SKRIPSI
DAMPAK PENERAPAN SISTEM e-FILING DAN e-BILLING TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM PELAPORAN SPT
TAHUNAN DAN PEMBAYARAN PAJAK SPT MASA. STUDI KASUS DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN POLONIA.
OLEH
STEPHANIE VALENTINE 130503183
PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2017
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “DAMPAK PENERAPAN SISTEM e-FILING DAN e-BILLING TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM PELAPORAN SPT TAHUNAN DAN PEMBAYARAN PAJAK SPT MASA. STUDI KASUS DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN POLONIA.” Adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Januari 2017 Yang Membuat Pernyataan
Stephanie Valentine NIM. 130503183
DAMPAK SISTEM E-FILING TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK DALAM PELAPORAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) (STUDI KASUS DI KANTOR
PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN POLONIA)
Abstrak
Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan dan Masa pajak ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan. Penyampaian Surat Pemberitahuan pajak dapat dilakukan dengan cara manual (menggunakan dokumen berbentuk kertas) atau dengan pemanfaatan sistem e-filing dan e-billing. Sistem e- Filing dan e-Billing adalah sistem pelaporan SPT menggunakan sarana internet (online) tanpa melalui pihak lain dan tanpa biaya apapun, yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP/Dirjen Pajak) untuk memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak (WP) dalam pembuatan dan penyerahan laporan SPT kepada dirjen pajak secara lebih mudah, cepat dan murah. Pemanfaatan sistem e-filing dan e-billing merupakan salah satu upaya modernisasi di bidang perpajakan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberi kemudahan bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.
Dengan demikian diharapkan akan terjadi peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan secara tepat waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelebihan dari e-filling dan e-billing ini sendiri adalah memungkinkan pembayar pajak mengirimkan SPT nya dimana saja dan kapan saja, dan juga menerima pemberitahuan dari transaksi SPT mereka secara real-time, dan juga dapat meminimalkan pengeluaran yang berhubungan dengan pelaporan pajak itu sendiri.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode komparatif. Metode deskriptif digunakan untuk menyusun, mengklarifikasi dan menganalisis data Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan pajak di lokasi penelitian. Sedangkan metode komparatif digunakan untuk membandingkan kepatuhan Wajib Pajak yang menggunakan cara manual dengan sistem e-filing dalam hal pelaporan Surat Pemberitahuan pajak.
Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sistem efiling telah cukup efektif untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak karena seluruh Wajib Pajak yang memanfaatkan sistem tersebut selalu menyampaikan Surat Pemberitahuan secara tepat waktu. Namun sistem e-filing ternyata masih belum cukup efisien untuk mengurangi beban Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya. Karena Wajib Pajak yang memanfaatkan sistem e-filing akan dikenakan biaya yang dapat mengurangi keinginan Wajib Pajak dalam
menggunakan sistem tersebut.
Kata Kunci: Surat Pemberitahuan pajak, sistem e-filing, e-billing
Abstract
Every taxpayer or agencies has to make annual tax report to the tax office (KPP Pratama). This reporting process can be done manually (using a document in paper form) or by e-filing system. E-Filing system is an SPT reporting system by means of the internet (online) without having to meet the other party and without any cost, which is implemented by the Directorate General of Taxation (DGT / Director General of Taxes) to provide convenience for taxpayers (WP) in delivering SPT reports to the director general of taxes for easier, faster and cheaper access. Utilization of e-filing system is one of the efforts in modernizing the field of taxation undertaken by the Directorate General of Taxation to provide convenience for taxpayers in their tax obligations. It is expected that there will be an increase in taxpayer compliance in submitting the Report in a timely manner in accordance with the legislation in force. The advantages of e- filing itself is that it allows taxpayers to submit their tax report and anytime. They will also receive a notification for their SPT transactions in real-time as well as minimizing the expenses they will spend in reporting taxes.
The analysis method of the data used in this research was a descriptive and comparative method. The descriptive method was used to compile, clarify and analyze the data of The Tax Payers who sent their Annual Tax Report on where the research took place.
The comparative method was used to compare the obedience of The Tax Payers that used the manual method with the e-filing system in Annual Tax Report.
This research concluded that the e-filing system has been effective enough to improve taxpayer compliance in delivering Notice in a timely manner. But the e-filing system was still not efficient enough to reduce the burden of the taxpayers in meeting their obligations because Taxpayers who utilizes this e-filing system will still be charged and this may reduce their willingness in using the system.
Keywords: Annual Tax Report, e-filing system, e-billing
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus yang telah memberikan kekuatan serta kemampuan kepada penulis hingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “DAMPAK PENERAPAN SISTEM e- FILING DAN e-BILLING TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM PELAPORAN SPT TAHUNAN DAN PEMBAYARAN PAJAK SPT MASA. STUDI KASUS DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN POLONIA.” disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Selama penulisan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, yaitu:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, SE, MAFIS, Ak, CPA selaku Ketua Departemen Akuntansi dan Bapak Drs. Syahrul Rambe, MM, Ak. selaku Sekretaris Departemen Akuntansi.
3. Bapak Drs. Firman, M.Si, Ak. selaku Ketua Program Studi S1 Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail, MM. Ak. selaku Sekretaris Program Studi S1 Akuntansi.
4. Ibu Dra. Mutia Ismail, MM. Ak. selaku Dosen Pembimbing saya yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengerahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Terima kasih untuk orang tua penulis Ibu Dra. Veronika Sinaga untuk segala kasih sayang, motivasi, dan doa yang mengiringi setiap langkah penulis menjadi seorang mahasiswi. Untuk adik-adik penulis, Stephen Valentino dan Natalie Valentine, terima kasih untuk motivasi dan semangat yang selalu diberikan.
Semoga penulis dapat menjadi teladan untuk kalian.
6. Untuk sahabat-sahabat seperjuangan, Anita, Bani, Fandi, dan Willy, terima kasih untuk semua dukungan, bantuan dan motivasi selama ini. Untuk sahabat- sahabatku, Diva, Horasman, Novita, dan Samuel, terima kasih untuk dukungan kalian selama ini. Untuk sahabat-sahabatku, Franciska dan Patar, terima kasih untuk dukungan dan motivasi selama ini. Untuk teman-teman yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu, terima kasih atas dukungan dan motivasinya hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata, peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan, untuk itu peneliti mengharapkan masukan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat membawa manfaat bagi kita semua. Terima kasih.
Medan, Januari 2017
Stephanie Valentine NIM. 130503183
DAFTAR ISI
HALAMAN
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 10
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 11
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 11
1.3.2.1 Manfaat Teoritis ... 11
1.3.2.2 Manfaat Praktis ... 12
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Teoritis ... 13
2.1.1 Pengertian dan Fungsi Pajak ... 13
2.1.2 Kepatuhan Wajib Pajak ... 15
2.1.2.1 Pengertian Wajib Pajak ... 15
2.1.2.2 Pengertian Kepatuhan Wajib Pajak ... 22
2.1.2.3 Syarat untuk Menjadi Wajib Pajak Patuh ... 23
2.1.2.4 Upaya Meningkatkan Kepatuhan WP ... 25
2.1.2.5 Indikator Kepatuhan Wajib Pajak ... 26
2.1.3 Sistem Perpajakan Indonesia ... 27
2.1.4 Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak ... 28
2.1.4.1 SPT Pajak Manual ... 28
2.1.4.2 SPT Pajak Elektronik ... 32
2.1.4.2.1 Pengertian e-Filing ... 32
2.1.4.2.2 Penerapan e-Filing ... 33
2.1.4.2.3 Pengertian e-Billing ... 37
2.1.4.2.4 Penerapan e-Billing ... 40
2.2 Penelitian Terdahulu ... 46
2.3 Kerangka Konseptual ... 48
2.4 Hipotesis Penelitian ... 49
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 52
3.1.1 Jenis Penelitian ... 52
3.1.2 Subjek dan Objek Penelitian ... 52
3.1.2.1 Subjek Penelitian ... 52
3.1.2.1 Objek Penelitian ... 52
3.1.3 Sumber dan Jenis Data ... 53
3.1.4 Tempat dan Waktu Penelitian... 53
3.2 Defenisi Operasional Variabel ... 53
3.2.1Variabel Dependen ... 53
3.2.2 Variabel Independen ... 55
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 57
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 59
3.5 Instrumen Penelitian ... 60
3.6 Metode Analisis Data ... 62
3.6.1 Uji Kuesioner ... 63
3.6.1.1 Uji Validitas ... 63
3.6.1.2 Uji Reliabilitas ... 64
3.6.2 Uji Asumsi Klasik ... 64
3.6.2.2 Uji Heterokedastitas ... 65
3.6.2.3 Uji Normalitas ... 66
3.6.3 Uji Hipotesis dengan Regresi Linear Berganda ... 66
3.6.3.1 Uji Statistik t ... 67
3.6.3.2 Koefisien Determinasi (R2) ... 68
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 69
4.2 Deskripsi Karakteristik Responden ... 70
4.2.1 Jenis Kelamin ... 70
4.2.2 Usia ... 70
4.3 Hasil Instrumen Uji Data ... 71
4.3.1 Uji Kuesioner ... 71
4.3.1.1 Uji Validitas ... 71
4.3.1.2 Uji Reabilitas ... 74
4.3.2 Uji Asumsi Klasik ... 75
4.3.2.1 Uji Multikolinearitas ... 75
4.3.2.2 Uji Heteroskedastisitas ... 76
4.3.2.3 Uji Normalitas ... 78
4.4 Uji Hipotesis dengan Regresi Linier Berganda ... 80
4.4.1 Uji Statistik t ... 82
4.4.2 Koefisien Determinasi (R2) ... 84
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 87
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 87
5.3 Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 90
KUESIONER PENELITIAN ... 92
TABULASI DATA PRIMER ... 96
KARAKTERISTIK RESPONDEN ... 100
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
1.1 Kontribusi Penerimaan Pajak Terhadap Penerimaan Negara 2
2.1 Arah Penyempurnaan MPN G2………. 37
2.2 Ringkasan Penelitian Terdahulu yang Berkaitan dengan 46
Kepatuhan Wajib Pajak………. 3.1 Jumlah Wajib Pajak Terdaftar di KPP Pratama Medan 58
Polonia……….. 3.2 Kisi-kisi kuesioner………. 61
3.3 Skor skala likert………. 61
4.1 Tingkat Pengembalian Kuesioner………. 69
4.2 Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………... 70
4.3 Frekuensi Responden Berdasarkan Usia………... 71
4.4 Uji Validitas Pertanyaan-Pertanyaan pada Kuesioner Variabel Sistem e-Filing (X1)………... 73
4.5 Uji Validitas Pertanyaan-Pertanyaan pada Kuesioner Variabel Sistem e-Billing (X2)………. 73
4.6 Uji Validitas Pertanyaan-Pertanyaan pada Kuesioner Variabel Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Y)……... 74
4.7 Uji Reliabilitas……….. 75
4.8 Tabel Uji Multikolinieritas………... 76
4.9 Hasil Analisis Model Regresi Linier Berganda……… 80
4.10 Tabel Uji t………. 82
4.11 Tabel Koefisien Determinasi (R2)……… 84
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
2.1 Kode Billing………….………... 38
2.2 Kerangka Konseptual………... 49
3.1 Tahapan Uji……….. 62
4.1 Scatterplot Dependent Variabel Y………... 77
4.2 Normal P-P Plot of Kepatuhan WPOP…………... 79
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman
1 Kuesioner Penelitian………..…………. 91
2 Tabulasi Data Primer……….. 95
3 Karakteristik Responden………. 100
4 Hasil Output Data SPSS………. 101
Bab I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan kas negara yang digunakan untuk pembangunan dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sehingga sektor pajak memegang peranan penting dalam perkembangan kesejahteraan bangsa. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak bersifat memaksa agar Wajib Pajak Orang Pribadi/Badan melaksanakan kewajiban perpajakannya, dimana penanggung pajak tidak mendapatkan imbalan secara langsung, dan penerimaan pajak tersebut akan dipergunakan negara untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Pajak sangat erat hubungannya dalam pembangunan nasional baik disektor publik maupun disektor swasta. Dengan uang pajak, pemerintah dapat melaksanakan pembangunan, memperlancar roda pemerintahan, menyiapkan lapangan pekerjaan serta meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat.
Pemungutan pajak dilakukan berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang dan jasa kolektif pemerintah. Penolakan untuk membayar, penghindaran, atau perlawanan terhadap pajak pada umumnya termasuk pelanggaran hukum.
Penerimaan negara dari sektor pajak ini akan digunakan untuk pembiayaan umum dari segala kegiatan pemerintah dan merupakan salah satu tolak ukur dari
memprioritaskan sektor pajak sebagai tulang punggung penerimaan negara seperti pada tabel 1.1 berikut.
Tabel 1.1
Kontribusi Penerimaan Pajak Terhadap Penerimaan Negara (Milyar Rupiah)
Tahun Penerimaan Negara Penerimaan Pajak Penerimaan
Bukan Pajak Hibah
2011 1,210,599.90 873.874,00 331.472,00 5.253,90
2012 1,338,109.50 980.518,10 351.804,70 5.786,70
2013 1,438,891.10 1.077.306,70 354.751,90 6.832,50
2014 1,550,490.80 1.146.865,80 398.590,50 5.034,50
2015 1,761,642.80 1.489.255,50 269.075,40 3.311,90
*Sumber: diolah oleh peneliti (2016).
Dari tabel diatas tampak bahwa dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015, penerimaan pajak selalu mengalami peningkatan dan merupakan penerimaan negara yang paling besar dibandingkan dengan penerimaan negara lainnya sehingga pemerintah sangat memprioritaskan penerimaan pajak dalam hal pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Mengingat begitu pentingnya peranan pajak, maka pemerintah dalam hal ini Dirjen Pajak di bawah naungan Kementerian Keuangan telah melakukan berbagai upaya strategis untuk memaksimalkan penerimaan pajak. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui reformasi perpajakan dengan diberlakukannya self assesment system yaitu suatu sistem dimana Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk menghitung sendiri besarnya pajak yang terutang, memperhitungkan besarnya pajak yang sudah dipotong oleh pihak lain, membayar pajak yang harus dibayar dan
melaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan yang berlaku.
Secara umum sebelum melakukan pembayaran pajak, Wajib Pajak harus memberitahukan terlebih dahulu jumlah pajak yang terutang kepada Direktorat Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) melalui Surat Pemberitahuan (SPT) setiap awal periode (1tahun) yang disebut sebagai SPT Tahunan Pajak. Terdapat dua macam Surat Pemberitahuan (SPT) yaitu SPT Masa untuk suatu masa pajak dan SPT Tahunan Pajak Penghasilan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak. Kedua SPT ini wajib dilaporkan oleh Wajib Pajak ke KPP sebagi sarana untuk menunjukkan bahwa wajib pajak telah melaporkan perhitungan dan atau pembayaran pajaknya. SPT wajib diisi secara benar, lengkap, jelas, dan harus ditandatangani.
Menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 dalam pasal (3) menyebutkan:
Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke Kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Undang-Undang ini mengamanatkan bahwa penyampaian SPT merupakan suatu kewajiban perpajakan yang harus dilaksanakan dengan benar oleh setiap Wajib Pajak.
Surat Pemberitahuan (SPT) disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Dirjen Pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) secara manual dengan memberikan SPT
yang ingin dilaporkan dalam bentuk hardcopy (kertas) dengan format yang telah disediakan oleh KPP. Penyampaian SPT dapat dilakukan secara langsung di KPP atau dapat juga disampaikan oleh Wajib Pajak kepada Dirjen Pajak secara tidak langsung ke KPP dengan cara mengirimkan SPT nya melalui kantor pos dengan bukti pengiriman surat ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.
Seiring dengan perkembangan jaman dalam bidang ilmu dan teknologi, pemerintah melakukan inovasi dengan integrasi yang dilandasi teknologi yaitu Electronic Government. Menurut Zweers dan Plangue mendefinisikan e- Government (Hidayat, 2006:40) sebagai berikut: “E-Government berhubungan dengan penyediaan informasi, layanan atau produk yang disediakan secara elektronis, dengan dan oleh pemerintah, tidak terbatas tempat menawarkan nilai lebih untuk partisipasi pada semua kalangan.”
Berdasarkan definisi diatas, e-Government dapat dipahami bahwa aplikasinya ditujukan agar prosedur ataupun sistem dalam organisasi pemerintah dapat berjalan lebih efektif dan efisien, agar dapat meningkatkan layanan informasi kepada masyarakat/publik, pelaku usaha dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam lembaga pemerintah. (Williams dan Sawyer, 2007)
Pentingnya perkembangan teknologi informasi yang kita rasakan sekarang membuat Dirjen Pajak mengadopsi teknologi internet sebagai salah satu bentuk pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak. Teknologi internet tersebut membantu dan memudahkan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya kepada pemerintah.
Salah satu bentuk penerapan pelayanan perpajakan berbasis internet yang diberikan Dirjen Pajak adalah sistem e-filing. Melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-88/PJ/2004 pada bulan Mei tahun 2004 secara resmi diluncurkan produk e-filing dan penerapan e-filing dilakukan mulai tahun 2011 yaitu suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) secara elektronik yang dilakukan secara online dan real time melalui internet pada website Direktorat Jendral Pajak (http://www.pajak.go.id) atau Penyedia Layanan SPT Elektronik atau Application Service Provider (ASP). Dirjen Pajak pun terus berinovasi untuk dapat memberikan kemudahan pelayanan dan akses dalam penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan secara elektronik lewat penerapan e-filing.
Dalam penyampaian SPT melalui sistem e-filing, Wajib Pajak tidak perlu lagi menunggu antrian panjang di lokasi Dropbox maupun Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Penyampaian SPT dapat dilakukan secara cepat, aman dan kapan saja (24x7), tidak dikenakan biaya pada saat pelaporan SPT, perhitungan dilakukan secara tepat karena menggunakan sistem komputer, kemudahan dalam mengisi SPT karena pengisiannya dalam bentuk wizard, data yang disampaikan Wajib Pajak selalu lengkap karena ada validasi pengisian SPT, ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas, dan dokumen lengkap seperti fotokopi formulir 1721 A1/A2 atau bukti potong PPh, SSP lembar ke-3, PPh Pasal 29, Surat Kuasa Khusus, perhitungan PPh terutang bagi Wajib Pajak kawin pisah harta dan/atau mempunyai NPWP sendiri, fotokopi Bukti Pembayaran Zakat) tidak perlu dikirim lagi kecuali diminta oleh KPP melalui Account Representative (AR).
Bagi aparat pajak, penerapan sistem e-filing dalam pelaporan SPT ini mampu memudahkan mereka dalam pengelolaan database karena penyimpanan dokumen- dokumen Wajib Pajak telah dilakukan dalam bentuk digital. Dengan teknologi ini, pemerintah berharap adanya peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dalam pelaksanaan kewajiban perpajakannya dan dapat memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi Wajib Pajak dalam mempersiapkan dan menyampaikan SPT karena dapat dikirimkan kapan saja dan dimana saja sehingga dapat meminimalkan biaya dan waktu yang digunakan Wajib Pajak untuk penghitungan, pengisian dan penyampaian SPT dan dapat meminimalisir sejumlah kesulitan yang seringkali dihadapi masyarakat maupun petugas pajak dalam hal penerimaan SPT.
Menurut Iwan Djuniardi sebagai Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (2013) mengatakan setidaknya ada tiga kendala utama yang dialami masyarakat maupun petugas pajak dalam hal penerimaan SPT. Pertama, beban administrasi yang besar bagi DJP dalam melakukan penerimaan, pengolahan dan pengarsipan SPT di sepanjang tahun. Kedua, ekonomi biaya tinggi terkait proses penerimaan, pengolahan dan pengarsipan SPT yang sangat panjang dan memakan waktu sangat lama. Ketiga, pentingnya inovasi berbasis teknologi untuk menuju administrasi perpajakan yang lebih ramping.
Salah satu bentuk lain penerapan pelayanan perpajakan berbasis internet yang diberikan Dirjen Pajak adalah sistem e-billing. e-Billing pajak menggantikan sistem pembayaran manual yang menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) sejak tanggal 1 Januari 2016 sesuai dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor SE-
11/PJ/2016. Terhitung tanggal 1 Juli 2016, semua bank persepsi termasuk semua bank BUMN wajib melaksanakan e-Billing pajak sebagai penerapan MPN G2 (Modul Penerimaan Negara Generasi Kedua) dan tidak akan melayani pembayaran manual lagi dengan menggunakan SSP. e-Billing ini hadir untuk mewujudkan komitmen DJP dalam pengalihan sistem manual menuju sistem elektronik perpajakan.
Wajib Pajak yang ingin membayar pajak tidak perlu mengantri dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja secara mudah dan praktis. Pembayaran bisa dilakukan melalui Bank atau Loket Kantor Pos dengan menunjukkan slip ID billing atau melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Internet Banking, atau Mobile Banking dengan memasukkan kode ID billing yang sudah diterbitkan.
Dalam rangka pembayaran dan penyetoran penerimaan negara, sistem e-billing mempermudah dan menyederhanakan proses pengisian data, menghindari/
meminimalisasi kemungkinan terjadinya human error dalam perekaman data pembayaran dan penyetoran oleh petugas Bank/Pos Persepsi, memberikan kemudahan & fleksibilitas cara pembayaran/penyetoran melalui beberapa alternatif saluran pembayaran dan penyetoran, memberikan akses kepada wajib bayar &
wajib setor PNBP untuk memonitor status atau realisasi pembayaran dari penyetoran PNBP, dan memberikan keleluasaan kepada Wajib Pajak untuk merekam data setoran secara mandiri (self assessment).
Permasalahan yang sering muncul saat ini dalam perpajakan adalah tingkat kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Wajib Pajak
patuh bukan berarti Wajib Pajak yang membayar pajak dalam nominal besar dan tertib melaporkan pajaknya melalui SPT, melainkan Wajib Pajak yang mengerti, memahami dan mematuhi hak dan kewajibannya dalam bidang perpajakan.
Masalah lain yang ditemui pun adalah Wajib Pajak, baik Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Wajib Pajak Badan masih kesulitan dalam pengisian Surat Pemberitahuan (SPT), misalnya SPT Tahunan PPh yang hanya dilaporkan satu kali dalam setahun. Seringkali Dirjen pajak mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru yang kadang belum diketahui masyarakat sehingga menyebabkan beberapa Wajib Pajak kurang memahami dan akhirnya terlambat dalam melaporkan SPT.
Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu mengenai dampak sistem e-filing terhadap kepatuhan Wajib Pajak, diantaranya adalah Nurhidayah (2015) yang menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan dalam penerapan system e-filing terhadap kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Klanten dan pemahaman internet dapat memoderasi (memperkuat) pengaruh penerapan sistem e-filing terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Penelitian sejenis lainnya memiliki hasil berbeda, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Havid (2014) mengenai pengaruh sistem e-filing terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahawa penerapan sistem e-filing di KPP Pratama Cibeunying Bandung belum sepenuhnya efektif karena menunjukkan adanya penurunan terhadap tingkat kepatuhan Wajib Pajak dan salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan Wajib Pajak tentang ketentuan dan tata cara
perpajakan serta kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh petugas pajak kepada Wajib Pajak.
Mengenai dampak sistem e-billing terhadap kepatuhan Wajib Pajak masih sangat sedikit peneliti yang melakukan penelitian ini. Beberapa peneliti diantaranya adalah Estry (2013) menunjukkan hasil yang positif terhadap Wajib Pajak untuk menggunakan e-billing dalam proses pembayaran pajak terhutangnya karena banyak sekali manfaat atau kelebihan yang dapat diperoleh oleh Wajib Pajak dalam menggunakan e-billing seperti mudah digunakan, menghemat waktu, dan akurat walaupun masih memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian lain seperti Mentari (2016) menyatakan bahwa penerapan metode pembayaran dengan e-billing dan manual berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak. Sejauh ini hasil penerapan sistem e-billing terhadap kepatuhan Wajib Pajak masih berdampak positif.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas mengenai beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang mengkaji dampak sistem e-filing dan e-billing terhadap kepatuhan Wajib Pajak berdasarkan kenyataan bahwa terdapat perbedaan hasil keefektifan penerapan sistem e-filing dan masih sedikitnya penelitian tentang e-billing terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam melakukan pembayaran secara elektronik. Maka, dengan ini peneliti akan melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Dampak Penerapan Sistem e-Filing dan e-Billing Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Pelaporan SPT Tahunan dan Pembayaran Pajak SPT Masa. Studi Kasus Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas terdapat perbedaan hasil penelitian dari peneliti sebelumnya tentang penerapan sistem e-filing dan sedikit nya penelitian tentang e- billing terhadap kepatuhan Wajib. Maka, rumusan masalah yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
i. Bagaimana penerapan sistem e-filing dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT)?
ii. Bagaimana penerapan sistem e-billing dalam membayar SPT Masa?
iii. Apakah penerapan sistem e-filing mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Medan Polonia dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya?
iv. Apakah penerapan sistem e-billing mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Medan Polonia dalam melakukan pembayaran perpajakannya?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui :
i. Bagaimana penerapan sistem e-filing dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT).
ii. Bagaimana penerapan sistem e-billing dalam membayar SPT Masa.
iii. Apakah penerapan sistem e-filing mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Medan Polonia dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
iv. Apakah penerapan sistem e-billing mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak yang terdaftar di KPP Pratama Medan Polonia dalam melakukan pembayaran perpajakannya.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1.3.2.1 Manfaat Teoritis
i. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian sejenis yang tertarik melakukan penelitian selanjutnya.
ii. Penelitian ini diharapkan mampu menambah dan mengembangkan wawasan, informasi, serta pemikiran dan ilmu pengetahuan yang khususnya berkaitan dengan Pengaruh Sistem E-Filing terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
1.3.2.2 Manfaat Praktis
i. Sebagai bahan masukan bagi Penulis untuk menambah wawasan mengenai proses penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) yang berlaku di Indonesia.
ii. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi instansi yang diteliti yakni Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Polonia maupun instansi yang tidak diteliti mengenai proses penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT).
iii. Sebagai bahan rujukan dan referensi bagi peneliti lain yang akan meneliti lebih lanjut mengenai pokok pembahasan penelitian yang sama.
Bab II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Pengertian dan Fungsi Pajak
Terdapat bermacam-macam pengertian atau definisi pajak, namun pada hakekatnya maksud dan tujuan dari pajak itu seragam. Menurut pasal 1 Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang KUP berbunyi: “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang dengan tidak mendapat
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.”
Menurut Soeparman Soemahamidjaja dalam Suandy (2011:9) pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma – norma hukum, guna menutup biaya produksi barang dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum dan menurut Prof. Dr. P. J.
A. Adriani dalam Waluyo (2011:2) pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (Undang-Undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Berdasarkan beberapa definisi pajak tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki beberapa unsur, yaitu:
i. Iuran rakyat kepada Negara
Yang berhak memungut pajak adalah pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dimana iuran tersebut adalah berbentuk uang (bukan barang).
ii. Berdasarkan Undang-undang
Pajak dipungut berdasarkan Undang-undang serta aturan pelaksanaannya yang sifatnya dapat dipaksakan.
iii. Tanpa balas jasa atau kontraprestasi individual dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk.
iv. Digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Adapun pajak memiliki empat fungsi, yaitu:
i. Sebagai fungsi anggaran atau penerimaan (budgetair) yaitu pajak merupakan salah satu sumber dana yang digunakan pemerintah dan bermanfaat untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran.
Penerimaan negara dari sektor perpajakan dimasukkan ke dalam komponen penerimaan dalam negeri pada APBN.
ii. Sebagai fungsi mengatur (regulerend) yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Contohnya adalah pengenaan pajak yang lebih tinggi kepada barang mewah dan minuman keras.
iii. Sebagai fungsi stabilitas yaitu pajak sebagai penerimaan negara dapat digunakan untuk menjalankan kebijakan-kebijakan pemerintah. Contohnya adalah kebijakan stabilitas harga dengan tujuan untuk menekan inflasi dengan cara mengatur peredaran uang di masyarakat lewat pemungutan dan penggunaan pajak yang lebih efisien dan efektif.
iv. Sebagai fungsi redistribusi pendapatan yaitu penerimaan negara dari pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan
pembangunan nasional sehingga dapat membuka kesempatan kerja dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Dari pemaparan mengenai fungsi pajak tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak dapat dijadikan sebagai sarana atau akses bagi pemerintah untuk mewujudkan suatu tatanan pemerintahan yang baik dan berkesinambungan.
2.1.2 Kepatuhan Wajib Pajak
2.1.2.1 Pengertian Wajib Pajak
Menurut UU No 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berbunyi:
“Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan.”
Dari pengertian menurut Undang-Undang di atas tidak disebutkan bahwa Wajib Pajak adalah orang yang sudah memiliki NPWP saja dan wajib untuk membayar pajak, karena pengertian yang terkandung di dalam pasal di atas orang yang belum memiliki NPWP pun dapat dikategorikan sebagai Wajib Pajak apabila benar-benar sudah mempunyai hak dan kewajiban perpajakan.
Menurut Rahman (2010:32) Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan yaitu memungut atau memotong pajak tertentu yang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang – undangan perpajakan, sedangkan menurut Fidel (2010: 136) Wajib Pajak merupakan subjek pajak yang memenuhi syarat-syarat objektif yaitu masyarakat yang menerima atau memperoleh Penghasilan Kena Pajak (PKP), yaitu penghasilan yang melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi Wajib Pajak dalam Negeri sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Wajib Pajak adalah subjek pajak yang terdiri dari orang pribadi atau badan yang memenuhi syarat-syarat objektif yang ditentukan oleh Undang-Undang, yaitu menerima atau memperoleh penghasilan kena pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Subjek pajak adalah pihak – pihak (orang maupun badan) yang akan dikenakan pajak dan yang dimaksud dengan objek pajak adalah sesuatu yang dikenakan pajak atau dapat diartikan sebagai sasaran pengenaan pajak. Penghasilan Kena Pajak (PKP) adalah penghasilan Wajib Pajak yang menjadi dasar untuk menghitung pajak penghasilan.
PKP diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
Kewajiban pajak merupakan kewajiban publik yang bersifat pribadi, yang tidak dapat dialihkan kepada orang lain. Wajib Pajak dapat menunjuk atau meminta bantuan atau memberi kuasa pada orang lain, akan tetapi kewajiban publik yang melekat pada dirinya, khususnya mengenai pajak-pajak langsung tetap ada padanya. Dia tetap bertanggungjawab walaupun orang lain dapat ikut dipertanggungjawabkan.
Setiap Wajib Pajak memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi, antara lain adalah:
i. Kewajiban mendaftarkan diri.
Sesuai dengan sistem self assessment maka Wajib Pajak mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan diri ke KPP yang wilayahnya meliputi tempat tinggal atau kedudukan Wajib Pajak untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Disamping melalui KPP, pendaftaran NPWP juga dapat dilakukan melalui e-register, yaitu suatu cara pendaftaran NPWP melalui media elektronik online (internet).
NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana yang merupakan tanda pengenal atau identitas bagi setiap Wajib Pajak dalam melaksanakan hak
dan kewajibannya di bidang perpajakan. Untuk memperoleh NPWP, Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada KPP dengan mengisi formulir pendaftaran dan melampirkan persyaratan administrasi yang diperlukan, atau dapat pula mendaftarkan diri secara online melalui e-register.
ii. Kewajiban melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Wajib Pajak yang merupakan pengusaha yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) wajib melaporkan usahanya untuk kemudian dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) kepada KPP. Pengukuhan sebagai PKP juga dapat dilakukan secara online melalui e- register. Syarat untuk dikukuhkan sebagai PKP adalah pengusaha orang pribadi atau badan tersebut melakukan penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak dengan jumlah peredaran bruto/penerimaan bruto (omzet) melebihi Rp600.000.000,- setahun.
Bagi pengusaha yang telah diukuhkan sebagai PKP, diwajibkan untuk memungut PPN dari setiap pembeli/pemakai jasanya dengan menerbitkan faktur pajak.
PPN yang sudah dipungut, kemudian dilaporkan dalam laporan bulanan (SPT Masa) dan apabila ternyata ada PPN
yang harus disetor ke bank atau kantor pos, maka harus disetor terlebih dahulu sebelum dilaporkan ke KPP tempat Wajib Pajak tersebut terdaftar.
iii. Kewajiban pembayaran, pemotongan/pemungutan, dan pelaporan pajak.
Sistem perpajakan di Indonesia menganut self assessment sistem, sehingga Wajib Pajak diharuskan melakukan penghitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak dengan sendiri, seperti membayar angsuran PPh setiap bulan (PPh Pasal 25), membayar kekurangan PPh selama setahun (PPh Pasal 29), membayar PPh melalui pemotongan dan pemungutan oleh pihak lain (PPh Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal 21, 22, dan 23, serta PPh Pasal 26),membayar PPN kepada pihak penjual atau pemberi jasa ataupun oleh pihak yang ditunjuk Pemerintah, dan pembayaran pajak lainnya.
iv. Pelaporan
Mengisi SPT dengan benar (SPT diambil sendiri) dan memasukkan ke KPP dalam batas waktu yang telah ditentukan. SPT berfungsi untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak baik yang dilakukan Wajib Pajak sendiri maupun melalui mekanisme pemotongan dan
pemungutan yang dilakukan oleh pihak pemotong/pemungut, melaporkan harta dan kewajiban, dan pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan dan pemungutan pajak yang telah dilakukan.
Batas waktu maksimal yang telah ditentukan untuk melaporkan SPT ke KPP adalah tiga bulan setelah akhir tahun pajak untuk SPT PPh tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) dan empat bulan setelah akhir tahun pajak untuk SPT PPh tahunan Wajib Pajak Badan.
v. Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan.
Pencatatan merupakan kumpulan data mengenai peredaran dan/atau penghasilan bruto yang digunakan untuk penghitungan jumlah pajak yang terutang. Pembukuan adalah pencatatan yang dilakukan secara teratur yang berupa data dan informasi keuangan serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan meliputi neraca dan laporan laba rugi untuk periode tahun pajak tersebut.
vi. Kewajiban dalam hal diperiksa
Untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, Dirjen Pajak dapat
melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan terhadap Wajib Pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Kewajiban Wajib Pajak yang diperiksa adalah :
i. Memenuhi panggilan untuk datang menghadiri pemeriksaan sesuai dengan waktu yang ditentukan khususnya untuk jenis Pemeriksaan Kantor;
ii. Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain termasuk data yang dikelola secara elektronik, yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak. Khusus untuk Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak wajib memberikan kesempatan untuk mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara elektronik;
iii. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan lainnya guna kelancaran pemeriksaan;
iv. Menyampaikan tanggapan secara tertulis atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
v. Meminjamkan kertas kerja pemeriksaan yang dibuat oleh Akuntan Publik khususnya untuk jenis Pemeriksaan Kantor;
vi. Memberikan keterangan lain, baik lisan maupun tulisan yang diperlukan.
2.1.2.2 Pengertian Kepatuhan Wajib Pajak
Menurut Safri Nurmanto dalam Rahayu (2010:138) mengatakan bahwa kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai sutau keadaan di mana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya.
Kepatuhan Wajib Pajak merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh pembayar pajak dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan dewasa ini yang diharapkan di dalam pemenuhannya diberikan secara sukarela. Kepatuhan Wajib Pajak menjadi aspek penting mengingat sistem perpajakan Indonesia menganut sistem self asessment di mana dalam prosesnya secara mutlak memberikan kepercayaan kepada Wajib Pajak untuk menghitung, membayar dan melapor kewajibannya.
Terdapat dua macam kepatuhan yaitu:
i. Kepatuhan formal; suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakan secara formal sesuai
dengan ketentuan formal dalam Undang-Undang perpajakan.
ii. Kepatuhan material; suatu keadaan dimana Wajib Pajak secara substantif/hakikat memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa Undang-Undang perpajakan. Kepatuhan material meliputi juga kepatuhan formal.
2.1.2.3 Syarat untuk Menjadi Wajib Pajak Patuh
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.03/2007 tentang Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak, Wajib Pajak dengan kriteria tertentu disebut sebagai Wajib Pajak Patuh apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
i. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT); tepat waktu dalam penyampaian SPT Tahunan dalam tiga tahun terakhir yaitu akhir bulan ketiga setelah tahun pajak untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan akhir bulan keempat setelah tahun pajak untuk Wajib Pajak Badan dan tepat waktu dalam penyampaian SPT Masa aling lambat 20 hari setelah akhir masa pajak
ii. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin menganggur atau menunda pembayaran pajak.
iii. Laporan keuangan harus diaudit oleh Akuntan Publik atau Lembaga Pengawas Keuangan Pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama tiga tahun berturut-turut. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian diberikan oleh auditor apabila tidak ditemukan kesalahan material secara menyeluruh dalam laporan keuangan yang disajikan, dengan kata lain laporan keuangan tersebut sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
iv. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan keputusan pengauditan yang mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu lima tahun terakhir.
Keuntungan yang diterima apabila menjadi Wajib Pajak patuh adalah mendapatkan pelayanan khusus dalam restitusi Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai yaitu pengembalian pendahuluan kelebihan pajak tanpa harus dilakukan pemeriksaan kepada PKP.
2.1.2.4 Upaya Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
Peningkatan kepatuhan merupakan tujuan utama diadakannya reformasi perpajakan seperti yang diungkapkan Guillermo Perry dan
John Whalley dalam Sofyan (2005), ketika sistem perpajakan suatu Negara telah maju, pendekatan reformasi diletakkan pada peningkatan dalam kepatuhan dan administrasi perpajakan.
Hadi Purnomo dalam Sofyan (2005) menyatakan terdapat tiga strategi dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak melalui administrasi perpajakan, yaitu:
1. Membuat program dan kegiatan yang dapat menyadarkan dan meningkatkan kepatuhan secara sukarela.
2. Meningkatkan pelayanan terhadap Wajib Pajak yang sudah patuh supaya dapat mempertahankan atau meningkatkan kepatuhannya.
3. Dengan menggunakan program atau kegiatan yang dapat memerangi ketidakpatuhan.
2.1.2.5 Indikator Kepatuhan Wajib Pajak
Dengan sistem self assessment, indikator kepatuhan pajak adalah Wajib Pajak bersedia melaporkan SPT dan melaporkan semua penghasilannya secara akurat. Dengan sistem itu pula diharapkan Wajib Pajak dapat patuh secara sukarela (voluntary compliance level-VCL).
VCL sendiri adalah perbandingan antara pajak yang sesungguhnya dilaporkan dengan pajak yang seharusnya dilaporkan. Dengan UU KUP, indikator kepatuhan Wajib Pajak dapat dilihat dari:
i. Aspek ketepatan waktu pelaporan SPT
Wajib Pajak diwajibkan untuk mengisi dan menyampaikan SPT kepada KPP dengan batas waktu penyampaian untuk SPT Masa paling lambat 20 hari setelah akhir masa pajak, sedangkan untuk SPT Tahunan paling lambat 3 bulan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) dan 4 bulan untuk Wajib Pajak Badan setelah akhir tahun pajak. Wajib Pajak akan dikenakan sanksi administrasi apabila terlambat atau tidak menyampaikan SPT.
ii. Aspek income yang dilaporkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pajak yang telah dihitung kemudian disetorkan ke kas Negara melalui bank atau kantor pos dengan menggunakan kode ID billing yang didapat pada e-billing melalui sse.pajak.go.id.
iii. Tagihan pajak (STP/SKP) dibayar sebelum jatuh tempo.
Tunggakan pajak merupakan pajak terutang yang belum dilunasi oleh Wajib Pajak setelah jatuh tempo tanggal pengenaan denda.
2.1.3 Sistem Perpajakan Indonesia
Sistem perpajakan dapat disebut sebagai metoda atau cara bagaimana mengelola utang pajak yang terutang oleh Wajib Pajak dapat mengalir ke kas Negara. Sistem pemungutan pajak dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu:
1. Official Assessment System adalah sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada Pemerintah (petugas pajak) untuk menentukan besarnya pajak terhutang Wajib Pajak.
2. Self Assessment System adalah sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada Wajib Pajak untuk menghitung sendiri, melaporkan sendiri, dan membayar sendiri pajak yang terhutang yang seharusnya dibayar.
3. Withholding System adalah sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada pihak lain atau pihak ketiga untuk memotong dan memungut besarnya pajak yang terhutang oleh Wajib Pajak. Pihak ketiga disini adalah pihak lain selain Pemerintah dan Wajib Pajak.
Ciri-ciri pemungutan pajak sistem self assesment antara lain:
1. Wewenang untuk menetapkan besarnya pajak yang terutang ada pada Wajib Pajak sendiri,
2. Wajib Pajak aktif dimulai dari menghitung, memperhitungkan, menyetorkan dan melaporkan sendiri pajak yang terutang, dan 3. Fiskus (aparat pajak) tidak ikut campur dan hanya mengawasi.
Sebaliknya pada sistem official assessment besarnya pajak yang seharusnya terutang ditetapkan sepenuhnya oleh Fiskus. Ciri-ciri pemungutan pajak system official assesment adalah :
1. Wewenang untuk menetapkan besarnya pajak yang terutang ada pada Fiskus,
2. Wajib Pajak bersifat pasif, dan
3. Utang pajak timbul setelah dikeluarkannya Surat Ketetapan Pajak (SKP) oleh Fiskus.
Perbedaannya kedua sistem ini terletak pada pemegang tanggung jawab (siapa) yang menetapkan besarnya pajak yang seharusnya terutang dan sistem pemungutan pajak di Indonesia sesuai dengan asas pemungutan pajak menganut sistem pemungutan pajak self assesment dan witholding system.
2.1.4 Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak 2.1.4.1 SPT Pajak Manual
Salah satu perwujudan pelaksanaan sistem self assessment dibidang perpajakan adalah pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) pajak terutang kepada pemerintah yang secara langsung disampaikan oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. SPT ini harus disampaikan oleh Wajib Pajak dengan benar kepada Dirjen Pajak sesuai dengan peraturan perundang undangan perpajakan yang berlaku. Artinya jumlah pajak terutang yang tercantum dalam SPT tersebut harus sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya tanpa adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Surat Pemberitahuan yang digunakan oleh Wajib Pajak ini terdiri atas:
i. Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa).
SPT Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak.
ii. Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan)
SPT Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.
Penyampaian SPT memiliki batas waktu pelaporan tertentu yang telah ditentukan dalam Undang-undang Perpajakan. Seperti yang tercantum dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2009 dalam Pasal 3 (3) dijelaskan bahwa batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah:
i. Untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak
ii. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak
iii. Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan, paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.
Wajib Pajak wajib menaati ketentuan-ketentuan mengenai tata cara pengisian maupun jangka waktu penyampaian SPT pajak sesuai dengan Undang-Undang perpajakan. SPT dianggap tidak disampaikan oleh Wajib Pajak apabila:
i. Tidak ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasa hukumnya
ii. Tidak sepenuhnya dilampiri keterangan dan atau dokumen iii. Menyatakan lebih bayar disampaikan setelah dua tahun sesudah berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak, dan Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis iv. Disampaikan setelah pejabat pajak menerbitkan Surat
Ketetapan Pajak (SKP).
Apabila SPT tidak disampaikan oleh Wajib Pajak sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan dalam Undang-Undang Perpajakan, maka kepada Wajib Pajak bersangkutan akan dikenakan sebagai berikut:
i. Diterbitkan Surat Teguran
ii. Dikenakan sanksi administrasi berupa denda uang.
Hal ini sesuai dengan Undang-undang No. 16 Tahun 2009 yang tercantum dalam Pasal 3 (5a), dijelaskan bahwa “Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan sesuai batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian
Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dapat diterbitkan Surat Teguran.”
Ketentuan sanksi untuk keterlambatan penyampaian SPT adalah berbeda untuk setiap jenis pajak. Adapun sanksi yang dikenakan tersebut yaitu:
i. Keterlambatan penyampaian SPT Masa PPN sebesar Rp.
500.000,-
ii. Keterlambatan penyampaian SPT Masa lainnya sebesar Rp. 100.000,-
iii. Keterlambatan penyampaian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan sebesar Rp. 1.000.000,-
iv. Keterlambatan penyampaian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi sebesar Rp. 100.000,-
2.1.4.2 SPT Pajak Elektronik 2.1.4.2.1 Pengertian e-Filing
E-filing adalah cara melaporkan SPT anda secara cepat, dan gratis tanpa perlu mengantri di KPP, tanpa ribet, dan bisa dilakukan di mana saja serta kapan saja dan e-filing adalah salah satu cara penyampaian pelaporan pajak melalui media elektronik secara online & real time ke DJP dan dapat digunakan oleh
seluruh Wajib Pajak Badan maupun Perorangan di seluruh Indonesia .
Penyedia Layanan SPT Elektronik atau Application Service Provider (ASP) yang telah ditunjuk oleh Dirjen Pajak adalah sebagai berikut:
i. www.spt.co.id ii. www.pajakku.com iii. www.eform.bri.co.id iv. www.online-pajak.com
Menurut peneliti, e-filing ini sengaja dibuat agar tidak ada persinggungan Wajib Pajak dengan aparat pajak dan kontrol Wajib Pajak bisa tinggi karena Wajib Pajak merekam sendiri SPT yang akan dilapor.
Dengan diterapkannya sistem e-filing diharapkan dapat memudahkan dan mempercepat Wajib Pajak dalam penyampaian SPT karena Wajib Pajak tidak perlu datang ke KPP untuk pengiriman data SPT, dengan kemudahan dan lebih sederhananya proses dalam administrasi perpajakan diharapkan terjadi peningkatan dalam kepatuhan Wajib Pajak. E-filing juga dirasakan manfaatnya oleh KPP yaitu lebih cepatnya penerimaan laporan SPT dan lebih mudahnya kegiatan administrasi, pendataan, distribusi, dan pengarsipan laporan SPT.
2.1.4.2.2 Penerapan e-Filing
Pengertian penerapan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah proses, cara, perbuatan menerapkan;
pemasangan; pemanfaatan. E-filing merupakan bagian dari sistem dalam administrasi pajak yang digunakan untuk menyampaikan SPT secara online dan real time kepada KPP.
Penerapan sistem e-filing memiliki beberapa keuntungan bagi Wajib Pajak melalui situs DJP yaitu:
i. Penyampaian SPT lebih cepat karena dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja yaitu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu karena memanfaatkan jaringan internet.
ii. Biaya pelaporan SPT lebih murah karena untuk mengakses situs DJP tidak dipungut biaya.
iii. Penghitungan dilakukan secara cepat karena menggunakan sistem komputer.
iv. Lebih mudah karena pingisian SPT dalam bentuk wizard.
v. Data yang disampaikan Wajib Pajak selalu lengkap karena terdapat validasi pengisian SPT.
vi. Lebih ramah lingkungan karena meminimalisir penggunaan kertas.
Berikut langkah-langkah untuk menggunakan e-filing dalam pelaporan SPT:
i. Untuk dapat bertransaksi menggunakan Layanan Pajak Online, wajib pajak diharuskan melakukan aktivasi e-FIN (Eletronik Filling Identification Number). E-FIN adalah nomor identitas yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak kepada Wajib Pajak yang melakukan Transaksi Elektronik dengan Dirjen Pajak dan proses aktivasi e-FIN diselesaikan oleh KPP dalam jangka waktu 1 hari kerja. Wajib Pajak yang sebelumnya telah memiliki e-FIN dan sertifikat e-Faktur tidak perlu mengajukan permohonan aktivasi e-FIN.
ii. Setelah memperoleh e-FIN, Wajib Pajak dapat melakukan pendaftaran pada DJP Online atau Penyedia Layanan SPT Elektronik. Mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak e-filing paling lambat 30 hari setelah diterbitkannya e-FIN. Setelah mendaftarkan diri, Wajib Pajak akan memperoleh username dan password, tautan aktivitas akun e- filing melalui e-mail yang telah didaftarkan oleh Wajib Pajak, dan digital certificate yang berfungsi
sebagai pengaman data Wajib Pajak dalam setiap proses e-filing.
iii. Registrasi akun Layanan Pajak Online melalui situs DJP dengan cara:
1. Klik (akses) situs DJP Online yaitu https://djponline.pajak.go.id;
2. Klik “Daftar”;
3. Masukkan NPWP, Nomor EFIN dan Kode keamanan kemudian klik "Verifikasi";
4. Isi data yang diminta dan buat kata sandi;
5. Setelah daftar, Anda akan menerima e-mail berisi identitas pengguna, kata sandi dan tautan. Klik tautan tersebut untuk mengaktifkan akun DJP Online Anda.
6. Setelah Anda terdaftar dan aktif, masuk menu "Profil Lengkap", kemudian pada menu Hak Akses klik semua fitur lalu klik "Ubah Akses";
7. Login kembali dan Anda sudah dapat menggunakan seluruh layanan yang terdapat dalam DJP Online, salah satunya adalah e- filing.
iv. Menyampaikan SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi melalui situs DJP dengan cara:
1. Siapkan data pendukung seperti bukti pemotongan pajak 1721-A1 (Pegawai swasta) / 1721-A2 (ASN/Polri/TNI), Daftar Harta, Daftar Kewajiban, Susunan Keluarga dan data lain yang dibutuhkan;
2. Buka Website DJP Online;
3. Login dengan akun DJP Online Anda (Identitas Pengguna : NPWP dan kata sandi);
4. Pilih menu “e-filing”;
5. Pilih menu “Buat SPT”.
2.1.4.2.3 Pengertian e-Billing
Modul penerimaan Negara Generasi Kedua (MPN G2) adalah sistem penerimaan negara yang menggunakan surat setoran elektronik. Surat setoran elektronik adalah surat setoran yang berdasarkan pada sistem billing.
Tabel 2.1
Arah Penyempurnaan MPN G2
Dari Menjadi
Manual Billing System Elektronic Billing System Layanan Over The Counter Layanan Online & Flexible Tidak Melayani Seluruh Transaksi
Penerimaan Negara Melayani Seluruh Transaksi Penerimaan Negara Layanan Single Currency (Rupiah) Layanan Multiple Currencies (termasuk valas)
Disclaimer WTP
Pengelolaan Layanan & Data Transaksi Per Unit Eselon I
Pengelolaan Layanan & Data Transaksi Bersama
& Terkoordinasi Sumber: diolah oleh peneliti (2016)
e-Billing (sistem billing atau billing system) adalah sistem yang menerbitkan kode billing untuk pembayaran atau penyetoran penerimaan negara secara elektronik, tanpa perlu membuat Surat Setoran (SSP, SSBP, SSPB) manual.
Saat ini Wajib Pajak dapat lebih mudah dalam pemenuhan kewajiban perpajakan dengan memanfaatkan fasilitas-fasilitas elektronik yang telah disediakan Direktorat Jenderal Pajak. Salah satu fasilitas tersebut adalah sistem pembayaran elektronik (billing system) yang memudahkan Wajib Pajak untuk membayarkan pajaknya dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih akurat.
Sistem pembayaran ini menggunakan sarana elektronik sehingga biasa disebut sistem pembayaran pajak secara elektronik. Sistem ini memfasilitasi penerbitan kode billing dalam rangka pembayaran atau penyetoran penerimaan negara secara elektronik. Dengan adanya sistem e-billing pajak ini, Wajib Pajak tidak perlu lagi membuat Surat Setoran Pajak (SSP) dalam melakukan pembayaran SPT Masa setiap bulannya selama 1 periode tahun pajak.
Kode billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan oleh sistem billing atas suatu jenis pembayaran atau setoran yang akan dilakukan wajib pajak/wajib bayar/wajib setor. Kode billing tersebut digunakan untuk melakukan pembayaran di teller Bank atau Kantor Pos, mesin ATM, atau Internet Banking.
Kode billing terdiri dari 15 digit angka, dimana digit angka pertama adalah kode penerbit billing.
Gambar 2.1 Kode Billing
Sumber: diolah oleh peneliti (2016)
Keterangan:
X : angka awal 0,1,2,3 untuk sistem billing DJP, angka awal 4,5,6 untuk sistem billing DJBC, dan angka awal 7,8,9 untuk sistem billing DJA.
Y : 14 digit angka acak.
Terdapat beberapa alasan dalam penggunakan sistem e-billing, yaitu:
1. Mempermudah dan menyederhanakan proses pengisian data dalam rangka pembayaran dan penyetoran penerimaan
X YYYYYYYYYYYYYY
2. Menghindari/meminimalisasi kemungkinan terjadinya human error dalam perekaman data pembayaran dan penyetoran oleh petugas bank/pos persepsi.
3. Memberikan kemudahan & fleksibilitas cara pembayaran/penyetoran melalui beberapa alternatif saluran pembayaran dan penyetoran.
4. Memberikan akses kepada wajib bayar & wajib setor PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) untuk memonitor status atau realisasi pembayaran dari penyetoran PNBP.
5. Memberikan keleluasaan kepada wajib pajak/wajib bayar untuk merekam data setoran secara mandiri (self assessment).
Ada tiga dasar hukum e-billing pajak, yaitu:
1. PMK-242/PMK.03/2014 Tentang Tata Cara Pembayaran Dan Penyetoran Pajak.
2. PMK-32/PMK.05/2014 Tentang Sistem Penerimaan Negara Secara Elektronik.
3. Per-26/Pj/2014 Tentang Sistem Pembayaran Pajak Secara Elektronik.
2.1.4.2.4 Penerapan e-Billing
Terdapat tiga keuntungan dengan diberlakukannya sistem pembayaran pajak secara elektronik, yaitu:
1. Lebih mudah
Wajib Pajak tidak perlu lagi mengantri di loket teller untuk melakukan pembayaran dan tidak perlu lagi membawa lembaran SSP ke Bank atau Kantor Pos Persepsi. Sekarang Wajib Pajak hanya cukup membawa catatan kecil berisi kode billing untuk melakukan transaksi pembayaran pajak yang ditunjukkan ke teller atau dimasukkan sebagai kode pembayaran pajak di mesin ATM atau Internet Banking.
2. Lebih cepat
Wajib Pajak dapat melakukan transaksi pembayaran pajak hanya dalam hitungan menit dimana pun. Jika Wajib Pajak memilih teller Bank atau Kantor Pos sebagai sarana pembayaran, sekarang tidak perlu lagi menunggu lama teller memasukkan data pembayaran pajak, karena kode billing yang ditunjukkan akan memudahkan teller mendapatkan data pembayaran berdasarkan data yang telah diinput sebelumnya.
3. Lebih Akurat
Sistem akan membimbing Wajib Pajak dalam pengisian SSP elektronik dengan tepat dan benar sesuai dengan transaksi perpajakan, sehingga kesalahan data pembayaran, seperti Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran dapat dihindari dan kesalahan entry data yang biasa terjadi di teller
dapat terminimalisasi karena data yang akan muncul pada layar adalah data yang telah diinput sendiri sesuai dengan transaksi perpajakan Anda yang benar.
Memulai penggunaan pelayanan sistem e-billing DJP harus melalui tiga tahap yaitu melakukan pendaftaran untuk menjadi pengguna e-billing, membuat kode billing untuk melakukan pembayaran, dan melakukan pembayaran berdasarkan kode billing yang sudah dibuat.
Cara pendaftaran untuk menjadi pengguna e-billing, yaitu:
1. Buka situs e-billing melalui internet dengan alamat http://sse.pajak.go.id untuk mendaftarkan User ID dan Personal Identification Number (PIN);
2. Masukkan data berupa NPWP, alamat e-mail yang valid untuk konfirmasi, dan User ID yang diinginkan;
3. Konfirmasi aktivasi akan diterima melalui e-mail yang telah dimasukkan pada saat memasukkan data pribadi;
4. Klik link aktivasi tersebut atau masukkan kode aktivasi secara manual.
Tahapan cara pembuatan kode billing untuk melakukan pembayaran, yaitu:
1. Akses situs sistem e-billing dengan alamat http://sse.pajak.go.id . Masukkan User ID dan PIN untuk melakukan login; Field NPWP, Nama, Alamat, dan Kota akan secara otomatis terisi dengan data Anda dan tidak bisa diubah.
2. Masukkan informasi terkait detail pembayaran berupa:
a. Jenis pajak dengan memilih salah satu pilihan yang tersedia pada drop-down box;
b. Untuk setiap pilihan jenis pajak yang berbeda, field jenis setoran akan berubah meliputi pilihan jenis pajak.
Silahkan pilih jenis setoran yang tersedia pada drop-down box;
c. Nomor Objek Pajak (NOP) untuk pembayaran pajak terkait transaksi pengalihan hak atas tanah atau/dan bangunan dan kegiatan membangun sendiri;
d. Pilih masa pajak dengan memilih bulan yang tersedia pada drop-down box. Pastikan telah memilih kedua box, misalnya Januari s.d. Januari;
e. Tahun Pajak, misalnya 2016;
f. Nilai rupiah pembayaran;
g. Nomor Surat Ketetapan Pajak (SKP bila ada); dan h. Klik “simpan”.
Teliti kembali detail pembayaran pajak yang telah diinput kemudian klik “Terbitkan Kode Billing” untuk menerbitkan kode billing; Setelah sistem menerbitkan kode billing, Anda dapat mencetaknya sebagai referensi pembayaran di loket bank, ATM, ataupun melalui internet banking. Pencetakan kode billing untuk beberapa setoran sekaligus dapat dilakukan melalui menu “View Data”.
Pembayaran dengan Kode billing dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti melalui loket Bank atau Kantor Pos, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), dan Internet Banking.
Prosedur pembayaran dengan kode billing melalui loket, sebagai berikut:
1. Tunjukkan kode billing dan serahkan pajaknya kepada petugas loket teller bank/pos.
2. Setelah menginput kode billing dan menerima uang setoran pajak, teller akan melakukan konfirmasi untuk memastikan pembayaran sesuai dengan yang dimaksud;
3. Teller akan memproses transaksi dan Anda akan mendapatkan Bukti Penerimaan Negara (BPN) yang dapat digunakan sebagai sarana pelaporan dan keperluan administrasi lain di Kantor Pelayanan Pajak.