• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian dilakukan oleh Prischa Agus Marliana tahun 2008 tentang Analisis Penentuan Modal Kerja Optimal pada PT. Gudang Garam Tbk.

Metode analisis data adalah analisis deskriptif yang menggunakan analisis perputaran modal kerja. Hasil penelitian menunjukan modal kerja PT Gudang Garam Tbk. belum optimal dalam melakukan pengelolaan modal kerja, kondisi tersebut mengakibatkan perusahaan mengalami kelebihan dana sehingga terdapat sejumlah dana yang mengganggur. Hal tersebut terlihat pada tahun 2003 modal kerja optimal sebesar (dalam jutaan rupiah) Rp 12.990.209,63 lebih besar dari modal kerja riil sebesar Rp 11.923.663, pada tahun 2004 modal kerja optimal sebesar Rp 12.423.672,5 lebih kecil dari modal sebenarnya sebesar Rp 13.490.458, pada tahun 2005 modal kerja optimal sebesar Rp 13.438.416,84 lebih kecil dari modal sebenarnya sebesar Rp 14.709.465, pada tahun 2006 modal kerja optimal sebesar Rp 15.643.571,11 lebih besar dari modal kerja riil sebesar Rp 14.815.847 dan pada tahun 2007 modal kerja optimal sebesar Rp 16.723.928,18 lebih kecil dari modal kerja riil sebesar Rp 17.262.980.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Rahmawati tahun 2012 dengan judul Analisis Optimalisasi Modal Kerja pada CV. Dharma Utama Batu.

Metode analisis data adalah analisis deskriptif yang menggunakan analisis

(2)

9

perputaran modal kerja. Hasil penelitian menunjukan modal kerja perusahaan belum optimal karena perusahaan mengalami kekurangan dana pada modal kerja riil. Hal tersebut diperlihatkan pada tahun 2010 modal kerja riil sebesar Rp 911.042.692 sedangkan modal kerja optimal sebesar Rp 943.917.806.

Tahun 2011 juga mengalami kekurangan modal kerja, dimana modal kerja riil sebesar Rp 977.092.790 dan modal kerja optimal sebesar Rp 1.136.595.428.

Penelitian kali ini akan mengevaluasi optimalisasi modal kerja pada PT United Tractors Tbk. Persamaan antara peneliti terdahulu dengan peneliti sekarang terletak pada metode yang digunakan yaitu metode perputaran modal kerja menggunakan elemen-elemen perputaran modal kerja yaitu kas, piutang, dan persediaan. Perbedaannya terletak pada objek penelitian dan periode laporan keuangan yang digunakan.

B. Landasan Teori

1. Konsep Modal Kerja

Modal kerja sangat penting bagi perusahaan karena sebagian besar pekerjaan manajer keuangan dicurahkan pada kegiatan operasi perusahaan sehari-hari yang memerlukan modal kerja khususnya untuk pembelian bahan baku dan membayar upah gaji. Modal kerja merupakan keseluruhan aktiva lancar yang diperlukan oleh perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan sehari-hari yang selalu berputar dalam periode tertentu (Gitosudarmo dan Basri,2002:35).

Lasmanah dan Suskim (2003:54) mengatakan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk aktiva lancar yaitu

(3)

10

kekayaan perusahaan yang secara fisik berubah bentuknya dalam satu kegiatan proses produksi yang habis dalam satu kali pemakaian dan dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai kembali dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Hal senada diungkapkan oleh Sawir (2005:129) modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan atau dapat pula dimaksudkan sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari terutama yang memiliki jangka waktu pendek seperti kas, surat berharga, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya.

Riyanto (2005:57) membagi modal kerja dalam tiga konsep yaitu:

a. Konsep Kuantitatif

Konsep ini menitik beratkan pada segi kuantitas dana yang ditanam dalam aktiva yang masa perputarannya kurang dari satu tahun. Modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan elemen aktiva lancar. Semua aktiva lancar diperhitungkan sebagai modal kerja tanpa memperhitungkan kewajiban-kewajiban jangka pendek, maka modal kerja ini sering disebut modal kerja bruto atau Gross working Capital.

b. Konsep Kualitatif

Pada konsep ini, modal kerja semua aktiva lancar tetapi telah diperhitungkan kewajiban yang segera harus dibayar dengan demikian dana yang dipergunakan benar-benar kusus digunakan

(4)

11

untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari tanpa khawatir terganggu oleh pembayaran hutang yang segera jatuh tempo. Karena menurut konsep ini hutang lancar telah dikeluarkan dari perhitungan, sehingga modal kerja merupakan selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancarnya.

c. Konsep Fungsional

Konsep ini lebih menitikberatkan pada fungsi dana dalam menghasilkan penghasilan langsung atau Current income. Dan pengertian modal kerja menurut konsep ini adalah dana yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan Current income sesuai dengan tujuan didirikannya perusahaan pada setu periode tertentu. Dengan demikian ada tiga syarat untuk menjadi modal kerja yakni; (1) Current income, (2) sesuai tujuan perusahaan atau (3) satu periode akuntansi, oleh karena itu yang masuk sebagai modal kerja adalah kas, piutang dengan dagang sebesar harga pokoknya, persediaan, dan aktiva tetap sebesar penyusutan periode tersebut.

Sedangkan efek atau surat berharga dan margin laba dari piutang merupakan modal kerja bila piutang sudah dibayar dan efek sudah dijual.

Dari beberapa pengertian dan pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa modal kerja adalah semua investasi dalam aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan bisa diubah menjadi kas dalam waktu paling lama satu tahun.

(5)

12

2. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Sumber-sumber dana perlu dipisahkan terhadap kebutuhan modal kerja permanen dan kebutuhan modal kerja variabel. Kebutuhan modal kerja variabel dimana modal kerja tersebut hanya dibutuhkan beberapa saat saja (beberapa bulan saja) dan tidak dubutuhkan secara terus-menerus (biasanya kebutuhan pada saat volume penjualan puncak), maka harus dibelanjai dengan sumber dana jangka pendek selama atau pada saat modal kerja tersebut dibutuhkan. Munawir (2004:120) sumber modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari:

a. Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah net income yang Nampak dalam perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menujukkan jumlah modal kerja yang berasal dari operasi perusahaan.

b. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek)

c. Penjualan aktiva tidak lancar d. Penjualan saham atau obligasi

Sementara Sawir (2005:141) sumber-sumber yang akan menambah modal kerja yaitu:

a. Adanya kenaikan sektor modal, baik yang beasal dari laba maupun penambahan modal saham.

b. Adanya pengurangan atau penurunan aktiva tetapo karena adany penjualan aktiva tetap meupun melalui proses depresiasi.

(6)

13

c. Ada penambahan utang jangka panjang, baik dalam bentuk obligasi utang jangka panjang lainnya.

3. Jenis-jenis Modal Kerja

Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam satu periode belum tentu sama, hal ini disebabkan oleh berubah-ubahnya proyeksi volume produksi yang akan dihasilkan perusahaan. Menurut Riyanto (2005:61), modal kerja bisa dikelompokkan ke dalam dua jenis sebagai berikut:

a. Modal Kerja Permanen

Modal Kerja Permanen adalah modal kerja yang selalu harus ada pada perusahaan agar perusahaan dapat menjalankan kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Modal kerja ini terbagi menjadi dua golongan yaitu:

1) Modal Kerja Primer

Modal kerja primer adalah modal kerja minimal yang harus ada dalam perusahaan untuk menjamin agar perusahaan tetap bisa beroperasi.

2) Modal Kerja Normal

Modal kerja normal adalah modal kerja yang harus ada agar perusahaan bisa beroperasi dengan tingkat produksi normal.

Produksi normal merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang sebesar kapasitas normal perusahaan

(7)

14 b. Modal Kerja Variabel

Menurut Sutrisno (2003:46), modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kegiatan atau keadaan lain yang mempengaruhi perusahaan. Modal kerja variabel dibedakan terdiri dari:

1) Modal Kerja Musiman

Merupakan sejumlah dana yang dibutuhkan untuk mengantisipasi apabila ada fluktuasi kegiatan perusahaan.

2) Modal Kerja Siklis

Modal kerja yang jumlahnya dipengaruhi fluktuasi konjungtur.

3) Modal Kerja Darurat

Modal kerja ini jumlahnya kebutuhannya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang terjadi di luar kemampuan perusahaan.

Berdasarkan keterangan mengenai jenis-jenis modal kerja di atas, maka pada hakikatnya modal kerja merupakan jumlah yang terus menerus harus ada dalam menopang aktivitas-aktivitas operasional perusahaan yang menjembatani antara saat pengeluaran untuk memperoleh barang atau jasa dengan waktu penerimaan penjualan.

Perusahaan harus menyediakan modal kerja yang jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan yang berlaku, dan situasi yang sedang terjadi agar kontinuitas perusahaan dapat terjaga.

(8)

15 4. Fungsi dan Peranan Modal Kerja

Modal kerja pada hakekatnya merupakan jumlah yang terus- menerus harus ada dalam menompang usaha perusahaan yang menjembatani antara pengeluaran untuk memperoleh barang atau jasa, dengan waktu penerimaan penjualan, atau pengeluaran yang bersifat bukan untuk harta tetap.

Fungsi dan peranan modal kerja Munawir (2000:45):

a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunya nilai dari aktiva lancar.

b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.

c. Menjamin dmilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahayabahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.

d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani konsumennya.

e. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para pelanggannya.

f. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beropersi dengan lebih efisiensi karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutukan.

(9)

16

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja

Modal kerja yang tersedia dianggap cukup bagi suatu perusahaan tidak selalu cukup oleh perusahaan lainnya. Hal ini disebabkan oleh jenis usaha yang berbeda-beda dari masing-masing perusahaan. Untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahan tergantung pada beberapa faktor.

Besar kecilnya kebutuhan modal kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: sifat atau tipe perusahaan, waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang, syarat pembelian bahan baku atau barang dagangan, syarat penjualan dan tingkat perputaran persediaan (Munawir, 2007:117).

a. Sifat atau tipe perusahaan

Modal kerja dari suatu perusahaan jasa relatif akan lebih rendah bila dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja perusahaan manufaktur, karena untuk perusahaan jasa tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas, piutang maupun persediaan. Apabila dibandingkan dengan perusahaan industri, maka keadaannya sangat ekstrem karena perusahaan industri harus mengadakan investasi yang cukup besar dalam aktiva lancar agar perusahaan tidak mengalami kesulitan di dalam operasinya sehari-hari.

b. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi barang atau memperoleh barang yang akan dijual serta harga per-satuan dari barang tersebut. Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan

(10)

17

berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang akan dijual maupun bahan dasar yang akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. Makin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang tersebut makin besar pula modal kerja yang dibutuhkan

c. Syarat pembelian bahan baku atau barang dagangan

Syarat pembelian bahan baku atau barang dagangan atau bahan dasar yang akan digunakan untuk memproduksi barang sangat mempengaruhi jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan, Jika syarat kredit yang di terima pada waktu pembelian menguntungkan, makin sedikit uang kas yang harus diinvestasikan dalam persediaan bahan atau barang dagangan, sebaliknya bila pembayaran atas bahan atau barang yang akan dibeli tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu yang pendek maka uang kas yang diperlukan untuk membiayai persedian semakin besar pula.

d. Syarat penjualan

Semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada para pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam sektor piutang.

e. Tingkat perputaran persediaan

Tingkat perputaran persediaan (inventory turn over), menunjukkan berapa kali persediaan tersebut diganti dalam arti dibeli dan dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka jumlah

(11)

18

modal kerja yang dibutuhkan semakin rendah. Perencanaan dan pengawasan yang teratur dan efisien,dapat dicapai melalui tingkat perputaran yang tinggi. Semakin cepat atau semakin tinggi perputaran akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkankarena penurunan harga ataukarena perubahan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.

Disamping faktor- faktor tersebut masih banyak faktor- faktor lain yang akan mempengaruhi kebutuhan modal kerja suatu perusahaan, misalnya faktor musiman, volume penjualan, tingkat perputaran piutang, dan jumlah rata-rata pengeluaran setiap harinya.

6. Kebijaksanaan Modal Kerja

Kebijaksanaan modal kerja merupakan strategi yang diterapkan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerja dengan berbagai alternatif sumber dana. Seperti diketahui bahwa sumber dana untuk memenuhi modal kerja bisa dipilih dari sumber dana berjangka panjang atau sumber dana berjangka pendek.

Syamsuddin (2007:207) mengungkapkan bahwa perusahaaan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan modalnya dalam dua bentuk: modal jangka pendek ddan modal jangka panjang. Hutang-hutang lancar adalah merupakan sumber dana modal jangka pendek, sedangkan pinjaman jangka panjang dan modal sendiri adalah sumber-sumber modal yang

(12)

19

panjang. Hutang lancer terdiri dari hutang dagang, hutang surat-surat berharga.

Masing-masing alternatif mempunyai konsekuensi dan keuntungan.

Modal kerja pada daarnya adalah dana yang masa perputarannya berjangka pendek, tetapi karena ada dana (modal kerja) yang selalu harus ada dalam jangka panjang, maka perlu kebijaksanaan untuk mencari sumber pembelanjaan sehingga diperoleh biaya dana yang paling murah.

Menurut Sutrisno (2003:46) kebijaksanaan modal kerja perusahaan tergantung dari seberapa besar manajer berani mengambil resiko.

Kebijaksanaan modal kerja yang bisa diambil oleh perusahaan adalah:

a. Kebijaksanaan Konservatif

Rencana pemenuhan kebutuhan dana konservatif merupakan rencana pemenuhan dana modal kerja yang lebih banyak menggunakan sumber dana jangka panjang dibandingkan sumber dana jangka pendek. Kebijakan ini meliputi modal kerja permanen dan sebagian modal kerja variabel dipenuhi oleh sumber dana jangka panjang, sedangkan sebagian modal kerja variabel lainnya dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek.

Kebijaksanaan ini disebut koservatif (hati-hati) karena sumber dana jangka panjang mempunyai jatuh tempo yang lama sehingga perusahaan memiliki keleluasaan dalam pelunasan kembali.

Hal tersebut berarti perusahaan mempunyai tingkat keamanan atau margin of safety yang besar.

(13)

20 b. Kebijaksanaan Moderat

Kebijakan atau strategi pendanaan ini persahaan membiayai setiap aktiva dengan dana yang jangka waktunya kurang lebih sama dengan jangka waktu perputaran aktiva tersebut. Pengertian ini adalah aktiva yang bersifat permanen yakni aktiva tetap dan modal kerja permanen akan didanai dengan sumber dana jangka panjang, dan aktiva yang bersifat variabel atau modal kerja variabel akan didanai dengan sumber dana jangka pendek.

Kebijakan ini didasarkan atas prinsip matching principle yang menyatakan bahwa jangka waktu sumber dana sebaiknya disesuaikan dengan lamanya dana tersebut diperlukan. Bila dana yang diperlukan hanya untuk jangka pendek maka sebaiknya didanai dengan sumber dana jangka pendek, demikian pula jika dana tersebut diperlukan untuk jangka panjang maka sebaiknya didanai dengan sumber jangka panjang.

Risiko yang akan dihadapi hanya berupa terjadinya penyimpangan aliran arus kas yang diharapkan. Kesulitan yang dihadapi adalah memperkirakan jangka waktu skedul arus kas bersih dan pembayaran hutang, yang selalu terdapat unsure ketidakpastian.

Kebijakan ini akan muncul trade-off antara profitabilitas dan risiko.

Semakin besar margin of safety yang ditentukan untuk menutup penyimpangan arus kas bersih semakin aman bagi perusahaan, tetapi harus menyediakan dana yang jangka waktunya melebihi kebutuhan

(14)

21

dana yang akan digunakan. Akibat hal tersebut akan terjasi dana menganggur dan hal ini akan menurunkan profitabilitas, dengan kata lain bila risiko rendah akan mengakibatkan profitabilitas juga rendah.

c. Kebijaksanaan Agresif

Bila pada kebijaksanaan konservatif perusahaan lebih mementingkan faktor keamanan sehingga margin of safety sangat besar, tetapi tentunya akan mengakibatkan tingkat profitabilitas menjadi rendah. Sebaliknya pada kebijaksanaan agresif, sebagian kebutuhan dana jangka panjang akan dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perusahaan berani menanggung risiko yang cukup besar, sedangkan trade-off yang diharapkan adalah memperoleh profitabilitas yang lebih besar.

7. Elemen-elemen Modal Kerja

Perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional usahanya tentunya harus selalu memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi peningkatan laba dan kemajuan usahanya. Perusahaan telah membuat laporan keuangan setiap tahunnya dan dari laporan keuangan tersebut dapat diketahui sebagian elemen-elemen yang mempengaruhi modal kerja. (Gitosudarmo dan Basri,2002:33)

a. Kas

Kas dapat diartikan sebagai nilai uang kontan yang ada dalam perusahaan beserta pos-pos lain yang dalam jangka waktu dekat

(15)

22

dapat diuangkan sebagai alat pembayaran kebutuhan finansial, yang mempunyai sifat paling tinggi tingkat likuiditasnya. Kas dalam kegiatan operasional diperlukan untuk:

1) Membelanjai seluruh kegiatan operasional sehari-hari 2) Mengadakan investasi baru dalam aktiva tetap

3) Membayar deviden, pajak, bunga dan pembayaran lain b. Piutang

Piutang sebagai salah satu elemen modal kerja selalu dalam keadaan berputar. Tingkat perputaran piutang tergantung dari syarat pembayaran yang diberikan oleh perusahaan. Makin lama syarat pembayaran semakin lama dana terikat dalam piutang, yang berarti semakin rendah tingkat perputaran piutang. Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh beberapa faktor:

1) Volume penjualan

Semakin besar jumlah penjualan dari keseluruhan penjualan akan memperbesar jumlah piutang dan sebaliknya makin kecil jumlah penjualan dari keseluruhan piutang akan memperkecil jumlah piutang.

2) Syarat pembayaran bagi penjualan

Semakin panjang batas waktu pembayaran berarti semakin besar jumlah piutangnya dan sebaliknya semakin pendek batas waktu pembayaran semakin kecil besarnya jumlah piutang.

(16)

23

3) Ketentuan tentang batas volume penjualan

Apabila batas maksimal volume penjualan ditetapkan dalam jumlah yang relatif besar, maka besarnya piutang juga semakin besar.

4) Kebiasaan pembayaran para penghutang

Apabila kebiasaan membayar para pelanggan dari penjualan mundur dari waktu yang disyaratkan maka besarnya jumlah piutang relatif besar

5) Kegiatan penagihan piutang dari pihak perusahaan

Apabila kegiatan penagihan piutang dari perusahaan bersifat aktif dan pelanggan melunasinya, maka besarnya jumlah piutang relatif kecil.

C. Persediaan

Persediaan adalah barang-barang atau bahan yang masih tersisa dari tanggal neraca atau barang-barang yang akan segera dijual, digunakan atau diproses dalam periode normal perusahaan.

Persediaan merupakan barang yang masih tersedia diperusahaan yang siap dijual yang bisa menghasilkan kekayaan untuk perusahaan.

Untuk menghindari persediaan yang terlalu besar atau kecil, maka besarnya persediaan dapat ditentukan lebih dahulu dengan cara metode sabagai berikut:

1) Rata-rata bulanan

2) Rata-rata pergerakan bulanan

(17)

24

3) Petentuan batas minimum dan maksimum persediaan yang lalu 4) Tingkat perputaran persediaan

8. Penentuan Kebutuhan Modal Kerja

Bagian terpenting dalam manajemen perusahaan adalah merencanakan dan menentukan kebutuhan modal kerja dengan tepat, kesalahan dalam menetapkan besarnya kebutuhan modal kerja dapat merugikan perusahaan. Jumlah maupun bentuk modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan berbeda antara satu dengan yang lain, disesuaikan dengan perusahaan masing-masing dalam menjalankan kegiatan operasi perusahaan sehari-hari, pihak manajemen akan membutuhkan dana yang cukup untuk menjamin kontinuitas operasinya tersebut.

Menurut Syamsudin (2004:201) kebijakan dalam menentukan kebutuhan modal kerja sangat penting karena modal kerja yang berlebihan menunjukkan dana yang kurang produktif. Hal ini merugikan perusahaan karena kesempatan memperoleh laba yang optimal disia- siakan, demikian modal kerja yang kecil akan menghambat kelangsungan hidup perusahaan.

Modal kerja yang cukup membuahkan keuntungan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis. Sartono (2014:390) mengemukakan bahwa penentuan kebutuhan modal kerja dapat dilakukan dengan metode-metode sebagai berikut:

(18)

25 1) Metode Keterikatan Dana

Menentukan besarnya modal kerja dengan metode ini, maka perlu diketahui dua faktor yang mempengaruhi, yakni:

a) Periode terikatnya modal kerja

Merupakan jangka waktu mulai kas ditanamkan kedalam elemen- elemen kerja sampai menjadi kas lagi. Semakin lama periode keterikatan modal kerja akan semakin memperbesar jumlah kebutuhan modal kerja, demikian bila periode terikatnya modal kerja semakin kecil, kebutuhan modal kerja juga semakin kecil.

b) Proyeksi kebutuhan kas rata-rata per hari

Pengeluaran kas per hari merupakan pengeluaran kas ratarata setiap harinya untuk keperluan bahan baku, pembayaran tunai lainnya.

2) Metode Perputaran Elemen Modal Kerja

Metode perputaran modal kerja ditentukan dengan cara perputaran elemen-elemen pembentuk modal kerja seperti perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan.

3) Metode Aliran Kas

Proses aliran kas yang terjadi di perusahaan adalah terus menerus sepanjang yang bersangkutan terdiri dari aliran kas masuk (cash inflow) dan aliran kas keluar (cash outflow). Aliran kas masuk meliputi: hasil penjualan produk atau jasa perusahaan secara tunai, penagihan piutang dan penjualan kredit, penjualan aktiva tetap yang ada, penanaman investasi dan pihak atau pemilik saham bila

(19)

26

perseroan terbatas, pinjaman utang dan pihak lain, dan penerimaan sewa dan pendapatan lain-lain.

9. Manajemen Modal Kerja

Menurut Sawir (2005: 133) definisi manajemen modal kerja adalah kegiatan yang mencakup semua fungsi menajemen atas aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek perusahaan.

Adapun yang ingin dicapai dari manajemen modal kerja adalah:

a. Memaksimalkan nilai perusahaan dengan mengelola aktiva lancar sehingga tingkat pengembalian investasi marjinal adalah sama atau lebih besar dari biaya modal yang digunakan untuk membiayai aktiva-aktiva tersebut.

b. Meminimalkan dalam jangka panjang biaya modal yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar.

c. Pengawasan terhadap arus dan dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari sumber utang, sehingga perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban keuangannya ketika jatuh tempo.

Sasaran tersebut mengindikasikan bahwa modal kerja perusahaan harus cukup jumlahnya dalam arti harus mampu membiayai pengeluaran- pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari. Tersedianya modal yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan, disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis atau efisien dan perusahaan juga tidak akan mengalami kesulitan keuangan.

(20)

27

Keuntungan-keuntungan atas tersedianya modal kerja yang cukup bagi perusahaan menurut Munawir (2002; 116) antara lain:

a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.

b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.

c. Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahan untuk dapat menghadapi bahaya- bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.

d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya.

e. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para langganannya.

f. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi lebih efisien.

10. Modal Kerja Optimal

Modal kerja optimal adalah dana yang digunakan oleh perusahaan untuk memaksimalkan hasil (output), dalam arti tidak terjadi kelebihan atau kekurangan modal kerja. Pada tingkatan modal kerja optimal yaitu biaya yang dikeluarkan akan sama dengan manfaatnya.

Analisis optimalisasi merupakan salah satu penentuan besarnya aktiva lancar dengan metode perputaran modal kerja yang didasarkan

(21)

28

pada data historis, sehingga kondisi tahun mendatang diasumsikan sama dengan tahun sebelumnya.

Dasar utama untuk menentukan besarnya modal kerja tahun mendatang adalah hasil estimasi nilai penjualan tahun mendatang.

Metode ini menggunakan perputaran seluruh elemen aktiva lancar seperti kas, piutang dan persediaan. Berdasarkan hasil perhitungan elemen aktiva lancar dapat diketahui besarnya modal kerja. Estimasi nilai penjualan tahun mendatang dengan perputaran modal kerja ditemukan maka selanjutnya dapat dihitung nilai modal kerja optimal tahun mendatang.

Sutrisno (2003) masa perputaran modal kerja menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan modal kerja tersebut. Semakin cepat masa perputaran kerja semakin efisien penggunaan modal kerja, dan tentunya investasi pada modal kerja semakin kecil penggunaan modal kerja yang efisien menunjukkan bahwa modal kerja tersebut optimal.

Apabila jumlah modal kerja terlalu kecil akan berbahaya bagi perusahaan, karena akan mengakibatkan hambatan bagi pengeluaran untuk berbagai pembayaran perusahaan dan menganggu kelancaran proses produksi. Sebaliknya apabila modal kerja terlalu besar ketimbang pengeluaran modal kerja yang dibutuhkan juga kurang baik. Artinya, kemungkinan ada uang menganggur atau tidak memberikan penghasilan kepada perusahaan (Kasmir,2012).

(22)

29

Hasil analisis akan diperoleh modal kerja optimal sama dengan modal kerja riil, maka dapat dikatakan suatu modal kerja pada perusahaan sudah optimal. Tetapi jika hasil dari modal kerja optimal tidak sama dengan modal kerja riil, dikatakan bahwa modal kerja suatu perusahaan belum optimal. Berdasarkan dikatakan belum optimal tersebut ada dua keterangan, yakni belum optimal karena kelebihan modal, dan belum optimal karena kekurangan modal.

C. Kerangka Penelitian

Konsep pemikiran pada penelitian tentang evaluasi besarnya modal kerja pada PT United Tractors Tbk dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 menjelaskan bahwa dasar pengukuran modal kerja perusahaan yaitu dari laporan neraca dan laporan laba rugi. Melalui analisis terhadap laporan neraca dan laba rugi tersebut dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam melakukan pengelolaan modal kerja.

Analisis modal kerja yang dilakukan berkaitan secara langsung dengan perputaran modal kerja yang mencakup mengenai elemen-elemen modal kerja. Melalui perputaran modal kerja tersebut akan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melakukan pengelolaan modal kerja yang dilakukan oleh perusahaan dan pada akhirnya dapat diketahui besarnya modal kerja optimal perusahaan.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat digambarkan kerangka pikir sebagai berikut:

(23)

30 Gambar 2.1 Kerangka Penelitian

PT. United Tractors Tbk.

Laporan Keuangan (Neraca dan Laba Rugi) Tahun 2012 sampai 2016

Metode Perputaran Modal Kerja

Optimal Tidak Optimal

Modal Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Masjid Jami' Kota Malang merupakan salah satu unsur penting di daerah Kota Malang yang telah melaksanakan Zakat Infak Sedekah (ZIS) dengan berbagai macam

Ketika harus ke lokasi yang terbuka, maka santriwati harus memakai sarung tangan atau menutupi tangannya dengan jilbab dan wajib mengenakan kaos kaki berwarna gelap.. Tidur

Layanan reservasi melalui GDS tetap dapat dilakukan selama migrasi sistem, kecuali pembukuan yang dibuat pada saat migrasi sistem akan berada dalam status

Model : representasi dari sebuah obyek, sistem atau ide dalam bentuk yang berbeda dari aslinya7. Model : sebuah obyek yang

Pаdа sааt konsumеn mеrаsа sеnаng dаn puаs dеngаn аpа yаng tеlаh dibеrikаn olеh kаfе dаn rеstorаn dеngаn kеnyаmаnаn suаsаnа dаn kеpuаsаn mеnu mаkаnаn yаng

Perusahaan membuat strategi pemasaran yang dirancang untuk meningkatkan peluang di mana konsumen akan memiliki anggapan atau pandangan dan perasaan positif terhadap

Senyawa turunan vinkadiformina yang tidak memiliki nilai aktivitas antimalaria pada rentang tersebut tidak dapat diterima sebab berada di luar rentang intrapolasi model

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dari instrument penelitian dengan analisis data deskriptif, uji instrument penelitian, uji normalitas, uji