• Tidak ada hasil yang ditemukan

Patrian sang Pertiwi. Oleh Emayama Tuntas Dana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Patrian sang Pertiwi. Oleh Emayama Tuntas Dana"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Patrian sang Pertiwi Oleh Emayama Tuntas Dana

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo tak sengguh panganten anyar

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro

Senandung nyanyian itu terngiang lembut mengisi anganku yang sibuk beterbangan.

Berhari-hari terakhir ini, lagu itu sering terputar sendiri dalam benakku menjadi pengisi suara kehidupan. Itu karena selama seminggu penuh aku berlatih menari jathilan dengan lirik- liriknya.

Seseorang melintas dari sebrang posisiku. “Sinta, lagi lungguh-lungguh?”

Itu tetanggaku. Aku tersenyum menanggapi. “Enggih, Bu. Monggo.”

Tetanggaku berlalu. Kutarik udara segar sebanyak mungkin memasuki dua terowongan hidung. Setengah jam lagi. Kuputuskan untuk menggunakan sisa waktu itu duduk di kursi kayu reyot depan rumah yang memekik bila sesuatu mendarat di atasnya. Duduk bersamaku, seorang lelaki paruh baya dengan busana lusuh dan tas punggung lemasnya kini tengah khusyuk mengunyah satu demi satu lahapan makanan dariku. Sudah satu tahun terakhir ia menyambangi rumahku untuk mendapat sarapan pagi. Orang-orang menyapanya sebagai gelandangan atau paling parah, orang gila, karena tingkah lakunya yang memang nampak serupa.

Enjang julukannya, yang berarti pagi dalam bahasa Jawa. Itu karena dia hadir di waktu fajar hendak menyingsing, mengitari desaku dengan tapaknya yang kasar, lalu lenyap di kala sang bagaskara lurus menyengat kepala. Rutinitasnya itu selalu diselingi mampir ke rumahku, tahu-tahu duduk di kursi reyot ini dengan ketenangan menghanyutkan serta mata menerawang.

Kehadirannya itu juga membuatku terbiasa dan terbuka seiring berjalannya raja detik. Tak jarang acara makannya kuhiasi dengan satu dua kalimat unek-unek legit atau kecut.

Netraku takzim memperhatikannya makan. Lalu kusampaikan hal yang sedari tadi berdesakan di dalam dada.

(2)

“Enjang, hari ini aku ikut acara unjuk talenta anak SMA di kabupaten,” Napasku mengambil jeda, “dan sudah kusiapkan berhari-hari dengan tim sanggarku. Kami akan menari jathilan di sana.”

Enjang hanya memberikan reaksi seadanya, melirik sebentar lalu lanjut melahap. Tak ada timbal balik yang kuharapkan karena ini semata-mata hanya untuk meloloskan denyut berat di ubun-ubun.

“Kau tahu persis, Bapak tidak akan pernah mengizinkannya,” Kutengadahkan kepala, menangkap arak-arakan awan yang melintas di birunya dirgantara. “Jadi, kusembunyikan dari Bapak.”

Enjang melengang. Kutolehkan kepala dan menemukan piring bersih mengilap yang selesai disikat pria tua itu. Dia diam, memandang jauh dengan binar mata kosong dan bibir lurus terkatup. Detik masih berlari, jadi kuputuskan untuk langsung berdiri dan pamit masuk ke dalam rumah. Sudah waktunya aku menjalankan misi gelap.

Langkahku bergegas melesat ke dapur menaruh piring, lalu mengintai Bapak. Dia sibuk berkutat di kamarnya yang bersisihan pas dengan kamarku. Aku menarik diri ke kamar, mengayunkan daun pintunya sampai ‘klik’ menyapa, lalu bernapas lega. Tanpa babibu, kulempar tas punggungku dari lemari lalu kuraih lipatan busana dan pelengkap penting untuk kostum. Secepat kilat dan sebisa mungkin menjelma hening. Napasku tertahan sejenak hingga selesai dan tasku kenyang menampung muatannya. Dadaku meletus lega. Tidak ketahuan.

Tersisa topengku yang bertengger bersama debu di atas lemari. Kuseret kursi dengan penuh pertimbangan bunyi dan gesekan. Kakiku menapak, lalu jemariku meraih topeng yang sedetik kemudian mendarat ke tangan. Topeng jathilan dengan surai coklat serta lekukan wajah raksasa ini pemberian Ibuku, sebelum akhirnya dia melanglang ke alam yang lebih indah setahun lalu. Bibirku melengkung, tak mampu menahan kedut bahagia ketika mengingatnya.

Tiba-tiba, daun pintu bergerak ke samping. Kutemukan Bapak berdiri di ambangnya, menyaksikanku terperangah dengan topeng jathilan di tangan. Napasku tercekat, jantungku seperti mau meledak. Aku tertangkap basah.

“Bapak?” Kutelan ludah gugup, tubuhku terasa kaku. “Ah, aku hanya ingin mengelapnya, Pak.”

(3)

“Sudahi saja, Sinta. Bapak tahu rencanamu.” Lirik matanya menyoroti tas punggungku yang tergeletak di atas ranjang. Matanya menajam. “Letakkan topengnya.”

Aku menggeleng lemah, merengkuh topengku ke dada. “Pak, kumohon, ini lomba. Aku bisa tunjukkan bahwa aku tidak sia-sia menari jathilan.”

“Letakkan topeng itu,” tegas Bapak menahan murka.

“Tidak! Aku butuh topeng ini,” sergahku.

Urat kencang menonjol di rahang Bapak. Ia jelas murka. Di dalam dadaku, gong sepeti dipukul keras. Ketakutan menyelimuti dan badanku bergetar begitu hebat. Tiba-tiba, Bapak merenggut topengku lalu membantingnya ke luar kamar.

Aku terperanjat, dan serta-merta memekik. “Bapak! Itu warisan Ibu!”

Kurasakan pelupukku tersengat panas lalu uraian air mata datang beruntun.

“Tidak bisakah kau berhenti mengecewakan Bapak? Tidak ingatkah kamu bagaimana keluarga Bapak memandang kita setelah mereka tahu kamu menjadi penjathil?” Bapak berapi- api. “Bibimu pernah bilang, bukan, seharusnya anak sepertimu menjadi semaju mungkin.

Bukan melakukan hal yang kuno seperti ini.”

Daguku bak jatuh, tak sanggup kulayangkan balasan. Bapak malu rupanya. Agaknya Bapak benar, sorot mata mereka berbeda ketika tahu aku seorang penari jathilan. Mereka menatapku rendah dan Bapak tak menikmatinya. Namun, tidak. Bukan aku kalau kugubris sorot dan perkataan tak elok itu.

“Lantas apa?” Kuangkat muka, mantap membalas tatapan Bapak dengan seluruh keberanian yang tersisa dan tekanan nada di setiap kata. “Hal itu tak akan menghentikanku, Pak. Tidak akan pernah bisa.”

Bapak terdiam, menatapku lama sekali. Lalu bibirnya bersuara. “Bapak benci bantahan.

Kau tetap di rumah sampai Bapak pastikan lomba itu selesai. Belajarlah dan tunjukkan prestasimu dengan benar, bukan dengan hal seperti ini.”

Bapak menanggalkan tapaknya dari kamarku diikuti daun pintu yang tertutup dan suara kunci yang bekerja. Aku memerosot ke lantai, sesenggukan tak karuan. Lemas begitu saja seluruh otot semangatku. Berakhir sudah, hancur semua. Buruk benar rasanya.

(4)

Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di jendela kamarku. Aku menoleh dan menemukan Enjang di sana. Mataku terbelalak kala melihat kertas bertuliskan ‘tertarik kabur?’ di permukaan kaca. Hatiku sempat meragu sampai akhirnya menjalarkan panas semangat.

Kukepalkan tangan lalu kutarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Benar, aku tidak ingin berhenti.

Kuhapus air mataku lalu berdiri tegap, menarik tas di atas ranjang. Kusempatkan melirik pintu sebelum mengambil langkah. Maaf, Pak, kini kuberontak. Lalu aku berjalan cepat ke arah jendela dan menyadari bahwa topeng jathilan-ku masih berada di balik pintu kamar yang terkunci. Mungkin aku akan tampil tanpa topeng.

Daun jendela bergerak dan aku melompat dari sana bertumpu tangan Enjang. Nampak senyum damai terpampang di muka tuanya. Aku terperangah. Baru kusadari bahwa pria di hadapanku bukan Enjang yang kukenal. Dia jelas waras.

Kugelengkan kepala, bukan saatnya untuk itu. Aku melempar senyum padanya.

“Terima kasih, tapi aku sudah terlambat.”

Belum ada satu tapak melayang, sebuah tangan menahanku. Badanku berputar dan kutemukan uluran tangan Enjang dengan topeng jathilan untukku. Pandangannya tulus.

“Bapakmu itu serahkan saja padaku. Tunjukkan segalanya. Aku, Ibumu, dan Pertiwi senantiasa mendukungmu.”

Topeng jathil? Siapa sebenarnya orang ini?

Namun, pertanyaanku itu tak sempat tervokalkan. Enjang langsung mendorongku untuk berlari kabur tanpa sanggup kupahami. Karena sinar mata yang kini mempertontonkan kewarasan mutlak itu mengimplikasikan kemantapan bahwa aku harus pergi. Saat itu juga.

-

Sampai di selasar gedung lomba, Dewi dan Retno langsung menyambutku dengan pelukan. Mereka yang sudah berkostum lengkap mendesah lega untuk kedatanganku. Aku tertawa lepas menanggapi mereka. Namun kusadari ada yang aneh, rekan jathil-ku seharusnya ada empat.

“Dimana teman-teman lain?” tanyaku.

Dewi dan Retno terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan, menyuarakan segala prasangka pahit yang menjadi kenyataan. Dua temanku lainnya menghadapi masalah

(5)

yang sama denganku, dan itu bukan lagi hal yang mengejutkan untuk kami. Seandainya aku tidak datang, mereka hanya akan berdua. Dan penampilan lomba yang susah payah kami latih berhari-hari akan terbengkalai.

“Tak apa. Bertiga saja sudah cukup. Ayo!” seruku membangkitkan semangat.

Aku, Dewi, dan Retno melangkah berbarengan memasuki tempat lomba, berpapasan dengan banyak kontestan lain yang tampil bagai langit dan bumi dibandingkan dengan kami.

Pakaian modern dengan riasan mencolok memberi mereka kesan kuat tersendiri.

Sekilas kulirik kontestan yang sedang unjuk talenta di panggung. Mereka melakukan dance yang begitu serasi, indah, dan unik. Tiba-tiba, keraguan melindas semangatku setelah kusadari tim-ku menjadi minoritas talenta. Kepalaku melemah, tertunduk memikirkan baik- baik perkataan Bapak tadi. Apa kami benar-benar bisa?

Sebuah tepukan kuat disusul cengkeraman tangguh mendarat di bahuku. Aku menoleh, menemukan dua rekanku tersenyum penuh arti.

“Pertiwi mendukung kita,” ucap Retno mantap. “Yakin.”

Sesuatu menyusul, terngiang dalam benakku. “Aku, Ibumu, dan Pertiwi senantiasa mendukungmu.”

Kutarik napas panjang hingga api semangatku terpantik kembali. Kepalaku terangguk tak kalah mantap dan senyumku mengembang lebar. “Aku tahu. Kita pasti bisa.”

Bermenit-menit kemudian kami dipanggil. Aku, Dewi, dan Retno saling berpegangan tangan melangkah ke panggung. Tatapan penonton sempat menggetarkan teguhnya tekadku, hingga aku kembali menarik napas dan berucap, “Inilah saatnya.”

Suara rekaman gamelan mengisi sunyi. Gendang berdendang, gong dan kenong melolong, diikuti suling yang melengking menggugah suasana panggung. Aku dan rekanku mengenakan cakep pada tangan, binggel pada kaki, srempang pada bahu, kalung kace, keris bertengger di pinggang belakang, dan tak lupa mahkota Kupluk Panji. Kuda kepang dari anyaman bambu terjepit di antara kedua kaki.

Babak pertama, tari jathilan selamat datang. Gerakan sabetan, lumaksono, dan sembahan dengan iringan Sekar Dhandhanggula. Babak kedua, tari jathilan campur asli diiringi gendhing lancaran kuda lumping. Babak ketiga, tari kuda lumping dengan iringan irama matut irama. Hingga babak keempat, gedhrug menutup tarian. Kupakai topeng yang

(6)

kugeletakkan di pinggir panggung. Krincing melingkari pergelangan kaki dan kostum merah menyala kami menyemarakkan suasana.

Ladrang Jangkrik Genggong mengalun. Senyumku tumbuh di balik topeng dan badanku mulai menari perlahan mengikuti alunan gamelan. Krincing di pergelangan kaki terus menimbulkan suara gemrincing rancak. Kurasakan derai keringat membuat jalur di wajahku.

Saat napasku memburu, gending perlahan berhenti seiring gerakan terakhir kami.

Tepuk tangan meriah langsung memenuhi gendang telinga. Kubuka topeng dan kusaksikan pemandangan yang membuatku tak bisa menahan tawa puas. Jemari Dewi menaut tanganku dan Retno, kami melayangkan badan kebawah, sepenuhnya mengakhiri tari jathilan kami.

Detik menjelma menit lalu jam, begitu cepat bagi kami. Hingga waktunya pengumuman juara. Namun, kecewa seperti menelanku mentah-mentah karena sampai juara dua, kami tak kunjung disebutkan sebagai juaranya. Hanya tinggal sedikit harapan, juara satu.

“Juara satu!” Pembawa acara berbicara. Jantungku berdebam-debam. Kedua tanganku bersatu. “Nomor 16 dengan penampilan dance akrobatiknya!”

Seketika itu juga, dadaku mencelos. Sesak dan sakit terasa berdesakan di dalam sana.

Itu bukan kami. Air mataku meleleh, aku bergegas berdiri lalu menghadap kedua rekanku yang sama terpukulnya.

“Aku tidak bisa ikut penutupan. Bapak pasti sudah marah saat ini. Lebih baik aku pulang sekarang,” pamitku yang dibalas anggukan lemah Dewi dan Retno.

Kuseret langkah di lorong gedung lomba dengan menelan ludah pahit serta air mata asin yang sarat akan kekecewaan berat. Aku gagal. Tak ada artinya lagi semua ini. Kakiku melangkah semakin cepat mengikuti ritme tiap tetes air mataku yang semakin deras.

Samar-samar masih kudengar suara pembawa acara nun jauh di sana.

“Namun, piala bupati tidak akan diberikan kepada salah satu juara. Karena dibandingkan juara, persembahan dari tim ini butuh apresiasi yang lebih besar. Maka, piala bupati tahun ini akan jatuh kepada,” Pembawa acara tertawa kecil. “dengan persembahan jathilan yang menyedot seluruh perhatian dan mendebarkan dada dengan gendhing-nya. Mari kita sambut tim Sanggar Kencana, nomor 11!”

(7)

Aku berhenti. Terhenyak. Memproses apa yang baru saja kudengar. Tak ada lagi yang perlu dipikirkan dan sungguh, aku langsung berbalik, berlari sekencang mungkin untuk kembali. Aku bersorak dengan derap yang menggema ke setiap sudut lorong. Kutembus udara, nyalang terus merangsek maju memaksa kerumunan membuka jalan. Di panggung, kedua rekanku sedang menatapku, menantiku untuk menyusul. Mereka mengangkat piala yang begitu besar bersama-sama.

Kakiku ringan bak melayang untuk ke atas panggung. Retno memelukku, berbisik lembut. “Kau berhasil, Sinta. Kita berhasil. Pertiwi memang benar-benar mendukung kita.”

Aku tak sanggup menahan pecahnya tawa berderai air mataku. Degup jantungku masih berpacu membuatku gemetar kala mikrofon diserahkan padaku. Kuatur napasku yang memburu. Retno menepuk-nepuk pundakku, menyalurkan energi. Aku menatap kerumunan.

Mereka menungguku, tak sabar melahap apa yang kukatakan.

“Bersama-sama kita mempertahankan harta budaya kita, bersama-sama pula kita mampu membuat Indoensia mandiri. Hanya bersama kita, orang-orangnya.” Senyumku mengembang. “Sungguh, di setiap jiwa Indonesia kita, sang Pertiwi telah mematri nadi suci agar suatu saat terbakarlah semangat kebanggaan, menandingi para kesatria pendiri nagari.

Untuk Indonesia kita, tanah tercinta kita.”

Semua menerbangkan tepuk tangan, sorak sorai mengisi atmosfer. Kupejamkan mata.

Lihat, Pak. Aku berhasil.

-

Hari itu berakhir dengan tak adanya saling sapa antara aku dan Bapak. Ia terus membisu dengan bibir yang terkatup sempurna. Wajar, aku kabur dari rumah dan tidak menepati permintaannya. Namun sungguh kutahu, Bapak masih saja tetap Bapakku.

Kala gelap semakin larut, kutangkap bunyi pelan langkah Bapak menapaki lantai kamar. Dia menyejajarkan wajahnya denganku yang setengah sadar, memastikan aku masih terbuai mimpi. Ketika kubuka sedikit celah mata, Bapak berdiri di hadapan pialaku yang bertengger di atas meja. Jemarinya bergerak pelan menyusuri setiap jengkal bagian piala.

Perlahan, dia membelai benda besar itu lalu menunduk. Bahunya sempat naik turun sebelum akhirnya bergetar tak terkendali. Aku tidak tertarik untuk melihat Bapak lebih lama lagi karena bulir mata tak diundang ini juga perlu dibendung dengan terpejamnya kelopak mataku.

(8)

Sementara itu, hari terus berhembus seperti napas. Dan sudah tiga hari tak kutemukan pria tua yang selalu duduk di kursi reyot depan rumahku demi sarapan pagi. Enjang lenyap bak ditelan bumi dan tak ada sepasang mata pun mendapatinya di desa. Cemas dan penasaran menggerogotiku macam penyakit. Hingga satu hari, surat datang padaku dan menjelaskan akhir dari kisah kecil kami.

Untuk Sembodro, rekan jathilku yang dulu pernah sangat kurindukan. Sepertinya semesta tak lagi memiliki slot takdir kita untuk bersua kembali.

Dan untuk Sembodro muda, Anakku, Sinta. Terima kasih atas sarapannya. Sudah saatnya aku pensiun dari pekerjaan pagi itu.

Gelandangan lapar, Panut.

-

Lungguh-lungguh : Duduk-duduk Enggih : Iya

Monggo : Silakan

Referensi

Dokumen terkait

Dharmawangsa Surabaya, saya sangat tertarik untuk menjadi nasabah karena saya bisa langsung bertransaksi membuka rekening baru dengan mudah tidak perlu datang ke

Seandainya ada utang dari pemegang saham atau dari direksi atau dari perusahaan afiliasi, yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun yang akan datang, harus

Seandainya pada saat pelaksanaan kegiatan Peneliti/Pengabdian kepada Masyarakat, anggaran yang digunakan tidak sesuai dengan RAB, maka Peneliti/Pengabdian kepada

Seandainya ada kredit jangka panjang , harus diperiksa apakah bagian yang jatuh tempo satu.. tahun yang akan datang sudah direklasifikasikan sebagai utang

Seandainya waktu yang tersedia antara azan dan iqamah hanya lima menit, atau yang bersangkutan hanya mendapatkan waktu lima menit karena terlambat datang, berarti

Merupakan pengukuran berapa nilai yang dihasilkan saat ini seandainya menanamkan sebuah investasi. NPV juga merupakan perbedaan di antara nilai pasar investasi

Untuk wilayah lain baru akan dirundingkan waktu oleh room

Kalau panggilan Allah telah datang, siapapun tidak akan mampu menghalanginya atau menahannya, bahkan seandainya bapak dari anak yang hendak dipanggil atau anak dari ayah yang