2.1 PENDAHULUAN
Penelitian mengenai Screw Pile dan penggunaannya sudah cukup banyak dilakukan di luar negeri. Keuntungan dan kelebihan dan pondasi jenis ini telah dibuktikan oleh beberapa penelitinya, antara lain : Mitsch
dan Clemence (1985), Mooney (1986), Rao dan Prasad (1993).
Adapun perumusan-perumusan yang dipakai untuk menghitung kapasitas daya dukung dari pondasi screw pile ini diambil dari teori-teori para ahli mekanika tanah yang telah ada sebelumnya, diantaranya : Teori Terzaghi untuk pondasi dalam, teori Meyerhof untuk pondasi dalam, Teori Skempton untuk menentukan faktor daya dukung pondasi dan Teori Vesic untuk menggambarkan garis keruntuhan. Dan masih banyak teori dari para ahli lainnya yang bisa menjadi dasar dari penelitian pondasi screw pile.
2.1.1. PONDASI TIANG ULIR DANGKAL DAN PONDASI TIANG ULIR DALAM
Secara umum Pondasi Tiang Ulir {Screw Pile) dapat dibedakan menjadi 2 macam menurut kedalaman pemasangannya, yaitu:
a. Pondasi Tiang Ulir Dangkal {Shallow Screw Pile) b. Pondasi Tiang Ulir Dalam {Deep Screw Pile)
Pondasi Tiang Ulir Dangkal dan Pondasi Tiang Ulir Dalam dapat dibedakan dengan cara mengamati seberapa dalam jarak plat ulir dari permukaan tanah dan bagaimana bentuk (distribusi) keruntuhannya. Pada Pondasi Tiang Ulir Dangkal bentuk keruntuhan yang terjadi diikuti dengan berubahnya bentuk permukaan tanah (menggunung). Hal ini terjadi sebagai akibat dari terdesaknya tanah kesamping yang disebabkan karena distribusi beban bangunan yang dipikul oleh pondasi dangkal. Sedangkan pada Pondasi Tiang Ulir Dalam bentuk keruntuhan tidak dapat terlihat secara langsung karena keruntuhan tersebut terjadi di ba\vah permukaan tanah.
Menurut data - data hasil penyelidikan tanah, yang dimaksud pondasi dalam adalah jika pondasi memiliki kedalaman lebih dari 3 sampai 6 kali lebar (diameter) pondasi. Dalam penelitian ini digunakan asumsi, pondasi dalam adalah pondasi yang kedalaman pemasangannya lebih besar dari 4 kali diameternya {Chance, 1997). 4 kali diameter itu adalah jarak dari permukaan tanah sampai ke ujung plat ulir yang terbawah (Gambar 2.1.).
Ada keuntungan jika dipakai pondasi tiang ulir dalam dibandingkan pondasi tiang ulir dangkal, yaitu akan dicapai kapasitas daya dukung ultimate yang lebih besar.
<&&!&<?. ^OfQxxxvCi 'AW/^/VAWA H<4D
'/&&&*&/&&& -r-
H>4D
D
Gambar 2.1: Pondasi Tiang Ulir Dangkal Dan Pondasi Tiang Ulir Dalam.
2. 1. 2. RUMUS DAYA DUKUNG PILE
Pada tanah lempung lunak, umumnya perhitungan daya dukung tiang (pile) berdasarkan gaya gesekan antara dinding tiang dengan tanah disekelilingnya. Pengaruh dari end bearing untuk pondasi pile yang tidak mencapai lapisan tanah keras sangat kecil, sehingga pondasi ini hanya mengandalkan daya dukung friksi (Gambar 2.2.). Rumus daya dukung pondasi tiang dapat dituliskan sebagai berikut:
Qult. = Qb + Qf
Dimana : Quit = Daya dukung ultimate pile (pondasi tiang).
Qb = Daya dukung ujung pondasi (end bearing).
Qr = Daya dukung gesekan (friction) antara tiang dengan Tanah.
Quit = Qp + Qr
II
1&&M&&&V6
Qf: Friction
'&&&&&&X&-
I
HV
Qb: End Bearing
Gambar 2.2 : Pondasi Tiang (Pile) Daya dukung ujung tiang :
Qb = Nc x Cb x Ab
Dimana: N c = Bearing Capacity factor.
Cb = Undrained cohesion pada ujung tiang pondasi Ab= Luas penampang tiang
Daya dukung friksi :
Qf = a x Cu x As
Dimana : a = Adhesion factor yang tergantung pada kohesi dan keadaan tanah diatas lapisan bearing
stratum.
Cu = Undrained cohesion rata-rata sepanjang tiang Pondasi.
As= Luas selimut tiang pondasi.
2. 1. 3. RUMUS DAYA DUKUNG SCREW PILE
Pada tanah lempung lunak, rumus perhitungan daya dukung pondasi screw pile mengandalkan daya dukung end bearing antara helical plate dengan tanah dibawahnya.
Pengaruh dari daya dukung friksi untuk pondasi screw pile lebih kecil dibanding daya dukung ujung {end bearing) (Gambar 2.3.). Rumus daya dukung pondasi Screw Pile dapat dituliskan sebagai berikut:
Qult. = Qb + Qf
Dimana : Quit.= Daya dukung ultimate pondasi Screw Pile.
Qb = Daya dukung ujung pondasi {end bearing).
Qf = Daya dukung gesekan (friksi) antara tiang dengan Tanah.
'/&&?&&&&!.
Qf: Friction
^X^xlfvijVkNXVXVXX "
J
Hf M M 4 I f Qp riaie Bearing
Gambar 2.3 : Pondasi Tiang Ulir {Screw Pile)
Daya dukung ujung tiang :
Qb = Nc x Cb x Ab
Dimana : Nc = Bearing Capacity factor (Nc = 9 untuk h > 4 D).
Cb = Undrained cohesion pada ujung tiang pondasi.
Ab = Luas penampang helical plate.
D = Diameter helical plate.
Daya dukung friksi :
Qf = a x Cu x As
Dimana: a = Adhesion factor yang tergantung pada kohesi dan keadaan tanah diatas lapisan
bearing stratum (Gambar 2.4.).
Cu = Undrained cohesion rata-rata sepanjang tiang Pondasi di atas helical plate.
As ?= Luas selimut tiang pondasi.
too
iftff
,OJH>
!o25 0.00
too
\0.n
\OJBO '0.25-
ooo
1.00 OK-
ooo
SO 100 ISO 2O0
•-KTN--
J i t o < t e r M XT^
—L~tt 3 >
!' ^^zzsijifeisai
i
•Iton-ft*
WX) 3000 3000 .1000 Undmtoad shitting stnengtfi Cu in lb/ft1
Undmtnad shearing stfaygttK^m kN/m*
SO tOO ISO XX)
soco
• ':: <
I
StoWhar
»moy
»
X
4«
• „—— £-/JW
f
i
A W » » J K P * X » Undnatned steering stnngth Cum lib/ft*
UhdnJn&d 9f)QQritVfy Atrvngth Of, in kfyyn*
SO tOO ISO 200
sooo
IrtO*
Nw - -j —O*Mt44w*0*
-l-
i WOO 5DCO XM9 * X »
Undtvtned shooting strength Q , « T ftVft*
sooo
Gambar 2.4 : Hubungan Antara Adhesion Factor ( a ) Dengan Undrained Shear Strength (Tomlinson, 1977).
DAYA DUKUNG TANAH (SOIL BEARING CAPACITY)
Dalam perencanaan pondasi ada dua hal utama yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Daya dukung tanah, yaitu apakah tanah yang bersangkutan cukup kuat untuk menahan beban pondasi tanpa terjadi keruntuhan akibat geser
(Shear Failure). Tentu saja hal ini tergantung pada kekuatan geser tanah (Su tanah).
b. Penurunan yang akan terjadi, hal ini tergantung pada macam (jenis tanah).
Bilamana beban diatas sebuah pondasi (seperti yang terlihat pada Gambar 2.5.) ditambah sedikit demi sedikit, maka pondasi tersebut akan mengalami penurunan. Besamya penurunan pada setiap penambahan beban dapat ditentukan, sehingga dapat dibuat grafik penurunan terhadap beban.
Bilamana tanah tersebut agak keras atau padat, maka grafik tersebut akan berbentuk seperti garis G 1. Dalam hal ini ternyata, bahwa tegangan terbesar yang dapat ditahan pondasi tersebut adalah sebesar ql .
~3L—J I &r
Gambar 2.5: Hubungan Antara Beban Dengan Penurunan Pada Pondasi (Wesley, 1973).
Tegangan ini disebut daya dukung ultimate tanah (Ultimate Bearing Capacity).
Bilamana tanah tersebut lunak atau lepas, maka bentuk grafiknya seperti garis G 2. Dalam hal ini daya dukung ultimate tanah tidak mempunyai harga tertentu atau tidak mempunyai batas yang jelas. Biasanya
dalam hal ini diambil harga tegangan pada titik dimana lengkungan terjadi maksimum (Maksimum Curvatur) dari grafik tersebut, yaitu tegangan q2 dianggap sebagai daya dukung ultimate (Wesley, 1973).
Untuk dapat mengetahui berapa besarnya daya dukung ultimate dari pondasi dapat dilakukan percobaan pembebanan atau dihitung dengan menggunakan teori daya dukung tanah, antara lain:
a.) Teori Daya Dukung Tanah Terzaghi
Teori daya dukung Terzaghi digunakan untuk pondasi langsung yang tidak begitu dalam Teori ini berdasarkan pada anggapan, bahwa kekuatan geser tanah dapat dinyatakan dengan rumus :
S = c + o tan 0
Dimana S = Kekuatan Geser Tanah
o = Tegangan Normal Pada Bidang Geser
c = Faktor Kohesi Tanah
o = Faktor Sudut Geser Dalam Tanah
Bentuk Keruntuhan (Failure Mode) untuk pondasi dangkal yang dipergunakan dalam teori Terzaghi dapat dilihat pada (Gambar 2.6.) di bawah ini:
d
Gambar 2.6 : Bentuk Keruntuhan Untuk Pondasi Dangkal Dengan Diameter d.
pondasi dengan tanah cukup tinggi. Dengan demikian bagian A (lihat gambar 2.6.) akan bergerak kebawah bersama-sama dengan pondasi. Bagian B dianggap merupakan daerah Radial Shear dan bagian C merupakan daerah tekanan tanah pasif (Sidharta, 1997).
Teori Terzaghi ini menghasilkan sebuah ramus daya dukung sebagai
berikut: q = c Nc + y D Nq + 0.5 y B Ny
Dimana : q = daya dukung ultimate {Ultimate Bearing Capacity) B = lebar pondasi
D = kedalaman pondasi y = Berat volume tanah c = Kohesi tanah
Nc, Nq dan Ny adalah faktor daya dukung yan besarnya tergantung pada besamya sudut geser (9). Nilai Nc, Nq dan Ny dapat dilihat pada Gambar
70 60 50 40 30 20 10 0 10 20 30 40 50 60 70
Gambar 2.7 : Faktor-Faktor Daya Dukung menurut Terzaghi (Poulos H.G.
and Davis E.H. 1980)
Jadi dapat disimpulkan dari rumus diatas, bahwa ada beberapa sifat fisik tanah yang perlu diketahui untuk dapat menentukan daya dukung ultimate tanah, yaitu : Berat Volume Tanah (y ), Faktor Kohesi Tanah ( c ) dan Sudut Geser Dalam ( 0 ). Dan jelas juga dari grafik ( Nc & Nq ) dapat diketahui dengan bertambahnya harga sudut geser dalam ( 9 ), maka harga daya dukung ultimate tanah juga bertambah.
Cukup untuk diketahui, bahwa rumus Terzaghi hanya benar-benar tepat jika dipakai untuk memperhitungkan daya dukung pondasi dangkal.
Jika dipakai untuk memperhitungkan pondasi dalam, maka daya dukung yang diperoleh akan lebih rendah daripada nilai yang sebenarnya (Wesley,
!973).
Untuk pondasi yang berbentuk lingkaran Terzaghi mengusulkan rumus
berikut: q = 1.3 c Nc + y D Nq + 0.6yRNy
Dimana : R = jari-jari pondasi
Rumus kekuatan geser yang dipakai pada teori daya dukung diatas tidak mengandung nilai tegangan air pori tanah. Rumus kekuatan geser diatas sebenarnya hanya tepat bilamana tidak ada tegangan air pori. Kalau ada tegangan air pori, maka hal itu harus diperhitungkan.
Untuk lapisan tanah lempung, pembuatan bangunan diatasnya akan selalu menimbulkan tegangan air pori, yang mana tidak akan segera menyusut. Biasanya waktu yang diperlukan untuk penyusutan tegangan air pori jauh lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk mendirikan bangunan diatas lapisan tanah lempung tersebut. Hal ini berarti bahwa kekuatan geser lempung tidak banyak mengalami perubahan selama masa
bangunan didinkan, yaitu kekuatan geser undrained. Dengan cara ini sudut geser dalam ( 0 ) dianggap nol.
Kalau sudut geser dalam ( 0 ) = 0, maka rumus Terzaghi menjadi :
q = c Nc + y D
10
8
Nc
6
4
1 2 3 4 5 6
D/B
Gambar 2.8 : Nilai Nc Bilamana 0 = 0 Skempton, 1951 (Poulos H.G. and Davis E.H. 1980)
Nilai Nc yang paling sering dipakai untuk pondasi lingkaran diatas tanah lempung ialah nilai yang diusulkan oleh Skemton. Nilai ini dapat dilihat dari gambar 2.8. untuk berbagai macam bentuk dan dalam pondasi. Nilai-nilai Nc ini diperoleh berdasarkan baik dari teori maupun dari pengalaman dilapangan. Untuk pondasi dangkal nilai Nc ini mendekati nilai Nc menurut Terzaghi untuk pondasi dalam mendekati nilai Nc menurut Meyerhoff.
1 1 1 1 1 1 Pondasi Perseei Dan Lingkaran
1 HI 1
Pondasi Memanjang
B
tl f+l
ii D
\
Terlihat dari gambar 2.8. bahwa pada pondasi dengan bentuk lingkaran atau bujursangkar nilai Nc mendekati 9, bilamana kedalaman pondasi sudah 4 kali lebih besar daripada lebar pondasi.
b.) Teori Daya Dukung Tanah Meyerhof
Analisis daya dukung Meyerhof agak berbeda dengan analisis daya dukung Terzaghi dalam beberapa faktor, antara lain:
*) Sudut baji ( 6 ) tidak dianggap = 9, tapi nilai Sudut baji ( B ) > 9, yang berakibat baji lebih memanjang kebawah bila dibandingkan dengan analisis Terzaghi.
*) Zona longsoran dianggap berkembang dari dasar pondasi, keatas sampai mencapai permukaan tanah (gambar 2.9.). Jadi, kuat geser tanah diatas pondasi diperhitungkan. Akibatnya, nilai faktor daya dukung agak lebih rendah daripada nilai yang diberikan oleh Terzaghi. Namun, Meyerhof juga mempertimbangkan faktor pengaruh kedalaman pondasi, yang hasilnya memberikan nilai daya dukung yang lebih besar dari nilai daya dukung Terzaghi.
E H -r-6 —
A B
XhJ
J
30s 4 B
\
• % * -
F
"-7Vsw, + ?
90" Vip
Gambar 2.9 : Keruntuhan Daya Dukung Teori Meyerhof (Little, 1961)
Meyerhof (1963) memberikan persamaan untuk daya dukung pondasi, dengan mempertimbangkan bentuk pondasi, eksentrisitas beban, kemiringan beban, dan kuat geser tanah di atas dasar pondasinya, sebagai berikut:
qu = cNc + PoNq + 0.5yBNy
dimana : qu = daya dukung ultimate pondasi Nc, Nq, Ny = faktor daya dukung untuk pondasi B = lebar pondasi
•y = berat volume tanah
Po = aquivalent free surface stresses
gambar 2.10.
• • *
' • 0
1 0
•
#.
4
i
r — '
N ^
f
7
E
&
N.
£
7
^
ftttMnM^jMnQ
0 2
4 21
p
90 4 0 • bc*x *«n^i*r U * < • »
4 * o
* N M « • * • * « • " • # CitoiyH
Gambar 2.10: Faktor Daya Dukung Tanah Teori Meyerhof (Sidharta S.K., 1993)
PRE LOADING
Pra pembebanan atau pre loading ditujukan untuk mempercepat terjadinya penurunan rencana, serta untuk meningkatkan kekuatan tanah asal dengan menggunakan beban sementara yang besamya lebih besar dari beban rencana (gambar 2.11.). Proses ini biasa dilakukan dengan menggunakan urugan diatas tanah yang akan dibangun. Setelah penurunan rencana tercapai, urugan tambahan dihilangkan dan struktur kemudian dibangun diatas tanah tersebut. Cara ini banyak digunakan dalam proyek- proyek besar yang areal tanahnya luas sekali.
t(waktu)
Beban permanen
Beban permanen + beban tambahan
PENURUNAN
Gam bar 2.11: Konsep Mempercepat Penurunan Dengan Cara Pembebanan (Johnson, 1970)
Bila dalam pelaksanaan pengurugan tanah dibutuhkan pembebanan terbagi rata dengan beban rencana sebesar Pf, maka penurunan tanah total yang terjadi diperkirakan sebesar Sc(f). Jika diinginkan untuk mempecepat penurunan total, maka harus dikerjakan pembebanan terbagi rata yang lebih besar dari beban rencana Pf yaitu sebesar {Pf + Ps). Bila penurunan total SC(fi akibat beban (Pf + Ps) telah tercapai, maka beban Ps disingkirkan untuk kemudian dilaksanakan pembangunan struktur yang diinginkan.
PENGUJIAN BALING-BALING ( VANE SHEAR TEST)
Pengujian baling-baling dapat digunakan untuk menentukan kuat geser undrained baik di laboratorium maupun di lapangan pada tanah lempung jenuh sempurna yang tidak retak-retak. Pengujian ini tidak cocok untuk selain dari jenis tanah tersebut. Khususnya, pengujian ini sangat cocok untuk lempung lunak, yang kuat gesernya mungkin berubah oleh
pengujian tidak meyakinkan jika lempung mengandung pasir atau lanau.
Alat pengujian terdiri dari baling-baling yang terbuat dari baja anti karat dengan 4 pelat yang saling tegak lurus (gambar 2.12.), terletak pada ujung dari batang / tongkat baja. Batang baja dilapisi dengan pelumas.
Panjang dari baling-baling sama dengan 2 kali lebar pelatnya. Ukuran baling-baling 2 x 4 cm2 dan diameter batang 0.3 cm.
Gambar 2.12 : Alat Vane Test {Hardiyatmo,H.C, 1994)
Baling-baling dan batangnya ditekankan di dalam tanah lempung lunak langsung dibawah permukaan tanah. Dalam hal ini bahan pelindung diperlukan untuk melindungi baling-baling selama proses menembus lapisan tanah supaya tidak mengalami kerusakan. Putaran dikerjakan berangsur-angsur pada ujung puncak batangnya dengan peralatan tertentu,
sampai tanah lempung tergeser akibat rotasi dari kipasnya. Kecepatan rotasi hams dalam interval 6 ° sampai 12 ° per menit. Jika diinginkan, hubungan antara tenaga puntiran dan rotasi dapat dicatat selama pengujiannya. Kuat geser dapat ditentukan dengan persamaan:
S = T / {% x ( ( d2x h / 2 ) + ( d3 / 6 ) ) )
Dimana : S = Kohesi / kuat geser undrained T = Puntiran pada saat kegagalan d = Lebar seluruh baling-baling h = Tinggi baling-baling
Kuat geser biasanya ditentukan pada interval kedalaman yang dianggap penting.
Studi yang mendetail dalam mencari hubungan kuat geser undrained yang diperoleh dari pengujian baling-baling baik di laboratorium maupun dilapangan, pengujian Triaxial kondisi undrained dan pengujian tekan bebas, telah dikerjakan oleh Arman et. al. (1975). Hasil pengujiannya dapat dilihat pada gambar 2.13.
§
6 1?
1b
30
Tekan Bebas
Baling-baling laboratorium
Triaksial *>j*L«^' . •r J
Undrained O" - **
IT
3©
40,5*
Baling-baling di lapangan
J>>
SOO 1000 1B0O aOOO 26DO
Gambar 2.13 : Hubungan Kedalaman Dan Kuat Geser Undrained dari Berbagai Tipe Pengujian (Arman etal, 1975)
Di sini dapat dilihat, bahwa kuat geser undrained yang diperoleh dari pengujian baling-baling dilapangan lebih besar daripada kuat geser undrained yang diperoleh dari pengujian-pengujian yang lain. Hal ini disebabkan oleh zone geser terjadi di luar bidang kegagalan dari alat baling-baling (gambar 2.14.).
Gambar 2.14 : Zona Distorsi Pada Pengujian Baling-Baling (Vane Test)
{Arman et.al, 1975. Bjerrum (1972)), dalam penelitian pada longsoran lereng membuktikan bahwa nilai kuat geser undrained dari pengujian baling-baling di lapangan terbukti terlalu tinggi. Untuk itu, untuk perencanaan dengan menggunakan hasil pengujian baling-baling di lapangan, perlu adanya koreksi kuat geser yang besamya :
S ( aktual) = a x Su ( lapangan )
Dengan S {aktual) adalah kuat geser undrained yang diterapkan dalam perencanaan, dan S (lapangan) adalah kuat geser undrained yang diperoleh dari pengujian baling-baling di lapangan dan a adalah faktor koreksi yang tergantung dari besamya indeks plastisitas dari lempungnya. Faktor koreksi tersebut dapat ditunjukan dari gambar 2.15.
^ • v ^
- -
^ S ,
su0 iktual) = a x S u(lapangan)
.-
0 20 40 60 80 100 120
Indeks Plastisitas (PI)
Gambar 2.15 : Koreksi Kuat Geser Undrained Dari Pengujian Baling-Baling Di Lapangan (Hardiyatmo H.C., 1994)
KERUNTUHAN TANAH
Perilaku tanah akibat proses pembebanan dapat diasumsikan dengan proses pembebanan pada suatu pondasi diatas tanah liat.
Pengambilan beban ultimate sesuai dengan peraturan Swedish Comission pile atau 90% Criterion. (Gambar 2.16.)
90% Put, Beban a
Equivalent
Gambar 2.16 : Diagram Beban - Penurunan Untuk Pembebanan Pondasi Secara Bertahap (ASTM Dl 143-81,1980)
Setiap pemberian beban pada suatu pondasi maka tanah dibawah pondasi akan mengalami penurunan. Bila beban yang diberikan relatif kecil dan kondisi tanah dalam keadaan elastis, maka penurunan yang terjadi kira-kira sebanding dengan besarnya beban yang diberikan. Pada penambahan beban selanjutnya, baji tanah terbentuk didasar pondasi.
Seiring dengan bertambahnya beban, tanah semakin bergerak ke arah lateral yang diikuti oleh retakan Iokal dan geseran tanah di sekeliling tepi pondasi, yang kemudian diikuti oleh menggembungnya permukaan tanah
disekitarnya. Pada saat itu kecepatan deformasi semakin bertambah seiring dengan penambahan beban.
Bila proses pembebanan di atas diteruskan sampai tanah pendukung pondasi mengalami keruntuhan, maka beban tidak dapat ditambah Iagi karena tanah telah mencapai kapasitas pembebanan ultimate. Proses ini dinamakan Analisa Keruntuhan Tanah yang diperkenalkan pertama kali oleh Prandtl (1921), yang kemudian dikembangkan oleh Terzaghi (1943), Meyerhof (1955), Debeer dan Vesic (1958).
Untuk pondasi dalara yang daya dukungnya berdasarkan tahanan ujung (end bearing) akan terjadi juga keruntuhan tanah disekitar pondasi pada saat tanah sudah mencapai kapasitas ultimatenysi. Bentuk keruntuhan tanah untuk pondasi dalam pada penelitian mekamka tanah kurang bisa dinyatakan secara pasti dengan perumusan matematis dan selama ini beberapa bentuk keruntuhan tanah yang diusulkan oleh para ahli mekamka tanah hanya berdasarkan percobaan-percobaan yang dilakukan baik di laboratorium atau di lapangan, lihat gambar 2.17.
Nilai yang diberikan oleh Vesic untuk menggambarkan daerah keruntuhan tanah sangat konservatif yaitu hanya terjadi sedikit disekitar ujung pondasi, meskipun dalam hal ini Meyerhof berpendapat lain.
Meyerhof berpendapat diperlukan suatu kedalaman kritis supaya yang daerah keruntuhan tanah dapat terbentuk secara keseluruhan. Nilai yang diberikan oleh Berezantsev menjadi favorit dan banyak dipakai oleh para peneliti mekanika tanah (Hunt, 1976).
Terzoghl
Gambar 2.17 : Asumsi Dari Berbagai Macam Bentuk KeruntubanTanah Untuk Pondasi Dalam (Hunt, 1976)