• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana kerja. Dinas sosial kota samarinda. Alamat Jalan Dahlia No. 12 Telp. ( 0541 ) Fax. ( 0541 )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Rencana kerja. Dinas sosial kota samarinda. Alamat Jalan Dahlia No. 12 Telp. ( 0541 ) Fax. ( 0541 )"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana kerja

Dinas sosial kota samarinda

TAHUN 2018

Alamat Jalan Dahlia No. 12 Telp. ( 0541 ) 743598 Fax. ( 0541 ) 743598

(2)

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . i

DAFTAR ISI . . . iii

BAB I. PENDAHULUAN . . . 1

1.1. Latar Belakang . . . .. . . 1

1.2 Landasan Hukum . . . .. . . 2

1.3 Maksud dan Tujuan . .. . . . . . 4

1.4 Sistematika Penulisan . . . . . . 5

BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RENJA DINAS KESEJAAHTERAAN SOSIAL . . . . 6

2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Sosial Kota 6 Samarinda dan Capaian Renja Dinas Sosial Kota Samarinda 2.2 Analisis Kinerja Pelayanan Dinas Sosial Kota 10 Samarinda 2.3 Isu – Isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Dinas 15 Sosial Kota Samarinda 2.4 Riview terhadap Rancangan Awal RKPD 19 2.5 Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan Masyarakat …….. 24

(3)

3.1 Telaah Terhadap Kebijakan Nasional 30 3.2 Tujuan dan Sasaran Renja Dinas Sosial Kota 31

Samarinda

3.3 Program dan Kegiatan Tahun 2018 ....……… 38

BAB V. P E N U T U P ……….. 45

(4)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Rencana Kerja ( Renja ) merupakan penjabaran operasional dari dokumen rencana strategis ( Renstra ) yang telah ditetapkan melalui mekanisme perencanaan pembangunan daerah. Secara khusus, Renja Dinas Sosial Kota Samarinda merupakan dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk periode 1 (satu) tahun yang memuat kebijakan, program dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Renja Dinas Sosial Kota Samarinda menjadi perangkat penting dalam menjelaskan serangkaian tindakan yang bersifat operasional yang perlu dilakukan dalam jangka pendek untuk mencapai tujuan dan arah kebijakan yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis.

Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2018 merupakan pelaksanaan Rencana Strategis Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2016 – 2021 yang dijadikan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan jangka menengah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

Penyusunan Renja ini adalah sebagai penjabaran dari tugas pokok Dinas Sosial Kota Samarinda yang dalam kewenangannya menangani urusan pemerintahan konkuren bidang sosial yang menjadi kewenanganan Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Penyusunan Renja ini telah mempedomani Visi, Misi dan Agenda Dinas Sosial Kota Samarinda yang sudah tertuang didalam Renstra Dinas Sosial Kota Samarinda, serta diselaraskan dengan agenda – agenda yang sudah ditetapkan pada RPJMD Kota Samarinda.

Renja Dinas Sosial Kota Samarinda ini merupakan dapat dijadikan pedoman dan bahan masukan utama untuk pelaksanaan forum SKPD, yang dilanjutkan dengan penetapan RKPD. Berdasarkan RKPD yang telah ditetapkan, nantinya akan dilakukan penyempurnaan terhadap Renja ini, yang selanjutnya akan menjadi suatu keputusan.

(5)

1.2 Landasan Hukum

Dinas Sosial Kota Samarinda merupakan Dinas unsur pelaksana urusan pemerintahan konkuren bidang sosial yang dibentuk dengan Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah dan Peraturan Walikota Samarinda Nomor : 29 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda yang ditetapkan dan diundangkan pada tanggal 21 Oktober 2016, mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan pemerintahan konkuren bidang sosial yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Dalam melaksanakan tugasnya Dinas Sosial Kota Samarinda mempunyai fungsi sebagai berikut :

1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang sosial;

2. Perumusan penyusunan perencanaan program kebijakan teknis pembinaan, pengembangan dan peningkatan dalam kegiatan pelayanan umum kesejahteraan sosial sesuai norma, standar dan prosedur yang berlaku searah kebijakan umum daerah;

3. Pelaksanaan penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang sosial dan pengkoordinasian kegiatan kedinasan meliputi administratif kesekretariatan, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, perlindungan dan jaminan sosial serta penanganan fakir miskin dan data PMKS baik keluar maupun kedalam lingkup dinas;

4. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan di bidang sosial meliputi rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan penanganan fakir miskin;

5. Pelaksanaan administrasi dinas;

6. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan Walikota terkait dengan tugas dan fungsinya.

Penyusunan Rencana Kerja ( Renja ) tahun 2018 di dasarkan pada landasan hukum yang terkait dengan sasaran dari program maupun kegiatan penanggulangan masalah kesejahteraan sosial adalah pada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Adapun yang dasar hukum yang melandasi dari pada penyusunan Rencana Kerja adalah sebagai berikut :

(6)

1. Undang – Undang Nomor 6 Tahun 1974, tentang Ketentuan – Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 309).

2. Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1978 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia 3. Undang – Undang Nomor 04 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat

4. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438 ).

6. Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial 7. Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin 8. Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

9. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial

10. Peraturan Menteri Sosial Nomor 01 Tahun 2012 tentang Pekerja Sosial Masyarakat.

11. Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2018

13. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 10 Tahun 2014 tanggal 12 Mei 2014, tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kota Samarinda

14. Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005 – 2025

15. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Samarinda Tahun 2016 - 2021 16. Peraturan Daerah Kota Samarinda Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan

dan Susunan Perangkat Daerah Kota Samarinda

17. Peraturan Walikota Samarinda Nomor 29 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda

(7)

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penyusunan Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda ini adalah untuk mengetahui dan mendokumenkan perencanaan dalam kurun waktu satu tahun yang berisi program – program prioritas yang dilaksanakan langsung oleh Dinas Sosial Kota Samarinda sesuai dengan Misi / Agenda Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda yang telah direncanakan dalam Rencana Strategis ( Renstra ) Dinas Sosial Kota Samarinda dengan memadukan penjabaran RKPD dengan Renstra Dinas Sosial Kota Samarinda yang memuat rancangan dalam bidang social, program prioritas Dinas Sosial Kota Samarinda dan rencana kerja, pendanaan dan perkiraan maju.

Sedangkan tujuan penyusunan Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda adalah untuk mendiskripsikan tentang program – program prioritas yang akan dilaksanakan langsung oleh Dinas Sosial Kota Samarinda dengan harapan program – program tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan dan direncanakan

Adapun maksud dan tujuan yang ingin diharapkan oleh Dinas Sosial Kota Samarinda untuk kedepan yang diinginkan selama kurang lebih 1 ( satu ) tahun sebagai berikut :

a. Mengetahui kinerja Dinas Sosial Kota Samarinda pada periode lima tahun yang lalu

b. Mendeskripsikan permasalahan dan isu strategis yang dihadapai Dinas Kota Samarinda

c. Merumuskan isu strategis ke dalam tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program dan kegiatan dalam menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi Dinas Sosial Kota Samarinda

d. Dokumen Renja dijadikan sebagai pedoman dalam melaksanakan program dan kegiatan yang dilaksanakan Dinas Sosial Kota Samarinda untuk tahun berjalan atau tahun kedepan

e. Sebagai pedoman dalam membuat Laporan Kinerja Dinas Sosial guna pertanggungjawaban laporan kinerja instansi Dinas Sosial

(8)

1.4 Sistematika Penulisan

Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2018, disusum berdasarkan sistematika sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN ; berisi tentang Latar Belakang, Landasan Hukum, Maksud dan Tujuan serta Sistematika Penulisan.

BAB II Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Sosial Tahun 2017 ; yang berisikan Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2017 dan perkiraan Capaian Renja Dinas Sosial Kota Samarinda tahun 2018, Analisis Kinerja Pelayanan Dinas Sosial Kota Samarinda, Isu – Isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Dinas Sosial Kota Samarinda, Review terhadap Rancangan Awal RKPD dan Penelaahan Usulan Program dan Kegiatan Masyarakat

BAB III Tujuan, Sasaran, Program dan Kegiatan ; pada bab ini berisikan tentang telaahan terhadap Kebijakan Nasional, Tujuan dan Sasaran PD serta Program dan Kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun 2018 oleh Dinas Sosial Kota Samarinda

BAB IV Penutup ; dalam bab ini menjelaskan tentang kesimpulan atas Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2108

(9)

BAB 2

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA KERJA DINAS SOSIAL KOTA SAMARINDA

TAHUN 2017

2.1 Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2017 dan Capaian Renja Dinas Sosial Kota Samarinda.

Keberhasilan pencapaian Visi dan Misi sangat dipengaruhi oleh tingkat kualitas sumberdaya manusia. Karena manusia sebagai subyek pelaku pembangunan yang sangat berperan dan menentukan baik sebagai perencana, pelaksana, pengguna maupun sebagai evaluator dari hasil kegiatan pembangunan. Dengan demikian tingginya tingkat kualitas sumber daya manusia para pelaku pembangunan (masyarakat, pemerintah maupun dunia usaha) sangat diperlukan dalam upaya mencapai tujuanpembangunan.

Sesuai dengan tuntutan persaingan dan perkembangan dunia di era globalisasi dimana informasi terus berkembang peningkatan kualitas sumber daya manusia Kota Samarinda khususnya perlu diarahkan pada upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diharapkan akan mampu tumbuh, berdaya tahan dan mampu bersaing serta tumbuhnya jiwa kewirausahaan.

Disisi lain evaluasi hasil perencanaan tahun yang lalu akan menambah basis data untuk merencanakan program dan kegiatan selanjutnya secara umum Rencana Kerja (Renja) Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2018 memuat rencana program dan kegiatan dengan tetap memperhatikan potensi yang ada dalam rangka “Terwujudnya Kesejahteraan Sosial Masyarakat Menuju Keberdayaan dan Kemandirian PMKS dan PSKS “ yang tertuang dalam Renstra Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2016 - 2021.

Keberhasilan suatu proses perencanaan akan bisa dilihat dari hasil evaluasi pelaksanaan tahun sebelumnya, sejauh mana pelaksanaan program dan kegiatan yang dilaksanakan berdampak terhadap capian yang telah ditetapkan di dalam Renstra SKPD, hasil dari evaluasi tersebut sangat penting sebagai bahan masukan untuk menentukan kebijakan-kebijakan perencanaan pembangunan di tahun-tahun mendatang.

Pada tahun anggaran 2017 Dinas Sosial Kota Samarinda sudah melaksanakan kegiatan yang menunjang tugas pokok dan fungsinya

Dinas Sosial Kota Samarinda merupakan Dinas Teknik Daerah sebagai unsur penunjang Pemerintah Daerah dalam penanganan masalah sosial. Dinas Sosial Kota

(10)

Samarinda ditetapkan berdasarkan Peraturan Walikota Samarinda Nomor 29 Tahun 2016 mengenai pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda. Tugas pokok Dinas Sosial adalah mempunyai tugas untuk melaksanakan urusan pemerintahan konkuren bidang sosial yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah dan tugas pembantuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Namun pada tahun 2016, Dinas Sosial Kota Samarinda pada dasarnya yang telah merencanakan program dan kegiatan pada tabel tersebut diatas, dengan adanya difisit terhadap anggaran dan adanya pembayaran hutang pada pihak ketiga maka untuk tahun anggaran 2016 Dinas Sosial Kota Samarinda hanya 8 Program dan 22 Kegiatan dengan anggaran sebesar Rp. 2.716.052.910,- ( Kegiatan termasuk untuk pembayaran kewajiban kepada pihak ketiga tahun 2015)

Sedangkan Capaian Realisasi Anggaran yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Samarinda pada tahun 2016 sebesar Rp. 2.605.412.010,- atau 96 % seperti pada tabel sebagai berikut :

(11)

Tabel 1

Evaluasi Pelaksanaan Renja Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2016

No Program / Kegiatan Indikator Kinerja Program (Outcame) / Kegiatan (Output) Target Kinerja dan Anggaran Realisasi Capaian

Kinerja Rp Kinerja Rp

1 2 3 4 5 6 7

1 Program Pelayanan Administrasi Perkantor 786.975.360 728.220.475

1. Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumberdaya air dan listrik Tersedianya Jasa Komunikasi, Sumber daya air dan listrik 12 bulan 117.200.000 12 bulan 112.500.000

2. Penyediaan Alat Tulis Kantor Tersedianya Alat Tulis Kantor 12 bulan 10.000.000 12 bulan 9.883.500

3. Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan Tersedianya barang cetakan dan penggandaan 12 bulan 18.980.000 12 bulan 18.507.000 4. Penyediaan Komponen Instalasi / Penerangan Bangunan Kantor Tersedianya alat listrik/instalasi dan penerangan kantor 12 bulan 3.000.000 12 bulan 3.000.000 5. Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor Tersedianya peralatan dan perlengkapan kantor 12 bulan 142.700.000 12 bulan 139.500.000 6. Rapat – Rapat Koordinasi dan Konsultasi keluar Daerah Terlaksananya Rapat Koordinasi dan Konsultasi ke luar daerah 12 bulan 175.000.000 12 bulan 172.579.975 7. Penyediaan Jasa Administrasi Perkantoran Tersedianya jasa administrasi perkantoran 12 bulan 320.095.360 12 bulan 319.250.000

2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 312.118.000 305.536.200

8. Pemeliharaan Rutin / Berkala Gedung Kantor Terpeliharanya Gedung Kantor 12 bulan 30.000.000 12 bulan 27.480.00

9. Pemeliharaan Rutin / Berkala Kendaraan Dinas Roda 2/Operasional

Jumlah Perbaikan kendaraan bermotor, pembeliaan BBM, Oli serta Suku Cadang

7 Unit 265.518.000 7 Unit 261.809.200 10. Pemeliharaan Rutin / Berkala Perlengkapan Peralatan Kantor Terpeliharanya perlengkapan peralatan kantor 12 bulan 16.600.000 12 bulan 16.247.000 3 Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian

Kinerja

5.400.000 5.400.000

11. Penyusunan Laporan Capaian Kinerja dan Iktisar Realisasi Kinerja SKPD (Pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

Pelaksanaan laporan pencapaian kinerja dan iktisar realisasi kinerja SKPD

1 kantor 5.400.000 1 kantor 5.400.000 4 Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil

(KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya

415.013.800 415.013.800

12. Kegiatan Fasilitas Manajemen Usaha bagi Keluarga Miskin (pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Pelatihan Usaha bagi keluarga miskin, WRSE - Bantuan Modal Usaha bagi kelarga miskin - Sosialisasi Program Keluarga Harapan (PKH) - Rapat koordinasi Program Keluarga Harapan (PKH)

4 keg 16 kube 3 kec 35 orang

415.013.800 415.013.800

(12)

No Program / Kegiatan Indikator Kinerja Program (Outcame) / Kegiatan (Output) Target Kinerja dan Anggaran Realisasi Capaian

Kinerja Rp Kinerja Rp

1 2 3 4 5 6 7

5 Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial 753.854.750 681.294.850

13. Penanganan Masalah – Masalah Strategis yang menyangkut Bencana Kota Samarinda

- Bantuan Natura bagi korban bencana

- Pelayanan dan bantuan dapur umum bagi korban bencana - Kesiapsiagaan penanggulangan bencana

1.500 jw 4 keg 40 orang

90.980.000 1.500 jw 4 keg 40 orang

90.980.000

14. Peningkatan Rehabilitasi Tuna Sosial - Kegiatan Manajemen Panti

- Bantuan Nutrisi bagi ODHA dengan HIV / AIDS

31 panti 10 orang

196.440.000 31 panti 10 orang

153.820.500 15. Penanganan Masalah – Masalah Strategis yang menyangkut

Bencana Kota Samarinda (pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Bantuan Natura bagi korban bencana

- Pelayanan dan bantuan dapur umum bagi korban bencana - Kesiapsiagaan penanggulangan bencana

1.500 jw 4 keg 40 orang

102.336.000 1.500 jw 4 keg 40 orang

98.936.000

16. Kualitas Pelayanan, sarana dan prasarana rehabilitas bagi PMKS ( pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Terlaksananya pelayanan bagi keluarga anak terlantar, anak jalanan, anak berhadapan dengan hukum, anak yang memerlukan perlindungan khusus

- Terlaksananya penanganan keluarga bermasalah psikologis kekerasan dan pekerja migran

- Terselenggaranya pelayanan bagi lansia terlantar

40 orang 327.675.000 40 orang 327.675.000

17. Peningkatan Rehabilitas Tunas Sosial ( pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Pembinaan rehabilitasi razia dan pemulangan gepeng, wts dan anjal - Pembinaan keterampilan eks napi

- Bantuan UEP bagi eks. napi

85 orang 15 orang 15 orang

36.423.750 85 orang 15 orang 15 orang

9.883.500

6 Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma 41.650.000 41.650.000

18. Pendayagunaan Para Penyandang cacat ( pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Bantuan kursi roda

- Santunan jaminan social penyandang cacat

- Mengirim Paca untuk mendapatkan keterampilan diluar Kaltim

9 orang 15 orang 2 orang

41.650.000 41.650.000

(13)

No Program / Kegiatan Indikator Kinerja Program (Outcame) / Kegiatan (Output) Target Kinerja dan Anggaran Realisasi Capaian

Kinerja Rp Kinerja Rp

1 2 3 4 5 6 7

7 Program Pembinaan Panti Asuhan / Panti Jompo 158.550.000 120.469.000

19. Pelayanan Administrasi Perkantoran dan Operasional UPTD Panti Asuhan

- Pelayanan bagi keluarga terlantar, anak jalanan, anak berhadapan dengan hukum, anak yang memerlukan perlindungan hukum - Penanganan anak jalanan dan anak yang berhadapan dengan hukum

20 orang 20 orang

158.550.000 40 orang 120.469.000

8 Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial - 242.491.000 242.491.000

20. Pembinaan dan Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial ( pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Bimbingan teknis tata kelola lembaga kesejahteraan sosial - Pertemuan sosialisasi askesos

- Bimbingan usaha ekonomi produktif (budi daya jamur tiram) bagi pengurus / anggota lembaga kesejahteraan social

- Bantuan stimulant usaha ekonomi produktif (bahan dan peralatan budi daya jamur tiram)

- Pertemuan jaringan antar organisasi social akar rumput dalam wadah WKSBM

50 orang 50 orang 30 orang 4 klp 5 wksbm

53.200.000 50 orang 50 orang 30 orang 4 klp 5 wksbm

53.200.000

21. Pelaksanaan Tim Pengaduan Masyarakat Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan bagi Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu ( pembayaran kepada pihak ketiga tahun 2015)

- Penguatan dan operasional lembaga sisdumas kelurahan - Penguatan dan operasional lembaga sisdumas kecamatan - Operasional Tim Sisdumas Kota Samarinda

53 kel 10 kec 1 paket

49.753.000 53 kel 10 kec 1 paket

49.753.000

22. Pelaksanaan Tim Pengaduan Masyarakat Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan bagi Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu

- Penguatan dan operasional lembaga sisdumas kelurahan - Penguatan dan operasional lembaga sisdumas kecamatan - Operasional Tim Sisdumas Kota Samarinda

53 kel 10 kec 1 paket

139.538.000 53 kel 10 kec 1 paket

139.538.0000

Jumlah Capaian Anggaran 2.716.052.910 2.605.412.010

(14)

Pada tahun 2017, Dinas Sosial Kota Samarinda pada dasarnya menyajikan pengukuran terhadap hasil kinerja kegiatan yang telah dilaksanakan. Adapun tahun 2017 Dinas Sosial Kota Samarinda yang dialokasikan ke dalam 6 Program dan 18 Kegiatan termasuk untuk pembayaran kewajiban kepada pihak ketiga tahun 2016 dengan anggaran sebesar Rp. 1.781.652.246,-.

Sedangkan Capaian Realisasi Anggaran yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Samarinda pada tahun 2017 diharapkan tercapai secara keseluruhan sebesar Rp.

1.781.652.246,-. atau 100 % seperti pada tabel 1 sebagai berikut :

(15)

Tabel 2

Evaluasi Rencana Kerja Dinas Sosial Kota Samarinda

Tahun 2017

No Program / Kegiatan Indikator Kinerja Program (Outcame) / Kegiatan (Output) Target Kinerja dan Anggaran Realisasi Capaian

Kinerja Rp Kinerja Rp

1 2 3 4 5 6 7

1 Program Pelayanan Administrasi Perkantor 873.691.246 873.691.246

1. Penyediaan Jasa Komunikasi, Sumberdaya air dan listrik Tersedianya Jasa Komunikasi, Sumber daya air dan listrik 12 bulan 89.799.996 12 bulan 89.799.996

2. Penyediaan Alat Tulis Kantor Tersedianya Alat Tulis Kantor 12 bulan 3.748.750 12 bulan 3.748.750

3. Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan Tersedianya barang cetakan dan penggandaan 12 bulan 47.117.500 12 bulan 47.117.500 4. Penyediaan Komponen Instalasi / Penerangan Bangunan Kantor Tersedianya alat listrik/instalasi dan penerangan kantor 12 bulan 1.125.000 12 bulan 1.125.000 5. Penyediaan Peralatan dan Perlengkapan Kantor Tersedianya peralatan dan perlengkapan kantor 12 bulan 3.000.000 12 bulan 3.000.000 6. Rapat – Rapat Koordinasi dan Konsultasi keluar Daerah Terlaksananya Rapat Koordinasi dan Konsultasi ke luar daerah 12 bulan 109.250.000 12 bulan 109.250.000 7. Penyediaan Jasa Administrasi Perkantoran Tersedianya jasa administrasi perkantoran 12 bulan 617.600.000 12 bulan 617.600.000 8. Penyediaan Jasa Komunikasi Sumber Daya Air dan Listrik

(Pembayaran kewajiban kepada pihak ketiga tahun 2016)

Tersedianya Jasa Komunikasi, Sumber daya air dan listrik 12 bulan 2.050.000 12 bulan 2.050.000

2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 80.461.000 80.461.000

9. Pemeliharaan Rutin / Berkala Gedung Kantor Terpeliharanya Gedung Kantor 12 bulan 8.750.000 12 bulan 8.750.000

10. Pemeliharaan Rutin / Berkala Kendaraan Dinas Roda 2/Operasional

Jumlah Perbaikan kendaraan bermotor, pembeliaan BBM, Oli serta Suku Cadang

7 Unit 65.711.000 12 bulan 65.711.000 11. Pemeliharaan Rutin / Berkala Perlengkapan Peralatan Kantor Terpeliharanya perlengkapan peralatan kantor 12 bulan 6.000.000 12 bulan 6.000.000

(16)

No Program / Kegiatan Indikator Kinerja Program (Outcame) / Kegiatan (Output) Target Kinerja dan Anggaran Realisasi Capaian

Kinerja Rp Kinerja Rp

1 2 3 4 5 6 7

3. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya

150.000.000 150.000.000

12. Sarana dan Prasarana Pendukung bagi Program Keluarga Miskin Jumlah Sosialisasi Program Keluarga Harapan (PKH) bagi service Provider di Tingkat Kecamatan

10 Sosialisasi 150.000.0000 10 Sosialisasi

150.000.0000 Jumlah Pendamping PKH, Koordinator dan Operator yang

mendapatkan Peningkatan kapasitas, dan sarana kerja

32 orang 32 orang

4. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial 250.000.000 250.000.000

13. Penanganan Masalah – Masalah Strategis yang menyangkut bencana Kota Samarinda

Persentase kesiapsiagaan Tagana dalam penanggulangan bencana 100 % 100.000.000 100 % 100.000.000 14. Pelayanan dan Perlindungan Sosial, Hukum bagi Korban Eksploitasi

Perdagangan Perempuan dan Anak

Persentase pemulihan kondisi fisik, psikologis dan pemulangan warga negara migran korban tindak kekerasan

100 % 150.000.000 100 % 150.000.000

5. Program Pembinaan Panti Asuhan / Panti Jompo 200.000.000 200.000.000

15. Operasional Panti Sosial Terpadu Terlaksananya pembinaan dan perlindungan PMKS di Panti 50 Orang 200.000.000 50 Orang 200.000.000

6. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial 227.500.000 227.500.000

16. Peningkatan Kualitas SDM Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terlatihnya SDM Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat terhadap PMKS

20 Orang 50.000.000 20 Orang 50.000.000 17. Pembinaan dan Pemberdayaan Kelembagaan Rehabilitasi Sosial Jumlah orsos / LKS yang diberikan pembinaan 40 Orgs/LKS 50.000.000 40

Orgs/LKS

50.000.000 18. Pelaksanaan Tim Pengaduan Masyarakat Penerima Bantuan Iuran

Jaminan Kesehatan bagi Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu

Jumlah pelaksanaan pembinaan dan operasional penanganan pengaduan dan verifikasi data kemiskinan penerima PBI pada 70 Sisdumas

70 Lembaga 127.500.000 70 Lembaga 127.500.000

Capaian Anggaran 1.781.652.246 1.781.652.246

(17)

2.2 Analisis Kinerja Pelayanan Dinas Sosial Kota Samarinda

Ruang Lingkup Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial tidak terlepas dari Undang – Undang No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Dinas Sosial Kota Samarinda sebagai instansi yang mempunyai kewenangan untuk menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial. Sasarannya adalah individu, keluarga, orgaisasi dan komunikasi yang memerlukan pelayanan sosial dikarenakan mereka mempunyai hambatan, masalah dan gangguan sehingga mereka tidak dapat melaksanakan fungsi sosial secara wajar, yaitu menangani masalah dan menjalankan peran sesuai dengan statusnya.

Isu strategis masih tingginya penduduk miskin, berdampak langsung pada penurunan daya beli, keterbatasan mengakses pelayanan kesejahteraan dan pendidikan, yang kesemuanya memberikan kontirbusi terhadap peningkatan indek pembangunan manusia. Rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan jumlah penyandang masalah Kesejahteraan Sosial semakin meningkat. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah komunitas keluarga miskin, hampir miskin, dan fakir miskin.

Dalam hal ini Dinas Sosial Kota Samarinda merupakan salah satu PD menangani masyarakat yang mengalami permasalahan kesejahteraan sosial sesuai tugas pokok dan fungsinya. Sasaran program pembangunan bidang kesejahteraan sosial adalah masyarakat kelas bawah yang dalam kehidupan sehari-harinya mengalami permasalah kesejahteraan sosial atau rentan menimbulkan masalah di lingkungan sosialnya yang disebut PMKS yaitu Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.

Sejak Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2013 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) semula 22 jenis PMKS dan sekarang tahun 2014 menjadi 26 Jenis PMKS antara lain adalah :

1. Anak Balita Terlantar 2. Anak Terlantar

3. Anak Yang Berhadapan dengan Hukum 4. Anak Jalanan

5. Anak Dengan Kedisabilitasan

6. Anak Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan 7. Anak Yang Memerlukan Perlindungan Khusus 8. Lanjut Usia

9. Penyandang Disabilitas 10. Tuna Susila

11. Gelandangan

(18)

12. Pengemis 13. Pemulung

14. Kelompok Minoritas

15. Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan 16. Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)

17. Korban Penyalahgunaan NAPZA 18. Korban Trafficking

19. Korban Tindak Kekerasan

20. Pekerja Migran Bermasalah Sosial ( PMBS ) 21. Korban Bencana Alam

22. Korban Bencana Sosial 23. Perempuan Rawan Sosial 24. Fakir Miskin

25. Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis 26. Komunitas Adat Terpencil

Di Kota Samarinda Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian hendaknya mendapatkan tempat yang layak dan strategis dalam perencanaan pembangunan daerah sehingga keberadaan manusia layak dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sosialnya dan semua pihak pada umumnya, sehingga terhindar dari instabilitas pembangunan yang membawa pengaruh negatif antar manusia.

Pembangunan Kesejahteraan Sosial pada hakekatnya merupakan piranti dalam mewujudkan keadilan sosial secara konkrit melalui hasil pembangunan yang dicapai bagi penduduk miskin, terlantar dan rentan.

Untuk tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 pada dasarnya bahwa Dinas Sosial Kota Samarinda telah melaksanakan capai indikator renstra yang telah diinginkan. Adapun capaian indikator renstra lima tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :

(19)

Tabel 3

CAPAIAN INDIKATOR KINERJA URUSAN DINAS SOSIAL KOTA SAMARINDA

TAHUN 2011 – 2015

NO PROGRAM / KEGIATAN INDIKATOR CAPAIAN

2010

TARGET CAPAIAN PER TAHUN ALOKASI ANGGARAN PER TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 1. Pembinaan Eks. Penyandang Penyakit Sosial

1. Pembinaan bagi Eks. Penyandang Penayakit Sosial

Meningkatnya kemampuan Eks.

Penyandang Penyakit Sosial dalam Berwirausaha

170 org 20 20 40 40 50 100 100 200 200 500

2. Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial

2. Pelayanan Sosial Meningkatkannya taraf hidup dan kemandirian anak terlantar, lanjut usia terlantar, anjal, kdrt

600 org 50 100 100 150 200 150 350 350 450 600

3. Peningkatan Rehabilitasi Sosial Meningkatkan taraf hidup tuna sosial 650 org 50 50 100 100 350 150 350 350 450 350 4. Peningkatan Kualitas Pelayanan

Sarana dan Prasarana bagi PMKS

Meningkatknya taraf hidup anak asuh dalam panti / anak terlantar

3.092 org 400 667 675 676 677 400 800 800 800 800

5. Meningkatnya penanganan dan pelayanan

bagi korban bencana

1.450 org 200 250 300 300 400 150 200 250 250 400

3. Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma 6. Pendayagunaan Para Penyandang

Cacat

Meningkatnya kemandirian dan kemampuan berusaha bagi penyandang cacat

16 org 20 25 35 40 40 100 150 250 300 300

4. Pemberdayaan Fakir Miskin dan PMKS Lainnya 7. Pengadaan Sarana Prasarana

Pendukung Usaha bagi Fakir Miskin

Meningkatkan taraf hidup keluarga miskin

1.000 kk 100 150 200 250 300 300 500 700 800 1.000

8. Pelatihan Keterampilan Berusaha bagi Keluarga Miskin

Meningkatnya keterampilan berusaha keluarga miskin

150 kk - 50 - - 100 - 200 - - 400

9. Penanganan Keluarga Berumah Tidak Layak Huni

Meningkatnya taraf hidup keluarga berumah tidak layak huni

60 kk - - - 20 40 - - - 250 500

15

(20)

NO PROGRAM / KEGIATAN INDIKATOR CAPAIAN 2010

TARGET CAPAIAN PER TAHUN ALOKASI ANGGARAN PER TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 5. Pembinaan Panti Asuahn / Panti Jompo

10. Pembangunan Panti Asuhan Terpadu

Tersedianya Sarana Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial

75 % - - 10 % 25 % 40 % - - 3.000 8.000 10.000

11. Pembinaan dan Pemberdayaan Panti Asuhan Swasta

Meningkatnya gizi bagi anak dalam panti swasta

1.354 org - - - 667

org

677 org

- - - 800 1.000

6. Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial 12. Pengembangan Kapasitas Potensi

Kesejahteraan Sosial

Meningkatkan SDM TKSK 450 org 50 50 100 100 150 150 150 300 300 450

13. Pembinaan dan Pemberdayaan Organisasi Sosial

Meningkatnya jumlah dan kemampuan masyarakat baik lembaga maupun perorangan dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial

170 orsos 20 20 40 40 50 100 100 200 200 250

14. Penyusunan dan Kebijakan Sarana Kesejahteraan Sosial

Meningkatnya sosialisasi dan sarana bidang kesejahteraan sosial

15 - 2 4 4 5 - 100 200 200 250

15. Pengembangan Model Perlindunagn Sosial dan Pelestarian Nilai – Nilai Kepahlawanan

Meningkatnya taraf hidup masyarakat 200 org 150 150 200 200 200 100 200 300 300 350

16. Pemutakhiran Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

Tersedianya prasarana kesejahteraan sosial

53 kel - - - 53 - - - - 8.000 -

(21)

Berpangkal tolak dari kondisi-kondisi tersebut mengakibatkan permasalahan kesejahteraan sosial yang cenderung menunjukkan peningkatan. Permasalahan kesejahteraan sosial secara umum meliputi permasalahan kemiskinan, keterlantaran, ketunaan sosial, keterbelakangan, kecacatan dan korban bencana dan pengungsi.

Permasalahan kesejahteraan sosial tersebut secara nasional telah ditemukan sebanyak 22 jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan pada tahun 2014 jenis PMKS bertambah lagi menjadi 26. Adapun populasi PMKS di Kota Samarinda berdasarkan data terakhir sebagai berikut :

Tabel 4

Data Pemutakhiran Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kota Samarinda Tahun 2015

No Jenis PMKS Jumlah

1. Anak Balita Terlantar 174 orang

2. Aak Terlantar 649 Orang

3. Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum 36 Orang

4. Anak Jalanan 71 Orang

5. Anak Dengan Kedisabilitasan 363 Orang

6. Anak Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan atau Diperlakukan Salah

16 Orang 7. Anak Yang Memerlukan Perlindungan Khusus 11 Orang

8. Lanjut Usia Terlantar 4.765 Orang

9. Penyandang Disabilitas 1.224 Orang

10. Tuna Susila 300 Orang

11. Gelandangan 8 Orang

12. Pengemis 368 Orang

13. Pemulung 459 Orang

14. Kelompok Minoritas 9 Orang

15. Bekas Warga Binaan Lembaga Permasyarakatan 244 Orang

16. Orang Dengan HIV / ODHA 737 Orang

17. Korban Penyalahgunaan NAPZA 107 Orang

18. Korban Trafficking 1 Orang

19. Korban Tindak Kekerasan 50 Orang

20. Pekerja Migran Bermasalah Sosial 0 Orang

21. Korban Bencana Alam 34 Orang

22. Korban Bencana Sosial 25 Orang

23. Perempuan Rawan Sosial Ekonomi 2.856 Orang

24. Fakir Miskin 11.342 Orang

25. Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis 111 Orang

26. Komunitas Adat Terpencil -

Jumlah Keseluruhan 22.460 Orang

Dalam rangka penanganan berbagai permasalahan kesejahteraan sosial yang ada, di daerah ini telah terdapat sejumlah Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) yang menjadi mitra utama pemerintah, dengan data sebagai berikut :

(22)

Tabel 5

Data Pemutakhiran Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Tahun 2015

No PSKS Jumlah

1. Pekerja Sosial Profesional 1 Orang

2. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) 207 Orang

3. Wanita Pemimpin Kesejahteraan Sosial 1 Orang

4. Penyuluh Sosial 0 Orang

5. Taruna Siaga Bencana (TAGANA) 54 Orang

6. Karang Taruna (KT) 1358 Orang

7. Wahana Kesejahteraan Sosial Keluarga Berbasis Masyarakat (WKSBM)

23 Orsos

8. Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) 106 Orsos

9. Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) 1 Orsos

10. Keluarga Pioner 147 Orang

11. Dunia Usaha

12 Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) 10 Orang Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial tersebut dilihat dari segi jumlah dan kualitasnya masih perlu ditingkatkan untuk dapat menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial.

2.3 Isu – Isu Penting Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Dinas Sosial Kota Samarinda

Tugas Dinas Sosial Kota Samarinda adalah melaksanakan fungsi yang telah disusun, dimana fungsi dari Dinas Sosial Kota Samarinda antara lain adalah merumuskan kebijakan teknis bidang kesejahteraan sosial sesuai dengan rencana strategis yang ditetapkan pemerintah daerah. Menyusun perencanaan, melaksanakan pembinaan dan pengendalian kebijakan teknis di bidang kesejahteraan sosial, pelayanan dan rehabilitasi sosial, bantuan dan jaminan sosial serta pemberdayaan potensi sumber kesejahteraan sosial

Permasalahan dan tantangan merupakan titik awal dalam merumuskan arah kebijakan, strategi inplementasi dan penetapan indikator keberhasilan pembangunan kesejahteraan sosial. Koreksi antara masalah dan peta kebutuhan menjadi simpul keterkaitan sebagai landasan penyusunan arah kebijakan dan langkah operasional pelayanan kesejahteraan sosial.

Beberapa permasalahan yang teridentifikasi sebagai simpulan hambatan sekaligus tantangan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Kota Samarinda yang dihadapi oleh Dinas Sosial Kota Samarinda berdasarkan tugas pokok dan fungsi adalah sebagai berikut :

1. Belum memadainya persediaan sandang dan pangan terhadap kebutuhan dasar dan pemulihan trauma bagi korban bencana di Kota Samarinda

(23)

- Karena persediaan sandang dan pangan setiap tahunnya anggaran sangat terbatas. Untuk tahun 2015 stock beras dari Kementerian RI tidak bisa dicairkan sebelum adanya tanggap darurat dan surat permintaan buffer stock beras dari Dinas Sosial Kota Samarinda, mengingat bencana ada 2 yaitu bencana sosial dan bencana alam dan yang sering terjadi di Kota Samarinda adalah bencana sosial ( kebakaran ).

- Karena adanya keterbatasan anggaran maka untuk pengadaan natura (makanan) tidak dapat terpenuhi. Kebutuhan dapur umum pasca bencana sosial tergantung koordinasi dengan Kecamatan dan Kelurahan maupun relawan dan jika persediaan dana di Dinas Kesejahteraan Kota Samarinda karena tingginya jumlah bencana sosial (kebakaran), hanya sebatas kemampuan anggaran yang ada disamping itu Dinas Sosial Kota Samarinda menyediakan antara lain :

1. Tenda

2. Tenaga Relawan (TAGANA) 3. Dapur Umum

dan disamping itu juga adanya pendukung lainnya seperti mempersiapkan kebutuhan sandang yang berupa pakaian sekolah anak SD, selimut, baju hem, daster, kain sarung laki – laki, jarik/kain panjang untuk wanita. Dan untuk memulihkan trauma korban bencana petugas bekerja sama dengan relawan dan instansi terkait dan jika tidak bisa diatasi korban dirujuk kerumah sakit jiwa melalui pendampingan dari Kessos yang terlatih.

2. Belum Optimalnya penampungan sementara bagi pemulangan warga negara migran korban tindak kekerasan dari titik debarkasi di daerah kabupaten / kota untuk dipulangkan ke desa / kelurahan asal.

Penampungan sementara bagi pemulangan warga negara migran, korban tindak kekerasan dari titik debarkasi di daerah kabupaten / kota untuk dipulangkan ke desa / kelurahan asal.

Perlu peningkatan sarana untuk penampungan bagi korban tindak kekerasan dan pekerja migran terkait dana operasional untuk makan / konsumsi bagi korban tindak kekerasan dan bagi pekerja migran yang bermasalah.

3. Belum Optimalnya koordinasi antara instansi Kota dalam menangani korban tindak kekerasan.

Dalam penanganan korban tindak kekerasan perlu penguatan melalui koordinasi Dinas Sosial dengan instansi terkait atau lembaga – lembaga yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan seperti LSM dan panti – panti.

Dan kesemuanya itu hendaknya diatur dengan kesepakatan Dinas Sosial Kota Samarinda dengan Kepolisian, Kejaksaan, Bapas, Badan Pemberdayaan Perempuan, Dinas Kesehatan Kota Samarinda maupun dengan lembaga sosial yang ada di masyarakat.

(24)

4. Belum optimalnya fungsi pelayanan LK3 dalam pelayanan masyarakat sehingga masih terpusat pada Dinas Sosial.

Selama ini tempat pengaduan ataupun konsultasi bagi mereka mempunyai permasalahan sosial, melaporkannya langsung ke Dinas Sosial Kota Samarinda yang mana di Dinas Sosial Kota Samarinda sangat memerlukan ruangan khusus untuk pelayanan konsultasi LK3 yang dilengkapi sarana yang memadai dan yang seharusnya juga ada home visite yang dilakukan untuk petugas LK3 yang anggotanya sesuai Juknis Kemensos RI.

5. Kurangnya sarana dan prasarana dalam pembinaan Lembaga Konsultasi Keluarga (LK3.

Perlu adanya ruangan khusus untuk pelayanan konsultasi LK3 yang dilengkapi sarana dan prasarana.

6. Terbatasnya sarana dan prasarana dalam pengembangan Sumber dan Potensi Kesejahteraan Sosial Daerah Kota Samarinda

Hingga saat ini Sumber Potensi Kesejahteraan Sosial yang baru memiliki kesekretariatan sekaligus menjadi Posko Tagana, sedangkan yang lain (PSKS lainnya seperti PSM, TKSK, WKSBM ) belum memiliki kesekretariatan sehingga didalam melakukan Pembina terhadap PSKS yang dimaksud tidak bisa segera membantu mereka jika mereka ada permasalahan didalam penanganan PMKS atau permasalahan yang didalam Organisasinya.

Disamping itu mereka belum pernah mendapatkan bantuan alat transportasi dan Sarana administrasi yang mendukung operasional. Untuk tahun kedepannya guna mendukung tugas – tugas operasionalnya maka Dinas Sosial akan berusaha memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan atau saran prasarana apa yang mereka usulkan.

7. Masih tingginya kelompok keluarga fakir miskin di Kota Samarinda

a. Kota Samarinda sebagai Ibukota Provinsi sudah tentu banyak penduduk imigrasi yang mana mereka belum tentu memiliki keterampilan.

b. Disebabkan banyaknya tutup lapangan pekerjaan atau terjadinya PHK sektor pertambangan.

c. Keterbatasan kelompok usaha bersama, mereka tidak mampu mengembangkan karena keterbatasan pengetahuan, pendidikan dan keterampilan.

8. Masih kurangnya sumber daya manusia baik dari sisi jumlah maupun kualitas dalam penanganan masalah sosial di Kota Samarinda.

Dinas Sosial Kota Samarinda jumlah pegawai / alumni pekerja sosial sangat kurang sedangkan permasalahan sosial di Kota Samarinda sangat tinggi, adapun pelatihan – pelatihan tentang pekerja sosial juga kurang baik itu terhadap pegawai Dinas Sosial Kota Samarinda maupun pada mitra Dinas Sosial Kota Samarinda seperti ; Organisasi Karang Taruna, PSM, PKH, TKSK dan lain – lain.

(25)

9. Rendahnya kepedulian masyarakat dalam mencegah bencana terhadap kesiapsiagaan bencana Kota Samarinda

a. Perlunya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang kepedulian lingkungan dalam keluarga maupun masyarakat tentang bahaya yang dapat menimbulkan terjadinya bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial.

b. Kurangnya dan kesiapsiagaan masyarakat Kota Samarinda dalam mengantisipasi terjadinya bencana, sehingga kejadian dapat diminimalisir baik korban harta benda dan jiwa

10. Belum optimalnya sarana dan prasarana untuk melakukan rehabilitasi sosia.l Pemerintah Kota Samarinda telah ada UPTD panti pelayanan terpadu tetapi belum didukung sarana prasarana dan sumber daya manusia dalam upaya rehabilitasi sebagai penunjang panti tersebut.

11. Belum adanya Peraturan Daerah yang mengatur penerbitan izin pengumpulan sumbangan dalam daerah Kota Samarinda

Dinas Sosial Kota Samarinda dalam hal pengumpulan uang dan barang berpedoman pada Undang – Undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan uang dan Barang, karena belum adanya Peraturan Daerah yang mengatur hal pengumpulan uang dan barang dan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1954 tentang Undian

12. Masih rendahnya tingkat pengelolaan data PMKS di Kota Samarinda

a. Kurangnya sumber daya manusia dari petugas pendataan, waktu, biaya dan peminat (peduli sosial ), sehingga pengetahuan petugas pendata belum paham sepenuhnya kreteria yang orang didata, sehingga data yang terkumpul belum memenuhi ketentuan akibatnya jika diperlukan data harus mendata kembali.

b. Belum ada data serinci dari tahun ke tahun tentang data PMKS 13. Kurangnya sarana dan prasarana dalam pengelolaan data fakir miskin.

Untuk mempermudah pengolah data masih sangat diperlukan tambahan sarana komputerisasi dan sistem ( penerapan teknolgi informasi ) sehingga perencanaan program di Dinas Sosial Kota Samarinda menjadi Bank Data Permasalahan sosial, pembangunan kesejahteraan sosial

14. Faktor penurunan keharmonisan keluarga

Adapun permasalahan penurunan keharmonisan keluarga yang ditangani oleh Dinas Sosial Kota Samarinda selama ini antara lain disebabkan karena permasalahan ekonomi, pernikahan belum memenuhi persyaratan perundang – undangan / pernikahan belum cukup umur, adanya perselingkuhan, adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), adanya PHK.

15. Belum efektifnya penegakkan Peraturan Daerah terkait dengan Gepeng dan Anjal

(26)

Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2006 tentang Penertiban dan Penanggulangan Pengemis, Anak Jalanan dan Gelandangan dalam Wilayah Kota Samarinda sudah tidak sesuai lagi untuk diterapkan sehingga perlu revisi Perda (Peraturan Daerah), dimana masih adanya ego sector dalam sinergitas dalam kinerja.

Sedangkan isu tentang kebijakan sosial yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam hal menanggulangi masalah kemiskinan pada dasarnya ada beberapa kebijakan yang harus dilaksanakan yang antara lain :

1. Kebijakan Sosial

kebijakan adalah suatu ketetapan yang memuat prinsip-prinsip untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang dibuat secara terencana dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan kebijakan sosial, maka kata sosial dapat diartikan baik secara luas maupun sempit. Secara luas kata sosial menunjuk pada pengertian umum mengenai bidang-bidang atau sektor-sektor pembangunan yang menyangkut aspek manusia dalam konteks masyarakat atau kolektifitas. Istilah sosial dalam pengertian ini mencakup antara lain bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, hukum, budaya, atau pertanian. Definisi lain dari kebijakan sosial adalah suatu kondisi di atas level pengembangan dalam suatu kelompok, baik itu tradisi, kebudayaan, orientasi ideology, dan kapasitas teknologi.

2. Garis besar aspek kebijakan sosial

Kebijakan sosial adalah suatu aspek dan objek kajian yang memiliki ruang lingkup luas dan global. Peran pekerja sosial dalam menghadapi fenomena perkembangan suatu Negara sangat diperlukan dan peran serta aktif pula dalam bekerjasama dengan instansi kepemerintahan yang memang memiliki otoritas dan peranan dalam melakukan suatu kebijakan. Seperti yang terdapat dalam definisi diatas, kebijakan sosial sangat berfungsi dalam melakukan suatu kesejahteraan bagi penduduk di suatu Negara. Pekerja sosial sebagai tenaga yang sangat dibutuhkan kontribusinya dapat pula berfungsi dengan berperan serta aktif ikut menentukan dan membuat perancangan kebijakan sosial strategis tidak hanya dalam lingkup lokal melainkan dalam matra global. Pekerja sosial haruslah aktif dalam merespon situasi perubahan dan perkembangan kondisi global, sehingga dapat bersama dengan pemerintah melakukan rancangan yang efektif dalam mensejahterakan masyarakat.

Setiap negara memiliki mekanisme tersendiri dalam proses perumusan suatu kebijakan sosial. Sebagain besar negara menyerahkan tanggungjawab ini kepada setiap departemen pemerintahan, namun ada pula negara yang memiliki badan khusus yang menjadi sentral perumusan kebijakan sosial. Terdapat pula negara-negara yang melibatkan baik lembaga pemerintahan maupun swasta dalam merumuskan kebijakan sosialnya.

Dalam perjalanan, penyusunan, perancangan, dan penerapannya, kebijakan sosial meliputi 4 (empat) tingkatan aktivitas profesi :

(27)

1. Melihat aktivitas di suatu tataran dengan merespon untuk membuat suatu kebijakan sosial yang melihat dari penetapannya terhadap suatu undang-undang, mengartikannya dengan menjadikan sebagai suatu kebijakan yang dilindungi oleh hukum, membuat keputusan pada bidang administrasi, melaksanakan dan menerapkannya. Penentuan bidang ini dilakukan oleh pengambil kebijakan yaitu pemerintah

2. Melihat bentuk pelayanan dan sebagai penasihat secara teknis tentang suatu kebijakan, atau sebagai konsultan yang mengkhususkan dalam suatu lapangan yang berkepentingan. Bidang ini merupakan wewenang di tingkatan legislatif pada suatu Negara demokrasi.

3. Meneliti dan menginvestigasi problema sosial dan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kebijakan sosial. Bidang ini dilkukan oleh para pekerja sosial 4. Memberikan perlindungan atau advokasi secara khusus terhadap suatu kebijakan

dasar yang berkepentingan dengan suatu bidang. Bidang ini merupakan kerja pihak LSM yang bergerak pada bidangnya misalkan LSM lingkungan, LSM ekonomi, LSM politik, dan lain-lain.

Sehingga kesimpulan ringkas yang dapat kita ambil dari adanya pembagian aktivitas yang secara tidak langsung dapat bekerjasama mengambil suatu ketetapan dalam penerapan kebijakan sosial, disini pihak pemerintah dapat dengan mudah menentukannya hal ini disebabkan karena masing-masing pihak dapat memantau kebijakan yang dibuat pemerintah dan mengawasi tindakan dalam penerapannya.

Sehingga tingkat pelanggaran yang nantinya akan terjadi dapat terdeteksi dan transparan

3. Kemiskinan sebagai sasaran kebijakan sosial

Sebagai masalah yang menjadi isu global disetiap Negara berkembang. Wacana kemiskinan dan pemberantasannya haruslah menjadi agenda wajib bagi para pemerintah dan pemimpin Negara. Peran serta pekerja sosial dalam menangani permasalahan kemiskinan sangat diperlukan, terlebih dalam memberikan masukkan (input) dan melakukan perencanaan strategis (strategic planning) tentang apa yang akan menjadi suatu kebijakan dari pemerintah.

Sebelum mengetahuinya lebih dalam, perlu diketahui penyebab kemiskinan yang secara tidak langsung menjadi standar global :

a. Kemiskinan kebudayaan, hal ini biasanya terjadi disebabkan karena adanya kesalahan pada subyeknya. Misalnya : malas, tidak percaya diri, gengsi, tak memiliki jiwa wirausaha yang kompatibel, tidak mempunyai kemampuan dan keahlian, dan sebagainya.

b. Kemiskinan structural, hal ini biasanya terjadi karena disebabkan oleh factor eksternal yang melatarbelakangi kemiskinan. Faktor eksternal itu biasanya disebabkan kinerja dari pemerintah diantaranya : pemerintah yang tidak adil, korupsi, paternalistik, birokrasi yang berbelit, dan sebagainya

(28)

4. Kemiskinan di Indonesia

Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, kemiskinan masih akan jadi masalah utama bangsa Indonesia, dilihat dari segi konsumsi maupun pendapatan. Sedangkan sumber kemiskinan itu sendir antara lain adalah kualitas Sumber Daya Manusia yang rendah, infrastruktur yang buruk, dan ketiadaan modal. Pilar ekonomi Indonesia saat ini sebetulnya UKM. Di sinilah banyak orang miskinnya. Namun usaha mikro sekarang berkembang bukan akibat desain pemerintah, tapi karena orang tidak ada pilihan.

Daripada menganggur, lebih baik membuka Warteg atau sejenisnya. Usaha kecil di Indonesia naik dari 44 juta (2007) menjadi hampir 50 juta (2008). Usaha menengah turun dari 6 juta ke sekitar 4 juta, sedangkan usaha besar umumnya stagnan

5. Strategi Penanggulangan Kemiskinan

Sesuai dengan konsepsi mengenai keberfungsian sosial, strategi penanganan kemiskinan pekerjaan social terfokus pada peningkatan kemampuan orang miskin dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan sesuai dengan statusnya. Karena tugas- tugas kehidupan dan status merupakan konsepsi yang dinamis dan multi-wajah, maka intervensi pekerjaan sosial senantiasa melihat sasaran perubahan (orang miskin) tidak terpisah dari lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Prinsip in dikenal dengan pendekatan “person in environment dan person in situation”.

Beberapa bentuk PROKESOS yang telah dan sedang dikembangkan oleh Depsos dapat disederhanakan menjadi :

1. Pemberian pelayanan dan rehabilitasi social yang diselenggarakan oleh panti-panti sosial

2. Program jaminan, perlindungan dan asuransi kesejahteraan sosial

3. Bekerjasama dengan instansi lain dalam melakukan swadaya dan pemberdayaan usaha miro, dan pendistribusian bantuan kemanusiaan, dan lain-lain

Pendekatan kedua, yang melihat si miskin dalam konteks situasinya, strategi pekerjaan sosial berpijak pada prinsip-prinsip individualisation dan self-determinism yang melihat si miskin secara individual yang memiliki masalah dan kemampuan unik.

Program anti kemiskinan dalam kacamata ini disesuaikan dengan kejadian-kejadian dan/atau masalah-masalah yang dihadapinya. PROKESOS penanganan kemiskinan dapat dikategorikan ke dalam beberapa strategi, diantaranya :

1. Strategi kedaruratan. Misalnya, bantuan uang, barang dan tenaga bagi korban bencana alam.

2. Strategi kesementaraan atau residual. Misalnya, bantuan stimulant untuk usaha- usaha ekonomis produktif.

3. Strategi pemberdayaan. Misalnya, program pelatihan dan pembinaan keluarga muda mandiri, pembinaan partisipasi sosial masyarakat, pembinaan anak dan remaja.

Strategi “penanganan bagian yang hilang”. Strategi yang oleh Caroline Moser disebut sebagai “the missing piece strategy” ini meliputi program-program yang dianggap

(29)

dapat memutuskan rantai kemiskinan melalui penanganan salah satu aspek kunci kemiskinan yang kalau “disentuh” akan membawa dampak pada aspek-aspek lainnya.

Misalnya, pemberian kredit, program KUBE (kelompok usaha bersama)

2.4 Review terhadap Rancangan Awal RKPD

Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Samarinda Tahun 2018 bahwa Dinas Sosial Kota Samarinda bertanggung jawab atas penyelenggaraan salah satu prioritas daerah yakni penanggulangan kemiskinan dan pengangguran terkait dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Samarinda, dimana pada RKPD tersebut telah ditentukan besaran anggaran Pagu indikatif untuk Belanja Langsung pada Dinas Sosial Kota Samarinda Tahun 2018. Adapun pagu indikatif untuk Belanja Langsung sebesar Rp. 18.246.600.000,- (Delapan belas miliyar dua ratus empat puluh enam juta enam ratus ribu rupiah), peruntukan Belanja Langsung tersebut ialah untuk membiayai program dan kegiatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial (Urusan Wajib : Sosial) dan Penyelenggaraan Administrasi Umum (Non-Urusan). Apabila melihat usulan Dinas Sosial Kota Samarinda terkait anggaran yang dibutuhkan guna pencapaian target RPJMD sementara Kota Samarinda Tahun 2018 dan usulan Musrenbang Kota Samarinda maka anggaran tersebut cukup memadai, sehingga diharapkan beberapa target kinerja Dinas Sosial Kota Samarinda dapat tercapai sesuai RPJMD sementara Kota Samarinda Tahun 2018

Setelah di review ada beberapa program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial pada tahun 2018 nilai pagu anggaran ada perubahan yang semula Rp.

17.434.000.000,- menjadi Rp.6.64.410.000, adapun hasil review tersebuat sesuai usulan program dan kegiatan tahun 2018, dapat dilihat pada tabel berikutnya:

Gambar

Tabel 6  Rencana Kerja
Tabel 11  Rencana Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Kerja (RENJA) Perangkat Daerah sebagai dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memuat kebijakan dan program dan kegiatan dalam satu tahun dan sebagai

Penyusunan Rencana Kerja Satuan Perangkat Daerah (Renja SKPD) Dinas Pekerjaan Umum Tahun 2015 dimaksudkan untuk mengetahui dan mendokumenkan perencanaan dalam kurun

Rancangan Akhir Rencana Kerja (RENJA) sebagai dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memuat kebijakan dan program / kegiatan dalam satu tahun dan sebagai

Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode satu (1) tahun,yang memuat kebijakan,program,dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh

Renja sebagai dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memuat kebijakan dan program / kegiatan dalam satu tahun dan sebagai acuan penyusunan Rencana

Rencana Kerja (RENJA) sebagai dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memuat kebijakan dan program / kegiatan dalam satu tahun dan sebagai

Renja SKPD disusun dengan maksud sebagai dokumen perencanaan Badan Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk periode 1 (satu) tahun yang memuat kebijakan,

Rencana Kerja (RENJA) sebagai dokumen Perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah yang memuat kebijakan dan program / kegiatan dalam satu tahun dan sebagai acuan penyusunan