• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA KONSEP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KERANGKA KONSEP"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

8

BAB II

KERANGKA KONSEP

2.1 Tinjauan Karya Sejenis

2.1.1 Tempo Institute

Gambar 2.1 Tempo Institute “Jurnalisme Investigasi ala TEMPO”

Tempo Institute merupakan lembaga yang berada di bawah Tempo Media Grup yang berfokus pada pengembangan jurnalistik, media, dan komunikasi di Indonesia yang berdiri pada 21 Mei 2009. Tempo Institute ini melakukan beberapa kegiatan seperti pelatihan jurnalistik, media, komunikasi, riset, penerbitan, diskusi, dan pengembangan jejaring berbagai elemen. Pada 2 April 2017, Tempo Institute mulai membuat sebuah channel di platform Youtube bertemakan kelas online yang bertujuan agar masyarakat dapat belajar tentang cara kerja seorang jurnalis atau wartawan, mulai dari perencanaan liputan, riset, memilih angle, mengumpulkan informasi,

(2)

9 menulis berita, hingga penyuntingan. Sehingga dari cara tersebut diharapkan akan menghasilkan sebuah produk berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Dalam salah satu kontennya yang berjudul

“Jurnalisme Investigasi ala TEMPO.” Tempo Institute ini menyajikan sebuah kegiatan jurnalis yang meliput dengan menggunakan teknik investigasi, jurnalisme investigasi merupakan pekerjaan yang sangat sulit dan berbahaya, dalam video tersebut dijelaskan bahwa seorang jurnalis atau wartawan yang mampu mengerjakan peliputan dengan teknik investigasi hanya jurnalis atau wartawan-wartawan yang memiliki nyali yang cukup besar kata Philipus Parera, yakni Redaktur Eksekutif Tempo English, Mantan Redaktur Pelaksanaan Kompartemen Investigasi Tempo.

Sehingga pada video wawancara dari Tempo Institute, penulis menjadikan karya tersebut sebagai tinjauan karya sejenis karena, Tempo Institute memaparkan sebuah video yanag berisikan informasi suatu wawancara tentang seorang jurnalis investigasi melalui wawancara seorang Redaktur Eksekutif, dari hal tersebut penulis menemui kesamaan dengan program televisi yang penulis buat. Yang membedakannya adalah pada bagian topik, Tempo Institute membangun topik dengan mewawancarai seorang Redaktur yang menceritakan

(3)

10 kerja jurnalis investigasi sedangkan penulis mengambil gambaran mengenai alur cerita dari kerja seorang jurnalis olahraga dalam memproduksi konten berita. Sama halnya dengan Tempo Institute yakni peliputan acara diprogram yang penulis buat menyajikan seorang jurnalis yang langsung memandu jalannya cerita dari program penulis.

Sehingga dari tayangan video Tempo Institute, penulis dapat mengambil setiap cara pengambilan gambar serta pembawaan acara untuk karya Programming-Based Project ini.

2.1.2 Kompas TV

Gambar 2.2 Program Kompas TV “Yuk, Intip di Balik Layar Kerja Camera Person KompasTV!”

Kompas TV merupakan sebuah perusahaan media yang berfokus pada konten berita. Kompas TV sendiri dimiliki oleh KG Media, anak usaha Kompas Gramedia. Pada awalnya, Kompas TV merupakan televisi sebagai penyedia

(4)

11 konten dengan acara-acara berbasis hiburan pada 9 November 2011, namun secara perlahan statusnya berubah menjadi sebuah jaringan televisi dan pada tahun 2016 acara Kompas TV berubah menjadi berbasis berita hingga saat ini. Penamaan Kompas TV sendiri diambil dari surat kabar yang dimiliki oleh Kompas Gramedia, yaitu Harian Kompas. Seiringin berjalannya waktu, Kompas TV pun mulai meluncurkan program channel di platform Youtube pada 23 Agustus 2013 untuk menampilkan sajian konten berita, storytelling, Sosial, ideas sharing, inspiring stories, live report maupun interviews. Dalam salah satu videonya yang berjudul “Yuk, Intip di Balik Layar Kerja Camera Person KompasTV!”

menampilkan sejumlah kegiatan yang dilakukan

Ersyad Prakoso salah satu camera person atau kameraman studio dari Kompas TV ini menjabarkan mengenai tugas-tugas yang dilakukan oleh kameraman studio. Camera person sangat berperan penting dalam keberlangsungan suatu proses produksi program televisi. Selain itu juga, tugas seorang camera person atau kameraman studio memiliki sejumlah tanggung jawab, mulai dari persiapan alat seperti tripod, monitor, lighting, headphone, mengambil gambar, hingga memelihara komunikasi dengan seluruh tim agar acara berjalan lancar.

(5)

12 Sehingga, Penulis menjadikan video ini sebagai tinjauan karya sejenis karena video ini menunjukan konsep produksi yang akan dijadikan dalam program televisi seperti peralatan-peratalan yang digunakan saat proses produksi serta pemilihan pengambilan gambar.

2.1.3 Wordpress.com (Di balik layar dan hal – hal lainnya)

Gambar 2.3 Artikel wordpress.com yang berjudul Diki Umbara “Di balik layar dan hal – hal lainnya”

WordPress adalah platform pembuatan website yang diciptakan oleh Matt Mullenweg dan Mike Little pada tahun 2003. Sejarah WordPress berawal dari ditutupnya software blogging bernama b2/cafeblog, Matt dan Mike sebagai pengguna b2/cafeblog, menginisiasi pembuatan software serupa. Di tahun 2004, kedua progammer itu berhasil merilis WordPress 1.0 dengan fungsi-fungsi dasar seperti yang dimiliki b2/cafeblog yang dimodifikasi. Sejak saat itulah perjalanan WordPress dimulai hingga saat ini menjadi

(6)

13 perangkat lunak paling populer di seluruh dunia. Yang menarik dari WordPress adalah software yang bersifat open source. Artinya WordPress bisa digunakan secara gratis dan bebas untuk dimodifikasi oleh siapa saja. Selain itu, WordPress menyediakan plugin yang memudahkan pengguna untuk menambahkan fitur di website hanya dengan sekali klik.

Pada artikel wordpress.com yang berjudul “Di balik layar dan hal – hal lainnya” ini membahas salah satu program acara Hotman Paris Show dari seorang tim kreatif yang bekerja di salah satu program acara televisi ini. Diceritakan dimulai dari bagaimana pekerjaan tim kreatif dalam dunia pertelevisian, melakukan riset salah satu tugas penting seseorang yang tergabung di tim kreatif adalah riset. Apapun jenis program acara televisi bahwa riset itu hal paling penting apalagi genre talkshow tentu saja. Karena itulah, baik sebelum mendapatkan narasumber atau bintang tamu maupun setelah bintang tamu itu ditentukan dan didapat maka tim kreatif melakukan riset hasil riset ini kelak akan berguna, untuk membuat naskah serta pertanyaan kepada narasumber. Hasil riset juga bisa diberikan kepada pembawa acara agar sebelum melakukan wawancara, ia sudah memiliki pengetahuan terlebih dulu. Data yang telah didapat dari riset diolah sedemikian rupa sehingga outputnya akan menjadi naskah

(7)

14 untuk VT (Video Tape) yakni materi yang akan ditayakan saat talkshow serta menjadi bahanpertanyaan yang disusun menjadi question list. Kemudian saat pra produksi ia juga harus kembali ke kantor untuk merapihkan video yang sudah di lakukan saat proses shooting.

Penulis menjadikan artikel Wordpress.com ini sebagai tinjauan karya sejenis karena artikel ini menunjukan konsep jurnalisme televisi yang akan dijadikan dalam program televisi. Persamaan dalam artikel tersebut mengulas mengenai proses pekerjaan jurnalisme televisi dari mulai melakukan tugas riset, produksi, dan pra produksi. Hal tersebut memiliki kesamaan dalam alur acara program dalam karya penulis tentang dibalik layar jurnalisme televisi.

2.1.4 The Newsroom NET TV

Gambar 2.4 Program dibalik layar jurnalis NET TV

(8)

15 The Newsroom merupakan sebuah program acara realitas yang disiarkan di NET. sejak 19 Mei 2018. Acara ini menampilkan sejumlah di balik layar kegiatan para jurnalis NET. dalam melaporkan sejumlah peristiwa terkini di masyarakat. Dengan mengambil latar belakang dunia jurnalisme televisi yang penuh suka-duka karena target berita dan kenyataan yang didapat sering tidak sesuai harapan, maka The Newsroom memperkenalkan para reporternya yang rata- rata berpenampilan menarik sebagai kunci penting untuk meraih perhatian para penonton.

Program berita seperti ini hanya bisa lahir dari stasiun televisi yang melihat berita bukan hanya komoditas serius tapi juga hiburan. Karena program ini menampilkan tayangan talkshow, dialog, dan tatap muka yang kebanyakan didominasi gerakan kamera statis sehingga kurang visualisasi dan imajinasi. Pembuat program ini sepertinya menyadari berita keseharian dari sumber berita yang bisa menjadi kering dan tidak punya unsur menjual bila ditampilkan apa adanya serta kurang visual sehingga dicarilah cara bagaimana mengemasnya sehingga menjadi konten yang menarik.

Penulis menjadikan program The Newsroom ini sebagai tinjauan karya sejenis, karena setiap kegiatan dari jurnalis NET TV ini nantinya akan dikemas dalam sebuah

(9)

16 program yang akan diunggah ke stasiun televisi. The Newsroom memaparkan sebuah liputan yang berisikan informasi suatu kondisi seorang reporter televisi di tempat kejadian peliputan, dari hal tersebut penulis menemui kesamaan dengan program televisi yang akan penulis buat.

Yang membedakannya adalah The Newsroom NET ini membangun topik dengan mengambil topik dari reporter jurnalis NET TV itu sendiri, sedangkan penulis mengambil beberapa gambaran mengenai alur cerita dari peliputan yang akan penulis lakukan, yakni topik yang penulis angkat merupakan topik seorang jurnalis olahraga.

Dari tayangan Program dari The Newsroom NET penulis dapat mengambil konsep beserta cara-cara pengambilan gambar serta jalan cerita sebuah peliputan untuk karya program yang sedang penulis buat saat ini.

Tabel 2.1 Perbandingan Tinjauan Karya-Karya Sejenis Terdahulu dengan Karya Penulis

Karya 1 Karya 2 Karya 3 Karya 4 Karya Penulis

Judul Jurnalisme Investigasi ala TEMPO

Yuk, Intip di Balik Layar Kerja Camera Person

KompasTV!

Wordpress.c om yang berjudul Diki

Umbara “Di balik layar dan hal – hal lainnya”

The

Newsroom

Jurnalis Olahraga dalam Memproduks i Konten Berita

(10)

17 Pembuat

& Tahun Publikas i

Tempo Institute (2020)

Kompas TV (2013)

Worspress (2019)

NET TV (2018)

Muhammad Ibnu

Prasetyo (2021)

Bentuk Karya

Video Wawancara

Program televisi Berita Feature

Program televisi

Program televisi Topik Membahas

sebuah video yang

berisikan informasi suatu wawancara tentang seorang jurnalis investigasi melalui wawancara seorang Redaktur Eksekutif

Menjabarkan mengenai tugas- tugas yang dilakukan oleh kameraman studio

Menceritak an keseharin Jurnalis Televisi bekerja di salah satu program tv sebagai tim kreatif

Memaparkan sebuah liputan yang

berisikan informasi suatu kondisi seorang reporter televisi di tempat kejadian peliputan

Menggambar kan sejumlah kegiatan dibalik layar para jurnalis olahraga dalam memproduks i sebuah konten berita

2.2 Teori atau Konsep-Konsep yang Digunakan

2.2.1 Strategi program

Menurut Fred (2002, p. 5) strategi merupakan sebuah upaya untuk mencapai tujuan-tujuan pada jangka panjang yang merupakan sebuah tindakan berdasarkan ketentuan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan yang banyak untuk merealisasikannya.

(11)

18 Keberhasilan dan meningkatnya rating tidak lepas dari strategi program yang digunakan oleh setiap tim program televisi agar mampu merebut perhatian audiens. Strategi program sendiri pilihan tentang apa yang ingin dicapai serta bagaimana cara mencapainya. Strategi yang telah ditetapkan tersebut kemudian direalisasikan dalam bentuk manajemen agar dapat berjalan sesuai tujuan. Manajemen tersebut meliputi perencanaan sebuah program, pengorganisasian, serta evaluasi yang dilakukan setiap saat. Melalui manajemen yang baik inilah, sebuah strategi program dijalankan.

Sebuah strategi dibutuhkan pengelola stasiun penyiaran tidak hanya untuk mencapai tujuan program yang telah disepakati sebelumnya, tetapi juga untuk mempertahankan apa yang telah dicapai selama ini.

Tanpa sebuah strategi, mustahil suatu program akan berumur panjang.

Strategi program yang ditinjau dari aspek manajemen atau sering juga yang disebut dengan manajemen strategi program itu terdiri dari Perencanaan program, produksi program, eksekusi program, pengawasan dan evaluasi program.

2.2.2 Produksi program

Program bisa diperoleh dengan upaya membeli atau memproduksi programnya sendiri. Suatu program yang dibuat sendiri oleh stasiun televisi tersebut dikenal dengan istilah

(12)

19 memproduksi sendiri. Jika program dibuat oleh pihak lainnya, berarti stasiun televisi tersebut harus membeli program itu.

Proses produksi dibagi menjadi tiga tahapan yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi, berikut adalah beberapa tahapan produksi program:

a. Tahap pra produksi atau perencanaan

Pra produksi adalah tahap paling penting dalam sebuah produksi televisi, yaitu merupakan semua tahapan persiapan sebelum sebuah produksi dimulai. Makin baik sebuah perencanaan produksi, maka akan memudahkan proses produksi televisi (Fachruddin, 2012, pp. 10-11).

Pra produksi pun dibagi menjadi beberapa tahapan yang berbeda-beda, yaitu:

1) Penemuan Ide

Tahap ini dimulai ketika seorang produser menemukan sebuah gagasan atau ide, membuat riset dalam menuliskan naskah. Produksi sebuah program televise selalu dimulai dari ide atau gagasan yang kemudian dituangkan kedalam sebuah naskah atau skrip. Naskah merupakan sebuah landasan yang diperlukan untuk membuat sebuah program televise apapun bentuk acaranya.

(13)

20 2) Perencanaan

Dalam proses produksi sebuah siaran televise, unsur perencanaan harus ada agar langkah-langkah yang akan dilakukan akan menjadi mudah dan terarah, karena sudah adanya perencanaan. adapun hal-hal yang ada dalam sebuah perencanaan antara lain:

- Crew

Pembentukan sebuah kru yang benar-benar kompeten dengan bidang dan kemampuannya. Dalam hal ini seorang produser program harus benar-benar memperhatikan dalam menentukan kru yang benar-benar layak untuk dipilih, dengan tujuan menciptakan sebuah team yang baik.

- Biaya

Biaya juga harus benar-benar sudah diperhitungkan dalam sebuah perencanaan, hal ini bertujuan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi program siaran televisi.

- Rapat para crew

Kegiatan ini merupakan bagian dari perencanaan sebuah proses produksi siaran televisi, yang mana

(14)

21 bertujuan agar seluruh crew bener-bener paham dan mengerti dengan apa yang akan dikerjakan. Perlunya dilakukan rapat para crew, dengan tujuan memberi arahan sebelum dilakukannya produksi sehingga target program dapat tercapai.

3) Pembuatan Naskah

Penulisan naskah merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seorang penulis naskah dengan secara bertahap, bermula dari ide kemudian dikembangkan menjadi sebuah naskah akhir untuk divisualisasikan oleh sutradara.

Penulisan naskah disebut juga sebagai kerangka manusia sehingga mempunyai keahlian dalam membuat karya video dalam bentuk tertulis atau pekerja kreatif yang dapat mengembangkan sebuah ide menjadi cerita tertulis yang selanjutnya divisualisasikan.

Menurut Lutters (2004, p. 14) menyebutkan penulisan naskah memiliki tugas penting yang harus dikerjakan, yakni.

1. Membangun cerita melalui jalan cerita yang baik dan masuk akal.

2. Menjabarkan ide atau gagasan melalui jalan cerita dan bahasa.

(15)

22 3. Membangun emosi melalui bahasa dan kalimat pada setiap adegan tanpa harus memvisualisasikan kekerasan yang tidak mendidik.

4. Memberikan cerita yang tidak habis saat selesai ditonton, namun harus berkesan bagi penonton.

Seorang penulis naskah harus bisa bekerja sama dalam tim produksi. Biasanya produser akan memilih penulis naskah yang mampu berkompromi dengan tim produksinya.

Sehingga seorang penulis naskah diharuskan bekerja keras dan mampu melihat secara benar dari setiap kata, bahasa, dan kalimat yang akan disusun menjadi rangkaian naskah.

4) Persiapan

Mendekati proses produksi yang sesungguhnya, semua peralatan harus dipersiapkan. Dalam tahap ini merupakan tahapan persiapan-persiapan segala hal yang bersifat teknis dan dilakukan oleh anggota inti dengan rekan kerjanya, yaitu, mempersiapkan peralatan yang digunakan baik untuk keperluan di dalam maupun di luar studio, sampai mempersiapkan denah untuk seting lampu, kamera, mikrofon maupun tata dekorasi. Banyak waktu yang dibutuhkan untuk

(16)

23 set up harus ditentukan selama pra produksi dan selalu tergantung pada kerumitan program dan biaya.

b. Tahap produksi

Tahap kedua ini merupakan proses inti dari sebuah proses produksi. Dalam proses produksi, seluruh tim mempersiapkan dan melakukan pengecekan alat yang digunakan dalam proses produksi.

Seperti kamera yang digunakan, penggunaan lighting dan audio.

Setelah itu melakukan pengambilan gambar sesuai dengan shooting script berdasarkan naskah yang ditulis.

Secara standart terdapat beberapa tipe shot dalam pengambilan gambar seperti Long Shot, Medium Shot, dan Close up.

- Long Shot

Merupakan shot jarak jauh untuk memperlihatkan hubungan subjek dengan latar belakangnya, umumnya dipakai untuk memberikan orientasi atau Establising shot yaitu teknik pengambilan gambar untuk shot pembuka dari suatu adegan yang memperlihatkan tempat dan waktu adegan itu berlangsung.

- Medium Shot

(17)

24 Objek orang yang diambil dengan medium shot akan tampak dari kepala sampai pinggang. Shot ini menjembatani antara long shot dengan close up.

- Close Up

Jarak kamera yang mengambil bagian suatu objek, sub objek. Bisa diartikan shot penekanan untuk perhatian terhadap suatu aspek dari subjek. Misalnya subjek adalah manusia, maka shot pada bagian wajah saja, tangan saja, dada saja, atau kaki saja. Shot ini bisa menimbulkan reaksi, tanggapan dan emosi.

c. Tahap pasca produksi

Pada tahap ini merupakan tahapan akhir dari sebuah proses produksi. Pasca produksi biasanya identik dengan editing, karena proses inilah kemasan hasil akhir dari program di tentukan.

Pasca produksi lebih berorientasi untuk program-program yang bersifat tidak langsung (recording), karena untuk siaran langsung biasanya langsung pada vision mixer yaitu alat untuk memilih beberapa sumber video yang berbeda oleh program director untuk ditransmisikan secara langsung ke penonton (Setyobudi, 2006, p. 58).

Pada teknik editing ada beberapa bentuk proses editingnya, antara lain:

(18)

25 - Editing

Merupakan penggabungan dari beberapa scene yang telah di shooting pada saat tahap produksi, yang mana disusun dan di sesuaikan dengan naskah.

- Mixing

Merupakan rangkaian proses editing, yang mana dalam tahap ini hasil editing di beri sound atau suara baik berupa backsound maupun narasi.

- Review

Memutar ulang hasil produksi, yang mana bertujuan untuk di kaji ulang kembali guna mengantisipasi akan terjadinya kesalahan-kesalahan pada saat tahap-tahap sebelumnya.

- Revisi

Memperbaiki dan menyempurnakan hasil produksi, apabila terdapat perubahan-perubahan yang dihasilkan dari proses review di atas.

- Hasil Akhir

(19)

26 Merupakan proses finalisasi hasil dari sebuah produksi siaran yang mana hasil tersebut memang sudah benar-benar layak untuk disiarkan.

2.2.3 Produser

Dibalik tiga tahapan produksi program, terdapat peran produser dalam program televisi. Produser adalah pimpinan produksi yang mengkoordinasikan seluruh kegiatan pelaksanaan sejak pra produksi, produksi, pasca produksi (Latief & Utud, 2015, p. 124). Seorang produser harus memiliki kemampuan serta selera yang baik, karena di tangan produser suatu program bisa menjadi baik ataupun tidak. Kinerja produser adalah kunci keberhasilan program. Meskipun sistem kerja stasiun televisi adalah kerja kolektif, namun dibutuhkan kemampuan seorang produser dalam seni memimpin, mengorganisasi tim kerja yang mempunyai keahlian, karakter, dan latar belakang yang berbeda. Sehingga, produser televisi harus memiliki kemampuan pengorganisasian dan kreativitas yang baik. Dengan memahami banyak hal, mulai dari masalah kamera, tata cahaya, tata suara, serta teknik editing.

2.2.4 Program Siaran

Program siaran dapat diartikan sebagai satu bagian atau segmen dari isi siaran televisi secara keseluruhan. Sehingga memberikan siaran keseluruhan dalam beberapa program yang diudarakan atau dapat dikatakan siaran keseluruhan satu stasiun

(20)

27 penyiaran terseusun dari beberapa program siaran. Program siaran televisi tidak terlepas dari istilah berpikir kreatif, proses kreatif, produk kreatif serta industri kreatif sehingga kelima istiah tersebut jadi satu kesatuan dalam siaran televisi.

Menurut Latief (2020, p. 1) program siaran merupakan program yang berisi pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau berbentuk grafis, serta berbentuk karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak yang disiarkan oleh media penyiaran. Secara umum program siaran televisi terbagi menjadi dua bagian, yaitu program siaran hiburan dan program siaran informasi.

Program hiburan lebih berorientasi memberikan tayangan hiburan kepada penonton. Sehingga, nilai jurnalistik dari program hiburan tidak diperlukan, tetapi jika memiliki unsur jurnalistiknya hanya sebagai pendukung. Sedangkan program siaran informasi sangat terikat dengan nilai aktualitas dan faktualitasnya, pendekatan produksinya menekankan pada kaidah jurnalistik. Program siaran disiarkan dalam bentuk siaran langsung dan tidak langsung. Siaran langsung adalah segala bentuk program siaran yang ditayangkan tanpa penundaan waktu, sedangkan siaran tidak langsung program siaran rekaman yang ditayangkan pada waktu yang berbeda dengan peristiwanya (Latief, 2020, p. 2).

2.2.5 Rating Program

(21)

28 Sebagai media industri yang menghasilkan sebuah tayangan, stasiun televisi tidak hanya bersaing sesama stasiun televisi yang lain namun juga harus bersaing di dalam pasar mereka dan khalayaknya. Stasiun televisi membutuhkan strategi yang harus dilakukan agar bisa bersaing dengan stasiun televisi lainnya dan meraih rating yang tinggi. Rating program adalah pernyataan angka hasil survei yang dapat membawa pemasangan iklan produknya kepada satu stasiun penyiaran yang mempunyai program dengan nilai rating relatif tinggi (Djamal, 2017, p. 158).

Rating program menjadi salah satu hal yang harus diperhitungkan oleh pengelola stasiun televisi yang menjadi indikator minat masyarakat terhadap suatu acara. Setiap pemilik stasiun televisi perlu menghitungkan rating acara yang menjadi sebuah ukuran untuk mengelola siarannya. Rating tinggi yang didapatkan setiap program akan mengundang pemasukan iklan yang besar. Keberhasilan pernjualan barang dan jasa melalui iklan sebagian besar ditentukan oleh banyaknya audiens yang dimiliki suatu program. Rating menjadi indikator apakah program itu memiliki audiens atau tidak dan juga rating menjadi perhatian bagi pemasangan iklan yang ingin mempromosikan produk atau jasanya (Djamal & Fachruddin, 2017, p. 141).

2.2.6 Wawancara

(22)

29 Edi (2016, p.2) menyampaikan pernyataan Slamet (2011) bahwa wawancara merupakan cara yang dipakai untuk memeroleh informasi melalui suatu kegiatan interaksi antara narasumber yang mau diteliti dan sang peneliti. Pada dasarnya, wawancara dilakukan melalui sesi tanya jawab yang telah dikonstruksi dari makna atau topik bahasan tertentu, sehingga dapat dikatakan bahwa wawancara merupakan proses tanya jawab kepada narasumber terkait topik tertentu.

Dalam ranah jurnalistik, wawancara memiliki sifat yang berbeda-beda. Berikut ini adalah pemaparan sifat wawancara yang Arismunandar bagi menjadi empat (Arismunandar, 2013, p. 8).

1. On the record

Bersifat terbuka dan wawancara paling umum dilakukan di media massa. Sebab, nama narasumber serta kutipan langsung narasumber boleh dimuat dalam media massa

2. Off the Record

Narasumber tetap memberikan keterangannya terhadap suatu isu atau permasalahan. Tetapi, itu sama sekali tidak boleh dimuat dalam media massa.

3. Background

(23)

30 Keterangan atau kutipan langsung apapun yang diberikan boleh dimuat dalam media massa. Namun, tidak menyebutkan nama ataupun jabatan narasumber.

2.2.7 Peralatan

Memproduksi program siaran televisi harus memperhitungkan format program yang diproduksi karena berhubungan dengan peralatan yang digunakan diantaranya kamera, sound system, dan lighting (Latief & Utud, 2017, p. 253). Peralatan seperti ini digunakan untuk membuat suatu program televisi, karena disesuaikan dengan lokasi shooting, outdoor, dan indoor. Secara umum beberapa peralatan atau teknologi yang digunakan dalam produksi siaran televisi adalah sebagai berikut:

- Kamera

Ada tiga jenis kamera yang digunakan dalam produksi program siaran televisi. Kamera ENG (Electronic News Gathering) ini biasa digunakan untuk liputan indoor dan outdoor. Lalu, kamera EFP (Electronic Fild Production) digunakan untuk produksi indoor, outdoor, dan menjadi kamera studio. Selain itu, ada juga yang populer penggunaan kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR). Kamera DSLR yang awalnya hanya untuk fotografi, sekarang dapat digunakan produksi program televisi.

(24)

31 - Sound system

Sound system yang terdiri dari mic, mixer audio, headphone, dan lain-lain. Alat sound system tersebut digunakan untuk keperluan pembicaraan komunikasi antara kameramen dengan sutradara dalam mengkoordinasi serta pemberian instruksi oleh pengarah kepada kameramen.

- Lighting

Lighting atau pencahayaan merupakan proses pengaturan cahaya yang dilakukan oleh tata cahaya dengan maksud untuk memberikan sebuah efek cahaya dalam proses pembuatan video. Fungsi dari lighting sendiri yakni menerangi area studio, supaya objek yang didalam studio terlihat lebih jelas. Lalu, supaya program televisi ini mudah dipahami oleh penonton dimana ada sebuah penerangan yang tadinya biasa menjadi luar biasa.

- OB Van (Outside Broadcasting Van)

Kendaraan OB Van digunakan untuk memuat alat- alat produksi untuk siaran peliputan program televisi, baik yang sifatnya langsung maupun yang tidak langsung.

2.2.8 Jurnalisme Olahraga

(25)

32 Olahraga adalah bentuk aktivitas yang diselenggarakan dengan peraturan-peraturan yang telah ditentukan dalam sebuah kompetisi, hal tersebut agar dapat menciptakan serta meningkatkan kemampuan dan keterampilan fisik dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat (Mardatila, 2020, p. 1). Selain itu, olahraga adalah serangkaian bentuk gerakan secara sadar yang teratur dan dilakukan untuk dapat meningkatkan kemampuan tubuhnya (Giriwijoyo, 2010, p. 41). Olahraga itu sendiri menjadi sebuah aktivitas yang digemari dan juga dapat dilakukan oleh masyarakat luas.

Secara umum jurnalisme olahraga adalah kegiatan jurnalistik yang membahas, meliput, menginformasikan, serta memproduksi berita yang berkaitan dengan dunia dan aktivitas olahraga. Di dalam sebuah media, tema olahraga menjadi nilai yang dapat dijadikan sebagai tema-tema yang menarik bagi audiens. Sex (seks), scandal (skandal) dan sport (olahraga) menjadi tema di kesatuan 3S yang efektif untuk menarik penonton atau pembaca (Muktiyo, 2011, p.

18). Oleh karena itu olahraga merupakan informasi yang diperlukan oleh setiap media. Di setiap media yang ada di Indonesia, dari media cetak sampai media daring terdapat kanal olahraga di dalamnya.

2.2.9 Jurnalisme Televisi

Jurnalisme televisi melibatkan lebih dari sekadar melaporkan berita di televisi. Selain itu, Jurnalisme televisi juga melibatkan penulisan cerita, mengumpulkan fakta, dan lain-lain. Jurnalisme

(26)

33 televisi muncul sejak televisi masih identik dengan hiburan dan juga televisi yang menyiarkan program berita, karena berita televisi dianggap menjadi media yang paling berpengaruh bagi jurnalisme.

Saat ini perkembangan teknologi pertelevisian telah berkembang sangat pesat, hal ini membuat masyarakat bisa lebih mudah dalam mendapatkan informasi. Selain itu, dampak siarannya pun menyebabkan seolah-olah tidak ada lagi batas antara satu negara dengan negara lainnya setelah digunakannya satelit untuk memancarkan signal televisi. Hal ini disebut sebagai globalisasi di bidang informasi. Setiap peristiwa yang terjadi di daratan Eropa maupun di Amerika pada saat yang sama dapat diketahui oleh negara-negara lain dan sebaliknya (Muda, 2005, p. 4).

Televisi menjadi media massa yang paling diunggulkan dibanding dengan pendahulunya, sebab televisi tidak megenal batas.

Televisi memperbanyak efek media dalam menjalankan tugas yang memberikan informasi, hiburan, pendidikan, dan bimbingan. Selain itu, jurnalisme juga terkena dampak di dalam penyajian format laporannya. Meskipun pada awalnya tidak mau karena pengaruh koran dan majalah yang mematenkan kata-kata tercetak. Namun, tak berapa lama akhirnya berita masuk ke dalam siaran-siaran televisi (Santana, 2005, p. 121).

Gambar

Gambar 2.1 Tempo Institute “Jurnalisme Investigasi ala TEMPO”
Gambar 2.3 Artikel wordpress.com yang berjudul Diki Umbara “Di balik  layar dan hal – hal lainnya”
Gambar 2.4 Program dibalik layar jurnalis NET TV
Tabel 2.1 Perbandingan Tinjauan Karya-Karya Sejenis Terdahulu dengan Karya Penulis

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil angket penelitian dan juga didukung dari hasil wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan, guru telah memiliki kecenderungan bertindak mendukung

Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 88 dari geguritan yang penulis analisis dalam Antologi Puisi “Guritan” Karya Suripan Sadi

Tujuan utama dalam penelitian ini adalah membuat suatu pengukuran kinerja dengan menggunakan metode balance scorecard agar setiap project yang dikerjakan setiap team yang

Sebagai bahan baku, tanaman lidah buaya tidak bisa digunakan secara langsung dalam bentuk pelepah segar, tetapi harus diolah dahulu menjadi gel ( aloe gel ) atau

Non Player Character atau NPC, adalah sebuah objek dalam game yang berupa objek karakter dapat berupa manusia, hewan, robot, dan lain – lain yang tidak

Bercliri' melonrpat clen-qan keting'lian l0 cnr kedtra kaki simLrltan Bercliri: melompat diatas kaki kanan l0 kali didalarn lin-ekaran 60 CM. Beroiri: melompat diatas

2 Memahami metode OLS, estimasi, dan inferensi Metode OLS, asumsi, estimasi, dan inferensi 3x50 menit Teks, handout, softwere Penugas an Diskusi, presentasi Membaca

Menyimak kritis (critival listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupa untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan