• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Konsep Utama Theravada : Bagan 5.2. Kerangka Pikir Konsep dari Aspek Theravada Konsep ini muncul dari tiga elemen penting dalam interior yaitu e

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Aspek Konsep Utama Theravada : Bagan 5.2. Kerangka Pikir Konsep dari Aspek Theravada Konsep ini muncul dari tiga elemen penting dalam interior yaitu e"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

KONSEP PERENCANAAN INTERIOR

V.1. Konsep Perencanaan Interior Aspek Manusia :

(2)

Aspek Konsep Utama Theravada :

Bagan 5.2. Kerangka Pikir Konsep dari Aspek Theravada

Konsep ini muncul dari tiga elemen penting dalam interior yaitu elemen manusia, dan elemen teori konsep utama. Enlightenment, dalam bahasa Indonesia merupakan pencerahan adalah tujuan utama dari semua penganut umat Buddha.

(3)

Enlightenment melibatkan kesadaran, pikiran, dan indera dari manusia dalam prosesnya. Path sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti jalan. Jalan adalah sebuah lintasan, sebuah hal yang harus ditempuh oleh seseorang sebelum menuju ke tempat tujuannya, dalam hal ini adalah pencerahan. Jalan merupakan wujud sebuah proses. Proses dalam hal ini, adalah proses yang dibutuhkan dalam pencapaian pencerahan.

Terdapat batasan ruang lingkup dalam konsep ‘Path to Enlightenment’, yaitu :

• Faktor kesadaran yang distimulasi melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan indera sentuhan.

• Faktor filosofi tindakan dan sikap yang dibutuhkan dalam proses pencapaian pencerahan.

• Faktor proses dari kegelapan batin menuju pencerahan.

V.1.1. Konsep Citra

Konsep citra di dalam konsep ‘Path to Enlightenment’ adalah sebuah gambaran citra yang mewakili konsep itu sendiri. Konsep citra yang ingin dicapai adalah sebuah ruangan yang memiliki suasana keheningan, kedamaian, dan ketenangan. Suasana ruangan seperti hal tersebut adalah suasana yang sangat menunjang seseorang untuk

(4)

berkonsentrasi, dan membentuk kesadaran pikiran dalam tujuannya mencapai sebuah pencerahan.

V.1.2. Konsep Bentuk

Konsep bentuk yang akan digunakan adalah bentuk geometris. Bentuk geometris adalah bentuk yang representatif terhadap konsep ‘Path to Enlightenment’. Bentuk geometris seperti segi empat, dan segitiga, melambangkan sebuat keseimbangan, kemurnian. Hal ini adalah salah satu hal yang harus disadari, dan diterapkan di dalam jalan seseorang untuk mencapai pencerahan, yaitu keseimbangan batin, kemurnian batin dan pikiran untuk mencapai sebuah pencerahan.

V.1.3. Konsep Material

Dalam usaha seseorang menuju pencerahan, terdapat proses panjang di dalamnya, dari hati yang masih penuh dengan kegelapan batin sampai menuju pencerahan. Hal ini diterapkan di dalam konsep material, yaitu proses transformasi material dari material bertekstur kasar, hingga menuju tekstur halus. Proses transformasi material ini tidak hanya mempengaruhi indera manusia secara visual, namun juga secara sentuhan langsung, yang menimbulkan stimulasi rasa kepekaan, mulai dari sangat peka, peka, sedikit peka, dan sangat tidak peka. Mulai dari entrance yang memiliki tekstur kasar, yang menimbulkan kepekaan tinggi merupakan simbol dari sebuah kegelapan batin, kemelekatan. Begitu tiba di area

(5)

beribadah, tekstur halus yang tidak menimbulkan kepekaan tinggi dalam indera sentuhan diaplikasikan, hal ini merupakan simbol dari tercapainya pencerahan, ketika indera kita merasakan sesuatu yang tidak ada, namun ada, dan sesuatu yang ada, namun tidak ada.

V.1.4. Konsep Penghawaan

Konsep penghawaan yang digunakan adalah memaksimalkan penghawaan alami yang didukung oleh letak site. Penghawaan dengan memperbanyak, dan memperbesar bukaan di dalam ruang ibadah, sehingga menimbulkan thermal comfort yang berhubungan dengan indera sentuhan terhadap temperatur.

V.1.5. Konsep Pencahayaan

Konsep pencahayaan yang digunakan adalah konsep pencahayaan yang dipusatkan ke area altar. Sehingga menimbulkan pencahayaan yang terarahkan, terpusatkan. Selain itu, hal ini juga berfungsi sebagai letak dari point of view, sesuatu yang utama di dalam Vihara, yaitu altar.

Pada siang hari pencahayaan akan memaksimalkan pencahayaan alami yang terdapat di site, dan pada malam hari pencahayaan akan memaksimalkan pencahayaan buatan dengan bantuan sistem indirect lighting, karena sistem ini menimbulkan efek cahaya yang halus, dan juga dapat mempertegas bentuk ruangan.

(6)

Konsep akustik adalah hal penting karena mempengaruhi indera pendengaran manusia, yang mempunyai peran penting dalam konsentrasi seseorang dalam proses perjalanan menuju sebuah pencerahan. Akustik yang akan digunakan adalah melalui bukaan penghawaan, maka suara juga secara otomatis akan masuk ke dalam ruangan. Hal ini kembali dilakukan dengan memaksimalkan site, penanaman pohon dengan jarak dekat, sehingga menimbulkan suara gesekan daun, dan pembuatan kolam di sekeliling vihara yang membentuk mirip terasering, sehingga dapat terdengar suara air mengalir.

V.1.7. Konsep Aroma

Konsep aroma dimasukkan karena aroma adalah hal yang dirasakan oleh indera penciuman. Konsep aroma yang digunakan adalah aroma natural, yang memberikan kesan natural, murni dari alam, dan juga menenangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan site, membuka bukaan, supaya bau tanaman-tanaman tertentu yang memiliki wangi khas dan menenangkan dapat masuk ke dalam, selain itu juga karena site terletak di kota Bogor, kota hujan, bau hujan juga dapat masuk ke dalam. Pengaplikasian aroma buatan, seperti dupa aroma terapi juga dapat dilakukan jika dibutuhkan.

(7)

BAB V

KONSEP PERENCANAAN INTERIOR

V.1. Konsep Perencanaan Interior Aspek Manusia :

(8)

Aspek Konsep Utama Theravada :

Bagan 5.2. Kerangka Pikir Konsep dari Aspek Theravada

Konsep ini muncul dari tiga elemen penting dalam interior yaitu elemen manusia, dan elemen teori konsep utama. Enlightenment, dalam bahasa Indonesia merupakan pencerahan adalah tujuan utama dari semua penganut umat Buddha.

(9)

Enlightenment melibatkan kesadaran, pikiran, dan indera dari manusia dalam prosesnya. Path sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti jalan. Jalan adalah sebuah lintasan, sebuah hal yang harus ditempuh oleh seseorang sebelum menuju ke tempat tujuannya, dalam hal ini adalah pencerahan. Jalan merupakan wujud sebuah proses. Proses dalam hal ini, adalah proses yang dibutuhkan dalam pencapaian pencerahan.

Terdapat batasan ruang lingkup dalam konsep ‘Path to Enlightenment’, yaitu :

• Faktor kesadaran yang distimulasi melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan indera sentuhan.

• Faktor filosofi tindakan dan sikap yang dibutuhkan dalam proses pencapaian pencerahan.

• Faktor proses dari kegelapan batin menuju pencerahan.

V.1.1. Konsep Citra

Konsep citra di dalam konsep ‘Path to Enlightenment’ adalah sebuah gambaran citra yang mewakili konsep itu sendiri. Konsep citra yang ingin dicapai adalah sebuah ruangan yang memiliki suasana keheningan, kedamaian, dan ketenangan. Suasana ruangan seperti hal tersebut adalah suasana yang sangat menunjang seseorang untuk

(10)

berkonsentrasi, dan membentuk kesadaran pikiran dalam tujuannya mencapai sebuah pencerahan.

V.1.2. Konsep Bentuk

Konsep bentuk yang akan digunakan adalah bentuk geometris. Bentuk geometris adalah bentuk yang representatif terhadap konsep ‘Path to Enlightenment’. Bentuk geometris seperti segi empat, dan segitiga, melambangkan sebuat keseimbangan, kemurnian. Hal ini adalah salah satu hal yang harus disadari, dan diterapkan di dalam jalan seseorang untuk mencapai pencerahan, yaitu keseimbangan batin, kemurnian batin dan pikiran untuk mencapai sebuah pencerahan.

V.1.3. Konsep Material

Dalam usaha seseorang menuju pencerahan, terdapat proses panjang di dalamnya, dari hati yang masih penuh dengan kegelapan batin sampai menuju pencerahan. Hal ini diterapkan di dalam konsep material, yaitu proses transformasi material dari material bertekstur kasar, hingga menuju tekstur halus. Proses transformasi material ini tidak hanya mempengaruhi indera manusia secara visual, namun juga secara sentuhan langsung, yang menimbulkan stimulasi rasa kepekaan, mulai dari sangat peka, peka, sedikit peka, dan sangat tidak peka. Mulai dari entrance yang memiliki tekstur kasar, yang menimbulkan kepekaan tinggi merupakan simbol dari sebuah kegelapan batin, kemelekatan. Begitu tiba di area

(11)

beribadah, tekstur halus yang tidak menimbulkan kepekaan tinggi dalam indera sentuhan diaplikasikan, hal ini merupakan simbol dari tercapainya pencerahan, ketika indera kita merasakan sesuatu yang tidak ada, namun ada, dan sesuatu yang ada, namun tidak ada.

V.1.4. Konsep Penghawaan

Konsep penghawaan yang digunakan adalah memaksimalkan penghawaan alami yang didukung oleh letak site. Penghawaan dengan memperbanyak, dan memperbesar bukaan di dalam ruang ibadah, sehingga menimbulkan thermal comfort yang berhubungan dengan indera sentuhan terhadap temperatur.

V.1.5. Konsep Pencahayaan

Konsep pencahayaan yang digunakan adalah konsep pencahayaan yang dipusatkan ke area altar. Sehingga menimbulkan pencahayaan yang terarahkan, terpusatkan. Selain itu, hal ini juga berfungsi sebagai letak dari point of view, sesuatu yang utama di dalam Vihara, yaitu altar.

Pada siang hari pencahayaan akan memaksimalkan pencahayaan alami yang terdapat di site, dan pada malam hari pencahayaan akan memaksimalkan pencahayaan buatan dengan bantuan sistem indirect lighting, karena sistem ini menimbulkan efek cahaya yang halus, dan juga dapat mempertegas bentuk ruangan.

(12)

Konsep akustik adalah hal penting karena mempengaruhi indera pendengaran manusia, yang mempunyai peran penting dalam konsentrasi seseorang dalam proses perjalanan menuju sebuah pencerahan. Akustik yang akan digunakan adalah melalui bukaan penghawaan, maka suara juga secara otomatis akan masuk ke dalam ruangan. Hal ini kembali dilakukan dengan memaksimalkan site, penanaman pohon dengan jarak dekat, sehingga menimbulkan suara gesekan daun, dan pembuatan kolam di sekeliling vihara yang membentuk mirip terasering, sehingga dapat terdengar suara air mengalir.

V.1.7. Konsep Aroma

Konsep aroma dimasukkan karena aroma adalah hal yang dirasakan oleh indera penciuman. Konsep aroma yang digunakan adalah aroma natural, yang memberikan kesan natural, murni dari alam, dan juga menenangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan site, membuka bukaan, supaya bau tanaman-tanaman tertentu yang memiliki wangi khas dan menenangkan dapat masuk ke dalam, selain itu juga karena site terletak di kota Bogor, kota hujan, bau hujan juga dapat masuk ke dalam. Pengaplikasian aroma buatan, seperti dupa aroma terapi juga dapat dilakukan jika dibutuhkan.

Referensi

Dokumen terkait

matematika dimana setiap kenaikan 1 skor variabel pusat kendali akan menyebabkan kenaikan hasil belajar matematika sebesar Hasil penelitian ini sebanding dengan

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang

 WAN atau Wide Area Network adalah jaringan yang sangat luas sehingga dapat menghubungkan antar daerah, pulau atau bahkan antar benua..  Jika satu jaringan lokal

Sifat-sifat integral tertentu

Selanjutnya dari hasil penelitian Adili, Salma dan Rahma (2013) diperoleh hasil bahwa sebagian besar mahasiswa Universitas Iqra dari program studi KPI dan PAI

mengundang imam dan Ustadz yang profesional, dan melakukan kegiatan touring dalam sebulan sekali. “kita selaku pemuda merasa bahwa harus ada perubahan di kota lhokseumawe

Dari hasil penelitian tersebut, peneliti mengambil kesimpulan penggunaan model pembelajaran Cooperative metode STAD dengan pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran

Berdasarkan analisa data dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan mengenai optimasi kondensor tipe shell and tube pada mesin pendingin ruangan yang paling optimal