VISI PUSTAKA Vol. 14, No. 3, Desember 2012 PENDAHULUAN
Istilah perpustakaan dijital, perpus-takan hibrida dan katalog online meski-pun telah didefinisikan dalam berbagai tulisan dari para ahli, tetap saja mem-buat sebagian pustakawan terutama yang tidak terlalu paham TIK sedikit kesulitan dalam menggunakan istilah yang tepat.
Pada beberapa definisi umum, pustakaan dijital dinyatakan sebagai per-pustakaan yang memiliki katalog online untuk koleksi pustaka fisik maupun di-jital. Biasanya, bila ada katalog online, maka akan disediakan pula layanan peminjaman/pemesanan bahan pustaka secara online. Tersedianya sebagian atau-pun keseluruhan layanan pustaka secara
online sebagaimana secara fisik disebut
sebagai perpustakaan hibrida.
Pada beberapa definisi “ekstrim”, perpustakaan dijital dinyatakan sebagai perpustakaan virtual yang “hanya” mengelola koleksi pustaka dalam bentuk dijital (file komputer) secara dijital. Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, dimungkinkan untuk membangun sebuah perpustakaan digital
yang divisualisasikan dengan animasi 3 dimensi terprogram untuk membangkit-kan cita rasa mirip realita dalam dunia virtual (virtual reality). Tidak menutup kemungkinan animasi 3 dimensi ter-program juga diterapkan pada perpus-takaan hibrida.
Virtual Reality (VR - Realita Virtual)
merupakan suatu teknologi yang me-mungkinkan simulasi komputer terindra seperti kenyataan dengan bantuan perangkat tertentu. Perangkat tertentu inilah yang merupakan kunci interaksi
input dan/atau output antara manusia
dengan komputer. Tentu keadaan standardnya adalah manusia dalam keadaan normal tanpa lamunan dan se-jenisnya. Sebab setiap manusia telah di-karuniai Tuhan sebuah otak yang luar biasa yang bisa membawa kepada keadaan
realita virtual tanpa bantuan perangkat
apapun. Sehingga animasi 3 dimensi atau bahkan hanya gambar 2 dimensi pun bila disajikan sedemikian rupa sesungguhnya sudah lebih dari cukup untuk membantu manusia untuk bisa menghadirkan “realita
virtual”.
Untuk mewujudkan animasi 3 dimensi terprogram apalagi realita
Abstract
The development of information technology has prompted traditional catalogue to become online catalogue (OPAC). Since OPAC is mostly developed on the basis of traditional catalogue, it solely puts the text version of the traditional catalogue to online. Instead, visual information can also be provided online easily. The recommendation to add several visual features in OPAC is expected to make it more useful for users. Survey shows that the additional features are expected by users to be available in OPAC.
Maks Agustinus*
* Staf Otomasi Perpustakaan Universitas Kristen Petra
OPTIMALISASI KATALOG ONLINE
VISI PUSTAKA Vol. 14, No. 3, Desember 2012
virtual, bagi kebanyakan institusi
per-pustakaan mungkin masih belum me-mungkinkan. Hal ini terutama terkait keterbatasan sumber daya. Bahkan bila dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan mungkin masih tidak se-banding. Namun hal ini tidak berarti bahwa cita rasa realita tidak bisa dihadirkan dengan teknologi yang telah dimiliki oleh kebanyakan perpustakaan pada umumnya. Yaitu dengan cara menangkap proyeksi 2 dimensi dari bagian-bagian yang dibutuhkan dari realita untuk kemudian menempatkan pada katalog
online sedemikian sehingga pengguna
seperti berada di depan rak buku.
Untuk membangun sebuah katalog
online 2 dimensi dengan cita rasa realita,
maka perlu dilakukan proyeksi dari realita layanan pustaka menjadi infor-masi katalog 2 dimensi. Tulisan ini akan membahas pengumpulan unsur-unsur apa saja yang bisa ditambahkan baik dari proyeksi 3D tampilan bahan pustaka maupun dari text yang ada dalam hasil proyeksi. Untuk mengetahui seberapa penting unsur-unsur tambahan tersebut bagi pengguna, dalam hal ini digunakan metode survei sederhana yang dikenakan pada sampel populasi/pengguna.
Realita Fisik
Para pengembang realita virtual, akan mengacu pada realita fisik untuk membuat realita virtual semirip mungkin dengan realita fisik. Observasi secara seksama perlu dilakukan untuk mengetahui bagian mana yang penting untuk disalin dan dibawa serta diterapkan pada realita
virtual. Untuk mendapatkan cita rasa
realita, maka bagian – bagian penting tersebut perlu dipetakkan menjadi 2 dimensi. Tentunya tidak semua bagian penting tersebut bisa dibawa ke bentuk 2 dimensi dari katalog online. Hanya proyeksi yang dianggap signifikan saja yang akan diambil. Namun untuk tahap awal perlu diketahui realita fisik apa saja
yang dilalui pengguna bila membutuh-kan bahan pustaka.
Dewasa ini setiap perpustakaan pasti memiliki katalog yang kebanyakan sudah
online (OPAC). Pengguna bisa mengakses
secara remote via web atau LAN atau langsung lewat komputer anjungan yang disediakan khusus untuk katalog online di suatu perpustakaan. Mengakses katalog, baik online maupun tradisional, adalah salah satu realita fisik.
Realita fisik berikutnya adalah men-cari bahan pustaka pada rak sesuai nomor katalog. Pada saat mencari, pengguna pasti secara tidak sengaja melihat-lihat bahan pustaka lainnya yang berada di sekitar bahan pustaka yang dicari. Bisa jadi aktivitas spontan ini dilakukan tanpa memanfaatkan OPAC. Pada saat tersebut, biasanya pengguna melihat in-formasi tulisan dan gambar yang ada di bagian cover baik depan luar, belakang luar, samping, depan dalam dan belakang dalam. Bahkan tidak jarang, pengguna juga membuka secara acak halaman dalam dari bahan pustaka.
Bagi pengguna yang tidak tahu bahan pustaka apa yang dibutuhkan, pengguna akan melakukan penelusuran ke rak-rak bahan pustaka yang mungkin dia butuhkan. Proses fisik ini tentu cukup menyita waktu dan melelahkan. Tetapi hasilnya bisa sangat memuaskan bila mencari suatu bahan pustaka dan akhirnya menemukan.
Begitulah kurang lebih proses fisik yang harus dilalui oleh kebanyakan pengguna untuk mendapatkan bahan pustaka yang dibutuhkan. Tentu hal ini dikecualikan untuk layanan pemesanan. Sebab hanya satu proses “besar” yang harus dilalui oleh pengguna yang memilih layanan pemesanan. Yaitu menunggu sampai pengguna lain yang meminjam bahan pustaka tersebut mengembalikannya.
46
virtual, bagi kebanyakan institusi
per-pustakaan mungkin masih belum me-mungkinkan. Hal ini terutama terkait keterbatasan sumber daya. Bahkan bila dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan mungkin masih tidak se-banding. Namun hal ini tidak berarti bahwa cita rasa realita tidak bisa dihadirkan dengan teknologi yang telah dimiliki oleh kebanyakan perpustakaan pada umumnya. Yaitu dengan cara menangkap proyeksi 2 dimensi dari bagian-bagian yang dibutuhkan dari realita untuk kemudian menempatkan pada katalog
online sedemikian sehingga pengguna
seperti berada di depan rak buku.
Untuk membangun sebuah katalog
online 2 dimensi dengan cita rasa realita,
maka perlu dilakukan proyeksi dari realita layanan pustaka menjadi infor-masi katalog 2 dimensi. Tulisan ini akan membahas pengumpulan unsur-unsur apa saja yang bisa ditambahkan baik dari proyeksi 3D tampilan bahan pustaka maupun dari text yang ada dalam hasil proyeksi. Untuk mengetahui seberapa penting unsur-unsur tambahan tersebut bagi pengguna, dalam hal ini digunakan metode survei sederhana yang dikenakan pada sampel populasi/pengguna.
Realita Fisik
Para pengembang realita virtual, akan mengacu pada realita fisik untuk membuat realita virtual semirip mungkin dengan realita fisik. Observasi secara seksama perlu dilakukan untuk mengetahui bagian mana yang penting untuk disalin dan dibawa serta diterapkan pada realita
virtual. Untuk mendapatkan cita rasa
realita, maka bagian – bagian penting tersebut perlu dipetakkan menjadi 2 dimensi. Tentunya tidak semua bagian penting tersebut bisa dibawa ke bentuk 2 dimensi dari katalog online. Hanya proyeksi yang dianggap signifikan saja yang akan diambil. Namun untuk tahap awal perlu diketahui realita fisik apa saja
yang dilalui pengguna bila membutuh-kan bahan pustaka.
Dewasa ini setiap perpustakaan pasti memiliki katalog yang kebanyakan sudah
online (OPAC). Pengguna bisa mengakses
secara remote via web atau LAN atau langsung lewat komputer anjungan yang disediakan khusus untuk katalog online di suatu perpustakaan. Mengakses katalog, baik online maupun tradisional, adalah salah satu realita fisik.
Realita fisik berikutnya adalah men-cari bahan pustaka pada rak sesuai nomor katalog. Pada saat mencari, pengguna pasti secara tidak sengaja melihat-lihat bahan pustaka lainnya yang berada di sekitar bahan pustaka yang dicari. Bisa jadi aktivitas spontan ini dilakukan tanpa memanfaatkan OPAC. Pada saat tersebut, biasanya pengguna melihat in-formasi tulisan dan gambar yang ada di bagian cover baik depan luar, belakang luar, samping, depan dalam dan belakang dalam. Bahkan tidak jarang, pengguna juga membuka secara acak halaman dalam dari bahan pustaka.
Bagi pengguna yang tidak tahu bahan pustaka apa yang dibutuhkan, pengguna akan melakukan penelusuran ke rak-rak bahan pustaka yang mungkin dia butuhkan. Proses fisik ini tentu cukup menyita waktu dan melelahkan. Tetapi hasilnya bisa sangat memuaskan bila mencari suatu bahan pustaka dan akhirnya menemukan.
Begitulah kurang lebih proses fisik yang harus dilalui oleh kebanyakan pengguna untuk mendapatkan bahan pustaka yang dibutuhkan. Tentu hal ini dikecualikan untuk layanan pemesanan. Sebab hanya satu proses “besar” yang harus dilalui oleh pengguna yang memilih layanan pemesanan. Yaitu menunggu sampai pengguna lain yang meminjam bahan pustaka tersebut mengembalikannya.
VISI PUSTAKA Vol. 14, No. 3, Desember 2012
Dari realita fisik yang dialami peng-guna di atas, diketahui bahwa penelusuran bahan pustaka di rak masih belum mendapat perhatian khusus pada sebagian besar sistem informasi perpustakaan (katalog
online dll). Sebab sebagian besar hanya
mencantumkan informasi huruf
(meta-data) dari suatu bahan pustaka hasil
pen-carian/penelusuran. Kalaupun ada, hanya cover depan luar yang ditampilkan. Itu-pun ditampilkan dalam bentuk preview/
thumbnail (ukuran kecil). Bahkan sering
cover depan diambil bukan dari koleksi yang dimiliki, melainkan dari hasil
“har-vesting” di internet untuk judul buku dan
ISBN yang sama. Ini bisa dimaklumi karena katalog online memang berangkat dari katalog “tradisional”.
Untuk efisiensi, teknik harvesting memang bagus dari pada harus melaku-kan scanning cover dari ribuan bahan pustaka. Namun hasilnya perlu diverifikasi apakah sesuai dengan koleksi yang di-miliki. Mengapa demikian? sebab buku dengan judul dan pengarang serta penerbit yang sama, bisa memiliki cover yang ber-beda bila ber-beda periode cetakan atau ber-beda negara target pasar dan lain-lain. Belum lagi bila ada kesalahan teknis, baik dari pengelola web yang dituju maupun dari algoritma kode program harvesting yang digunakan.
Berdasarkan pengalaman fisik peng-guna, maka kita harus memproyeksi-kan dengan benar cover bahan pus-taka bagian depan-luar, belakang-luar, samping serta depan-dalam dan belakang-dalam, bila ada, ke dalam katalog
on-line baik dalam bentuk gambar maupun
teks. Bahkan, bila memungkinkan, juga beberapa halaman cuplikan isi bahan pustaka diikut sertakan. Informasi dalam bentuk gambar sangat berguna bagi pengalaman visual pengguna. Sedang-kan informasi dalam bentuk teks sangat berguna bagi mesin pencari.
Proses proyeksi yang benar dapat dilihat berdasarkan hasil proyeksi. Apa-pun alat yang digunakan dalam proses proyeksi, baik itu scanner maupun kamera, penting untuk memperhatikan hasil proyeksi. Paling tidak, gambar harus terlihat jelas dan tulisan bisa ter-baca. Sedikit distorsi asal tidak terlalu menggangu, bisa ditoleransi.
Berapa kira-kira tempat penyimpanan yang dibutuhkan? Kalau yang diproyeksi-kan adalah 5 bagian cover dan 2 halaman isi, maka akan ada 7 gambar proyeksi un-tuk 1 bahan pustaka. Satu gambar proyek-si bila diproyek-simpan dalam format JPG akan berukuran sekitar 200 Kilobita. Untuk 7 gambar, dibutuhkan sekitar 1,4 Megab-ita untuk setiap bahan pustaka. Bila ada 100.000 buku, maka tempat penyim-panan yang dibutuhkan sekitar 140 Giga-bita. Bila masing-masing gambar memiliki
preview, biasanya sekitar 1/5 dari file
asli, maka total tempat penyim-panan sekitar 168 Gigabita. Jumlah tersebut masih belum sampai separuh dari kapasitas harddisk dipasaran saat ini yang berukuran minimal 500 Gigabita. Bahkan komputer server kelas “low
end “ sudah memiliki kapasitas hard-disk minimal 1 Terabita (sekitar 1024
Gigabita).
Berikut ini adalah unsur-unsur tambahan baik yang berasal dari proyeksi 3D cover buku maupun yang berasal dari beberapa halaman isi buku:
a. cover depan-luar b. cover belakang-luar c. cover samping d. cover depan-dalam e. cover belakang-dalam f. daftar isi
g. beberapa halaman isi buku h. komentar dari orang terkenal i. synopsis/ ringkasan/ abstraksi
Hasil Survei
Untuk mengetahui peringkat derajat
VISI PUSTAKA Vol. 14, No. 3, Desember 2012
kepentingan adanya unsur-unsur di atas bagi pengguna, diadakanlah sebuah survei sederhana. Survei ini terdiri dari beberapa pertanyaan pendukung dan 1 pertanyaan utama. Sebanyak 30 responden dipilih secara acak dari populasi pengguna. OPAC yang menjadi dasar dalam survei ini adalah OPAC milik Perpustakaan Universitas Kristen Petra.
Berdasarkan survei di atas didapatkan fakta-fakta berikut ini.
Pengguna yang tidak pernah berkunjung ke perpustakaan mencapai 3% responden. Pengguna yang pernah ke perpustakaan tapi jarang (sekali-sekali) mencapai 77% responden. Pengunjung mingguan mencapai 7% responden. Dan pengunjung bulanan mencapai 13% responden. Total mencapai 97% responden yang pernah berkunjung ke perpustakaan.
Pengguna OPAC mencapai 60% dari responden anggota perpustakaan. Yang merasa tidak terbantu dengan adanya OPAC mencapai 10% responden. Yang agak terbantu dan sangat terbantu ber-turut-turut mencapai 23% dan 27% responden, total 50% responden.
Pengguna yang setia dengan OPAC dalam mencari bahan pustaka mencapai 26,7% responden. Pengguna yang sekali-kali dan sering mengabaikan OPAC dan langsung meluncur ke rak bahan pustaka berturut-turut mencapai 66,6% dan 6,7% responden, total 73,3% responden.
Sebanyak 6,7% responden menyatakan tidak pernah tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian cover buku. Sedangkan berturut-turut 86,6% dan 6,7% responden menyatakan pernah dan sering tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian cover buku. Artinya, bisa dikatakan bahwa 93,3% responden pernah tertarik pada sebuah bahan pustaka karena melihat covernya.
Sebanyak 13% responden menyatakan tidak pernah tertarik melihat beberapa halaman isi buku secara acak dalam men-cari bahan pustaka. Sedangkan berturut-turut 80% dan 7% responden menyata-kan pernah dan sering tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian halaman isi buku. Artinya, bisa dika-takan bahwa 87% responden pernah ter-tarik pada sebuah bahan pustaka karena melihat informasi pada beberapa bagian halaman isi buku.
Berikut peringkat derajat kepentingan masing-masing unsur yang didapatkan dengan menjumlahkan pemeringkatan yang diberikan oleh masing-masing responden : a. cover depan-luar [ 1 ] b. cover belakang-luar [ 2 ] c. cover samping [ 7 ] d. cover depan-dalam [ 5 ] e. cover belakang-dalam [ 9 ] f. daftar isi [ 8 ]
g. beberapa halaman isi buku [ 4 ] h. komentar dari orang terkenal [ 6 ] i. synopsis/ ringkasan/ abstraksi [ 3 ]
Bila pihak management dari suatu perpustakaan memutuskan hanya bisa menerapkan sebagian saja dari unsur-unsur tambahan tersebut di atas pada OPAC mereka, maka pemeringkatan ini bisa dijadikan dasar untuk memilih dan memilah unsur-unsur mana saja yang bisa dipakai.
Berikutnya, sebanyak 67 % responden menyatakan mungkin akan terbantu dalam mencari bahan pustaka yang dibutuhkan bila informasi unsur-unsur tambahan diterapkan dalam OPAC. Sedangkan 33% responden meyakini, pasti terbantu dalam mencari bahan pustaka. Hal ini berarti peluang untuk bisa mencapai 100% penggunaan OPAC oleh seluruh anggota perpustakaan adalah dengan menerapakan/menambahkan unsur-unsur tambahan tersebut pada OPAC.
Dari realita fisik yang dialami peng-guna di atas, diketahui bahwa penelusuran bahan pustaka di rak masih belum mendapat perhatian khusus pada sebagian besar sistem informasi perpustakaan (katalog
online dll). Sebab sebagian besar hanya
mencantumkan informasi huruf
(meta-data) dari suatu bahan pustaka hasil
pen-carian/penelusuran. Kalaupun ada, hanya cover depan luar yang ditampilkan. Itu-pun ditampilkan dalam bentuk preview/
thumbnail (ukuran kecil). Bahkan sering
cover depan diambil bukan dari koleksi yang dimiliki, melainkan dari hasil
“har-vesting” di internet untuk judul buku dan
ISBN yang sama. Ini bisa dimaklumi karena katalog online memang berangkat dari katalog “tradisional”.
Untuk efisiensi, teknik harvesting memang bagus dari pada harus melaku-kan scanning cover dari ribuan bahan pustaka. Namun hasilnya perlu diverifikasi apakah sesuai dengan koleksi yang di-miliki. Mengapa demikian? sebab buku dengan judul dan pengarang serta penerbit yang sama, bisa memiliki cover yang ber-beda bila ber-beda periode cetakan atau ber-beda negara target pasar dan lain-lain. Belum lagi bila ada kesalahan teknis, baik dari pengelola web yang dituju maupun dari algoritma kode program harvesting yang digunakan.
Berdasarkan pengalaman fisik peng-guna, maka kita harus memproyeksi-kan dengan benar cover bahan pus-taka bagian depan-luar, belakang-luar, samping serta depan-dalam dan belakang-dalam, bila ada, ke dalam katalog
on-line baik dalam bentuk gambar maupun
teks. Bahkan, bila memungkinkan, juga beberapa halaman cuplikan isi bahan pustaka diikut sertakan. Informasi dalam bentuk gambar sangat berguna bagi pengalaman visual pengguna. Sedang-kan informasi dalam bentuk teks sangat berguna bagi mesin pencari.
Proses proyeksi yang benar dapat dilihat berdasarkan hasil proyeksi. Apa-pun alat yang digunakan dalam proses proyeksi, baik itu scanner maupun kamera, penting untuk memperhatikan hasil proyeksi. Paling tidak, gambar harus terlihat jelas dan tulisan bisa ter-baca. Sedikit distorsi asal tidak terlalu menggangu, bisa ditoleransi.
Berapa kira-kira tempat penyimpanan yang dibutuhkan? Kalau yang diproyeksi-kan adalah 5 bagian cover dan 2 halaman isi, maka akan ada 7 gambar proyeksi un-tuk 1 bahan pustaka. Satu gambar proyek-si bila diproyek-simpan dalam format JPG akan berukuran sekitar 200 Kilobita. Untuk 7 gambar, dibutuhkan sekitar 1,4 Megab-ita untuk setiap bahan pustaka. Bila ada 100.000 buku, maka tempat penyim-panan yang dibutuhkan sekitar 140 Giga-bita. Bila masing-masing gambar memiliki
preview, biasanya sekitar 1/5 dari file
asli, maka total tempat penyim-panan sekitar 168 Gigabita. Jumlah tersebut masih belum sampai separuh dari kapasitas harddisk dipasaran saat ini yang berukuran minimal 500 Gigabita. Bahkan komputer server kelas “low
end “ sudah memiliki kapasitas hard-disk minimal 1 Terabita (sekitar 1024
Gigabita).
Berikut ini adalah unsur-unsur tambahan baik yang berasal dari proyeksi 3D cover buku maupun yang berasal dari beberapa halaman isi buku:
a. cover depan-luar b. cover belakang-luar c. cover samping d. cover depan-dalam e. cover belakang-dalam f. daftar isi
g. beberapa halaman isi buku h. komentar dari orang terkenal i. synopsis/ ringkasan/ abstraksi
Hasil Survei
Untuk mengetahui peringkat derajat
kepentingan adanya unsur-unsur di atas bagi pengguna, diadakanlah sebuah survei sederhana. Survei ini terdiri dari beberapa pertanyaan pendukung dan 1 pertanyaan utama. Sebanyak 30 responden dipilih secara acak dari populasi pengguna. OPAC yang menjadi dasar dalam survei ini adalah OPAC milik Perpustakaan Universitas Kristen Petra.
Berdasarkan survei di atas didapatkan fakta-fakta berikut ini.
Pengguna yang tidak pernah berkunjung ke perpustakaan mencapai 3% responden. Pengguna yang pernah ke perpustakaan tapi jarang (sekali-sekali) mencapai 77% responden. Pengunjung mingguan mencapai 7% responden. Dan pengunjung bulanan mencapai 13% responden. Total mencapai 97% responden yang pernah berkunjung ke perpustakaan.
Pengguna OPAC mencapai 60% dari responden anggota perpustakaan. Yang merasa tidak terbantu dengan adanya OPAC mencapai 10% responden. Yang agak terbantu dan sangat terbantu ber-turut-turut mencapai 23% dan 27% responden, total 50% responden.
Pengguna yang setia dengan OPAC dalam mencari bahan pustaka mencapai 26,7% responden. Pengguna yang sekali-kali dan sering mengabaikan OPAC dan langsung meluncur ke rak bahan pustaka berturut-turut mencapai 66,6% dan 6,7% responden, total 73,3% responden.
Sebanyak 6,7% responden menyatakan tidak pernah tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian cover buku. Sedangkan berturut-turut 86,6% dan 6,7% responden menyatakan pernah dan sering tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian cover buku. Artinya, bisa dikatakan bahwa 93,3% responden pernah tertarik pada sebuah bahan pustaka karena melihat covernya.
Sebanyak 13% responden menyatakan tidak pernah tertarik melihat beberapa halaman isi buku secara acak dalam men-cari bahan pustaka. Sedangkan berturut-turut 80% dan 7% responden menyata-kan pernah dan sering tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian halaman isi buku. Artinya, bisa dika-takan bahwa 87% responden pernah ter-tarik pada sebuah bahan pustaka karena melihat informasi pada beberapa bagian halaman isi buku.
Berikut peringkat derajat kepentingan masing-masing unsur yang didapatkan dengan menjumlahkan pemeringkatan yang diberikan oleh masing-masing responden : a. cover depan-luar [ 1 ] b. cover belakang-luar [ 2 ] c. cover samping [ 7 ] d. cover depan-dalam [ 5 ] e. cover belakang-dalam [ 9 ] f. daftar isi [ 8 ]
g. beberapa halaman isi buku [ 4 ] h. komentar dari orang terkenal [ 6 ] i. synopsis/ ringkasan/ abstraksi [ 3 ]
Bila pihak management dari suatu perpustakaan memutuskan hanya bisa menerapkan sebagian saja dari unsur-unsur tambahan tersebut di atas pada OPAC mereka, maka pemeringkatan ini bisa dijadikan dasar untuk memilih dan memilah unsur-unsur mana saja yang bisa dipakai.
Berikutnya, sebanyak 67 % responden menyatakan mungkin akan terbantu dalam mencari bahan pustaka yang dibutuhkan bila informasi unsur-unsur tambahan diterapkan dalam OPAC. Sedangkan 33% responden meyakini, pasti terbantu dalam mencari bahan pustaka. Hal ini berarti peluang untuk bisa mencapai 100% penggunaan OPAC oleh seluruh anggota perpustakaan adalah dengan menerapakan/menambahkan unsur-unsur tambahan tersebut pada OPAC.
VISI PUSTAKA Vol. 14, No. 3, Desember 2012 Kesimpulan
Agar keberadaan sebuah perpus-takaan hibrida dapat tersosialisasi dengan cukup baik dan dapat diakses secara luas maka diperlukan strategi pemasaran yang tepat agar semua produk dan layanan yang ada di dalam perpustakaan hibrida dapat diketahui sebelum pengguna datang ke perpustakaan.
Terkait pemenuhan tujuan agar peng-guna bisa mengetahui semua produk jasa dan layanan yang ada di dalam perpus-takaan hibrida sebelum datang secara fisik ke perpustakaan, maka perlu ditingkatkan lagi fungsi dan fasilitas dari OPAC sedemikian sehingga tujuan tersebut bisa terpenuhi. Penambahan unsur-unsur baru yang belum ada sebagaimana yang telah dibahas, bisa membantu tujuan ini.
Saran
Dari tulisan ini, selain bisa dikembang-kan untuk membuat OPAC dengan fasili-tas dan fungsi yang lebih baik dari se-belumnya, juga bisa dikembangkan lebih lanjut untuk membuat Rak Online serta Ruang/Spot Pamer Online.
Tulisan ini bila diimplementasikan, hasilnya sudah sangat dekat dengan Rak
Online. Beberapa kode program gratis,
seperti Jquery, bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan gambar 2 dimensi yang akan menghasilkan efek 3 dimensi seperti sedang berada di depan rak buku.
Ruang Pamer mulai dilirik untuk diadakan oleh beberapa perpustakaan. Dengan adanya ruang pamer, buku baru maupun buku lama (terutama yang jarang dipinjam) bisa disosialisasikan kepada pengguna. Bila katalog dan rak bisa
di-online-kan, maka ruang pamer pun bisa
dibuat versi onlinenya.
Daftar Pustaka
Arif Surachman (2007),
Digital Library: suatu pemahaman dari sudut pandang perpustakaan, tersedia di : arifs.staff.ugm.ac.id/my-paper/DL_ArifS.doc diakses tanggal 3 Desember 2012.
Joseph R. Levy and Harley Bjelland (1995)
Create Your Own Virtual Reality System, Windcrest/McGraw-Hill, Newyork.
Lisa Allen (2005),
Hybrid Librarians in the 21st Centu-ry LibraCentu-ry: A Collaborative Service-Staffing Model, ACRL Twelfth Na-tional Conference, Minneapolis. Ray Prytherch (2005),
Tenth ed. Harrod’s Librarian’s Glossary and reference book, Ashgate, Aldershot
Raymond McLeod and George Schell (2007),
Management Information System 10/e, Prentice Hall.
Sudaryono – Asep Saefullah – Untung Rahardja (2012),
Statistik Deskriptif for IT : Langkah mudah analisis data, Penerbit Andi, Yogyakarta.
VISI PUSTAKA Vol. 14, No. 3, Desember 2012 Pengantar
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-4 tahun 2008 mengartikan ‘kualitas’ sebagai tingkat baik buruknya sesuatu. Secara tersurat, arti ‘kualitas’ yang dinyata-kan oleh KBBI tersebut menggambardinyata-kan suatu tingkatan baik atau buruk yang mestinya didasarkan kepada suatu acuan yang digunakan. Sesuatu dapat dinilai baik jika ada ukuran atau acuan penilaian-nya. Acuan penilaian pada umumnya berupa aturan standar yang telah ditetap-kan dan disepakati untuk dilaksanaditetap-kan, misalnya Standar Nasional Indonesia (SNI) Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNI 7330:2009). Acuan penilaian akan bermakna dan memiliki kekuatan jika pelaksanaannya diawasi (dimonitor) oleh lembaga penilai yang bersifat independen.
Sebagai contoh, di kalangan pergu-ruan tinggi dan sekolah-sekolah di Indo-nesia telah berlangsung penilaian ter-hadap penyelenggaraan pendidikan yang dikenal dengan akreditasi. Di dalam
akreditasi sekolah atau perguruan tinggi tersebut tentu saja pihak yang diakreditasi adalah pihak yang harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah di-tentukan. Akreditasi di bidang pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia dapat di-katakan sebagai sebuah penilaian tingkat kualitas penyelenggaraan pendidikan oleh sebuah lembaga pendidikan tertentu.
Penilaian terhadap pelaksanaan suatu standar oleh lembaga independen akan menjadi cara pengukuran untuk menentukan kualitas suatu institusi atau kualitas sese-orang dalam profesi tertentu.
Perpustakaan perguruan tinggi, sebagai sebuah institusi, agar kualitasnya terukur, maka perlu dilakukan penilaian (akreditasi) terhadap penyelenggaraannya. Suatu pe-nilaian perpustakaan perguruan tinggi oleh lembaga independen yang didasarkan pada suatu acuan penilaian yang bersifat objektif dan transparan kiranya akan men-jawab tingkat kualitas perguruan tinggi.
Abstract
Sesuatu dapat dikatakan berkualitas jika memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas yang telah ditentukan. Kualitas dapat diukur berdasarkan sebuah standar (acuan) yang diikutinya. Kualitas sebuah perpustakaan perguruan tinggi dapat diukur berdasarkan suatu standar pengelolaan perpus-takaan yang diimplementasikan oleh perpusperpus-takaan tersebut. Acuan standar yang dapat diiimplemen-tasikan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam mencapai kualitas yaitu Standar Nasional Per-guruan Tinggi SNI 7330:2009 atau Standar Nasional Perpustakaan SNP 010:2011. Acuan standar lainnya yang dapat diiimplementasikan oleh perpustakaan perguruan tinggi yakni ISO 11620:2008. Selain acuan standar tersebut per-pustakaan perguruan tinggi juga dapat mengimplementasikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 sebagai standar sistem manajemen mutu yang diakui secara internasional. Suatu acuan standar yang diimplementasikan oleh perpustakaan perguruan tinggi akan sangat berdaya guna jika dalam implementasinya diikuti dengan akreditasi yang dilakukan oleh lembaga independen.
* Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta