BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Inovasi
Inovasi secara umum dipahami dalam konteks perubahan perilaku. Inovasi biasanya erat kaitannya dengan lingkungan yang berkarakteristik dinamis dan berkembang. Pengertian inovasi sendiri sangat beragam dari banyak perspektif.
Menurut Everett inovasi adalah sebuah ide praktek atau objek yang dianggap baru oleh individu lainnya. (Everett, 2003, p.12)
2.1.1 Atribut Inovasi
Dengan merujuk pengertian-pengertian di atas, maka sebuah inovasi tidak akan berkembang dalam kondisi status quo. Walaupun tidak ada satu kesepahaman definisi mengenai inovasi, namun secara umum dapat disimpulkan bahwa inovasi mempunyai atribut (Everett, 2003, p .219) :
1. Relatif Advantage atau keuntungan relatif :
Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang membedakan dengan yang lain.
2. Compatibility atau kesesuaian :
Inovasi juga sebaiknya mempunyai sifat compatible atau kesesuaian
dengan inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang
lama tidak serta merta dibuang begitu saja, selain karena alasan faktor
biaya yang tidak sedikit, namun juga inovasi yang lama menjadi bagian
dari proses transisi ke inovasi terbaru. Selain itu dapat memudahkan proses
adaptasi dan proses pembelajaran terhadap inovasi itu secara lebih cepat.
3. Complexity atau kerumitan :
Dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh jadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baik, maka tingkat kerumitan ini umumnya tidak menjadi masalah yang penting.
4. Triability atau kemungkinan dicoba :
Inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan terbukti mempunyai keuntungan atau nilai lebih dibandingkan dengan inovasi yang lama. Sehingga sebuah produk inovasi harus melewati “uji publik” dimana setiap orang dapat menguji kualitas dari sebuah inovasi.
5. Observability atau kemudahan diamati :
Sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi dia bekerja dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
2.1.2 Level dan Kategori Inovasi
Pada tingkat sederhana, setidaknya tiga level dasar inovasi yaitu incremental, architectural, dan radical. Dengan demikian dapat dijelaskan berdasarkan pendapat (Gupta, 2007, p.94) menunjukkan ada tiga level inovasi yang terdiri dari pengembangan, rancang bangun dan kebaruan. Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Inovasi incremental atau pengembangan
Inovasi incremental dapat diartikan sebagai perubahan atau penyesuaian sederhana dalam produk, jasa atau proses yang ada.
Terdapat semakin banyak bukti bahwa perusahaan-perusahaan yang
berusaha meningkatkan hasil investasi dapat berfokus pada inovasi
incremental. Dorongan utama dari inovasi incremental dalam banyak
perusahaan selama beberapa tahun terakhir berasal dari program-
program yang ditujukan pada hasil terus menerus, pengurangan biaya
dan pengelolaan kualitas.
2. Inovasi architectural atau rancang bangun
Inovasi architectural dapat diartikan sebagai inovasi yang merupakan penerapan dari teknologi yang sudah ada atau baru muncul (emerging) untuk memecahkan suatu persoalan yang sebenarnya di awalnya tidak dimaksdudkan untuk hal tersebut
3. Inovasi radical atau kebauran
Inovasi radical dapat diartikan sebagai inovasi yang mengubah secara drastic kemampuan, menghasilkan produk atau proses baru yang berbeda dari sebelumnya atau tidak pernah ada sebelumnya.
Sebuah kategori umum inovasi adalah untuk membedakan antara produk inovasi (hal-hal yang ditawarkan perusahaan) dengan proses inovasi (cara-cara dimana produk dibuat dan dikirim) (Stamm,2008). Penggambaran level dan kategori dari inovasi dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut :
Discountinous Cars instead of horses
Internet banking
Pilkington's
floating glass Internet Radical Hydrogen
powered cars
A new kind of mortgage
Gas-filled thermo glass panes
Online sales &
distribution of computers Incremental New car
model
Differently coloured glass
Differently coloured glass
Selling in business parks instead of town centres
Produk Jasa Proses Model bisnis
Gambar 2.1 Level dan Kategori Inovasi
Sumber : Tid, Bessant, and Pavitt, 2001 (Stamm. 2008)
Namun sebagian besar dari kategorisasi ini cenderung berfokus pada hasil,
yaitu produk atau jasa, tetapi hanya sedikit membicarakan tentang proses, dan
konteks yang diperlukan agar terjadi inovasi. Pendekatan yang berfokus terlalu
kuat pada proses tidak mungkin berhasil dalam menciptakan sebuah organisasi
yang terus inovatif. Untuk mencapai itu, perilaku yang ada, kepercayaan,
pengalaman dan kerangka kerja perlu dipahami sehingga kami bisa tahu yang
benar dan dikerjakan supaya mencegah hal-hal yang benar-benar baru. Proses
tersebut dapat mendukung perubahan ini, tetapi tidak akan dapat untuk mencapainya. Itulah sebabnya mendefinisikan inovasi sebagai kerangka pikiran.
Inovasi adalah seni membuat jaringan baru dan terus-menerus demi perubahan adanya perubahan (Stamm, 2008).
Terdapat empat kategori inovasi yang dibedakan menjadi : (Tidd &
Bessant, 2009, p. 21)
1. Inovasi produk (Produk innovation)
Perubahan pada barang (produk/jasa) yang ditawarkan organisasi.
2. Inovasi proses (Process innovation)
Perubahan pada cara sesuatu diciptakan dan disampaikan.
3. Inovasi posisi (Position Innovation)
Perubahan dalam konteks dimana produk/jasa diperkenalkan.
4. Inovasi paradigm (Paradigm innovation)
perubahan dalam mental model yang mendasar, dimana merumuskan apa yang dilakukan perusahaan.
PARADIGM (MENTAL MODEL)
PROCESS PRODUCT
(SERVICE)
POSITION
Gambar 2.2. 4Ps Ruang inovasi Sumber : Tidd and Bessant (2009, p. 22)
INNOVATION
Tabel 2.1. Tipe Inovasi Tipe inovasi Incremental – ‘do what
we do but better’
Radical – ‘do something different’
Produk – apa yang ditawarkan bagi dunia
Windows fista menggantikan XP – pada
dasarnya meningkatkan ide software yang telah
ada
Toyota Prius – membawa konsep baru – mesin
hybird
Proses – bagaimana menciptakan dan
menyalurkan penawaran tersebut
Meningkatkan jasa telepon fixed-line
Skype dan sistem VoIP lainnya
Posisi – target dan cerita yang disampaikan
Haagen Dazs mengubah target market ice cream, dari anak-anak menjadi
dewasa
Microfinance – Grameen Bank menyediakan kredit
untuk rakyat sangat miskin Paradigm – bagaimana
merumuskan apa yang dilakukan
IBM bergerak dari pembuat mesin untuk perubahan jasa dan solusi
– menjadi perusahaan yang menjual computer dan membangun sisi jasa
dan konsultasi
Landasa iTunes – sistem hiburan lengkap pribadi
Sumber : Tidd and Bessant (2009, p. 23)
2.1.3 Faktor penghambat inovasi :
Inovasi tidak terjadi secara mulus atau tanpa resistensi. Banyak dari kasus
inovasi diantaranya justru terkendala oleh berbagai faktor. Biasanya budaya
menjadi faktor penghambat terbesar dalam mempenetrasikan sebuah inovasi.
Gambar 2.3 Penghambat inovasi Sumber : Albury (2003, p. 31)
Hambatan inovasi diidentifikasikan ada delapan jenis.Salah satunya yang dimaksud adalah budaya risk aversion adalah budaya yang tidak menyukai resiko.
Hal ini berkenaan dengan sifat inovasi yang memiliki segala resiko, termasuk resiko kegagalan.
Hambatan lain adalah ketergantungan terhadap figur tertentu yang memiliki kinerja tinggi, sehingga kecenderungan kebanyakan pegawai di sektor publik hanya menjadi follower. Ketika figur tersebut hilang maka akan terjadi stagnasi atau kemacetan kerja.
Selain itu hambatan anggaran yang periodenya terlalu pendek, serta hambatan administratif yang membuat sistem dalam berinovasi menjadi tidak fleksibel.Sejalan dengan itu juga, biasanya penghargaan atas karya-karya inovatif yang masih sangat sedikit.Sangat disayangkan hanya sedikit apresiasi yang layak atas prestasi pegawai atau unit yang berinovasi (Albury 2003, p. 31).
2.1.4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Inovasi
Banyak perusahaan yang sukses dalam persaingan bisnis dengan cara melakukan perubahan atau strategi inovasi. Strategi inovasi membuat perusahaan
Keengganan menutup program yang gagal
Tidak ada inovasi
Ketergantungan pada high performer
Teknologi ada,tetapi terhambat pada budaya dan penataan
organisasi
Tidak ada penghargaan atau
insentif Ketidakmampuan
menghadapi resiko dan perubahan Anggaran jangka
pendek dan perencanaan Tekanan dan
hambatan administratif
Budaya risk
aversion
memiliki banyak keunggulan dalam persaingan bisnis, namun ada 5 poin penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan stategi inovasi :
1. Strategi inovasi bukanlah hal baru.
2.Untuk memulai melakukan strategi inovasi perusahaan harus mempertimbangkan, mengevaluasi, dan membuat keputusan tentang faktor-faktor individual.
3. Strategi inovasi harus sesuai dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan.
4. Strategi inovasi mempunyai resiko.
5. Seluruh perusahaan harus dikelola dengan tepat ketika melakukan strategi baru.
Setelah mempertimbangkan poin-poin penting, kita bisa langsung memulai melakukan strategi inovasi. Untuk memulai strategi inovasi, inovator memiliki beberapan strategi sukses melakukan strategi inovasi, diantaranya adalah:
1. Mendefinisikan kembali arti bisnis.
2. Mendefinisikan siapa yang akan menjadi pembeli.
3. Mendefinisikan produk atau jasa yang akan kita tawarkan ke pembeli.
4. Perusahaan harus menetapkan cara yang baik untuk menjalankan bisnis dan menemukan pelanggan yang tepat.
5. Berpikir pada sudut pandang yang berbeda kita harus melakukan analisa dengan cara membuat pertanyaan-pertanyaan yang mendukung apa yang akan kita kembangkan.
Strategi inovasi yang telah disebutkan diatas sebenarnya bukanlah satu- satunya cara untuk mencapai kesuksesan. Sebuah perusahaan harus berusaha keras untuk menemukan inovasinya sendiri dengan memperhatikan budaya, struktur, permintaan, dan proses yang tepat. (www.enterpreunermuda.com, Adhatama)
2.2 Inovasi Produk
Definisi inovasi produk menurut Crawford dan De Benedetto (2008)
adalah inovasi yang digunakan dalam keseluruhan operasi perusahaan dimana
sebuah produk baru diciptakan dan dipasarkan, termasuk inovasi disegala proses
fungsional dan kegunaannya. Inovasi produk diterapkan pada pengoperasian total
dengan produk yang baru dibuat dan dipasarkan, dan itu termasuk inovasi dakam semua proses fungsional.
Selain itu menurut Thompson, definisi inovasi produk secara klasik adalah konsep yang luas, mencakup ide-ide dan pelaksanaan ide terhadap suatu produk baru (dalam Yunal & Indriyani, 2013)
Bagi kebanyakan organisasi, inovasi produk adalah upaya penelitian dan pengembangan (R&D). Jenis upaya inovasi yang ditemukan dalam proses R&D meliputi (White & Bruton, 2007, p. 96) :
1. Basic Research : Penelitian dan pengembangan murni
Basir Research melibatkan penciptaan pengetahuan baru. Pengetahuan ini mungkin baru untuk perusahaan, atau mungkin sebuah inovasi yang tidak dikenal sebelum penelitian ini. Basic Research pada dasarnya beresiko, tetapi memiliki potensi untuk memberikan manfaat seperti mengarah ke produk baru atau cara untuk melakukan suatu bisnis. Tujuan dari sebuah strategi inovasi adalah untuk menciptakan nilai bagi perusahaan dan pelanggannya.
2. Applied Research : Pengembangan Produk Baru
Setelah membangun basic research perusahaan melakukan applied research. Applied research menggunakan pengetahuan baru yang berkembang pada saat basic research menciptakan produk baru.
Pengembangan produk baru dapat menyebabkan perusahaan mengubah posisi strategis dalam industry atau, setidaknya mengubah posisi potensinya dalam industri. Ini harus mengarah pada perusahaan yang mendapatkan beberapa keunggulan kompetitif. Tujuan applied research adalah untuk menambah nilai perusahaan dan pelanggan di pasar. Resiko dari penerapan inovasi dari jenis penelitian ini kurang dalam jika dibandingkan dengan basic research.
3. Systems Integration : Peningkatan Produk Atau Perluasan Pasar
Jenis ketiga dari R&D adalah yang paling incremental di alam. System
integration ditujukan untuk mendukung peningkatan bisnis pada produk
yang sudah sukses atau membuka pasar baru dengan produk yang sudah
ada. Jenis dari integrasi ini memiliki manfaat dan resiko yang rendah.
Sebagian besar resiko adalah negative dan tidak berubah dapat menyebabkan kerugia strategis. Systems integration adalah yang paling sesuai di antara bagian-bagian dari organisasi dan bagaimana meningkatkannya dengan basis pengetahuan yang ada.
2.2.1 Atribut Inovasi Produk
Inovasi produk dapat dilakukan pada atribut-atribut produk, yang mencakup (Kotler dan Amstrong, 2004) (dalam Yunal & Indriyani, 2013) :
1. Kualitas Produk :
Kualitas produk, yang merupakan kemampuan suatu produk dalam melakukan fungsi-fungsinya, yang meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan. Daya tahan yang dimaksud mencerminkan umur ekonomis dari produk tersebut, sedangkan kehandalan merupakan konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk dari satu pembelian ke pembelian berikutnya. Kualitas produk berarti kualitas kesesuaian, yaitu bebas dari kecacatan dan kekonsistenan dalam memberikan kualitas yang tinggi.
2. Fitur Produk :
Fitur produk, yang merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk satu dengan yang lain, atau antara produk yang dimiliki dengan produk pesaing. Fitur produk identik dengan sifat dan sesuatu yang unik, khas dan istimewa yang tidak dimiliki oleh produk lainnya.
3. Gaya Dan Desain Produk :
Gaya dan desain produk, yang merupakan cara lain dalam menambah nilai
bagi pelanggan. Gaya hanya menjelaskan penampilan produk tertentu,
sedangkan desain memiliki konsep yang lebih dari gaya. Desain
berkontribusi tidak hanya pada penampilan, namun juga pada kegunaan
produk. Gaya dan desain yang baik dapat menarik perhatian,
meningkatkan kinerja produk, memotong biaya produksi, dan memberikan
keunggulan bersaing.
2.2.2 Kategori Produk Baru
Menurut Crawford dan De Benedetto (2008), produk baru dapat dikategorikan dalam beberapa hal, yaitu :
1. New To The World Products Or Really New Products (produk baru bagi dunia)
Produk ini adalah penemuan yang menciptakan sebuah pasar baru.
Contohnya : Polaroid Camera, Sonny Walkman, The Palm Pilot, Hewlett- Packard’s Laser Printer, Rollerblade Brand Inline Skates, P&G’s Febreze And Dryel.
2. New To The Firm Products Or New Product Line (lini produk baru)
Produk yang termasuk kategori baru bagi perusahaan. Produk bukanlah produk yang baru bagi dunia tapi bagi perusahaan. Contohnya : P&G’s First Shampoo Or Coffe, Hallmark Gift Items, AT&T’s Universal Credit Card, Canon’s Laser Printer.
3. Additions To Existing Product Lines (tambahan pada lini produk yang telah ada)
Ini adalah “pematrolian” merk, atau perpanjangan lini yang dirancang untuk menyempurnakan lini produk sebagai puncak yang ditawarkan pasar perusahaan saat ini. Contohnya : P&G’s Tide Liquid Detergent, Bud Light, Apple’s Imac, Hewlett-Packard’s Laserjet 7P (laser printer murah yang dirancang komputer rumah).
4. Improvements And Revisions To Existing Products (perbaikan dan revisi produk yang telah ada)
Produk yang telah ada dan dibuat lebih baik lagi. Contoh : P&G’s Ivory Soap And Tide Powder Laundry Detergent telah direvisi beberapa kali sepanjang sejarah mereka.
5. Repositioning (penentuan kembali posisi)
Produk yang ditargetkan ulang untuk penggunaan dan aplikasi baru.
Contohnya : Aspirin direposisi sebagai perlindungan terhadap serangan
jantung, juga mencakup produk yang ditargetkan ulang untuk pengguna
atau target pasar baru. Rokok Marlboro direposisi dari rokok wanita ke
rokok pria.
6. Cost Reductions (pengurangan biaya)
Produk baru yang hanya mengganti produk yang ada, memberikan kinerja pelanggan yang sama tetapi dengan biaya yang lebih rendah. Mungkin lebih dari sebuah “produk baru” dalam hal desain atau produksi dari pemasaran.
2.3 Definisi Usaha Sektor Informal :
Menurut Hart (dalam Asihanto, 2013), sektor usaha informal adalah sebuah unit usaha yang tidak atau sedikit sekali menerima proteksi dari pemerintah, namun terbatas dalam ruang lingkup kegiatannya.
Namun demikian kegiatan-kegiatan dalam sektor usaha informal, Simanjutak (dalam Asihanto, 2013) menjelaskan bahwa kegiatannya beragam, antara lain : Pedagang Kaki Lima (PKL), pedagang keliling, tukang warung, tukang cukur, tukang becak, tukang sepatu, dan tukang loak. BPS menambahkan bahwa kegiatan dalam sektor usaha informal ini dibagi menjadi lima subsector ekonomi, antara lain : pedagang (menetap dan keliling), jasa (tukang cukur, tukang reparasi, dan lainnya), bangunan (buruh, tukang batu, kuli bangunan, mandor dan lainnya), angkutan (sopir, tukang becak dan lainnya), dan industri pengolahan (industri rumah tangga dan kerajinan rakyat).
2.3.1 Ciri-Ciri Sektor Informal
Menurut Magdalena (dalam Asihanto, 2013), ciri-ciri sektor informal adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan usaha tidak terorganisir secara baik, karena unit usaha timbul tanpa menggunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor informal
2. Pada umumnya unit usaha tidak memiliki izin usaha
3. Pola kegiatan usaha tidak teratur dengan baik dalam arti lokasi maupun jam kerja
4. Pada umumnya pola kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai pada sektor ini
5. Unit usaha berganti-ganti dari suatu sub sektor ke sub sektor lain
6. Teknologi yang dipergunakan masih tradisional
7. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasinya juga kecil
8. Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal, sebagian besar hanya diperoleh dari pengalaman sambil bekerja
9. Pada umumnya unit usaha termasuk “one man enterprise” dan kalaupun pekerja biasanya dari keluarga sendiri
10. Sumber dana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri, atau dari lembaga keuangan tidak resmi
11. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi berpenghasilan menengah kebawah.
2.3.2 Pengelompokkan dalam sektor informal :
Secara umum sektor informal dapat dikelompokkan dalam tiga golongan:
1. Pekerja yang menjalankan sendiri modalnya yang sangat kecil, misalnya pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang pasar, dan pedagang keliling. Sebagian besar pekerja informal tergolong dalam kelompok ini.
Meskipun mereka bekerja mandiri, pekerja informal jenis ini secara ekonomis sangat tergantung pada orang lain, misalnya usahawan lain yang memasok barang dagangan untuk kelangsungan bisnis mereka.
2. Pekerja informal yang bekerja pada orang lain. Biasanya mereka bekerja harian. Golongan ini termasuk buruh upahan yang bekerja pada pengusaha kecil atau pada suatu keluarga dengan perjanjian lisan dengan upah harian atau bulanan. Pembantu rumah tangga dan buruh bangunan termasuk golongan ini.
3. Pemilik suatu usaha yang sangat kecil. Termasuk dalam kelompok ini para
petani kecil dengan mempekerjakan satu atau beberapa buruh tani. Contoh
lain adalah pemilik kios kecil dengan mempekerjakan seorang pembantu
(Supriyanto, 2006).
2.4 Definisi Sektor Formal
Menurut (Meydianawati, 2011, p.5) usaha sektor formal adalah sektor yang didasarkan kontrak yang jelas dan upah yang diberikan secara tetap atau permanen. Mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah dan swasta dapat digolongkan menjadi sektor formal. Badan Pusat Statistik (BPS) mengkategorikan pekerjaan yang termasuk sektor formal adalah penduduk yang bekerja dengan status berusaha dengan bantuan buruh tetap atau dibayar, buruh, karyawan dan pekerja bebas pertanian.
2.4.1 Badan Usaha Dalam Sektor Formal
Menurut Kasmir (2006) badan usaha yang termasuk dalam sektor formal sebagai berikut (dalam Haurisaa, Evilianna, 2009, p.25-26) :
1. Perseorangan :
Badan usaha yang kepemilikannya dimiliki oleh satu orang. Pada umumnya perusahaan perseorangan tidak memerlukan modal yang besar dan juga minim alat produksi dan tenaga kerja.
2. Perseroan Komanditer (CV) :
Perseroan Komanditer adalah badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dengan tingkat keterlibatan yang berbeda-beda di antara anggotanya. Tujuan mendirikan CV adalah untuk memberikan peluang bagi perseroan untuk menanamkan modal dengan tanggung jawab yang terbatas.
3. Perseroan Terbatas (PT) :
PT adalah badan hukum yang memiliki tanggung jawab yang terbatas, tanggung jawab hanya sebatas modal yang disetorkan. Undang-undang PT dijelaskan sebagai berikut :
- PT merupakan suatu badan hukum untuk melakukan kegiatan - Pendirian PT dilakukan atas dasar perjanjian pihak-pihak yang
terlibat didalamnya
- Pendirian PT didasarkan atas kegiatan yang akan dijalankan
- Pendirian PT menggunakan modal yang terbagi dalam bentuk
saham
- PT harus mematuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan undang-undang pemerintah
2.5 Penelitian Terdahulu
Penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian yang telah dilakukan.
Adapun beberapa penelitian terdahulu sebagai berikut :
Penelitian yang dilakukan oleh Suendro (2012) yaitu, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi produk yang nantinya mempengaruhi kinerja pemasaran dan akhirnya pada terbentuknya keunggulan bersaing berkelanjutan. Dalam penelitian ini dikembangkan suatu model teoritis dengan mengajukan enam hipotesis yang akan diuji dengan menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan software AMOS 16. Responden yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari responden pengusaha batik berjumlah 114 responden. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh orientasi pelanggan terhadap inovasi produk, menganalisis pengaruh orientasi pesaing terhadap inovasi produk, menganalisis pengaruh koordinasi lintas-fungsi terhadap inovasi produk. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi produk dapat ditingkatkan dengan meningkatkan orientasi pelanggan, orientasi pesaing dan koordinasi lintas fungsi. Selanjutnya, inovasi produk yang semakin tinggi akan mempengaruhi kinerja pemasaran dan selanjutnya meningkatkan keunggulan bersaing berkelanjutan
Hartini (2012) menjelaskan adanya peran inovasi terhadap kualitas produk
serta peran kualitas produk terhadap kinerja bisnis. Hal ini menunjukkan
pentingnya usaha kecil dan menengah untuk inovatif dan menghasilkan produk
dengan kualitas tinggi untuk berhasil dalam kompetisi global. Tujuan penelitian
ini adalah untuk menjelaskan dampak inovasi terhadap kualitas produk dan
kinerja bisnis dari usaha kecil dan menengah di Jawa Timur. Alat analisa yang
digunakan proportional area random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya peran inovasi terhadap kualitas produk serta peran kualitas produk
terhadap kinerja bisnis
2.6 Kerangka Berpikir
Gambar 2.4
Sumber : (Kotler & Amstrong, 2004)
2.7 Hipotesa Penelitian
Hipotesa : Diduga ada perbedaan inovasi produk pada sektor usaha formal dan informal
Sektor usaha formal :
Kualitas Produk
Fitur Produk
Gaya Dan Desain Produk
Sektor usaha informal :
Kualitas Produk
Fitur Produk
Gaya Dan Desain Produk