• Tidak ada hasil yang ditemukan

VII. TEORITISASI PEMBENTUKAN PENGUSAHA DAN EKONOMI LOKAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VII. TEORITISASI PEMBENTUKAN PENGUSAHA DAN EKONOMI LOKAL"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

7.1 Pembentukan Lapisan Atas Masyarakat Bugis di Delta Mahakam 7.1.1 Asal-Usul Sosial Pengusaha Pertambakan

Jika menggunakan pelapisan masyarakat Bugis yang pernah digambarkan Friedericy pada 1933, menurut Mattulada (1985) kita setidaknya dapat melihat adanya dua varian pelapisan sosial pada masyarakat Bugis feodal. Friedericy sebenarnya juga menggambarkan stratifikasi masyarakat Gowa (etnik Makassar) yang tidak jauh berbeda dengan stratifikasi masyarakat Bugis, namun peneliti tidak membahasnya disini. Dari Gambar 24., diperoleh gambaran stratifikasi pada masyarakat Bugis yang dapat disederhanakan ke dalam tiga lapisan.

1) Anakarung (lapisan raja beserta keluarganya; kaum bangsawan dan lapisan Ana’Mattola pada masyarakat Bugis Wajo‟ termasuk dalam kelompok ini)

2) Maradeka (lapisan rakyat jelata atau orang kebanyakan dan lapisan Tau Deceng pada masyarakat Bugis Wajo‟ termasuk dalam kelompok ini)

3) Ata (budak atau hamba sahaya)

Masyarakat Bugis Bone Masyarakat Bugis Wajo’

Lapisan Golongan Status Lapisan Golongan Status

I Anakarung

To-Bone

1. Anakarung Matase’

a. Anakarung Mattola b. Anakarung Matase’

2. Ana’arung

a. Anakarung ri bolang b. Anakarung si puE c. AnakCera

Bangsawan bisa bergelar;

Arung, Arumpone, Puang, Petta, Puatta, Daeng (Andi’ Bau/ Andi digunakan sejak

1920-an)

Ana’Mattola I

1. Ana’Mattola 2. Ana’Sangaji 3. Ana’Rajeng

a. Ana’Rajeng Lebbi b. Ana’Rajeng (Biasa) 4. Ana’Cera

a. Ana’Cera Sawi b. Ana’Cera Pua’

c. Ana’Cera Ampulajeng d. Ana’Cera Latang Dapureng

Anak Raja bisa bergelar;

Arung, Datu, Puang (Andi’

Bau/ Andi digunakan sejak

1920-an)

II To- Maradeka

1. To-Deceng 2. To-Sama

Orang Merdeka Bisa bergelar;

Tau Deceng

II

Anakarung Anakarung Anak Bangsawan

Andi/ Daeng III

Ata 1. Ata-Mana’

2. Ata-Mabuang Budak/ Sahaya III

Tau Deceng

1. Tau Deceng 2. Tau Deceng Karaja

Orang Baik Bisa bergelar;

Tau Deceng IV

Tau Maradeka

1. Tau Maradeka Mannengnungeng

2. Tau Maradeka Sampengi Warga Merdeka V

Ata 1. Ata-Mana’

2. Ata-Mabuang Budak/ Sahaya

Gambar 24. Pelapisan Sosial Masyarakat Bugis Bone dan Wajo’ Feodal Sumber: Friedericy (1933); Matullada (1985)

Friedericy selanjutnya menyimpulkan bahwa pada hakekatnya masyarakat Bugis hanya terdiri dari dua lapisan pokok, yaitu lapisan anakarung dan maradeka.

Sedangkan Ata menurut Friedericy hanya merupakan lapisan sekunder, yang muncul mengikuti pertumbuhan kehidupan di Sulawesi Selatan (Mattulada, 1985). Prinsip hirarki tradisonal Bugis yang cukup sederhana tersebut, menurut Pelras (2006) didasarkan

(2)

pada epos La Galigo dan mitos tentang nenek moyang orang Bugis yang pada awalnya diyakini hanya terdapat dua jenis manusia, yaitu; mereka yang “berdarah putih” dari keturunan dewata; serta mereka yang “berdarah merah” yang tergolong orang biasa, rakyat jelata atau budak. Pemerintah kolonial, setidaknya ikut memperkokoh sistem hierarki yang ada, dengan mengubah sistem hierarki menjadi struktur birokratis, serta membuat daftar dan silsilah bangsawan yang digunakan sebagai patokan untuk menentukan siapa yang akan bebas atau kena pajak/ kerja paksa, sekaligus sebagai patokan untuk menentukan jabatan berdasarkan status mereka. Atas pengaruh Belanda pada 1920-an, kalangan bangsawan lapisan atas bahkan mulai menambahkan gelar Andi’ Bau/ Andi’ di depan nama mereka untuk membedakan diri dengan bangsawan berderajat lebih rendah.

Stratifikasi masyarakat Bugis tampaknya tidak menganut sistem yang kaku, watak suka merantau misalnya, bisa menjadi jalan meningkatkan status. Bangsawan rendah yang memimpin sekelompok kecil pengikutnya pindah ke wilayah lain – dimana tidak akan terjadi pemeriksaan silang leluhur – terkadang cenderung mengaku memiliki silsilah lebih tinggi dari yang sebenarnya. Para pengikutnya pun akan mendukung sikap patronnya, karena hal tersebut juga akan mengangkat derajat semua kelompok.

Menurut Lineton (1975), keberhasilan ekonomi juga bisa mendongkrak derajat seseorang. Orang yang memiliki kekayaaan melimpah, mengasai tanah luas, punya rumah besar dan indah, dengan mudah akan dianggap berdarah bangsawan. Di kalangan masyarakat Bugis Wajo‟, laki-laki dari keluarga kaya bahkan acapkali diizinkan mengawini perempuan berstatus lebih tinggi, setelah melalui proses mang’elli dara atau

“membeli darah”, yaitu membeli derajat kebangsawanan, yang nilainya mahal dan ditentukan pihak perempuan (Pelras, 2006).

Dari penelusuran yang dilakukan, dapat dipastikan jika hampir semua migran Bugis yang datang secara bergelombang ke kawasan Delta Mahakam (seperti telah dijelaskan pada Bab IV), adalah mereka yang berasal dari lapisan to maradeka, yang ingin menyelamatkan diri dari kekacauan militer dan kesulitan ekonomi. Meskipun ada pula diantara mereka yang berasal dari golongan bangsawan. Menariknya, banyak diantara ponggawa-ponggawa sukses yang ternyata berasal dari lapisan to maradeka,

“Haji Mangkana misalnya, mengaku berasal dari keluarga sederhana yang jauh dari berkecukupan” tepatnya dari strata bawah dalam sebuah masyarakat desa (lihat lampiran: “Kemunculan Pengusaha Lokal”). Struktur sosial masyarakat migran Bugis di kawasan Delta Mahakam sepertinya tidak hanya membuka peluang bagi golongan elit tradisional Bugis (Anakarung) tapi juga memberikan kesempatan yang luas bagi golongan to-maradeka untuk memasuki bidang kegiatan ekonomi perikanan (khususnya pertambakan).

(3)

Status tanah negara di daerah tujuan, khususnya pulau-pulau di dalam kawasan Delta Mahakam yang luas namun tidak memiliki nilai intrinsik dan absennya negara di dalam pengaturan kawasan coastal frontiers ini, menjadi salah satu alasan penting mengapa migran Bugis dari golongan to-maradeka dalam strata masyarakat Bugis feodal lebih berpeluang memasuki kegiatan industri perikanan berbasis budidaya.

Tentunya jika dibandingkan dengan golongan migran dari elit tradisional atapun masyarakat asli setempat (Kutai dan Tidung ataupun Banjar, Jawa dan Bugis kelahiran Delta Mahakam). Kegiatan industri perikanan berbasis budidaya, jelas memerlukan bidang tanah yang sangat luas untuk dapat dibangun dan dikembangkan menjadi area pertambakan yang dapat memasok raw material bagi keberlangsungan industri perikanan skala ekspor.

Di masa-masa awal kedatangannya, anggota elit tradisional migran Bugis sepertinya kurang tertarik terhadap kawasan Delta Mahakam yang tanah rawa- payaunya relatif sulit diolah dan dirubah menjadi kawasan pertanian/ perkebunan yang potensial selain tidak memiliki sumber mata air memadai. Para migran dari elit tradisional yang biasanya membawa serta para pengikutnya tersebut, lebih cenderung membuka daerah-daerah baru (disekitar hutan yang masih satu-kesatuan dengan mainland Pulau Kalimantan), dimana tanahnya lebih subur dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian (sawah/ palawija) atau perkebunan (lada, kelapa dan buah-buahan), serta memiliki sumber mata air melimpah. Pertimbangan tersebut juga didasarkan kepentingan pragmatis untuk dapat segera mendapatkan hasil produksi yang memadai, sehingga dapat mempertahankan stabilitas ekonomi yang akan digunakan untuk menghidupi keluarga besar mereka, berikut keberlangsungan klientisme yang masih mereka pertahankan.

Sementara masyarakat asli setempat yang dapat digolongankan sebagai masyarakat asli Kalimantan Timur yakni Kutai dan Tidung, serta keturunan dari migran Banjar, Jawa dan Bugis yang dilahirkan di sekitar kawasan Delta Mahakam (kelak mengklaim dirinya sebagai masyarakat asli Delta Mahakam), relatif tidak tertarik untuk menggarap tanah-tanah di sekitar pulau-pulau dalam Kawasan Delta Mahakam, karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan dan mengubah tanah rawa-payau tersebut menjadi usaha ekonomi alternatif. Klaim sebagai masyarakat asli Delta Mahakam oleh keturunan Bugis yang lahir di kawasan Delta Mahakam, tampaknya hanya sekedar ungkapan kekecewaan mereka sebagai “penduduk asli”

yang semakin marjinal dalam meningkatkan taraf hidupnya, sekaligus kecemburuan sosial pada para migran Bugis yang datang belakangan yang ternyata lebih sukses secara ekonomi. Hanya sebagian kecil dari keturunan migran Bugis ini yang kemudian berhasil membuka kawasan hutan mangrove tersebut menjadi area perkebunan kelapa

(4)

berskala kecil. Sementara sebagian besar dari mereka lebih suka memilih tetap melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai nelayan tradisional atau bertani tadah hujan dibandingkan harus membuka hutan mengrove yang membutuhkan pengorbanan tenaga, waktu dan materi yang tidak kecil.

Beberapa diantaranya yang memiliki kemampuan finansial memadai, mencoba menjadi pengumpul hasil perikanan tangkap, untuk kemudian di jual secara berkala ke Samarinda/ Balikpapan dalam bentuk ikan asin – ebi olahan. Mereka inilah yang digolongkan peneliti sebagai ponggawa perintis, beberapa orang diantaranya adalah migran dari golongan elit tradisional Bugis (Anakarung) yang memiliki beberapa unit armada kapal/ perahu tangkap sendiri. Haji Andi Basri (Alm.), seorang ponggawa perintis yang berasal dari golongan elit tradisional Bugis, bisa disebut sebagai salah satu pengumpul hasil perikanan sukses yang pada masa jayanya pernah menguasai produksi perikanan di sekitar Muara Badak. Sementara yang lainnya berasal dari golongan to-maradeka, menariknya ponggawa perintis yang berasal dari golongan elit tradisional (Anakarung) cenderung berdomisili di daerah yang masih satu-kesatuan dengan mainland Pulau Kalimantan, sementara domisili ponggawa perintis yang berasal dari golongan to-maradeka cenderung tersebar hingga ke pulau-pulau dalam kawasan Delta Mahakam.

Di dalam kondisi seperti inilah para migran Bugis dari golongan to-maradeka yang datang secara berkelompok sejak awal tahun 1970-an mulai berbondong-bondong datang ke kawasan Delta Mahakam. Dengan meminta ijin tinggal-garap pada para petinggi, secara berkelompok mereka kemudian mulai meninggali tempat-tempat strategis di sekitar muara anak Sungai Mahakam yang jumlahnya ratusan buah di dalam kawasan Delta Mahakam atau menetap di sekitar perkampungan. Meskipun tidak sedikit diantara mereka yang langsung menetap disuatu tempat tanpa meminta ijin dan baru melaporkan keberadaannya pada aparat desa/ kampung yang berwenang jika menghadapi konflik atau masalah administratif. Tidak berbeda dengan saudara Bugisnya yang telah menetap sebelumnya, mereka juga memulai aktivitas ekonominya dari kegiatan perikanan tangkap, dengan menjadi nelayan tradisional.

Beratnya kehidupan di daerah coastal frontiers yang jauh dari layak dan nyaman untuk ditinggali, dimana mereka harus beradaptasi di daerah-daerah baru yang belum terjamah (dikuasai oleh orang lain) dan relatif terisolir. Tampaknya bisa menjadi penjelas bahwa para migran dari golongan to-maradeka tersebut membawa nilai we’re’

(untuk tidak tunduk pada nasib), sehingga mereka bisa bertahan dalam himpitan hidup, dengan segala keterbatasan yang ada. Selain tidak adanya pilihan yang lebih baik disaat itu. Haji Mangkana setidaknya mengakui bahwa masa-masa awal tinggal di Tanjung Barukang (dalam kawasan pulau-pulau di Delta Mahakam) merupakan masa

(5)

paling sulit di dalam kehidupannya. Disiplin keras dan kehidupan prihatin yang diterapkan ayah angkatnya Haji Halim di dalam mendidik dirinya dan adik-adiknya, tidak lantas menyurutkan hasrat Haji Mangkana untuk bisa memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya, sehingga tidak selalu terpuruk dalam kemiskinan. Bagi Mangkana muda, peristiwa pahit yang selalu dialami keluarganya telah melecut motivasinya untuk selalu bekerja keras, meningkatkan taraf kehidupan ekonomi keluarganya (lihat lampiran, Kemunculan Pengusaha Lokal: Studi Riwayat Hidup Tiga Ponggawa Pertambakan).

Dengan kata lain, akses terhadap tanah hanya menjadi salah satu saja dari sejumlah faktor internal yang memungkinkan seseorang menjadi pengusaha pertambakan (ponggawa). Labih dari itu, menurut Sitorus (1999) latar belakang sosial individu tersebut menjadi faktor yang sangat menentukan, mengingat fakta bahwa hanya individu-individu dari golongan to-maradeka tertentu saja yang berhasil menjadi pengusaha pertambakan. Pada bagian selanjutnya akan ditunjukkan bahwa mereka yang berhasil menjadi pengusaha pertambakan umumnya adalah kelompok non-elit ekonomi tradisional dari golongan to-maradeka dalam struktur feodal Bugis, sehingga berbeda dengan temuan Sitorus (1999). Meskipun sejumlah ponggawa diketahui adalah mantan petambak dan atau pernah menjadi klien dari ponggawa yang lebih besar.

Tabel 21. Orientasi Ekonomi dalam Penguasaan Tanah Berdasarkan Penggolongan Penduduk

Penggolongan Penduduk Akses Terhadap Tanah Orientasi Ekonomi

Warga Setempat

Warga Asli Kalimantan (Kutai dan Tidung), serta Keturunan Banjar, Bajo, Jawa dan Makassar yang Lahir disekitar kawasan Delta Mahakam

Penguasaan tanah-tanah untuk kegiatan pertanian-perkebunan di sekitar kawasan mainland Pulau Kalimantan

Dimanfaatkan untuk

pengembangan kegiatan ekonomi produktif dan dijual atau untuk mendapatkan ganti rugi dari perusahaan migas, tambang batu bara dan perkebunan sawit

Warga Keturunan Bugis yang Lahir disekitar kawasan Delta Mahakam

Golongan Elit Tradisional

Penguasaan tanah-tanah yang luas untuk didistribusikan pada

“mereka yang membutuhkan”-tidak digarap hanya sekedar investasi

Di jual untuk kegiatan

pertambakan atau ganti rugi tanah untuk eksplorasi-eksploitasi migas. Hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertambakan.

Golongan Masyarakat Kebanyakan

Penguasaan tanah-tanah untuk kegiatan pertanian-perkebunan kelapa atau tidak digarap hanya sekedar investasi

Di jual untuk kegiatan

pertambakan atau ganti rugi tanah untuk eksplorasi-eksploitasi migas

Migran Bugis dari Golongan Elit Tradisional (Anakarung)

Penguasaan tanah-tanah untuk kegiatan pertanian-perkebunan- pertambakan di sekitar kawasan mainland Pulau Kalimantan

Dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan pertambakan/ ekonomi produktif lainnya dan dijual/ untuk mendapatkan ganti rugi dari perusahaan migas, tambang batu bara dan perkebunan sawit

Migran Bugis dari Golongan Kebanyakan (to-maradeka)

Penguasaan tanah-tanah untuk kegiatan perkebunan-pertambakan di pulau-pulau dalam kawasan Delta Mahakam

Untuk pengembangan kegiatan pertambakan, sebagian diantaranya bahkan mengakumulasi tanah untuk pengembangan kegiatan pertambakan lebih lanjut Sumber: Data Primer Diolah, 2011

(6)

Keberadaan industri perikanan ekspor di daaerah Anggana (sekitar + 40 Km ke arah hulu/ barat dari kawasan Delta Mahakam) yang mulai beroperasi menjelang tahun 1975, setidaknya menjadi alasan penting lainnya dari semakin banyaknya migran Bugis yang menetap di sekitar muara anak Sungai Mahakam. Selanjutnya proses pembentukan ekonomi lokal, semakin berkembang seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri perikanan ekspor dan meningkatnya produksi perikanan tangkap di pantai timur Kalimantan, yang kemudian membuka ruang bagi kehadiran pedagang perantara pada area-area yang tidak mampu ditangani langsung oleh perusahaan- perusahaan eksportir. Setidaknya menjelang tahun 1980 mulai muncul kehadiran ponggawa-ponggawa pengikut yang berhasil memanfaatkan momentum tersebut.

Sebagian besar diantara ponggawa penerus tersebut adalah para nelayan, merangkap pengumpul hasil perikanan yang “menyambangi” nelayan tangkap di tengah laut untuk kemudian menyetorkan hasil tangkapan (udang ataupun ikan), pada perusahaan eskportir yang menjadi induk semang mereka.

Banyak diantara mereka, pada awalnya hanyalah bermodalkan tekat dan kepercayaan, menjadi penjual perantara dari hasil tangkapan para nelayan yang mereka kenal (bisa keluarga, tetangga ataupun kolega dekat) tanpa harus memberikan uang muka atau membeli secara tunai. Baru setelah hasil tangkapan yang dikumpulkan dari beberapa orang nelayan tersebut terjual pada perusahaan eksportir, hasilnya diserahkan pada yang bersangkutan, tentu dengan mengambil sebagian kecil dari hasil penjualan sebagai kompensasi. Bagi para nelayan kecil, aktifitas yang dilakukan nelayan-pengumpul tersebut, tentu saja sangat membantu operasi penangkapan yang mereka lakukan, karena mereka tidak perlu merasa kuatir hasil tangkapannya akan membusuk ditengah laut, jika tidak secepatnya dikirim pada perusahaan eksportir yang berada jauh dari lokasi penangkapan. Selain itu, para nelayan kecil juga menjadi lebih leluasa beroperasi disepanjang waktu, ketika hasil tangkapan sedang banyak- banyaknya.

Proses hubungan segitiga inilah yang kemudian menjadikan posisi para ponggawa pengikut menjadi strategis, karena secara emosional memiliki kedekatan personal dengan para nelayan yang telah mempercayakan pengumpulan hasil tangkapan pada sang ponggawa. Kelak hubungan tersebut akan sangat penting dalam mendukung perkembangan jaringan patronase dari para ponggawa pengikut yang sebagian besar diantaranya terfokus pada kegiatan perikanan budidaya. Sementara disisi lain para ponggawa pengikut juga memiliki kedekatan secara historis dengan perusahaan eksportir yang kelak sangat fungsional dalam memberikan bantuan finansial bagi pengembangan usaha mereka kedepan. Tentu saja sokongan finansial yang diberikan perusahaan-perusahaan eksportir tersebut, diberikan pada para

(7)

ponggawa dengan harapan dapat menjamin pasokan raw material bagi keberlangsungan jaringan industri perikanan berskala besar yang mereka kembangkan.

Perlu ditunjukkan disini bahwa perusahaan eksportir berikut industri perikanan yang beroperasi di pantai timur Kalimantan, hampir semuanya memiliki jaringan produksi yang tersebar di seluruh Indonesia. Misaya Mitra misalnya, pada masa jayanya memiliki 4 unit industri pengolahan perikanan hanya untuk pantai timur Kalimantan, yaitu di Kota Baru, Sungai Meriam (Anggana), Tarakan dan Paser (lihat Bab V).

Masa peralihan dari fase ekonomi perikanan tangkap menjadi fase ekonomi perikanan budidaya merupakan masa paling menentukan di dalam perkembangan kegiatan usaha perikanan di kawasan Delta Mahakam, khususnya bagi para ponggawa pengikut. Masa peralihan ini ditandai dengan munculnya kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan alat tangkap trawl bagi kegiatan perikanan tangkap di seluruh wilayah perairan Indonesia sejak 1 Januari 2003. Menariknya kebijakan pelarangan trawl tersebut, ternyata kontra-produktif bagi pengembangan “Program Udang Nasional”

yang mulai dicanangkan pada 1982, ditandai dengan terjadinya menurunnya produksi udang secara nasional. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pendorong munculnya kebijakan lokal, memberikan kompensasi pada para nelayan trawl untuk mengalihkan kegiatan usahanya ke dalam kegiatan ekonomi non-trawl, dengan ijin konversi hutan mangrove di sekitar kawasan Delta Mahakam. Kegiatan budidaya tambak tersebut, kemudian diikuti dengan pemberian sejumlah kompensasi, seperti pengucuran kredit Intam dan realisasi kredit RCP. Kebijakan tersebut, juga diiringi dengan pembinaan dan penyuluhan kegiatan pertambakan yang dilakukan secara intensif oleh berbagai instansi terkait. Secara keseluruhan kebijakan ini merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi udang secara nasional.

Momentum inilah yang kemudian berhasil dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok sosial ponggawa pengikut yang cenderung lebih progresif dibandingkan senior mereka dari kelompok ponggawa perintis. Banyak ponggawa perintis yang relatif lebih konvensional cara berpikirnya, cenderung tetap berorientasi pada kegiatan perikanan tangkap, karena kegiatan perikanan budidaya dianggap lebih beresiko untuk gagal. Haji Saraping, seorang mantan nelayan trawl yang kemudian beralih profesi sebagai pedagang antar pulau dan berhasil menjadi pengusaha perkapalan sukses di Samarinda, mengungkap bahwa alasan sejumlah nelayan trawl tidak berminat beralih profesi sebagai petambak, dikarenakan kegiatan perikanan budiday terlalu beresiko, membutuhkan pengorbanan tenaga, waktu dan materi yang besar namun hasilnya tidak pasti. Selain menurutnya kadar ph dan salinitas di sebagaian besar kawasan Delta Mahakam tidak layak untuk kegiatan budidaya udang.

(8)

Sebagian besar kelompok ponggawa pengikut ternyata berhasil memanfaatkan momentum “keunggulan pada kesempatan pertama untuk memulai” dengan mencoba mengembangkan kegiatan pertambakan udang di kawasan hutan mangrove di sekitar Delta Mahakam. Ketika produksi kegiatan pertambakan udang mulai menunjukkan kecenderungan meningkat, mereka mulai bergegas untuk lebih banyak membuka area- area tambak baru. Tentu saja “lokasi” hutan mangrove seketika itu menjadi begitu berharga dalam mainset yang terbangun. Artinya, ketika banyak pihak belum tergerak untuk memanfaatkan hutan mangrove yang saat itu “belum terjamah” karena tidak memiliki nilai intrinsik, para ponggawa pengikut telah dipandu oleh pengalaman langsung bahwa kegiatan pertambakan yang menguntungkan harus didukung ketersediaan lokasi hutan mangrove yang bisa dibuka menjadi area tambak baru.

Selanjutnya dengan modal yang berhasil mereka kumpulkan sendiri dan bantuan dari perusahaan eksportir perikanan yang menjadi induk semangnya, mereka secara bertahap mulai membuka hamparan tambak-tambak baru dengan cara membuka lokasi hutan mangrove yang dibagi-bagikan pada keluarga mereka ataupun dengan cara membeli lokasi-lokasi yang dikuasai warga desa.

Meskipun demikian, tidak sedikit diantara ponggawa pengikut tersebut yang pada awalnya tidak memiliki pengalaman memadai dalam kegiatan usaha perikanan.

Mereka datang ke kawasan Delta Mahakam setelah mendapatkan informasi dari keluarga/ karabat tentang keberhasilan migran Bugis dalam kegiatan usaha pertambakan. Dengan modal yang cukup dari hasil penjualan tanah/ sawah/ kebun/

ternak/ rumah di daerah asal, mereka mencoba mengikuti jejak-jejak migran Bugis terdahulu dengan menginvestasikan modal yang dimilikinya untuk membuka/ membeli area pertambakan. Sebagian diantaranya, bahkan dengan kekuatan modal yang dimilikinya berusaha menjadi pengumpul/ pedagang perantara (“ponggawa tanpa klien”) dengan membeli hasil perikanan tangkap ataupun perikanan budidaya dari hasil produksi nelayan dan petambak bebas.

Menariknya fenomena keberadaan ponggawa bebas tersebut, saat ini juga mulai menarik minat sejumlah pengusaha keturunan Cina untuk “terjun” dalam kegiatan bisnis perikanan di sejumlah kota kecil di sekitar Kawasan Delta Mahakam (Muara Jawa dan Anggana). Menurut pengakuan salah seorang diantara mereka, Fendy yang juga pemilik CV. Camar Bahagia, menyatakan bahwa mekanisme hubungan produksi yang mereka kembangkan dengan nelayan dan petambak bebas Bugis tidaklah seperti yang dilembagakan para ponggawa Bugis. Mereka tidak mendasarkan hubungan produksi dalam tradisi patron-klien, tapi atas dasar kepercayaan dan service profesional. Artinya setiap produsen akan dilayani dengan sebaik-baiknya untuk menumbuhkan sikap saling percaya, misalnya dengan tetap menjaga keseimbangan berat timbangan, sehingga

(9)

tidak merugikan kedua belah pihak, memberikan harga pembelian yang wajar/ tidak memanipulasi harga dan memberikan insentif berupa es batu bagi produsen yang akan panen sesuai dengan kebutuhan. Meskipun fasilitas yang diberikan para ponggawa Bugis masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang diberikan “ponggawa tanpa klien” tersebut, namun nyatanya tidak sedikit dari nelayan ataupun petambak bebas yang mempercayakan hasil produksinya pada mereka. Realitas ini sekaligus menjelaskan bahwa trust yang ditumbuhkan dalam semangat hubungan horizontal ternyata juga mampu melokalisir nilai lebih yang ditawarkan oleh hubungan diadik bersifat vertikal, sehingga bisa memberi peluang bagi munculnya kerjasama yang saling menguntungkan dan adil.

Selanjutnya perlu dijelaskan disini bahwa kompensasi pembagian lokasi hutan mangrove seluas dua hektar meskipun pada awalnya hanya diperuntukkan bagi nelayan trawl yang mengalihkan kegiatannya menjadi usaha non trawl, namun pada pelaksanaannya kepala desa melalui RT juga membagi-bagikan lokasi-lokasi hutan mengrove tersebut pada seluruh warga desa. Artinya “setiap kepala” warga desa (tidak peduli masih bayi sekalipun) yang berdomisili disekitar kawasan Delta Mahakam, khususnya di Desa Sepatin, Muara Pantuan dan Tani Baru, akan mendapatkan jatah pembagian lokasi hutan mangrove yang dapat dikonversi menjadi area pertambakan.

Realitas inilah yang peneliti sebut sebagai “banyak anak banyak lokasi”. Menariknya, banyak kepala keluarga yang merasa tidak memiliki jumlah keluarga yang banyak mensiasatinya dengan “membiakkan” nama anggota keluarga, semisal bapak A menjadi bapak A1, A2, A3 dan seterusnya, dengan harapan mendapatkan jatah lokasi yang lebih banyak. Meskipun menyalahi aturan, tampaknya pihak otoritas lokal tidak terlalu menganggap hal tersebut sebagai masalah prinsip, karena selain dapat meningkatkan pendapatan desa, juga dapat mendukung pengembangan ekonomi alternatif. Meskipun dalam sejumlah FGD diakui warga bahwa dana-dana administratif terkait dengan penerbitan surat legalitas atas kepemilikan “lokasi-lokasi” tersebut, seperti SPPT (Surat Pernyataan Izin Penggarapan Tanah/ Surat Pernyataan Penguasaan Tanah), yang masuk ke kas desa tidak jelas peruntukannya dan diduga hanya dimanfaatkan oleh aparat desa.

Pragmatisme aparat otoritas lokal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para ponggawa pengikut untuk mendapatkan akses seluas-luasnya dalam mendapatkan lokasi-lokasi baru bagi pengembangan kegiatan usaha pertambakan mereka. Berbekal penguasaan modal finansial yang memadai karena didukung bantuan perusahaan- perusahaan eksportir dan kedekatan emosional (passe’), sebagai sesama orang Bugis mereka berhasil mendapatkan “konsesi” atas sejumlah lokasi hutan mangrove yang luas dari otoritas lokal. Bahkan banyak diantara mereka yang menguasai sejumlah pulau-

(10)

pulau di dalam kawasan Delta Mahakam (lihat Bab V). Perlu dijelaskan disini bahwa masa peralihan dari fase industri perikanan tangkap menjadi fase industri perikanan budidaya, tidak secara langsung dapat dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan eksportir karena keterbatasan mereka di dalam mengakses penguasaan lokasi hutan mengrove untuk kegiatan pertambakan. Mengingat status mereka sebagai perusahaan PMA ataupun PMDN yang harus mendapatkan izin resmi dari pemerintah sebelum dapat mengembangakan kegiatan perikanan budidaya, selain karena kawasan Delta Mahakam telah ditetapkan sebagai kawasan hutan negara, berdasarkan SK. Mentan No. 24/ Kpts /Um /1983, sehingga sangat sulit untuk bisa diprivatisasi secara formal sebagai area pertambakan.

Kesadaran perusahaan-perusahaan eksportir perikanan di sekitar kawasan pantai timur Kalimantan akan arti penting keberadaan kegiatan usaha perikanan budadaya pada masa-masa mendatang dalam menopang keberlanjutan bisnis mereka, telah memaksa perusahaan-perusaaan eksportir, untuk tidak hanya berkonsentrasi pada kegiatan perikanan tangkap yang cenderung mengalami kelesuan, akibat over fishing dan pelarangan trawl. Perusahaan-perusahaan eksportir mencoba berkoalisi dengan para ponggawa khususnya ponggawa pengikut yang memiliki kemampuan hegemonik di dalam menaklukkan ruang-ruang sosio-kultural untuk melakukan penguasaan produksi pertambakan secara tidak langsung. Mereka tidak segan menggelontorkan dana dalam jumlah besar untuk memasok kebutuhan para ponggawa di dalam mengakumulasi lokasi-lokasi hutan mangrove yang akan digunakan untuk area pertambakan. Berharap raw material dari produksi pertambakan di kawasan Delta Mahakam bisa tetap memberikan pasokan bagi industri perikanan berskala besar milik mereka. Tidak sampai disitu perusahaan-perusahaan industri perikanan PMA dan PMDN ini dilaporkan juga memiliki sejumlah area pertambakan yang sangat luas dengan cara sembunyi-sembunyi, menggunakan nama-nama perseorangan (sebagian besar diketahui sebagai karyawan perusahaan).

Pada masa peralihan hingga terjadinya “booms udang” di tahun 1997/ 1998 inilah diketahui terjadi proses eliminasi secara besar-besaran atas keberadaaan para ponggawa di sekitar kawasan Delta Mahakam yang kelak akan mempengaruhi pelapisan dalam kelompok ponggawa. Banyak dari para ponggawa perintis yang harus tersisih dan akhirnya kolaps, karena tidak mampu beradaptasi dan bersikap konvensional di dalam memaknai perubahan disekitarnya. Berdasarkan catatan peneliti, hanya sedikit ponggawa perintis yang melibatkan dirinya dalam pengembangan kegiatan perikanan budidaya pada masa-masa transisi, itupun dengan tetap mempertahankan kegiatan perikanan tangkap yang menjadi ciri utama usaha mereka.

Meskipun pada akhirnya mereka hanya bisa bertahan sebagai ponggawa kecil. Tidak

(11)

berbeda dengan para ponggawa pengikut, tidak sedikit diantara mereka yang kemudian harus tereliminasi pada masa-masa transisi tersebut, tidak mampu mengembangkan usahanya akibat seringnya terjadi gagal panen, selain semakin sengitnya persaingan diantara para ponggawa. Banyak diantara mereka yang harus kolaps dan kembali menjadi petambak, meskipun ada pula yang mampu bertahan menjadi ponggawa kecil ataupun menengah.

Pada masa-masa ini juga ditandai oleh terjadinya suksesi dalam artian pewarisan usaha dari ponggawa perintis dan ponggawa pengikut pada ponggawa penerus, meskipun sebenarnya proses suksesi tersebut terus berlangsung hingga saat ini. Setidaknya proses suksesi dalam kegiatan usaha seorang ponggawa dapat terjadi akibat; 1) Jika ponggawa tersebut meninggal dunia, sehingga usahanya diteruskan oleh anak/ menantunya; 2) Jika seorang ponggawa sudah merasa harus “pensiun”, sehingga usahanya diwariskan pada anak/ menantunya; dan 3) Jika seorang ponggawa merasa usahanya sedemikian berkembangnya, sehingga perlu membuka “cabang usaha” di suatu tempat baru dengan menjadikan anak/ menantunya sebagai ponggawa penerus, dengan tetap berada dibawah kendalinya.

Berdasarkan catatan peneliti, menjelang tahun 2000, pasca “booms udang”, di kawasan Delta Mahakam hanya terdapat empat orang ponggawa besar yang beroperasi di sekitar kawasan Delta Mahakam, dengan status sebagai supplier perusahaan eksportir perikanan PMA ataupun PMDN. Mereka adalah Haji Abu, Haji Onggeng, Haji Maming dan Haji Mangkana. Menariknya pada 2006, Haji Mangkana telah berhasil meninggalkan para pesaingnya tersebut, menjadi satu-satunya pengusaha lokal yang berhasil menjadi eksportir perikanan di kawasan Delta Mahakam, sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai ponggawa terbesar di kawasan Delta Mahakam. Tidak sampai disitu, Haji Mangkana dengan menggunakan Syam Surya Mandiri (perusahaan yang berhasil didirikannya pada awal 2000-an), bahkan berhasil melakukan take over atas perusahaan eksportir perikanan (PMA) asal Jepang, Misaya Mitra yang tidak lain adalah induk semangnya. Dengan mengeliminasi para pesaingnya, saat ini Haji Mangkana telah memposisikan dirinya diatas puncak hieraki dalam jaringan patronase pertambakan di Kawasan Delta Mahakam.

(12)

Tabel 22. Pengelompokan dan Asal-Usul Keberadan Pengusaha Lokal

Jenis Ponggawa Asal-Usul Keterangan

Kelompok Sosial

Ponggawa Perintis Menjadi ponggawa sebelum adanya kegiatan industri perikanan

Banyak diantara mereka adalah migran yang datang pada periode 1950 – 1965. Mereka adalah nelayan yang merangkap menjadi pedagang perantara, meskipun ada diantara mereka yang berasal dari golongan bangsawan Bugis. Hasil produksi yang berhasil dikumpulkan dari kegiatan perikanan tangkap tersebut selanjutnya dijual pada para pedagang besar di kota Samarinda/ Balikpapan/

Tarakan. Namun banyak diantara mereka yang tidak mampu survive karena kurang adaptif dan visioner dalam melihat perubahan disekitar mereka. Meskipun mampu melakukan mobilitas vertikal, namun para ponggawa perintis ini tidak mampu mengembangkan diri menjadi entrepreneur lokal yang sanggup membangun industri perikanan yang kokoh.

Kelompok Sosial Ponggawa Pengikut

Menjadi ponggawa setelah adanya kegiatan industri perikanan

Dari lapisan ponggawa inilah banyak di jumpai adanya bibit-bibit entrepreneur lokal yang diharapkan mampu bersaing dalam biasnis perikanan. Kemunculan mereka tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan industri perikanan ekspor yang telah ada sejak awal 1974-an, karena perusahaan-perusahaan eksportir inilah yang telah mendorong kemunculan mereka. Keberadaan ponggawa-ponggawa lokal tersebut, sepertinya tidak disadari oleh perusahaan-

perusahaan eksportir yang telah eksis sebelumnya, bakal mampu menjadi pesaing yang handal bagi usaha bisnis mereka. Dengan menggunakan keunggulannya dalam melakukan hegemoni secara ekonomi dan sosio-kultural entrepreneur lokal ini, bahkan mampu membangun usaha industri perikanan yang kokoh.

Kelompok Sosial

Ponggawa Penerus Menjadi ponggawa karena faktor keturunan/ pewarisan usaha

Lapisan ponggawa penerus ini cenderung konsumtif dan pragmatis dalam mengelola bisnis yang diwariskan oleh orang tua mereka.

Banyak diantara mereka yang tidak hanya menekuni usaha disektor perikanan, namun juga tertarik untuk menggeluti bisnis lain, seperti sebagai kontraktor, usaha pertambangan, perkebunan kelapa sawit serta perdagangan kebutuhan pokok. Meskipun demikian, tidak sedikit diantara mereka yang mengalami kebangkrutan dan beralih profesi di tempat lain, akibat kesalahan dalam mengelola keuangannya.

Sumber: Data Primer Diolah, 2011

Berdasarkan kemunculannya para pengusaha lokal tersebut, peneliti setidaknya dapat memilah para ponggawa di Delta Mahakam ke dalam tiga kelompok (lihat Tabel 22.), yaitu; 1) Kelompok ponggawa perintis; mereka yang menjadi ponggawa sebelum adanya kegiatan industri perikanan; 2) Kelompok ponggawa pengikut; mereka yang menjadi ponggawa setelah adanya kegiatan industri perikanan; dan 3) Kelompok ponggawa penerus; mereka yang menjadi ponggawa karena faktor keturunan/

pewarisan usaha. Para ponggawa yang mampu bertahan dan berhasil mengembangan usahahanya adalah mereka yang tidak hanya berhasil melakukan hegemoni secara ekonomi dan sosio-kultural, namun juga adaptif dan visioner dalam melihat perubahan.

Banyak diataranya adalah para ponggawa pengikut yang berhasil melakukan ekstensifikasi usaha, dengan memanfaatkan momentum “keunggulan pada kesempatan pertama untuk memulai”, pasca pelarangan trawl pada 1983. Ponggawa-ponggawa dengan karakteristik seperti inilah yang memiliki potensi menjadi seorang entrepreneur lokal yang sukses dan mampu mengembangkan kegiatan bisnis usahanya. Meskipun

(13)

berdampak pada perubahan lanscape ekologi lokal, akibat “absennya negara” atas Kawasan Budidaya Kehutanan, yang menjadi ajang konversi area pertambakan pribadi.

Jika keberadaan para pengusaha lokal (ponggawa) yang juga merupakan elit sosio-ekonomi dalam masyarakat Bugis perantauan di Delta Mahakam tersebut diletakkan dalam konteks sejarah sosialnya, maka pelapisan pada masyarakat Bugis kontemporer di kawasan Delta Mahakam akan mewujud seperti pada Gambar 25.

Dimana secara garis besar hanya terdapat dua lapisan dalam masyarakat Bugis kontemporer, yaitu Ajjoareng (pemimpin) dan Joa’ (pengikut), selanjutnya kedua lapisan dipisahkan oleh statusnya.

Lapisan Golongan Status

I Ajjoareng (Pemimpin/ Patron)

1. Ponggawa Besar

2. Ponggawa Menengah dan Ponggawa Kecil 3. Pengumpul/ Penyambang Mandiri

4. Petambak berlahan luas dan memiliki penjaga empang

o Eksportir o Ponggawa o Pengumpul Mandiri o Petambak Besar II

Joa’

(Pengikut/ Klien)

1. Petambak berlahan kecil tanpa penjaga empang

2. Pengumpul/ Penyambang yang dipekerjakan ponggawa/ eksportir 3. Penjaga Empang dan Buruh Industri Perikanan Ekspor

o Petambak Kecil o Penyambang

o Penjaga Empang/ Buruh Gambar 25. Pelapisan Masyarakat Bugis Kontemporer dalam Kegiatan Pertambakan di Delta Mahakam

Sumber: Data Primer Diolah, 2011

Pemisahan status, dapat dilihat dari penguasaan kapital (ekonomi) dan alat produksi, sehingga muncul empat status dalam lapisan Ajjoareng, yaitu; eksportir atau ponggawa besar, ponggawa atau ponggawa menengah – kecil, pengumpul mandiri dan petambak besar yang memiliki tambak luas dengan mempekerjakan penjaga empang.

Sedangkan pada lapisan Joa’, terdapat tiga status, yaitu; petambak kecil yang berlahan sempit bekerja sendiri, penyambang/ pengumpul yang dipekerjakan ponggawa/

eksportir, dan penjaga empang/ buruh industri perikanan. Meskipun demikian, status dalam setiap lapisan tidak selalu menunjukkan hegemoni lapisan ajjoareng atas lapisan joa’, karena ada kalanya seorang petambak kecil berlahan sempit bekerja sendiri yang

“bebas”/ tidak terikat pada seorang ponggawa yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai Joa’ (pengikut) karena ia seorang pekerja mandiri. Namun ada kalanya seorang petambak besar atau bahkan ponggawa, dapat diklasifikasikan sebagai Joa’ (pengikut) jika kegiatan usahanya “terikat” pada seorang ponggawa/ eksportir lokal.

Para ponggawa yang telah berhasil secara ekonomi tersebut, dikalangan migran Bugis setempat, kemudian mendapatkan “sapaan penghormatan” dengan sebutan Puang atau Puang Haji dari para kolega dan kliennya. Meskipun arti dan perbedaan antara lapisan Anakarung dan To Maradeka, kini mengalami degradasi dalam kehidupan masyarakat, bahkan artinya seringkali direndahkan dengan sengaja, namun simbol-simbol feodal seperti itu tetaplah memiliki makna penting dalam menunjukkan status seseorang, yang akan mempengaruhi orang lain (khususnya para klien) dalam

(14)

menentukan cara berprilaku terhadapnya. Kondisi ini menguatkan tesis Mattulada (1985), yang menyatakan latar belakang pelapisan masyarakat Bugis (Makassar) tidaklah bersumber pada latar belakang mitologi/ religius yang mendalam, namun hanya dilatarbelakangi oleh keadaan pragmatis.

7.1.2 Implikasi Ekologis: Perubahan Evolusioner Land Use di Delta Mahakam 7.1.2.1 Fenomena “Absennya Negara”

Seperti telah dijelaskan pada Bab IV, pengembangan kegiatan pertambakan dengan mengkonversi hutan mengrove di kawasan Delta Mahakam, dalam prakteknya nyaris tidak mengalami hambatan hukum-birokrasi yang berarti, karena dilakukan dengan dukungan dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah. Melalui berbagai kebijakan yang pada hakekatnya ditujukan untuk “mengamankan” Program Udang Nasional. Kebijakan pertanahan yang lebih dititikberatkan pada upaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang cepat tersebut, selanjutnya ditujukan bagi pemenuhan kepentingan dan kebutuhan pembangunan sektoral. Akibatnya fokus kebijakan pertanahan lebih ditujukan untuk memecahkan persoalan pertanahan yang menghambat pelaksanaan pembangunan, karena pemerintah memandang peningkatan pertumbuhan ekonomi jauh lebih penting dibandingkan pelaksanaan keadilan agraria (landreform).

Hingga munculnya ketidakpastian hukum pasca berlakunya SK Mentan bernomor 24/ Kpts /Um /1983, yang membagi wilayah Kalimantan Timur berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), dimana kawasan Delta Mahakam hampir seluruhnya ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi. Di dalam ketidakpastian hukum inilah sejumlah petambak lokal menemukan momentum untuk bangkit dan mengembangkan diri sebagai penguasaha perikanan yang tangguh. Meskipun ketidakpastian hukum atas area pertambakan yang dikelola masyarakat, dilain sisi juga telah menyebabkan para petambak tidak memiliki legalitas penguasaan atas lahan- lahan tambak yang digarapnya. Ketidakpastian status kawasan hutan negara seperti itulah yang menurut Kartodiharjo dan Jhamtani (2006) menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan alam dan kegagalan pembangunan. Bahkan, seringkali permasalahan agraria yang muncul kemudian, juga memicu munculnya konflik kepentingan, akibat ketidakpastian hak-hak atas tanah yang dimanfaatkan.

Meskipun telah menetapkan kawasan Delta Mahakam sebagai KBK yang terlarang bagi kegiatan lain diluar sektor kehutanan, ironisnya pemerintah tidak pernah

“berniat” menertibkan kegiatan pertambakan yang dalam perspektif kehutanan dikategorikan sebagai ilegal. Pembangunan tambak-tambak baru yang terus berlangsung dan ketidak-pedulian masyarakat atas berlakunya hukum formal, semakin

(15)

menguatkan indikasi negara sebagai pemilik otoritas tertinggi atas tanah-tanah negara, telah “absen” atas terjadinya praktek-praktek penguasaan sumberdaya agraria secara ilegal. Konstruksi “absennya” negara atas permasalahan agraria yang terjadi di kawasan Delta Mahakam bisa disejajarkan dengan “pembiaran” negara dalam perbagai permasalahan konflik yang terjadi di seantero negeri dewasa ini. “Pembiaran” bahkan telah menjadi kebijakan resmi pemerintah, terkait opsi penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat!

Hal ini juga bisa berarti proses “mengelola hutan”, sekedar sebagai antisipasi munculnya gejolak dalam masyarakat. Kondisi tersebut mengingatkan pernyataan Barber (1989) yang melihat hutan di Jawa hanya memberikan “bagian yang sangat kecil dari pendapatan nasional yang berasal dari hutan”, akibatnya tujuan utama dari kegiatan pemerintah dalam mengelola hutan adalah mengontrol penduduk yang tinggal di daerah pedalaman/ di sekitar hutan dan bukan untuk mencari pemasukan uang atau keuntungan (Li, 2002). Alasan ini sangat relevan untuk menjelaskan keberadaan mega proyek industri migas yang perlu mendapatkan proteksi dan pengamanan optimal dari berbagai kepentingan yang ada disekitarnya, dengan menetapkan kawasan hutan Delta Mahakam yang telah kolaps sebagai hutan produksi.

Pada gilirannya seperti disinyalir Sajogyo (1981), komposisi penggunaan tanah belum beranjak seperti yang terjadi di zaman kolonial. Dimana kekuasaan atas tanah, yang merupakan basis kekuatan ekonomi dan politik, bertumpuk pada bentuk pengusahaan tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan pihak swasta, termasuk di dalamnya kelompok pemodal asing. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa politik agraria kapitalis masa kini, telah menguatkan posisi pemilik modal swasta – termasuk swasta milik asing – dan pemerintah sebagai kekuatan ekonomi politik yang dominan.

Secara dinamis, dominasi tersebut juga mengkondisikan munculnya konflik agaria yang cukup laten diantara masyarakat lokal/ juga dengan pihak swasta. Menariknya, konflik tersebut dapat dengan mudah menjadi konflik manifes jika melibatkan perusahaan migas yang beroperasi disekitar kawasan Delta Mahakam.

7.1.2.2 Ketidakpastian Regulasi

Seperti telah disinggung sebelumnya ketidakpastian regulasi, terjadi pasca pelarangan jaring trawl secara total pada tanggal 1 Januari 1983. Ketika Menteri Pertanian mengeluarkan sebuah keputusan bernomor 24/ Kpts /Um /1983, yang menentukan pembagian wilayah Kalimantan Timur berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) seluas 21.144.000 Ha, dimana kawasan Delta Mahakam hampir seluruhnya ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi. Status ini terus dipertahankan sampai tahun 1992, saat Departemen Kehutanan merampungkan peta TGHK kawasan hutan untuk Kalimantan Timur (Simarmata, 2009). Kebijakan inilah yang menyebabkan

(16)

bertumpang tindihnya kepentingan, antara kepentingan “program udang nasional” yang mengalokasikan sejumlah kawasan hutan mangrove di pesisir Delta Mahakam sebagai kawasan budidaya udang (sebagai salah satu bentuk “kompensasi” pelarangan trawl), dengan kepentingan sektoral kehutanan yang ingin mempertahankan kawasan Delta Mahakam sebagai Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). Merujuk pada data-data historis, penetapan Delta Mahakam sebagai kawasan hutan produksi terbatas, sebenarnya bisa disebut sebagai bentuk “kamuflase kebijakan” oleh pemerintah untuk mengurangi efek sosio-politis atas beroperasinya kegiatan pertambangan migas di Delta Mahakam (lihat Bab V).

Sekalipun secara faktual pada tahun 2001 hampir 85.000 Ha dari 150.000 Ha luasan hutan mangrove di delta Mahakam telah berubah fungsi menjadi tambak. Namun melalui SK Menhut No. 79/ Kpts-II/ 2001, Departemen Kehutanan justru menetapkan kawasan hutan dan perairan wilayah Provinsi Kaltim, dengan peta lampiran yang tetap mempertahankan status hutan mangrove di Delta Mahakam sebagai hutan produksi. Di dalam kebijakan tersebut nampak sekali peran pemerintah yang dominan dalam mendefinisikan suatu wilayah/ kawasan hutan. Tarikan garis di atas kertas peta oleh negara, secara mutlak telah mengakibatkan hilangnya akses masyarakat lokal terhadap sumberdaya alam yang secara tradisi sudah mereka lakukan jauh sebelum negara ini ada. SK Bersama Mentan dan Menhut Nomor KB. 550 /246 /Kpts /4 /1984, bahkan telah melarang kegiatan budidaya perikanan di kawasan hutan pantai (mangrove) yang terletak di pulau yang luasnya kurang dari 10 Km². Selain memuat ketentuan lain yang menyatakan bahwa budidaya perikanan hanya dapat dilakukan pada kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi. Namun, pembukaan hutan mangrove untuk kegiatan pertambakan tetap saja belangsung tanpa ada penertiban dari otoritas yang berwenang.

Bukan hanya melanggar peraturan formal, yang melarang budidaya perikanan di kawasan hutan mangrove, sebagian petambak juga tidak memiliki izin garap, izin pembukaan lahan ataupun izin usaha perikanan.

Ironisnya, konstruksi sosial tentang problem dan krisis lingkungan yang diwujudkan dalam produk kebijakan yang tidak mungkin dilepaskan dengan kepentingan dan kontrol aktor yang berkuasa dalam pemerintahan tersebut, tidak dibarengi dengan kehadiran otoritas negara dalam pelaksanaannya, baik yang mewujud dalam kewenangan pemerintah daerah (pemprov ataupun pemkab). Akibatnya bentuk pengaturan tenurial yang faktual menurut Simarmata (2009), menjadi ditentutan oleh otoritas yang lebih rendah, dalam hal ini camat dan kepala desa beserta perangkat- perangkatnya. Dengan segala keterbatasan pengetahuan, informasi, sarana pendukung serta balutan kepentingan, camat dan aparat desa mengembangkan tafsir yang karakternya membenarkan tindakan pembukaan tambak dan memberi kemudahan

(17)

untuk mendapatkan legalitasnya. Bagi apartur di aras lokal keberadaan kegiatan usaha pertambakan dianggap dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, dengan asumsi pemberian izin garap oleh otoritas lokal bukan sebagai bentuk pelanggaran hukum karena tidak memberikan hak kepemilikan pada penggarap. Selain alasan klasik, melanjutkan kebijakan yang telah ada sebelumnya.

Sementara persepsi masyarakat setempat yang menganggap tanah-tanah yang mereka garap secara turun temurun sebagai tanah milik, akibat minimnya pengetahuan atas status lahan yang mereka kuasai dan manfaatkan, menjadikan pembukaan tambak-tambak baru di dalam kawasan hutan produksi tanpa izin terus berlangsung.

Pembukaan hutan mangrove secara besar-besaran untuk kegiatan pertambakan tersebut, mencapai puncaknya pasca terjadinya krisis ekonomi regional pada 1997- 1998, dipicu oleh tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah sehingga terjadi “boom harga udang”. Berdasarkan data statistik perikanan Kalimantan Timur, peningkatan luasan tambak mencapai puncaknya pada 2001 seluas 36.634 Ha dan kembali mengalami peningkatan secara fantastik hingga mencapai 120.763 Ha pada 2006.

Kondisi ini secara tidak langsung telah memicu terjadinya “ledakan penduduk” di kawasan Delta Mahakam oleh para pendatang yang ingin mencoba peruntungan di sektor perikanan budidaya. Membuka hutan mangrove yang tersisa dengan cara merintis lahan tanpa melapor atau dengan meminta izin garap dari otoritas lokal atas

“lokasi” hutan mangrove yang dianggap masih bisa dirintis menjadi area pertambakan baru. Kisah sukses petambak yang mampu meraup keuntungan besar, sehingga sebagian diantaranya mampu menjadi ponggawa beromset milyaran rupiah perbulan, juga memberikan pengaruh yang tidak kalah pentingnya dalam memotivasi perkembangan usaha pertambakan.

7.1.2.3 Oportunisme dan Pragmatisme Orang Bugis

Kecendrungan yang luar biasa untuk selalu mencari peluang ekonomi yang lebih baik dimanapun dan kapanpun tampaknya menjadi ciri khas yang tetap melekat dalam diri orang Bugis. Begitu kuatnya motif ekonomi dalam setiap mobilitas yang dilakukan orang Bugis, memberikan kesan bahwa peranan uang atau hartalah yang banyak menentukan nasib dan status seseorang. Sangat banyak ulama yang menganggap usaha memperkaya diri sebagai suatu kewajiban, sepanjang dilakukan secara jujur dan halal (sappa’ dalle’ hallala’), karena memungkinkan seseorang mampu membantu sesama yang kurang beruntung (Pelras, 2006). Orang Bugis, bahkan mempertaruhkan siri’-nya ketika merantau, mereka “merasa malu bila tidak bisa pulang untuk memperlihatkan bukti keberhasilannya di rantau”. Setelah meninggalkan tanah kelahirannya, kadangkala hingga bertahun-tahun mereka tidak kembali, hanya untuk mencari kekayaan hingga berhasil. Menjadi orang yang berharta, setidaknya juga

(18)

menutup kemungkinan terjerumus menjadi Ata dan kehilangan siri’. Dalam sejarahnya, nasib seorang Ata bahkan dapat dirubah seketika menjadi To Maradeka hanya dengan membayar sejumlah uang denda/ tebusan.

Lebih jauh, Pelras (2006) bahkan menyebut para perantauan Bugis bukan sekedar petani tradisional, akan tetapi mereka adalah pengusaha berorientasi ekonomi.

Berbeda dengan orang Jawa yang memiliki konsep keberhasilan yang diukur berdasarkan kemampuan untuk semakin memperluas sawah atau kebun guna mengintensifkan dan meningkatkan produk pertanian, para petani Bugis justru memiliki pemikiran jauh kedepan. Menurut Tanaka (1986), jika petani Bugis memperoleh uang yang cukup besar, mereka berencana menginvestasikan kembali uang itu dalam bidang lain, seperti transportasi, perniagaan atau menyewakan lahan kepada petani Jawa atau orang Bugis yang baru tiba dan selanjutnya mereka akan mencari tempat-tempat yang lebih menguntungkan. Bagi migran Bugis, sepertinya ikatan mereka dengan tanah yang dikuasainya hanyalah sebentuk “ikatan instrumental”, jika mereka menganggap tanah- tanah yang dikuasainya tidak lagi “menguntungkan”, mereka akan segera menyewakan ataupun jika dikalkulasi tidak rugi akan dijualnya dengan harga layak. Meskipun demikian, sejumlah migran Bugis diketahui enggan menjual tanah miliknya yang dianggap memiliki nilai historis tertentu.

Selanjutnya mereka akan berusaha mencari tanah-tanah yang lebih

“menguntungkan” dan seringkali mengikuti jejak keberhasilan orang lain (meskipun berbeda etnis). Hal ini bisa dilihat dari kemampuan adaptasi para migran Bugis di Kelurahan Muara Kembang dan Pendingin yang mampu mengadopsi kegiatan pertanian padi dengan sistem handil yang dikembangkan migran Banjar ataupun sistem perladangan berpindah yang dipraktekkan penduduk asli setempat (Kutai). Tidak berlebihan jika kelak, kegiatan perkebunan kelapa untuk kopra yang memiliki harga menarik dipasaran ataupun perikanan tangkap (bagang) yang baru diintrodusir dari luar pun dengan sangat antusiasnya mampu dikembangkan migran Bugis di sekitar kawasan Delta Mahakam. Selama usaha baru tersebut dianggap mampu memberikan keuntungan lebih baik. Pragmatisme usaha yang ditunjukkan migran Bugis, juga terlihat dalam kegiatan budidaya tanaman coklat di Sulawesi Selatan (Mamuju, Polewali dan Luwu‟) yang mengalami booming pada 1980-an. Menariknya banyak diantara mereka ternyata berasal dari Soppeng setelah berakhirnya boom tembakau. Penanaman coklat sepenuhnya bermula dari inisiatif spontan petani kecil yang termotivasi informasi mengenai besarnya keuntungan coklat dari hubungan perdagangan langsung ke Sabah Malaysia. Menurut Ruf (1991), peran utama yang berhasil dimainkan orang Bugis dalam boom coklat karena mereka memiliki jaringan informasi penanaman dan perdagangan coklat, sehingga mampu menangani sendiri seluruh tahapan pemasaran produksi.

(19)

Fenomena seperti itu pun dijumpai dalam kegiatan pertambakan di kawasan Delta Mahakam, sikap oportunis dan pragmatis ditunjukkan oleh para migran Bugis yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan maupun mereka yang telah menetap di sepanjang pantai timur Kalimantan. Mereka berbondong-bondong datang ke kawasan Delta Mahakam pasca pelarangan trawl – pemberian “kompensasi”

pembukaan area hutan mangrove untuk kegiatan pertambakan. Umumnya mereka berasal dari Wajo, Bone, Pangkep dan Makassar, tidak sedekit diantara mereka adalah migran Bugis yang sebelumnya telah menetap di pantai timur Kalimantan, seperti Samarinda, Talake-Paser, Balikpapan, Samboja, Muara Jawa, Anggana, Muara Badak, Marang Kayu dan Bontang. Menariknya dalam dasawarsa terakhir, migrasi keluar dari tanah Bugis ataupun perpindahan orang Bugis dari satu pemukiman ke pemukiman lainnya untuk mencari penghidupan yang lebih baik, banyak dilakukan dalam kelompok- kelompok keluarga/ kekarabatan dengan dipimpin seseorang yang dituakan. Seperti yang dilakukan banyak migran Bugis yang datang di kawasan Delta Mahakam dalam tiga dasawarsa terakhir, meskipun ada pula migran yang datang secara perorangan.

Berbeda dengan migran Bugis berorientasi perdagangan yang cenderung tidak terlibat secara langsung dengan komoditas yang mereka perdagangkan, migran Bugis berorintasi tanaman keras (kopra) – pertanian (beras) mulai berbagi peran, sejumlah migran mulai mengkhususkan diri untuk melakukan kegiatan usaha budidaya tanaman keras/ pertanian sawah dan selanjutnya membatasi aktivitas mereka dengan hanya memetik kelapa dan membuat kopra/ bertani padi sawah dan memproduksi beras.

Sementara sejumlah migran lainnya yang berpengalaman dalam kegiatan perdagangan (biasanya pemilik kapal) bertindak sebagai agen penyalur ataupun pemasaran kopra/

beras. Menariknya, dalam empat – tiga dasawarsa terakhir, terjadi perubahan orientasi migran Bugis dalam mengembangkan usahanya. Hal ini bisa dilihat dari peran yang dimainkan orang Bugis dalam boom coklat di Indonesia yang memanfaatkan jaringan informasi penanaman dan perdagangan coklat, sehingga mampu menangani sendiri seluruh tahapan pemasaran produk mereka.

Fenomena tersebut, tampaknya juga diperankan dengan sangat baik oleh migran Bugis dalam kegiatan usaha pertambakan udang di kawasan Delta Mahakam, hingga terjadinya boom udang di tahun 1998. Mereka mampu memanfaatkan momentum melemahnya mata uang nasional atas US Dollar, pasca krisis ekonomi yang melanda Asia pada 2007/ 2008 dengan “memainkan” jaringan informal produksi pertambakan udang lokal dan perdagangan udang di tingkat internasional, sehingga usahanya berkembang dengan pesat, bahkan mampu bersaing dengan “pemain luar”.

Itu berarti, keberhasilan ponggawa Bugis dalam kegiatan usaha pertambakan, juga tidak dapat dipisahkan dengan kemampuan mereka dalam mengelola komoditas yang

(20)

diperdagangkan secara berkelanjutan, sekaligus kelihaian mereka dalam memperdagangkan komoditas berorintasi pada dinamika pasar dan menguntungkan

Pragmatisme dan opurtunisme orang Bugis tidak bisa dipisahkan dengan sistem hierarki yang mereka tradisikan, meskipun membedakan orang berdasarkan asal-usul keturunannya, pada saat yang sama, juga memberi peluang yang sama kepada orang- orang dari status yang sederajat. Walaupun garis batas antara orang-orang dari status berbeda terus dipertahankan, tetapi persaingan dikalangan orang-orang berstatus sederajat untuk memperoleh jabatan, pengaruh, maupun kekayaan tetap terbuka lebar.

Jadi, persamaan hak dalam suatu sistem hierarki pada orang Bugis sekaligus merupakan bibit instabilitas, bahkan kadang-kadang merupakan benih konflik.

Interaksi Individu Interaksi Individu

Persaingan Solidaritas Interaksi Kelompok

Persaingan Solidaritas Persaingan Solidaritas Gambar 26. Piramida Interaksi Sosial Orang Bugis

Sumber: Pelras (2006)

Kontradiksi semacam itu sebenarnya telah tampak dalam nilai-nilai ideal masyarakat Bugis, sebagaimana terlihat dalam tarik-menarik antara siri’ dan passe’, persaingan dan solidaritas, juga sistem hirarki dan persamaan hak. Interaksi orang Bugis pada dasarnya terdiri atas beberapa lapis kelompok yang saling terkait (keluarga, wilayah kekuasaan dan patron-klien) yang berwujud suatu piramida saling berhubungan, sebagaimana halnya interaksi antar individu dalam persaingan atau solidaritas. Hubungan antara keluarga yang satu dengan lainnya, wilayah yang satu dengan lainnya, serta kelompok patron-klien yang satu dengan lainnya, pada dasarnya adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya. Setiap individu sekaligus merupakan anggota dari berbagai lapisan kelompok tersebut. Oleh karena itu interaksi antar kelompok, dengan sendirinya juga merupakan interaksi antar individu, tidak terlalu diatur oleh suatu standar moral universal, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh semacam aturan main atau lebih tepatnya oleh suatu aturan yang menyerupai pola interaksi antar negara (dimana kepentingan nasional/lebih besar, lebih dipentingkan dari tuntutan moral).

Keluarga/

Klpk. Patronase

Keluarga/

Klpk. Patronase

(21)

Di dalam konteks seperti ini, tujuan utama seorang individu adalah mencapai prestasi pribadi, sekaligus ikut memberi kontribusi terhadap keberhasilan kelompok di mana ia menjadi anggota. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan mengikuti aturan main yang membuka peluang terjadinya persaingan ketat, tanpa harus tergelincir kedalam anarki atau tanpa harus membahayakan kehidupan masyarakat secara luas. Dalam kerangka seperti itu, sifat baik seseorang bukan lagi menjadi suatu hal yang mutlak ada, akan tetapi sekedar sebagai alat untuk mencapai tujuan yang dikendaki. Karenanya menurut Mattulada (1985), watak dagang dan wirausaha pada diri orang Bugis yang potensial baru dapat berkembang semestinya, jika disertai dengan pengembangan prinsip-prinsip usaha yang bebas, dengan pengorganisasian usaha melalui bimbingan dan perlindungan penguasa. Jika tidak, watak niaga/ “usaha bebas” yang ada pada diri orang Bugis dapat tersalur melalui jalan-jalan lain, seperti kegiatan usaha penyelundupan dan usaha-usaha semacamnya yang cenderung negatif.

Berdasarkan sejumlah wawancara, peneliti menemui sejumlah motif yang mendasari tindakan sejumlah nelayan di pantai timur Kalimantan yang berani mengambil resiko melakukan kegiatan illegal dengan menjadi penyelundup di kawasan perbatasan. Sebelum pada akhirnya berubah haluan menjadi wirausahawan disektor perikanan, diantaranya yang sangat fenomenal adalah (alm.) Haji Muhiddin dan Haji Saraping. Latar belakang motifnya ternyata tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan pelarangan trawl yang dilakukan tanpa memperhitungkan solusi alternatif bagi mereka yang tidak terserap dalam kegiatan usaha non-trawl yang digagas pemerintah. Banyak diantara pelaku “tindakan ilegal” tersebut, merasa kecewa dengan kebijakan sepihak yang mematikan usaha mereka, sementara usaha alternatif yang ditawarkan dianggap belum mampu memberikan keuntungan yang lebih baik dibandingkan usaha sebelumnya. Akibatnya motif-motif instan yang dapat memberikan keuntungan lebih besar atau setidaknya setara dengan keuntungan usaha sebelumnya, meskipun oleh pemerintah dikategorikan ilegal menjadi pilihan yang dianggap pantas.

Menurut Berger (1991), konsepsi tentang motif yang disebutnya sebagai pragmatic motive, terjadi ketika pengetahuan manusia ditentukan oleh kepentingan pragmatis individu setiap hari. Manusia melakukan tindakan berdasarkan atas pengetahuannya ada atau tidaknya kepentingan. Jadi semakin besar kepentingan dibalik tindakan, maka akan semakin besar pula usaha untuk melakukan tindakan tersebut. Motif pragmatis inilah yang sesungguhnya memicu berbagai benturan di antara individu. Namun demikian, karena realitas keseharian hakikatnya adalah terbagi dengan yang lain, maka manusia mengembangkan pengetahuan untuk berbagi dengan yang lain. Manusia mengembangkan pengetahuan, kesadaran dan pengalaman untuk berbagi dengan yang lain, melalui proses transformasi dan sosialisasi. Melalui

(22)

pengetahuan seperti itulah, terjadi keteraturan dan keseimbangan dalam dinamika hubungan sosial, melalui proses pelembagaan dan institusionalisasi sebagai tindakan sehari-hari.

7.1.2.4 “Akresi Kapital”: Korban Penimbunan Kapital

Terkonsentrasinya alat produksi, ditambah kemampuan ponggawa dalam

“menaklukkan” ruang kultural, dengan hegemoni kultural sebagai strategi adaptasinya, menjadikan monopoli dalam kegiatan pertambakan mampu mendorong terjadinya proses kapitalisasi pertambakan. Yaitu proses akumulasi kapital yang dicapai dengan mendapatkan rente atau pasokan material raw secara tetap tanpa harus mengeluarkan banyak “energi” ataupun biaya melalui monopoli. Mengakumuasi kekayaan bukan sekedar melalui keuntungan tapi melalui rente dari jaringan yang dibangunnya. Artinya sebagai pemasok khusus (udang windu), kebutuhan pasar tersebut sedikit demi sedikit dikumpulkan dari mitral lokal, dengan akses khusus pada teknologi dan pengetahuan dari kelembagaan lokal atau keluwesan berproduksi yang merupakan hasil negosiasi dalam jaringan yang tidak membutuhkan biaya tinggi. Begitupun dengan dampak ekologis dari berlangsungnya mekanisme tersebut, disumbang secara kolektif, sedikit demi sedikit oleh jejaring usaha pertambakan yang menopangnya.

Peneliti menyebut proses tersebut sebagai “akresi kapital”, sebuah proses pengendapan kapital pada pengusaha lokal pertambakan (ponggawa) yang menduduki puncak hierarki. Hal ini berlangsung seiring dengan terjadinya abrasi, yang dalam istilah geologi berarti proses pengikisan daratan akibat hempasan gelombang, sehingga menjadi tenggelam/ sejajar dengan permukaan air yang mengikisnya. Proses abrasi tersebut terjadi; pertama, pada ruang ekologi dengan semakin menipisnya tegakan hutan mengrove dan terdegradasinya kualitas lingkungan; kedua, pada ruang ekonomi dengan semakin senjangnya pendapatan dan tergantungnya kelangsungan hidup para petambak/ penjaga empang; ketiga, pada ruang sosio-kultural dengan terjadinya peluruhan modal sosial dan tidak terbangunnya “perjuangan” counter hegemoni (seperti ditunjukkan Gambar 27.). Dari hasil penggerusan pada “ketiga ruang” inilah terjadi pengendapan kapital setelah melalui serangkaian proses “akresi kapital”.

(23)

Eksploitasi Hutan Mangrove Delta Mahakam;

Minyak dan Gas

Perikanan Tangkap

Pertambakan (budidaya)

Perkebunan

Pemukiman, dst

Kebijakan ”Pembangunan” tanpa diiringi Land Reform & Law Enforcement –

Tumpang Tindih Regulasi;

UU 1/1967; UU 8/1968; Keppres 39 Thn 1980, Prog. “Udang Nasional” Inpres 11/1982;

SK Mentan 24/ Kpts /Um

Penetrasi Kapital World Bank - IBRD, ADB dan FAO, hingga TNC dan Agen Kapitalisme Glokal

Abrasi ruang ekologi;

degradasi kualitas Lingkungan hingga kelangkaan sumberdaya &

keberingasan ekologis yang memicu

“tragedi mangrove”

Abrasi ruang sosio-kultural; pelumpuhan

modal sosial – tidak terjadinya counter hegemoni Penguasaan

hutan mangrove utk pertambakan

”Ilegal” – konsentrasi alat produksi oleh ponggawa

Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup, hingga peningkatan permintaan produk perikanan pasar glokal

Abrasi ruang ekonomi-politik;

ketergantungan, kesenjangan,

”pemiskinan” & konflik kepentingan – pembiaran

negara” dalam

”mengelola hutan”

Akresi Kapital:

proses akumulasi dan penumpukan kapital, sebagai hasil abrasi ruang

sosio-kultural, ekologi dan ekonomi-politik

Kebangkitan ekonomi pertambakan sebagai hasil

monopoli & akumulasi rente oleh

”bangsawan pertambakan”

yang memiliki kemampuan hegemoni kultural, penguasaan alat produksi

& material raw yang menjadi motor penggerak proses kapitalisme lokal

Sistem Produksi Kapitalis

Ruang Sosio-Kultural

Ruang Ekonomi-Politik Ruang Ekologi

Gambar 27. Kebangkitan Kapital Lokal Via New-Tragedy of The Commons Sumber: Data Primer Diolah, 2011

Gambar

Gambar 24. Pelapisan Sosial Masyarakat Bugis Bone dan Wajo’ Feodal  Sumber: Friedericy (1933); Matullada (1985)
Tabel 21. Orientasi Ekonomi dalam Penguasaan Tanah Berdasarkan Penggolongan Penduduk
Tabel 22. Pengelompokan dan Asal-Usul Keberadan Pengusaha Lokal
Gambar 27. Kebangkitan Kapital Lokal Via New-Tragedy of The Commons  Sumber: Data Primer Diolah, 2011
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Gampong Lam Ilie Mesjid Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar mempunyai tindakan yang baik terhadap pemeliharaan

Sistem file FAT32, awalnya diperkenalkan pada Windows 95 yang sebenarnya hanyalah sebuah ekstensi dari sistem file FAT16 yang menyediakan disc untuk ukuran yang lebih

Pada suatu proses sedang mengakses suatu resource, proses tsb dapat meminta ijin untuk mengakses resource lain yang dipakai oleh proses lain.. Circular

a) Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi yang didukung oleh 1 kegiatan, yaitu Fasilitasi dan Monitoring Kemitraan Pengusaha Daerah dengan PMA PMDN

Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas izinNya dan segala kemudahan serta limpahan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyeleseaikan Penulisan Hukum

Pilihan indikator ekonomi pada inflasi adalah dengan asumsi variabel ini paling berpengaruh terhadap fluktasi harga material dan berdampak pada biaya hidup tenaga

Deskripsi variabel penelitian menjelaskan bahwa masing-masing pegawai dapat menjalankan SKP secara elektronik di Kantor Kecamatan Semarang Timur dengan baik dengan

Menurut para ahli, bahasa Arab lahir sebelum datangnya Islam. ini terbukti dengan adanya teks-teks sastra Arab jahili. kedatangan Islam di Arab memperkokoh dan memperjelas