, baik dalam jam dinas kerja maupun diluar jam dinas kerja. Oleh

(23)

karena itu, maka dibentuklah dua tim penanggulangan keadaan darurat, antara lain tim penaggulangan keadaan darurat dalam jam dinas kerja yang bertanggung jawab terhadap kejadian darurat yang terjadi pada saat jam dinas kerja yaitu pukul 08.00 wib sampai dengan 16.00 wib dan tim penanggulangan keadaan darurat diluar jam dinas kerja yang bertanggung jawab terhadap kejadian darurat yang terjadi di luar jam dinas kerja yaitu pukul 16.00 wib sampai dengan 08.00 wib. Setiap tim terdiri dari komandan, kepala regu dan anggota regu. Pada tim penanggulangan keadaan darurat dalam jam dinas kerja terdapat anggota tim yang tetap yang berasal dari karyawan yang bekerja di area Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir. Sedangkan pada tim penanggulangan keadaan darurat diluar jam dinas kerja, anggota tim berasal dari karyawan yang bekerja di area Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir namun tidak tetap karena anggota tim berasal dari petugas operator dan satpam yang bekerja menurut shift kerja yang sudah ditetapkan.

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa setiap anggota tim sudah mengetahui tugasnya masing- masing yang pada saat melakukan latihan atau simulasi kebakaran juga sudah dijelaskan kembali. Selain itu setiap anggota tim juga sudah mendapatkan pelatihan penanggulangan keadaan darurat khususnya kebakaran sehingga pada saat kejadian yang sebenarnya diharapkan setiap anggota tim dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik lagi. Tim penanggulangan keadaan darurat selalu ditinjau sekali dalam setahun terutama jika terdapat anggota tim yang mengalami mutasi kerja. Ada atau

(24)

tersebut, hasil dari tinjauan tersebut akan langsung dilaporkan ke pihak depnaker. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang pertama yaitu komandan tim penaggulangan keadaan darurat, yang berkata:

“Semua anggota sudah diberitahu tugasnya masing-masing; Semua sudah terlatih bahkan karyawan yang bukan bagian dari tim juga sudah terlatih;Kalau itu biasanya ada sehubungan dengan pergantian pelaksana/ pegawai itu sendiri jadi akan disampaikan dan disetujui Depnaker, itu dilakukan sekali setahun ada/ tidak ada perubahan oleh ahli K3 bekerjasama dengan supervisor K3 dan Umum”.

Menurut data sekunder yang diperoleh, adapun tugas dan tanggung jawab dari tim penanggulangan keadaan darurat, baik dalam jam dinas kerja maupun diluar jam dinas kerja, antara lain:

1. Komandan

a. Memerintahkan dan mengkoordinir dengan segera semua regu untuk bertindak sesuai tugas masing-masing.

b. Memerintahkan untuk membunyikan tanda bahaya (alarm), paging dan lain- lain.

c. Membuat laporan.

d. Penyelidikan penyebab terjadinya kebakaran.

2. Regu Pemadam Api

a. Melaksanakan pemadaman api dengan cara yang benar.

3. Regu Penyelamat Personil

a. Memberikan pertolongan pada personil yang panik, kecelakaan atau terkurung api.

(25)

b. Kerja sama dengan regu P3K.

c. Bila tugas utama selesai, kemudian membantu regu pemadam api.

4. Regu Pengaman Area a. Menutup pintu gerbang.

b. Melarang orang masuk, kecuali dinas pemadam kebakaran, unsure keamanan dan pemimpin dan staff PLN Sektor Pembangkitan Medan dan Pembangkitan SUMBAGUT.

c. Bekerjasama dengan regu penyelamatan arsip.

d. Menjaga alat-alat/ dokumen yang diamankan.

e. Mengamankan tempat kejadian sampai batas waktu yang akan ditentukan kemudian. Hal ini untuk memudahkan pemeriksaan bekas-bekas kebakaran.

f. Jika keadaan memungkinkan, atas perintah komandan sebagai anggota regu pengaman area membantu regu pemadam api (terutama di luar jam kerja).

5. Regu Komunikasi Dan P3K a. Regu Komunikasi - Fire Alarm

Mendeteksi adanya kebakaran di suatu lokasi dengan menyalakan lampu indicator fire alarm di control room. Sumber deteksi bias dari detector asap atau tombol manual (dengan memecahkan kaca pelindungnya lebih dahulu).

- Paging

Informasikan dengan jelas dari lokal ke control room tentang adanya kebakaran.

(26)

- Telepon

Melaoporkan adanya kebakaran beserta lokasi terjadinya kebakaran dengan menggunakan pesawat telepon yang tersebar di seluruh bangunan.

b. Regu P3K

- Memberikan pertolongan pertama jika ada kecelakaan.

- Minta bantuan rumah sakit/ puskesmas bila diperlukan.

6. Regu Penanganan Tumpahan Dan Ceceran

a. Membersihkan area dari tumpahan dan ceceran.

b. Membersihkan area dari sisa pemadaman baik berupa cairan (air) atau yang berupa bahan kimia jenis tepung (powder) dan lain-lain.

c. Memastikan kondisi area telah steril dan melaorkan kondisi pada komandan TPKD.

Gambar 4.11. Tim Penanggulangan Keadaan Darurat Dalam Jam Dinas Kerja LokasiPLTG Dan Areal Kantor Paya Pasir

(27)

Gambar 4.12. Tim Penanggulangan Keadaan Darurat Diluar Jam Dinas Kerja Lokasi PLTG Dan Areal Kantor Paya Pasir

Penanggungjawab program tanggap darurat di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan adalah P2K3. Adapun tanggung jawab P2K3, sebagai berikut:

1. Ketua

a. Memimpin semua rapat pleno P2K3 atau menunjuk anggota untuk memimpin rapat pleno.

b. Menentukan langkah, policy demi terciptanya pelaksanaan program-program P2K3.

c. Mempertanggung jawabkan pelaksanaan K3 di perusahaan kepada Disnakertrans kabupaten/ kota setempat melalui pimpinan perusahaan.

d. Mempertanggung jawabkan program-program P2K3 dan pelaksanaannya kepada Manajer Sektor.

e. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program-program K3 di perusahaan.

(28)

2. Wakil Ketua

a. Sebagi wakil dari ketua dalam melaksanakan tugas-tugasnya apabila ketua berhalangan.

b. Membantu ketua dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

3. Sekretaris

a. Membuat undangan rapat dan notulen rapat P2K3.

b. Membuat agenda rapat P2K3.

c. Mengelola administrasi surat-surat P2K3.

d. Mencatat data-data yang berhubungan dengan K3.

e. Memberikan bantuan/ saran-saran yang diperlukan oleh seksi-seksi demi suksesnya program-program K3.

f. Membuat laporan ke Disnakertrans setempat dan instansi lain yang bersangkutan mengenai unsafe action dan unsafe condition di tempat kerja.

g. Memelihara dan mendistribusikan informasi terbaru mengenai peraturan perundangan K3 dan segala informasi mengenai K3.

4. Wakil Sekretaris

a. Sebagai wakil dari sekretaris dalam melaksanakan tugas-tugasnya apabila sekretaris berhalangan.

b. Membantu sekretaris dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

5. Anggota

a. Melaksanakan program-program yang telah ditetapkan sesuai dengan seksi masing-masing.

b. Melaporkan kepada ketua atas kegiatan yang telah dilaksanakan.

(29)

4.4.2.Prosedur Tanggap Darurat

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan sudah terdapat prosedur tanggap darurat yang berisi langkah atau tahapan yang harus dilakukan ketika menghadapi kejadian darurat khususnya kebakaran. Hal ini berguna untuk mengurangi pengaruh yang mungkin ditimbulkan dari kejadian darurat khususnya kejadian kebakaran. Prosedur tersebut juga sudah diketahui oleh seluruh tenaga kerja di perusahaan karena prosedur tanggap darurat tersebut digunakan atau dilaksanakan pada saat latihan simulasi kebakaran. Pengujian terhadap prosedur juga dilakukan bertujuan untuk mengetahui keandalan prosedur tanggap darurat tersebut pada saat terjadi keadaan darurat khususnya kebakaran. Hal tersebut dilakukan oleh personil atau pihak terkait sesuai dengan peraturan perundangan.

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa dalam prosedur tanggap darurat terdapat koordinasi dengan beberapa pihak di luar perusahaan seperti pemadam kebakaran setempat, rumah sakit, kantor polisi bahkan dengan pihak kelurahan atau masyarakat setempat.

Prosedur tanggap darurat tersebut diuji dan ditinjau secara berkala setiap tahun terutama jika terdapat perubahan pada peralatan, proses ataupun bahan baku yang digunakan dalam proses produksi perusahaan. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang ke dua yaitu anggota tim komunikasi dan P3K, yang berkata:

(30)

“Ada dari damkar. Depnaker dan pihak kesehatan juga ada. Bahkan dari

kelurahan setempat atau dari masyarakatnya juga ada;Ditinjau setiap tahun;Semua yang bekerja di sini sudah dikasih tahu prosedurnya. Seluruh anggota tim akan bergerak langsung jika terjadi kebakaran sesuai dengan tugasnya”.

Menurut data sekunder yang diperoleh, adapun rincian prosedur tanggap darurat di PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan pada saat terjadi keadaan darurat, sebagai berikut:

1. Kejadian kebakaran dapat diketahui dengan cara sebagai berikut:

a. Visual atau langsung

b. Sirine atau alarm dari peralatan atau daerah yang mengalami kebakaran c. Sirine kebakaran yang dibunyikan dari control room atau kantor

d. Informasi melalui intercom atau paging 2. Jika terjadi kebakaran, segeralah:

a. Padamkan dengan APAR yang sesuai dengan jenis benda atau barang yang terbakar

b. Jika api semakin membesar dan tidak terkendali segera teriak “Kebakaran”

c. Cari bantuan untuk mengatasi sumber api

d. Beritahu komandan tim penanggulangan keadaan darurat (TPKD) tentang kejadian tersebut dan langkah yang sudah dilaksanakan

e. Tekan tombol “Alarm” untuk memberikan informasi kebakaran 3. Komandan TPKD harus mengambil tindakan segera sebagai berikut:

a. Menginformasikan kepada semua karyawan dan pihak terkait untuk kesiagaan dan mobilisasi usaha penaggulangan.

(31)

b. Mengaktifkan TPKD sesuai dengan tugas-tugasnya.

c. Melaksanakan evakuasi karyawan ke tempat-tempat berkumpul yang telah ditentukan sebelumnya.

4. Memandu Aparat keamanan dan Dinas Kebakaran terdekat (jika diperlukan) beserta peralatannya yang akan:

a. Membantu penanggulangan dan pengamanan instalasi.

b. Apabila usaha penanggulangan sudah selesai, bersihkan lokasi dari sisa-sisa kebakaran, terutama bahan-bahan B3, kemudian normalkan kembali pengoperasian unit atau peralatan lainnya dan amankan unit atau peralatan yang mengalami kebakaran.

4.4.3. Latihan Tanggap Darurat

Menurut hasil wawancara dengan komandan tim, anggota tim komunikasi dan P3K, anggota tim pengamanan area dan anggota tim pemadaman api dengan APAR, diperoleh informasi bahwa latihan tanggap darurat kebakaran sudah dilakukan di Kantor Sektor dan Pusat Listrik PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan.

Adapun latihan yang sudah pernah dilakukan antara lain: pemadaman api dengan menggunakan APAR dan hidran, simulasi kebakaran, dan evakuasi kebakaran yang dilakukan dua kali dalam setahun. Jenis simulasi kebakaran yang pernah dilakukan antara lain simulasi kebakaran tanpa pemberitahuan sebelumnya dan simulasi kebakaran dengan pemberitahuan sebelumnya. Seluruh karyawan di PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan ikut serta dalam pelatihan tanggap darurat kebakaran tersebut. Hal ini dilakukan agar seluruh karyawan terlatih dan siap

(32)

latihan tersebut juga ikut serta pihak dari dinas pemadam kebakaran, petugas kesehatan, Depnaker bahkan dari kelurahan atau masyarakat setempat. Latihan- latihan tersebut diberikan oleh pihak kesehatan dan pemadam kebakaran, baik berupa teori maupun praktek. Hal tersebut dapat terbukti dari ungkapan informan yang ke lima yaitu anggota tim pemadaman api dengan APAR, yang berkata:

”Ada latihan kebakaran, tiap tahun pasti ada itu; Memadamkan api pakai APAR, hidran, simulasi kebakaran; Semua ikut latihan; Kalau latihan itu dari damkar yang melatih kita disini. Cara pakai APAR sama hidran itu mereka lah yang latih”.

(33)

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Pelaksanaan Program Sarana Proteksi Aktif 5.1.1. Detektor Dan Alarm

Dalam pelaksanaan program sarana proteksi aktif, yaitu detektor dan alarm digunakan acuan dari Permenaker RI No.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik. Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program sarana proteksi aktif, yaitu detektor dan alarm ada beberapa ketentuan, antara lain rangkaian detektor dan alarm kebakaran atau yang disebut juga dengan fire system alarm harus berfungsi dengan baik, alarm kebakaran memiliki bunyi yang khusus dan dapat didengar dengan jelas di seluruh lokasi, setiap kelompok alarm kebakaran tidak lebih dari 20 detektor asap, dan seluruh instalasi alarm kebakaran otomatik harus dipelihara dan diuji secara berkala oleh petugas yang sudah diakui atau yang ditunjuk.

Berdasarkan acuan dari Permenaker RI No.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik, maka dapat diketahui bahwa rangkaian detektor dan alarm kebakaran atau fire system alarm di Kantor Sektor PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Rangkaian detektor dan alarm kebakaran atau fire system alarm di Kantor Sektor PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan sudah berfungsi dengan baik.

2. Alarm memiliki bunyi khusus yang menandakan adanya kebakaran dan bunyi

(34)

3. Setiap kelompok alarm kebakaran tidak lebih dari 20 detektor asap.

4. Seluruh instalasi alarm kebakaran dipelihara dan diuji berkala per triwulan yang dilakukan oleh Supervisor K3 dan Umum dibantu oleh Ahli K3.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“... kondisinya sudah baik; Ya, bunyinya dapat didengar dengan jelas; Ya,

dicek secara berkala per triwulan oleh supervisor K3 dan umum dibantu oleh ahli K3”. (I-1)

Selain itu dari data sekunder menyebutkan bahwa jumlah kelompok alarm di kantor sektor sebanyak 10 zona atau kelompok alarm yang terdiri dari 59 titik detektor asap yang setiap kelompok alarm terdiri dari lima sampai enam detektor asap sehingga dapat diketahui bahwa setiap kelompok alarm kebakaran tidak lebih dari 20 detektor asap.

Dari uraian pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program sarana proteksi kebakaran aktif, yaitu detektor dan alarm sudah sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Permenaker RI No.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik sehingga fungsi detektor dan alarm sebagai alat untuk mendeteksi pada mula kebakaran di Kantor Sektor dapat berjalan dengan baik.

5.1.2. APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

Dalam pelaksanaan program sarana proteksi aktif, yaitu APAR (Alat Pemadam Api Ringan) digunakan acuan dari Permenaker No. Per.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan.

Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program sarana proteksi

(35)

aktif, yaitu APAR ada beberapa ketentuan, antara lain jenis dan klasifikasi APAR harus sesuai dengan jenis kebakaran, APAR ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat, dicapai dan diambil, terdapat tanda pemasangan APAR, terdapat petunjuk cara pemakaian yang dapat dibaca dengan jelas, APAR dengan berat kurang dari 18,14 kg dipasang menggantung di dinding atau dalam lemari yang tidak dikunci dan APAR dengan berat di atas 18,14 ditempatkan pada sekang beroda, tidak berlubang atau cacat karena karat dan diperiksa dua kali dalam setahun (dalam jangka 6 bulan atau 12 bulan).

Berdasarkan acuan dari Permenaker No. Per.04/MEN/1980 tentang Syarat- Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan, maka dapat diketahui bahwa APAR di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Jenis dan klasifikasi APAR sudah sesuai dengan jenis kebakaran yang kemungkinkan terjadi. APAR yang digunakan adalah jenis foam atau busa, karbondioksida dan tepung yang merupakan APAR untuk kebakaran yang diakibatkan oleh bahan cair seperti bensin dan oli, gas dan alat-alat listrik bertegangan seperti yang terdapat pada perusahaan.

2. APAR ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat, mudah dicapai dan mudah diambil serta tidak terhalang oleh benda lain.

3. Tanda pemasangan APAR juga ada pada masing-masing APAR berupa segi tiga dengan warna dasar merah.

4. Terdapat petunjuk cara pemakaian pada setiap APAR dapat dibaca dengan jelas

(36)

5. APAR dengan bobot kurang dari 18,14 kg ditempatkan menggantung di dinding dengan penguatan sekang besi dan APAR dengan bobot lebih dari 18,14 kg ditempatkan pada sekang beroda.

6. Kondisi tabung APAR juga dalam keadaan baik, yaitu tidak berlubang dan tidak ada cacat karena karat.

7. Pemeriksaan masing-masing APAR dilakukan berkala setiap semester atau enam bulan sekali oleh pihak ke 2 dengan dipantau Supervisor K3 Umum dan dibantu oleh Ahli K3. Pemeliharaan dilakukan setiap bulan oleh Supervisor K3 Umum dan dibantu oleh Ahli K3.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“Semua sesuai lah, sudah ada standarnya; Mudah dilihat dan dicapai; Tanda

pemasangan ada semuanya; Cara pemakaian ada di tabung, kita juga sudah diajarkan caranya; Ada yang digantung, ada juga yang pakai roda;Baik, semuanya masih baik; Tiap bulan ada pemeriksaan dari K3”

Dari uraian pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program sarana proteksi kebakaran aktif, yaitu APAR sudah sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Permenaker No. Per.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan sehingga APAR dapat berfungsi dengan baik dan siap digunakan kapan saja sebagai alat pemadam pada awal mula terjadinya kebakaran.

5.1.3.Hidran

Dalam pelaksanaan program sarana proteksi aktif, yaitu hidran digunakan acuan dari Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan

(37)

Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program sarana proteksi aktif, yaitu hidran ada beberapa ketentuan, antara lain terdapat kelengkapan hidran seperti selang, sambungan selang, kepala selang dan keran pembuka, kotak hidran mudah dilihat, dibuka dan dijangkau serta tidak terhalang benda lain, seluruh komponen hidran diperiksa minimal setahun sekali, hidran mampu mengalirkan air minimal 30 menit dan dilakukan pengujian simulasi pompa kebakaran.

Berdasarkan acuan dari Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan, maka dapat diketahui bahwa hidran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Kelengkapan hidran seperti selang, sambungan selang, kepala selang, dan keran pembuka sudah tersedia pada masing-masing hidran yang tersusun rapi di dalam kotak hidran.

2. Hidran dan kotak hidran ditempatkan di tempat yang mudah dilihat, dibuka, mudah dicapai dan tidak terhalang benda lain.

3. Seluruh komponen hidran diperiksa setiap bulan oleh bagian pemeliharaan perusahaan sehingga kondisinya dapat dipastikan selalu dalam keadaan siap pakai. Sumber persediaan air hidran yang disebut bak tempat penampungan air juga diperiksa secara berkala setiap minggu oleh bagian keamanan perusahaan sehingga jumlah air dapat dipastikan selalu cukup.

4. Hidran mampu mengalirkan air lebih dari 30 menit.

(38)

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“Sudah lengkap semua karena rutin kita periksa; Kotak hidran mudah dilihat

dengan jelas dan tidak ada benda atau barang-barang yang menghalangi; Seluruh komponen diperiksa rutin setiap bulan; Ya, bahkan lebih; Simulasi selalu dilakukan rutin minimal dua kali dalam setahun”.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program sarana proteksi kebakaran aktif, yaitu hidran sudah sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran Di Perkotaan sehingga hidran dapat berfungsi dengan baik dan dapat digunakan sebagai tempat untuk mendapatkan sumber air untuk melakukan pemadaman kebakaran.

5.2. Pelaksanaan Program Sarana Penyelamatan Jiwa 5.2.1. Tempat Berhimpun

Dalam pelaksanaan program sarana penyelamatan jiwa, yaitu tempat berhimpun digunakan acuan dari Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program sarana penyelamatan jiwa, yaitu tempat berhimpun ada beberapa ketentuan, antara lain terdapat petunjuk tempat berhimpun yang terlihat dengan jelas, luas tempat berhimpun sesuai dengan jumlah pekerja, tempat berhimpun aman dan terhindar dari bahaya kebakaran dan bahaya lainnya.

Berdasarkan acuan dari Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan

(39)

Lingkungan, maka dapat diketahui bahwa tempat berhimpun di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Tempat berhimpun sudah dilengkapi dengan tanda petunjuk tempat berhimpun yang dapat dilihat dengan jelas.

2. Luas masing-masing tempat berhimpun tersebut sudah sesuai dengan jumlah pekerja yang terdapat di perusahaan.

3. Letak tempat berhimpun sudah aman dan juga langsung berhubungan dengan jalan besar serta terhindar dari bahaya kebakaran dan bahaya lainnya.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“Ada dan bisa dilihat jelas;Sudah sesuai lah kalau menurut saya, tempatnya

bisa dibilang luas juga; Aman, kan jaraknya cukup berjauhan dari tempat yang terbakar”.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program sarana penyelamatan jiwa, yaitu tempat berhimpun sudah sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan sehingga tempat berhimpun aman digunakan sebagai tempat berkumpul saat evakuasi pada keadaan darurat atau kebakaran.

5.3. Pelaksanaan Program Manajemen Penanggulangan Keadaan Darurat 5.3.1. Organisasi Tanggap Darurat

Dalam pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat,

(40)

KEP.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu organisasi tanggap darurat ada beberapa ketentuan, antara lain setiap anggota organisasi sudah mengetahui tugas masing- masing, setiap anggota organisasi sudah terlatih dan dilakukan peninjauan terhadap organisasi tanggap darurat.

Berdasarkan acuan dari Kepmen No. KEP.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, maka dapat diketahui bahwa organisasi tanggap darurat di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Setiap anggota tim penanggulangan keadaan darurat sudah mengetahui tugasnya masing-masing.

2. Setiap anggota tim penanggulangan keadaan darurat sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan penanggulangan keadaan darurat terutama kebakaran.

3. Tim penanggulangan keadaan darurat selalu ditinjau sekali dalam setahun terutama jika terdapat anggota tim yang mengalami mutasi kerja.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“Sudah tahu karena sudah dipraktekkan juga saat latihan; Semua sudah dilatih minimal satu atau dua kali dalam setahun; Ya, peninjauan rutin dilakukan setiap tahun, siapa tahu ada anggota yang pindah tugas jadi langsung diganti”. (I-2)

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu organisasi tanggap darurat sudah

(41)

sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Kepmen No. KEP.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja sehingga organisasi tanggap darurat dapat bekerja dengan baik dalam mengantisipasi dan menanggulangi kebakaran di Kantor Sektor maupun di Pusat Listrik Paya Pasir.

5.3.2. Prosedur Tanggap Darurat

Dalam pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu prosedur tanggap darurat digunakan acuan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu prosedur tanggap darurat ada beberapa ketentuan, antara lain terdapat koordinasi dengan pihak pemadam kebakaran setempat, prosedur tanggap darurat ditinjau secara berkala terutama bila terdapat perubahan pada peralatan, proses atau bahan baku yang digunakan perusahaan dan prosedur tanggap darurat diketahui oleh seluruh karyawan.

Berdasarkan acuan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, maka dapat diketahui bahwa prosedur tanggap darurat di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Dalam prosedur tanggap darurat terdapat koordinasi dengan beberapa pihak pemadam kebakaran setempat. Selain itu terdapat juga koordinasi dengan pihak lain seperti rumah sakit, kantor polisi serta pihak kelurahan setempat.

(42)

2. Prosedur tanggap darurat tersebut diuji dan ditinjau secara berkala setiap tahun terutama jika terdapat perubahan pada peralatan, proses ataupun bahan baku yang digunakan dalam proses produksi perusahaan. Pengujian dilakukan bertujuan untuk mengetahui keandalan prosedur tanggap darurat tersebut pada saat terjadi keadaan darurat khususnya kebakaran. Hal tersebut dilakukan oleh personil atau pihak terkait sesuai dengan peraturan perundangan.

3. Prosedur tersebut sudah diketahui oleh seluruh karyawan di perusahaan karena pada saat latihan simulasi kebakaran digunakan prosedur tanggap darurat tersebut.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“Ada kerjasama dengan pemadam kebakaran; Ditinjau berkala tapi setahu saya belum ada perubahan kalau prosedunya; Setiap karyawan di sini sudah tahulah prosedurnya. Seluruh tim langsung bekerja sesuai tugas masing2 dan dibantu karyawan lain yang tidak masuk dalam tim”. (I-4)

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu prosedur tanggap darurat sudah sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja sehingga setiap karyawan sudah tahu prosedur atau langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi keadaan darurat atau kebakaran.

5.3.3. Latihan Tanggap Darurat Kebakaran

Dalam pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu latihan tanggap darurat kebakaran digunakan acuan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen

(43)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dalam acuan tersebut dikatakan bahwa dalam pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu latihan tanggap darurat kebakaran ada beberapa ketentuan, antara lain terdapat latihan penaggulangan kebakaran minimal sekali dalam setahun dan pelatihan dilakukan oleh orang atau badan yang berkompeten dan berwenang.

Berdasarkan acuan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, maka dapat diketahui bahwa latihan tanggap darurat kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik Paya Pasir PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan, adalah sebagai berikut:

1. Melakukan latihan penanggulangan kebakaran minimal sekali dalam setahun dan latihan evakuasi kebakaran yang diikuti seluruh tenaga kerja. Latihan-letihan yang sudah dilaksanakan antara lain latihan pemadaman api dengan menggunakan APAR dan hidran, simulasi kebakaran tanpa pemberitahuan sebelumnya dan simulasi kebakaran dengan pemberitahuan sebelumnya serta evakuasi kebakaran.

2. Latihan-latihan tersebut diberikan oleh pihak kesehatan dan pemadam kebakaran, baik berupa teori maupun praktek.

Hal ini dapat dilihat pada salah satu kutipan pernyataan informan berikut:

“Selalu ada latihan setiap tahun, minimal satu kali; Latihan pemadam kebakaran, cara penggunaan hidran dan APAR, simulasi kebakaran; Seluruh tim dan pegawai. Di luar pegawai kita undang kelurahan setempat, masyarakat, depnaker dan damkar; Damkar yang memberi latihan”. (I-2)

(44)

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat, yaitu latihan tanggap darurat kebakaran sudah sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja sehingga karyawan khususnya tim penanggulangan keadaan darurat di Kantor Sektor maupun Pusat Listrik Paya Pasir sudah terlatih menghadapi kebakaran.

(45)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Pelaksanaan program tanggap darurat kebakaran sudah sesuai dengan peraturan pemerintah yang digunakan perusahaan sebagai acuan. Pelaksanaan program tersebut, antara lain:

1. Pelaksanaan program sarana proteksi kebakaran aktif seperti detektor dan alarm sudah sesuai dengan ketentuan dalam Permenaker RI No.02/MEN/1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik, APAR sudah sesuai dengan ketentuan dalam Permenaker No. Per.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan dan hidran sudah sesuai dengan ketentuan dalam Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

2. Pelaksanaan program sarana penyelamatan jiwa, yaitu tempat berkumpul sudah sesuai dengan ketentuan dalam Kepmen PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

3. Pelaksanaan program manajemen penanggulangan keadaan darurat seperti organisasi tanggap darurat sudah sesuai dengan ketentuan dalam Kepmen No.

KEP.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja,

(46)

dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

6.2. Saran

Pelaksanaan program tanggap darurat kebakaran di Kantor Sektor dan Pusat Listrik PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan yang saat ini sudah sesuai dengan peraturan pemerintah yang digunakan perusahaan sebagai acuan dalam pelaksanaan program tanggap darurat kebakaran, tetap dipertahankan bahkan semakin ditingkatkan, baik yang menyangkut sarana serta sumber daya manusia yang ikut berperan dalam pelaksanaan program tanggap darurat kebakaran tersebut agar tetap tercipta lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi seluruh karyawan.

Gambar

Tabel 4.1. Kapasitas Dasar Terpasang PLTG Paya Pasir
Gambar 4.1. GPP Unit 4 Alsthom
Gambar 4.3. Struktur Organisasi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Medan 4.1.5. Identifikasi Potensi Keadaan Darurat Kebakaran
Tabel 4.2. Sumber Potensi Kebakaran Di Bidang Operasi Unit Paya Pasir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kerangka pemikiran penelitian ini adalah rumah sakit sebagai suatu instansi yang tidak terlepas dari bencana yang dapat mengakibatkan keadaan darurat seperti kebakaran,

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menyusun rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan) untuk tiap keadaan darurat..

Dengan adanya perubahan paradigma penanggulangan bencana dari penekanan terhadap aspek tanggap darurat kepada penekanan secara holistik manajemen resiko bencana,

a) Perusahaan hams menyediakan peralatan penyelamatan yang dibutuhkan sesuai dengan kemungkinan keadaan darurat yang dapat terjadi. b) Perusahaan harus menyediakan sistem

Pada penelitian ini, peneliti akan terjun langsung untuk mengamati keadaan yang terjadi dan melakukan wawancara kepada narasumber yang menjadi fokus penelitian yang

Apa saja alternatif kebijakan yang efektif dalam Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan pada masa tanggap darurat akibat erupsi Gunung

DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT TH 2015 PENANGANAN TANGGAP DARURAT BENCANA KEKERINGAN BERUPA KEKURANGAN AIR BERIH, AIR MINUM DAN KEBAKARAN

Peneliti dapat menarik kesimpulan dari hasil penelitian bahwa Evaluasi pelaksanaan tanggap darurat bencana cuaca ekstrem di Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat menurut teori yang