Panalungtik berasal dari Bahasa Sunda yang berarti Peneliti. Jurnal Panalungtik memuat artikel arkeologi dan berbagai disiplin lain menyangkut kebudayaan dan kehidupan
masa lampau. Artikel merupakan hasil penelitian, kajian, gagasan, dan informasi kepurbakalaan. Jurnal Panalungtik terbit pertama kali pada tahun 2018, diterbitkan
secara berkala dua kali dalam satu tahun pada bulan Juli dan Desember.
DEWAN REDAKSI (EDITORIAL BOARD) Ketua (Chief Editor)
Drs. Nanang Saptono, M.I.L. (Arkeologi Sejarah – Balai Arkeologi Jawa Barat) Anggota (Members)
Oerip Bramantyo Boedi, S.S., M.Hum. (Arkeologi Sejarah – Balai Arkeologi Jawa Barat) Dr. Iwan Hermawan, M.Pd. (Arkeologi Sejarah – Balai Arkeologi Jawa Barat)
Dra. Endang Widyastuti (Arkeologi Sejarah – Balai Arkeologi Jawa Barat)
Manager Editor Katrynada Jauharatna, S.S.
Layout Editor Reni Guyuna Sari, S.Ds.
IT Support Irwan Setiawidjaya, S.Ds.
Diterbitkan (Published)
Vol. 3, No. 1, Juli 2020
Mitra Bestari (Peer Reviewer)
Indah Asikin Nurani, M.Hum (Arkeologi Prasejarah – Balai Arkeologi DI Yogyakarta) Sektiadi, S.S., M.Hum. (Arkeologi Sejarah – Jurusan Arkeologi FIB Universitas Gadjah Mada)
Dr. Johan Arif (Geologi – Institut Teknologi Bandung) Ruly Setiawan, S.T., Ph.D. (Geologi – Pusat Survei Geologi)
Dr. Ery Soedewo, M.Hum. (Arkeologi Sejarah – Balai Arkeologi Sumatera Utara) Dr. Maria Tri Widayati, S.S., M.Pd. (Arkeologi Sejarah – Politeknik API Yogyakarta)
DAFTAR ISI
Dewan Redaksi ... i Daftar Isi ... ii Kata Pengantar ... iii
Pola Tata Ruang Weltevreden Dan Fungsi Ruang Kota ... 1-13 The Spatial Patterns And Functions Of Weltevreden
https://doi.org/10.24164/pnk.v3il.32 Iwan Hermawan, Octaviadi Abrianto
Sejarah Dan Akulturasi Dalam Pedang Cikeruh ... 15-29 History And Acculturation In Cikeruh Sword
https://doi.org/10.24164/pnk.v3il.39 Tendi
Studi Ikonografi Arca-Arca Jina Kṛtanāgara ... 31-44 Iconograpic Study of Jina Kṛtanāgara Statues
https://doi.org/10.24164/pnk.v3il.36 Rendy Aditya Putra Ertrisia
Vol. 3, No. 1, Juli 2020
Identifikasi Awal Bentuk Bangunan Di Situs Candi Ronggeng ... 45-58 Early Identification of Building Forms in Ronggeng Temple Site
https://doi.org/10.24164/pnk.v3il.42 Endang Widyastuti, Nanang Saptono
Artefak Kolonial Perkebunan Panglejar, Maswati, Rajamandala Masa Hindia Belanda:
Arti Dan Arah Sejarah ... 59-76 Colonial Artifacts of Plantation of Panglejar, Maswati, and Rajamandala in Nederlandsch-Indie Era: Meaning and Direction of History
https://doi.org/10.24164/pnk.v3il.35 Lia Nuralia
Ragam Artefak Di Situs-Situs Neolitik Sepanjang Ci Langla Bagian Hilir,
Kabupaten Tasikmalaya ... 77-86 Variety Of Artefaks In Neolithic Sites All Through Ci Langla, in Tasikmalaya
https://doi.org/10.24164/pnk.v3il.34 Nurul Laili, Anton Ferdianto
PENGANTAR REDAKSI
P uji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa berkat rahmat dan karunianya sehingga penerbitan jurnal Panalungtik Volume 3 Nomor 1 Tahun 2020 dapat terrealisir. Jurnal ini memuat kajian, gagasan, dan informasi tentang budaya dan kehidupan masa lalu yang di tulis oleh para peneliti arkeologi, praktisi dan pemerhati budaya pada masa lalu dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu.
Jurnal Panalungtik Volume 3 Nomor 1 Tahun 2020 ini memuat enam artikel.
Artikel pertama berjudul Pola Tata Ruang Weltevreden dan Fungsi Ruang Kota yang ditulis oleh Iwan Hermawan dan Octaviadi Abrianto. Dalam artikel ini, penulis menyajikan perkembangan tata ruang kota Weltevreden sebagai pusat pemerintahan pada masa Kolonial Belanda. Pembangunan Weltevreden sebagai pusat pemerintahan dilakukan dengan alasan wilayah tersebut lebih sehat dibanding kawasan Batavia lama.
Kawasan ini juga berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat dengan titik pusatnya di Waterlooplein.
Artikel kedua berjudul Sejarah dan Akulturasi Dalam Pedang Cikeruh yang ditulis oleh Tendi. Artikel ini memaparkan hasil kajian tentang perjalanan sejarah pande besi Cikeruh dan menjelaskan akulturasi yang ada dalam pedang Cikeruh. Diketahui bahwa eksistensi pande besi Cikeruh tidak dapat dilepaskan dari eksistensi Kerajaan Sumedang Larang karena penggerak pande besi di Cikeruh pun berasal dari keturunan kerajaan tersebut. Selain itu, akulturasi budaya dapat disaksikan dari bilah-bilah Cikeruh yang menampilkan model-model campuran antara gaya Priangan dan Eropa.
Artikel ketiga berjudul Studi Ikonografi Arca-arca Jina Kṛtanāgara yang ditulis oleh Rendy Aditya Putra Ertrisia. Artikel ini membahas keberadaan Arca Mahāksobhya/
Joko Dolog dan beberapa arca lain Kṛtanāgara sebagai jina, serta kemunculan ciri ikonografi pendeta Buddha pada sebagian arca jina Kṛtanāgara. Kṛtanāgara ditahbiskan sebagai jina dalam wujud Arca Mahāksobhya/Joko Dolog, Reco Lanang, Arca Aksobhya Koleksi Museum Mpu Purwa Nomor Inventaris 89, dan Arca Pendeta Buddha Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 229a. Reco Lanang mewakili jina dhyānibuddha Kṛtanāgara sementara ketiga arca lainnya merupakan penggambaran Kṛtanāgara sebagai manusibuddha atau pendeta Buddha tertinggi.
Artikel ke empat berjudul Identifikasi Awal Bentuk Bangunan di Situs Candi Ronggeng yang ditulis oleh Endang Widyastuti dan Nanang Saptomo. Artikel ini berusaha menggambarkan bentuk Candi Ronggeng berdasarkan hasil-hasil ekskavasi.
Melalui perbandingan sisa struktur candi Ronggeng dengan beberapa candi di Jawa Barat dan Jawa Tengah diketahui bahwa bentuk struktur Candi Ronggeng berupa pagar pendek dengan objek pemujaan di bagian tengah lahan. Objek pemujaan berupa yoni dan nandi diletakkan dengan dilindungi atap yang disangga tiang dengan umpak (tatapakan) batu bulat.
Artikel ke lima berjudul Artefak Kolonial Perkebunan Panglejar, Maswati, Rajamandala Masa Hindia Belanda: Arti dan Arah Sejarah yang ditulis oleh Lia Nuralia.
Tulisan ini bertujuan menjelaskan artefak kolonial perkebunan berupa prasasti dan peta
lama kebun. Artefak kolonial perkebunan yang dikaji dalam tulisan ini, yaitu prasasti pendirian pabrik teh Panglejar lama di Gedung IHT Bagian Panglejar, prasasti pendirian rumah Administratur Kebun Maswati di Gedung Pusdiklat Panglejar, dan peta lama Kebun Rajamandala di Kantor Afdeling Rajamandala 1 Perkebunan Panglejar. Ketiga artefak kolonial tersebut memberi arti dalam kesinambungan sejarah perkebunan sejak zaman Hindia Belanda sampai sekarang, serta menunjukkan arah untuk mencari dan menemukan kelengkapan informasi kesejarahan melalui penelitian arsip kolonial dan informasi hasil wawancara dengan informan terkait di masa kini.
Artikel ke enam berjudul Ragam Artefak di Situs-situs Neolitik Sepanjang Ci Langla Bagian Hilir, Kabupaten Tasikmalaya. Tulisan ini mengungkap tentang ragam artefak neolitik dan mengungkap aktivitas yang pernah berlangsung. Ragam artefak di bagian hulu dan tengah Ci Langla berupa beliung jadi, calon beliung, bahan gelang, serpih, tatal, dan bahan baku yang mengarah ke bentuk segi empat sebagai hasil dari proses pembuatan beliung dan gelang batu. Ragam artefak menunjukkan adanya aktivitas perbengkelan.
Dewan Redaksi mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada semua pihak atas kerjasama, waktu, saran, dan masukan sehingga keenam tulisan tersebut dapat dimuat dalam jurnal Panalungtik Volume 3 Nomor 1 Tahun 2020. Besar harapan kami dengan terbitnya jurnal Panalungtik Volume 3 Nomor 1 Tahun 2020 ini dapat memberikan informasi dan menambah wawasan masyarakat tentang kehidupan manusia pada masa lalu di Indonesia.
Bandung, Juli 2020
Dewan Redaksi
Volume 3, No. 1, Juli 2020 ■ ISSN: 2621-928X
Lembar Abstrak ini dapat diperbanyak tanpa izin dan biaya
DDC: 930.1
Iwan Hermawan, Octaviadi Abrianto(Balai Arkeologi Jawa Barat) Pola Tata Ruang Weltevreden Dan Fungsi Ruang Kota
Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), Juli 2020: hal. 1– 13
Penurunan kualitas kesehatan di Batavia dan persiapan menghadapi serangan pasukan Inggris ke Pulau Jawa pada awal abad ke-19 mendorong gubernur Hindia Belanda, HW Daendels memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Weltevreden. Berbagai fasilitas pusat pemerintahan dibangun di Weltevreden. Permasalahan yang dibahas berkenaan dengan perkembangan tata ruang kota Weltevreden sebagai pusat pemerintahan pada masa Kolonial Belanda. Tujuannya adalah untuk mengungkap perkembangan tata ruang kota Weltevreden pada masa Kolonial Belanda. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif analisis dengan pendekatan keruangan. Pembangunan Weltevreden sebagai pusat pemerintahan dilakukan dengan alasan wilayah tersebut lebih sehat dibanding kawasan Batavia lama. Kawasan ini juga berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat dengan titik pusatnya di Waterlooplein.
Kata Kunci: Weltevreden, pusat pemerintahan; lokasi strategis.
DDC: 930.1
Tendi (IAIN Syekh Nurjati Cirebon)
Sejarah Dan Akulturasi Dalam Pedang Cikeruh Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), Juli 2020: hal. 15 – 29
Cikeruh adalah sebuah desa yang berada di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pada masa kolonial, desa ini masyhur sebagai sentra produksi pelbagai macam senjata tajam yang ada di wilayah Priangan. Konsumennya pun beragam, mulai dari kelompok pribumi hingga kelompok orang-orang Eropa yang ada di Hindia Belanda. Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan perjalanan sejarah pande besi Cikeruh dan menjelaskan akulturasi yang ada dalam pedang Cikeruh. Adapun metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan kajian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa eksistensi pande besi Cikeruh tidak dapat dilepaskan dari eksistensi Kerajaan Sumedang Larang karena penggerak pande besi di Cikeruh pun berasal dari keturunan kerajaan tersebut. Selain itu, akulturasi budaya dapat disaksikan dari bilah-bilah Cikeruh yang menampilkan model-model campuran antara gaya Priangan dan Eropa. .
Kata Kunci: pedang Cikeruh, golok Pasundan, sejarah senjata, akulturasi, Sumedang
DDC: 930.1
Rendy Aditya Putra Ertrisia (Direktorat Pelindungan Kebudayaan) Studi Ikonografi Arca-Arca Jina Kṛtanāgara
Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), Juli 2020: hal. 31 – 44
Semasa hidupnya, Kṛtanāgara ditahbiskan ke dalam beberapa arca jina. Penelitian para sarjana terdahulu hanya fokus pada Arca Mahāksobhya/Joko Dolog dan Arca Aksobhya Koleksi Museum Mpu Purwa Nomor Inventaris 89 sebagai arca pentahbisan Kṛtanāgara, sehingga mengaburkan keberadaan arca jina lainnya. Dengan demikian penelitian ini bertujuan membahas keberadaan beberapa arca lain sebagai jina Kṛtanāgara, serta kemunculan ciri ikonografi pendeta Buddha pada sebagian arca jina Kṛtanāgara. Penelitian diawali dengan mengumpulkan deskripsi fisik terhadap arca-arca jina yang diduga menggambarkan Kṛtanāgara melalui kaidah ikonografi. Selanjutnya mengumpulkan data penunjang berupa naskah kuno dan literatur yang terkait jina Kṛtanāgara.
Selain itu melakukan wawancara dengan narasumber yang kompeten di bidangnya. Tahap terakhir yaitu analisis dan interpretasi untuk memperoleh simpulan. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Kṛtanāgara ditahbiskan sebagai jina dalam wujud Arca Mahāksobhya/Joko Dolog, Reco Lanang, Arca Aksobhya Koleksi Museum Mpu Purwa Nomor Inventaris 89, dan Arca Pendeta Buddha Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 229a. Reco Lanang mewakili jina dhyānibuddha Kṛtanāgara sementara ketiga arca lainnya merupakan penggambaran Kṛtanāgara sebagai manusibuddha atau pendeta Buddha tertinggi.
Kata kunci: jina, Kṛtanāgara, ikonografi
DDC: 930.1
Endang Widyastuti, Nanang Saptono (Balai Arkeologi Jawa Barat) Identifikasi Awal Bentuk Bangunan Di Situs Candi Ronggeng Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), Juli 2020: hal. 45 – 58
Penelitian yang pernah dilakukan di Candi Ronggeng belum menggambarkan bentuk utuh dari bangunan tersebut. Kajian yang telah dilakukan baru mengelompokkan tipe candi tersebut sebagai bangunan sederhana. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah berusaha menggambarkan bentuk Candi Ronggeng berdasarkan hasil-hasil ekskavasi. Data yang digunakan untuk membahas adalah hasil ekskavasi yang telah dilakukan tahun 2019 dengan dibandingkan dengan hasil ekskavasi terdahulu.
Data yang telah terkumpul tersebut kemudian diolah untuk mendapatkan gambaran bentuk Candi Ronggeng. Hasil ekskavasi menunjukkan bahwa Candi Ronggeng berupa pagar pendek dengan objek pemujaan di bagian tengah lahan. Objek pemujaan berupa yoni dan nandi diletakkan dengan dilindungi atap yang disangga tiang dengan umpak (tatapakan) batu bulat.
Kata Kunci: struktur, pondasi, dinding, batu berprofil
DDC: 930.1
Lia Nuralia (Balai Arkeologi Jawa Barat)
Artefak Kolonial Perkebunan Panglejar, Maswati, Rajamandala Masa Hindia Belanda: Arti Dan Arah Sejarah
Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), Juli 2020: hal. 59 – 76
Artefak kolonial perkebunan merupakan jejak budaya penting dalam sejarah perkebunan di Bandung Jawa Barat. Apa dan bagaimana artefak perkebunan tersebut menjadi permasalahan pokok dalam tulisan ini. Tujuan tulisan ini adalah menjelaskan artefak kolonial perkebunan berupa prasasti dan peta lama kebun. Metode yang digunakan adalah desk research terhadap artefak perkebunan dalam laporan hasil penelitian arkeologi tahun 2018, dilengkapi pendukung penjelasan dari buku dan internet. Artefak kolonial perkebunan yang dikaji dalam tulisan ini, yaitu prasasti pendirian pabrik teh Panglejar lama di Gedung IHT Bagian Panglejar, prasasti pendirian rumah Administratur Kebun Maswati di Gedung Pusdiklat Panglejar, dan peta lama Kebun Rajamandala di Kantor Afdeling Rajamandala 1 Perkebunan Panglejar. Ketiga artefak kolonial tersebut memberi arti dalam kesinambungan sejarah perkebunan sejak zaman Hindia Belanda sampai sekarang, serta menunjukkan arah untuk mencari dan menemukan kelengkapan informasi kesejarahan melalui penelitian arsip kolonial dan informasi hasil wawancara dengan informan terkait di masa kini.
Kata kunci: Artefak Perkebunan, Panglejar, Maswati, Rajamandala, Arti dan Arah Sejarah
DDC: 930.1
Nurul Laili, Anton Ferdianto (Balai Arkeologi Jawa Barat)
Ragam Artefak Di Situs-Situs Neolitik Sepanjang Ci Langla Bagian Hilir, Kabupaten Tasikmalaya Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), Juli 2020: hal. 77 – 86
Situs-situs neolitik di Kawasan Karangnunggal berada di sepanjang Ci Langla, mulai dari hulu hingga hilir. Ragam artefak di bagian hulu dan tengah Ci Langla mempunyai ragam artefak berupa beliung jadi, calon beliung, bahan gelang, serpih, tatal, dan bahan baku yang mengarah ke bentuk segi empat sebagai hasil dari proses pembuatan beliung dan gelang batu, sedangkan ragam artefak di bagian hilir belum diketahui. Tulisan ini akan mengungkap tentang ragam artefak neolitik di Ci Langla bagian hilir. Penelitian mengenai ragam artefak di Ci Langla bagian hilir akan dapat mengetahui aktivitas kehidupan manusia pendukung neolitik dalam memanfaatkan ruang. Metode yang digunakan pendekatan kebudayaan menitikberatkan pada materi arkeologi atau pengamatan langsung kepada artefak (artefact oriented analysis). Ragam artefak di situs-situs sepanjang aliran Ci Langla bagian hilir menunjukkan adanya aktivitas perbengkelan. Artefak tersebut berupa bahan baku, calon beliung, beliung jadi, bahan gelang, alat serpih, tatal berukuran kecil, sedang, dan besar.
Kata kunci: situs neolitik, ragam, bengkel beliung
Volume 3, No. 1, July 2020 ■ ISSN: 2621-928X These Abstracts can be copied without permission and fee
DDC: 930.1
Iwan Hermawan, Octaviadi Abrianto(Balai Arkeologi Jawa Barat) The Spatial Patterns And Functions Of Weltevreden
Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), July 2020: hal. 1 – 15
The deterioration in the quality of health in Batavia and preparations for the British attack on Java in the early 19th century prompted the Governor of the Dutch East Indies, HW Daendels, to move the administrative center from Batavia to Weltevreden. Various central government facilities were built in Weltevreden. The problems discussed are related to the development of the urban spatial planning of Weltevreden as the center of government during the Dutch Colonial period. The aim is to uncover the development of Weltevreden’s urban spatial structure during the Dutch Colonial period. The method used is descriptive analysis with a spatial approach. The construction of Weltevreden as the center of government was carried out because the area was healthier than the old Batavia region. This area also developed into a center of community activity with its center in Waterlooplein.
Keywords: Weltevreden, central goverment, strategic location
DDC: 930.1
Tendi (IAIN Syekh Nurjati Cirebon)
History And Acculturation In Cikeruh Sword Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), July 2020: hal. 15 – 29
Cikeruh is a village located in Jatinangor, Sumedang Regency. In the colonial period, the village was famous as the production center of various kinds of weapons in the Priangan region. Consumers of the Cikeruh bladesmith varied, ranging from indigenous groups to Europeans groups in the Dutch East Indies. This article aims to reveal the history of Cikeruh’s bladesmith and explain the acculturation which is seen on the Cikeruh sword. The method used in this study is a historical method consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Based on the study, it can be seen that the existence of Cikeruh bladesmith cannot be separated from the history of the Sumedang Larang Kingdom because the pioneer of Cikeruh bladesmith came from the royal descent of the kingdom. In addition, cultural acculturation can be witnessed from the Cikeruh blades that shows mixed models between Priangan and European styles.
DDC: 930.1
Rendy Aditya Putra Ertrisia (Direktorat Pelindungan Kebudayaan) Iconograpic Study of Jina Kṛtanāgara Statues
Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), July 2020: hal. 31 – 44
During his lifetime, Kṛtanāgara was ordained into a number of jina statues. Previous scholarly research only focused on the Arca Mahāksobhya/Joko Dolog and the Arca Aksobhya Koleksi Museum Mpu Purwa Nomor Inventaris 89 as a statue of the ordination of Kṛtanāgara, thus closing the possibility of other jina statues. Thus this study aims to discuss the existence of several other statues as Kṛtanāgara jina, as well as the appearance of iconographic features of Buddhist monks in some Kṛtanāgara jina statues. The study began with a collection of physical descriptions through observation and evaluation of jina statues who depict Kṛtanāgara through iconographic rules. The next step is to collect supporting data in the form of ancient manuscripts and literature related to Kṛtanāgara jina. Besides that, also conduct interviews with competent speakers in their fields. The final stage is the analysis and interpretation to obtain a final conclusion. The results obtained are that Kṛtanāgara was ordained as a jina in the form of the Arca Mahāksobhya/Joko Dolog, Reco Lanang, Arca Aksobhya Koleksi Museum Mpu Purwa Nomor Inventaris 89, and Arca Pendeta Buddha Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 229a. Reco Lanang represents the jina of Dhyānibuddha Kṛtanāgara while the other three statues are depictions of Kṛtanāgara as manusibuddha or highest Buddhist monks.
Keywords: jina, Kṛtanāgara, iconography
DDC: 930.1
Endang Widyastuti, Nanang Saptono (Balai Arkeologi Jawa Barat) Early Identification of Building Forms in Ronggeng Temple Site Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), July 2020: hal. 45 – 58
The research that was conducted at Ronggeng Temple has not yet describe the complete shape of the building. The studies that have been carried out only classify the type of temples as a simple building. This article is attempting to describe the shape of Ronggeng Temple based on the results of excavation. This article uses the results of excavations that have been carried out in 2019 as a data, and then compared it with the results of previous excavations. The data is then analyzed to get an overview of the shape of Ronggeng Temple. The excavation result shows that Ronggeng Temple is a short fence with an object of worship in the middle of the site. The objects of worship are in the form of yoni and nandi was placed protectively under a roof supported by pillars with a round shape stone footsteps
Keywords: structures, foundations, walls, profile stones
DDC: 930.1
Lia Nuralia (Balai Arkeologi Jawa Barat)
Colonial Artifacts of Plantation of Panglejar, Maswati, and Rajamandala in Nederlandsch-Indie Era:
Meaning and Direction of History
Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), July 2020: hal. 59 – 76
Colonial plantation artifacts are an important cultural in the history of plantation at Bandung, West Java. What and how the plantation artifacts are the main problem in this paper. the purpose of this paper is to explain the colonial plantation artifacts in the form of inscriptions and old maps of the garden. The method used is a desk research on archeological research reports, books, and the internet. The data sources obtained are the inscription of the establishment of the old Panglejar tea factory in the IHT Building, the inscription of the establishment of the Administrator of Maswati Plantation house in the Pusdiklat Building, and the old map of the Rajamandala P lantation in the Office of Rajamandala Afdeling 1 of Pnaglejar Platation. The three colonial artifacts give special meaning to the continuity of plantation history since the days of the Dutch East Indies until now, as well as showing directions to search for and find historical information through colonial archival research and information from interviews with relevant informants at the present time.
Keywords: Plantation Artifacts, Panglejar, Maswati, Rajamandala, Meaning and Direction of History
DDC: 930.1
Nurul Laili, Anton Ferdianto (Balai Arkeologi Jawa Barat)
Variety Of Artefaks In Neolithic Sites All Through Ci Langla, in Tasikmalaya Jurnal Panalungtik Vol 3 (1), July 2020: hal. 77 – 86
Neolithic sites in the Karangnunggal Region along Ci Langla, starting from upstream to downstream. This paper will reveal the variety of neolithic artifacts in Ci Langla downstream.
Thus it will be known about the activities of human life supporting neolithics in the area. Research on the distribution patterns and influencing factors is expected to be able to provide clues about human behavior patterns in utilizing space. The method used in the cultural approach focuses on archeological material or direct observation of artifacts (artifact oriented analysis). The artifacts analyzed are related to the activities of the adze workshop.
Keywords: neolithic sites, variety, adze workshop