BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Perbandingan dan Analisa
Secara kosmologi masyarakat Nias Utara meyakini bahwa alam semesta dan jagat raya berbentuk bulat sehingga diterapkan pada bentuk dasar rumah tradisionalnya. Bentuk bulat juga mewakili benda benda atau makhluk hidup yang terdapat di alam.
Menurut pengelompokkan wilayah kekuasaan masyarakat di Pulau Nias, masing-masing wilayah kekuasaan berusaha menonjolkan pengaruhnya serta membedakan ciri adat istiadatnya. Dalam hal ini bentuk rumah
tradisional Nias Utara berbeda dengan wilayah lain di Pulau Nias dimana bentuk rumah tradisional Nias Selatan dan Nias tengah berbentuk persegi.
Dari aspek fungsi ruang masyarakat Nias Utara membutuhkan ruang yang cukup luas untuk melakukan kegiatan berkumpul antar masyarakat desa.
Ruang yang luas dan lapang juga dibutuhkan sebagai strategi untuk mengamati musuh jika terjadi perang dimana pada ruang yang berbentuk bulat atau oval lebih mudah untuk melakukan pengamatan ke arah luar bangunan.
Dari aspek kenyamanan suhu, ruangan yang bulat dapat menghangatkan ruangan dari udara dingin yang berasal dari luar ruangan.
BAB V
KESIMPULAN
Proses terbentuknya denah bulat pada bangunan tradisional Nias Utara disebabkan oleh berbagai faktor latar belakang yang merupakan hasil perbandingan dan analisa latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsi (fisik) dari beberapa kelompok masyarakat lain yang juga menggunakan bentuk denah yang sama serta dari masyarakat Nias Utara sendiri. Secara kosmologi masyarakat Nias Utara meyakini bahwa alam semesta dan jagat raya berbentuk bulat sehingga diterapkan pada bentuk dasar rumah tradisionalnya. Bentuk bulat juga mewakili benda benda atau makhluk hidup yang terdapat di alam. Menurut pengelompokan wilayah kekuasaan masyarakat di Pulau Nias, masing-masing wilayah kekuasaan berusaha menonjolkan pengaruhnya serta membedakan ciri adat istiadatnya.
Dalam hal ini bentuk rumah tradisional Nias Utara berbeda dengan wilayah lain di Pulau Nias, dimana bentuk rumah tradisional Nias Selatan dan Nias Tengah berbentuk persegi. Ditinjau dari aspek fungsi ruang, masyarakat Nias Utara membutuhkan ruang yang cukup luas untuk melakukan kegiatan berkumpul antar masyarakat desa. Ruang yang luas dan lapang juga dibutuhkan sebagai strategi untuk mengamati musuh jika terjadi perang dimana pada ruang yang berbentuk bulat atau oval lebih mudah untuk melakukan pengamatan ke arah luar bangunan, dan dari aspek kenyamanan suhu, ruangan yang berbentuk bulat dapat menyebabkan suhu udara yang lebih tinggi sehingga ruangan terasa lebih hangat apabila dibandingkan dengan ruangan yang tidak berbentuk bulat.
BAB VI
SARAN
Bentuk bulat atau oval merupakan bentuk dasar yang saat ini jarang ataupun tidak umum digunakan oleh masyarakat dalam merancang suatu objek arsitektur. Meskipun bentuk ini tidak lagi efektif diterapkan pada bangunan mengingat efektifitas penggunaan lahan serta penataan ruang dalamnya, namun di sisi lain bentuk bulat ini memiliki karakter atau keunikannya serta pengalaman ruang tersendiri yang mungkin tidak terdapat pada bentuk dasar lain. Secara estetika dan emosional bentuk ini dapat dimanfaatkan atau dieksplorasi dalam merancang suatu objek arsitektur yang tentunya diseusaikan pula dengan keadaan saat ini.
Rumah tradisional Nias Utara meskipun tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal atau melakukan kegiatan sehari-hari oleh masyarakat melainkan beralih fungsi menjadi sekedar bangunan simbolis namun sebaiknya tetap dijaga kelestariaanya mengingat pada saat ini rumah tradisional Nias Utara semakin jarang ditemui dan bahkan dapat terancam punah bila tidak dijaga keberadaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Bhakti , Prof. Dr. Julaihi Bin Wahid. (2012). Tipologi Arsitektur Rumah Adat Nias Selatan & Rumah Adat Nias Utara. Graha Ilmu.
Amirrol, Hafiz. (2010). Structural Genius of Indigenous Nias House Architecture.
Barrow, Mandy. (2013). Celtic Round Houses.
http://www.primaryhomeworkhelp.co.uk/celts/index.html
Boru, Jeky El. (2013). Perkembangan Arsitektur Vernakular Atoni. Universitas Atma Jaya.
Yogyakarta.
Darai, Rajendra. (2016). Darai “An Indigenous Ethnic Community" of Nepal.
https://sites.google.com/site/daraiethnicsocietynepal/home.
Eldwin, Hajera, Astuti S. (2012). Masyarakat Dan Kebudayaan Indonesia Kebudayaan Timor.
http://hajera.blogspot.com/2012/01/kebudayaan-timor.html
Faisal, Gun. dkk. (2012). Tipologi Ventilasi Bangunan Vernakular Indonesia.
http://jurnal.ubl.ac.id/index.php/ja/article/view/312/314
Gruber, Petra. (2011). Biomimetics in Architecture - Architecture of Life and Buildings,Case studies. Springer. 196-261
Gruber, P dan Herbig. (2006). Research of Environment Adaptation of Traditional Building Constructions and Techniques in Nias, Vienna: Institute for Comparative Research in Architecture.
Gruber, P dan Herbig. (2005). Settlements and Housing on Nias Island: Adaptation and Development, Vienna: Institute for Comparative Research in Architecture.
Hariyono, Paulus. (2007). Sosiologi kota untuk arsitek. Bumi Aksara, Jakarta.
Indriyawati, E. 2009. Antropologi 1. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. 137
Kershaw, Peter. dkk. (1996). The Shelter Characteristics of Traditional-Styled Inuit Snow Houses.
Arctic, Vol. 49, No.4. 328-338
Lase, Y. (2005). Kontrol Seismik pada Rumah Adat Nias, Jakarta: HAKI Seminar
Lumantarna, B., Pudjisuryadi, P (2012). Learning from Local Wisdom: Friction Damper in Traditional Building. Civil Engineering Dimension, Vol. 14, No.3.
Mentayani, ira, dan Ikaputra. (2012). Menggali makna arsitektur vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas. LANTING Journal of Architecture, Vol. 1, No 2. 68-82
Nag, Oishimaya Sen. (2018). Religious Beliefs in Lesotho.
https://www.worldatlas.com/articles/religious-beliefs-in-libya.html Prasetyo, Frans. (2014). Cosmology of Nias Architecture.
Pudjisuryadi, P., Lumantarna, B. and Lase, Y. (2007).Base Isolation in Traditional Building:
Lesson Learned from Nias, Surabaya: The 1st International Conference of European Asian Civil Engineering Forum
Purbadi, Djarot. (2008). Filosofi Bangunan
Umebubu.https://arsitekturnusantara.wordpress.com/2008/10/03/filosofi-bangunan-umebubu/(16 Juni 2018)
Purbadi, Djarot. dkk. (2008). Kearifan lokal bangunan umebubu.
https://kaenbaun.wordpress.com/2008/10/08/kearifan-lokal-bangunan-umebubu/
Salipu, M. Amir, Santoso, Imam. (2014). Pengaruh Kenyamanan Dan Keamanan Bermukim Terhadap Bentuk Permukiman Tradisional Suku Dani Di Wamena Kabupaten Jayawijaya, Papua.
Program Studi Arsitektur, UPN Veteran, Jawa Timur.60-66 Saragi, Rizalina Tama. (2009). Honai House
http://globalwindow.wordpress.com/2009/01/23/honai-house/ (8 April 2018)
Smith, Andile. (2018). Sotho people, culture, traditional attire, food, language, quick facts.https://buzzsouthafrica.com/sotho-people-language-and-culture/
Sumarsono, Elisabeth. (2012). Konsep kehidupan setelah kematian Fatu Bian Ma Hau Bian : Upaya untuk mempertahankan identitas keagamaan lokal Atoin Pah Meto Suku Boti.Universitas Gadjah Muda. Yogyakarta.
Suriawidjaja, Eppi P. dkk. (1986). Persepsi bentuk dan konsep arsitektur. Djambatan, Jakarta.
Sutardi, Tedi. (2007). Antropologi Mengungkapkan Keragaman Budaya, Setia Purna Inves, Bandung. 25-54
Yuliawati, Sri. (2011). Pengukuran Gatra Sosial Budaya Di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Tahun 15, Nomor 1. Program Pascasarjana UHAMKA, Jakarta.
https://www.everyculture.com/wc/Japan-to-Mali/Sotho.html
http://louisiana.jurnal-budaya.com/id3/2314-2205/Igloo_23451_louisiana-jurnal-budaya.html