BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi kepustakaan, yaitu usaha untuk mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan teori-teori yang ada kaitannya dengan masalah dan variabel yang diteliti, terdiri dari beberapa kelompok masyarakat dengan bentuk denah bangunan tradisional lingkaran serta berbagai aspek antropologisnya serta berbagai latar belakang fisik terbentuknya denah bulat tersebut.
Studi literatur ini diperoleh dari :
Perpustakaan
Hasil penelitian terdahulu
Jurnal-jurnal imiah
Media-media (cetak dan elektronik)
3.5. Metode Analisa Data
Salah satu tujuan penelitian adalah untuk menguji hipotesis. Tujuan pengujian hipotesis untuk menentukan apakah jawaban teoretis yang terkandung dalam pernyataan hipotesis didukung oleh fakta yang dikumpulkan dan dianalisis dalam proses pengujian data. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif.
3.5.1. Analisa Deskriptif
Metode analisis deskriptif merupakan metode yang digunakan dengan mengadakan pengumpulan data dan penganalisaan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat seta hubungan antar fenomena yang diteliti.
Penelitian deskriptif membantu peneliti untuk menjelaskan karakteristik subjek yang akan diteliti, mengkaji berbagai aspek dalam fenomena tertentu, dan menawarkan ide masalah untuk pengujian atau penelitian lanjutannya. Penelitian ini terkadang dimaksudkan untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan dalam penelitian (Sekaran, 2003).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pembahasan
4.1.1. Perbandingan aspek antropologi
Berikut ini aspek antropologi dari beberapa kelompok masyarakat di atas yang akan dibandingkan dengan aspek antropologi dari objek utama penelitian untuk menemukan penyebab terbentuknya denah lingkaran (oval) pada rumah tradisional Nias Utara :
Sistem kekerabatan atau Sosial
Sistem Pernikahan
Sistem Religi atau kepercayaan
Mata pencaharian
Perbandingan aspek antropologis masyarakat kelompok lain dengan masyarakat
Nias utara :Tabel 4.1. Tabel perbandingan latar belakang antropologis Kelompok masyarakat Kepercayaan Sistem
A. Suku Dani
Dari sistem kekerabatan masyarakat Suku Dani dan Nias utara memiliki kesamaan yaitu adanya sistem keluarga luas yang merupakan keluarga besar yang berasal dari satu garis keturunan. Namun masyarakat suku Dani tidak mengenal sistem kasta dalam masyarakat sosialnya.
Dari sistem pernikahan masyarakat Suku Dani dan Nias utara tidak memiliki persamaan.
Dari sistem kepercayaan masyarakat Suku Dani dan Nias utara memiliki kesamaan yaitu pemujaan terhadap leluhur dan memberi persembahan korban hewan yaitu babi.
Dari aspek mata pencaharian masyarakat Suku Dani dan Nias Utara memiliki kesamaan pekerjaan yaitu bertani dan beternak babi.
B. Suku Wae Rebo
Dari sistem kekerabatan atau sosial kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu adanya stratifikasi sosial atau sistem kasta.
Dari sistem pernikahan kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu yaitu menganut sistem monogami dan memberikan mahar berupa hewan.
Dari sisi kepercayaan kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu kepercayaan terhadap leluhur untuk memelihara segala aspek kehidupan.
Dari aspek mata pencaharian kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu bertani dan beternak hewan.
C. Bangsa Eskimo (Kutub)
Dari sistem penikahan kedua kelompok masyarakat memiliki perbedaan yaitu Bangsa Eskimo menganut sistem poliandri sedangkan masyarakat Nias Utara menganut sistem monogami.
Dari sisi kepercayaan kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu kepercayaan terhadap leluhur untuk memelihara segala aspek kehidupan.
Dari aspek mata pencaharian kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu bertani dan berburu, namun berbeda proses dan pengolahannya karena kondisi geografis yang tidak sama.
D. Suku Boti (Pulau Timor)
Dari sistem kekerabatan dan sosial kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu adanya sistem klan keluarga serta kegiatan berkumpul pada rumah pemimpin suku sehingga dibutuhkan sebuah bangunan bersama yang lebih besar untuk berkumpul.
Dari sistem kepercayaan kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu kepercayaan terhadap leluhur untuk memelihara segala aspek kehidupan.
Dari sistem pernikahan kedua kelompok masyarakat memiliki persamaan yaitu menganut sistem perkawinan monogami.
Dari aspek mata pencaharian kedua kelompok masyarakat memiliki persamaan yaitu bertani dan berburu bagi kaum pria dan mengerjakan kerajinan tradisional bagi kaum wanita.
E. Suku Darai ( Nepal )
Dari sistem kekerabatan atau sosial kedua kelompok masyarakat memiliki persamaan yaitu adanya sistem kasta serta gabungan beberapa keluarga yaitu klan.
Dari sistem pernikahan kedua kelompok masyarakat tidak memiliki persamaan.
Dari sistem religi atau kepercayaan kedua kelompok masyarakat tidak memiliki kesamaan karena masyarakat Suku Darai yang telah dipengaruhi oleh ajaran Hindu dalam kepercayaannya.
Dari aspek mata pencaharian kedua kelompok masyarakat memiliki persamaan yaitu bertani dan berburu bagi kaum pria dan mengerjakan kerajinan tradisional bagi kaum wanita.
F. Bangsa Celtic
Dari sistem kekerabatan atau sosial kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu adanya stratifikasi masyarakat atau kasta serta pemipin yang dituakan, namun Bangsa Celtic tidak mengenal perbudakan.
Dari sistem pernikahan kedua kelompok masyarakat memiliki persamaan yaitu menganut sistem perkawinan monogami, namun dalam
masyarakat Nias Utara kasus perceraian sangat jarang terjadi karena dianggap tabu dlaam masyarakat.
Dari sistem religi atau kepercayaan kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu menganut sistem monoteisme atau kepercayaan terhadap lebih dari satu Tuhan atau Dewa.
Dari aspek mata pencaharian kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu melakukan pekerjaan bertani, beternak, dan mengerjakan kerajinan logam.
G. Bangsa Basotho ( Lesotho )
Dari sistem kekerabatan atau sosial kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu adanya sistem klan dan pewarisan nama keluarga namun suku bangsa Basotho tidak mengenal sistem kasta.
Dari sistem pernikahan kedua kelompok masyarakat tidak memiliki persamaan.
Dari sistem kepercayaan masyarakat Suku Dani dan Nias utara memiliki kesamaan yaitu pemujaan terhadap leluhur dan memberi persembahan korban hewan yaitu babi.
Dari aspek mata pencaharian kedua kelompok masyarakat memiliki kesamaan yaitu bertani dan beternak serta mengerjaan kerajinan dari besi.
4.1.2. Analisa latar belakang fisik (tipologi) A. Fungsi ruang
Masyarakat Nias pada umumnya memiliki hubungan kekerabatan serta hubungan kekeluargaan yang erat dalam satu desa (Ori) dan adanya tradisi berkumpul untuk melakukan musyawarah atau kegiatan lainnya pada rumah pemimpin atau kepala perkampungan tersebut. Masyarakat Nias juga identik dengan budaya berperangnya sehingga masyarakat membutuhkan ruang yang cukup aman dan strategis jika sewaktu-waktu terjadi peperangan.
B. Keadaan Geografis
Daratan pulau Nias sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan pegunungan, dan pemukiman atau perkampungan di Nias umumnya berada di atas bukit dimana menurut kosmologi masyarakat Nias semakin tinggi letak suatu perkampungan maka akan semakin dekat dengan dunia atas dimana daerah tersebut relatif bersuhu dingin. Oleh karena itu dibutuhkan ruang yang lebih hangat atau nyaman bagi penghuninya.
4.2. Hasil perbandingan dan analisa
Secara kosmologi masyarakat Nias Utara meyakini bahwa alam semesta dan jagat raya berbentuk bulat sehingga diterapkan pada bentuk dasar rumah tradisionalnya. Bentuk bulat juga mewakili benda benda atau makhluk hidup yang terdapat di alam.
Menurut pengelompokkan wilayah kekuasaan masyarakat di Pulau Nias, masing-masing wilayah kekuasaan berusaha menonjolkan pengaruhnya serta membedakan ciri adat istiadatnya. Dalam hal ini bentuk rumah
tradisional Nias Utara berbeda dengan wilayah lain di Pulau Nias dimana bentuk rumah tradisional Nias Selatan dan Nias tengah berbentuk persegi.
Dari aspek fungsi ruang masyarakat Nias Utara membutuhkan ruang yang cukup luas untuk melakukan kegiatan berkumpul antar masyarakat desa.
Ruang yang luas dan lapang juga dibutuhkan sebagai strategi untuk mengamati musuh jika terjadi perang dimana pada ruang yang berbentuk bulat atau oval lebih mudah untuk melakukan pengamatan ke arah luar bangunan.
Dari aspek kenyamanan suhu, ruangan yang bulat dapat menghangatkan ruangan dari udara dingin yang berasal dari luar ruangan.
BAB V
KESIMPULAN
Proses terbentuknya denah bulat pada bangunan tradisional Nias Utara disebabkan oleh berbagai faktor latar belakang yang merupakan hasil perbandingan dan analisa latar belakang antropologis (nonfisik) dan fungsi (fisik) dari beberapa kelompok masyarakat lain yang juga menggunakan bentuk denah yang sama serta dari masyarakat Nias Utara sendiri. Secara kosmologi masyarakat Nias Utara meyakini bahwa alam semesta dan jagat raya berbentuk bulat sehingga diterapkan pada bentuk dasar rumah tradisionalnya. Bentuk bulat juga mewakili benda benda atau makhluk hidup yang terdapat di alam. Menurut pengelompokan wilayah kekuasaan masyarakat di Pulau Nias, masing-masing wilayah kekuasaan berusaha menonjolkan pengaruhnya serta membedakan ciri adat istiadatnya.
Dalam hal ini bentuk rumah tradisional Nias Utara berbeda dengan wilayah lain di Pulau Nias, dimana bentuk rumah tradisional Nias Selatan dan Nias Tengah berbentuk persegi. Ditinjau dari aspek fungsi ruang, masyarakat Nias Utara membutuhkan ruang yang cukup luas untuk melakukan kegiatan berkumpul antar masyarakat desa. Ruang yang luas dan lapang juga dibutuhkan sebagai strategi untuk mengamati musuh jika terjadi perang dimana pada ruang yang berbentuk bulat atau oval lebih mudah untuk melakukan pengamatan ke arah luar bangunan, dan dari aspek kenyamanan suhu, ruangan yang berbentuk bulat dapat menyebabkan suhu udara yang lebih tinggi sehingga ruangan terasa lebih hangat apabila dibandingkan dengan ruangan yang tidak berbentuk bulat.
BAB VI
SARAN
Bentuk bulat atau oval merupakan bentuk dasar yang saat ini jarang ataupun tidak umum digunakan oleh masyarakat dalam merancang suatu objek arsitektur. Meskipun bentuk ini tidak lagi efektif diterapkan pada bangunan mengingat efektifitas penggunaan lahan serta penataan ruang dalamnya, namun di sisi lain bentuk bulat ini memiliki karakter atau keunikannya serta pengalaman ruang tersendiri yang mungkin tidak terdapat pada bentuk dasar lain. Secara estetika dan emosional bentuk ini dapat dimanfaatkan atau dieksplorasi dalam merancang suatu objek arsitektur yang tentunya diseusaikan pula dengan keadaan saat ini.
Rumah tradisional Nias Utara meskipun tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal atau melakukan kegiatan sehari-hari oleh masyarakat melainkan beralih fungsi menjadi sekedar bangunan simbolis namun sebaiknya tetap dijaga kelestariaanya mengingat pada saat ini rumah tradisional Nias Utara semakin jarang ditemui dan bahkan dapat terancam punah bila tidak dijaga keberadaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Bhakti , Prof. Dr. Julaihi Bin Wahid. (2012). Tipologi Arsitektur Rumah Adat Nias Selatan & Rumah Adat Nias Utara. Graha Ilmu.
Amirrol, Hafiz. (2010). Structural Genius of Indigenous Nias House Architecture.
Barrow, Mandy. (2013). Celtic Round Houses.
http://www.primaryhomeworkhelp.co.uk/celts/index.html
Boru, Jeky El. (2013). Perkembangan Arsitektur Vernakular Atoni. Universitas Atma Jaya.
Yogyakarta.
Darai, Rajendra. (2016). Darai “An Indigenous Ethnic Community" of Nepal.
https://sites.google.com/site/daraiethnicsocietynepal/home.
Eldwin, Hajera, Astuti S. (2012). Masyarakat Dan Kebudayaan Indonesia Kebudayaan Timor.
http://hajera.blogspot.com/2012/01/kebudayaan-timor.html
Faisal, Gun. dkk. (2012). Tipologi Ventilasi Bangunan Vernakular Indonesia.
http://jurnal.ubl.ac.id/index.php/ja/article/view/312/314
Gruber, Petra. (2011). Biomimetics in Architecture - Architecture of Life and Buildings,Case studies. Springer. 196-261
Gruber, P dan Herbig. (2006). Research of Environment Adaptation of Traditional Building Constructions and Techniques in Nias, Vienna: Institute for Comparative Research in Architecture.
Gruber, P dan Herbig. (2005). Settlements and Housing on Nias Island: Adaptation and Development, Vienna: Institute for Comparative Research in Architecture.
Hariyono, Paulus. (2007). Sosiologi kota untuk arsitek. Bumi Aksara, Jakarta.
Indriyawati, E. 2009. Antropologi 1. Pusat Perbukuan Departemen Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. 137
Kershaw, Peter. dkk. (1996). The Shelter Characteristics of Traditional-Styled Inuit Snow Houses.
Arctic, Vol. 49, No.4. 328-338
Lase, Y. (2005). Kontrol Seismik pada Rumah Adat Nias, Jakarta: HAKI Seminar
Lumantarna, B., Pudjisuryadi, P (2012). Learning from Local Wisdom: Friction Damper in Traditional Building. Civil Engineering Dimension, Vol. 14, No.3.
Mentayani, ira, dan Ikaputra. (2012). Menggali makna arsitektur vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas. LANTING Journal of Architecture, Vol. 1, No 2. 68-82
Nag, Oishimaya Sen. (2018). Religious Beliefs in Lesotho.
https://www.worldatlas.com/articles/religious-beliefs-in-libya.html Prasetyo, Frans. (2014). Cosmology of Nias Architecture.
Pudjisuryadi, P., Lumantarna, B. and Lase, Y. (2007).Base Isolation in Traditional Building:
Lesson Learned from Nias, Surabaya: The 1st International Conference of European Asian Civil Engineering Forum
Purbadi, Djarot. (2008). Filosofi Bangunan
Umebubu.https://arsitekturnusantara.wordpress.com/2008/10/03/filosofi-bangunan-umebubu/(16 Juni 2018)
Purbadi, Djarot. dkk. (2008). Kearifan lokal bangunan umebubu.
https://kaenbaun.wordpress.com/2008/10/08/kearifan-lokal-bangunan-umebubu/
Salipu, M. Amir, Santoso, Imam. (2014). Pengaruh Kenyamanan Dan Keamanan Bermukim Terhadap Bentuk Permukiman Tradisional Suku Dani Di Wamena Kabupaten Jayawijaya, Papua.
Program Studi Arsitektur, UPN Veteran, Jawa Timur.60-66 Saragi, Rizalina Tama. (2009). Honai House
http://globalwindow.wordpress.com/2009/01/23/honai-house/ (8 April 2018)
Smith, Andile. (2018). Sotho people, culture, traditional attire, food, language, quick facts.https://buzzsouthafrica.com/sotho-people-language-and-culture/
Sumarsono, Elisabeth. (2012). Konsep kehidupan setelah kematian Fatu Bian Ma Hau Bian : Upaya untuk mempertahankan identitas keagamaan lokal Atoin Pah Meto Suku Boti.Universitas Gadjah Muda. Yogyakarta.
Suriawidjaja, Eppi P. dkk. (1986). Persepsi bentuk dan konsep arsitektur. Djambatan, Jakarta.
Sutardi, Tedi. (2007). Antropologi Mengungkapkan Keragaman Budaya, Setia Purna Inves, Bandung. 25-54
Yuliawati, Sri. (2011). Pengukuran Gatra Sosial Budaya Di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Tahun 15, Nomor 1. Program Pascasarjana UHAMKA, Jakarta.
https://www.everyculture.com/wc/Japan-to-Mali/Sotho.html
http://louisiana.jurnal-budaya.com/id3/2314-2205/Igloo_23451_louisiana-jurnal-budaya.html