PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH
Tardika Mulyadi 1)
Program Studi Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Siliwangi [email protected]
Betty Rofatin2)
Fakultas Pertanian Univerrsitas Siliwangi [email protected]
Dedi Djuliansah 3)
Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah yang membuang limbah peternakan langsung kesungai dengan sub variabel ; Bau, Pencemaran air dan Limbah (Limbah yang Ditumpuk, Kurangnya Kebersihan Kandang, dan Limbah yang Dibuang Ke sungai).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei pada peternak sapi perah di Kampung Babakan dan Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang.
Usaha peternakan sapi perah di Kelurahan Indihiang cukup menjanjikan keuntungan, bisa dilihat bahwa para peternak mengakui usaha peternakan ini sudah optimal dari sebagian besar aspek dalam menjalankan usaha tersebut dan masih banyaknya jumlah pakan untuk ternak dan tidak jauh dari tempat pengepul susu untuk menjual hasil peternakan. Namun sangat disayangkan sebagian besar peternak tidak mengetahui cara pengolahan limbah peternakan dan keterbatasan alat untuk pengolahan limbah, sehingga limbah tersebut hanya dibuang begitu saja ke sungai Ci Ge’de dengan anggapan masyarakat sekitar menerima perlakuan paternak tersebut karena tidak adanya keluhan masyarakat secara keseluruhan terhadap peternak, dan sebagian masyarakat terpaksa menerima karena masyarakat takut akan berdampak negatif bagi hubungan bermasyarakat dengan peternak. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan persepsi masyarakat yang mencakup sub variabel Bau, Pencemaran Air dan Limbah Hasil penelitian menunjukan bahwa responden cenderung merasa terganggu dengan adanya aktivitas peternakan yang membuang limbahnya langsung ke sungai.
ABSTRACT
This study was aimed at finding out the society’s perception toward existence of husbandry cow squeezes effort which throws the compost to the river directly with sub variable; smell, water pollution, and compost (compost heap, stable).
This study employed a survey method on husbandry cow squeezes at Babakan and Pasangrahan village, Indihiang sub-district.
Husbandry cow squeezes effort at Indihiang village has many profits. It can be seen that farmers recognize this farm is optimal from most aspects of running the business and the still large number of feed for livestock and is not far from where the milk collectors to sell their livestock. However most of breeder does not understand the processing compost and limitedness of tool, until that compost throw to Ci Ge’De river the public perception about the breeder receives treatment in the absence of overall public complaints against farmers, and some people are forced to accept because people fear a negative impact on social relationships with farmers.
The result of this research showed that totality society’s perception includes sub variable, smell, water pollution and compost. The finding revealed that respondents dispose feel disturbed with husbandry activity which throw the compost to the river directly.
PENDAHULUAN
Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia merupakan salah satu hal yang menyebabkan prospek dunia peternakan semakin cerah. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka konsumsi terhadap protein hewani akan meningkat pula.
Apalagi ditunjang dengan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya nilai gizi yang dapat menyebabkan konsumsi komoditi hasil peternakan akan mengalami peningkatan.
Usaha ternak sapi perah adalah usaha yang mempunyai sifat maju, yang secara selektif menggunakan masukan teknologi sehingga secara proporsional mampu meningkatkan produksi, akan tetapi dalam praktek peternak tidak sepenuhnya memahami penggunaan teknologi tersebut. Pemeliharaan sapi perah pada peternak rakyat masih menggunakan teknologi yang bersifat sederhana dalam pemeliharaan sapi perah, dimana pengetahuan pemeliharaan sapi perah peternak masih didapat secara turun temurun, dan merupakan usaha sambilan. Setiap usaha mengharapkan keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan faktor- faktor produksi yang dimiliki peternak (Emawati, 2011).
Pengembangan peternakan sapi perah di Indonesia pada dasarnya bertujuan meningkatkan produksi susu dalam negeri untuk mengantisipasi tingginya permintaan susu, Hal tersebut memberikan peluang bagi peternak, terutama peternakan sapi perah rakyat untuk lebih meningkatkan produksi, sehingga ketergantungan akan susu impor dapat dikurangi. Konsekuensi logis dari keadaan tersebut, perlu ditunjang oleh perkembangan peternakan sapi perah agar eksis dalam penyediaan produksi susu dan dapat terjaga kelangsungan hidupnya (Suherman, 2008).
Usaha ternak sapi perah tidak dapat lepas dari masalah lingkungan, selama ini dampak buruk dari kegiatan usaha peternakan dikarenakan sebagian besar peternak mengabaikan penanganan limbah dari usahanya, sehingga masyarakat banyak yang mengeluhkan keberadaan usaha peternakan tersebut. Disamping menghasilkan keuntungan secara ekonomis, akan tetapi usaha peternakan juga menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh karena itu,
seiring dengan kebijakan otonomi, maka pengembangan usaha peternakan yang dapat meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintah masyarakat dan peternak untuk menjaga kenyamanan permukiman masyarakatnya. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat di identifikasikan masalahnya sebagai berikut: 1) Bagaimana keadaan usaha peternakan sapi perah? 2) Bagaimana persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah?
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, 1) Keadaan usaha sapi perah. 2) Persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data pokok (Umar, 2003). Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) yakni yang berlokasi di Kelurahan Indihiang, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Kerangka Analisis
Analisa data yang digunakan pada penelitian ini dengan menggunakan pengelompokan, penyederhanaan, serta penyajian data dengan menggunakan skala likert. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan persepsi yang diungkapkan dengan kata-kata yang dikategorikan sebagai berikut :
1. Terganggu 2. Cukup Terganggu 3. Tidak Terganggu
Kriteria yang digunakan untuk mengetahui tanggapan dari responden untuk masing-masing variabel dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Interval = (𝑅×𝑆𝐾𝑡𝑖×𝑃)−(𝑅×𝑆𝐾𝑡𝑟×𝑃) 𝐾
(Sumber: Rusidi, 1992)
Keterangan :
R = Jumlah responden P = Jumlah pertanyaan/ item K = Kriteria penelitian Skti = Skor tertinggi SKtr = Skor terendah
Adapun indikator pengukuran variabel dan skoring variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Indikator Pengukuran Variabel Penelitian dan Skoring Variabel Tingkat Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Peternakan Sapi Perah.
Variabel Sub Variabel Indikator Kisaran Skor Persepsi
Masyarakat
a. Bau 1. Bau Sangat
Menyengat
1 – 3
b. Pencemaran Air 1. Keruh dan
Tidak Layak
Konsumsi 1 – 3
c. Limbah 1. Ditumpuk
3 – 9
2. Kurangnya
kebersihan
3. Dibuang Ke
Sungai
Jumlah 5 – 15
Uji Kolmogorov-Smirnov
Untuk menguji kecenderungan memilih kategori dari unit penelitian Hipotesis :
𝐻0 : 𝑓𝑎 : 𝑓𝑏: 𝑓𝑐=1 : 1 : 1
Tidak ada kecenderungan persepsi negatif masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah ditinjau dari limbah yang ditimbulkan dari peternakan tersebut.
𝐻1 : 𝑓𝑎 : 𝑓𝑏: 𝑓𝑐 ≠1 : 1 : 1
Ada kecenderungan persepsi negatif masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah ditinjau dari limbah yang ditimbulkan dari peternakan tersebut.
Rumus Kolmogorov-Smirnov :
T CT TT
Frekwensi Observasi (Oi) a b c
Frekwensi Kumulatif Oi Oa Ob Oc
Frek. Kumulatif Oi (Sn (𝑥)) 𝑂𝑎 𝑥
𝑂𝑏 𝑥
𝑂𝑐 𝑥 Frek. Kumulatif (Fo (𝑥)) 1
3
2 3
3 3
Fo (𝑥)– Sn (𝑥) Da Db Dc
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengelolaan Usaha Peternakan Sapi Perah
Usaha peternakan adalah kegiatan mengembangbiakan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut. Tujuan dari usaha peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan prinsip- prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah dikombinasikan secara optimal.
Data hasil jawaban dari peternak : Lingkungan Eksternal
Tabel 13. Jawaban Responden Peternak dari Lingkungan Eksternal Peternakan
Indikator soal Jawaban Peternak Jumlah
Peternak
Total Persentase (%)
FAKTOR SOSIAL
1 lingkungan di sekitar mempengaruhi jalannya usaha peternakan (b)
4 100
2 Tingkat pendidikan non formal dan pengalaman berpengaruh terhadap usaha peternakan (a)
4 100
FAKTOR EKONOMI
1 Penting permodalan dalam usaha peternakan sapi perah (a)
4 100
2 Modal yang di peroleh dari modal pribadi (a)
2
50 Modal yang di peroleh dari pinjaman (b) 2 50
FAKTOR POLITIK
1 Mengetahui adanya kebijakan pemerintah mengenai peternakan sapi perah (a)
3 75
Tidak mengetahui adanya kebijakan pemerintah mengenai peternakan sapi perah (b)
1 25
2 Kebijakan pemerintah itu berpengaruh terhadap usaha peternakan sapi perah (a)
4 100
3 Kebijakan pemerintah penting bagi usaha peternakan sapi perah (a)
4 100
FAKTOR POLITIK
1 Ada teknologi penunjang untuk usaha peternakan sapi perah (a)
1
25 Tidak ada teknologi penunjang untuk usaha
peternakan sapi perah (b)
3 75
2 Teknologi tersebut berperan dalam usaha peternakan sapi perah (a)
4 100
3 Teknologi tersebut berpengaruh terhadap jalanya usaha peternakan sapi perah (a)
4 100
Lingkungan Internal
Tabel 14. Jawaban Responden Peternak dari Lingkungan Internal Peternakan
Soal Jawaban Peternak Persentase
(%)
Total Persentase
(%) 1 Setatus kependudukan peternak adalah
penduduk asli (a)
3 75
Setatus kependudukan peternak adalah pendatang (b)
1 25
2 Lama peternak menjalankan usahanya antara 5- 10 tahun (a)
2 50
Lama peternak menjalankan usahanya antara 10- 15 tahun (a)
2 50
3 Tenaga kerja yang dimiliki peternak antara 1-3 orang (a)
4 100
4 Pembayaran upah tenaga kerja satu minggu sekali (b)
3 75
Pembayaran upah tenaga kerja satu bulan sekali (c)
1 25
5 Modal awal didapat dari modal pribadi (a) 3 75
Modal awal didapat dari pinjaman (b) 1 25
6 Kandang yang dipergunakan untuk sapi dewasa saja (a)
1 25
Kandang yang dipergunakan untuk sapi dewasa dan anakan (b)
3 75
7 Kapasitas penampungan sapi dalam satu kandang antara 5-15 ekor (a)
3 75
Kapasitas penampungan sapi dalam satu kandang antara 15-20 ekor (b)
1 25
8 Sapi perah yang dimiliki 5-10 ekor (a) 3 75
Sapi perah yang dimiliki 10-15 ekor (b) 1 25
9 Sudah optimal hasil dari peternakan (a) 4 100
10 produksi susu yang dihasilkan satu ekor sapi hari 10-15 liter (b)
4 100
11 Peternak mendapatkan pakan untuk sapi disekitaran peternakan (a)
4 100
12 Masih banyak ketersediaan pakan untuk ternak (a)
4 100
13 Limbah yang dihasilkan dari peternakan adalah limbah padat dan cair (c)
4 100
14 Limbah peternakan langsung di buang begitu saja ke sungai (b)
4 100
15 Belum ada cara pemangfaatan limbah yang dihasilkan oleh peternakan (b)
4 100
16 Peternakan berdekatan dengan pemukiman masyarakat (a)
4 100
17 Jalan yang menuju peternakan adalah jalan umum (b)
4 100
18 Jalan tersebut bis dimasuki atau dilalui oleh kendaraan (a)
4 100
Tabel 13 dan 14. Menunjukan bahwa keadaan usaha peternakan di Kelurahan Indiiang mulai menampakkan hasil yang cukup baik bisa dilihat dari lamanya usaha yang dijalankan dengan rata-rata lamanya usaha yang digeluti kisaran 10 tahun yang modal awal dari usahanya sebagian besar peternak menggunakan modal pribadi, dengan jumlah ternak 5-10 ekor per kandang dan susu yang dihasilkan per satuan ekor sapi 10-15 liter perhari. Dari keterangan peternak bahwa usaha yang dijalankan peternak sudah optimal.
Persepsi Masyarakat
Persepsi yaitu penangkapan indera terhadap realitas yang diamati, kemudian disusun sebuah pengertian (konsepsi), akhirnya dilakukan prediksi atau peramalan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan.
Mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan, nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain yang menjadi sebuah tanggapan yang diberikan oleh masyarakat mengenai peternakan sapi perah yang ada di kelurahan Indihiang kecamatan Indihiang.
Sub variabel dari penelitian ini adalah : 1) Bau
2) Pencemaran Air
3) Limbah (Limbah yang Ditumpuk, Kurangnya Kebersihan Kandang, dan Limbah yang Dibuang Kesungai)
Persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah dapat dijelaskan sebagai berikut :
Bau
Untuk melihat persepsi masyarakat kelurahan Indihiang kecamatan Indihiang terhadap keberadaan peternakan sapi perah dengan sub variabel bau dapat dilihat pada Tabel 13
Tabel 15 .Jawaban Responden Mengenai Persepsi Masyarakat Dengan Sub Variabel Bau di Kampung Babakan Dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
No Sub Variabel
Kategori Jawaban
Nilai skor
Jumlah (orang))
Total Persentase (%)
1 Bau Terganggu 3 34 102 87
Cukup Terganggu
2 3 6 7
Tidak Terganggu 1 2 2 6
Jumlah 39 110 100
Sumber : Data Primer di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan IndihiangTahun 2016
Tabel 15. Menunjukkan bahwa total skor untuk sub variabel “Bau”
diperoleh 110 skor dengan artian kategori tersebut termasuk kedalam kategori terganggu. Tinggi skor tersebut disebabkan karena sebagian besar masyarakat merasa terganggu dengan adanya bau yang ditimbulkan dari peternakan sapi perah, ada pun responden yang sebagian tidak terganggu atau cukup terganggu itu dikarnakan bau tersebut kadang muncul sesuai dengan arah datangnya angin dan bau menyengat muncul karna angin kencang.
Pencemaran air
Untuk melihat persepsi masyarakat di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah dengan sub variabel pencemaran air dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 16 .Jawaban Responden Mengenai Persepsi Masyarakat Dengan Sub Variabel Pencemaran Air di Kampung Babakan Dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
No Sub Variabel
Kategori Jawaban
Nilai skor
Jumlah (orang)
Total Persentase (%) 1 Pencemaran
Air
Terganggu 3 32 96 82
Cukup Terganggu
2 4 8 10
Tidak Terganggu 1 3 3 8
Jumlah 39 107 100
Sumber : Data Primer di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan IndihiangTahun 2016
Tabel 16. Menunjukkan bahwa total skor untuk sub variabel “Pencemaran Air” diperoleh 107 skor dengan artian kategori tersebut termasuk kedalam kategori terganggu. Tinggi skor tersebut disebabkan karena sebagian besar masyarakat merasa terganggu dengan adanya limbah yang dibuang begitu saja ke sungai Ci Ge’de tanpa ada pengolahan sebelumnya seperti pengendapan dikolam sendimen.
Limbah
Untuk melihat persepsi masyarakat di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah dengan sub variabel Limbah dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 17. Jawaban Responden Mengenai Persepsi Masyarakat Dengan Sub Variabel Limbah di Kampung Babakan Dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
No Sub Variabel
Kategori Jawaban
Nilai skor
Jumlah (orang)
Total Persentase (%)
4.1 Ditumpuk Terganggu 3 37 111 94
Cukup Terganggu 2 _ _
Tidak Terganggu 1 2 2 6
Jumlah 39 113 100
No Sub Variabel
Kategori Jawaban
Nilai skor
Jumlah (orang)
Total Persentase (%) 4.2 Kurangnya
Kebersihan
Terganggu 3 26 78 67
Cukup Terganggu 2 5 10 13
Tidak Terganggu 1 8 8 20
Jumlah 39 96 100
No Sub Variabel
Kategori Jawaban
Nilai skor
Jumlah (orang)
Total Persentase (%) 4.3 Dibuang
Ke Sungai
Terganggu 3 32 96 82
Cukup Terganggu 2 2 4 5
Tidak Terganggu 1 5 5 13
Jumlah 39 105 100
Total 314
Sumber : Data Primer di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan IndihiangTahun 2016
Tabel 17. Menunjukkan bahwa total skor untuk sub variabel “Limbah”
diperoleh 314 skor dengan artian kategori tersebut termasuk kedalam kategori cukup terganggu. Hal tersebut disebabkan karena limbah yang dihasilkan dari peternakan sapi belum bisa dimanfaatkn dengan baik oleh peternak sehingga masyarakat sekitar peternakan dan masyarakat yang berada dibantaran sungani terkena imbas negatif dari limbah yang dihasilkan peternakan sapi perah.
Total Persepsi Secara Keseluruhan
Penilaian masyarakat di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya terhadap persepsi secara keseluruhan dapat dilihat pada Table 18.
Tabel 18. Hasil Rekapitulasi Penilaian Masyarakat Terhadap Persepsi di Kampung Babakan Dan Kampung Pasangrahan Kelurahan Indihiang Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
No Variabel Sub Variabel Nilai Keterangan
1 Persepsi Masyarakat 1. Bau 110 Terganggu
2. Pencemaran Air 107 Terganggu 3. Limbah
1.1 Limbah yang
Ditumpuk 113 Terganggu
3.2 Kurangnya Kebersihan Kandang
96 Terganggu 3.3 Limbah yang
Dibuang Kesungai 105 Terganggu
Jumlah 531 Terganggu
Sumber : Data Primer di Kampung Babakan dan Kampung Pasangrahan Kelurahan IndihiangTahun 2016
Tabel 18 menunjukkan bahwa hasil penilaian responden terhadap persepsi secara keseluruhan adalah terganggu dengan total bobot skor 531. Penilaian tersebut meliputi sub variabel Bau dengan bobot skor 110, Pencemaran Air dengan bobot skor 107. dan Limbah dengan indikator di timpuk dan kurangnya kebersihan serta limbah yang dibuang ke sungai dengan bobot skor 314.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1) Usaha peternakan sapi perah di Kelurahan Indihiang cukup menjanjikan keuntungan, bisa dilihat dari banyaknya peternak yang ada di Kelurahan Indihiang dan sebagian besar peternak melalui usahanya dengan modal pribadi tanpa terikat dengan bantuan pemerintah atau dinas terkait, bisa dilihat dari awal mula berdiri peternakan di Indihiang sejak tahun 1987 sampai sekarang dengan jumlah peternak yang terus bertambah dari tahun ke tahun, serta para peternak mengakui bahwa usaha peternakan yang dijalankan sudah optimal dari sebagian besar aspek dalam menjalankan usaha tersebut dan masih banyaknya jumlah pakan untuk ternak dan tidak jauh dari tempat pengepul susu untuk menjual hasil peternakan.Sebagian besar peternak tidak mengetahui cara pengolahan limbah peternakan,hal ini terbukti dari limbah tersebut hanya dibuang begitu saja ke sungai Ci Ge’de
dengan anggapan masyarakat sekitar menerima perlakuan paternak tersebut karena tidak adanya keluhan masyarakat secara keseluruhan terhadap peternak, dan sebagian masyarakat terpaksa menerima karena masyarakat takut akan berdampak negatif bagi hubungan bermasyarakat dengan peternak dan masyarakat merasa canggung untuk menyampaikan keluhannya dengan peternak dikarnakan sebagian masyarakat masih saudara dari peternak atau bekerja di peternakan tersebut.
2) Persepsi masyarakat berdasarkanhasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat cenderung merasa terganggu terhadap Bau, Pencemaran Air dan limbah peternakan sapi perah diantaran sungai Ci Ge’de.
Saran
1) Sebaiknya para peternak lebih menyadari akan kebersihan dan kesehatan kandang dan lingkungan sekitar yang terkena dampak negatif dari limbah peternakan, dengan demikianmasyarakat sekitar dapat menerima keberadaan peternak disekitaran permukiman, caranya dengan mengadukan keluhan masyarakat bukan hanya kepada peternak saja akan tetapi ke intansi terkait seperti Dinas Peternakan atau Dinas Kesehatan sehingga peternak dan masyarakat akan dibingbing secara keilmuan, dan intansi tersebut mempunyai wewenang untuk memberikan sangsi hukuman. Sehingga peternak akan mematuhi ketentuan yang berlaku.
2) Peternak haruslah memilih tempat yang strategis untuk mendirikan kandang yang jauh dari pemukiman warga dan mengolah limbah peternakan menjadi produk yang berguna seperti Bio gas dan Pupuk organik, sehingga dapat menghasilkan pendapatan tambahan bagi peternak dan mengurangi dampak dari limbah peternakan bagi masyarakat.
3) Harus ada pendataan tentang keberadaan para pengusaha peternak sapi dari instansi pemerintah sehingga penyampaiansaran dan kritik dari masyarakat bisa tersampaikan dan bisa menyelesaikan permasalahan dengan solusi yang tepat bagi masyarakat dan peternak.
DAFTAR PUSTAKA
Bimo W. 1994. Pengantar Psikologi Umum, Andi Offsed, Yogyakarta
Dangnga, M, S. 1992. Persepsi Remaja Terhadap Perkawinan Ideal Di Kotamadya Pare-Pare. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI.2012.Pedoman Teknis Pengembangan Budidaya Sapi Perah Pola PMUK. Diunduh dari situs :
http://www.deptan.go.id/pedum2012/PETERNAKAN/1.5.%20pedoman%
20budidaya%20teknis%20peng%20sapi%20perah%20pola%20PMUK.pdf : diakses 22 Pebuari 2016
Eddy N. 2003. Pemanfaatan Limbah Ternak Ruminansia Untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana/S3 Institut Pertanian Bogor.
Emawati, S. 2011. “Profitabilitas Usahatani Sapi Perah Rakyat di Kabupaten Sleman”. Journal Science Peternakan.
Hassan S .1984. Sosiologi untuk masyarakat Indonesia Penerbit Bina Aksara, Jakarta.
Kartini, K. 1984. Psikologi Umum, Alumni, Bandung
Likert R. 1932 . A Technique for the Measurment of Attituues. Archives of psychology.
Mustansyir, R dan Munir, M. 2003. Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Phillips, 2002. Feeding Strategies to optimize Milk Protein. Departement Of Animal Science Cornell University.
Rianto, E. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong.Penebar Swadaya, Jakarta.
Rusidi. 1992. Dasar-dasar Penelitian Dalam Rangka Pengembangan Ilmu.
Unpad : Bandung.
Said, R. 1995. Pengantar Ilmu Kependudukan. LP3SE (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), Jakarta
Sihombing. 1997. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Siegel, S.1997. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Soehadji, 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan
Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Soehartono, I. 1995. Metode Penelitian Sosial. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta, Bandung.
Suherman, D. 2008. “Evaluasi penerapan aspek teknis peternakan pada usaha peternakan sapi perah sistem individu dan kelompok di Rejang Lebong”. J.
Sains Peternakan Indonesia.
Suharsimi Arikunto, 1997. Prosedur Penelitian. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta Swastika, D.K., M.O.A. Manikmas., B. Sayaka., K. Kariyasa. 2005. The Status
and Prospect of Feed Crops in Indonesia. ESCAP, United Nations.
Umar, H. 2003. Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Ghalia Indonesia, Jakarta.