15 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Tindak Pidana
1. Pengertian Tindak Pidana
Hukum Pidana Belanda menggunakan istilah strafbaarfeit. Hukum Pidana negara Anglo Saxon memakai istilah Offense atauacriminal act untuk maksud yang sama. Oleh karena KUHP Indonesia bersumber pada Hukum Belanda, maka istilah aslinya pun sama yaitu strafbaarfeit.
Istilah Strafbaarfeit terdiri dari tiga unsur yakni straf, baar, dan feit.
Straf berarti hukuman (pidana), baar berarti dapat (boleh), serta feit yang berarti peristiwa (perbuatan).Tindak Pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenai hukuman pidana.1Istilah Strafbaarfeit yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi:
a. Perbuatan yang dibperbolehkan oleh hukum b. Peristiwa pidana
c. Perbuatan pidana d. Tidak pidana e. Delik.2
1 Wirjono,Prodjodikoro,Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2009, hlm. 59.
2 Sianturi S.R , Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Tentara Nasional Indonesia, 2012, hlm.200.
16 Selain istilah Starbaarfeit atau dikenal sebagai tindak pidana penulis juga mengemukakan pendapat dari para ahli hukum tentang pengertian Starbaarfeit yaitu :
a. Menurut Moeljanto, yang dimaksud dengan “starbaarfeit” adalah : “Perbutan pidana”. Pengerian pidana menurut beliau adalah:
“Perbuatan yang dilarang dan diancam pidana barangsiapa melanggar pelanggaran tersebut”. Perbuatan harus pula betul-betul dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak boleh atau menghambat tercapainya tata dalam pergaulan masyarakat yang dicita-citakan oleh masyarakat itu. Maka perbuatan pidana secara mutlak harus mengandung unsure formil yaitu mencocoki rumusan undang-undang dan unsur materiil yaitu sifat bertentangan dengan cita-cita mengenai pergaulan masyarakat atau dengan pendek, sifat melawan hukum.3
b. Menurut R.Tresna, yang dimaksud dengan ”starbaarfeit” adalah :
“Peristiwa Pidana” yang dicita-citakan oleh masyarakat itu.
Maka perbuatan pidana secara mutlak harus mengandung unsure formil yaitu mencocoki rumusan undang-undang dan unsur materiil yaitu sifat bertentangan dengan cita-cita mengenai pergaulan masyarakat atau dengan pendek, sifat melawan hukum.4
3 Moejatno, Azas-azas Hukum Pidana, Rineke Cipta, Jakarta,1993, hlm.56
4 Ibid,Hlm.130
17 c. Menurut Wirjono Prodjodikoro yang dimaksud dengan
”starbaarfeit” adalah :
“Tindak Pidana”. Tindak pidana adalah: “Suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukum pidana dan pelakunya itu dapat dikatakan merupakan subjek tinda pidana”.5
Pada prinsipnya bahwa setiap pengertian Tindak Pidana yang digunkaan oleh para sarjana adalah berbeda, namun memiliki kesamaan dalam perbuatan tersebut adalah dapat dipidana. Untuk dapat dipidana seseorang sebagai penanggung jawab pidana, maka tidak cukup dengan dilakukan tindakan pidana saja, akan tetapi disamping itu harus ada kesalahan atau sikap batin yang dicela atau lebih dikenal dalam hukum pidana sebagai azas hukum yang tidak tertulis yaitu “ Geen Straf Zonder Schuld Keine Strafe” (tidak dapat dipidana jika tidak ada kesalahan).
Jadi dalam “Geen Straf Zonder Schuld Keine Strafe” mengandung tiga unsur untuk dapat dikatan salah, yaitu :
1. Kemampuan bertanggungjawab
2. Adanya keadaan batin dari pelaku yang dihubungkan dengan bentuk kesengajaan (opzet) atau kealpaan
5 R.Tresna, Azas-azas Hukum Pidana Disertai Pembahasan Beberapa Perbuatan Pidana Yang Penting, Tiara LTD, Jakarta, 1979, hlm 27
18 3. Tidak terdapatnya alasan pemaaf/pembenaraan dari suatu
kejadian atas perbuatan 2. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Untuk mengetahu tindak pidana,maka pada umumnya dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan pidana tentang perbuatan- perbuatan yang dilarang dan disertai dengan sanksi. Dalam rumusan tersebut ditentukan beberapa unsur atau syarat yang menjadi ciri atau sifat khas dari perbuatan lain yang tidak dilarang.
Perbuatan manusia saja yang boleh dilarang oleh aturan hukum, berdasarkan kata majemuk perbuatan pidana, maka pokok pengertian ada pada perbutan itu, tapi tidak dipisahkan dengan orangnya. Ancaman (diancam) dengan pidana menggambarkan bahwa tidak meski perbuatan itu dalam kenyataanya benar-benar dipidana. Apakah In concert, orang yang melakukan perbuatan itu dijatuhi pidana ataukah tidak merupakan hal yang lain dari pengertian perbuatan pidana.
Unsur tindak pidana terdiri dari unsur formil dan materil yaitu : Unsur formil meliputi:
a. Perbuatan manusia, yaitu perbuatan dalam arti luas, artinya tidak berbuat yang termasuk perbuatan dan dilakukan oleh manusia.
b. Melanggar peraturan pidana, dalam arti bahwa sesuatu akan dihukum apabila sudah ada peraturan pidana sebelumnya yang telah mengatur perbuatan tersebut, jadi hakim tidak dapat
19 menuduh suatu kejahatan yang telah dilakukan dengan suatu peraturan pidana, maka tidak ada tindak pidana.
c. Diancam dengan hukuman, hal ini bermaksud bahwa KUHP mengatur tentang hukuman yang berbeda berdasarkan tindak pidana yang telah dilakukan.
d. Dilakukan oleh orang yang bersalah, dimana unsur-unsur kesalahan yaitu harus ada kehendak, keinginan atau kemauan dari orang yang melakukan tindak pidana serta orang tersebut berbuat sesuatu dengan sengaja, mengetahui dan sadar sebelumnya terhadap akibat perbuatannya. Kesalahan dalam arti sempit dapat diartikan kesalahan yang disebabkan karena si pembuat kurang kurang memperhatikan akibat yang tidak dikehendaki oleh Undang-undang.
e. Pertanggung jawaban yang menentukan bahwa orang yang tidak sehat ingatannya tidak dapat diminta pertanggungjawabannya.
Dasar dari pertanggungjawaban seseorang terletak dalam keadaan jiwanya.6
Unsur material dari tindak pidana bersifat bertentangan dengan hukum, yaitu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sehingga perbuatan yang tidak patut dilakukan. Jadi meskipun perbuatan itu memenuhi rumusan undang undang, tetapi apabila tidak bersifat melawan hukum, maka perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak
6 Moelajtno,Asas-asas Hukum Pidana, PT.Rineka Cipta, Jakarta,1993,hlm 54.
20 pidana. Unsur-unsur tindak pidana dalam ilmu hukum pidana dibedakan dalam dua macam, yaitu unsur objektif dan unsur subjektif.
Unsur objektif adalah unsur yang terdapat diluar diri pelaku tindak pidana. Unsur ini meliputi :
a. Perbuatan atau kelakuan manusia, dimana perbuatan atau kelakuan manusia itu ada yang aktif (berbuat sesuatu), missal membunuh (Pasal 338 KUHP), menganiaya (Pasal 351 KUHP).
b. Akibat yang menjadi syarat mutlak dari delik. Hal ini terdapat dalam delik material atau delik yang dirumuskan secara material, misalnya pembunuhan (Pasal 338 KUHP), Penganiayaan (Pasal 351 KUHP), dan lain-lain.
c. Ada unsur melawan hukum. Setiap perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh peraturan perundang-undangan hukum pidana itu harus bersifat melawan hukum, meskipun unsur ini tidak dinyatakan dengan tegas dalam perumusan.
Menurut R.Abdoel Djamali, peristiwa pidana yang juga disebut tindak pidana atau delict ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan yang dapat dikenakan hukuman pidana. Suatu peristiwa hukum dapat dinyatakan sebagai peristiwa pidana kalau memenuhi unsur-unsur pidananya. Selanjutnya R.Abdoel djamali menyatakan sebagai berikut : “Unsur objektif Suatu tindakan (perbuatan) yang bertentangan dengan hukum dan mengindahkan akibat yang oleh hukum dilarang dengan ancaman hukum.Yang dijadikan titik utama dari pengertian
21 objektif disini adalah tindakannya. Adapun yang dimaksud dengan unsur subjektif adalah perbuatan seseorang yang berakibat tidak dikehendaki oleh undang-undang sifat unsur ini mengutamakan adanya pelaku (seseorang atau beberapa orang)”7
Unsur-unsur subjektif tindakan pidana adalah sebagai berikut:
a. Perasaan takut seperti yang antara lain terdapat dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP,
b. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad, seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP,
c. Berbagai maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan lain-lain,
d. Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud di dalam Pasal 53 ayat (1) KUHP, e. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dollus atau culpa).
Unsur-unsur objektif tindakan pidana adalah sebagai berikut:
a. Kausalitas, yakni hubungan antara suatu tindakan sebagai penyebab dengan suatu kenyataan sebagai akibat,
7 R.Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia Edisi Revisi, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, hlm.175
22 b. Kualitas dari si pelaku, misalnya keadaan sebagai seorang pegawai negeri dalam kejahatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus suatu perseroan terbatas, dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP,
c. Sifat melawan hukum atau wederrechtelijkheid.8
Perumusan simons mengenai tindak pidana yang dikutip dalam buku ”Intisari Hukum Pidana”, menunjukan unsur-unsur tindak pidana sebagai berikut :
a. Handeling, perbuatan manusia, dengan hendeling dmaksudkan tidak saja eendoen (perbuatan) tetapi juga “een natalen” atau
“niet doen” (melalaikan atau tidak berbuat)
b. Perbuatan manusia itu harus melawan hukum (wederrechtelijk) c. Perbuatan itu diancam pidana (Strafbaarfeit Gesteld) oleh UU d. Harus dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung
jawab (toerekeningsvatbaar).
e. Perbuatan itu harus terjadi karena kesalahan.9 B. Tinjauan Tentang Pembalakan Liar
1. Pengertian Pembalakan Liar
Pembalakan liar adalah salah satu kejahatan terbesar di Indonesia, dengan begitu luas hutan di setiap pulau Indonesia menjadikan
8 Leden Marpaung, Asas, Teori,Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2009,hlm.10-11.
9 Mustafa Abdullah dan Ruben Achmad, Intisari Hukum Pidana Ghalia Indonesia, Jakarta,1983, hlm 26-27
23 kesempatan bagi para Oknum untuk menebang hutan demi keuntungan sendiri tanpa melihat konsekuensi yang dilakukan.
Permasalahan pembalakan liar tidak pernah selesai dibicarakan, Dari tahun ke tahun isu tersebut justru semakin memanas, karena penyelesaiannya tak kunjung mencapai titik temu. Kerusakan lingkungan yang di timbulkannya, kemudian menyebabkan bencana alam dan bencana ekonomi yang berkesinambungan.
Pembalakan liar merupakan tindakan kontradiktif yang mengindikasikan wujud tidak mensyukuri karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu pembalakan liar dianggap sebagai pengingkaran terhadap pendayagunaan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila.
Pembalakan liar dalam istilah bahasa Inggris disebut Illegal Logging berdasarkan terminologi berasal dari dua suku kata, yaitu illegal yang berarti praktik tidak sah dan logging yang berarti pembalakan atau permanenan kayu. Dengan demikian pembalakan liar dapat diartikan sebagai praktek permanen kayu tidak sah.10
Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 4 yang dimaksud dengan pembalakan liar
10 Supriadi,op.cit,hlm 299.
24 adalah semua kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu secara tidak sah yang terorganisasi. Pembalakan liar merupakan salah bentuk dari perusakan hutan. Hal ini sesuai dengan pengertian perusakan hutan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, yakni :
“Perusakan hutan adalah proses, cara, atau perbuatan merusak hutan melalui kegiatan pembalakan liar, penggunaan kawasan hutan tanpa izin atau penggunaan izin yang bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian izin di dalam kawasan hutan yang telah ditetapkan, yang telah ditunjuk, ataupun yang sedang diproses penetapannya oleh Pemerintah”.
Menurut Supriadi definisi lain dari pembalakan liar, adalah operasi/kegiatan kehutanan yang belum mendapat izin dan merusak11. Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW), membagi Pembalakan Liar menjadi dua, yaitu : Pertama yang dilakukan oleh operator yang sah yang melanggar ketentuan-ketentuan dalam izin yang dimilikinya. Kedua, melibatkan pencuri kayu, pohon-pohon ditebang oleh orang sama sekali tidak mempunyai hak legal untuk menebang pohon.12
Menurut Risa Suarga, praktek eksploitasi hutan secara ilegal, mencakup tiga hal yaitu:
11 Supriadi,Loc.cit.
12 Risa Suarga, Pemberantasan Illegal logging, Optimisme di Tengah Praktek Premanisme Global, Wana Aksara, Tanggerang, 2005, Hlm.7
25 1. Pembalakan liar
Merupakan praktek langsung pada penebangan pohon di kawasan hutan secara ilegal. Dilihat dari jenis kegiatannya, ruang lingkup pembalakan liar terdiri dari :
a. Rencana penebangan, meliputi semua atau sebagian kegiatan dan pembukaan akses ke dalam hutan negara, membawa alat- alat atau sarana dan prasrana untuk melakukan penebangan pohon untuk tujuan eksploitasi kayu secara ilegal.
b. Penebangan pohon dalam makna sesungguhnya untuk tujuan eksploitasi kayu secara ilegal.
2. Pemrosesan ilegal
Merupakan semua atau sebagian kegiatan sebagai proses lanjutan terhadap kayu (logs) hasil tebangan secara ilegal.
Dilihat dari jenis kegiatannya, ilegal processing terdiri atas:
a. Hal kepemilikan, menguasai atau memiliki atau menyimpan kayu (logs) hasil tebangan secara ilegal.
b. Pegerakan kayu, meliputi mengangkut atau mengeluarkan kayu dari kawasan hutan negara hasil tebangan secara ilegal.
c. Pengolahan kayu, merupakan kegiatan pengolahan kayu dari bahan baku logs hasil tebangan secara ilegal.
3. Perdagangan ilegal
26 Merupakan kegiatan lanjutan dari proses pembalakan liardan atau pemrosesan ilegal. Kegiatan-kegiatannya merupakan proses lebih lanjut (end used) yang dapat memicu atau menjadi alasan kegiatan eksploitasi kayu secara ilegal tetap berjalan.
Dilihat dari jenis kegiatannya, perdangangan ilegal:
a. Perdagangan, merupakan kegiatan transaksi terhadap logs atau hasil olahannya dari kayu hasil tebangan secara ilegal.
Kegiatannya meliputi semua atau sebagian dari menerima, menjual, menerima tukar, menerima titipan atau membeli logs atau hasil olahannya dari kayu hasil tebangan secara ilegal.
b. Penyelundupan, merupakan kegiatan mengeluarkan atau perdagangan kayu (atau olahan) ke luar negeri secara ilegal terhadap kayu (atau olahannya) melalui eksploitasi kayu secara ilegal maupun secara legal.13
2. Ketentuan Hukum Pembalakan Liar
Ketentuan hukum pembalakan liar, secara umum kaitannya dengan unsur-unsur tindak pidana umum dalam KUHP, dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk kejahatan secara umum yaitu:
1. Pengerusakan (Pasal 406-412 KUHP)
13 Risa Suarga, op.cit., hlm. 17-18
27 Unsur pengerusakan terhadap hutan dalam kejahatan pembalakan liar dari pemikiran tentang konsep perizinan dalam sistem pengelolaan hutan yang mengandung fungsi pengendalian dan pengawasan terhadap hutan untuk tetap menjamin kelestarian fungsi hutan, pembalakan liar pada hakekatnya merupakan kegiatan yang menyalahi ketentuan perizinan yang ada baik tidak memiliki izin secara resmi maupun yang memiliki izin namun melanggar dari ketentuan yang ada dalam perizinan itu seperti over atau penebangan diluar areal konsensi yang dimiliki.
2. Pencurian (Pasal 362 KUHP)
Kegiatan pembalakan liar dilakukan dengan sengaja dan tujuan dari kegiatan itu adalah untuk mengambil menfaat dari hasil hutan berupa kayu tersebut (untuk dimiliki). Akan tetapi ada ketentuan hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban dalam pemanfaatan hasil hutan berupa kayu, sehingga kegiatan yang bertentangan dengan ketentuan itu berarti kegiatan yang melawan hukum. Artinya menebang kayu di dalam areal hutan yang bukan menjadi haknya menurut hukum.
3. Pemalsuan Surat (Pasal 263-276 KUHP)
Pemalsuan surat atau pembuatan surat palsu menurut penjelasan Pasal 263 KUHP adalah membuat surat ijin yang isinya bukan semestinya atau mebuat surat sedemikian rupa, sehingga
28 menunjukan seperti aslinya. Surat dalam hal ini adalah yang dapat menerbitkan suatu hal, suatu perjanjian, pembebasan utang dan surat yang dapat dipakai sebagai suatu keterangan perbuatan atau peristiwa. Ancaman pidana terhadap pemalsuan surat menurut Pasal 263 KUHP ini adalah pidana penjara paling lam 6 tahun dan Pasal 264 paling lama 8 tahun. Dalam praktik- praktik kejahatan pembalakan liar, salah satu modus operandi yang sering digunakan oleh pelaku dalam melakukan kegiatannya adalah pemalsuan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH), pemalsuan tanda tanga, pembuatan stampel palsu, dan keterangan Palsu dalam SKSHH. Modus operandi ini belum diatur secara tegas dalam Undang-undang kehutanan.
4. Penggelapan (Pasal 372- 377 KUHP)
Kejahatan pembalakan liar antara lain seperti penebangan berlebih (over logging) yaitu penebangan diluar areal konsensi yang dimiliki, penebangan yang melebihi target kota yang ada, dan melakukan penebangan sistem terbang habis sedangkan ijin yang dimiliki adalah sistem terbang pilih, mencantumkan data jumlah kayu dalam SKSHH yang lebih kecil dari jumlah yang sebenernya.
5. Penadahan (Pasal 480 KUHP)
Dalam KUHP penadahan yang kata dasarnya tadah adalah sebutan lain dari perbuatan persengkokolan atau sengkokol atau
29 pertolongan jahat. Penadahan dalam bahasa asingnya heling ( penjelasan Pasal 480 KUHP). Bahwa perbuatan ini dibagi menjadi, perbuatan membeli atau menyewa barang yang diketahui atau patut diduga hasil dari kejahatan, dan perbuatan menual, menukar atau mengadaikan barang yang diketahui atau patut diduga dari hasil kejahatan. Ancaman pidana dalam Pasal 480 paling lama 4 (empat) tahun penjara atau denda sebanyak- banyaknya Rp.900 (Sembilan ratus rupiah).
Selain KUHP ketentuan hukum tindak pidana pembalakan liarjuga dapat dihukum dengan hukuman penjaran dan denda, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan :
Pasal 51
(1) Untuk menjamin terselenggaranya perlindungan hutan, maka kepada pajabat kehutanan tertentu sesuai dengan sifat pekerjaannya diberikan wewenang kepolisian tertentu.
(2) Pejabat yang diberi wewenang kepolisian khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk:
a. mengadakan patroli/perondaan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya;
b. memberikan surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan hasil hutan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya;
c. menerima laporan tentang telah terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
d. mencari keterangan dan barang bukti terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
e. dalam hal tertangkap tangan, wajib menangkap tersangka untuk diserahkan kepada yang berwenang;
dan
30 f. membuat laporan dan penandatanganan laporan tentang terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan kawasan hutan dan hasil hutan.
Pasal 78
(1) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2), diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau huruf c, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 1) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2), diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (2) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau huruf c, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(3) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(4) Barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).
(5) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf e atau huruf f, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(6) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana, dimaksud dalam Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(7) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf h,
31 diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
(8) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf i, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
(9) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf j, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(10) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf k, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(11) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf l, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(12) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf m, diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
(13) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), ayat (7), ayat (9), ayat (10), dan ayat (11) adalah kejahatan, dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dan ayat (12) adalah pelanggaran.
(14) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha, tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya, baik sendiri- sendiri maupun bersama-sama, dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing-masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan.
(15) Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal ini dirampas untuk Negara.
32 C. Tinjauan Tentang Putusan Hakim
Putusan atau pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka disebut dengan putusan pengadilan, sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 1 butir ke 11 KUHAP yang menyatakan bahwa:
“Putusan pengadilan merupakan pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang terbuka yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”
Untuk dapat memberikan putusan yang benar-benar menciptakan kepastian hukum dan mencerminkan keadilan, hakim sebagai aparatur negara yang melaksanakan peradilan harus benar-benar mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, serta peraturan hukum yang mengaturnya yang akan diterapkan, baik peraturan hukum yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan maupun hukum yang tidak tertulis.14seperti hukum kebiasaan. Karenanya dalam Undang- Undang tentang Kekuasaan Kehakiman dinyatakan, bahwa hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.15
Menurut Prof. Sudikno Mertokusumo, S.H. definisi putusan hakim sebagai suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat yang diberi wewenang itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan mengakhiri atau
14 Riduan Syahrani, Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Umum, cet. I,(Jakarta:
Pustaka Kartini, 1998), hal. 83.
15 Indonesia,(a),op.cit.,psl. 28 ayat (1)
33 menyelesaikan suatu perkara atau suatu sengketa antara para pihak.16Dalam definisi ini Prof. Sudikno mencoba untuk menekankan bahwa yang dimaksud dengan putusan hakim itu adalah yang diucapkan di depan persidangan. Sebenarnya putusan yang diucapkan di persidangan (uitspraak)17 memang tidak boleh berbeda dengan yang tertulis (vonnis).
18Namun, apabila ternyata ada perbedaan diantara keduanya, maka yang sah adalah yang diucapkan, karena lahirnya putusan itu sejak diucapkan. 19Hal ini sebagaimana yang diinstruksikan oleh Mahkamah Agung melalui surat edarannya No. 5 Tahun 1959 tanggal 20 April 1959 dan No. 1 Tahun 1962 tanggal 7 Maret 1962 yang antara lain menginstruksikan agar pada waktu putusan diucapkan konsep putusan harus sudah selesai. Sekalipun maksud surat edaran tersebut ialah untuk mencegah hambatan dalam penyelesaian perkara, tetapi dapat dicegah pula adanya perbedaan isi putusan yang diucapkan dengan yang tertulis.20
Berkaitan dengan proses penjatuhan pidana, dalam Kitab Undang- undang Hukum Acara Pidana pasal 183 sudah dijelaskan bahwa dalam menjatuhkan suatu putusan pidana terhadap seseorang hakim tidak dapat melakukannnya dengan sekurang- kurangnya 2 (dua) alat bukti yang sah, ia mendapatkan keyakinan bahwa suatu tindak pidana tersebut benar- benar terjadi dan bahwa terdakwa yang bersalah melakukannya.34 Yang
16 Mertokusumo,op.cit., hal.158
17 Wojowasito,op.cit.,hal 701.
18 Ibid.,hal.764
19 Mertokusumo.op.cit.
20 Ibid.
34 dimaksud alat bukti dalam kasus pidana dimuat dalam pasal 184 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang dimaksud dengan alat bukti yang sah antara lain keterangan saksi, keterangan dari ahli, bukti surat, petunjuk, dan juga keterangan dari terdakwa21
Tujuan adanya putusan hakim selain untuk menyelesaikan perkara pidana selain itu untuk mengetahui secara sah kedudukan pihak pihak yang berkepentingan dalam peradilan pidana. Pihak yang berkepentingan tersebut ada dua yakni korban yang diwakili negara oleh penuntut umum dan pihak terdakwa. Dengan mengetahui kedudukan pihak-pihak dalam peradilan pidana maka hak-hak para pihak juga akan jelas, adapun hak-hak tersebut meliputi :
1. Hak segera menerima atau segera menolak putusan
2. Hak untuk mempelajari putusan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang
3. Hak untuk minta minta diperiksa perkaranya dalam tingkat banding, kasasi atau peninjauan kembali dalam tenggang waktu yang ditentukan.
Menurut Moelyatno, proses ataupun tahapan dalam penjatuhan suatu putusan oleh hakim dalam suatu perkara pidana, dilakukan dalam bebrapa tahapan, yaitu :
21 Lilik Mulyadi,Hukum Acara Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hlm 77
35 a. Tahap Menganalisis Perbuatan Pidana
Pada saat hakim menganalisis apakah seorang terdakwa melakukan suatu perbuatan pidana atau tidak, yang menjadi aspek primer adalah aspek masyarakat, yaitu apakah perbuatan tersebut ada di dalam rumusan dari suatu aturan pidana atau tidak. Dilihat dari aspek tersebut, terlihat bahwa suatu perbuatan yang merugikan atau yang tidak patut dilakukan atau tidak. Apabila perbuatan terdakwa memenuhi unsur- unsur dalam pasal hukum pidana tertentu, maka terdakwa tersebut dapat dinyatakan terbukti melakukan perbuatan pidana yang didakwakan kepadanya.
b. Tahap Menganalisis Tanggung Jawab Pidana
Dalam tahap ini hakim memganalisis apakah terdakwa tersebut dapat dinyatakan bertanggung jawab terhadap perbuatan pidana yang dilakukannya ataupun tidak. Pada saat proses menyelidiki apakah terdakwa tersebut yang melakukan perbuatan pidana dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, maka yang menjadi aspek primer adalah orang itu sendiri. Dapat dipidananya seseorang harus dapat memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu apakah perbuatan yang bersifat melawan hukum sebagai dasar perbuatan pidana, dan juga apakah perbuatan yang dilakukan tersebut dapat dipertanggungjawabkan sebagai suatu kesalahan (asas geen straf zonder schuld)22
22 Yusti Probowati Rahayu, Dibalik Putusan Hakim, Kajian Psikologi Hukum Dalam Perkara Pidana, Citramedia, Sidoarjo, 2005, hlm 85-92.
36 Menurut Moelyatno, unsur- unsur dalam pertanggungjawaban pidana untuk dapat membuktikan adanya kesalahan pidana yang dilakukan oleh terdakwa harus dappat memenuhi hal- hal berikut :23
1. Terbukti melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum);
2. Mampu bertanggung jawab (di atas umur tertentu);
3. Mempunyai bentuk kesalahan yang erupa kesengajaan ataupun kealpaan;
4. Tidak adanya alasan pemaaf.
c. Tahap Penentuan Pidana
Besarnya pemidanaan yang diputuskan hakim telah diatur dalam Kitab Undang- undang Hukum Pidana (KUHP). Di dalam KUHP telah mengatur pemidanaan maksimal yang dapat diberikan hakim dalam perbuatan pidana tertentu. Hal ini demi menjaga kebebasan hakim dalam memutuskan perkara berdasar kasusnya24
Putusan hakim harus mempunyai syarat-syarat yang sah dan melekat pada suatu putusan. Dalam putusan hakim ada yang namanya putusan pemidanaan/ Veroordeling. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum/
Onslag Van Rechtsvervolging dan putusan bebas/ Vrijspraak.
23 Moelyanto, Asas-asas Hukum Pidana, Universitas Gajahmada, Yogyakarta, 1982 sebagaimana yang termuat adalam Yusti Probowati Rahayu, Ibid., hlm 60
24 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
37 1. Putusan Pemidanaan/ Veroordeling
Terdapat pada pasal 193 ayat (1) yaitu, apabila pengadilan berpendapat bahwa terdapwa terbukti bersalah melakukan suatu tindak pidana yang di dakwakan kepadanya, maka pengadilan harus mejatuhkan pidana.
2. Putusan Bebas/ Vrijspraak
Menurut Wirjono Projodikoro, vrijspraak diterjemahkan dengan pembebasan terdakwa dan ada pula yang menerjemahkan dengan pembebasan murni.25Terdapat pada pasal 191 ayat (1) yaitu,apabila pengadilan berpendapat bahwa berdasar hasil pemeriksaan pada persidangan, kesalahan dari terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa patut diputus bebas.
3. Putusan pengadilan berupa lepas dari segala tuntutan/ Onslag Van Rechtsvervolging
Pada pasal 191 ayat (2) yaitu, apabila pengadilan berpendapat bahwa suatu perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, namun perbuatan tersebut bukan merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa patut diputus lepas dari segala tuntutan hukum.
Ketiga jenis putusan ini memiliki syarat sah, apabila putusan hakim tidak memiliki syarat sah yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana maka putusan batal demi hukum. Lain hal nya dengan putusan bukan pemidanan karena memiliki syarat sah yang berbeda dengan syarat
25 Djoko Prakoso, Kedudukan Justisiabel dalam KUHAP, Ghalia Indonesia,Jakarta, 1985,hlm.270
38 sahnya putusan pemidanaan.Syarat sah pemidanaan diatur dalam Pasal 197 ayat (1) dan syarat sah bukan pemidanaan diatur dalam Pasal 199 ayat (1) bila dijabarkan lebih lanjut sistematika formal syara sahnya putusan hakim sebagai berikut :
1. Syarat Sahnya Yang Harus Dimuat Dalam Putusan Pemidanaan:
Putusan pemidaan merupakan putusan yang berisikan pemidanaan terhadap terdakwa, oleh sebab itu dibaginya kedua norma antara putusan pemidaan dengan putusan yang bukan pemidanaan mempunyai arti yang berbeda dalam syarat sahnya yang harus dimuat dalam sebuah putusan diantaranya :
a. Kepala putusan yang dituliskan berbunyi: “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHAN YANG MAHA ESA”;
b. Identitas terdakwa;
c. Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan;
d. Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan berserta alat bukti yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa;
e. Tuntutan pidana penuntut umum, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan;
f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa;
39 g. Hari tanggal diadakan musyawarah majelis hakim kecuali perkara
yang diperiksa oleh hakim tunggal;
h. Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhinya semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya, dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan;
i. Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti;
j. Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana letaknya kepalsuan itu jika terdapat surat otentik dianggap palsu;
k. Perintah supaya terdakwa daitahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan;
l. Hari dan tanggal putusan, nama jaksa penuntut umum, nama hakim yang memutusa dan nama panitera.
2. Syarat Sahnya Yang Harus Dimuat Dalam Putusan Yang Bukan Pemidanaan :
Berbeda dengan putusan pemidanaan maka putusan yang bukan pemidanaan merupakan putusan yang berisi pembebasan atau putusan pelepasan terhadap terdakwa, maka perbedaan norma tersebut menjadikan syarat sahnya yang harus dimuat dalam putusan yang bukan pemidanaan itu berbeda diantaranya :
a. Tidak perlu memuat ketentuan Pasal 197 ayat (1) Huruf e, f, dan h;
40 b. Putusan yang bukan pemidanaan baik berupa pembebasan atau pelepasan dari segala tuntutan hukum harus memuat alasan dan pasal perundang-undangan yang menjadi dasar;
c. Putusan yang bukan pemidanaan memuat perintah terdakwa segera dibebaskan dari tahanan jika ia berada dalam tahanan
Dalam memutuskan suatu perkara di persidangan, hakim mempunyai peran sentral karena di dalam putusan hakim perlu mengemukakan pendapat berdasarkan fakta-fakta serta alat bukti dipersidangan dan juga keyakinan hakim dalam suatu perkara. Di dalam putusan hakim terdapat pertimbangan- pertimbangan mengenai keadaan-keadaan yang memberatkan dan meringankan putusan. Pertimbangan tersebut kemudian dapat dijadikan alasan oleh hakim dalam mengambil putusan.26
hakim tidak boleh sewenang-wenang melanggar ketentuan undang- undang. Hakim memiliki kewajiban untuk menjamin terselenggaranya kepastian hukum. Untuk itu hakim wajib melakukan penafsiran guna menangani perkara tersebut. Selama ini, ilmu hukum setidaknya mengidentifikasi ada 9 (sembilan) jenis penafsiran hukum yaitu27:
26 Nurhafifah dan Rahmiati, 2015, Pertimbangan Hakim Dalam Penjatuhan Pidana Terkait Hal Yang Memberatkan dan Meringankan Putusan. Banda Aceh. Jurnal Ilmu Hukum. No. 66, Fakultas Hukum UNSYIAH, hlm. 344.
27 Diah Imaningrum Susanti, Penafsiran Hukum: Teori dan Metode, Sinar Grafika, Jakarta, 2019 hlm 48
41 1. Penafsiran otentik, penafsiran yang dilakukan dengan bertanya pada perancang UU atau badan pembuat UU tentang apa makna yang dimaksudkan perancangnya,
2. Penafsiran kebiasaan, penafisran yang didasarkan pengetaturan- pengaturan sebelumnya atas hal yang sama,
3. Penafsiran ekstensif, penafsiran bebas yang dilakukan terhadap suatu ketentuan UU pada suatu kasus yang tidak dapat dilingkupi oleh kata-kata harafiah dalam ketentuan tersebut,
4. Penafsiran gramatikal, penafsiran yang didasarkan semata-mata pada kata-kata itu sendiri,
5. Penafsiran liberal, penafsiran menurut apa yang diyakini oleh pembaca bahwa apa yang masuk akal itulah sebenarnya yang dimaksudkan walaupun sebenarnya perancangnya sendiri tidak memikirkan hal itu,
6. Penafsiran terbatas, penafsiran yang terikat pada prinsip-prinsip yang terdapat diluar teks,
7. Penafsiran logis, penafsiran yang memisahkan diri dari kata-kata harafiah berdasarkan bahwa bisa jadi ada bukti lain yang lebih meyakinkan dari maksud sejati penulisnya,
8. Penafsiranan ketat, penafsiran menurut apa yang diyakini pembaca sebagai yang mestinya dipikirkan oleh penulisnya pada saat menuliskannya, tidak lebih,
42 9. Penafsiran longgar, penafsiran berdasarkan itikad baik, tanpa
merujuk pada prinsip-prinsip tertentu manapun.
Sementara itu dalam jurnal “Interpretation of Open Legal Policy By The Constitutional Judges in Judicial Review of Parliamentary Thresholds”
yang mengkutip dari banyak ahli hukum,mengemukakan 6 penafsiran hukum yaitu:28
1. Penafsiran Analisis, Proses penafsiran yang mengadalkan logika deduksi.
2. Penafsiran Gramatikal, Proses penafsiran dengan membaca rangkaian kata atau kalimat dalam suatu paragraph atau artikel yang berisi ketentuan hukum yang sedang ditafsirkan kemudian mengasosiasikan denga kata atau kalimat umum
3. Penafsiran Sistematis, Proses penafsiran dengan menghubungkan pasal-pasal, ayat-ayat dan/atau frasa dengan semua ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang sama, atau mengkaitkannya dengan peraturan perundang-undangan yang berbeda tetapi mengatur hal yang sama
4. Penafsiran historis, Proses penafsiran menggunakan konteks informasi yang berada dalam masa lampau
5. Penafsiran Teleologis, Proses penafsiran dengan mengaitkan ketentuan yang ditetapkan dengan undang-undang
28 Sholahuddin Al-Fatih, “Interpretation of Open Legal Policy by The Constitutional Judges In Judicial Review Of Parliamentary Thresholds”, Diponegoro Law Review, Vol 6 No.2 (2021). 236
43 6. Penafsiran Hermeneutic, Proses penafsiran dengan memahami teks,
mehami konteks, kemudian kontekstualisasi.
Berdasarkan hal tersebut, maka meskipun hakim mempunyai kewenangan penuh dalam memutus suatu perkara, hakim harus memahami koridor-koridor dalam penafsiran hukum sehingga dapat menciptakan keadilan substanstif, bukan hanya sekedar keadilan prosedural.
D. Tinjauan Tentang Keadilan
1. Pengertian Keadilan
Keadilan berasal dari kata adil, menurut Kamus Bahasa Indonesia adil adalah tidak sewenang-wenang, tidak memihak, tidak berat sebelah. Adil terutama mengandung arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma-norma objektif.
Keadilan pada dasarnya adalah suatu konsep yang relatif, setiap orang tidak sama, adil menurut yang satu belum tentu adil bagi yang lainnya, ketika seseorang menegaskan bahwa ia melakukan suatu keadilan, hal itu tentunya harus relevan dengan ketertiban umum dimana suatu skala keadilan diakui. Skala keadilan sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, setiap skala didefinisikan dan sepenuhnya ditentukan oleh masyarakat sesuai dengan ketertiban umum dari masyarakat tersebut.29
29 M. Agus Santoso, Hukum,Moral & Keadilan Sebuah Kajian Filsafat Hukum, Kencana, Jakarta, 2014, hlm. 85.
44 Di Indonesia keadilan digambarkan dalam Pancasila sebagai dasar negara, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam sila lima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan dalam hidup bersama.Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan negara, yaitu mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya dan seluruh wilayahnya, mencerdaskan seluruh warganya. Demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut sebagai dasar dalam pergaulan antar negara sesama bangsa didunia dan prinsip-prinsip ingin menciptakan ketertiban hidup bersama dalam suatu pergaulan antarbangsa di dunia dengan berdasarkan suatu prinsip kemerdekaan bagi setiap bangsa, perdamaian abadi, serta keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial)30
Keadilan menurut hukum atau yang sering dimaksud dalah keadilan hukum adalah keadilan yang telah dirumuskan oleh hukum dalam bentuk hak dan kewajiban, dimana pelanggaran terhadap keadilan ini akan ditegaskkan lewat proses hukum 31. Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang telah melanggar keadilan tersebut, maka akan dikenakan hukuman lewat proses hukum (penghukuman atau retributif).
30 Ibid, hlm.87
31 Munir Fuady, Dinamika Teori Hukum, Nusamedia, Bogor, 2007, hlm. 118.
45 Keadilan dapat juga diartikan sebagai suatu tindakan atau perlakukan yang seimbang dan sesuai dengan ketentuan, tidak membenarkan yang salah dan tidak menyalahkan yang benar, meskipun harus menghadapi konsekuensi- konsekuensi tertentu.
Sedangkan secara terminologi keadilan diartikan sebagai segala bentuk tindakan, keputusan, dan perlakuan yang adil, meliputi:
1. Tidak melebihikan bahkan mengurangi dari pada yang semestinya dan sewajarnya;
2. Tidak keterpihakan dan memberikan suatu putusan yang berat sebelah atau ringan sebelah;
3. Sesuai dengan kapasitas dan kemampuan, tingkatan atau kedudukan serta keahliannya;
4. Berpegang teguh kepada kebenaran;
5. Tidak sewenang-wenang.32
Maka dalam hal ini keadilan dapat didefinisikan menyampaikan segala sesuatu yang menjadi haknya sekaligus menjaga atau memelihara dan menjauhi yang bukan haknya sesuai dengan kadar atau ketentuan masing-masing haknya.
2. Aspek Keadilan Sesuai Pancasila
Dalam ilmu hukum, Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. Oleh karena itu, setiap produk hukum harus
32 Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press, Jakarta, 1991. Hlm. 12
46 menyesuaikan diri dengan Pancasila dengan menghormati manusia sebagai mahkluk sosial yang membutuhkan keadilan. Sila Pancasila yaitu :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, 3. Persatuan Indonesia,
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Aspek keadilan dalam Pancasila berada dalam sila ke 2 (dua) dan sila ke 5 (lima). Dalam sila ke dua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” merupakan nilai dari Pancasila yang memanusiakan manusia secara adil dan beradab, akan tetapi porsi keadilan ini berbeda sesuai kemampuan individu karena keadilan tidak dapat disamaratakan. Kemanusiaan yang adil dan beradab menghargai dan menjunjung hak asasi manusia dalam memperoleh keadilan bukan memberikan kedudukan yang sama dalam memperoleh penghasilan hidup, akan tetapi menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia yang melekat dalam diri seseorang sejak dalam kandungan.
Prinsip sila kedua dari Pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Secara teori negara hukum, kemanusiaan merupakan hal yang utama dalam mewujudkan keadilan. Manusia membutuhkan keadilan dalam perlindungan hak asasi mereka
47 sebagai makhluk sosial yang wajib dihormati dan dihargai. Konsep negara hukum selalu mengedepankan perlindungan hak asasi manusia. Konsep keadilan berdasarkan prinsip sila kedua dari Pancasila tersebut memberikan keadilan berupa perlindungan hak asasi manusia. Memanusiakan manusia serta menghargai dan menghormati hak-hak dasar manusia dalam memperoleh keadilan.33
Dalam sila ke 5 (lima) Pancasila yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” terkandung nilai keadilan sosial, antara lain perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan sosial atau kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia.
Keadilan yang dimaksud merupakan pemberian hak yang sama rata kepada seluruh rakyat Indonesia. maksud dari keadilan sosial berkaitan dengan kesejahteraan, jadi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan suatu keadilan demi kesejahteraan masyarakat.
Prinsip sila kelima dari Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia memberikan persamaan yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia. Memberikan perwujudan adil dengan seadil-adilnya kepada warga negara untuk mendapatkan perlindungan hukum . Perlindungan hukum yang sama tersebut mencerminkan perlindungan hukum untuk diperlakukan sama
33 Ferry Irawan Febriansyah, “Konsep Berdasarkan Pancasila Sebagai Dasar Filosofis dan Idelogis Bangsa”, DIH Jurnal Hukum, Volume 13 Nomor 25 (Februari,2017), 21
48 dihadapan hukum bagi seluruh warga negara guna mewujudkan suatu keadilan.
Keadilan Sosial adalah keadilan dari sila kelima dalam Pancasila. Sila kelima ini tidak lain merupakan ujung harapan dari semua sila lainnya yang merupakan perwujudan nilai-nilai keadilan.
Sila pertama sampai dengan sila keempat saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.34
Pancasila mampu memberikan dasar keadilan sesuai dengan corak dan budaya bangsa Indonesia. Karena Pancasila diakui kebenarannya secara koheren, korespondensi, dan pragmatik, tentunya Pancasila sudah diakui sejak Pancasila dilahirkan.
Pancasila diakui kebenarannya oleh banyak orang dan berfungsi sebagai pedoman bangsa Indonesia yang diakui sejak dulu sampai sekarang. Kebenaran tersebut merupakan keadilan yang bersumber dari Pancasila dapat diakui kebenarannya. Keadilan berdasarkan Pancasila merupakan keadilan yang benar-benar memberikan yang dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mampu memberikan perlindungan terhadap hak dan kewajiban warga
34 Ferry Irawan Febriansyah, “Konsep Berdasarkan Pancasila Sebagai Dasar Filosofis dan Idelogis Bangsa”, DIH Jurnal Hukum, Volume 13 Nomor 25 (Februari,2017), 15
49 negara serta memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.