8 BAB II
LANDASAN TEORI
A. KajianTeori dan Penelitian yang Relevan 1. Kajian Teori
a. Belajar Mandiri
1) Definisi belajar mandiri
Belajar mandiri merupakan kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai satu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan kompetensi yang telah dimiliki (Haris Mudjiman, 2007: 7). Selanjutnya menurut Knowles (Wiwin Kusumawati, 2008 : 4) pembelajaran mandiri didefinisikan sebagai suatu proses belajar dimana setiap individu dapat mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam hal: mendiagnosa kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber-sumber belajar (baik berupa orang maupun bahan), memilih dan menerapkan strategi belajar yang sesuai bagi dirinya serta mengevaluasi hasil belajarnya.
2) Tujuan pembelajaran mandiri
9
melakukan belajarr aktif. Penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk mendapatkan pengetahuan atau keterampilan baru adalah prinsip belajar menurut paradigma kontruktivisme. Paradigma kontruktivisme merupakan dasar yang melandasi proses pembelajaran mandiri sebab kelancaran proses belajar mandiri sangat ditentukan oleh sejauh mana siswa telah memiliki pengetahuan yang relevan sebagai modal awal untuk menciptakan pengetahuan baru atas informasi baru yang diperolehnya dalam proses pembelajaran.
3) Syarat belajar mandiri
Menurut Munir, (2009: 250) syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengembangan sumber belajar mandiri yaitu:
a) Kejelasan rumusan tujuan belajar.
b) Materi pembelajaran dikembangkan setahap demi setahap, dikemas mengikuti alur desain pesan, seperti keseimbangan pesan verbal dan visual.
c) Materi pembelajaran dapat disampaikan kepada pembelajar melalui media cetak, atau komputerisasi seperti CBT, CD-ROM, atau program audio/video.
b. Pembelajaran Berbasis Kontekstual
1) Definisi pembelajaran berbasis kontekstual
10
mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yakni: kontruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assement) (Daryanto 2012 : 155).
2) Karakteristik pembelajaran kontekstual
Atas dasar pengertian di atas, pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
b) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
c) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik (learning by doing).
d) Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).
e) Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
11
g) Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy anticity).
3) Strategi pembelajaran kontekstual
Berdasarkan pemahaman, karakteristik, dan komponen pendekatan kontekstual, beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui penbelajaran kontekstual, antara lain sebagai berikut.
a) Pembelajaran berbasis masalah
Sebelum memulai proses belajar mengajar di kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian peserta didik diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang peserta didik untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah yang ada serta mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
b) Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik antara lain di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
c) Memberikan aktivitas kelompok
12 d) Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik mampu mencari, menganalisis, dan mengugunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, peserta didik harus lebih memerhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh.
e) Membuat aktivitas belajar bekerja sama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua peserta didik yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung, dimana peserta didik dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. f) Menerapkan penilaian autentik
Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menunjukan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar mengajar. Adapun bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru yaitu protofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. (Masnur Muslich, 2007: 50-51)
c. Handout Berbasis Kontekstual 1) Defenisi handout
13
pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar ini tentunya bukanlah suatu bahan ajar yang mahal, melainkan ekonomis dan praktis (Andi Prastowo, 2011: 79) 2) Fungsi handout
Menurut Steffen dan Peter Ballastaedt (Andi Prastowo, 2011: 80), fungsi handout antara lain:
a) Membantu peserta didik agar tidak perlu mencatat, b) Sebagai pendamping penjelasan pendidik,
c) Sebagai bahan rujukan peserta didik,
d) Memotivasi peserta didik agar lebih giat belajar, e) Pengingat pokok-pokok materi yang diajarkan, f) Memberi umpan balik, dan
g) Menilai hasil belajar. 3) Karakteristik Handout
Untuk membuat handout, ada hal penting lain yang juga perlu kita pahami, yaitu tentang keunikan, ciri khas, atau karakteristik dari bahan ajar ini. Dengan memahami karakteristik handout, maka kita akan lebih mudah untuk mengidentifikasi ciri-cirinya, kemudian bisa menyusunnya. Sadjati (Andi Prastowo, 2011: 81-82) mengungkapkan bahwa beberapa ciri khas dari bahan ajar ini ada tiga macam, yaitu:
a) Merupakan jenis bahan cetak yang dapat memberikan informasi kepada peserta didik,
14
c) Pada umumnya, handout terdiri atas catatan (baik lengkap maupun kerangkanya saja), tabel, diagram, peta, dan materi-materi tambahan lainnya.
d. Materi Koloid
Dalam standar isi, materi koloid dipelajari di kelas XI SMA/MA dalam mata pelajaran kimia pada semester dua dengan rincian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai berikut:
Standar Kompetensi 5: Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Dasar 5.1: Membuat berbagai sistem koloid dengan bahan-bahan yang ada disekitarnya
Kompetensi Dasar 5.2: Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sistem koloid merupakan salah satu materi pokok dalam mata pelajaran kimia yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam industri. Beberapa contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari yaitu cat tembok yang digunakan untuk memperindah tampilan bangunan.
Dalam sebagian besar buku-buku kimia yang ada, materi koloid dibagi dalam delapan subpokok materi yaitu:
1) Pengertian sistem koloid 2) Jenis-jenis koloid
15 4) Pembuatan koloid sol
5) Pemurnian koloid 6) Koloid emulsi 7) Koloid buih
8) Koloid dalam kehidupan sehari-hari
Berikut adalah uraian singkat dari delapan subpokok materi tersebut. a) Pengertian sistem koloid
Sistem koloid terdiri atas fase terdipersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi. Ukuran partikel koloid berkisar antara 10-7 – 10-5 cm (1-100 nm). Ukuran inilah yang membedakan koloid dengan campuran lainnya (larutan dan suspensi).
b) Jenis-jenis koloid
Sistem koloid dapat dikelompokkan berdasarkan fase terdispersinya menjadi tiga, yaitu sol (fase terdispersi berupa zat padat), emulsi (fase terdispersi berupa zat cair), dan buih (fase terdispersi berupa gas). Selanjutnya sol, emulsi dan buih dikelompokkan lagi berdasarkan medium pendispersinya.
(1) Sol: sol padat, sol cair (sol), dan sol gas (aerosol padat).
(2) Emulsi: emulsi padat (gel), emulsi cair (emulsi), dan emulsi gas (aerosol cair).
16 c) Sifat-sifat koloid
(1) Efek tyndall
Adalah sifat penghamburan cahaya oleh partikel koloid. (2) Gerak brown
Ukuran partikel koloid yang cukup kecil menyebabkan tumbukan antarpartikel cenderung tidak seimbang. Akibatnya, gerak partikel berubah arah menghasilkan gerak zigzag.
(3) Daya adsorpsi
Adalah Penyerapan partikel-partikel pada permukaan koloid. (4) Muatan listrik
Partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif atau negatif). Muatan ini dapat diperoleh melalui proses adsorpsi kation/anion dan proses ionisasi gugus permukaan partikelnya.
(5) Koagulasi
17 d) Pembuatan koloid sol
(1) Metode kondensasi
Pembuatan koloid sol dengan metode kondensasi melibatkan penggabungan partikel-partikel larutan (atom, ion, atau molekul) menjadi partikel-partikel berukuran koloid. Hal ini dilakukan dengan reaksi kimia (dekomposisi rangkap, hidrolisis, dan redoks) atau penggantian pelarut. (2) Metode dispersi
Metode dispersi melibatkan pemecahan partikel-partikel kasar menjadi partikel-partikel bermuatan koloid yang kemudian didispersikan dalam medium pendispersinya. Ada tiga metode dispersi yang dibahas di sini, yaitu cara mekanik, cara peptisasi, dan cara busur Bredig.
e) Pemurnian koloid sol
Pemurnian koloid sol dapat dilakukan dengan cara: (1) Dialisis
Adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatan-muatan yang menempel pada permukaannya. Pada proses dialisis ini digunakan selaput semipermeabel. Pergerakan ion-ion dan molekul-molekul kecil melalui selaput semipermeabel disebut dialisis.
(2) Elektrodialisis
Merupakan proses dialisis di bawah pengaruh medan listrik.
18
elektrode dengan muatan berlawanan. Adanya pengaruh medan listrik akan mempercepat proses pemurnian sistem koloid.
(3) Penyaring ultra
Partikel-partikel koloid tidak dapat disaring biasa seperti kertas saring, karena pori-pori kertas saring terlalu besar dibandingkan ukuran partikel-partikel tersebut. Tetapi, bila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan (cellophane), maka ukuran pori-pori kertas saring akan mengecil. Kertas saring yang diresapi dengan selulosa ini disebut penyaring ultra.
f) Koloid Emulsi
Koloid emulsi dikelompokkan menhadi 3 yaitu: (1) Emulsi padat atau gel
Gel merupakan emulsi dalam medium pendispersi zat padat. Gel dapat dianggap terbentuk akibat penggumpalan sebagian sol cair. Emulsi padat atau gel dapat golongkan menjadi 2, jenis yaitu: gel elastis dan gel non-elastis.
(2) Emuls Cair
19 (3) Emulsi gas (aerosol cair)
Emulsi gas atau aerosol cair merupakan emulsi dalam medium pendispersi gas. Aerosol cair, seperti hairspray, dan obat nyamuk dalam kemasan kaleng, dapat membentuk sistem koloid dengan bantuan bahan pendorong atau propelan aerosol seperti CFC.
g) Koloid Buih
Buih adalah koloid dengan fase terdispersi gas dan medium pendispersi zat cair atau zat padat. Berdasarkan medium pendisperasinya, buih dikelompokkan menjadi dua, yaitu: buih padat dan buih cair.
h) Koloid dalam kehidupan sehari-hari
2. Penelitian yang Relevan
Penelitian oleh Siti Nurrochmah (2005) tentang Pengembangan Media Pembelajaran Kimia Berbantuan Komputer Tentang Koloid Untuk Siswa SMA/MA kelas XI Semester 2 Sebagai Sumber Belajar Mandiri dan menyimpulkan bahwa kualitas media yang disusun berdasarkan penilaian 5 guru kimia SMA/MA adalah sangat baik, sehingga layak digunakan dalam proses pembelajaran.
Jenis Industri Contoh aplikasi
Industri makanan Keju, mentega, susu, saus salad, puding Industri kosmetika dan perawatan
tubuh
Krim, pasta gigi, sabun, parfum semprot
Industri kebutuhan rumah tangga Sabu, deterjen
Industri pertanian Pestisida dan insektisida
20
Penelitian yang dilakukan oleh Istikharah (2006) tentang Pengembangan Paket Media Pembelajaran Sistem Koloid SMA Kelas XI Semester 2 Berdasarkan Kurikulum 2004 dan menyimpulkan bahwa kualitas paket media pembelajaran yang disusun berdasarkan penilaian 5 guru kimia SMA/MA adalah sangat baik sehingga dapat dijadikan sumber acuan guru dalam pemilihan media pada pembelajaran materi tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Bambang Susilo (2010) tentang Pengembangan Media Pembelajaran Koloid Untuk SMA/MA Dengan Pendekatan Chemo-Entrepreneurship (CEP) Menggunakan Macromedia Flash 8 dan menyimpulkan bahwa kualitas media yang disusun berdasarkan penilaian 5 guru Kimia SMA/MA adalah sangat baik, sehingga layak digunakan dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan ketiga penelitian tersebut, perlu dilakukan pengembangan media pembelajaran kimia yang lain yaitu handout berbasis kontekstual, sehingga dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi dan meningkatkan pemahaman pesert didik dalam memahami materi yang diajarkan.
Pengembangan paket media pembelajaran yang akan diambil dalam penelitian ini adalah Pengembangan Handout Berbasis Kontekstual untuk Pembelajaran Koloid Sebagai Sumber Belajar Mandiri Peserta Didik Kelas XI SMA/MA.
B. Kerangka Berfikir
21
pembelajaran kimia. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan efektifitas pembelajaran adalah tersedianya sumber belajar kontekstual. Semua sumber belajar dapat disusun dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Salah satu sumber belajar yang sangat cocok menggunakan pendekatan kontekstual adalah handout.
Materi yang dimuat dalam handout berbasis kontekstual adalah materi yang berkaitan dengan lingkungan sekitar peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu materi pokok dalam mata pelajaran kimia SMA/MA yang berkaitan dengan lingkungan sekitar peserta didik adalah sistem koloid.
Penerapan materi koloid dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan industri. Misalnya, membuat roti, pemutihan gula, dan membuat puding. Untuk itu, sangat penting untuk melakukan pengembangan sumber belajar kontekstual khususnya yang memuat materi pokok koloid.
Pengembangan handout berbasis kontekstual untuk sumber belajar mandiri harus memperhatikan beberapa kriteria penilaian kualitas sebagai dasar penentuan karakteristik media tersebut. Kriteria kualitas media untuk pembelajaran yaitu kesesuaian dengan tujuan, kesesuaian dengan materi, kepraktisan dan keluwesan, efisiensi waktu dan mutu teknis.
22 tersebut dapat diketahui kualitas media. C. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian pengembangan handout berbasis kontekstual untuk pembelajaran koloid adalah:
Bagaimana kualitas dari handout untuk pembelajaran koloid sebagai sumber belajar mandiri peserta didik kelas XI SMA/MA?