7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Zakat
a. Definisi Zakat
Secara bahasa zakat berarti an-nuwu wa az-ziyadah (tumbuh dan berkembang). Kadang dipakaikan dengan makna at-thaharah (suci), dan al-barkah (berkah). Zakat dalam pengertian suci adalah membersihkan diri, jiwa, dan harta. Seseorang yang mengeluarkan zakat berarti dia telah membersihkan diri dan jiwanya dari penyakit kikir, serta membersihkan hartanya dari hak orang lain yang ada dalam harta tersebut. Sedangkan zakat dalam pengertian berkah adalah harta yang sudah dikeluarkan zakatnya secara kualitatif akan mendapat berkah dan akan berkembang walaupun secara kuantitatif jumlahnya akan berkurang (Wahyuningsih, 2020:45).
b. Perintah Mengeluarkan Zakat
Di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadist, banyak dijumpai keterangan-keterangan yang mewajibkan dikeluarkannya zakat.
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ke lima, setingkat kedudukannya dengan Shalat, Puasa dan Haji di dalam al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan Perintah menunaikan zakat dan Perintah menegakkan Shalatbahwa zakat itu adalah sangat penting dan harus dilaksanakan oleh seorang muslim setelah mengerjakan ibadah shalat.
Dalam suatu hadist ditegaskan bahwa zakat itu menjadi salah satu dari lima sendi Islam, yang berbunyi :
“Islam didirikan di atas lima sendi: (1) pengakuan (syahadat) bahwa tidak ada Tuhan yang lain kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah; (2) mendirikan
shalat; (3) mengeluarkan zakat; (4) mengerjakan haji; (5) puasa pada bulan Ramadhan”(HR. Bukhari-Muslim).
c. Jenis-Jenis Zakat
Menurut El-Madani (2013:17), zakat dibagi menjadi dua yaitu Zakat Nafs(jiwa) dan Zakat Mal(harta) adapun pengertiannya sebagai berikut:
1) Zakat Nafs(jiwa) atau zakat fitrah adalah zakat untuk mensucikan diri zakat ini dikeluarkan dan disalurkan pada saat bulan Ramadhan sebelum tanggal 1 Syawal zakat ini berbentuk bahan pangan atau makanan pokok.
2) Zakat Mal(harta) adalah zakat yang dikeluarkan untuk mensucikan harta apabila harta itu telah memenuhi syarat- syarat wajib zakat. Zakat mal mempunyai sifat Ma’lumiyah(ditentukan) artinya syariat Islam telah menjelaskan volume, batasan, syarat, dan ketentuan lainnya sehingga dapat memudahkan bagi orang muslim untuk mengetahui kewajibannya. Hal ini ditunjukkan oleh para muzakki yang ingin mengeluarkan sebagian dari harta mereka sehingga mereka tidak melarikan diri dari kewajiban untuk membayar zakat untuk itu konsep akuntansi yang menyusun ketentuan umum cara menghitung, mendefinisikan dan mengklasifikasikan aset-aset wajib zakat.
d. Syarat-Syarat Zakat
Menurut El-Madani (2013:19-23), adapun syarat-syarat zakat adalah sebagai berikut:
1) Beragama Islam
Zakat merupakan bentuk Ibadah oleh karena itu, beragama Islam menjadi syarat bagi orang yang hendak menunaikannya. Dalil atas hal ini adalah hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas Ra, tentang diutusnya Mu’adz
Ra, ke Yaman sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
2) Mencukupi Nisab
Nisab adalah jumlah minimal yang telah ditetapkan oleh syariat sebagai batas wajibnya zakatharta. Mengenai batasan minimal masing-masing harta yang di zakati akan diuraikan secara detail pada bagian selanjutnya. Batasan nisab merupakan ukuran penilaian atas kekayaan seseorang artinya jika harta seseorang belum sampai pada nisab yang telah ditentukan, maka ia belum dianggap sebagai orang kaya dan secara otomatis tidak wajib mengeluarkan zakat.
3) Berlalu Satu Haul atau Satu Tahun
Di syaratkan untuk kewajiban berzakat berlalunya waktu satu tahun dengan menggunakan penanggalan hijriah untuk kepemilikan harta yang sudah mencapai nisab.
Persyaratan berlalunya satu tahun ini tidak berlaku pada zakat biji-bijian, buah-buahan dan barang-barang tersebut diperoleh yaitu ketika barang tambang dikeluarkan dan biji- bijian serta buah-buahan dipanen.
4) Zakat Kekayaan Anak-Anak dan Orang Gila
Pemilik harta yang wajib zakat tidaklah disyaratkan harus orang yang baligh dan berakal. Oleh karena itu, diwajibkan zakat pada harta anak kecil dan orang gila apabila persyaratnya telah terpenuhi, melihat kondisinya yang seperti itu, maka yang memiliki kewajiban menunaikan zakat mereka adalah wali mereka dan tentunya diambilkan dari harta mereka. Peran wali disini hanya sebagai pelaksana/pembantu.
5) Zakat pada Harta yang Dicuri Orang
Terkait dengan syarat-syarat zakat, terdapat pula beberapa pembahasan tentang zakat harta yang dirusak,
dirampas atau dicuri oleh orang, serta zakat harta kekayaan yang ditahan dan barang temuan.
2. Infaq
a. Definisi Infaq
Menurut Mohammad Daud Ali, infaq adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang, setiap kali ia memperoleh rezeki, sebanyak yang di kehendakinya sendiri. Allah berfirman dalam surat At-Taubah 35 (Nurhayati, 2013) :
“Dan segala mereka yang menyimpan emas dan perak tidak meng infaqkan di jalan Allah, maka gembirakanlah mereka ini dengan azab yang sangat perih” (QS. At-Taubah:35).
b. Jenis Infaq
Menurut Sri Nurhayati (2013:279), ada 2 jenis infaq yaitu infaq wajib dan infaq sunnah sebagai berikut:
1) Infaq Wajib
Terdiri atas zakat, dana nazar yang bentuk dan jumlah pemberiannya telah ditentukan. Nazar adalah sumpah atau janji untuk melakukan sesuatu di masa yang akan datang.
Menurut Qardhawi nazar itu adalah sesuatu yang makruh.
Namun demikian, apabila telah diucapkan maka harus dilakukan sepanjang hal itu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT seseorang yang bernazar“jika saya lulus ujian, maka saya akan memberikan Rp 500.000,-kepada fakir miskin” wajib melaksanakan nazarnya seperti yang telah dia ucapkan. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka dia akan terkena denda/kafarat.
2) Infaq Sunnah
Infaq yang dilakukan seorang muslim untuk mencari ridha Allah, bisa dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk.
Misalnya: memberi makanan bagi orang yang terkena bencana.
3. Sedekah
Menurut Sri Nurhayati (2013:279), sedekah adalah segala pemberian/kegiatan untuk mengharap pahala dari Allah SWT. Sedekah memiliki dimensi yang lebih luas dari infak karena sedekah memiliki 3 pengertian utama sebagai berikut:
a. Sedekah merupakan pemberian kepada fakir miskinyang membutuhkan tanpa mengharapkan imbalan (azzuhaili). Sedekah bersifat sunnah.
b. Sedekah dapat berupa zakat karena dalam beberapa teks Al-Qur’an dan As-Sunnahada yang tertulis dengan sedekah padahal yang dimaksud adalah zakat.
“Sesungguhnya zakat-zakat itu adalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat” (QS 9:60).
Pada ayat tersebut “zakat-zakat” diungkapkan dengan lafal “ash sedekah”.
c. Sedekah adalah sesuatu yang Ma’ruf (benar dalam pandangan syariah) pengertian ini yang membuat definisi atas sedekah menjadi luas, hal ini sesuai hadist Nabi Muhammad SAW:
“Setiap kebajikan adalah sedekah”(HR. Muslim).
4. Efisiensi
a. Definisi Efisiensi
Efisiensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah ketepatan cara (usaha, kerja) dalam mengoperasikan suatu hal dengan tidak menyia-yiakan waktu, tenaga, dan biaya. Efisiensi adalah rasio antara output dengan input (Burhanudin dan Indrarini, 2020:454). Ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan terkait perhitungan seberapa efisien sebuah lembaga dalam menjalankan tugasnya (Burhanudin dan Indrarini, 2020:454):
a. Pendekatan Produksi, yaitu pendekatan ini menganggap amil sebagai pengelola dana/biaya untuk menghasilkan output
dari dana yang berhasil terhimpun berupa penghimpunan dana zakat.
2) Pendekatan Intermediasi, yaitu pendekatan ini menganggap amil sebagai lembaga penghubung (intermediator) dana antara golongan muzaki dengan masyarakat mustahik.
3) Pendekatan Asset, yaitu pendekatan ini menganggap lembaga zakat sebagai penyalur kredit pinjaman yang hasil outputnya diukur dengan aset – aset yang dipunyai. Output dengan pendekatan ini berupa asset.
b. Konsep Efisiensi
Efisiensi dari perusahaan terdiri dari dua komponen, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis menggambarkan kemampuan dari perusahaan dalam menghasilkan output dengan sejumlah input yang tersedia. Adapun efisiensi alokatif menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan inputnya, dengan struktur harga dan teknologi produksinya. Kedua ukuran ini yang kemudian dikombinasikan menjadi efisiensi ekonomi (economic efficiency).
Suatu perusahaan dapat dikatakan efisien secara ekonomi jika perusahaan tersebut dapat meminimalkan biaya produksi untuk menghasilkan output tertentu dengan suatu tingkat teknologi serta harga pasar yang berlaku (Akbar, 2009: 279).
c. Teknik Pengukuran Efisiensi
Ada dua teknik pengukuran efisiensi, yakni orientasi input dan orientasi output (Akbar, 2009). Pertama, pengukuran berorientasi input (Input-Oriented Measures). Pengukuran berorientasi input menunjukkan sejumlah input dapat dikurangi secara proporsional tanpa mengubah jumlah output yang dihasilkan. Skenario ini dapat diilustrasikan dengan:
Efisiensi naik = output tetap / input berkurang …(1)
Di asumsikan jika sebuah perusahaan yang menggunakan dua input (X1 dan X2) untuk memproduksi satu output (y) dengan asumsi constant Return to Scale (CRS). Ancangan CRS adalah jika kedua jenis input (X1dan X2), ditambah dengan jumlah presentase tertentu, maka output juga akan meningkat dengan presentase yang sama.
Kedua, pengukuran berorientasi Output (Output-Oriented Measures). Orientasi output mengukur bilamana sejumlah output dapat ditingkatkan secara proporsional tanpa mengubah jumlah input yang digunakan. Skenario ini dapat diilustrasikan dengan:
Efisiensi naik = output bertambah / input tetap …(2)
Pendekatan ini digunakan pada saat kondisipasar masih bagus sehingga produsen diharapkan dapat mempertahankanatau bahkan meningkatkan outputdengan inputyang sama.
d. Data Envelopment Analysis (DEA)
DEA adalah suatu metodologi yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi dari suatu unit pengambilan keputusan (unit kerja) yang bertanggung jawab menggunakan sejumlah masukan untuk memperoleh suatu luaran yang ditargetkan. DEA merupakan model pemrograman fraksional yang bisa mencakup banyak luaran dan masukan tanpa perlu menentukan bobot tiap variabel sebelumnya, tanpa perlu penjelasan eksplisit mengenai hubungan fungsional antara masukan dan luaran (tidak seperti regresi). DEA menghitung ukuran efisien secara skalar dan menentukan level masukan dan luaran yang efisien untuk unit yang dievaluasi.
Sebuah model matematis menggunakan model variabel keputusan (decision variables) untuk menggambarkan keputusan kuantitatif yang akan dibuat. Sementara fungsi tujuan (objective function) akan mengekspresikan ukuran kinerja dari tiap decisionvariabel
dalam model. Kendala (constraint) dalam model menggambarkan pembatasan terhadap nilai yang akan dimasukkan ke dalam variabel keputusan. Parameter dari sebuah model konstanta yang akan muncul dalam fungsi tujuan dan kendala (Amalia, 2020: 296).
e. Model – Model DEA
Ada dua model DEA yang sering digunakan dalam DEA, yaitu model Charnes, Chooper dan Roodes (CCR) dan model Banker, Charnes dan Cooper (BCC) (Akbar, 2009: 770).
1) Model CCR
Model CCR dikembangkan oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (1978). Model ini mengasumsikan bahwa penambahan input sebesar n kali akan meningkatkan output sebesar n kali juga atau disebut juga dengan asumsi constant Return to Scale (CRS). Oleh karenanya, model ini sering juga disebut dengan model CRS. Asumsi lain yang digunakan dalam model ini adalah bahwa setiap DMU atau Unit Pengambil Keputusan (UPK) beroperasi pada skala yang optimal. Dengan demikian, efisiensi dengan model ini juga disebut dengan efisiensi Overall, yakni efisien secara teknis dan skala. Rumus dari CRS dapat dituliskan sebagai berikut:
Max ∑p𝑘=1𝑈𝑘𝑌𝑘0 𝑈𝑘𝑉𝑖
s.t ∑𝑚𝑖=1𝑉𝑘𝑗𝑋𝑖0= 1
∑𝑝𝑘=1𝑈𝑘𝑌𝑘𝑗− ∑𝑚𝑖=1𝑉𝑘𝑖𝑋𝑖𝑗 ≤ 0 j = 1,…, n 𝑈𝑘 ≥ 𝜀, 𝑉𝑖 ≥ 𝜀 k = 1,…, p
i = 1,…, m …(3)
Dimana maksimisasi di atas merupakan efisiensi teknis (CCR), xij adalah banyaknya input tipe ke-i dari UPK ke-j dan ykj adalah jumlah output tipe ke-k dari UPK ke-j. Nilai
efisinesi selalu kurang atau sama dengan 1. UPK yang nilai efisiensinya kurang dari 1 berarti inefisiensi, sedangkan UPK yang nilai efisiensinya sama dengan 1 berarti UPK tersebut efisien
2) Model BBC
Dikembangkan oleh Banker, Charnes dan Cooper (1984). Mereka menyatakan bahwa Persaingan dan kendala- kendala keuangan dapat menyebabkan perusahaan untuk tidak beroperasi pada skala optimalnya. Untuk mengatasi problem ini, mereka mengajukan asumsi Variabel Return to Scale (VRS). Artinya, jika ada penambahan input sebesar n kali, maka tidak akan menyebabkan output meningkat sebesar n kali. Bisa lebih besar atau lebih kecil. Kondisi dimana ia dapat menghasilkan output yang lebih besar disebut dengan Increasing Return to Scale (IRS). Dan jika menghasilkan kurang dari n kali, maka disebut dengan kondisi Decreasing Return to Scale (DRS). Efsiensi yang dihitung dengan asumsi VRS inilah yang disebut sebagai efisiensi tekni ”murni” (Pure Technical Efficiency). UPK yang efisien berdasarkan model ini sering disebut dengan efisien secara teknis. Model BCC dengan input-output oriented untuk DMU dapat ditulis dengan persamaan berikut:
Max ∑p𝑘=1𝑈𝑘𝑌𝑘0− 𝑈0 𝑈𝑘𝑉𝑖
s.t ∑𝑚𝑖=1𝑉𝑘𝑗𝑋𝑖0= 1
∑𝑝𝑘=1𝑈𝑘𝑌𝑘𝑗− ∑𝑚𝑖=1𝑉𝑘𝑖𝑋𝑖𝑗 − 𝑈0 ≤ 0 j = 1,…, n
𝑈𝑘 ≥ 𝜀, 𝑉𝑖 ≥ 𝜀 k = 1,…, p
i = 1,…, m …(4)
Maksimisasi di atas merupakan nilai efisiensi teknis (BCC), xij adalah banyaknya input tipe ke-I dari UPK ke-j, dan ykj adalah jumlah output tipe ke-k dari UPK ke-j. Nilai dari efisiensi tersebut selalu kurang atau sama dengan 1. UPK yang nilai efisiensinya kurang dari 1 berarti inefisiensi sedangkan UPK yang nilainya sama dengan 1 berarti UPK tersebut efisien.
Perbedaan antara CRS, VRS dan skala dapat diilustrasikan oleh gambar berikut:
Gambar 2.1 Efisiensi CRS dan VRS Sumber: (Akbar, 2009)
Garis tengah lurus adalah CRS, yakni menggambarkan kinerja perusahaan yang bekerja pada skala optimal.
Sedangkan garis melengkung adalah garis VRS, yakni menjelaskan tentang efisiensi teknis perusahaan yang bekerja pada skala yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Titik E menunjukkan perusahaan yang sudah efisien secara teknis, namun belum bekerja pada skala optimal. Untuk itu perusahaan pada titik D dan E harus meningkatkan skalanya hingga mencapai titik B, yakni efisien secara overall.
f. Keunggulan dan Kelemahan DEA
Walaupun metode ini memiliki berbagai keunggulan, tapi ia juga memiliki beberapa kekurangan dan keterbatasan. DEA memiliki beberapa keunggulan:
1) DEA dapat menangani pengukuran efisiensi secara relatif beberapa DMU sejenis yang menggunakan banyak input dan banyak output.
2) Dengan metode ini, tidak diperlukan mencari asumsi bentuk fungsi hubungan antara variabel input dan output dari DMU sejnis yang akan diukur efisiensinya.
3) Dalam metode ini, DMU-DMU tersebut dibandingkan secara langsung dengan sesamanya.
4) Faktor input dan output dapat memiliki satuan pengukuran yang berbeda. Sebagai contoh, output 1 (x1) dapat berupa jumlah jiwa yang diselamatkan dan input (x2) dapat berupa jumlah nilai uang tanpa perlu melakukan perubahan satuan dari kedua variabel tersebut.
Sedangkan beberapa catatan kekurangannya adalah :
1) Karena DEA merupakan sebuah extreme point technique, maka kesalahan-kesalahan pengukuran dapat mengakibatkan masalah yang signifikan.
2) DEA hanya mengukur efisiensi relatir dari DMU, dan tidak mengukur efisiensi absolut. Dengan kata lain, DEA hanyalah menunjukkan perbandingan baik buruk apa yang telah dilakukan sebuah DMU dibandingkan dengan sekumpulan DMU sejenis. Karena DEA adalah teknik nonparametrik, maka uji hipotesis secara sistemik sulit dilakukan.
3) Menggunakan perumusan linier programming terpisah untuk tiap DMU, maka perhitungan secara manual membutuhkan
waktu apalagi untuk masalah yang besar, namun hal ini sudah dapat diatasi dengan adanya software.
g. Dampak Inefisiensi Pengelolaan Zakat
Beberapa kajian tentang hubungan zakat dengan ekonomi menegaskan bahwa apabila terjadi pengelolaan zakat yang baik maka mampumemperbaiki keadaan perekonomian masyarakat.
Efisiensi merupakan salah satu sasaran dalam memperbaiki kinerja lembaga zakat hingga akhirnya berdampak pada perbaikan perekonomian. Semakin efisien lembaga zakat maka semakin baik peranan zakat dalam mengentaskan problem kemiskinan. Akibat dari inefisiensi pengelolaan zakat dapat dijelaskan sebagai berikut (Alam, 2018: 269-270):
Pertama, manajemen lembaga zakat yang inefisien mengakibatkan kesenjangan sosial semakin meregang hingga akhirnya kriminalitias merajela. Alokasi sumberdaya yang kurang efisien menyempitkan peluang terjalinnya pemerataan dan distribusi harta yang lebih adil.
Kedua, hal ini akan mengurangi peranan positif dari zakat terhadap ekonomi dalam lingkup makro dan mikro. Secara makro, peningkatan produksi dan investasi menjadi lambat karena kurangnya efisiensi pengelolaan zakat. Berkurangnya aggregate demand akibat tetapnya jumlah konsumsi masyarakat mustahiq.
Aggregate supply juga idak mengalami peningkatan disebabkan jumlah produksi yang tetap dan didasari tidak adanya kenaikan dalam permintaan konsumsi masyarakat mustahiq. Secara mikro, konsumsi individu mustahiqmenjadi terbatas akibat dana zakat yang menjadi hak mereka belum disalurkan secara efisien.
Aktivitas ekonomi individu mustahiq juga turut terganggu akibat minimnya modal yang didapat oleh mereka dalam rangka memenuhi kebutuhan pokoknya.
5. Efektivitas
a. Definisi Efektivitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata efektif berarti dapat membuahkan hasil, mulai berlaku, ada pengaruh/akibat/efeknya. Efektivitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan (Syahriza, Harahap, dan Fuad, 2019:142).
Menurut ahli manajemen, Peter Drucker, efektivitas erat kaitannya dengan efisiensi. Efisiensi berarti mengerjakan sesuatu dengan benar (doing things right), sedangkan efektivitas adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the right things) (Handoko, 1993:7).
Dalam bahasa yang sederhana lagi dapat kita artikan bahwa efesiensi adalah kemampuan suatu perubahan dalam menggunakan sumber daya dengan benar dan tidak ada pemborosan. Sebaliknya efektivitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam mencapai sasaran-sasaran (hasil akhir) yang telah ditetapkan secara cepat.
Berdasarkan pengertian efektivitas diatas, maka dapat disimpulkan efektivitas adalah suatu usaha mencapai suatu tujuan dengan melihat ketetapan penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Artinya apakah pelaksanaan suatu program dinilai baik atau tidak sangat bergantung pada tujuan yang telah dicapai dan hasil yang baik sesuai dengan ketetapan sasaran.
b. Konsep Efektivitas
Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Dikatakan efektif jika tujuan tercapai atau tercapainya sasaran seperti yang telah ditentukan.
Adapun pendekatan yang digunakan dalam mengukur efektivitas yaitu,pertama, pendekatan sumber (resource approach) yakni mengukur efektivitas dari input. Pendekatan mengutamakan
adanya keberhasilan organisasi untuk memperoleh sumber daya, baik fisik maupun nonfisik yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Kedua, pendekatan proses (process approach) adalah untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau mekanisme organisasi. Ketiga, pendekatan sasaran (goals approach) dimana pusat perhatian pada output, mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai dengan rencana (Amalia, 2020: 294).
c. Zakat Core Principle (ZCP)
Zakat Core Principle adalah pedoman zakat pengelolaan yang tebaru yang diterbitkan pada tanggal 23 Mei 2016 di Istanbul, Turki. Pedoman ZCP dibuat oleh Bank Indonesia yang bekerja sama dengan BAZNAS, Islamic Research, Islamic Development Bank, dan sebelas negara, yakni Saudi Arab, Malaysia, Sudan, Kuwait, Jordan, Pakistan, Libya, Bangladesh, Bahraim dan Brunei Darussalam yang ikut International Working Group (BAZNAS, 2016). Zakat Core Principle memiliki 18 prinsip yang akan ditunjukkan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Zakat Core Principle
Kode Zakat Core Principle Dimensi
ZCP 1 Objective, independence and power Legal Fondation ZCP 2 Permissible activities
ZCP 3 Licensing criteria
ZCP 4 Zakat supervisory approach Zakat Supervision ZCP 5 Zakat supervisory techniques and tools
ZCP 6 Zakat supervisory reporting
ZCP 7 Corrective and sanctioning powers of zakat supervisor
Zakat Governance ZCP 8 Good amil governance
ZCP 9 Collection managemet Intermediary Function ZCP 10 Disbursement management
ZCP 11 Country and transfer risks Risk Management ZCP 12 Reputation and muzakki loss risk
ZCP 13 Disbursement risk ZCP 14 Operational risk
ZCP 15 Shariah control and internal audit Shariah Governance ZCP 16 Financial reporting and external audit
ZCP 17 Disclosure and transparency ZCP 18 Abuse of zakat services
Sumber: Pusat Kajian Strategis Baznas 2016
ZCP memiliki tujuan untuk mendorong dan mewujudkan sistem pengelolaan zakat yang sehat dan efektif bagi kemaslahatan umat. Pengelolaan zakat diharapkan tidak hanya bergantung kepada kondisi personal amil atau dukungan politik, namun merupakan suatu hasil dari tata kerja yang tersistem, yang terencana hingga terawasi secara sistemik. Hal kedua, pengelolaan zakat diharapkan bisa memberikan daya guna maksimal bagi masyarakat, baik muzaki, mustahik ataupun masyarakat umum d. Disbursement Collection Ratio (DCR)
DCR merupakan metode yang dikembangkan dari panduan Zakat Core Principle untuk mengukur efektivitas berdasarkan perbandingan antara jumlah ZIS yang disalurkan dengan jumlah ZIS yang dihimpun dengan menggunakan asumsi Allocation to Collection Ratio (ACR) (BAZNAS, 2016).
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Setelah peneliti melakukan telaah terhadap penelitian sebelumnya, ada beberapa yang memiliki keterkaitan dengan penelitian yang peneliti lakukan sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Hasil Penelitian Terdahulu
Aspek Alam (2018) Syahriza, Harahap, dan Fuad (2019)
Burhanudin dan Indrarini (2020)
Judul Analisis Efisiensi Pengelolaan Dana Zakat Infaq dan Sedekah di BAZNAS Kabupaten/Kota Se- Karesidenan Surakarta.
Analisis Efektivitas Penyaluran Zakat Pada Rumah Zakat
Efisiensi dan Efektivitas Lembaga Amil Zakat Nasional
Studi pada Inisiatif Zakat Indonesia
Institusi yang Diteliti
BAZNAS
Kabupaten/Kota Se- Karesidenan Surakarta.
Rumah Zakat Sumatera Utara.
LAZNAS Inisiatif Zakat Indonesia (Surabaya).
Periode Analisis 2017 2015-2019 2016-2018
Rumusan Masalah Bagaimana efisiensi pengelolaan dana ZIS di BAZNAS
kabupaten/kota Se- Karesidenan Surakarta.
Bagaimana efektivitas distribusi zakat produktif dalam meningkatkan kesejahteraan mustahik di Rumah Zakat Sumatera Utara.
Bagaimana tingkat efisiensi dan efektivitas pengelolaan dana ZIS pada LAZNAS Inisiatif Zakat Indonesia (Surabaya).
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui efisiensi pengelolaan dana ZIS di
BAZNAS
kabupaten/kota Se- Karesidenan Surakarta.
Untuk mengetahui efektivitas distribusi zakat produktif dalam meningkatkan
kesejahteraan mustahik di Rumah Zakat Sumatera Utara.
Untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas pengelolaan dana ZIS pada LAZNAS Inisiatif Zakat Indonesia (Surabaya).
Metode Penelitian Kuantitatif deskriptif. Penelitian lapangan dengan jenis penelitian kualitatif.
Kuantitatif deskriptif.
Hasil Penelitian ditemukan terdapa 4 BAZNAS dengan efisiensi 100% yaitu BAZNAS Kabupaten Klaten, Sragen, Wonogiri, dan Kota Surakarta. Sedangkan sisanya BAZNAS Kabupaten Boyolali (87,6%), Kabupaten Sukoharjo (73,5%) dan Kabupaten
Sudah efektif, karena dapat meningkatkan kesejahteraan mustahik, ini dibuktikan dengan meningkatnya
pendapatan delapan dari tiga belas orang mustahik secara keseluruhan, lima orang yang
pendapatannya tetap dan empat dari delapan orang yang pendapatannya meningkat telah
LAZNAS Inisiatif Zakat Indonesia mengalami kinerja inefisiensi pada tahun 2016 sebesar 69,29% , tahun 2017 dan tahun 2018 mengalami efisiensi sempurna 100%. Untuk pengukuran tingkat efektivitasnya pada tahun 2016 mendapatkan skor
Karanganyar (59,9%).
mencapai tingkat muzaki.
51% dan tahun 2017 mendapatkan skor 92%, serta tahun 2018 memperoleh skor 96%.
Sumber: (diolah)
Penelitian yang penulis lakukan secara umum memiliki kesamaan dengan penelitian-penelitian terdahulu dalam beberapa hal: (1) variabel penelitian yang digunakan, yaitu dana zakat, infaq dan sedekah (2) judul penelitian yang digunakan, yaitu mengenai efisiensi dan efektivitas pada lembaga amil zakat.
Sementara itu, penelitian penulis memiliki perbedaan dengan penelitian- penelitian tersebut dalam hal subjek penelitian dan periode analisis. Penulis membahas efisiensi dan efektivitas pengelolaan dana ZIS pada BAZNAS Kota Banjarmasin periode 2018 hingga 2020.