• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Amanat Pembukaan UUD 1945 alinea ke-empat yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara rinci hal tersebut termuat dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab 2 pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Masalah pokok pendidikan kita dewasa ini adalah peningkatan mutu pada setiap jenis, jenjang dan jalur pendidikian, terutama pada pendidikan dasar. Sebab pendidikan dasar merupakan pondasi bagi terbentuknya manusia Indonesia yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan delapan standar nasional pendidikan yakni: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan (PP. No. 19 Tahun 2005). Standar nasional pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas, pada hakekatnya menjadi arah dan tujuan penyelenggaraan pendidikan. Dengan kata lain, standar nasional pendidikan harus menjadi acuan sekaligus kriteria dalam menetapkan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah di antaranya : 1) perubahan sistem pendidikan yang berkali-kali, baik mengenai substansi materi maupun organisasi pendidikan; 2) peningkatan kualitas pendidik/SDM melalui diklat; 3) pengadaan materi dan media pembelajaran; 4) perbaikan sarana prasarana

(2)

pembelajaran, dan 5) upaya peningkatan manajemen sekolah. Terbitnya UU No.

22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, yaitu perubahan dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi dalam pengelolaan pendidikan. UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, PP No.

19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada era desentralisasi, budaya pendidikan telah memberikan kewenangan lebih kepada kepala sekolah untuk melaksanakan pengelolaan pendidikan agar lebih baik, merata dan produktivitas sekolah semakin meningkat

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal berfungsi menyiapkan sumber daya manusia yang merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan di segala bidang. Dalam menjalankan perannya sebagai pencetak sumber daya manusia, sekolah dituntut untuk dapat memenuhi harapan dan keinginan masyarakat secara mikro maupun makro. Dalam memenuhi harapan dan keinginan masyarakat yang semakin meningkat, maka sekolah sebagai organisasi pendidikan harus berupaya untuk mengkaji berbagai kelebihan dan kelemahan sekolah serta selalu berupaya mencari cara untuk melakukan perbaikan terus menerus serta berupaya mengidentifikasi segala tantangan dan ancaman sebagai upaya menciptakan produktivitas sekolah yang diharapkan. Sekolah sebagai organisasi sosial diharapkan mampu memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat mengenai pendidikan berkualitas yang mampu menyiapkan sumber daya yang dapat bersaing dalam percaturan dunia yang semakin kompleks. Untuk kepentingan ini, produktivitas sekolah menjadi syarat yang tidak bisa ditawar lagi karena karakteristik umum sekolah produktif dapat dilihat dari bentuk dan sifat

(3)

organisasi sekolah tersebut, apakah dapat memberikan peluang untuk mencapai produktivitas tinggi. Hal tersebut antara lain berupa peningkatan jumlah dan kualitas kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.

Mulyasa (2007:92) mengemukakan: “Produktivitas dalam dunia pendidikan berkaitan dengan keseluruhan proses penataan dan penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien” Dalam konteks produktivitas pendidikan, sumber-sumber pendididikan dipadukan dengan cara-cara yang berbeda. Untuk menguasai teknik-teknik tersebut harus dilakukan proses belajar. Seiring dengan bertambahnya waktu, semakin besar pula modal untuk pendidikan. Sekolah pun menjadi semakin berkembang karena semakin besarnya tuntutan pendidikan yang harus dikembangkan. Hal senada juga disampaikan oleh Hasibuan (2005:128) Sebagai sarana untuk meningkatkan produksi di bidang pendidikan adalah ketenagaan, kepandaian/keahlian, teknik pembelajaran, kurikulum, peralatan atau sarana prasarana pendidikan sebagai sistem pendidikan. Produktivitas yang diharapkan terjadinya peningkatan pengetahuan dan perilaku siswa menuju ke arah yang lebih baik maupun peningkatan kuantitas. Di dunia pendidikan lebih cenderung ke peningkatan kualitas atau mutu lulusan yang semakin tinggi.

Komariah dan Triatna (2005:16) menyatakan produktifitas sebagai perbandingan terbalik antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber yang dipergunakan (input).

Selanjutnya dikatakan bahwa:

(4)

Produktifitas dapat dinyatakan secara kuantitas maupun secara kualitas.

Kuantitas output berupa jumlah tamatan, kuantitas input berupa jumlah tenaga-tenaga kerja sekolah dan sumber daya, selebihnya (uang perlengkapan, bahan dan sebagainya). Produktifitas dalam arti kualitas tidak dapat diukur dengan uang. Produktifitas ini digambarkan dari ketepatan menggunakan metode dan alat yang tersedia sehigga volume dan beban kerja dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang tersedia dan mendapat respons positif bahkan pujian dari orang lain atas hasil kerjanya.

Budaya Mutu di sekolah tidak bisa dipisahkan dengan konsep Total Quality Management (TQM). Mulyasa (2007:224) mengatakan:

Total Quality Management adalah suatu sistem manajemen yang berfokus kepada orang yang bertujuan untuk meningkatkan secara berkelanjutan akan kepuasan costumers pada biaya sesungguhnya yang secara berkelanjutan dan terus menerus.

Dalam konteks Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Depdiknas (2001) telah memerinci tentang elemen-elemen yang terkandung dalam budaya mutu di sekolah, yaitu: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan; bukan untuk mengadili/mengontrol orang; (b) kewenangan harus sebatas tanggung jawab; (c) hasil harus diikuti penghargaan (reward) atau sangsi (punishment); (d) kolaborasi dan sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan basis kerja sama; (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya; (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan; (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya; dan (h) warga sekolah harus merasa memiliki sekolah

Di sekolah terjadi interaksi yang saling pengaruh mempengaruhi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

Lingkungan ini akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu-individu tersebut, sehingga menimbulkan kesan dan perasaan tertentu. Dalam hal ini, sekolah harus

(5)

dapat menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif dan menyenangkan, baik fisik maupun lingkungan sosialnya. Moh. Surya (1997) menyebutkan bahwa:

Lingkungan kerja yang kondusif baik lingkungan fisik, sosial maupun psikologis dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu, dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, fasilitas, dan sebagainya. Demikian pula, lingkungan sosial-psikologis, seperti hubungan antar pribadi, kehidupan kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk maju, kekeluargaan, dan sebagainya.

(http://newspaper.pikiran-

rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=113230 sabtu/13/3/2010) Beberapa pemikiran untuk meningkatkan mutu pendidikan, apapun konsep dan usahanya, harus diorientasikan pada proses belajar mengajar, baik dalam hal pengembangan fasilitas, kurikulum, tenaga kependidikan, dan lain-lain,.

Peningkatan mutu harus didekati secara komprehensif dari seluruh komponen.

Empat dimensi yang dapat dilihat untuk pendekatan mutu adalah dimensi input, proses, output, dan outcome (dampak). Pelanggan utama yang harus diposisikan

sebagai fihak yang harus dilayani oleh pendidikan adalah murid (peserta didik).

Artinya berbagai inovasi, solusi, dan ide-ide kreatif berkaitan dengan pendidikan harus senantiasa mempertimbangkan murid (peserta didik). Berkaitan dengan perkembangan lingkungan, dimana pendidikan itu berada, maka mutu pendidikan harus selalu diorientasikan pada pembekalan murid (peserta didik) untuk dapat/mampu berubah setiap saat, mampu menyesuaikan dengan perkembangan lingkungannya. Mutu dalam kondisi ini yang paling utama adalah membekali murid (peserta didik) menjadi orang yang senantiasa mampu belajar terus menerus (continue). Pencapaian mutu merupakan sesuatu yang diusahakan secara terus menerus (continue). Apabila sekolah menginginkan mutu, maka mutu harus selalu

(6)

diorientasikan secara terus menerus (continue) dibudayakan, sehingga menjadi program keseharian untuk setiap kegiatan yang dilakukan.

Beberapa unsur yang menentukan produktivitas sekolah diantaranya adalah kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah yang profesional harus berupaya meningkatkan mutu pelayanan dan mutu hasil belajar yang beraroientasi kepada pemakai, baik internal dalam hal ini siswa maupun eksternal atau masyarakat, pemerintah maupun lembaga industri dan dunia kerja Fattah dan Ali (2004 : 1.12). Namun, untuk menyiapkan kepala sekolah yang inovatif merupakan kendala yang sangat sulit jika dikaitkan dengan sistem kesejahteraan bagi tenaga guru di Indonesia yang jauh dari memadai (Surya, 2005:5). Untuk meningkatkan profesionalisme kepala sekolah di institusi pendidikan, diperlukan berbagai upaya berupa peningkatan kreativitas kerja, motivasi kerja, kinerja, dan produktivitas kerja kepala sekolah serta pemberian berbagai jenis, bentuk pelatihan, pendidikan profesional, dan berbagai kegiatan profesional lainnya kepada kepala sekolah.

Namun, diperlukan juga kebijakan pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia melalui profesionalisasi pendidik dan tenaga kependidikan dalam upaya meningkatkan kualitas kepala sekolah dan kualitas pendidikan (Jalal.F, 2005:1).

Lipham (1985:2) mengemukakan bahwa “kualitas kepemimpinan kepala sekolah secara substansial berpengaruh terhadap keberhasilan suatu sekolah”.

Lebih tegas dikemukakan oleh keith Davis yang dikutip oleh Oteng Sutisna (1985:225), sebagai berikut: “tanpa kepemimpinan, suatu organisasi hanyalah sejumlah orang yang kacau, Kepemimpinan adalah kemampuan untuk membujuk orang-orang lain supaya mengejar tujuan yang telah ditetapkan dengan bergairah ”

(7)

Melalui perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang produktif, situasi pembelajaran dapat dilakukan secara efisien, efektif, menarik, dan menyenangkan.

Hal ini disebabkan karena di tangan kepala sekolah yang kreatif lahir berbagai ide-ide kreatif dalam menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang variatif, inovatif, dan menyenangkan bagi peserta didik karena sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik dan situasi pembelajaran tidak menakutkan peserta didik. Kepala sekolah yang profesional umumnya selalu menunjukkan motivasi kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugas profesional sehari-hari di sekolah. Peningkatan kinerja juga penting dilakukan oleh kepala sekolah itu seridiri atau atas pengaruh motivasi pimpinan (Dinas) melalui pelaksanaan peran sebagai pendidik, manajer, dan supervisor. Namun, kondisi kerja kepala sekolah, baik sifatnya fisik maupun non fisik masih belum memberikan derajat kepuasan kerja sehingga mempengaruhi kinerja kepala sekolah (Surya, 2005:5).

Sebagai kepala sekolah harus berperilaku serta memiliki akhlak yang baik, memiliki kekuatan , serta amanah, oleh karena itu kepala sekolah dituntut untuk memiliki perilaku yang dapat dicontoh oleh seluruh warga sekolah dimulai dari kedisiplinan, cara bertutur kata, dalam memberikan tugas kepada guru, dalam memutuskan sesuatu juga kebiasaan lainnya, seperti dalam Kepemimpinan Pancasila yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui pepatah yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berbunyi sebagai berikut:

“Di muka memberi teladan (Ing Ngarsa Asung Tulada)”

“Di tengah-tengah membangun semangat (Ing Madya mangun karsa)”

“Dari belakang memberikan pengaruh (Tut wuri handayani)”

(8)

(Soejono, 1990:323).

http://www.pdf-search-engine.com/budaya-kepemimpinan-lokal-dalam- pelaksanaan-html-

www.depdiknas.go.id/publikasi/balitbang/075/j75_05.html

Berdasarkan fakta masih banyak kepala sekolah yang bertujuan hanya semata mencapai jabatan dan masih banyak yang belum berprofesi sebagai pemimpin sebatas bekerja sesuai dengan aturan saja atau memenuhi target kerja, sehingga pada pelaksanan Ujian Nasional terjadi kecurangan-kecurangan (Harian Wawasan, edisi Kamis, 29 November 2007). Namun sebenarnya kepemimpinan kepala sekolah diperlukan suatu pengetahuan, kemampuan, seni, prediksi, dan ketepatan dalam bertindak atau mengambil keputusan. Gaya kepemimpinan kepala sekolah masih diwarnai oleh gaya paternalistik, yang terlihat adalah gejala bahwa adanya gagasan yang dianggap dari kepala sekolah harus dihargai, dihormati, dan bahkan harus dilaksanakan, sehingga ada kepala sekolah yang menjual aset milik sekolah tanpa musyawarah dengan para guru dan komite sekolah yang akhirnya harus berurusan dengan kepolisian (Suara Merdeka, Selasa.

3 Juni 2008). Oleh karena itu, peningkatan produktivitas sekolah harus mendapat dukungan dari berbagai pihak dengan cara mengelola komponen-komponen, baik yang berada di dalam maupun di luar lingkungan pendidikan. Perubahan sistem pendidikan terjadi dalam proses yang relatif cepat sehingga membuat banyak tenaga kependidikan perlu beradaptasi diri terutama pada budaya mutu di sekolah.

Budaya mutu di sekolah dengan sistem tradisional masih melekat pada perilaku sumber daya manusia yang ada. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah harus mampu menjadikan budaya mutu termasuk salah satu komponen penting yang berperan dalam keberhasilan peningkatan kualitas produktivitas sekolah.

(9)

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang: “Kontribusi Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Mutu Terhadap Produktivitas Sekolah pada SMP Negeri di

Kabupaten Pati”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penelitian tentang:

Kontribusi Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Mutu Terhadap Produktivitas Sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran perilaku kepemimpinan kepala sekolah, budaya mutu, dan produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati?

2. Seberapa besar kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati?

3. Seberapa besar kontribusi budaya mutu terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati?

4. Seberapa besar kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap budaya mutu pada SMP Negeri di Kabupaten Pati?

5. Seberapa besar kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu secara bersama-sama terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati?

(10)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan umum dalam penelitian ini, adalah memberikan gambaran yang jelas mengenai perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan Budaya Mutu pengaruhnya terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang:

1. Perilaku kepemimpinan Kepala Sekolah dalam pengelolaan sekolah, budaya mutu, dan Produktivitas sekolah yang berkembang pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

2. Kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

3. Kontribusi budaya mutu terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

4. Kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap budaya mutu pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

5. Kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu secara bersama-sama terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di

Kabupaten Pati.

(11)

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian tentang Kontribusi Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Mutu terhadap Produktivitas Sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati berkaitan erat dengan teori kepemimpinan dan budaya mutu di sekolah serta produktivitas sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan akan mempunyai kegunaan , baik segi teoritis maupun segi praktis sebagai berikut:

1. Kegunaan Teoritis

Dalam penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan bagi peneliti di bidang kepemimpinan, budaya mutu dan produktivitas sekolah, sehingga penelitian ini akan menjadi bahan lebih lanjut baik bagi peneliti maupun bagi para guru pada SMP Negeri di Kabupaten Pati yang membutuhkan guna mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik.

2. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada kepala sekolah dan para guru SMP Negeri di Kabupaten Pati dalam upaya peningkatan produktivitas sekolah dalam mewujudkan lulusan yang berkualitas yang siap melanjutkan ke SMA/MA/SMK, atau yang sederajat.

E. Kerangka Berfikir

Pemimpin akan muncul jika ada sekelompok orang bekerja yang melakukan aktivitas bersama untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapai tujuan bersama (Gibson dalam

(12)

Sudarmayanti, 2002: 272). Jadi dalam memimpin pasti terlibat kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau memotivasi orang lain/bawahannya agar mereka mau melaksanakan tugasnya dengan baik. Pengertian lain bahwa kepemimpinan merupakan suatu aktivitas untuk mempengaruhi perilaku atau seni mempengaruhi manusia baik perorangan maupun kelompok (Miftah Toha, 2004:

9).

Yukl (1988:5) mendefisinikan kepemimpinan sebagai berikut:

leadership is defined broadly as influence processes affecting the interpretation of events for followers, the choice of objectives for the group or organization, the organization of work actives to accomplish the objectives, the motivation of followers to achieve the objectives, the maintenance of cooperative relationships and teamwork, and the enlistment of support and cooperation from people outside the group or organization.

Artinya: kepemimpinan merupakan proses pemimpin mempengaruhi pengikut untuk, (a) menginterpretasikan keadaan (lingkungan organisasi), (b) pemilih tujuan organisasi, (c) pengorganisasian kerja dan memotivasi pengikut untuk mencapai tujuan organisasi, (d) mempertahankan kerja sama dan tim kerja, (e) mengorganisasi dukungan dan kerja sama orang dari luar organisasi

Tenaga kependidikan harus dapat bekerja secara produktif. Seorang pemimpin harus dapat mengelola unsur-unsur yang ada di sekolah secara produktif dan ia harus mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, yang biasa diistilahkan dengan budaya mutu yang kondusif. Suasana yang demikian akan dapat memungkinkan para guru dan tenaga kependidikan yang lain dapat bekerja dengan nyaman, tenang, tidak terburu-buru, penuh keakraban dan saling menghargai di antara mereka. Budaya mutu di sekolah yang demikian sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas sekolah.

(13)

Tilaar, 2004: 41 mengemukakan bahwa

kebudayaan dan pendidikan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan karena saling mengikat. Budaya itu hidup dan berkembang karena proses pendidikan, dan pendidikan itu hanya ada dalam suatu konteks kebudayaan. Yang ada dalam arti kurikulum adalah sebagai rekayasa dari pembudayaan suatu masyarakat,

Dengan menciptakan iklim keberhasilan atau lingkungan kerja yang sekondusif mungkin, efektifitas pimpinan akan sangat meningkat. Di samping itu seorang pimpinan juga dituntut untuk dapat memberikan rangsangan dan mendorong atau memotivasi setiap pegawainya dalam bekerja. Dengan demikian para pegawai dapat melaksanakan tugas dengan baik, dan dapat mengembangkan kemampuannya, terampil dan tekun dalam melaksanakan pekerjaan, serta bangga terhadap hasil pekerjaannya. Hal yang demikian sangat mempengaruhi produktivitas sekolah. Budaya mutu dapat dipandang dari berbagai sudut; tiga perspektif yang umumnya digunakan adalah keterbukaan perilaku, kesehatan pengaruh antar pribadi, dan humanisme dalam idiologi pengendalian siswa.

(Wayne K. Hoy, 2001:189).

Produktivitas merupakan rasio antara input (masukan) dan output (keluaran) yang diperoleh. Masukan dapat berupa biaya produksi, peralatan dan lainnya sedang keluaran dapat berupa barang, uang atau jasa. Jika diterapkan pada pendidikan maka produktivitas merupakan hasil segala upaya dari sekolah dengan menghasilkan kuantitas serta kualitas siswa, dan pendidikan. Namun dalam pengertian keluaran atau hasil ini cenderung pada kualtias keluaran. Demikian pula produktivitas di bidang pendidikan/sekolah menyangkut upaya peningkatan produksi. Sebagai sarana untuk meningkatkan produksi di bidang pendidikan

(14)

adalah ketenagaan, kepandaian/keahlian, teknik pembelajaran, kurikulum, peralatan atau sarana prasarana pendidikan sebagai sistem pendidikan (Hasibuan, 2005: 128)

Produktivitas sekolah meliputi (1) The administrator Production Function (APF); yaitu yaitu fungsi manajerial (administrasi); (2) The Psychologis’s Production Function (PPF); yaitu fungsi behavior (psikologis); dan (3) The Economic Production Function (EPF); yaitu fungsi ekonomi (ekonomis) (Thomas J. Alan, 1971:12-13). Sekolah yang produktif dan efektif mempunyai beberapa demensi, yaitu (1) kebermaknaan proses belajar mengajar (PBM); (2) manajemen sekolah/pengelolaan sekolah; (3) keefektifan budaya sekolah (iklim organisasi sekolah yang kondusif); dan (4) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat.

Dimensi tersebut mencakup kata kunci; (1) konteks; (2) input (3) proses; (4) output; dan (5) outcome.

Reyes (1997:2) mengemukakan bahwa:

Produktifitas sebuah lembaga pendidikan biasanya diukur melalui dua hal yaitu produktivitas jangka panjang, misalnya keberhasilan tamatan pada dunia kerja atau pada pendidikan tingkat lanjut dan produktifitas jangka pendek yaitu kemajuan belajar siswa dan perubahan sikap/perilaku siswa.

Reyes mengindikasikan bahwa pada dasarya produktifitas sebuah sekolah dapat dilihat dari lulusan dan kondisi siswa selama mengikuti kegiatan pendidikan dalam sekolah tersebut. Dilihat dari sisi tamatan, sekolah dikatakan produktif apabila mampu menghasilkan tamatan yang diserap oleh dunia kerja dan oleh jenjang pendidikan lanjutan dalam jumlah yang banyak. Sedangkan dilihat dari sisi kondisi siswa selama mengikuti pendidikan, sekolah disebut poduktif apabila para siswa mampu mencapai kemajuan belajar yang pesat dan perubahan perilaku yang positif.

Dari kutipan tersebut, dapat dilihat bahwa banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas sekolah, diantaranya adalah faktor perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu. Oleh karena itu, dapat dikatakan, jika perilaku kepemimpinan kepala sekolah profesional akan memungkinkan

(15)

terjadinya budaya mutu di sekolah yang kondusif dan keduanya akan dapat meningkatkan produktivitas sekolah.

Dengan memperhatikan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu akan berpengaruh terhadap produktivitas sekolah tersebut. Oleh sebab itu, sebagai pimpinan suatu sekolah perlu menyadari akan pentingnya hal tersebut, dan lebih dari itu mereka sudah seharusnya selalu berusaha agar perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang baik dan tercipta budaya mutu pada suatu sekolah yang kondusif serta berusaha dengan berbagai cara untuk meningkatkan produktivitas sekolah yang mereka inginkan dapat terwujud. Secara konseptual, produktivitas sekolah akan meningkat jika tercipta budaya mutu yang kondusif dan jika perilaku kepemimpinan kepala sekolah tersebut juga profesional.

Dari uraian tersebut, maka diduga bahwa perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu berkontribusi terhadap produktivitas sekolah. Dengan demkian semakin baik perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu semakin tinggi pula produktivitas sekolah.

(16)

Kerangka pikir penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penelitian Budaya Mutu

(X2)

Peningkatan Produktivitas

Sekolah (Y)

Pendidikan yang berkualitas Perilaku

Kepemimpinan Kepala Sekolah

(X1) Sumber Daya

Manusia ADMINISTRASI

PENDIDIKAN

FENOMENA - Pola kepemimpinan

kepala sekolah tidak jelas

- Kepala sekolah kurang kreatif

- Visi dan misi tidak jelas - Perlakuan kepala sekolah

tidak adil

- Adanya friksi dalam organisasi sekolah - Budaya Mutu tidak

kondusif

- Produktivitas Sekolah kurang terpacu

feedback

(17)

H. Hipotesa

Berdasarkan kerangka berfikir tersebut di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

2. Budaya Mutu berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap produktivitas sekolah Pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

3. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap Budaya Mutu pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

4. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah dan budaya mutu secara bersama- sama berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap produktivitas sekolah pada SMP Negeri di Kabupaten Pati.

Gambar

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penelitian Budaya Mutu (X2)  Peningkatan  Produktivitas  Sekolah (Y) Pendidikan yang berkualitas Perilaku Kepemimpinan   Kepala Sekolah (X1) Sumber Daya Manusia ADMINISTRASI PENDIDIKAN FENOMENA - Pola kepemimpinan

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan seni ini bila digunakan oleh konselor, dapat menjadi suatu pendekatan yang sangat berguna untuk membantu anak mengatasi masalahnya sehingga dapat

Dengan demikian diharapkan para praktisi jasa konstruksi dalam hal ini kontraktor menyadari pentingnya mengetahui faktor-faktor tersebut agar dapat menemukan solusi

Pihak sekolah juga perlu menciptakan kondisi sekolah yang mendukung pelaksanaan proses integrasi dan pembuatan kebijakan yang baik disertai dengan manajemen yang baik

Karena pentingnya keaktifan siswa ini, guru perlu mengupayakan pembelajaran yang menggunakan strategi pembelajaran aktif yang tepat yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan

Pentingnya peran guru dalam membentuk perilaku sosial emosional yang baik, karena guru merupakan figur yang sering anak perhatikan saat anak di sekolah, maka perilaku yang

1. Pembelajaran PPKn pada masa pandemi covid – 19 masih perlu menekankan pentingnya budi pekerti. Pembelajaran PPKn yang dilakukan secara online yaitu perlu dirancang

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi tersebut maka mahasiswa telah menyadari bahwa karakter dari persistence ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi

Alasannya, menulis merupakan salahsatu aspek yang perlu dikuasai siswa Sekolah Dasar (SD) dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. 137) mengemukakan bahwa menulis “...sebagai