NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT IMAM GHAZALI PADA PENDIDIKAN KARAKTER KURIKULUM 2013
SKRIPSI
Disusun Untuk Melengkapi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
dalam Bidang Pendidikan Agama Islam
Disusun oleh:
Siti Istiana Wahid 15.13.00.25
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA INDONESIA JAKARTA
2021
i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini disusun oleh:
Nama : Siti Istiana Wahid
NIM : 15.13.00.25
Jenjang : Strata Satu (S1)
Program Studi : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Fakultas Agama Islam
Judul : Nilai-nilai Pendidikan Akhlak menurut Imam Ghazali pada Pendidikan Karakter Kurikulum 2013
Telah diperiksandan disetujui untuk dipertahankan dihadapan Sidang Munaqosyah Skripsi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.
Bogor, 28 Agustus 2021
Di bawah bimbingan, Pembimbing I
Nur Khabibullah, M.Pd
Pembimbing II
Arif Rahman, M.Pd
ii
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Siti Istiana Wahid
NIM : 15.13.00.25
Program Studi : Pendidikan Agama Islam Fakultas : Fakultas Agama Islam
Judul Skripsi : Nilai-nilai Pendidikan Akhlak menurut Imam Ghazali pada Pendidikan Karakter Kurikulum 2013
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa:
1. Skripsi sebagaimana yang dimaksud adalah benar-benar karya asli saya, kecuali kutipan-kutipan yang saya sebutkan sumbernya;
2. Segala kesalahan dan kekurangan di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Apabila ternyata di kemudian hari tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar;
3. Karya ilmiah ini sepenuhnya diberikan kepada Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta dan dapat dipublikasikan untuk kepentingan akademisi.
Bogor, 20 November 2021 Yang membuat pernyataan,
Siti Istiana Wahid
iii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji dan syukur penulis panjatkan bagi Allah SWT Tuhan sekalian alam yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Salawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan pada Nabi Muhammad SAW, pada keluarganya, sahabatnya serta pada umatnya yang selalu menjalankan sunnahnya.
Dalam penyusunan skrispsi ini Penulis menyadari betul akan keterbatasan yang ada pada penulis, maka penulis yakin bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan bimbingan serta kritik konstruktif dari berbagai pihak untuk perbaikan selanjutnya.
Dalam penyelesaian skripsi ini banyak bantuan yang penulis terima, maka pada kesempatan ini sudah sepatutnyalah penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Bapak Juri Ardiantoro M.Si., P.hD selaku Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta beserta stafnya dan seluruh Dosen Program Studi PAI atas pembinaan beliau sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Unusia.
iv
2. Bapak Dede Setiawan, M.MPd selaku Dekan Universitas Nahdlatul Ulama (UNUSIA) Jakarta.
3. Bapak Saiful Bahri M.Ag selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).
4. Bapak Nur Khabibullah M.Pd selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan waktu dan arahan dalam bidang penyusunan dan penulisan skripsi ini.
5. Bapak Arif Rahman M.Pd selaku Dosen Pembimbing II yang juga telah meluangkan waktu dan arahan dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini.
6. Kedua orang tua saya, ayahanda tercinta Alm. Ustadz Mahbubillah dan ibunda tersayang Nuryanti yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil serta doa yang tiada henti-hentinya kepada penulis.
7. Adik- adikku tersayang Ika Siti Zakiyah dan Wafiq Inayah dan sepupu saya Muhammad Abdul Jalil Amin dan Silva Yulistia yang telah memberi masukan dan bantuan selama penyelesaian skripsi ini.
8. Sahabat-sahabati PK PMII UNUSIA B dan PC PMII Kabupaten Bogor yang selalu memberikan motivasi, arahan, dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Sahabat-sahabat saya Siti Sipa Harumsari, Lidia Indriani, Fithria Alawiyah, Dewi Nurbaiti yang telah memberikan masukan dan memotivasi saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
v
10. Teman-teman saya di School of Universe Mrs Fifi, Mrs Novi, Mrs Desi dan Miss Riri yang telah membantu memberikan masukan dan selalu memberikan dukungan kepada saya selama menyelesaikan skripsi ini.
Bogor, 20 November 2021
Penulis
Siti Istiana Wahid
vi ABSTRAK
SITI ISTIANA WAHID (NIM/NIMKO: 15: 13: 00: 25). Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Menurut Imam Ghazali pada Pendidikan Karakter Kurikulum 2013. Skripsi.
Jakarta: Program Strata Satu (S1) Bidang Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), 2021.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan membahas nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali dan nilai-nilai pendidikan karakter kurikulum 2013. Penelitian ini didasari karena semakin banyaknya perilaku-perilaku kalangan remaja yang menyimpang dari agama maupun norma-norma yang berlaku di masyarakat. Imam Ghazali adalah tokoh besar islam yang banyak membahas akhlak di dalam kitab-kitabnya. Selain itu kurikulum yang digunakan saat ini pada dunia pendidikan di Indonesia adalah kurikulum 2013 yang mengutamakan pendidikan karakter. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk membahas lebih dalam nilai-nilai akhlak menurut Imam Ghazali dan nilai-nilai pendidikan karakter kurikulum 2013 yang diharapkan menjadi referensi ataupun melengkapi nilai-nilai akhlak yang belum ada pada kurikulum 2013 di dunia pendidikan khususnya pendidikan islam. Analisis data dilakukan dengan penekanan pada pembahasan isi yang terkandung dalam buku.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengumpulkan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013 adalah religius, komunikatif, jujur, toleransi, dan peduli sosial. 2) nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang tidak termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013 adalah sopan santun, adil, dermawan, dan tolong menolong.
Kata Kunci: Pendidikan Akhlak, Imam Ghazali, Pendidikan Karakter, Kurikulum 2013
vii ABSTRACT
SITI ISTIANA WAHID (NIM/NIMKO: 15:13:00:25). The Values of Moral Education at Imam Al-Ghazali in the Curriculum of Personality Education 2013.
Message. Jakarta: Undergraduate Program (S1) in Islamic Religious Education, Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), 2021.
This research is a literature study by discussing the values of moral education according to Imam Al-Ghazali and the values of character education in the 2013 curriculum. The increasing number of behaviors among adolescents who They deviate from the religion and norms that apply in society. Imam Al-Ghazali is a great Islamic figure who talks a lot about morals in his books. In addition, the curriculum used today in the world of education in Indonesia is the 2013 curriculum that prioritizes character education. Therefore, the researchers are interested in discussing moral values in more depth according to Imam Al-Ghazali and the values of personal education in the 2013 curriculum, which are expected to be a reference or complement to moral values that are not found in the 2013 curriculum in the world of education, especially Islamic education. Data analysis was performed with a focus on discussing the contents of the book. The data collection technique used is literary study by collecting books related to the research.
The results showed that: 1) The moral education values of Imam Al-Ghazali included in the personality education curriculum 2013 are religious, communicative, honest, tolerant and socially important. 2) The moral education values of Imam Al- Ghazali that were not included in the 2013 Personality Education Curriculum are kindness, fairness, generosity and assistance.
Keywords: Moral education, Imam Al-Ghazali, personal education, curriculum 2013
viii
صخلملا
SITI ISTIANA WAHID (NIM / NIMKO: 15: 13:00: 25).
ةيصخشلا ةيبرت جهنم يف يلازغلا ماملإا دنع ةيقلاخلأا ةيبرتلا ميق 2013
.
سويرولاكبلا جمانرب :اتركاج .ةلاسر (S1) ، ةيملاسلإا ةينيدلا ةيبرتلا يف ةيسينودنلإا ءاملعلا ةضهن ةعماج (UNUSIA) ،2021.
للاخ نم ةيبدأ ةسارد نع ةرابع ثحبلا اذه ةيقلاخلأا ةيبرتلا ميق ةشقانم
يلعت ميقو يلازغلا ماملإل اًقفو جهنم يف ةيصخشلا م
2013 ددع ديازت .
قبطنت يتلا فارعلأاو نيدلا نع نوديحي نيذلا نيقهارملا نيب تايكولسلا نع ًاريثك ثدحتت ةميظع ةيملاسإ ةيصخش يلازغلا ماملإا .عمتجملا يف كلذ ىلإ ةفاضلإاب .هبتك يف قلاخلأا ملاع يف مويلا مدختسملا جهنملا نإف ،
جهنم وه ايسينودنإ يف ميلعتلا 2013
ميلعتل ةيولولأا يطعي يذلا
اًقفو قمعأ لكشب ةيقلاخلأا ميقلا ةشقانمب نوثحابلا متهي ، كلذل .تايصخشلا جهنم يف ةيصخشلا ةيبرت ميقو يلازغلا ماملإل 2013
عقوتملا نم يتلاو
ةلمكم وأ ةيعجرم نوكت نأ جهنم يف دجوت لا يتلا ةيقلاخلأا ميقلل
2013
عم تانايبلا ليلحت ءارجإ مت .ةيملاسلإا ةيبرتلا ةصاخو ةيبرتلا ملاع يف يه ةمدختسملا تانايبلا عمج ةينقت .باتكلا تايوتحم ةشقانم ىلع زيكرتلا ثحبلاب ةقلعتملا بتكلا عمج للاخ نم ةيبدلأا ةساردلا.
:نأ جئاتنلا ترهظأو 1
لا ميق ) ةجردملا يلازغلا ماملإا دنع ةيقلاخلأا ةيبرت
ةيصخشلا ميلعت جهنم يف 3
201 ةقداصو ةيلصاوتو ةينيد ميق يه
.ةيعامتجا ةيمهأ تاذو ةحماستمو 2
ماملإا دنع ةيقلاخلأا ةيبرتلا ميق )
ةيصخشلا ميلعت جهنم اهلمشي مل يتلا يلازغلا 2013
فطللا يه
ةدعاسملاو مركلاو فاصنلإاو.
تاملكلا ، ةيصخشلا ةيبرت ، يلازغلا ماملإا ، ةيقلاخلأا ةيبرتلا :ةيحاتفملا
جهنم
2013
ix
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... LEMBAR PERNYATAAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Pembatasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 9
E. Tujuan Penelitian ... 10
F. Kajian Terdahulu ... 10
G. Metode Penelitian ... 13
H. Manfaat Penelitian ... 15
I. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Teori Terkait 1. Pengertian Pendidikan Akhlak ... 18
2. Ruang Lingkup Ilmu Akhlak ... 22
3. Manfaat Akhlak Mulia ... 23
4. Pendidikan Karakter ... 27 B. Tinjauan Objek Yang Dikaji
xi
1. Biografi Imam Ghazali ... 33 2. Pendidikan Akhlak Menurut Imam Ghazali ... 38 3. Metode Pembentukan Akhlak ... 58 BAB III ANALISIS DATA
A. Hasil Penelitian
1. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Menurut Imam Ghazali ... 62 B. Analisis Data
1. Nilai- nilai Pendidikan Akhlak menurut Imam Ghazali yang Termasuk pada Pendidikan Karakter Kurikulum 2013 ... 69 2. Nilai- nilai Pendidikan Akhlak Menurut Imam Ghazali yang tidak
Termasuk pada Pendidikan Karakter Kurikulum 2013 ... 77 BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ... 82 DAFTAR PUSTAKA ... 84 LAMPIRAN
Daftar Tabel ... 30
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Pendidikan merupakan persoalan pertama dan utama dalam membangun dan memperbaiki kondisi masyarakat di muka bumi ini. Ajaran yang terkandung di dalamnya berupa akidah tauhid, akhlak mulia, hubungan sosial dan aturan- aturan mengenai persoalan pendidikan lainnya. Pendidikan menurut pengertian terminologis adalah proses pendewasaan anak, mempersiapkan mereka di dunia dan akhirat, memperhatikan perkembangan mereka dengan perhatian menyeluruh mencakup semua sisi perkembangan fisik, intelektual, sosial, moral maupun spiritual. (Ahmad Asy-Syantuh, 1991: 29).
Investasi dalam bidang pendidikan sangat diperlukan dalam upaya menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan dapat meningkatkan tarif hidup dan memungkinkan seseorang untuk dapat meningkatkan kemampuannya secara terencana. Oleh sebat itu, untuk merencanakan dan mengembangkan karakter anak sangat dibutuhkan dengan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya merupakan pendidikan formal yang didapat dari sekolah, melainkan
pendidikan di lingkungan keluarga sebagai upaya meningkatkan kualitas anak dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan karakternya. (Sani dan Kadri, 2016: 5).
Menurut penulis pendidikan sangat penting bagi masyarakat guna memberikan pemahaman dalam berbagai ilmu pengetahuan, membantu memahami sudut pandang kehidupan, membangun karakter dan memajukan bangsa. Pada kehidupan sekarang ini, baik di kota maupun di desa banyak kita jumpai berbagai permasalahan yang dilakukan oleh generasi muda.
Permasalahan ini timbul dikarenakan kurangnya nilai-nilai agama di kalangan kehidupan generasi muda, sehingga seringkali meresahkan lingkungan masyarakat sekitarnya.
Dewasa ini masyarakat Indonesia semakin banyak yang sikapnya menyimpang dari nilai-nilai, budaya, moral, dan agama. Faktanya di masyarakat sering kali terjadi perkelahian antar sekolah, kekerasan, penggunaan narkoba, perlakuan pornografi serta perlakuan kriminal lainnya.
Kenyataan di lapangan masih banyak proses pendidikan di sekolah yang lebih mengutamakan aspek kognitifnya daripada afektif dan psikomotornya.
(Rosidatun, 2018: 2).
Dengan demikian diperlukan pendidikan yang signifikan terhadap pengembangan nilai-nilai karakter dan memulai untuk memiliki akhlak yang baik seperti membiasakan diri bersifat jujur, bertanggung jawab, mandiri dan lain-lain. Untuk mencapai nilai-nilai karakter tersebut memerlukan pengawasan
orang tua guna memastikan keberhasilan pendidikan akhlak di sekolah yang diaplikasikan melalui kehidupan sehari-hari di lingkungan sosial masing- masing peserta didik. Maka dari itu diperlukan adanya kerja sama serta komunikasi antara lembaga sekolah dengan orang tua harus dijalin.
Kurikulum yang diterapkan saat ini di berbagai lembaga sekolah adalah kurikulum 2013 yang mengutamakan pendidikan karakter, tetapi dalam pengaplikasian belum sepenuhnya terrealisasi dengan baik dikarenakan masih banyak lembaga sekolah yang hanya mengutamakan pengetahuan secara kognitif padahal pendidikan akhlak merupakan pondasi utama bagi kemajuan pendidikan di Indonesia dan juga untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat di Indonesia. Selain daripada itu pendidikan akhlak juga merupakan tujuan dari pendidikan nasional yaitu:
“Berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
(Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3).
Menurut perspektif islam tujuan pendidikan adalah “membentuk peserta didik menjadi insan yang shaleh dan bertakwa kepada Allah SWT.”
Ketakwaan dan keshalehan itu ditandai dengan kemapanan aqidah dan keadilan yang mewarnai segala aspek kehidupan seseorang yang meliputi pikiran, perkataan, perbuatan, pergaulan, dan lain sebagainya. (Yusuf, 2015: 83).
Dari kedua tujuan pendidikan di atas sangat menitikberatkan kepada akhlak. Tercapainya suatu pendidikan adalah dengan terbentuknya akhlak yang baik pada peserta didik dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu institusi pendidikan yang terdiri dari sekolah/madrasah, keluarga, dan lingkungan sosial harus menjadi teladan bagi proses pendidikan dan pendidikan peserta didik, hal tersebut disebabkan praktik pendidikan di setiap jenjangnya bukan sekedar pengembangan nalar peserta didik tetapi juga pembentukan akhlak al-karimah.
Kedudukan akhlak dalam pendidikan juga amat penting, akhlak bersangkut paut dengan gejala jiwa sehingga dapat menimbulkan perilaku.
Bilamana yang timbul ini adalah baik, maka dikatakan akhlak baik. Sebaliknya, bila perilaku yang timbul adalah buruk, maka dikatakan akhlak yang buruk.
Bedanya dengan moral, ukuran baik dan buruk dalam akhlak mengikuti ketentuan agama, sedangkan moral berdasarkan budaya masyarakat dan akal pikiran manusia. Daya jiwa yang dapat membangkitkan perilaku, kehendak dan perbuatan baik buruk, indah dan jelek, dan yang secara alami dapat menerima pendidikan disebut dengan akhlak. (Assegaf, 2014: 44).
Seorang ilmuwan islam yang terkenal dengan pemikiran pendidikan akhlak adalah Imam Ghazali. Imam Ghazali merupakan pemikir islam yang tekemuka, beliau mendapatkan gelar Hujjatul Islam karena mempunyai pengaruh besar terhadap islam. Berkat keikhlasan dan ketulusannya,
kebermanfaatan ilmu Imam Ghazali masih dirasakan hingga dewasa ini melalui kitab-kitabnya yang masih dikaji di berbagai tempat. Kitab karangan beliau telah tersebar di seluruh penjuru dan banyak juga yang telah menggunakan atas apa yang telah diijtihadkan oleh beliau. Salah satu kitab karangan beliau yang membahas tentang pendidikan akhlak Ihya ‘ulumuddin.
Akhlak adalah pondasi pertama dalam proses pendidikan karena dengan akhlak tersebut peserta didik dapat memiliki sifat maupun perbuatan yang terpuji maka dari itu pendidikan yang baik harus disertai dengan pendidikan akhlak yang baik pula dimana akhlak ini tidak hanya diperoleh dengan mempelajarinya tetapi membiasakan untuk berakhlak baik sejak dini. Akhlak juga merupakan sesuatu yang praktis yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tenggelam dan munculnya suatu bangsa tergantung kepada akhlaknya. Hal ini seperti yang disyairkan oleh Syauqi Bik yang dikutip oleh Athoullah Ahmad: (Ahmad, 1995: 8).
ُمَمُ الاا اَمَّنِا ا اوُبَهَذ امُهُقَلااخَا اتَبَهَذ ُمُه انِا َو اتَيِقَب اَم ُقَلااخَ الاا
“Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa itu akan tetap hanya apabila mereka berakhlak, namun apabila akhlak mereka hilang maka hilang pula kejayaan mereka.”
Dalam pengertian lain akhlak merupakan komponen dasar islam yang berisi ajaran tentang tata perilaku dan sopan santun. Akhlak dalam islam merupakan manivestasi dari aqidah dan syari’ah, karena keimanan harus
ditampilkan dalam perilaku sehari-hari. Inilah yang menjadikan misi utama diutusnya Rasulullah SAW sebagaimana beliau bersabda dalam hadits riwayat Ahmad yang dikutip oleh Somad Zawawi (Zawawi, 2010: 39):
ِقَلااخَ الاا َم ِراَكَم َمِ مَتُ ِلأ ُتاثِعُب اَمَّنِا
“Sesungguhnya Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak terpuji”. (HR. Ahmad)
Berdasarkan syair dan pengertian di atas pendidikan akhlak merupakan benteng utama dalam menjaga moralitas manusia sehingga dengan tercapainya tujuan pendidikan, peserta didik bukan hanya cakap dalam ilmu pengetahuan yang bersifat global saja tetapi peserta didik akan selalu mencerminkan keimanannya kepada Sang Maha Pencipta dalam segala aspek kehidupannya.
Hal tersebut yang dapat menjadi pondasi utama bagi kemajuan pendidikan dan kemajuan bangsa itu sendiri.
Banyak sekali petunjuk dalam Al-Qur’an yang dapat dijadikan sarana untuk memperbaiki akhlak antara lain anjuran untuk bertobat, rendah hati, bersabar, bersyukur, bertawakal, menolong antar sesama dan lain-lain diantaranya adalah:
َغُلابَت انَل َو َض ارَ الاا َق ِراخَت انَل َكَّنِا اًح َرَم ِض ارَ الاا ىِف ِشامَت َلا َو
ًلا اوُط َلاَب ِجالا
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (Q.S. Al-Isra/17: 37)
Pada awal kemerdekaan, di sekolah diajarkan karakter terutama yang berisi pembiasaan untuk hidup bersopan santun, bertata krama secara benar, baik dalam perkataan maupun perbuatan, berdisiplin, dan memiliki rasa hormat yang tinggi. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter dimaksudkan agar peserta didik dalam segala sikap dan perilakunya berkarakter yang luhur dan beradab.
Di abad ke 21 ini perlahan pembiasaan tersebut sudah hilang. Hasil riset yang dilakukan FEMA IPB menunjukkan tingkat tindakan kenakalan remaja khususnya siswa SMA di Kota Bogor lebih tinggi dibanding dengan Kabupaten Bogor. Kenakalan remaja ini sendiri mulai dari tawuran pelajar, narkoba, kecanduan game online, minuman keras hingga pornografi. (Diakses dari https://litbang.kemendagri.go.id pada hari Selasa, 22 Desember 2020 pukul 14:29 WIB).
Berdasarkan kejadian tersebut penulis mengambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan di sekolah belum sepenuhnya berdampak baik terhadap perilaku maupun perkataan di lingkungan sosial dan program pendidikan karakter serta pembiasaannya tidak dilaksanakan. Maka diperlukan adanya kolaborasi antara orangtua, guru dan pihak sekolah agar peserta didik mencerminkan akhlak secara utuh dan menyeluruh sebagaimana yang telah
dikemukakan oleh Imam Ghazali, amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan salah satu pendidikan akhlak yang dicontohkan. Maka dari itu penulis tertarik untuk membuat karya tulis dalam bentuk skripsi dengan judul
“Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak menurut Imam Ghazali pada Pendidikan Karakter pada Kurikulum 2013”
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah penulis paparkan dalam latar belakang masalah, maka penulis mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1. Hilangnya nilai-nilai kepribadian nasional pada remaja di abad 21.
2. Banyaknya perilaku-perilaku negatif yang terjadi akibat pengaruh globalisasi.
3. Pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali.
4. Nilai-nilai pendidikan karakter pada kurikulum 2013.
5. Dampak pendidikan karakter pada kurikulum 2013 terhadap pembentukan akhlak al-karimah.
6. Tolak ukur keberhasilan pendidikan karakter pada kurikulum 2013.
7. Implementasi pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
C. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini terarah dan tidak menimbulkan keraguan dalam penafsiran dan penelitian, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1. Nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang ada pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
2. Nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang masuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
3. Nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang tidak termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
D. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan pemaparan masalah yang telah dijelaskan pada latar belakang masalah, maka dalam hal ini diperoleh beberapa masalah diantaranya sebagai berikut:
1. Apa saja nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang ada pada pendidikan karakter kurikulum 2013?
2. Apa saja nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013?
3. Apa saja nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang tidak termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang ada pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
2. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
3. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang tidak termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
F. Kajian Terdahulu
Setelah melakukan pencarian tentang pembahasan nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali, penulis menemukan beberapa skripsi yang mempunyai kesamaan pembahasan dengan skripsi yang akan dilakukan oleh penulis, adapun skripsi tersebut diantaranya adalah:
1. Skripsi yang ditulis oleh Herwinsyah, mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara tahun 2017 yang berjudul “Pesan-Pesan Akhlak Dalam Buku Terjemahan Ihya Ulumuddin Karya Imam Ghazali”. Dalam skripsi ini membahas tentang pesan-pesan akhlak dalam buku terjemah Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali jilid 6 yang
berhubungan dengan akhlak baik atau mahmudah dan akhlak buruk madzmumah.
Adapun yang berhubungan dengan akhlak baik (mahmudah) ada tiga pesan akhlak antara lain qana’ah (akhlak terhadap Allah), pemurah (akhlak terhadap sesama manusia), dan tawadhu (akhlak terhadap Allah). Artinya dalam pembahasan akhlak baik, akhlak terhadap Allah lebih dominan dibandingkan dengan akhlak terhadap sesama manusia.
Sedangkan pesan-pesan akhlak buruk (Madzmumah) diantaranya adalah rakus (akhlak terhadap Allah), tamak (akhlak terhadap Allah), kikir (akhlak terhadap sesama manusia), riya (akhlak terhadap Allah), sombong (akhlak terhadap sesama manusia), takabur (akhlak terhadap sesama manusia) dan ujub (akhlak terhadap Allah).
Artinya dalam pembahasan akhlak buruk, akhlak terhadap Allah lebih dominan dibandingkan dengan akhlak terhadap manusia.
Secara korelatif, penulis mempunyai kesamaan dalam membahas pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali tetapi ada perbedaan yaitu skripsi penulis fokus terhadap nilai-nilai akhlak secara keseluruhan yang diperoleh dari unsur terbentuknya akhlak baik dan buruk yaitu kekuatan ilmu, kekuatan amarah, kekuatan nafsu, dan adil.
2. Skripsi yang ditulis oleh Martin Aulis, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Raden Intan Lampung tahun 2017 yang berjudul “Relevansi Pemikiran Al-Ghazali
terhadap Pendidikan Karakter (akhlak) di era sekarang (Globalisasi).”
Skripsi ini membahas tentang konsep pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang fokus pada pendekatan humanistik. Dalam hal ini pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan menghargai mereka sebagai manusia.
Selain itu hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali lebih menekankan pada pengajaran keteladanan dan kognifistik. Relevansi terhadap pendidikan karakter di era sekarang dengan adanya pendidikan budi pekerti dan moral yang diintegrasikan dalam mata pelajaran PAI dan PKn.
Perbedaan dengan hasil penulis adalah skripsi penulis menitikberatkan penelitian pada nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai pendidikan karakter pada kurikulum 2013.
3. Skripsi yang ditulis oleh Paryono Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga tahun 2014 yang berjudul “Konsep Pendidikan Akhlak Imam Al-Ghazali (Studi Analisis Kitab Ihya’ Ulumuddin).”
Dalam skripsi ini membahas tentang karakteristik pemikiran Imam Ghazali mengenai pendidikan termasuk di dalamnya membahas pendidik, anak didik dan syarat menjadi pendidik perspektif Imam Ghazali. Selain itu, Imam Ghazali juga memakai pendekatan
behavioristik sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan yang dijalankan. Hal tersebut tampak dalam pandangan Imam Ghazali yang menyatakan jika seorang murid berprestasi hendaklah guru mengapresiasi murid dan jika melanggar hendaklah diperingatkan.
Pandangan tesebut yang kita kenal sekarang dengan sebutan reward dan punishment.
Perbedaan dengan hail penulis adalah skripsi penulis menitikberatkan penelitian kepada nilai-nilai pendidikan akhlak Imam Ghazali dan pendidikan karakter pada kurikulum 2013 sehingga penulis cukup membahas keduanya agar tidak keluar dari topik utama. Selain itu, dalam pembentukan akhlak bukan hanya tanggung jawab guru saja melainkan ada tiga elemen yang ikut andil yaitu orang tua, pihak sekolah dan lingkungan.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Sebagaimana karya ilmiah pada umumnya, setiap pembahasan suatu karya ilmiah tentunya menggunakan metode untuk menganalisa dan mendeskripsikan suatu masalah. Adapun jenis penelitian pada skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research).
Penelitian kepustakaan adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti buku
perpustakaan, hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, artikel, catatan serta berbagai jurnal yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. (Sari, 2020: 44).
2. Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian ini terdiri dari sumber primer dan sumber dan sekunder. Sumber primer merupakan informasi yang berasal dari asalnya, yaitu yang dihasilkan oleh penulis atau peneliti. Data-data yang dikumpulkan berasal dari tulisan- tulisan Imam Ghazali pada kitab dan buku terjemah Ihya Ulumuddin. Selain itu digunakan pula data-data dari sumber sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Beberapa sumber sekunder:
a. Prophetic Character Building karya Akhmad Sodiq, Kencana Cetakan ke-1, Maret 2018
b. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia karya Abuddin Nata, PT Rajagrafindo Persada Cetakan ke-14, Juni 2017
c. Pengembangan Pendidikan Karakter karya Pupuh Fathurrohman, PT Refika Aditama Cetakan ke-2, Mei 2017 3. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini disesuaikan dengan fokus dan tujuan penelitian yaitu studi pustaka. Studi kepustakaan merupakan metode pengumpulan
data dengan tinjauan pustaka ke perpustakaan dan pengumpulan buku- buku, bahan-bahan tertulis serta referensi-referensi yang relevan dengan penelitian yang sedang dilakukan.
4. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian kepustakaan bisa dengan menggunakan metode analisis isi. Analisis isi digunakan untuk mendapatkan informasi yang valid dan dapat diteliti ulang berdasarkan konteksnya. Dalam analisis ini dilakukan proses memilih, membandingkan, menggabungkan, dan memilih berbagai pengertian hingga ditemukan data yang relevan. (Sari, 2020: 44).
H. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
1. Hasil penelitian ini diharapkan menambah wawasan kajian keislaman mengenai pendidikan akhlak dan pendidikan karakter bagi para pencari ilmu pada umumnya, guru, orang tua serta masyarakat sebagai salah satu sumber pengembangan pendidikan akhlak
b. Manfaat Praktis
1. Bagi Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pustaka bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji konsep tentang pendidikan akhlak.
2. Bagi penulis, sebagai bahan latihan dalam penulisan ilmiah sekaligus memberikan tambahan khazanah pemikiran konsep pendidikan akhlak.
3. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bernilai bagi para pendidik, anak didik, orang tua maupun masyarakat dalam implementasi akhlak baik dalam pendidikan.
I. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam memahami penelitian yang akan disusun, maka penulis perlu mengemukakan sistematika pembahasan penyusunan penelitian kajian pustaka. Penelitian kajian pustaka ini nantinya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
Bagian awal terdiri dari: Halaman sampul depan, halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi dan abstrak.
Bagian inti, terdiri dari tiga bab dan masing-masing berisi sub-sub bab antara lain:
Bab I Pendahuluan, merupakan garis besar dari penyusunan dari penelitian ini yang berisi tentang latar belakang masalah yang meliputi gambaran umum pembahasan mengenai pentingnya pendidikan karakter dan hilangnya degrasasi akhlak pada abad 21 ini. Setelah latar berlakang masalah yakni identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kajian terdahulu, metode penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Kajian teori, meliputi tinjauan umum teori terkait yang membahas pengertian pendidikan akhlak, ruang lingkup akhlak, manfaat akhlak dan membahas pendidikan karakter. Sedangkan pada tinjauan umum objek yang dikaji membahas biografi Imam Ghazali, pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali, akhlak baik dan buruk dan mujahadah serta riyadah.
Bab III Hasil penelitian yang berisi nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali, nilai-nilai pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali yang termasuk dan tidak termasuk pada pendidikan karakter kurikulum 2013.
Bab IV adalah penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
18 BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Teori Terkait
1. Pengertian Pendidikan Akhlak
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan dan melahirkan manusia sebagai peserta didik dalam suasana pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, pengendalian diri sebagai manusia, kecerdasan, keterampilan, akhlak mulia yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara. (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan).
Kata akhlak adalah jamak dari kata khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlak sebagaimana telah disebutkan di atas.
Baik kata akhlak atau khuluq kedua-duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam Al-Qur’an maupun hadits sebagai berikut:
ٍمايِظَع ٍقُلُخ ىَلَعَل َكَّنِا َو
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
(Q.S. Al-Qalam/68: 4).
ِقَلااخَ الأا َم ِراَكَم َمِ مَتُ ِلأ ُتاثِعُب اَمَّنِا
“Bahwasanya Aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti.” (HR. Ahmad)
Budi juga dapat diartikan sebagai akal, yaitu alat batin untuk menimbang dan menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Budi juga dapat diartikan sebagai tabiat, watak, perangai dan sebagainya. Budi adalah hal yang berhubungan dengan dengan kesadaran yang didorong oleh pemikiran, yang juga disebut karakter. Pekerti dapat diartikan sebagai perbuatan.
Pekerti adalah apa yang terlihat pada manusia karena didorong oleh perasaan hati yang disebut juga behavior. (Sholihin dan Anwar, 2015:
18).
Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah ini kita dapat merujuk kepada berbagai pendapat. Berikut adalah definisi akhlak menurut beberapa ulama dan cendekiawan yang dikutip oleh M.
Sholihin. (Sholihin dan Anwar, 2015: 18).
a. Ibn Miskawaih (w. 421 H/1030 M).
ٍةَيِو ُر َلا َو ٍراكِف ِرايَغ انِم اَهِلاَعافَا ىَلِا اَهَل ٌةَيِعاَد ِسافَّنلِل ٌلاَح
“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”
b. Ibrahim Anis
Dalam kitab Al-Mu’jam al-Wasith, Ibrahim Anis mengatakan bahwa akhlak adalah:
ٍةَجاَح ِرايَغ انِم ٍ رَش اوَا ٍرايَخ انِم ُلاَماعَلااا ُرُداصَت ٌةَخِسا َر ِسافَّنلِل ٌلاَح ٍةَي اؤ ُر َو ٍراكِف ىَلِا
“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam- macam perbuatan baik atau buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”
c. Prof. Dr. Ahmad Amin yang dikutip oleh A. Mustofa
اتَداَتاعااَذِا َةَدا َرِ الاا َّنَأ ىِناعَي ِةَدا َرِ الاا ُةَداَع ُهَّنَأِب َقُلُخالا ُمُهُضاعَب َف َّرَع َيِه اَهُتَداَعَف اًئايَش .ِقُلُخالاِب ُةاَّمَسُمالا
“Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu disebut akhlak.” (Sholihin dan Anwar, 2015: 13).
d. Abd al-Hamid Yunus
Dalam kitab Dairatul Ma’arif yang dikutip oleh Abuddin Nata, secara singkat akhlak diartikan: (Nata, 2015: 3).
ُةَّيِب َدَ الأا ِناَسانِ الاا ُتاَف ِص َيِه
“ Akhlak adalah sifat-sifat manusia yang terdidik.”
Berdasarkan pengertian akhlak di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan suatu tingkah laku yang tidak membutuhkan pertimbangan akal untuk melakukannya secara sadar dan terus menerus karena menangnya keinginan lain yang ada dalam jiwa dan keinginan itu telah menyatu di dalam jiwa dilakukan dengan maksud menjalankan ketaatan kepada Allah.
Akhlak bukanlah sekedar fenomena luaran yang bersifat insidental, sehingga tidak semua yang tampak seperti kebaikan adalah baik dalam makna hakiki. Ketika kebaikan itu tidak didasarkan kepada ketulusan hati maka kebaikan itu adalah keburukan yang berselimut kebaikan. Akhlak adalah kebaikan hakiki, luar dalam, lahiriah, batiniah.
(Sodiq, 2018: 2).
2. Ruang Lingkup Ilmu Akhlak
Objek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Jika kita katakan baik atau buruk, maka ukuran yang harus digunakan adalah ukuran normatif. Selanjutnya jika kita katakan sesuatu itu benar atau salah, maka yang demikian itu termasuk masalah hitungan atau akal pikiran.
Selain perbuatan manusia, ruang lingkup akhlak secara universal berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/islami) mencakup berbagai aspek diantaranya sebagai berikut:
(Sodiq, 2018: 127).
a. Akhlak Terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Tuhan sebagai khalik. Ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah. Pertama, karena Allahlah yang telah menciptakan manusia. Kedua, karena Allah lah yang telah memberikan perlengkapan pancaindera berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia. Ketiga, karena Allah-lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak dan sebagainya.
Keempat, karena Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan.
b. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
انِم ٌرايَخ ٌة َرِفاغَم َو ٌف او ُرعَم ٌل اوَق ٌمايِلَح ٌّيِنَغ ُالله َو ىَذَا اَهُعَباتَي ٍةَقَدَص
”Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. (Q.S. Al- Baqarah/2: 263)
c. Akhlak Terhadap Lingkungan
Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan berfungsi dari fungsi manusia sebagai khalifah.
Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
3. Manfaat Akhlak yang Mulia
Al-Qur’an dan Hadits banyak sekali memberikan informasi tentang manfaat akhlak yang mulia. Allah SWT berfirman:
ُهَّنَيِياحُنَلَف ٌنِم اؤُم َوُه َو ىثانُأ اوَأ ٍرَكَذ انِ م اًحِلاَص َلِمَع انَم
َط ًةويَح
َن اوُلَماعَي ا اوُناَك اَم ِنَساحَاِب امُه َراجَا امُهَّنَي ِزاجَنَل َو ًةَبِ ي
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl/16: 97)
ُهَل ُل اوُقَنَس َو ىناسُحالا ًءا َزَج ,ُهَلَف اًحِلاَص َلِمَع َو َنَماَء انَم اَّمَا َو ا ًراسُياَن ِرامَا انِم
“Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami". (Q.S.
Al-Kahf/18: 88)
Ayat-ayat tersebut di atas dengan jelas menggambarkan keuntungan atau manfaat dari akhlak yang mulia, yang dalam hal ini beriman dan beramal shalih. Mereka itu akan memperoleh kehidupan yang baik, mendapat rezeki yang berlimpah ruah, mendapatkan pahala yang berlipat ganda di akhirat. Menurut Quraish Shihab yang dikutip oleh Abuddin Nata, janji-janji Allah yang demikian itu pasti akan terjadi, karena ia merupakan Sunnatullah yang bersifat alamiah, asalkan hal tersebut ditempuh dengan cara-cara yang tepat dan benar.
Selanjutnya di dalam hadits juga banyak dijumpai keterangan tentang datangnya keberuntungan dari akhlak. Keberuntungan tersebut diantaranya adalah: (Nata, 2015: 147).
1. Memperkuat dan Menyempurnakan Agama
ُمُكَل َراَتاخِا ىَلاَعَت َالله َّنِا ِد َمَلااسِ الاا
ِناسُحِب ُه اوُم َراكَاَف اًناي ِقُلُخالا
َّسلا َو اَمِهِب َّلاِا ُلِماكَيَلا ُهَّنِاَف ِءاَخ
“Allah telah memilihkan agama islam untuk kamu, hormatilah agama dengan akhlak dan sikap dermawan, karena islam itu tidak akan sempurna kecuali dengan akhlak dan sikap dermawan itu.”
ىِف ِناَداي ِزَي َو ِراَيِ دلا ِنا َرُماعَي ِرا َو ِجالا ُناسُح َو ِقُلُخالا ُناسُح ِراَماعَ الاا
“Berakhlak yang baik dan berhubungan dengan tetangga yang baik akan membawa keberuntungan dan kemakmuran.”
Berdasarkan hadits tersebut berakhlak mulia tidak hanya dengan perbuatan atau perkataan yang baik tapi dengan berhubungan yang baik pula terhadap tetangga karena hal tersebut dapat menimbulkan kawan yang banyak dan disukai banyak orang sehingga segala kesulitan dapat dipecahkan dan peluang untuk mendapat rezeki serta keberuntungan akan terbuka.
2. Mempermudah Perhitungan Amal di Akhirat
ى ِطاعُت َةَّنَجالا ُهَلَخادَا َو ا ًرايِسَي اًباَس ِح ُالله ُهُبَساَح َّنُك انَم ٌثَلاَث َّمَع اوُفاعَت َو َكَم َرَح انَم هاور( َكَعَطَق انَم ُل ِصَت َو َكَمَلَظ ان
)مكاحلا
“Ada tiga perkara yang membawa kemudahan hisab (perhitungan amal di akhirat) dan akan dimasukkan ke surge, yaitu engkau memberi sesuatu kepada orang yang tak pernah memberi apapun kepadamu (kikir), engkau memaafkan orang yang pernah menganiayamu, dan engkau menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang tak pernah kenal padamu.” (HR Al-Hakim)
3. Menghilangkan Kesulitan
ُهانَع ُالله َسَّفَن اًيانُّدلا ِب َرُك انِم ًةَب ارُك ٍنِم اؤُم انَع سَّفَن انَم )ملسم هاور( ِةَماَيِقالا َم اوَي ِب َرُك انِم ًةَب ارُك
“Barangsiapa melepaskan kesulitan orang mukmin dari kehidupannya di dunia ini, maka Allah akan melepaskan kesulitan orang tersebut pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
4. Selamat Hidup di Dunia dan Akhirat
Ada sebuah keterangan yang dikutip oleh Abuddin Nata. (Sodiq, 2018: 150).
ىِف ُلادَعالا َو ِةَيِنَلاَعالا ىِف ىَلاَعَت ِالله ُةَياشَخ ٌتاَي ِجانُم ٌثَلاَث ىَنِغالا َو ِراقَفالا ىِف ُداصَقالا َو ِبَضَغالا َو اَض ِ رلا
“Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu takut kepada Allah di tempat yang tersembunyi maupun di tempat yang terang, berlaku adil pada waktu rela maupun waktu marah, dan hidup sederhana pada waktu miskin maupun waktu kaya.”
Uraian tersebut baru menjelaskan sebagian kecil dari manfaat atau keberuntungan yang dihasilkan sebagai manfaat dari akhlak mulia yang dikerjakan. Tentunya masih banyak lagi keberuntungan dari akhlak mulia namun, banyak bukti yang mengemukakan yang dapat dijumpai dalam kenyataan sosial bahwa orang yang berakhlak mulia itu semakin beruntung. Orang yang baik akhlaknya dapat memecahkan kesulitan dan penderitaan dalam hidupnya, peluang kepercayaan dan kesempatan datang silih berganti kepadanya.
4. Pengertian Pendidikan Karakter
Karakter berasal dari kata charassein yang artinya mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan. Watak atau karakter merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. (Daryanto, 2013: 9).
Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, karakter, akhlak mulia, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. (Daryanto, 2013: 17).
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia maupun dengan lingkungannya yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma- norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat.
Kurikulum 2013 (K-13) adalah kurikulum yang berlaku dalam Sistem Pendidikan Indonesia saat ini. Kurikulum ini merupakan kurikulum tetap diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang telah berlaku kurang lebih selama 6 tahun. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaannya pada tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah rintisan. (Daryanto, 2013: 272).
Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai- nilai karakter pada peserta didik, mengandung komponen pengetahuan,
kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa sehingga akan terwujudnya insan kamil. (Tobroni, 2018: 95).
Pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu pancasila, meliputi: (1) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik dan berpikiran baik; (2) Membangun bangsa yang berkarakter pancasila; (3) Mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. (Tobroni, 2018: 95).
c. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Isi pendidikan karakter merujuk kepada nilai-nilai agama, nilai-nilai yang terkandung dalam UUD 1945, dan nilai-nilai yang hidup, tumbuh dan berkembang dalam adat istiadat masyarakat Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Secara kurikuler, isi pendidikan karakter (akhlak mulia) pada dasarnya terdiri atas nilai-nilai esensial karakter (akhlak mulia) dan wahana pendidikan karakter (akhlak mulia) yang merupakan substansi dan proses pendidikan mata pelajaran yang relevan. Setelah diadakan pengkajian dan rekonseptualisasi terhadap nilai-nilai tersebut,
dirumuskan sebaganyak 88 butir nilai karate sebagai berikut.
(Fathurrohman, 2017: 121).
Tabel 1. Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Nilai Deskripsi
Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Jujur Perilaku yang didasarkan pada
upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya.
Toleransi Sikap dan tindakan yang
menghargai perbedaan agama, etnis, suku, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Disiplin Tindakan yang menunjukkan
perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya yang sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu
untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari apa yang telah dimiliki.
Nilai Deskripsi
Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak
mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas.
Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan
kelompoknya.
Cinta Tanah Air Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepeduliaan, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, social, karakter, ekonomi, dan politik bangsanya.
Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain
merasa senang dan aman ataskehadiran dirinya.
Nilai Deskripsi
Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di
sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan.
Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, social dan karakter), negara dan Tuhan YME.
d. Fungsi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan karakter sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh
semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Pendidikan karakter secara khusus bertujuan untuk: (Fathurrohman, 2017: 97).
1. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi karakter bangsa yang religius.
2. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter dan karakter bangsa.
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.
5. Mengembangkan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).
B. Tinjauan Objek yang Dikaji 1. Biografi Imam Ghazali
a. Riwayat Hidup dan Keluarga Imam Ghazali
Nama lengkap Imam Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, yang lebih dikenal dengan panggilan Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi, seorang al-Faqih (ahli fikih) yang
bermadzhabkan al-Syafi’i. Abu Hamid Al-Ghazali dilahirkan di Thus Khurasan (Iran) pada tahun 450 Hijriah/1058 M dalam keluarga yang sangat taat beragama. Ayahnya adalah seorang pemintal kain wol yang kemudian dijual di tokonya. Disela-sela waktu senggangnya selalu digunakan untuk mengunjungi majelis-majelis fuqaha dan majelis ulama lainnya. Ayah Al-Ghazali sangat mencintai ilmu dan ulama. Menjelang wafatnya ia berwasiat kepada temannya seorang sufi agar mendidik anaknya Al-Ghazali dan adiknya Ahmad. (Ba’adillah, 2011: 1).
Sepeninggal ayahnya, mereka berdua dididik oleh sufi tersebut hingga harta titipan ayahnya habis. Saat sang sufi merasa tidak mampu lagi untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua, maka ia menganjurkan agar keduanya dititipkan di madrasah di Thus di mana nantinya mereka berguru kepada Yusuf al-Nassaj yang juga seorang sufi. Di madrasah ini mereka berdua di samping bisa mendapatkan pendidikan juga dipenuhi kebutuhan hidupnya. Peristiwa itu terjadi saat Al-Ghazali berusia lima belas tahun (465 H). (Sodiq, 2018: 237).
b. Riwayat Pendidikan Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali memiliki daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujah. Beliau diberi gelar Hujjat al-Islam karena kemampuannya tersebut. Beliau sangat dihormati di dua dinasti Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Beliau berjaya menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Beliau juga sanggup
meninggalkan segala kemewahan hidup mencari pengetahuan serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan.
Sebelum beliau memulai rihlah ilmiah, beliau telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaidi dan Abu Yazid al-Busthami. Imam Al-Ghazali telah mengembara selama sepuluh tahun. Beliau telah mengunjungi tempat-tempat suci yang tersebar di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerussalem dan Mesir. Beliau terkenal sebagai ahli filsafat islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Kemudian pada tahun 465 Hijrah, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali telah pergi ke Jurjan (Gorgan) dan telah belajar kepada seorang guru bernama al- Syaikh Abu Nasr Ismail bin Masadah Al-‘Ismaili. (Nafi, 2017: 15).
Pada tahun 484 Hijrah, Nizam Al-Mulk melantik Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali ke jabatan guru besar (professor) di Madrasah An- Nizamiyah di Baghdad. Ini adalah satu karir yang sangat tinggi karena dalam usia yang menginjak tiga puluh tahun Al-Imam Abu Hamid Al- Ghazali telah diberikan gelar Syaikh Al-Islam yakni paling tinggi pangkat dari segi akademik dan keagamaan yang resmi. (Nafi, 2017:
15).
Tetapi keadaan hidup yang penuh dengan kemegahan ini tidak berkekalan karena itulah pada tahun 488 Hijrah, jiwanya telah melalui perubahan besar. Badan jasmaninya masih sehat tetapi jiwanya telah
bergolak dalam satu keadaan tertekan yang boleh diumpamakan seperti air yang sedang menggelegak. Ini telah menyebabkannya jatuh sakit.
(Nafi, 2017: 15).
Perubahan pemikiran dan ledakan jiwa ini adalah bersumber dari satu kesadaran bahwa selama ini segala kejayaan yang telah dicapainya seperti memegang jabatan Guru Besar di Madrasah Al- Nizamiyyah di kota Baghdad itu, bukanlah telah dilakukannya dengan ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala tetapi telah dicampuri dengan sebab-sebab duniawi. (Nafi, 2017: 25).
Oleh karena itu pada bulan Dzulqo’dah tahun 488 Hijrah Al- Imam Abu Hamid Al-Ghazali telah meletakkan jabatannya sebagai guru besar di Madrasah Al-Nizamiyyah di Baghdad dan telah mengambil keputusan untuk meninggalkan Baghdad serta menjadi seorang pengembara. Dia telah meminta adiknya As-Syaikh Ahmad Al-Ghazali untuk mengambil alih jabatan itu. (Nafi, 2017: 25).
Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali kemudian mewaqafkan segala harta benda kepunyaannya, sebagian telah beliau sisihkan untuk nafkah sehari-hari untuk hidup keluarganya dan untuk bekal perjalanannya itu.
Untuk menghindari prasangka buruk atau kekacauan dalam pemberitaan Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali hanya mengumumkan dia akan berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. (Nafi, 2017: 25).
Setelah meninggalkan Baghdad, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali pun menuju Syria dan telah menetap di kota Damaskus selama dua tahun. Dia juga telah banyak menghabiskan masanya duduk beri’tikaf di Masjid Jami Al-Umawi di kota Damaskus. Ada kalanya dia akan naik ke menara masjid itu dan setelah mengunci pintunya beliau akan duduk seorang diri di sebuah sudut sepanjang hari. Sekarang ini, sudut itu telah diberikan nama Sudut Al-Ghazaliyyah untuk mengenang tempat dimana Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali pernah duduk beri’tikaf dikala itu. (Nafi, 2017: 26).
c. Karya-karya Imam Ghazali
Kitab-kitab yang telah ditulis oleh beliau sangat banyak dan diperhitungkan berjumlah lebih dari 300 karya. Namun, yang masih kekal hingga sekarang ini hanyalah kurang lebih 50 karya.
Kebanyakan dari kitab-kitab karangan Imam Ghazali telah ditulis dalam bahasa Arab dan juga ada yang telah ditulis di dalam bahasa Parsi. Diantara kitab-kitab Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang terkenal di Indonesia adalah: (Nafi, 2017: 26).
a. Ihya ‘ulumu al-Din b. Ayyuhal walad c. Tahafut al-Falasifah d. Al-Iqrishad fi al-I’tiqad
e. Al-Munqid Min al-Dhalal
f. Maqhasid Asna fi Ma’ani Asmaul al-Husna g. Maqahasid al-falasifah
h. Qistash al-Mustaqim i. Al-Mustazhiri j. Hujjatu al-Haqq
k. Munfashil al-Khilaf fi Ushulu al-Diin l. Al-Muntahal fi ‘ilm al-Diin
m. Al-Madhnun bi al- Ghair Ahlihi n. Mahkun Nadhar
o. Ara ‘ilm al-Diin
p. Arba’in fi Ushulu al-Diin
q. Iljam al-Awwam an ‘ilm al-Kalam r. Mi’yaru al-‘Ilm
s. Al-Intishar t. Al-Basith
u. Bidayah al-Hidayah v. Minhaju al-Abidin
2. Pendidikan Akhlak Menurut Imam Ghazali a. Pengertian Pendidikan Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun
ٌقُلُخ
yangsecara etimologi artinya budi pekerti. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun
ٌقالَخ
yang berarti kejadian, yang juga erat kejadiaannya dengan khaliqٌقِلاَخ
artinya pencipta, demikian pulaٌق اوُلاخَم
yang berarti yang diciptakan. (Mustofa, 2011: 11).Selain itu, kata al-khalaq dan al-khuluq adalah kata yang biasa digunakan secara bersama- sama dalam satu rangkaian kalimat. Yang dimaksudkan al-Khalqu adalah bentuk lahiriah, adapun yang dimaksudkan dengan kata al-Khuluqu merupakan bentuk batiniah. Yang demikian itu karena manusia terdiri dari jasad yang dapat dilihat oleh mata, dan juga ruh serta jiwa yang dapat dilihat melalui penglihatan kalbu. Masing-masing dari keduanya mempunyai keadaan dan bentuk, yang ada kalanya buruk serta ada kalanya pula baik. Adapun jiwa yang dapat dilihat melalui penglihatan kalbu adalah lebih besar tingkatannya daripada jasad yang dapat dilihat dengan mata lahir. (Ba’adillah, 2011: 187).
Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
ُهَل ا اوُعَقَف اي ِح او ُر انِم ِهايِف ُتاخَفَن َو ُهُتاي َّوَس اَذِاَف ٍنايِط انِم ا ًرَشَب ٌقِلاَخ يِ نِا
َنايِد ِجاَس
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya, dan Aku tiupkan kepadanya ruh (ciptaan- Ku) maka hendaklak kalian tersungkur dengan bersujud kepada-Nya.”
(QS Shad 38: 71-72.
Imam Ghazali mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut: (Ghazali, 58).
َئايَه انَع ٌة َراَبِع ُقُلُخالَا ُلاَعافَ الاا ُرُداصَت اَهانَع ٍةَخَسا َر ِسافَّنلا ىِف ٍة
ٍةَي اؤ ُر َو ٍراكِف ىَلِا ٍةَجاَح ِرايَغ انِم ٍراسُي َو ٍةَل اوُهُسِب
“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan (lebih dahulu).”
Berdasarkan definisi tersebut menunjukkan bahwa akhlak itu menetap dalam jiwa. Artinya, dilakukan secara terus menerus, apabila tidak dilakukan secara terus menerus atau karena pertimbangan pribadi bukan karena ingin meraih ridha Allah maka perbuatan baik tersebut belum disebut akhlak karimah. Demikian pula keadaan akhlak itu menetap di dalam jiwa dan mudah untuk melahirkan perbuatan-perbuatan terpuji.
Apabila perbuatan baik yang diwujudkan masih terasa berat maka itu belum disebut sebagai akhlak karimah.
Pendidikan akhlak menurut Imam Ghazali adalah usaha secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan dalam mendorong jiwa manusia untuk berakhlakul karimah, sehingga terbentuklah akhlakul karimah pada
diri manusia tersebut. Imam Ghazali menuliskan pengertian pendidikan akhlak sebagai berikut: (Ghazali, 2004: 56).
ِا ِت اك َس ُبا َه ِذ ِه َالأا اخ ِق َلا ِب املا َج َد َها َو ِة ِرلا َي َضا َو ِة اع َا ِب ى ِن ِه َح َم ُل
َنلا ِس اف
َع َل َالأا ى َم اع ِلا ِت َلا َي ى اق َت ِض َه اي الا ا ُخ ِق ُل َمل اا اط او ُل ِب
.
“Mengusahakan akhlak baik melalui cara bermujahadah dan riyadah.
Yakni mendorong untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak sebagaimana yang diusahakan.”
Berdasarkan pernyataan tersebut Imam Ghazali berpendapat bahwa melalui pendidikan, akhlak manusia itu dapat dirubah dengan cara pembiasaan dan latihan secara sungguh-sungguh. Seperti orang yang ingin memiliki sifat pemurah, maka ia harus berlatih, sungguh-sungguh dan berkelanjutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan pemurah seperti memberikan harta sampai perbuatan tersebut menjadi ringan pada dirinya.
Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa sifat pemurah telah menjadi watak dan tabiat pada dirinya.
Semua akhlak terpuji menurut aturan syara’ dapat berhasil jika dilakukan dengan cara pembiasaan dan latihan. Tujuannya adalah agar perbuatan yang dilakukan menjadi sesuatu yang nyaman dijalani. Orang pemurah adalah orang yang merasa nyaman memberikan harta yang ia berikan. Tidak akan melekat akhlak baik pada diri seseorang, selama
belum membiasakan pada perbuatan yang baik dan belum meninggalkan semua kebiasaan yang buruk. (Ghazali, 2004: 106).
Bagi Imam Ghazali manusia lahir dengan membawa potensi positif.
Jika pada akhirnya terhambat perkembangan potensi tersebut sehingga muncul sifat negatif, maka hal itu lebih disebabkan oleh adanya gangguan dari luar.
َفَن او ُق ُل او َل َك َنا ِت َالأا اخ َلا ُق َلا اق َب َت ُل َتلا ِي اي اغ ُر َب َل َط َل ِت َو الا َص َو ا َيا َم الا َو ِعا َظ
َاو َّتل اأ اي َب ِد َو َتا َمل َا َق َر َلا او ُس ُل ِالله َىل َص ُالله َع َل اي ِه َو َس َم َّل َح ِ س او ُن َا ا اخ َلا َق ام ُك
“Seandainya akhlak itu tidak dapat menerima perubahan, maka batallah fungsi wasiat, nasihat, dan pendidikan dan tidak ada pula fungsinya hadits Nabi yang mengatakan “perbaikilah akhlak kamu sekalian.”
b. Akhlak Baik dan Buruk
Imam Ghazali membagi akhlak menjadi dua yaitu akhlak yang baik yang disebut dengan al khuluq al hasan dan akhlak buruk yang disebut dengan al khuluq as sayyi’. Berikut adalah pengertian akhlak baik dan buruk: (Ghazali, 2004: 68).
ُقُلُخالاَف
َوُه َو َنايِقايِد ِ صلا ِلاَماعَا ُلَضافَأ َو َنايِلَس ارُمالا ِدٍ يَس ٌةَف ِص ُنَسَحالا
ُةَضاَي ِر َو َنايِقَّتُمالا ِةَدَهاَجُم ُة َرامَث َو ِنايِ دلا ُراطَش ِقايِقاحَّتلا ىَلَع َنايِدِ بَعَتُمالا
.