• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

A. Teori Hirarki Kebutuhan (Hierarchy of Needs Theory)

Teori hirarki kebutuhan dikemukakan oleh Abraham Maslow pada tahun 1970 dan tahun 1971 (revisi). Teori hirarki kebutuhan menyatakan bahwa manusia memiliki 5 macam kebutuhan yaitu : kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan akan rasa aman (safety and security needs), kebutuhan akan rasa kasih sayang dan memiliki/ kebutuhan bersosialisasi (love, affection, being a part of group), kebutuhan akan harga diri (esteem needs), kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualization). Kebutuhan-kebutuhan tersebut biasa ditampilkan dalam bentuk piramida dengan kebutuhan paling dasar adalah kebutuhan fisiologis di dasar piramida dan aktualisasi diri ada di puncak piramida.

Gambar 2.1

Piramida Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow

(2)

Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk menvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Teori ini menjelaskan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki mulai dari yang paling rendah (besifat dasar/fisiologis) sampai tingkat paling tertinggi (aktualisasi diri).

Pada diri manusia ada sejumlah kebutuhan dasar, kebutuhan asasi yang mau tidak mau harus dipenuhi, sehingga manusia terdorong untuk mencari jalan (upaya) memenuhi kebutuhannya jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lainnya yang memiliki tingkatan lebih tinggi untuk dipenuhi. Seseorang dengan kebutuhan dasar (fisiologi) telah terpenuhi maka baru akan memiliki waktu dan energi untuk menekuni minat dan intelektual (Abdul Ghoni, 2012).

Begitu pula dengan Wajib Pajak, jika kebutuhan dasar, perlindungan, keamanan, dan kebutuhan akan harga diri seorang Wajib Pajak telah terpenuhi maka Wajib Pajak baru akan memenuhi kebutuhan lainnya guna menunjukan aktualisasi diri sebagai bukti bahwa telah berada dipuncak kebutuhan, atau dengan cara mencurahkan semua sumber daya terbaiknya untuk menjadi seorang Wajib Pajak yang patuh yang memenuhi semua kewajiban perpajakannya.

B. Teori Atribusi (Atribution Theory)

Teori atribusi menjelaskan bagaimana upaya orang-orang dalam memahami penyebab-penyebab perilaku mereka dan orang lain (Weiner 1985, 1992, 2000, 2004) atau mendeskripsikan perilaku seseorang dan coba menggali pengetahuan mengapa mereka berperilaku seperti itu (Psikologzone : 07/04/2013). Kepatuhan

(3)

pada setiap Wajib Pajak memiliki keterkaitan erat dengan bagaimana penilaian mereka terhadap pajak dan apa saja penyebab-penyebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi Wajib Pajak dalam menjadi Wajib Pajak Patuh.

Teori ini sangat relevan untuk menerangkan mengenai apa yang menyebabkan sikap patuh seorang Wajib Pajak karena teori ini menjelaskan mengenai persepsi seseorang untuk membuat penilaian terhadap orang lain atau sesuatu yang dipengaruhi oleh kondisi internal maupun eksternal. Respon yang diberikan seseorang pada suatu peristiwa bergantung pada interprestasi orang tersebut tentang peristiwa itu (Harold Kelley, 1972-1973 dalam Fikriningrum, 2012)

Salah satu penelitian yang telah menggunakan dasar teori atribusi adalah penelitian mengenai pengaruh penerapan struktur pengendalian intern terhadap kepatuhan Wajib Pajak badan di Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Kiryanto (2000). Dalam penelitian Kiryanto (2000) ini variabel bebas yang digunakan adalah lingkungan pengendalian, sistem akuntansi dan prosedur pengendalian, sedangkan variabel terikat yang digunakan adalah kepatuhan Wajib Pajak. Dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua variabel bebas (lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur pengendalian) memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial maupun simultan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.

Alasan pemilihan teori ini adalah kepatuhan Wajib Pajak dalam menyampaikan SPT Tahunan dan memenuhi kewajiban perpajakannya berkaitan

(4)

erat dengan interprestasi Wajib Pajak terhadap pajak itu sendiri. Dan juga faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi interprestasi Wajib Pajak terhadap Pajak.

C. Pengertian Pajak 1. Definisi Pajak

Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan peraturan undang-undang (sehingga dapat dipaksakan) dengan tidak secara langsung mendapat balasan jasa. Pajak dipungut berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.

Rochmat Soemitro (2005) menjelaskan bahwa unsur “dapat dipaksakan”

artinya bahwa bila hutang pajak tidak dibayar, maka utang pajak tersebut dapat ditagih dengan menggunakan kekerasan seperti mengeluarkan surat paksa dan melakukan penyitaan bahkan bisa dengan melakukan penyandraan. Sedangkan terhadap pembayaran pajak tersebut tidak dapat ditunjukan jasa timbal-balik tertentu, seperti halnya retribusi.

Sehingga pajak merupakan hak prerogatif pemerintah, iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (Wajib Pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balasan jasa yang dapat ditunjukan secara langsung berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(Maksum, 2009)

(5)

Untuk mengetahui apa arti pajak lebih lanjut, dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum pajak Santoso Brotodiharjo (2010). mengemukakan beberapa pendapat para pakar mengenai definisi pajak, beberapa diantaranya sebagai berikut :

Definisi pajak menurut Soeparman Soemahamidjaja (1964), Pajak adalah:

“Iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang- barang dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum”.

Beliau juga mencantumkan istilah iuran wajib dengan harapan terpenuhinya ciri bahwa pajak dipungut dengan bantuan dan kerja sama dengan Wajib Pajak, sehingga perlu dihindari istilah “paksaan”. Lalu beliau berpendapat terlalu berlebihan jika khusus mengenai pajak ditekankan pentingnya unsur paksaan karena dengan mencantumkan unsur paksaan seakan-akan tidak ada kesadaran masyarakat untuk melakukan kewajibannya.

Menurut Rochmat Soemitro dalam Aga Vanesha (2013: 11), pajak adalah:

“Iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontra-prestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan digunakan untuk pengeluaran umum”.

Definisi pajak menurut M.J.H Smeets (1951), pajak adalah:

“Prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dan dapat dipaksakan, tanpa adanya kontra-prestasi yang dapat ditunjukan dalam hal yang individual: maksudnya adalah untuk membiayai pemerintah”.

Pengertian pajak lainnya menurut (Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., dan Brock Horace R dalam Aga Vanesha 2013:11), Pajak adalah :

“Suatu pengalihan sumber daya dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas- tugasnya untuk menjalankan pemerintahan”.

(6)

Pengertian pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No.6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No.28 Tahun 2007 adalah :

“Kontribusi wajib kepada negara yang terhutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Terdapat juga pengertian pajak lainnya seperti pajak adalah “Suatu sumbangan yang bersifat wajib kepada pemerintah yang dibuat dengan undang- undang tertentu yang manfaatnya diterima oleh wajib pajak” (Goode 1084:75).

Dari beberapa pengertian pajak diatas dapat diambil beberapa karakteristik mengenai pajak, yaitu:

1. Merupakan iuran rakyat kepada kas negara yang ketentuannya diatur oleh undang-undang dan norma-norma hukum.

2. Manfaatnya atau jasa timbal balik (kontra-prestasi) dari pembayaran pajak tidak dapat langsung dirasakan.

3. Pajak yang dipungut pemerintah digunakan untuk menutup biaya produksi barang dan jasa kolektif, pengeluaran umum guna mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

4. Pajak merupakan hak prerogatif pemerintah.

5. Pajak merupakan sumbangan yang bersifat wajib (dapat dipaksakan) kepada pemerintah.

6. Pemungutan pajak bersifat dapat dipaksakan, dapat dipaksakan berarti bila hutang pajak tidak dibayar, maka utang pajak tersebut dapat ditagih dengan menggunakan kekerasan seperti mengeluarkan surat paksa dan melakukan penyitaan bahkan bisa dengan melakukan penyandraan.

(7)

2. Jenis-jenis Pajak

Pajak dapat digolongkan berdasarkan jenis-jenisnya, antara lain:

1. Jenis pajak berdasarkan golongannya, dibedakan menjadi:

a. Pajak Langsung

Yaitu pajak yang dikenakan kepada Wajib Pajak setelah muncul atau terbit surat pemberitahuan (SPT) pajak atau kohir yang dikenakan berulang-ulang kali dalam jangka waktu tertentu. Contoh dari pajak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak kendaraan bermotor.

b. Pajak Tidak Langsung

Yaitu pajak yang dikenakan kepada Wajib Pajak pada saat tertentu atau terjadi suatu peristiwa kena pajak. Contoh dari pajak tidak langsung adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

2. Jenis Pajak berdasarkan lembaga pemungutnya, dibedakan menjadi:

a. Pajak Daerah

Yaitu pajak yang dipungut oleh daerah provinsi, dan kota atau kabupaten berdasarkan peraturan daerahnya digunakan untuk membiayai belanja rumah tangga daerah. Contoh dari pajak daerah adalah Pajak reklame, pajak jalan, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), iuran kebersihan, dan retribusi parkir, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

(8)

b. Pajak Negara

Yaitu pajak yang dipungut pemerintah pusat berdasarkan peraturan yang berlaku yang hasilnya digunakan untuk pembiayaan belanja rumah tangga negara. Contoh dari pajak negara adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai(PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Bea Materai, Bea Lelang, pajak yang dipungut bea dan cukai.

3. Jenis pajak berdasarkan sifatnya, dibedakan menjadi:

a. Pajak Subjektif

Yaitu pajak yang memperhatikan keadaan pribadi Wajib Pajak dalam penetapan pajaknya. Dalam hal ini penentuan dalam besarnya pajak harus ada alasan objektif yang berhubungan erat dalam kemampuan membayar wajib pajak/sipembayar pajak. Contoh dari pajak subjektif adalah Pajak Penghasilan (PPh).

b. Pajak Obyektif

Yaitu pajak yang pemungutannya dinilai berdasarkan obyektifitasnya dan tanpa memerhatikan keadaan pribadi Wajib Pajak. Contoh dari pajak obyektif adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak atas Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

(9)

3. Fungsi Pajak

Menurut Remsky K. Judisseno (1997:5) dalam Aga Vanesa (2013) Pajak memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara khususnya didalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara guna untuk membiayai semua pengeluaran negara termasuk pengeluaran pembangunan dan pengeluaran rutin yang pelaksanaannya diatur dalam undang- undang dan peraturan-peraturan untuk tujuan kesejahteraan dan negara.

Berdasarkan hal tersebut maka pajak memiliki beberapa fungsi, yaitu:

a. Fungsi Anggaran (budgetair)

Sebagai salah satu sumber utama pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai semua pengeluaran-pengeluaran negara, untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan juga melaksanakan pembangunan negara membutuhkan biaya. Biaya ini diperoleh dari penerimaan pajak (Mardiasmo 2008:1). Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan terutama diharapkan dari sektor pajak.

b. Fungsi Mengatur (regulerend)

Pemerintah dapat mengatur pertumbuhan ekonomi atau melaksanakan kebijakan dibidang ekonomi dan sosial melalui kebijakan pajak. Dengan

(10)

fungsi mengatur, pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Contohnya dalam rangka mengiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak.

Dalam rangka melindungi produksi-produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk tinggi untuk produk luar negeri. Contoh lainnya dikenakannya pajak tinggi terhadap minuman keras, sehingga konsumsi minuman keras dapat ditekan, demikian juga terhadap barang mewah.

c. Fungsi Stabilitas (stability)

Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara mengatur peredaran uang di masyarakat, melakukan pemungutan pajak, penggunaan pajak secara efektif dan efisisen.

d. Fungsi Distribusi atau Pemerataan (distribution)

Para Wajib Pajak diwajibkan untuk membayar pajak, pajak tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan dalam segala bidang. Pemakaian pajak untuk biaya pembangunan tersebut harus merata ke seluruh pelosok tanah air agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmatinya bersama.

D. Pajak Penghasilan Pasal 21

Pajak penghasilan pasal 21 adalah pajak penghasilan yang dipotong oleh pemberi kerja atas penghasilan yang dibayarkan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan yang dilakukan berdasarkan ketentuan pasal 21 Undang-Undang Nomor 7 Tahun

(11)

1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 1, “Pajak penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak”.

Berdasarkan UU PPh Pasal 4 ayat (1), Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Wajib Pajak Orang Pribadi merupakan sumber potensi perpajakan yang penting dalam suatu sistem perpajakan, karena Wajib Pajak Orang Pribadi merupakan pelaku utama dalam sistem perekonomian suatu negara.

Oleh karena itu, cara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengelola potensi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam usahanya meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak penghasilan seharusnya menjadi perhatian utama dalam membuat suatu kebijakan perpajakan. Subjek pajak penghasilan pasal 21 adalah penerima penghasilan yang dipotong PPh pasal 21, terdiri atas pegawai yang memperoleh penghasilan dari pemberi kerja secara berkala, penerima pensiun, penerima honorarium, penerima upah, dan orang pribadi yang memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan dari pemotong pajak.

1. Tarif Pajak Penghasilan

Berdasarkan pada ketentuan Undang-undang nomor 36 tahun 2008 Pasal 17 ayat 1 (a) dan (b), besarnya tarif pajak penghasilan yang ditetapkan atas penghasilan kena pajak adalah sebagai berikut, bagi:

(12)

(a) Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000,00

(lima puluh juta rupiah)

5%

(lima persen) Di atas Rp 50.000.000,00 (lima

puluh juta rupiah) sampai dengan Rp.

250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah)

15%

(lima belas pesen)

Di atas Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

25%

(dua puluh lima persen)

Di atas Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

30%

(tiga puluh persen)

(b). Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah sebesar 28% (dua puluh delapan pesen) sebagaimana telah diubah menjadi 25% (dua puluh lima persen) yang mulai berlaku pada tahun 2010.

E. Pengertian Wajib Pajak

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang memiliki hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku (UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 Ayat (2)). Wajib Pajak dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Wajib Pajak Orang Pribadi

Wajib Pajak Orang Pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan diatas pendapatan tidak kena pajak. Di Indonesia, setiap orang

Sumber : Undang-undang lengkap tahun 2011

(13)

wajib mendaftarkan diri dan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), kecuali hal-hal ditentukan di dalam Undang-Undang.

2. Wajib Pajak Badan

Wajib Pajak Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha yang maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Komanditer, dan Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, Firma, kongsi, Koperasi, Dana Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Organisasi Massa, Organisasi Politik, atau Kontra Kolektif dan Bentuk Usaha Tetap (BUT).

3. Wajib Pajak Bendaharawan

Wajib Pajak Bendaharawan adalah Bendaharawan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau Lembaga Pemerintah, Lembaga Negara Lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Luar Negeri, yang membayar gaji, upah, tunjangan, honorium, dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan (Muljono:2008).

Berdasarkan undang-undang No.6 tahun 1983 tentang ketentuan umum serta tata cara perpajakan sebagaimana terakhir telah diubah dengan undang-undang No.16 tahun 2009, terdapat hak dan kewajiban Wajib Pajak, yaitu sebagai berikut:

1. Kewajiban Wajib Pajak

a) Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.

(14)

Ketentuan Pasal 2 UU KUP menegaskan bahwa setiap WP wajib mendaftarkan diri pada Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan diberikan kepadanya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sesuai dengan sistem self assessment. Dalam rangka program extensifikasi, bagi Wajib Pajak yang tidak (belum) mendaftarkan diri namun Wajib Pajak tersebut telah memenuhi syarat untuk memiliki NPWP maka akan diberikan NPWP secara jabatan. Apabila kepada Wajib Pajak telah diberikan NPWP secara jabatan, maka telah mengugurkan kewajiban Wajib Pajak untuk mendaftarkan diri. Pendaftaran NPWP saat ini lebih mudah bagi Wajib Pajak karena dapat dilakukan melalui e-register, yaitu suatu cara pendaftaran NPWP melalui media elektronik on-line (internet) Nomor Pokok Wajib Pajak adalah suatu sarana yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. Selain itu NPWP digunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan.

b) Wajib Pajak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Sementara itu, khusus terhadap Wajib Pajak yang harus menjadi pengusaha yang memiliki kewajiban PPN berdasarkan UU PPN, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Fungsi pengukuhan PKP selain dipergunakan untuk

(15)

mengetahui identitas Pengusaha Kena Pajak tesebut, namun juga berguna untuk melaksanakan hak dan kewajiban di bidang PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) serta untuk pengawasan administrasi perpajakan.

c) Mengambil Surat Pemberitahuan (SPT) di tempat yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam rangka pelayanan dan memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak, formulir Surat Pemberitahuan disediakan pada kantor-kantor dilingkungan DJP dan tempat-tempat yang ditentukan DJP yang diperkirakan mudah terjangkau oleh Wajib Pajak. Bahkan saat ini ada aplikasi e-SPT yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak guna lebih mempermudah Wajib Pajak dalam melaporkn SPT nya. Dengan adanya aplikasi ini selain menghindari pemborosan penggunaan kertas penyampaian SPT dapat dilakukan secara cepat dan aman karena lampiran dalam bentuk media CD, Wajib Pajak tidak perlu datang langsung untuk mengambil formulir SPT ke kantor DJP, data yang disampaikan Wajib Pajak selalu lengkap karena penomoran formulir dengan sistem komputerisasi, serta sistem aplikasi e-SPT dapat mengorganisasikan data perpajakan dengan baik dan sistematis.

d) Wajib membayar atau menyetor pajak yang terhutang ke kas negara melalui Kantor Pos dan atau Bank Persepsi.

Kewajiban Wajib Pajak untuk membayar atau menyetorkan pajak yang terhutang dilakukan pada kas negara melalui kantor pos dan/atau Badan

(16)

Usaha Milik Negara atau Bank badan Milik Daerah atau tempat pelayanan lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat (1) UU KUP. Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terhutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya Surat Ketetapan Pajak.

e) Wajib menyelenggarakan pembukuan dan pencatatan.

Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak Badan di Indonesia diwajibkan membuat pembukuan sesuai dengan ketentuan Pasal 28 ayat (1) UU KUP.

Sementara pencatatan dilakukan Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang diperbolehkan menghitung penghasilan neto dan Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

f) Dalam hal terjadi pemeriksaan pajak, Wajib Pajak Wajib:

 Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, dan kegiatan bebas.

 Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan.

 Memberikan keterangan yang diperlukan.

g) Kewajiban melakukan pemotongan atau pemungutan pajak

(17)

Kewajiban melakukan pemotongan atau pemungutan pajak ini dilakukan WP terhadap pihak lain dalam rangka melaksanakan ketentuan UU PPh, seperti Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 25 serta ketentuan UU PPN.

Pajak yang telah dipotong dan dipungut tersebut disetorkan kepada kas negara melalui bank atau tempat pelayanan lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

h) Kewajiban membuat faktur Pajak

Setiap Pengusaha Kena Pajak (PKP) wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP).

i) Kewajiban melunasi Bea Materai

Dalam UU bea Materai No.13 Tahun 1985 disebutkan bahwa Bea Materai merupakan pajak yang dikenakan atas dokumen.

2. Hak Wajib Pajak

a) Hak atas kelebihan membayar pajak.

Apabila dalam hal pajak yang terhutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih kecil dari jumlah kredit pajak, atau dengan kata lain pembayaran pajak yang dipotong atau dipungut lebih besar dari yang seharusnya terhutang, maka Wajib Pajak memiliki hak untuk mendapatkan kembali kelebihan atas pembayaran tersebut. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat diberikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap. Untuk Wajib Pajak dalam kriteria Wajib Pajak Patuh, pengembalian kelebihan pembayaran pajak dapat dilakukan paling lambat 3 (tiga) bulan untuk PPh dan 1 bulan

(18)

untuk PPN sejak permohonan diterima dan pengembalian bagi Wajib Pajak yang termasuk dalam kriteria Wajib Pajak Patuh dilakukan tanpa pemeriksaan. Wajib Pajak dapat melakukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak melalui dua cara, yaitu:

1. Melalui Surat Pemberitahuan (SPT)

2. Dengan mengirimkan surat permohonan yang ditunjukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

Apabila Direktorat Jenderal Pajak terlambat mengembalikan kelebihan pembayaran yang semestinya dilakukan, maka Wajib Pajak berhak menerima bunga 2% per bulan maksimum 24 bulan.

b) Hak dalam hal Wajib Pajak dilakukan pemeriksaan.

Direktorat Jederal Pajak dapat melakukan pemeriksaan dengan tujuan menguji kepatuhan Wajib Pajak dan tujuan lain yang ditetapkan oleh Direktorat Jederal Pajak. Dalam hal dilakukan pemeriksaan, Wajib Pajak berhak:

1. Meminta Surat Perintah Pemeriksaan 2. Melihat Tanda Pengenal Pemeriksa

3. Mendapat penjelasan mengenai maksud dan tujuan pemeriksaan 4. Meminta rincian perbedaan antara hasil pemeriksaan dan SPT

5. Wajib Pajak berhak hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dalam batas waktu yang telah ditentukan

Berdasarkan ruang lingkupnya jenis-jenis pemeriksaan dapat dibedakan menjadi pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan kantor. Pemeriksaan

(19)

kantor dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan dan dapat diperpanjang menjadi 6 (enam) bulan yang dihitung sejak tanggal Wajib Pajak datang memenuhi surat panggilan dalam rangka pemeriksaan kantor sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.

Pemeriksaan lapangan dilakukan dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) bulan dan dapat diperpanjang menjadi paling lambat 8 (delapan) bulan yang dihitung sejak tanggal Surat Perintah Pemeriksaan sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.

c) Hak untuk mengajukan keberatan, banding dan peninjauan kembali.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Direktorat Jederal Pajak, maka akan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak, yaitu : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) jika lebih bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) jika kurang bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) jika untuk kurang bayar tambahan, dan Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) jika nihil. Jika Wajib Pajak tidak sependapat maka dapat mengajukan keberatan atas surat ketetapan tersebut. Selanjutnya apabila belum puas dengan keputusan keberatan tersebut maka Wajib Pajak dapat mengajukan Banding. Langkah terakhir yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak yaitu Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.

d) Hak kerahasiaan bagi Wajib Pajak

Wajib Pajak memiliki hak untuk mendapat perlindungan kerahasiaan atas segala sesuatu informasi yang telah disampaikan kepada Direktorat

(20)

Jenderal Pajak dalam rangka menjalankan ketentuan perpajakan, kerahasiaan Wajib Pajak antara lain: Surat Pemberitahuan, Laporan Keuangan, dan dokumen lain yang dilaporkan oleh Wajib Pajak, data dari pihak ketiga yang bersifat rahasia, dokumen atau rahasia Wajib Pajak lainnya sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

e) Hak untuk pengangsuran atau penundaan pembayaran

Dalam hal-hal atau kondisi tertentu, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan penundaan pembayaran pajak.

f) Hak untuk penundaan pelaporan SPT Tahunan

Dengan alasan-alasan tertentu yang diperbolehkan sesuai dengan ketentuan UU KUP, Wajib Pajak dapat menyampaikan perpanjangan penyampaian SPT Tahunan baik PPh Badan maupun PPh Orang Pribadi.

g) Hak untuk pengurangan PPh Pasal 25

Dengan alasan-alasan tertentu yang diperbolehkan sesuai dengan ketentuan UU KUP, Wajib Pajak dapat mengajukan pengurangan besarnya angsuran PPh Pasal 25.

h) Hak untuk pengurangan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan)

Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan karena kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak atau karena sebab- sebab tertentu lainnya serta dalam hal objek pajak terkena bencana alam dan juga bagi Wajib Pajak veteran pejuang kemerdekaan dan veteran pembela kemerdekaan, dapat mengajukan permohonan pengurangan atas pajak terhutang. Khusus untuk Pajak Bumi dan Bangunan pedesaan dan

(21)

perkotaan (PBB P2) yang sudah dialihkan ke pemerintah daerah tidak lagi di Kantor Pelayanan Pajak tetapi di Kantor Dinas Pendapatan Kota/Kabupaten setempat.

i) Hak untuk pembebasan pajak.

Dengan alasan-alasan tertentu sesuai dengan ketentuan UU KUP, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pembebasan atas pemotongan/pemungutan Pajak Penghasilan.

j) Pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak.

Wajib Pajak yang telah memenuhi kriteria tertentu Wajib Pajak Patuh dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak dalam jangka waktu paling lambat 1 (Satu) bulan untuk PPN dan 3 (tiga) bulan untuk PPh sejak tanggal permohonan.

k) Hak untuk mendapatkan pajak ditanggung pemerintah.

Dalam rangka melaksanakan proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri PPh yang terhutang atas penghasilan yang diterima oleh kontraktor, konsultan, dan supplier utama ditanggung oleh pemerintah.

l) Hak untuk mendapatkan insentif perpajakan.

Dibidang PPN, untuk Barang Kena Pajak (BKP) tertentu atau kegiatan tertentu diberikan fasilitas pembebasan PPN atau PPN tidak dipungut.

BKP tertentu yang dibebaskan tersebut diantaranya, adalah: Kereta Api, Pesawat Udara, Kapal Laut, Buku-Buku, perlengkapan TNI/POLRI yang diimpor maupun yang penyerahannya dalam daerah pabean oleh Wajib

(22)

Pajak tertentu. Perusahaan yang melakukan kegiatan dikawasan tertentu seperti kawasan berikat mendapat fasilitas PPN Tidak Dipungut antara lain atas import perolehan bahan baku.

F. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)

PTKP merupakan bagian dari penghasilan yang tidak dikenakan pajak sebagai sarana agar Wajib Pajak Orang Pribadi dapat memenuhi kebutuhan hidup minimumnya. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi dan perpajakan, dalam perhitungan penghasilan kena pajak Wajib Pajak Orang Pribadi, ada bagian dari penghasilan kena pajak tersebut tidak boleh dikenakan pajak, atau biasa disebut dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). PTKP adalah batasan penghasilan yang tidak dikenakan pajak sehingga untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak dari Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlah PTKP sebagaimana yang dimaksud pasal 7 UU No.77/2000.

Menurut Mardiasmo (2009:143), perhitungan PTKP ditentukan keadaan pada awal tahun pajak atau awal bagian tahun pajak. Perhitungan PTKP untuk pegawai lama (tahun sebelumnya sudah bekerja di Indonesia) dilakukan dengan melihat keadaan awal tahun takwim (1 Januari). Bagi pegawai yang baru datang dan menetap di Indonesia dalam bagian tahun takwim, besarnya PTKP berdasarkan keadaan pada awal bulan bagian tahun takwim yang bersangkutan. Dan dalam hal karyawati kawin, PTKP yang dikurangkan adalah hanya untuk dirinya sendiri.

Dalam hal karyawati tidak kawin, pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri juga untuk keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya.

(23)

Besarnya PTKP yang diberikan saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum Wajib Pajak Orang Pribadi. Meskipun cara perhitungan besarnya PTKP telah memasukan faktor harga-harga kebutuhan pokok dan faktor inflasi, namun pada kenyataannya, jangka waktu perubahan besarnya PTKP tidak dapat mengikuti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan tingkat inflasi karena lamanya jangka waktu perubahan itu.

Pemerintah sekali lagi melakukan perubahan besaran PTKP dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok setiap tahunnya, melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162/PMK.011/2012, yang telah ditetapkan penyesuaian besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang berlaku mulai 1 januari 2013.

Adapun penyesuaian PTKP tergambar pada tabel 2.1:

(24)

Tabel 2.1

Perubahan Besaran PTKP 2013

Keterangan

PTKP (cfm UU 36/2008)

2009-2012 (Rp)

PTKP (cfm PMK162/2012)

2013 (Rp)

Persentase kenaikan

Diri Wajib Pajak Orang Pribadi

15.840.000 24.300.000 Tambahan untuk WP

kawin

1.320.000 2.025.000

Tambahan untuk istri yang penghasilan digabung dengan penghasilan suami

15.840.000 24.300.000 53,4%

Tambahan untuk setiap anggota sedarah dan keluarga semenda dalam keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 orang untuk setiap keluarga

1.320.000 2.025.000

Sumber: UU 36/2010, PMK 162/PMK.011/2012

Terdapat beberapa faktor yang dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan penyesuaian PTKP. Pertama adalah perkembangan harga kebutuhan pokok masyarakat, salah satu tolak ukur kebutuhan pokok minimal masyarakat adalah besaran Upah Minimum Propinsi (UMP) yang besarannya ditetapkan berdasarkan atas Kebutuhan Layak Hidup (KLH) serta memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Pertimbangan lainnya terkait dengan perlunya kebijakan stimulus fiskal untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global, sebagai dampak krisis finansial Eropa dan Amerika Serikat yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Dengan krisis yang melanda di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat tersebut, telah menurunkan tingkat

(25)

ekspor, dan berdampak pada tidak terserapnya produk dalam negeri (BKF Kajian PKPN Analisis Penyesuaian PTKP 2013, 2012). Dalam merumuskan penyesuaian PTKP, pemerintah bertolak pada kebijakan penyesuaian PTKP, sebagaimana ditunjukan pada gambar 2.2.

Gambar 2.2

Kerangka Kebijakan Penyesuaian PTKP (BKF)

Dengan adanya kenaikan PTKP selain untuk menghindari dampak dari krisis finansial tersebut perubahan PTKP ini juga diharapkan dapat memberikan perlindungan dan keringanan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Lebih lanjut, kenaikan PTKP ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat, yang akan berujung pada pertumbuhan produk domestik bruto (Badan Kebijakan Fiskal, 2013).

1. Dampak Penyesuaian PTKP

Penyesuaian PTKP per 1 Januari 2013 sebesar kurang lebih 53,4% dari besaran PTKP sebelumnya, di sadari akan menimbulkan dampak pada beberapa

Sumber : Badan Kebijakan Fiskal

(26)

aspek perekonomian. Berikut ini merupakan beberapa dampak yang akan timbul setelah diberlakukannya perubahan PTKP, yaitu:

a. Dampak Pada Penerimaan Negara

Kenaikan besaran PTKP secara langsung akan menyebabkan penurunan penerimaan pajak, terutama Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 orang pribadi dan pemotongan Pajak Penghasilan pasal 21 karyawan.

Penyesuaian PTKP sebesar 53,4% tersebut, berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan berpotensi mengalami penurunan penerimaan pajak bersih sebesar Rp. 13,3 triliun (Bambang Brodjonegoro, 2012).

Potensi penurunan penerimaan pajak (potential loss) ini berasal dari penurunan penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 orang pribadi.

Namun sebaliknya, penyesuaian besaran PTKP tersebut berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan penerimaan pajak yang berasal dari Penerimaan negara bukan pajak, Pajak Impor, PPh Badan, serta berasal dari penerimaan PPN merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi (DJP, 2013). Meningkatnya daya beli masyarakat (purchasing power) menyebabkan konsumsi dalam negeri ikut meningkat, konsumsi masyarakat dalam negeri mempunyai hubungan dengan pertumbuhan ekonomi, karena menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produk domestik bruto atas dasar harga berlaku terbentuk pada kuartal I/tahun 2012 sebesar Rp 1.972,4 trilyun. Disisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menyumbang kontribusi terbesar yakni sekitar 55 % dari total PDB.

(27)

b. Dampak Pada Beberapa Variabel Makro Ekonomi

Kebijakan penyesuaian PTKP merupakan salah satu bentuk usaha pemerintah guna mengantisipasi potensi timbulnya perlambatan ekonomi nasional yang disebabkan adanya penurunan perekonomian global.

Terhadap penyesuaian kenaikan besaran PTKP per 1 januari 2013, telah dilakukan analisis dampak pada beberapa variabel ekonomi. Tabel 2.2, menunjukan hasil analisis pada penyesuaian perubahan kenaikan tarif PTKP tersebut.

Tabel 2.2

Dampak Perubahan PTKP pada Variabel Makro Ekonomi

Indiator Dampak

Volume Konsumsi Rumah Tangga 0,0823

Investasi 0,0185

Penciptaan Lapangan Kerja Baru 0,0031 Pertumbuhan Produk Domestik

Bruto

0,0087 Sumber: Analisis BKF

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) tahun 2011, rata- rata status rumah tangga Indonesia kawin dengan 2 orang anak. Dengan demikian kenaikan PTKP ditahun 2013 akan berdampak pada disposable income rata-rata sebesar Rp. 10.575.000 untuk setiap keluarga. Disposable income adalah penjumlahan biaya hidup selama setahun atau nilai pendapatan setelah dikurangi dengan nilai pajak, atau nilai pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh masyarakat (Sir William Petty : 1665). Kontribusi konsumsi rumah tangga sendiri merupakan faktor penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan data BPS,

(28)

atas dasar harga berlaku pada kuartal I tahun 2012 konsumsi rumah tangga adalah sebesar Rp. 1.972,4 tliliyun, atau sekitar 55% dari PDB. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, kenaikan PTKP tersebut dapat berkontribusi meningkatkan volume konsumsi rumah tangga sebesar 0,0823%. Setiap tambahan permintaan akan barang atau jasa (demand) karena konsumsi meningkat, akan menimbulkan mulplier effect yang berujung pada peningkatan national income.

Peningkatan konsumsi rumah tangga menimbulkan kenaikan demand atas produk, baik dalam maupun luar negeri. Peningkatan demand ini akan berdampak pada stimulus bagi tumbuhnya investasi, guna memenuhi permintaan pasar. Selain itu peningkatan disposable income juga berpengaruh pada saving masyarakat.

Melalui penyaluran kredit (credit channelling), ataupun investasi langsung (direct investment), peningkatan akumulasi saving bersamaan dengan peningkatan demand masyarakat akan meningkatkan tingkat investasi swasta. Dari model yang digenerater, peningkatkan PTKP 2013 tersebut berpotensi meningkatkan investasi swasta sebesar 0,0185%. Sebagai dampak meningkatkan investasi ini akan berdampak pada akan banyak dibukanya lapangan kerja baru. Potensi penciptaan lapangan kerja baru, dengan fiskal stimulus PTKP tersebut, diproyeksikan sebesar 0,0031%. Dari peningkatan konsumsi dan investasi, maka diharapkan bahwa stimulus fiskal ini dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan PDB sebesar 0,0087%. Hal yang perlu diwaspadai dengan peningkatan demand dalam negeri adalah adanya kenaikan harga (demand pull inflation). Adanya kenaikan harga ini memang biasanya akan berpengaruh pada output yang besarannya dipengaruhi income effect (tambahan disposable income) dan substitution effect (harga

(29)

komoditas import yang relatif lebih murah karena kenaikan harga domestik).

Tingkat demand yang besar yang tidak dapat dipenuhi oleh pasar domestik, juga akan berpengaruh pada peningkatan import. Untuk itu kebijakan stimulus fiskal ini dirancang untuk tidak menimbulkan dampak negatif yang justru merugikan perekonomian nasional (BKF : kajian PKPN analisis penyesuaian PTKP 2013).

G. Kualitas Pelayanan

Salah satu upaya dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak adalah memberikan pelayanan yang baik kepada Wajib Pajak. Peningkatan pelayanan dan kualitas dapat meningkatkan kepuasan Wajib Pajak sebagai pelanggan sehingga meningkatkan kepatuhan dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Upaya peningkatan kualitas pelayanan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas dan kemampuan teknis para pegawai dalam bidang perpajakan (fiskus), perbaikan infrastruktur seperti perluasan Tempat Pelayanan Terpadu (TPT), penggunaan sistem informasi dan teknologi agar dapat memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya (Ni Luh Supadmi, 2009).

Pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dan tetap dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan serta harus dilakukan secara terus menerus (Ni Luh supadmi, 2009). Penjelasan ini sejalan dengan Keputusan Menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang pendoman penyelenggara pelayanan publik memiliki standar pelayanan yang dipublikasi sebagai jaminan adanya kepastian penerimaan pelayanan.

(30)

Pengertian pelayanan publik menurut Keputusan Menteri Pemberdayagunaan Apatur Negara, adalah:

“Kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa dan/ atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik”.

Proses perpajakan melibatkan petugas pajak (fiskus) dan Wajib Pajak membuat pelayanan yang diberikan oleh fiskus turut membentuk sikap (atitude) Wajib Pajak dalam mengikuti proses perpajakan. Semakin baik pelayanan fiskus maka Wajib Pajak akan memiliki sikap yang positif terhadap proses perpajakan.

Namun jika pelayanan fiskus tidak baik, hal itu akan membuat Wajib Pajak enggan untuk membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk mengetahui bagaimana pelayanan petugas pajak (fiskus) yang seharusnya diberikan kepada Wajib Pajak, diperlukan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai seorang fiskus. Berikut adalah kewajiban fiskus yang telah diatur dalam UU Perpajakan:

1. Kewajiban untuk membina Wajib Pajak

2. Kewajiban menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) 3. Kewajiban merahasiakan data Wajib Pajak

4. Kewajiban melaksanakan putusan

Selain kewajiban terdapat pula hak-hak fiskus yang diatur dalam UU Perpajakan, antara lain:

1. Hak menerbitkan NPWP atau NPPKP secara jabatan 2. Hak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP)

3. Hak menerbitkan Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan

(31)

4. Hak melakukan pemeriksaan dan penyegelan

5. Hak menghapuskan atau mengurangi sanksi administrasi 6. Hak melakukan penyidikan

7. Hak melakukan pencegahan 8. Hak melakukan penyanderaan H. Pengetahuan Tentang Perpajakan

Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu (kamus lengkap bahasa indonesia, 2005). Pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan adalah proses dimana Wajib Pajak mengetahui tentang perpajakan dan mengaplikasikan pengetahuan itu untuk membayar pajak.

Pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan yang dimaksud mengerti dan paham tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang meliputi tentang bagaimana cara menyampaikan Surat Pemberitahan (SPT) , pembayaran, tempat pembayaran, denda, dan batas waktu pembayaran atau pelaporan SPT (Resmi, 2009). Song dan Yarbrough (1978) dalam Banu (2008) mengemukakan bahwa semakin tinggi pengetahuan akan peraturan pajak, maka akan semakin tinggi pula nilai etika terhadap perpajakan. Sedangkan Palil (2005) dalam Banu (2008) menemukan bahwa pengetahuan Wajib Pajak tentang pajak yang baik akan dapat memperkecil adanya tax evation (manipulasi pajak).

Pengetahuan tentang perpajakan dan peraturan perpajakan yang dimiliki masyarakat sangat berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajaknnya. Dengan memiliki pengetahuan bahwa perilaku tertentu

(32)

diatur oleh hukum, membuat Wajib Pajak ada kecenderungan untuk mematuhi peraturan. Sedangkan kurangnya pengetahuan yang dimiliki para Wajib Pajak akan peraturan dan sanksi hukum membuat Wajib Pajak ada kecenderungan tidak mematuhi peraturan. Masalah ketidakpatuhan yang timbul akibat kurangnya pengetahuan akan perpajakan dan peraturannya seperti terlambat dalam menyampaikan SPT tahunan ataupun SPT masa, memiliki tunggakan pajak, atau bahkan tidak memenuhi kewajibannya tersebut sebagai Wajib Pajak patuh.

Namun Wajib Pajak tersebut tidak merasa bersalah saat melakukan pelanggaran perpajakan.

I. Pengertian Kepatuhan 1. Jenis-Jenis Kepatuhan

Kepatuhan Wajib Pajak diawali dengan adanya kesadaran Wajib Pajak mengenai kewajibannya dalam hal perpajakan. Kesadaran merupakan faktor yang berasal dari kemauan dan perubahan sikap Wajib Pajak dalam memenuhi hak dan kewajiban perpajakannya. Kepatuhan dapat dibedakan menjadi dua macam menurut Sri Nurmantu (2003:148), yaitu:

a. Kepatuhan Formal

Kepatuhan formal adalah suatu suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakan secara formal sesuai dengan ketentuan yang terdapat di dalam undang-undang perpajakan.

b. Kepatuhan Material

Kepatuhan Material adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak secara substantive hakekat memenuhi semua ketentuan material perpajakan,

(33)

yakni sesuai isi dan jiwa undang-undang perpajakan. Kepatuhan material dapat meliputi juga kepatuhan formal, jadi Wajib Pajak yang memenuhi kepatuhan material dalam mengisi SPT Wajib Pajak Orang Pribadi adalah Wajib Pajak yang mengisi dengan jujur, baik dan benar SPT tersebut sesuai dengan undang-undang PPh dan menyampaikannya ke Kantor Pelayanan Pajak sebelum batas waktu yang di tentukan.

2. Kriteria Wajib Pajak Patuh

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 544/KMK.04/2002 sebagaimana telah disempurnakan menjadi Keputusan Menteri Keuangan Menteri Keuangan Nomor 235/KMK.03/2003 tanggal 3 Juni 2003, Wajib Pajak yang dimasukan dalam katagori patuh apabila memenuhi kriteria berikut:

a. Tepat waktu dalam menyampaiakan SPT untuk semua jenis pajak dalam 2 (dua) tahun terakhir;

b. Dalam tahun terakhir penyampaian SPT Masa yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga) masa pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut;

c. SPT Masa yang terlambat tersebut disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian SPT Masa masa pajak berikutnya;

d. Tidak mempunyai tunggakan Pajak untuk semua jenis pajak:

1. Kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak;

2. Tidak termasuk tunggakan pajak sehubungan dengan STP yang diterbitkan untuk 2 (dua) masa pajak terakhir;

(34)

e. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir;

f. Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh akuntan publik atau Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan harus dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atau dengan pendapat wajar dengan pengecualian sepanjang pengecualian tersebut tidak mempengaruhi laba rugi fiskal.

Laporan audit harus:

1. disusun dalam bentuk panjang (long form report);

2. menyajikan rekonsiliasi laba rugi komersial dan fiskal.

g. Kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak;

h. Tidak termasuk tunggakan pajak sehubungan dengan SPT yang diterbitkan untuk 2 (dua) masa pajak terakhir;

Apabila Laporan Keuangan Wajib Pajak tidak diaudit oleh akuntan publik, maka Wajib Pajak harus mengajukan permohonan tertulis selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku berakhir, untuk dapat ditetapkan sebagai Wajib Pajak Patuh sepanjang memenuhi syarat pada huruf a sampai dengan huruf e, ditambah dengan 2 (dua) syarat berikut ini:

a. Dalam 2 tahun pajak terakhir menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 UU KUP, dan

b. Apabila dalam 2 tahun terakhir terhadap Wajib Pajak pernah dilakukan Pemeriksaan pajak, maka koreksi fiskal untuk setiap jenis pajak yang terutang tidak lebih dari 10%.

(35)

Kepatuhan dapat diwujudkan seperti dengan diberikannya penyuluhan, pelayanan, dan penegakan hukum yang dapat berupa pemeriksaan, penyidikan dan penagihan dengan menempatkan Wajib Pajak sebagai subyek yang dihargai hak- hak dan kewajibannya. Tingkat kepatuhan Wajib Pajak yang dimaksud dalam hal ini adalah kepatuhan Wajib Pajak efektif dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya dan juga pemenuhan penyampaian SPT Tahunannya.

J. Surat Pemberitahuan (SPT) 1. Pengertian SPT

Surat Pemberitahuan (SPT) setiap Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk membayar pajak oleh karena itu untuk menyampaikan pajak tersebut dibutuhkan lembar Surat Pemberitahuan (SPT) khususnya SPT Tahunan, terutama untuk orang pribadi yang sudah bekerja dan mempunyai penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak atau yang biasa disebut PTKP. Definisi Surat Pemberitahuan (SPT) menurut UU Ketentuan Umum dan Tata Cata Perpajakan Pasal 1 Ayat (11) adalah sebagai surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan- undangan perpajakan.

Oleh karena itu sebagai sarana untuk menyampaikan dan melaporkan penghitungan dan pembayaran jumlah pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi ke Kantor Pelayanan Pajak maka Wajib Pajak khususnya orang pribadi memerlukan Surat Pemberitahuan guna mempermudah melaksanakan penyampaian dan pelaporannya. Yang dimaksud dengan mengisi Surat

(36)

Pemberitahuan adalah mengisi formulir Surat pemberitahuan, dalam bentuk kertas dan/atau dalam bentuk elektronik, dengan benar, lengkap, dan jelas sesuai dengan petunjuk pengisian yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. Sementara itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi Surat Pemberitahuan adalah:

a. Benar adalah benar dalam penghitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan sebenarnya.

b. Lengkap adalah memuat semua unsur–unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur–unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.

c. Jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur–

unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.

Surat Pemberitahuan yang telah diisi dengan benar, lengkap, dan jelas tersebut wajib disampaikan kekantor Direktorat Jendral Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang di tetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

2. Fungsi SPT menurut Pasal 3 UU Nomor 28 tahun 2007

Bagi Wajib Pajak PPh, SPT berfungsi untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan perhitungan dan/atau pembayaran pajak yang sebenarnya terhutang, dan untuk melaporkan tentang:

 Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) tahun pajak atau bagian tahun pajak;

(37)

 Penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan objek pajak;

 Harta dan kewajiban;

 Penyetoran dari pemotongan atau pemungut pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) masa pajak.

Mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terhutang dan untuk melaporkan tentang:

 Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran

 Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu masa pajak.

Bagi pemotong atau pemungut pajak, sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya.

3. Jenis-Jenis Surat Pemberitahuan (SPT) a. Surat Pemberitahuan (SPT) Masa

Yaitu Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak, Jenis-jenis SPT Masa adalah sebagai berikut:

1. SPT Masa PPh Pasal 21/26 2. SPT Masa PPh Pasal 22 3. SPT Masa PPh Pasal 23/26 4. SPT Masa PPh Pasal 25 5. SPT Masa PPN

6. SPT Masa PPN Pemungut 7. SPT Masa PPnBM

(38)

b. Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Yaitu Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau bagian Tahun Pajak, jenis-jenis SPT Tahunan adalah sebagai berikut:

1. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi

 SPT untuk Wajib Pajak berstatus sebagai pegawai (1770 S)

 SPT untuk Wajib Pajak berstatus sebagai usahawan (1770)

 SPT untuk Wajib Pajak berstatus sebagai pegawai dengan jumlah penghasilan bruto setahun kurang dari Rp.60.000.000.- (1770 SS) 2. SPT Tahunan Wajib Pajak Badan (1771)

3. SPT Tahunan Pasal 21 (1721)

4. Batas Waktu Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT)

Batas waktu penyampaian SPT berdasarkan Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 3 Ayat (3) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 adalah sebagai berikut:

a. Untuk SPT Masa, paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah akhir masa pajak b. Untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi, paling

lambat 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun pajak.

c. Untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan, paling lambat 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun pajak.

(39)

K. Penelitian Terdahulu

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu No Peneliti Judul Variabel yang

digunakan

Metode analitis

Hasil analisis 1. Kiryanto

(2000)

Analisis Pengaruh Penerapan Struktur Pengendalian Intern

Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan Dalam Memenuhi Kewajiban Pajak

Penghasilan di Daerah

Istimewa Yogyakarta.

Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan adalah

Lingkungan Pengendalian, Sistem

Akuntansi, dan Prosedur Pengendalian.

Sedangkan variabel

dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan Wajib Pajak Badan Dalam Memenuhi Kewajiban Perpajakannya.

Analisis Regresi Linear Berganda.

Semua variabel independen (lingkungan pengendalian, sistem

akuntansi, dan prosedur pengendalian) memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial maupun simultan terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak.

2. Aga Vanesha Benjamin (2013)

Pengaruh Persepsi, Kualitas Pelayanan, Pengetahuan Dan

Pemahaman Perpajakan Terhadap Motivasi Membayar Pajak Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Usahawan Di HI-TECH Mall Surabaya.

Dalam penelitian ini variabel Independen yang digunakan adalah

Perspektif Tentang Perpajakan, Kualitas layanan Fiskus atau Petugas Pajak, Pengetahuan dan Pemahaman Perpajakan.

Sedangkan variabel

Uji Regresi Linear Berganda.

Semua variabel independen yaitu: adalah Perspektif Tentang Perpajakan, Kualitas layanan Fiskus atau Petugas Pajak, Pengetahuan dan

Pemahaman Perpajakan berpengaruh terhadap motivasi

(40)

dependen dalam penelitian ini adalah Motivasi Membayar pajak.

membayar pajak.

3 Nur Falah (2012)

Pengaruh Tingkat Kesadaran, Tingkat Pengetahuan, Kualitas Pelayanan, Dan Penegakan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam

Menyampaikan Surat

Pemberitahuan (SPT) Tahunan Badan.

Variabel independen dalam penelitian ini yaitu:

Tingkat Kesadaran, Tingkat Pengetahuan, Kualitas Pelayanan, Dan Penegakan Sanksi Perpajakan.

Sedangkan variabel

dependen dalam penelitian ini yaitu:

Kepatuhan Wajib Pajak Dalam

Menyampaikan Surat

Pemberitahuan (SPT) Tahunan Badan.

Tehnik regresi linear berganda.

Secara signifikan dapat disimpulkan bahwa variabel Tingkat

Kesadaran, Tingkat Pengetahuan, Kualitas Pelayanan, Dan Penegakan Sanksi Perpajakan sangat berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam

Menyampaikan Surat

Pemberitahuan (SPT) Tahunan Badan.

4 Banu Witono (2008)

Peranan Pengetahuan Pajak Pada Kepatuhan Wajib Pajak Pada KPP Surakarta

Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pengetahuan Perpajakan, Persepsi

Keadilan Pajak.

Sedangkan variabel

dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan Pelaporan Wajib

Analisis multiple regression

Semua variabel independen yaitu

Pengetahuan Perpajakan, Persepsi Keadilan Pajak secara

signifikan berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak.

(41)

Pajak.

5. Jessica Novia Susanto (2013)

Pengaruh Persepsi Pelayanan Aparat Pajak, Persepsi Pengetahuan Wajib Pajak, Dan Persepsi Pengetahuan Korupsi Terhadap Kepatuhan.

Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan adalah persepsi pelayanan aparat pajak, persepsi pengetahuan wajib pajak, dan persepsi

pengetahuan korupsi.

Sedangkan variabel

dependen dalam penelitian ini adalah Kepatuhan.

Analisis regresi linear berganda

Variabel persepsi pelayanan aparat pajak tidak

mempengaruhi kepatuhan, variabel persepsi pengetahuan wajib pajak tidak

mempengaruhi kepatuhan, variabel persepsi pengetahuan korupsi tidak mempengaruhi kepatuhan namun pelayanan aparat pajak dan

pengetahuan korupsi akan memberikan pengaruh signifikan terhadap kepatuhan dalam membayar pajak.

Sumber: Penelitian Terdahulu

L. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan pasal 1 ayat (1) undang-undang nomor 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah dan disempurnakan dengan undang-undang nomor 28 tahun 2007 mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan, pajak adalah

(42)

kontribusi Wajib Pajak kepada negara yang terhutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk meningkatkan penerimaan pendapatan negara terutama dari perpajakan, pemerintah harus meningkatkan kepatuhan pada setiap Wajib Pajak, karena tingkat kepatuhan Wajib Pajak dinilai menjadi salah satu faktor penting strategi pemerintah dalam meningkatkan penerimaan pajak negara. Kepatuhan Wajib Pajak diartikan sebagai suatu keadaan yang mana Wajib Pajak Patuh mempunyai kesadaran dalam memenuhi kewajiban perpajakannya (Devano, 2006).

Untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak terdapat beberapa faktor dinilai berpengaruh pada kepatuhan Wajib Pajak yaitu kualitas pelayanan fiskus, reformasi undang-undang perpajakan seperti perubahan tarif penghasilan tidak kena pajak (PMK162/PMK.011/2012), dan pengetahuan tentang perpajakan. Dari ketiga faktor tersebut akan ada satu atau dua faktor yang memberikan kontribusi yang besar terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam melaporkan SPT Tahunannya dan memenuhi kewajiban perpajakannya.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dibuat kerangka pemikiran secara ilustratif mengenai pengaruh perubahan penghasilan tidak kena pajak, kualitas pelayanan, dan pengetahuan tentang perpajakan, sebagai berikut:

(43)

Gambar 2.3 Model Penelitian Perubahan Penghasilan Tidak

Kena Pajak (X1)

Kualitas Pelayanan (X2)

Pengetahuan Tentang Perpajakan (X3)

Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi dalam Menyampaikan

SPT Tahunan (Y)

Gambar

Tabel 2.1  Perubahan Besaran PTKP 2013  Keterangan  PTKP   (cfm UU 36/2008)  2009-2012   (Rp)  PTKP   (cfm PMK162/2012) 2013  (Rp)  Persentase kenaikan
Tabel 2.3  Penelitian Terdahulu  No  Peneliti  Judul  Variabel yang
Gambar 2.3  Model Penelitian Perubahan Penghasilan Tidak

Referensi

Dokumen terkait

Hazard rate suaian menurut umur dan jenis kelamin, konsumsi lemak, konsumsi gula, konsumsi sayur-buah, aktivitas fisik, dan rokok menunjukkan mereka yang mengonsumsi natrium

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi atau status sumberdaya ikan ditinjau dari aspek biologi maka diperlukan suatu kajian mengenai aspek biologi yang meliputi

Responden (sampel) yang menginginkan atau menyatakan bahwa pelatihan penyusunan laporan penelitian tepat untuk dilatihkan bagi guru dalam mengembangkan dan

Berdasarkan uraian di atas, menarik untuk dikaji melalui suatu studi mikro, bagaimanakah pengambilan keputusan suami-istri keluarga petani dalam menentukan jumlah keluarga

Tujuan strategis Kemendiknas tahun 2010--2014 dirumuskan berdasarkan jenjang layanan pendidikan dan sistem tata kelola yang diperlukan untuk menghasilkan layanan

Unit Kepatuhan merupakan unit kerja yang bertugas dan bertanggung jawab secara ex-ante untuk memastikan bahwa kebijakan, ketentuan, sistem, dan prosedur, serta

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hubungan perilaku ibu tentang masa pergantian gigi dengan persistensi pada murid di MIN Cot Gue Kecamatan Darul

Consequently, when thinkers such as Offe or Gorz underline this type of trend as the end of what might be called the labour society (Offe, 1985; Gorz, 1989), they are putting a name