ANALISA BENTUK DENAH OVAL PADA RUMAH TRADISIONAL NIAS UTARA
Oleh:
Jordan Zagoto 130406090
DEPARTEMEN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
ANALISA BENTUK DENAH OVAL PADA RUMAH TRADISIONAL NIAS UTARA
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Dalam Departemen Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
Jordan Zagoto 130406090
DEPARTEMEN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
PERNYATAAN
ANALISA BENTUK DENAH OVAL PADA RUMAH TRADISIONAL NIAS UTARA
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 09 Juli 2018
(Jordan Zagoto)
Telah diuji pada Senin, 16 Juli 2018
Panitia Penguji Skripsi
Ketua Komisi Penguji : Prof. Ir. M. Nawawiy Loebis, M.Phil., Ph.D.
Anggota Komisi Penguji : 1. Imam Faisal Pane, S.T., M.T.
2. Novi Rahmadhani, S.T., M.T.
ABSTRAK
Bentuk merupakan hal yang paling mendasar dalam dunia arsitektur karena secara psikologis manusia akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk mempermudah pemahaman dalam memandang suatu objek arsitektur. Pengunaan bentuk oval sebagai bentuk denah bangunan tradisional hanya dapat ditemui di Nias Utara bahkan merupakan satu- satunya di dunia sehingga menjadi keunikan tersendiri. Hal ini menarik minat penulis untuk meneliti kasus ini tentang bagaimana proses terbentuknya denah oval tersebut dari hasil perbandingan dengan berbagai latar belakang beberapa bangunan bulat tradisional lainnya yang berada di beberapa wilayah di berbagai belahan dunia. Proses terbentuknya denah bulat pada bangunan tradisional Nias Utara disebabkan oleh berbagai faktor latar belakang yang merupakan hasil perbandingan dan analisa latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsi (fisik) dari beberapa kelompok masyarakat lain yang juga menggunakan bentuk denah yang sama serta dari masyarakat Nias Utara sendiri. Menurut pengelompokan wilayah kekuasaan masyarakat di Pulau Nias, masing-masing wilayah kekuasaan berusaha menonjolkan pengaruhnya serta membedakan ciri adat istiadatnya. Ditinjau dari aspek fungsi ruang, masyarakat Nias Utara membutuhkan ruang yang cukup luas untuk melakukan kegiatan berkumpul antar masyarakat desa, juga dibutuhkan sebagai strategi untuk mengamati musuh dimana pada ruang yang berbentuk bulat atau oval lebih mudah untuk melakukan pengamatan ke arah luar bangunan, dan dari aspek kenyamanan , ruangan yang berbentuk bulat dapat menyebabkan suhu udara yang lebih tinggi sehingga ruangan terasa lebih hangat apabila dibandingkan dengan ruangan yang tidak berbentuk bulat.
Kata Kunci: Rumah Tradisional, Nias Utara, Bangunan Bulat, Denah.
ABSTRACT
Form is the most basic thing in the world of architecture because psychologically, human will simplify the visual environment to facilitate understanding in viewing an architectural object. The use of oval forms as a form of traditional building plans can only be found in North Nias and is even the only one in the world. This attracted the interest of the author to examine this case about how the process of forming the oval plan was compared with the results of a variety of backgrounds of several other traditional round buildings located in several regions in various parts of the world. The process of forming a round plan on traditional North Nias buildings is caused by a variety of background factors which are the result of comparison and analysis of anthropological (non-physical) background and (physical) functions of several other community groups that also use the same plan and from North Nias communities themselves. According to the grouping of the territories of the people on Nias Island, each of the territories seeks to highlight their influence and distinguish the characteristics of their customs. Viewed from the aspect of space function, North Nias people need a large enough space to carry out gatherings among villagers, also needed as a strategy to observe enemies where in a round or oval space it is easier to make observations to the outside of the building, and from aspects comfort, a round room can cause higher air temperatures so the room feels warmer when compared to a non-round room.
KATA PENGANTAR
Penulis bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dankarunia-Nya dimampukan untuk menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat untukmemperoleh gelar Sarjana Teknik Arsitektur pada Universitas Sumatera Utara(USU) Medan.
Penulis juga ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Ir. M. Nawawiy Loebis, M.Phil., Ph.D. selaku DosenPembimbing yang telah membantu memberikan petunjuk dan pengarahandalam penulisan skripsi ini.
2. Bapak Imam Faisal Pane,S.T., M.T. dan Ibu Novi Rahmadhani, S.T, M.T., selaku Dosen Penguji yang telah memberikan kritik dan sarandalam penulisan skripsi ini.
3. Ibu Beny OY Marpaung, ST,.M.T. selaku Dosen Koordinator skripsi T.A.
2017/2018 dan sekretaris Program Studi Sarjana Teknik Arsitektur.
4. IbuDr. Ir. Dwira N. Aulia, M.Sc.selaku Ketua Program Studi Sarjana Teknik Arsitektur.
5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur, FakultasTeknik, Universitas Sumatera Utara atas semua kritik dan sarannya selamamasa perkuliahan.
6. Drs. Arisman Zagoto (ayah) dan Veronika Laia SH. (Ibu) selaku orang tua tercinta yang telah memberikan doa, semangat, serta dorongan untuk menyelesaikanstudi dan skripsi peneliti di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
7. Untuk sahabat terkasih, Astrid Keisha, dan teman teman Anita Simanjuntak, Sarika Nuraini, serta Ulfa Auliyah yang telah menemani dan memberi semangat dari awal masuk kuliah di kampus Arsitektur USU
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh darisempurna sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifatmembangun dari semua pihak sebagai bahan penyempurnaan skripsi ini. Akhirkata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat yang besar bagisemua pihak.
Medan, 09 Juli 2018 Penulis,
Jordan Zagoto
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...i
KATA PENGANTAR ...ii
DAFTAR ISI ...iv
DAFTAR TABEL...vi
DAFTAR GAMBAR ...viii
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Perumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan Penelitian ...3
1.4 Manfaat Penelitian ...3
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ...4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...5
2.1 Denah ...5
2.2 Bentuk dalam Arsitektur ...6
2.3 Tinjauan Teori Rumah Tradisional...9
2.4 Pengaruh Politik, Sosial, Ekonomi, dan Iklim Terhadap Bentuk...13
2.5 Masyarakat Nias Utara...14
2.5.1 Tipologi Rumah Tradisional Nias Utara (Aspek Fisik)...16
2.5.2 Antropologi Masyarakat Nias Utara (Aspek Non Fisik)……...22
2.6.1 Suku Dani (Papua)...26
2.6.2 Suku Wae Rebo (Flores)...31
2.6.3 Suku Eskimo (Kutub)...33
2.6.4 Suku Boti (Pulau Timor)...36
2.6.5 Suku Darai (Nepal)...41
2.6.6 Bangsa Celtic...44
2.6.7 Bangsa Basotho (Lesotho/Afrika Selatan)...48
2.7 Tipologi Rumah Tradisional Kelompok Masyarakat Lain...51
2.7.1 Suku Dani (Papua)...51
2.7.2 Suku Wae Rebo (Flores)...56
2.7.3 Suku Eskimo (Kutub)...59
2.7.4 Suku Boti (Pulau Timor)...61
2.7.5 Suku Darai (Nepal)...63
2.7.6 Bangsa Celtic...63
2.7.7 Bangsa Basotho (Lesotho/Afrika Selatan)...64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...68
3.1 Jenis Penelitian...68
3.2 Variabel Penelitian ...69
3.2.1 Variabel Dependen...69
3.2.2 Variabel Independen...70
3.3 Populasi/Sampel ...71
3.4 Teknik Pengumpulan Data ...71
3.5 Metode Analisis Data ...72
3.5.1 Analisa Deskriptif...72
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...73
4.1 Pembahasan ...73
4.1.1 Perbandingan Aspek Antropolog...73
4.1.2 Analisa Latar Belakang Fisik (Tipologi...74
4.2 Hasil Perbandingan dan Analisa...77
BAB V KESIMPULAN...78
BAB VI SARAN...79
DAFTAR PUSTAKA ...80
LAMPIRAN ...83
DAFTAR TABEL
Judul Hal
1.Tabel 2.1. Bentuk dasar dan karakternya... 8 2 Tabel 4.1. Tabel perbandingan latar belakang antropologis... 73
DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
Gambar 2.1. Rumah tradisional Nias Utara...16
Gambar 2.2. Rumah tradisional Nias Utara...16
Gambar 2.3. Denah ruang dan denah kolom rumah tradisional Nias Utara...17
Gambar 2.4. Konstruksi lantai rumah tradisional Nias Utara ...19
Gambar 2.5. Gambar potongan rumah tradisional Nias Utara...19
Gambar 2.6. Pola perkampungan Nias Utara...21
Gambar 2.7. Rumah Honai... ...27
Gambar 2.8. Rumah Mbaru Niang...33
Gambar 2.9. Bangunan Igloo...35
Gambar 2.10. Bangunan tradisional Suku Boti...36
Gambar 2.11. Bangunan tradisional Suku Darai...39
Gambar 2.12. Bangunan tradisionalBangsa Celtic...43
Gambar 2.13. Bangunan tradisional Bangsa Basotho... ...48
Gambar 2.14. Denah pemukiman suku Dani (Silimo)...54
Gambar 2.15. Denah bangunan Mbaru Niang...58
Gambar 2.16. Teknik penyusunan balok es sebagai dinding Igloo...60
Gambar 2.17. Permukaan ruang tidur yang lebih tinggi...61
Gambar 2.18. Denah dan potongan bangunan Umebubu...63
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bentuk merupakan hal yang paling mendasar dalam dunia arsitektur karena secara psikologis manusia akan menyederhanakan lingkungan visualnya untuk mempermudah pemahaman dalam memandang suatu objek arsitektur.
Meskipun suatu objek mengalami berbagai modifikasi bentuk namun secara naluriah manusia akan mengurangi atau menyederhanakan objek tersebut ke bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur agar semakin mudah diterima dan dimengerti. Bentuk dasar bangunan ditentukan oleh berbagai elemen dari bangunan itu sendiri salah satunya ialah bentuk denah.
Bentuk-bentuk yang paling sederhana dan teratur ialah bentuk geometri seperti bujur sangkar, segitiga, dan sederetan segi banyak beraturan (yang memiliki sisi-sisi dan sudut yang sama) yang tak terhingga banyaknya seperti bentuk lingkaran.
Bentuk lonjong atau oval merupakan suatu bentuk yang dimofikasi dari bentuk dasar lingkaran. Penggunaan bentuk ini tidak terlalu umum untuk diterapkan sebagai bentuk denah maupun bentuk utama bangunan, khususnya pada era modern ini. adapun penerapan bentuk oval pada denah bertujuan untuk menarik perhatian sekitar serta menunjukkan kekhususan bangunan itu sendiri dari lingkungan sekitarnya.Dalam setiap kebudayaan, bentuk lingkaran sebagai
bentuk dasar dari oval biasanya mewakilkan bentuk alam semesta seperti matahari, bulan, dan objek angkasa lainnya.
Penggunaan bentuk lingkaran pada awal peradaban manusia dapat ditemukan dalam bentuk tembok perkampungan atau pemukiman pada masa itu serta beberapa rumah tradisional di berbagai wilayah termasuk di Indonesia sendiri dengan latar belakang antropologis serta fisiknya masing-masing yang kemudian membentuk denah bulat itu sendiri. Namun pengunaan bentuk oval sebagai bentuk denah bangunan tradisional hanya dapat ditemui di Nias Utara bahkan merupakan satu-satunya di dunia sehingga menjadi keunikan tersendiri.
Hal ini menarik minat penulis untuk meneliti kasus ini tentang bagaimana proses terbentuknya denah oval tersebut dari hasil perbandingan dengan berbagai latar belakang beberapa bangunan bulat tradisional lainnya yang berada di beberapa wilayah di berbagai belahan dunia.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini ialah proses penerapan bentuk denah doval yang jarang ditemukan pada bangunan umumnya, dalam hal ini rumah tradisional Nias Utara.
Maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain :
Bagaimana latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsional (fisik) masyarakatNias Utara tentang bentuk arsitektur khususnya bentuk oval ?
Bagaimana latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsional (fisik) kelompok masyarakat di wilayah lain yang juga menerapkan bentuk denah bulat?
Apakah ada kesamaan latar belakang antropologis dan fungsional masyarakat Nias Utara dengan kelompok masyarakat di wilayah lain tentang denah bulat itu sendiri?
1.3. Tujuan Penelitian
Menemukan latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsional (fisik) masyarakat Nias Utara tentang bentuk arsitektur khususnya bentuk oval.
Menemukan latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsional (fisik) kelompok masyarakat di wilayah lain yang juga menerapkan bentuk denah bulat.
Menganalisa kesamaan latar belakang antropologis dan fungsional masyarakat Nias Utara dengan kelompok masyarakat di wilayah lain tentang denah bulat itu sendiri.
1.4. Manfaat Penelitian
Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi secara ilmiah pada kajian tentang pemilihan bentuk dalam perancangan dari sisi antropologis (non fisik) serta fungsional (fisik) dalam hal ini yaitu rumah tradisional Nias Utara. Oleh karena itu penelitian ini diaharapkan mampu melengkapi berbagai referensi tentang hubungan latar belakang masyarakat dengan penerapan bentuk arsitektur.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan referensi masyarakat tentang penggunaan bentuk-bentuk arsitektur yang tidak umum diterapkan khususnya bentuk lingkaran dan oval untuk denah bangunan.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini tetap terfokus dan terarah serta menghindari pembahasan masalah yang terlalu luas maka perlu dilakukan pembatasan ruang lingkup penelitian. Adapun batasan pembahasan masalah dalam penelitian ini ialah analisa terhadap beberapa aspek latar belakang baik secara fisik maupun nonfisik dari beberapa kelompok masyarakat di berbagai wilayahyang menggunakan bentuk denah bulat sebagai perbandingan dengan masyarakat Nias Utara untuk menemukan faktor terbentuknya denah oval pada rumah tradisional Nias Utara itu sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Denah
Berbicara tentang denah akan selalu terkait dengan gambar perancangan dan bangunan. Secara umum denah merupakan gambar yang menunjukkan lokasi / letak dari suatu tempat. Dalam pengertian lain yang lebih luas, denah merupakan gambaran sederhana tentang suatu tempat. Denah digunakan untuk tujuan menunjukan fungsi ruang, susunan ruang, sirkulasi, serta dimensi ruang. Denah juga berfungsi untuk membantu menemukan letak suatu tempat atau ruang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi denah ialah gambar rancangan bangunan.
Sedangkan menurut para ahli, definisi denah antara lain :
Penampang atau potongan horizontal bangunan (rumah tinggal) yang dipotong satu firkan dari bawah (Thomas C. Wang)
Bagian atas bangunan (rumah tinggal) yang dipotong sehingga akan terlihat bagian-bagian dalam bangunan berikut komponen-komponen yang menempel pada bangunan tersebut (D.K. Ching)
Menurut Choirul Amin (2010), prinsip dasar dalam merancang denah antara lain :
1. Pertimbangan jumlah pengguna
Menghitung jumlah pengguna bangunan yang akan menjadi dasar untuk mengalokasikan kebutuhan ruang.
2. Kebutuhan ruang
Kebutuhan luas ruang yang sesuai dengan kebutuhan pengguna ruangan tersebut.
3. Fungsi ruang
Memastikan kejelasan fungsi dan kegunaan ruang tesebut sebagai pertimbangan untuk merancang alur sirkulasi ruang pada bangunan.
4. Kenyamanan
Mempertimbangkan kenyamanan pengguna ruang dengan mengatur bukaan-bukaan dan tata letak perabotan di dalam ruangan tesebut.
5. Keamanan
Keamanan memiliki pengertian dan lingkup yang luas diantaranya kekuatan struktur bangunan, berbagai gangguan yang tidak diinginkan, dan sebagainya.
6. Nilai estetika
Merupakan unsur tambahan yang sebaiknya diterapkan pada ruang-ruang di dalam bangunan sehingga nyaman digunakan dan memiliki nilai estetika.
2.2. Bentuk dalam Arsitektur
Bentuk merupakan salah satu elemen dasar dalam perancangan. Bentuk secara tersendiri maupun hasil kombinasi dengan bentuk lain dapat menyampaikan arti yang universal sama seperti memberikan petunjuk pada pikiran saat mengelola informasi.
Dalam arsitektur, arti kata bentuk memiliki pengertian yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan dan pemikiran pengamatnya. Berikut ini pengertian bentuk secara arsitektur menurut para ahli :
Bentuk adalah suatu perwujudan dari organisasiruang yang merupakan hasil dari suatu proses pemikiran. Proses ini didasarkan oleh pertimbangan fungsi dan usaha pernyataan diri atau ekspresi (Hugo Haring).
Bentuk adalah wujud dari penyelesaian akhir dari konstruksi yang pengertiannya sama (Mies Van Der Rohe).
Bentuk adalah suatu keseluruhan dari fungsi-fungsi yang bekerja secara bersamaan, yang hasilnya merupakan susunan benda (Benjamin Handler).
Bentuk memiliki variasi karakteristik yang tidak terbatas karena setiap bentuk dapat menyampaikan pesan yang berbeda. Bentuk merupakan dua wilayah dimensi dengan batasan yang terlihat. Ada bentuk yang terbuka atau tertutup, memiliki sudut atau bulat, besar atau kecil. Bentuk juga dapat bersifat organik atau anorganik. Juga bisa berupa bentuk bebas atau geometris dan tersusun.
Bila ditinjau dari sisi manusianya, kebutuhan akan ruang terbagi atas dua macam yaitu ruang secara fisik dan ruang secara emosional. Secara fisik manuisa mencari perindungan dalam bentuk bagunan, sedangkan secara emosi manusia menikmati keinahan warna, tekstur, bidang, dan sebagainya. Kebutuhan ruang secara fisik adalah kebutuhan akan tempat berdimensi tiga untuk melakukan kegiatanya. Di sisi lain, kebutuhan akan ruang secara emosional lebih banyak ditentukan oleh selera dan pengalaman ruang dari masing-masing orang.
Wujud dasar ruang menurut D.K. Ching (1996) terdiri atas 3 bentuk, yaitu :
Tabel 2.1. Bentuk dasar dan karakternya
Lingkaran merupakan susunan sederetan titik yang memiliki jarak yang sama dan seimbang terhadap sebuah titik tertentu di dalam lengkungan.Pertimbangan dalam memilih wujud dasar lingkaran :
1). Kendala dalam penataan bentuk lengkung.
2). Pengembangan bentuk relatif banyak.
3). Orientasi aktifitas cenderung memusat
4). Fleksibilitas ruang tepat untuk penataan organisasi ruang dengan pola memusat.
5). Karakter dinamis dengan orientasi yang banyak.
Lingkaran memiliki pergerakan yang bebas dan bisa berputar. Bayangan dan garis dapat meningkatkan rasa pergerakan dalam lingkaran. Lingkaran bersifat anggun dan feminim serta memiliki sifat yang memberi rasa hangat, menenangkan, dan sensual. Sifat lain dari lingkaran yaitu melindungi, memberi pertahanan, dan membatasi apa yang ada di dalam dan menjaga hal-hal lain tetap berada di luar, serta menunjukkan komunitas, integritas, dan kesempurnaan.
Bentuk lingkaran tidak terlalu umum diterapkan dalam desain, namun dapat digunakan untuk menarik perhatian, memberi penekanan, dan privasi.
Bentuk lonjong / oval sebagai pembahasan utama dalam penelitian ini merupakan bentuk lanjutan atau modifikasi dari bentuk dasar lingkaran. Secara umum bentuk oval ialah bentuk lingkaran yang direntangkan atau lingkaran yang memanjang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) defenisi bentuk oval ialah lonjong; bulat panjang; bulat telur.
2.3. Tinjauan Teori Rumah Tradisional
Ilmu arsitektur saat ini telah mengalami perkembangan pesat dari ruang lingkup yang terbatas pada studi tentang teknis bangunan hingga pemanfaatan bidang ilmu lainnya seperti kajian kebudayaan serta antropologi dan psikologi yang menghasilkan peran ilmu antropologi dan psikologi dalam mengarahkan penelitian arsitektur tradisional, vernakular, dan lingkungan.Manusia sebagai kajian dari antropologi adalah sebagai objek yang dipelajari baik sebagai individu ataupun kelompok. Dalam perkembangan manusia, naungan adalah hal pertama dan mendasar yang dibuat oleh manusia. Naungan atau tempat tinggal sementara pada jaman pra sejarah adalah hasil karya insting manusia yang butuh tempat
terlindung dari segala ganguan dari cuaca atau problem alam lainnya. Moore and Allen menjelaskan bahwa manusia hidup dalam ruang yang tidak terbatas.
Arsitektur memotong atau membatasi ini, sehingga memberi makna bagi kegiatan manusia yang berlangsung di dalamnya.
Amos Rapoport mengungkapkan bahwa arsitektur bermula sebagai tempat bernaung. Oleh karena itu banyak anggapan di masyarakat bahwa arsitektur adalah sesuatu yang berhubungan dengan bangunan sebagai tempat tinggal.
Menurut Edney (1976) dalam Altman dan Chemers (1989) fungsi dari teritori manusia dapat ditekankan atas dua hal yaitu mengatur identitas personal dan mengatur sistem sosial.
Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa teritori berhubungan dengan aspek fisik dan non fisik. Teritori dalam pengertian fisik ialah batasan kepemilikan atau batas pertahanan terkecil dari rumah dan dapat berupa pagar, dinding atau elemen penentu batasan fisik lannya, sedangkan teritori dalam arti non fisik adalah batas yang dimiliki oleh seorang individu dalam interaksi dengan oranglain baik secara individual maupun kelompok.Tinjauan terhadap rumah sebagai hasil kebudayaan manusia akan tercermin dari berbagai aspek. Bentuk rumah tradisonal adalah hasil budaya manusia pada kelompok yang diwariskan secara turun temurun untuk jangka waktu yang lama untuk melakukan adaptasi terhadap berbagai faktor.
Selama ini arsitektur murni hanya melihat aspek fisiknya saja. Apabila dilihat dari proses yang terjadi, maka tahap gagasan merupakan awal terjadinya proses arsitektur tersebut. Proses diawali oleh gagasan melalui tindakan hingga
akhirnya terbentuk hasil karya fisik. Sehingga sedikit perubahan yang terjadi pada tahap gagasan berarti akan terjadi perubahan pula pada karya akhirnya.
Pengalaman ini meliputi pengembangan kepercayaan terhadap kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi, hubungan sosial dengan orang atau kelompok lain, ekspresi kepribadian individual kepada lingkungan masyarakat di sekitarnya, mengupas makna-makna yang dapat diterima oleh lingkungan (Mulder, 1975).
Amos Rapoport (1969) berpendapat bahwa apa yang dihasilkan oleh manusia sangat tergantung dari latar belakang sosial budayanya atau kondisi sosial manusia itu sendiri, sehingga membangun rumah merupakan fenomena budaya dimana bentuk dan organisasinya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dimana dia berada. Bentuk rumah dipengaruhi oleh:
Iklim memang telah diterima sebagai faktor yang menentukan dalam bentuk rumah, tapi pada kasus yang lain budayalah yang lebih memegang peranan.
Rumah adalah suatu lembaga dan bukan hanya struktur yang dibuat untuk berbagai tujuan yang kompleks. Karena membangun suatu rumah merupakan suatu gejala budaya, maka bentuk dan pengaturannya sangat dipengaruhi budaya lingkungan dimana bangunan itu berada.
Bentuk rumah bukan merupakan hasil kekuatan faktor fisik atau faktor tunggal lainnya, tetapi merupakan konsekuensi dari cakupan faktor-faktor budaya yang terlihat dalam pengertian yang luas. Bentuk berubah menurut kondisi iklim, metode konstruksi, material yang tersedia dan teknologi.
Yang utama adalah faktor sosial budaya sedangkan lainnya merupakan faktor kedua yang melengkapi atau memodifikasi.
Unsur yang akan selalu ada dalam proses penciptaan karya arsitekturadalah keindahan. Keindahan selalu menjadi latar belakang atau tuntutan dalam sebuah karya arsitektur dan juga merupakan gagasan mengenai bentuk estetika yang pada akhirnya akan diwujudkan menjadi sebuah karya fisik melalui teknik dan metode dalam arsitektur. Dalam hal ini bentuk estetika merupakan sebuah gagasan yang muncul dalam sebuah kebudayaan. Estetika merupakan wujud kedua dari kebudayaan atau merupakan wujud gagasan. Arsitektur merupakan wujud fisik yang secara nyata dapat dilihat, disentuh dan dirasakan kehadirannya dalam masyarakat. Wujud fisik ini, baik dalam skala bangunan tunggal maupun sebuah lingkungan buatan, dapat dipahami sebagai sebuah artefak. Sebuahkarya arsitektur mengkomunikasikan kondisi masyarakat di mana artefak tersebut berada. Artefak merupakan wujud akhir yang timbul akibat adanya gagasan dan tindakan dalam suatu kebudayaan, wujud fisik. Kebudayaan dalam wujud fisik merupakan bagian terluar dari lingkaran konsentris kerangka kebudayaan (Koentjaraningrat, 2005).
Ruang dan hirarki yang tergantung didalamnya merupakan bagian dari arsitektur dimana penyusunanya dipengaruhi oleh pola pikir manusia yang berupa cita rasa, budaya, dan penyelarasan dengan alam sekitarnya. Antropologi merupakan kajian bagaimana tentang pola ruang itu terbangun dan hirarki ruang terjadi, dimana arsitektur sebagai cerminan dari budaya masyarakatnya.
Dikutip dari tulisan Fauziah (2014) faktor sosio-kultural yang berpengaruh pada bentuk pemukiman dan Bangunan suatu masyarakat antara lain :
Adat istiadat dan kebudayaan.
Kepercayaan.
Keamanan.
Nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.
2.4. Pengaruh Politik, Sosial, Ekonomi, Dan Iklim Terhadap Bentuk Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Untuk menjaga ketertiban dan kelangsungan hidupnya terdapat unsur-unsur kebudayaan untuk mengatur manusia dalam bertindak, menentukan sikap dalam berhuungan dengan orang lain, dan sebagainya. Patokan dan batasan ini adalah politik, sosial, dan ekonomi, yaitu yang paling besar pengaruhnya.
Bidang politik membawa pengaruh pada tingkah laku manusia yaitu terhadap suatu kekuasaan. Hal ini terlihat dari bentuk-bentuk arsitekturnya, dan sebaliknya juga dapat diperlihatkan dan dinyatakan melalui arsitektur. Bentuk- bentuk benteng dan tembok enyatakan adanya pertahanan atas kekuatan dari luar.
Keinginan untuk dihormati dinyatakan melalui adanya jarak.
Dalam bidang ekonomi terdapat berbagai tingkat lapisan masyarakat yang berbeda secara ekonomi, maka bentuk dan pemakaian bahan bagi bentuk-bentuk yang ada pun menjadi beragam.
Dari bidang sosiologi, terlihat adanya usaha untuk mempelajari tentang segala macam kelakuan manusia di dalam suatu masyarakat. Interaksinya dengan Tuhan, manusia lain, dengan kekuasaan, dengan alam dan juga kelakuan mausia terhadap dirinya sendiri. Hubungan ini juga mejadi unsur dasar dalam penentuan suatu bentuk bangunan karena bentuk adalah hasil dari tuntutan manusianya.
Bentuk rumah tinggal yang luas dengan ruang-ruang yang besar mencerminkan adanya sifat kekeluargaan. Paling tidak dibutuhkan toleransi yang tinggi untuk dapat hidup beramai-ramai. Penggunaan bahan banguan juga sering dianggap sebagai suatu pernyataan status sosial manusia dalam lingkungannya.
Disamping ketiga hal utama yang mempengaruhi bentuk diatas ada satu hal yang juga turut menentukan yaitu pengaruh letak geografis bagi suatu daerah.pengaruh ini penting karena manusia tidak dapat menghindari kekuatan- kekuatan alam yang ada disekelilingnya. Keamanan dan kenyamanan kegiatan yang berlangsung berhubungan dengan kekuatan alam tersebut.
2.5. Masyarakat Nias Utara
Suku bangsa Nias mendiami Pulau Nias yang terletak pada bagian barat Pulau Sumatera. Pulau Nias dan beberapa pulau kecil disekitarnya termasuk dalam wilayah Sumatera Utara. Masyarakat asli pulau Nias menyebut diri mereka sebagai Ono Niha yang berarti anak manusia dan menyebut Pulau Nias sebagai Tano Niha ( tanah manusia). Walaupun merupakan satu suku bangsa dan berasal dari kebudayaan yang sama dan saling terkait namun masyarakat Nias dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk rumah tradisional dan dialek bahasanya dalam tiga wilayah yaitu Nias Utara, Nias Tengah, dan Nias Utara.Keragaman bentuk rumah tradisional dan dialek bahasa yang paling mencolok adalah antara kelompok masyarakat Nias Selatan dan Nias Utara, sedangkan kelompok masyarakat Nias Tengah merupakan perpaduan antara keduanya.
Pengelompokkan wilayah masyarakat ini juga berdasarkan sejarah atau legenda masyarakat Nias tentang leluhurnya yaitu Raja Sirao yang dipercaya sebagai
keturunan dewa (Lowalangi) yang awalnya bermukim di Teteholi Ana’a di wilayah Nias Selatan dan memiliki tiga orang istri dimana masing-masing istri beserta keturunannya saling berpencar ke wilayah yang berbeda setelah raja wafat yaitu :
Istri pertama tetap tinggal di Teteholi Ana’a bersama keturunannya membangun rumah tradisional Nias Selatan.
Istri kedua tinggal di Hia Ana’a (Nias Tengah) bersama keturunannya dan membangun rumah tradisional Nias Tengah.
Istri ketiga berimigrasi ke Lahewa (Nias Utara) dan bersama keturunannya membangun rumah tradisional Nias Utara.
Di wilayahnya masing-masing keturunan raja tersebut membuat adat istiadat sendiri disamping budaya dan kepercayaan, namun tetap memegang teguh sistem sosial dan struktur soial lainnya berdasarkan sistem marga dan stratifikasi sosial (kasta). Perpindahan para keturunan ke berbagai wilayah awalnya bertujuan untuk membangun sebuah perkampungan serta memperluas kawasan desa namun pemisahan diri dari daerah asalnya tersebut mengakibatkan rengangnya hubungan kekeluargaan yang didasarkan atas keinginan setiap orang menonjolkan kekuasaan dan pengaruh pada desa barunya untuk menjadi raja-raja baru terhadap desa-desa lain disekitarnya. Demikianlah sehingga munculnya komunitas masyarakat yang beragam di Pulau Nias. Dalam penelitian ini pembahasan terfokus pada masyarakat Nias Utara sebagai objek penelitian.
2.5.1. Tipologi Rumah Tradisional Nias Utara ( Aspek Fisik)
Gambar 2.1. Rumah tradisional Nias Utara
Sumber : www.museum-nias.org
Gambar 2.2. Rumah tradisional Nias Utara
Sumber : www.museum-nias.org
Rumah tradisional Nias Utara berbentuk lonjong yang sangat tidak biasa dalam dunia arsitektur vernakular. Bentuk lonjong tersebut menurut penjelasan para pemuka adat (Fan Gea, tetua adat desa Sihareo Siwahili) bermaksud antara lain memberikan kesan lebih terbuka dan lapang serta dapat menguasai atau mengamati daerah sekitar rumah apabila suatu waktu terjadi serangan musuh mengingat Suku Nias terkenal akan budaya berperangnya. BangunanRumahtidak dibangun secara menempel dengan bangunan lainnya melainkan berdiri sendiri.
Rumah-rumah memiliki sisi panjang menghadap ke jalan utama desa. Pada ruang depan lantai di sepanjang dinding umumnya sengaja ditinggikan dan terdapat bangku yang menempel sepanjang dinding. Seringkali ada satu atau lebih
tambahan perluasan ke rumah. Pada salah satu ujung biasanya ada tangga ke pintu masuk rumah dengan serambi kecil. Penggunaan sistem ukuran pada bangunan tradisional Nias Utara tidak pernah menggunakan ukuran yang genap melainkan mengunakan ukuran-ukuran yang selalu berjumlah ganjil. Hal ini dikarenakan menurut para tetua adat di Nias Utara bahwa nilai genap erupakan nilai yang selalu dibawa oleh kekuatan magis yang negatif yang dapat berdampak negatif pula pada penghuni rumah.
Gambar 2.3. Denah ruang dan denah kolom rumah tradisional Nias Utara
Sumber : tipologi arsitektur rumah adat Nias Selatan dan rumah adat Nias Utara
Pada bangunan rumah tradisional Nias Utara ditemukan suatu ketetapan- ketetapan mengenai susunan ruang-ruang dalam hunian tersebut yang ditetapkan berdasarkan hukum adat setempat antara lain:
Peletakan kamar tidur pria (Batee) harus berada paa sisi sebelah kanan rumah.
Lantai ruang tamu (Sinata) harus mempunyai tiga tingkatan yang berbeda untuk membedakan golongan yang akan menempatinya. Tingkat satu untuk para tetua adat, tingkat dua untuk masyarakat menengah, dan tingkat tiga untuk masyarakat umum.
Posisi dapur (Nanohawa) harus berada pada bagian yang lebih rendah dari ruangan lainnya.
Pada rumah tradisional Nias Utara pembagian ruang didasarkan atas tingkatan kasta masyarakat. Pemisahan susunan ruang dibatasi secara abstrak dengan membedakan tinggi dan rendah lantai. Ruangan penunjang lainnya yang terdapat pada bangunan tradisional Nias Utara yang ditopang oleh tiang kolom (Ehomo) yang berjumlah 71 buah ini seluruhnya berada pada bagian atas bangunan dimana pintu masuk menuju ruang atas bangunan menggunakan tangga yang terdapat pada sisi kiri bangunan. Adapun ruangan penunjang lainnya tersebut yaitu antara lain :
Ruang untuk tamu atau pendatang (Sinata)
Ruang untuk kamar tidur yang seluruhnya berjumlah tiga buah (Batee)
Ruang dapur (Nanohawa)
Proporsi denah bangunan tradisional Nias Selatan antara lain panjang bangunan 11,57 m, lebar bangunan ± 6,79 m, tinggi lantai rumah ± 2,85 m, serta tinggi puncak atap ±47,3 m.
Gambar 2.4. Konstruksi lantai rumah tradisional Nias Utara
Sumber : tipologi arsitektur rumah adat Nias Selatan dan rumah adat Nias Utara
A. Sifat Dasar Dan Bentuk Dasar
Gambar 2.5. Gambar potongan rumah tradisional Nias Utara
Sumber : tipologi arsitektur rumah adat Nias Selatan dan rumah adat Nias Utara
Yang dimaksud dengan sifat dasar ialah gambaran sifat yag ditimbulkan oleh bentuk dasar bangunan seperti memusat, memencar, simetris, statis, sentris dan sebagainya. Sifat dasar ini tidak hanya terbatas pada bentuk bangunan saja
melainkan berlaku pula dalam mengamati tata letak bangunan terhadap lingkungannya. Sifat dasar dari bangunan tradisional Nias Utara yang merupakan gabungan dari persegi dan setengah lingkaran pada kedua ujung bangunan serta bentuk atap yang merupakan gabungan antara limas dan lingkaran sesuai dengan bentuk dasar denahnya mempunyai sifat dasar yang samar / ambigu.
B. Pola Perkampungan Nias Utara
Gambar 2.6. Pola perkampungan Nias Utara
Sumber : tipologi arsitektur rumah adat Nias Selatan dan rumah adat Nias Utara Pada dasarnya desa-desa yang berada di Nias Utara mempunyai Siteplan yang terbuka. Hal ini ditandai dengan peletakan rumah-rumahnya yang terkelompokkan dalam desa kecil atau tersebar ke beberapa desa. Masing-masing kelompok atau desa disebut sebagai Ori (lingkaran = desa).masing masing Ori dikepalai oleh
seorang kepala desa yang dituakan oleh kelompok tersebut dan diangkat sebagai pemimpin tertinggi desa tersebut. Dari seluruh kepala desa yang ada pada kelompok masyarakat Nias Utara dipilih kemudian dipilih seorang pemimpin yang memimpin seluruh desa-desa tesebut yang dipilih berdasarkan hirarkis menurut usia para pemimpin dari desa-desa yang berada di Nias Utara. Pemimpin tertinggi disebut Tuhenori. Pada perkampungan Nias Utara Fasade rumah-rumah saling berhadapan dan di bagian tengahnya terdapat suatu area sentral. Rumah pemimpin desa atau raja biasanya terletak pada bagian tengah perkampungan.
Bentuk perkampungan Nias Utara memanjang secara linear. Pola perletakan perkampungan tersebut didasarkan atas sistem pertahanan yang dianut masing- masing desa (Ori) dimana sistem desa di Nias Utara menggunakan sistem pertahanan dengan pemagaran pohon yang ditanam secara rapat mengelilingi desa.
C. Keadaan Geografis
Pulau Nias beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi yaitu mencapai 2.927,6 mm pertahun, sedangkan jumlah hari hujan dalam setahun 200 hingga 250 hari atau 86%. Kelembaban udara rata-rata sekitar 90% dengan suhu udara berkisar 17oC hingga 32,6oC.
Kondisi daratan Pulau Nias sebagian besar berupa bukit yang terjal serta pegunungan dengan tinggi yang bervariasi hingga 800 m diatas permukaan laut.
Iklim di Pulau Nias dipengaruhi oleh Samudera Hindia yang berbatasan langsung dengan Pulau Nias dengan kecepatan angin maksimum 16 knot / jam dengan arah angin sebagian besar berasal dari arah utara.
2.5.2. Antropologi masyarakat Nias Utara (aspek nonfisik).
A. Sistem Kekerabatan atau Sosial
Masyarakat Nias Utara mengikuti garis keturunan patrilineal, yaitu mengikuti hitungan hubungan kekerabatan melalui laki-laki. Anak laki-laki maupun perempuan mengikuti garis keturunan ayah. Para keturunan yang berasal dari satu garis disebut Sisambua Mado.
Kelompok kekerabatan masyarakat Nias Utara yang terkecil adalah sangambatö yaitu keluarga inti, tetapi kelompok yang penting adalah sangambatö sebua, yakni keluarga besar yang terdiri dari keluarga inti senior ditambah lagi dengan keluarga inti putra-putranya yang tinggal serumah, sehingga berupa sebuah rumah tangga dan satu kesatuan ekonomis.
Pada kelompok masyarakat suatu desa (Ori) biasanya seluruh warga memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat dekat. Seperti masyarakat lain diseluruh pulau Nias, Masyarakat Nias Utara mengenal sistem kasta atau stratifikasi
masyarakat untuk menentukan kelas sosial masyakatnya. Terdapat lima tingkatan dalam kasta sosial masyarakat Nias Utara antara lain :
Bangsawan (Si’ulu)
Pemuka agama(Ere)
Pemikir / orang pintar (Si’ila)
Rakyat (Ono Mbanua)
Budak (Harakana)
B. Sistem Pernikahan
Masyarakat Suku nias menganut sistem penikahan monogami yaitu setiap individu hanya memiliki satu pasangan. Pernikahan biasanya terjadi secara Cross Cousin atau pernikahan antara anak-anak dari kakak beradik yang berbeda jenis kelamin. Mahar atau mas kawin yang wajib dibayarkan pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan berupa beberapa ekor babi serta emas. Adapun tujuan dilaksanakannya pernikahan dalam kelompok masyarakat Nias Utara ialah untuk memperoleh serta meneruskan garis keturunan bagi pihak laki-laki serta memperoleh kedudukan sosial yang dasar sebagai keluarga dalam kelompok masyarakat serta untuk mewarisi kedudukan orangtua dalam adat karena yang berhak mendapat kedudukan dalam adat ialah individu yang sudah berkeluarga dan dianggap dewasa.
C. Sistem Religi atau Kepercayaan
Sebelum masuknya agama kristen, masyarakat Nias Utara memiliki kepercayaan tradisional yang melakukan pemujaan kepada roh leluhur. kegiatan dalam pemujaan ini ialah membuat patung-patung kayu dan batu (Adu) sebagai berhala yang dianggap sebagai gambaran para leluhur. Masyarakat melakukan ritual pemujaan yang bertujuan untuk mendapatkan berkah berupa hasil pertanian serta peternakan yang baik.
Sistem kepercayaan masyarakat Nias Utara merupakan Politeisme yaitu kepercayaan pada lebih dari satu Tuhan atau Dewa.
Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Nias Utara terdapat beberapa Dewa yang diakui dan memiliki tanggung jawab yang berbeda pada masing-masing
aspek kehidupan manusia serta alam semesta seperti Lowalangi, Laturadano, Zihi, Nadoya, serta Luluo.
Masyarakat Nias menganut kepercayaan akan adanya 3 (tiga) dunia, yakni :
Dunia atas atau dunia leluhur.
Dunia manusia.
Dunia bawah.
Kepercayaan masyarakat Nias ini merupakan pandangan dari masyarakat tentang asal-usul nenek moyang suku Nias yang berasal dari Teteholi Ana’a (langit) yang diturunkan ke bumi di puncak gunung yang sekarang di kenal dengan nama Boro Nadu, yang berada di Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan.
Pengaruh Kosmologi ini terlihat jelas dalam bentuk arsitektur tradisional Nias, baik itu dalam bentuk rumah adatnya maupun dalam pola perkampungan. Dalam bentuk rumah tradisional, masyarakat Nias menepatkan bagian atas dari pada bangunannya sebagai tempat yang paling dihormati (disucikan).Dalam pola perkampungan maka semakin tinggi letak kampung maka semakin dekat dengan dunia atas, yang berarti semakin aman dan sejahtera.Penggunaan bentuk oval atau bulat untuk denah bangunan berhubungan dengan gambaran alam semesta dan jagat raya yang oleh masyarakat diyakini berbentuk bulat.
Proses pembangunan rumah tradisional Nias Utara maupun masyarakat Nias di wilayah lain cukup panjang dan rumit. Untuk membangun sebuah rumah tradisional dimulai dengan perburuan kepala manusia ke daerah lain yaitu antar desa bahkan antar wilayah. Empat kepala manusia diletakkan dibawah batu pondasi tiap sudut bangunan sebagai persembahan untuk kesucian roh-roh para
leluhur. Hal inilah yang memicu munculnya budaya berperang pada masyarakat Nias. Kepala manusia adalah persembahan yang penting untuk bangunan bagian atas bangunan dimana sebagian diletakkan pada balok tertinggi pada bangunan.
Hal ini bertujuan sebagai persembahan untuk kesucian dunia yang tinggi (Upperworld) yaitu Lowalangi. Hal ini mempererat simbolisme rumah sebagai model alam semesta dengan dunia tinggi (Upperworld) dan dunia bawah (Underworld) dan daerah tempat tinggal yang penuh dengan gambaran tumbuhan serta binatang yang hidup di alam.
Keberhasilan seorang “arsitek” yang disebut (Tuka Sonekhe) dalam membangun sebuah rumah tradisional merupakan akhir dari hidupnya. Pada saat upacara peresmian rumah tersebut sang arsitek dengan rela dijatuhkan dari puncak atap rumah hingga mati, hal ini dilakukan untuk keamanan sang penghuni rumah jika suatu saat terjadi penyerangan oleh musuh maka kelemahan dari bangunan terebut tidak dapat diketahui karena satu-satunya yang mengetahui seluk-beluk rumah tersebut ialah sang arsitek sendiri.
D. Mata Pencaharian
Mata pencaharian pokok bagi masyarakat Nias Utara yang berdiam di daerah pantai adalah berkebun kelapa, sedangkan masyarakat di daerah pedalaman melakukan kegiatan bertani. Cara pengolahan dan peralatannya masih sederhana dan belum mengenal sistem irigasi. Jenis tanamannya adalah padi, palawija, pisang dan sayuran. Ladang yang sudah tandus digunakan untuk memelihara babi, kambing, sapi dan kerbau. Mata pencaharian lainnya iaah berburu, menangkap ikan, beternak dan kerajinan tangan. Hasil kerajinan tangan masyarakat Nias
sudah ada sejak zaman prasejarah seperti membuat berbagai peralatan dan senjata dari besi, barang perhiasan dari emas, perabot rumah dari kayu, seni pahat batu, ukiran dan sebagainya.
2.6. Antropologi Kelompok Masyarakat Lain
Berikut ini beberapa kelompok masyarakat lain di berbagai wilayah dengan bentuk denah bangunan tradisional yang sama dengan denah bangunan tradisional Nias Utara yang kemudian akan dibandingkan latar belakang antropologisnya.
2.6.1. Suku Dani (Papua)
Suku Dani merupakan salah satu dari banyaknya suku di tanah papua yang mendiami wilayah Lembah Baliem, Pegunungan Tengah, dan keseluruhan Kabupaten Jayawijaya serta sebagian kabupaten Puncak Jaya dengan luas wilayah sekitar 1.200 Km2. Sejak ratusan tahun lalu suku Dani dikenal sebagai petani yang terampil dan telah menggunakan alat/perkakas seperti kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat.
Suku ini pertama kali diketahui mendiami Lembah Baliem dan diperkirakan sudah ada sekitar ratusan tahun yang lalu. Orang yang pertama berinteraksi dengan suku ini adalah tim penyidik asal Amerika Serikat yang dipimpin oleh Richard tahun 1935.
Bahasa suku Dani termasuk keluarga bahasa Melanesia dan bahasa Irian (secara umum). Suku Dani memiliki 3 sub keluarga bahasa, yaitu:
Sub keluarga Wano di Bokondini.
Sub keluarga Dani Pusat yang terdri atas logat Dani Barat dan logat lembah Besar Dugawa.
Sub keluarga Nggalik & Ndash.
Sebagian masyarakat Suku Dani sudah memeluk agama Kristen, namun sebagian masyarakat yang mendiami daerah pedalaman masih melakukan serangkaian upacara adat salah satunya adalah Rekwasi. Rekwasi adalah sebuah upacara adat yang dilakukan untuk menghormati para leluhur. Pada upacara ini para prajurit biasanya akan membuat tanfa dari lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan dan digunakan pada bagian tubuh mereka. Saat melakukan upacara ini para peserta juga melengkapi dirinya dengan senjata tradisional seperti tombak, kapak, parang, dan juga busur beserta anak panah.
Gambar 2.7. Rumah Honai Sumber : www.wacana.co A. Sistem Kekerabatan atau Sosial
Sistem kekerabatan masyarakat Dani terdiri dari tiga kelompok antara lain :
Keluarga luas. Merupakan kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat Suku Dani. kelompok ini terdiri atas tiga atau dua keluarga
inti yang bersama – sama menghuni suatu kawasan perumahan yang dibatasi pagar (lima).
Paroh masyarakat. Merupakan struktur masyarakat Dani merupakan gabungan beberapa ukul (klan kecil) yang disebut ukul oak (klan besar)
Kelompok teritorial. Kesatuan teritorial yang terkecil dalam masyarakat suku bangsa Dani adalah kawasan perumahan (Uma) yang dihuni beberapa kelompok keluarga luas yang menggunakan sistem patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki).
Masyarakat Suku Dani memiliki beberapa aturan dalam sistem sosial dan masyarakatnya antara lain :
Masyarakat Dani berprinsip kerjasama yang bersifat tetap dan bergotong royong
Setiap rencana pendirian rumah selalu didahului dengan musyawarah yang dipimpin oleh seorang penata adat atau kepala suku
Organisasi kemasyarakat pada suku Dani ditentukan berdasarkan hubungan keluarga dan keturunan dan berdasarkan kesatuan teritorial.
Suku Dani dipimpin oleh seorang kepala suku besar yaitu disebut Ap Kain yang memimpin desa adat watlangka, selain itu ada juga 3 kepala suku yang posisinya berada di bawah Ap Kain dan memegang bidang sendiri yaitu : Ap. Menteg, Ap. Horeg, dan Ap Ubaik. Silimo biasa yang dihuni oleh masyarakat biasa dikepalai oleh Ap. Waregma. Dalam masyarakat Dani tidak ada sistem pemimpin, kecuali istilah kain untuk pria yang berarti kuat, pandai dan terhormat.
Pada tingkatan uma, pemimpinnya adalah laki-laki yang sudah tua, tetapi masih mampu mengatur urusannya dalam satu halaman rumah tangga maupun kampungnya. Urusan tersebut antara lain pemeliharaan kebun dan ternak babi serta melerai pertengkaran.
Pemimpin berwenang untuk memberi tanda dimulainya perang atau pesta lain. Pertempuran dipimpin oleh para Win Metek. Pemimpin konfederasi biasanya pernah juga menjadi win metek, meski bukan syarat mutlak syarat menjadi pemimpin masyarakat Dani antara lain Pandai bercocok tanam, bersifat ramah dan murah hati, pandai berburu, memiliki kekuatan fisik dan keberanian, pandai berdiplomasi, dan pandai berperang.
B. Sistem Pernikahan
Sistem pernikahan masyarakat Dani bersifat poligami diantaranya poligini yaitu kaum pria memiliki istri lebih dari satu. Keluarga inti ini tinggal di satu tempat tinggal yang disebut Silimo. Sebuah desa Dani terdiri dari tiga atau emat Silimo yang dihuni delapan sampai sepuluh keluarga.
C. Sistem Religi atau Kepercayaan
Dasar kepercayaan masyarakat Suku Dani adalah menghormati roh nenek moyang dengan diselenggarakannya upacara yang di pusatkan pada pesta penyembelihan babi. Konsep kepercayaan yang terpenting adalah Atou. yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan kepada anak laki – laki. Kekuasaan sakti ini antara lain :
kekuatan menjaga kebun.
kekuatan menyembuhkan penyakit dan menolak bala.
kekuatan menyuburkan tanah.
Untuk menghormati nenek moyangnya, Suku Dani membuat lambang nenek moyang yang disebut Kaneka. Selain itu juga ada juga Kaneka Hagasir yaitu upacara keagamaan untuk mensejahterakan keluarga masyarakat serta untuk mengawali dan mengakhiri perang.
D. Mata Pencaharian
Nenek Moyang Suku Dani tiba di Irian hasil dari suatu proses perpindahan manusia dari daratan Asia ke Kepulauan Pasifik Barat Irian Jaya.
Kemungkinan pada waktu itu masyarakat masih bersifat pra agraris yaitu baru memulai bercocok tanam dalam jumlah yang sangat terbatas.
Mata pencahariannya utama Suku Dani adalah bercocok tanam dan berternak babi. Umbi manis merupakan jenis tanaman yang diutamakan jenis tanaman yang diutamakan untuk dibudidayakan. Mata pencaharian umum masyarakat Dani ialah berladang.
2.6.2. Suku Wae Rebo (Flores)
Suku Wae Rebo merupakan salah satu suku yang terdapat kabupaten Manggarai, kabupaten Manggarai Timur dan kabupaten Manggarai Barat provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat ini mendiami daerah pegunungan di Nusa Tenggara Timur (NTT) Masyarakat Suku Wae Rebo memiliki bangunan tradisional yang disebut Mbaru Niang. Rumah tradisional Mbaru Niangsaat
inisangat langka karena jumlahnya hanya tinggal beberapa dan hanya terdapat di kampung adat Wae Rebo yang terpencil di atas pegunungan.
Gambar 2.8. Rumah Mbaru Niang
Sumber : www.gema-budaya.blogspot.com
A. Sistem Kekerabatan atau Sosial
Stratifikasi atau sistem sosial pada masyarakat Wae Rebo atau Manggarai pada umumnya menganut sistem stratifikasi kuno yang sudah ada sejak dulu. Pada masyarakat ini terdapat tiga tingkatan sosial antara lain :
Kraeng ( bangsawan )
Ata Lehe ( orang biasa )
Azi Ana ( budak )
B. Sistem Pernikahan
Sistem pernikahan pada masyarakat Manggarai umumnya menganut sistem monogami yaitu kaum pria atau wanita hanya mempunyai satu
pasangan.Dalam hal ini keluarga wanita akan meminta Paca (mas kawin) yang tinggi serta kerbau dan kuda kepada pihak keluarga pria.
Selain itu dalam kelompok masyarakat ini perkawinan adat tidak hanya terjadi pada strata atau tingkatan sosial yang tinggi atau bangsawan namun juga dapat dilakukan oleh kalangan masyarakat biasa.
C. Sistem Religi atau Kepercayaan
Saat ini sebagian besar masyarakat Flores menganut agama Katolik dan Kristen Protestan, namun pada hakekatnya masyarakat Flores tidak dapat terlepas dari konsep-konsep religi atau kepercayaan tradisionalnya.
Mereka masih meyakini roh nenek moyang serta makhluk-makhluk halus yang berada di dunia lain (Ata Pelesina). Makhluk halus ini dipercaya dapat menjaga rumah serta halaman, menjaga desa (Naga Golo), tanah pertanian (Naga Tana), dan sebagainya. Unsur terpenting dalam kepercayaan masyarakat Flores ialah kepercayaan terhadap dewa yang disebut Mori Karaeng atau Deva. Selain sebagai pencipta alam serta isinya, Mori Karaeng juga dipercaya sebagai tokoh pembawa adat.
Upacara keagamaan dipimpin oleh seorang Ata Mbeko yang diundang untuk memberi petunjuk atau melaksanakan upacara seperti rumah tangga, pertanian atau panen, kematian, dan sebagainya.
D. Mata Pencaharian
Mata pencaharian utama bagi masyarakat Flores ialah berladang.
Kaum pria bekerjasama membuka lahan untuk ladang di daerah hutan yang kemudian lahan tersebut dibagi untuk pihak yang ikut membuka lahan itu sendiri.
Selain bercocok tanam, masyarakat Flores juga beternak hewan yang tidak hanya untuk kepentingan ekonomi, namun juga untuk keperluan mas kawin, untuk disembelih dan dikonsumsi pada upacara adat, dan sebagai lambang kekayaan atau kemakmuran pada masing-masing keluarga.
2.6.3. Suku Eskimo (Kutub)
Gambar 2.9. Bangunan Igloo Sumber : www.depositphotos.com
Suku bangsa yang mendiami daerah kutub bumi disebut dengan suku Eskimo atau Esquimaux. Masyarakat ini tersebar di sebagian daerah Siberia (Rusia), Alaska (Amerika Serikat), Kanada dan Greenland.
Pada saat ini tercatat ada dua jenis suku bangsa Eskimo yang menghuni kawasan-kawasan kutub yaitu Yupik dan Inuit. Inuit tersebar di utara Alaska,
Kanada, dan Greenland sementaraYupik tersebar di barat Alaska dan Timur Jauh Rusia). Orang Eskimo memiliki hubungan dengan etnis Aleut dan Alutiiq dari Kepulauan Aleutian di Alaska dan juga Sug'piak dari Kepulauan Kodiak hingga Prince William Sound di selatan tengah Alaska.
Suku timur Eskimo yaitu Inuit berbicara dalam bahasa Inuktitut, sedangkan kelompok masyarakat Eskimo barat Alaska yaituYupik berbicara dalam bahasa Yup'ik. Terdapat suatu kesamaan dialek antara keduanya.Karena daerah kutub sangat luas maka suku Eskimo berpindah pindah tempat (nomaden). Tempat tinggalnya berupa tenda-tenda atau igloo dimusim dingin agar mudah dipindahkan, namun sebagain masyarakat lain menetap pada satu daerah.
A. Sistem Religi atau Kepercayaan
Pada masyarakat Eskimo terdapat seseorang yang dituakan serta diyakini memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan roh-roh. Mereka disebut Angatkuq oleh orang Eskimo sendiri sementara orang kulit putih menyebutnya dengan Shaman. Mereka dipercaya dapat membawa cuaca yang baik, menyembuhkan orang sakit, meningkatkan pasokan makanan serta umumnya dapat memperbaiki kondisi masyarakat.
Masyarakat Eskimo percaya bahwa roh-roh dikendalikan angin, cuaca, matahari, air, dan bulan. Roh yang diyakini serta paling tinggi dari roh-roh lainnya adalah dewi laut yang disebut Sedna.
Suku Eskimo juga meyakini bahwa manusia maupun hewan memiliki jiwa yang hidup di dunia lain setelah kematian. Aturan khusus harus ditaati utk menjaga roh & jiwa dari hukuman (seperti penyakit) semasa hidup. Kematian
seorang Eskimo yang mengharuskan tubuh dibungkus dalam kulit hewan &
diletakkan di tundra (tanah beku sepanjang tahun tetapi sebagian tanah kering selama musim panas) dan dikelilingi oleh lingkaran dari batu yang disusun.
Peralatan lainnya akan ditempatkan di samping tubuh bagi jiwa untuk digunakan pada kehidupan selanjutnya di dunia yang berikutnya.
a. Sistem Pernikahan
Menurut Koentjananingrat masyarakat suku Eskimo menganut sistem perkawinan poliandri yaitu seorang wanita memiliki lebih dari satu pasangan.
Sistem poliandri yang dianut secara spesifik ialah sistem poliandri non fraternal yaitu memiliki dua atau lebih pasangan laki-laki yang bukan merupakan saudara kandung.
Sistem perkawinan poliandri sendiri jarang ditemui dan hanya dianut oleh beberapa kelompok masyarakat antara lain masyarakat Tibet, India selatan, Polinesia, dan masyarakat Eskimo sendiri.
b.Mata pencaharian
Mata pencaharian suku eskimo antara lain bercocok tanam, berburu, beternak dan memancing ikan. masyarakatnya bercocok tanam seperti gandum namun bukan di es melainkan di tanah. Kutub Selatan daratannya berupa tanah yang diselimuti es yang sebagian akan mencair dimusim panas, berbeda dengan daerah Kutub Utara yang merupakan es yang mengapung. Selain itu mereka juga kebanyakan beternak domba dan memancing ikan. Ada juga yang berburu hewan besar seperti beruang kutub. perburuan dilakukan dengan menggunakan bantuan anjing serta
persenjataan dan dilakukan secara berkelompok.
2.6.4. Suku Boti ( Pulau Timor )
Suku Boti merupakan salah satu suku tertua dan berasal dari Nusa Tenggara Timur dan merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor.Letak geografis perkampungan masyarakat Suku Boti berada jauh dari perkotaan dan sulit dicapai karena berada di tengah pegunungan.Masyarakat Boti mendiami Desa Boti kecamatan Kie yang terletak kurang lebih 40 km dari kota So’e
Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Bahasa yang digunakan masyarakat Boti untuk berkomunikasi sehari-hari ialah bahasa Dawan seabagai bahasa asli.Masyarakat ini mendirikan bangunan sebagai tempat tinggal maupun untuk fungsi lainnya yang dalam bahasa Dawan disebut Umebubu yang berarti rumah bulat.
Gambar 2.10. Bangunan tradisional Suku Boti
Sumber : www.google.co.id A. Sistem Kekerabatan atau Sosial
Kesatuan hidup terkecil dalam masyarakat Boti disebut Ume. Makna leksikal Ume berarti rumah, yang mengacu pada sebuah bangunan rumah tradisional Ume
bubu (rumah berbentuk bulat, tertutup, dengan atap menjuntai sampai ke bawah).
Umebubu ini ditempati sebuah keluarga inti terutama oleh pihak istri beserta anak- anak yang belum dewasa. Masing-masing keluarga inti membangun satu buah Umebubu atau pun Umesae (bentuk rumah yang sudah mendapat pengaruh luar) dalam satu wilayah yang anggotanya terdiri dari anggota keluarga pihak suami (Armini,2010).
Gabungan beberapa Ume membentuk satu kesatuan keluarga luas atau klan kecil disebut Kuan. Selanjutnya Kuan kecil bergabung membentuk Kuan besar yang disebut Kanaf. Sebuah Kanaf dipimpin seorang kepala klan yang disebut Amaf yang berarti ayah. Para Amaf di lingkungan ini nantinya diangkat sebagai pemimpin-pemimpin yang mewakili anggota klannya dan akan berhubungan langsung dengan Pah Tuaf (penguasa wilayah). Pada rumah seorang amaf biasanya terdapat bangunan Lopo (rumah bulat tanpa dinding). Lopo digunakan sebagai tempat tidur laki-laki, tempat menyimpan hasil bumi, dan tempat melakukan kegiatan yang bersifat bebas dan terbuka.
Masyarakat Boti juga mengenal sistem kasta dalam tingkatan sosial masyarakatnya antara lain :
Golongan raja atau disebut Usif terdiri dari para raja dan keluarganya yang merupakan Pah Tuaf atau penguasa wilayah.
Tokoh adat terdiri dari para Amaf (kepala klen), Meo (pemimpin keamanan atau panglima perang), Mafefa (juru bicara adat), Mnae dan Atusit (dukun kampung).
Rakyat biasa atau disebut Too merupakan lapisan masyarakat terbesar yang mengelola tanah suku. Mereka dituntut untuk selalu mematuhi norma-norma adat yang berlaku dan berkewajiban membayar upeti kepada Usif (raja) atau Pah Tuaf (penguasa wilayah).
Golongan budak atau disebut Ate. Golongan ini umumnya kehilangan hak dalam masyarakat karena merupakan tawanan perang atau keturunan orang-orang yang dianggap bersalah besar.
B. Sistem Pernikahan
Masyarakat Suku Boti menganut sistem monogami atau hanya memiliki satu orang pasangan. Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka akan menggelungnya seperti konde.
C. Sistem Religi atau kepercayaan
Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebut Halaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai ayah atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.Sumarsono (2012) menulis tentang konsep kehidupan setelah kematian pada agama lokal yaitu Halaika di suku Boti. Konsep kehidupan setelah kematian dalam bahasa lokal disebut dengan Fatu Bian ma Hau Bian (di balik batu dan
tersebut tidak pergi untuk berpindah tempat, melainkan perpindahan eksistensiatau wujud sedangakan tempatnya sama.
Penganut Halaika harus menghormati alam karena mereka hidup dari alam yang telah dilindungi Uis Pah sebagai roh penjaga bumi. Mereka berpandangan bahwa manusia harus bersahabat dengan alam karena alamlah yang menyediakan makanan dan minuman. Karenanya, pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan dan makanan tidak boleh dipanen sebelum waktunya, bahkan rambut mereka pun tidak boleh dicukur. Alat dapur dan peralatan makan mereka pun terbuat dari bahan alam seperti tempurung kelapa.
Tradisi Halaika memiliki 4 nilai dasar yang disebut dengan Ha’ kae (empat larangan) sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat larangan ini merupakan artikulasi dari pandangan hidup suku Boti mengenai tindak-tanduk yang harus mereka lakukan dan bagaimana cara menjadi manusia sebaik-baiknya.
Keempat larangan tersebut antara lain:
Kaes mu bak artinya warga halaika dilarang mencuri;
Kais mam paisa artinya warga halaika dilarang berzinah dan merampas istri orang lain.
Kaes teun tua artinya warga halaika dilarang meminum minuman keras/beralkohol.
Kaes heot heo artinya warga halaika dilarang memetik Bijol yaitu alat musik tradisional Timor, memetik buah kusambi (Kaes hupu sapi), dan memotong bambu (Kaes oet o) bila waktu untuk memanen belum tiba.
Bila kepercayaan dan aturan adat yang telah ditentukan tersebut dilanggar, maka akan dikenakan sanksi yaitu tidak akan diakui sebagai penganut kepercayaan Halaika yang berarti harus keluar dari kelompok masyarakat suku Boti.
D. Mata Pencaharian
Mata pencaharian utama masyarakat Suku Boti ialah bertani dan berburu bagi kaum laki-laki serta menenun kain tradisional bagi kaum perempuan. Di dalam masyarakat Suku Boti kaum perempuan diwajibkan bisa menenun kain.
2.6.5. Suku Darai (Nepal)
Suku Darai merupakan salah satu kelompok etnis asli Nepal yang mendiami daerah hutan lebat dan lebah sungai Terai bagian dalam di distrik Chitwan, Tanhu, Nawalparasi, Gorkha, Palpa, serta distrik Dhading di daerah barat dan tengah Nepal. Secara geografis letak perkampungan suku Darai cukup terisolir dan sulit untuk dijangkau.Suku ini dikenal juga dengan beberapa sebutan lain seperti Daroe, Darhi, Daraie, Daras, dan Darad. Mereka berbicara dengan bahasa asli yang disebut bahasa Darai.Suku Darai memiliki bangunan tradisional yang berbentuk bulat dan disebut Ghumaune Ghar.
Gambar 2.11. Bangunan tradisional Suku Darai
Sumber : www.google.co.id
A. Sistem Kekerabatan atau Sosial
Masyarakat Suku Darai menganut sistem sosial Hindu kuno yaitu mengenal adanya sistem stratifikasi atau kasta untuk menentukan tingkatan sosial di dalam masyarakatnya.
Berikut ini tingkatan kasta tersebut antara lain :
Brahmana ( kaum pemuka agama seperti pendeta atau rohaniawan)
Ksatria ( Bangsawan, prajurit, dan pelaksana pemerintahan)
Waisya ( kaum pedagang, petani, serta nelayan)
Sudra ( masyarakat biasa )
Pariya ( kaum budak atau pembantu )
Dalam tingkatan keluarga pada masyarakat Suku Darai terdapat dua kelompok keluarga yaitu keluarga inti dan keluarga gabungan . keluarga inti pada umumnya yang terdiri dari ayah, ibu, serta anak-anak. kelompok keluarga yang lebih besar yaitu gabungan beberapa keluarga inti yang besaudara secara
patrilineal ( garis keturunan dari pihak laki-laki) yang tinggal bersama dalam satu rumah dan memiliki tempat penyimpanan bahan pangan serta dapur bersama.
Kelompok gabungan keluarga ini dipimpin oleh anggota keluarga laki-laki yang tertua serta berhak dalam menentukan keputusan dan perencanaan dalam keluarga. Sumber utama pencaharian masyarakat Suku Darai ialah murni dari bertani, berburu, serta beternak sehingga membutuhkan lebih banyak sumber daya. Hal inilah yang mendorong terbentuknya sistem keluarga gabungan (Khadka,2017).
B. Sistem Pernikahan
Pernikahan dalam masyarakat suku Darai umumnya terjadi antar individu di dalam lingkungan masyarakat itu sendiri (Endogami). Pernikahan biasanya terjadi secara Cross Cousin atau pernikahan antara anak-anak dari kakak beradik yang berbeda jenis kelamin. Pernikahan sesama anggota kelompok keluarga yang memiliki garis patrilineal yang sama tidak diperbolehkan. Jika seorang kakak laki- laki meninggal dunia dan meninggalkan istri, maka adik laki-lakinya wajib menikahi istri yang ditinggalkan tersebut. Pernikahan eksogami ( pernikahan antar etnis, klan,suku, dan lingkungan masyarakat yang berbeda) diperbolehkan namun pernikahan antar kasta baik dengan yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah tidak dianjurkan dalam masyarakat.
C. Sistem Religi atau Kepercayaan
Masyarakat Suku Darai sebagian besar menganut ajaran Hindu seperti kelompok masyarakat atau suku lainnya di Nepal.Masyarakat Darai meyakini ajaran Hindu dengan memuja Dewa dan Dewi Hindu serta merayakan sebagian
besar festival Hindu seperti Dashain dan Tihar. Mereka juga meyakini adanya Sapi Suci serta meyakini kesucian air seniNya (Gahut) namun sebenarnya mereka tidak memiliki konsep agama yang jelas karena masih memegang kepercayaan yang bersifat etnis yang diwarisi oleh leluhur secara turun temurun. Mereka menerima adanya keberadaan kekuatan spiritual tersebut dalam bentuk roh yang penuh kebaikan serta kejahatan yang mengendalikan aktivitas mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Secara rasional keyakinan masyarakat Suku Darai dapat dibagi menjadi dua aspek. Pertama ialah adanya Paap (dosa) dan Dharma (kebaikan) yang sifatnya etnis, sementara yang kedua ialah mereka meyakini adanya kekuatan-kekuatan yang mengendalikan segala hal duniawi. Kelompok masyarakat ini menganggap bahwa adanya agama dalam kehidupan mereka adalah sebagai penjaga keutuhan keluarga.
Menyembelih hewan dan melakukan kebohongan adalah dosa tetapi mengorbankan hewan sebagai persembahan kepada Dewa bukanlah dosa.
Kelompok masyarakat ini tidak meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian namun mereka percaya bahwa setelah meninggal arwah mereka akan pergi ke surga ataupun neraka. Harta benda, kemalangan, serta penyakit disebabkan oleh roh oleh karena itu untuk menjaga hubungan baik dengan roh tersebut serta terhindar dari musibah maka mereka melakukan berbagai ritual keagamaan.
Selain menganut ajaran Hindu mereka juga meyakini akan adanya kekuatan dari alam semesta. Mereka menyebut ajaran ini sebagai Prakritipujak atau naturalisme.
D. Mata Pencaharian
Masyarakat Suku Darai menggantungkan hidupnya dari alam yang mereka kelola secara tradisional. Adapun mata pencaharian masyarakat ini antara lain bertani, berburu, serta mencari ikan. Kegiatan tersebut dilakukan oleh kaum laki- laki, sedangkan kaum wanita melakukan kegiatan produktif seperti menenun kain, menganyam keranjang, dan membuat berbagai kerajinan tangan tradisional.
2.6.6. Bangsa Celtic
Bangsa Celtic merupakan gabungan beberapa suku di Eropa yang memiliki kebudayaan yang sama dan telah diketahui keberadannya sejak sekitar tahun 1500 SM. Bangsa ini mendiami beberapa wilayah di Eropa dari daratan Spanyol hingga Inggris, Skotlandia, Jerman, Italia bagian utara, hingga ke Anatolia bagian tengah.
Pada zaman Romawi bangsa Celtic mendominasi sebagian besar daratan Eropa. Bangsa ini mempeluas wilayah kekuasaannya dengan cara berperang.
Orang-orang dari bangsa Celtic dikenal sebagai pejuang yang tangguh bahkan kaum wanita juga turut serta dalam peperangan. Mereka berperang menggunakan berbagai senjata dan peralatan perang lainnya yang terbuat dari besi.
Gambar 2.12. Bangunan tradisionalBangsa Celtic Sumber : www.pinterest.com
A. Sistem Kekerabatan atau Sosial
Setiap suku yang tergabung di dalam bangsa Celtic dipimpin oleh seseorang yang di sebut Druid. Para Druid berasal dari kaum pendeta yang terpelajar, perancang peraturan, penyair, dan juga peramal. Kepala suku ini ditentukan oleh masyarakat sendiri yang sewaktu-waktu dapat diturunkan dari jabatannya jika tidak melakukan tugasnya dengan baik sebagai kepala suku.
Kelompok masyarakat Celtic juga mengenal sistem kasta atau stratifikasi masyarakat yang terdiri atas beberapa kelas antara lain :
Chieftainsatau pemimpin teringgi yang dipilih oleh para kepala suku sebagai pemimpin untuk gabungan beberapa suku atau kelompok masyarakat yang lebih besar.