x SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Meraih Gelar Sarjana Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH
SULPIANI UMAR 10540 6002 12
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR STRATA I 2016
x
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian... 7
D. Manfaat Penelitian... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teoritik ... 8
1. Penelitian yang Relevan ... 8
2. Hakikat Kemampuan Menulis ... 9
3. Puisi ... 15
x
7. Media Gambar ... 29
B. Kerangka Pikir ... 32
C. Hipotesis Penelitian ... 35
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 36
B. Populasi dan Sampel ... 36
C. Definisi Operasional Variabel ... 37
D. Instrumen Penelitian... 38
E. Teknik Pengumpulan Data ... 38
F. Teknik Analisis Data ... 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN ... 43
B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 52
BAB V PENUTUP A. SIMPULAN ... 54
B. SARAN ... 55
DAFTAR PUSTAKA ... 44 LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
x
2. Pedoman Penilaian... 38
3. Aspek Penilaian Menulis Puisi ... 38
4. Teknik Kategori Standar ... 41
5. Deskripsi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia sebelum perlakuan ... 44
6. Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Sebelum Perlakuan... 45
7. Deskripsi Ketuntasan Belajar Bahasa Indonesia sebelum perlakuan... 45
8. Deskripsi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia setelah perlakuan ... 46
9. Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Setelah Perlakuan ... 47
10. Deskripsi Ketuntasan Belajar Bahasa Indonesia setelah perlakuan... 48
11. Deskripsi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Sebelum Dan Setelah Perlakuan ... 49
x
3. Lembar Kerja Murid ... 70
4. Daftar Hadir ... 73
5. Daftar Nilai ... 74
6. Tabel Distibusi t ... 78
7. Dokumentasi Penelitian ... 79
Skripsi dibimbing oleh A. Rahman Rahim dan Tasrif Akib.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan media visual terhadap keterampilan siswa menulis puisi pada pembelajaran bahasa indonesia.
Keterampilan menulis puisi siswa kelas V SD Inpres Maccini Sombala Kota Makassar masih rendah. Dalam kegiatan belajar mengajar, pembelajaran menulis puisi di SD Inpres Maccini Sombala masih banyak dijumpai kesulitan. Hal tersebut terlihat melalui pengamatan peneliti terhadap hasil karya siswa pada tugas menulis puisi. Pembelajaran menulis puisi bagi siswa membosankan karena mereka merasa kesulitan dalam menuangkan ide dan merangkaikan kata-kata.
Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian Ekperimen. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menulis puisi siswa kelas V SD Inpres Maccini Sombala Kota Makassar. Variabel X penelitian ini adalah keterampilan menulis puisi, dan variabel Y adalah media visual. Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan pretest dan posttest.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media visual berpengaruh pada kemampuan siswa menulis puisi. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil menulis puisi pada pretest dan posttest. Hasil tes sebelum perlakuan (pretest) mencapai rata-rata sebesar 58,83% dan setelah perlakuan (posttest) meningkat menjadi 79,67%.
Kata kunci: menulis puisi, media cetak
Media Visual terhadap Kemampuan Siswa Menulis Puisi di Kelas V SD Inpres Maccini Sombala Kota Makassar dapat selesai pada waktu yang ditargetkan.
Dalam penyusunan skripsi, penulis menghadapi kesulitan, baik dalam proses pengumpulan bahan pustaka, pelaksanaan penelitian, maupun dalam penyusunannya. Namun berkat bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, maka kesulitan dapat teratasi. Oleh karena itu, maka sepantasnyalah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang tua, Ayahanda Umar Tahang, dan Ibunda Indriaty, yang dengan tulus hati telah membimbing dan menuntun penulis dengan kesabaran dan mengiringi setiap langkah penulis dengan doa. Dan ucapan terima kasih pula kepada yang terhormat Dr. A. Rahman Rahim M.Pd., pembimbing I dan Tasrif Akib S.Pd., M.Pd., pembimbing II, atas kesempatannya membimbing penulis selama menyusun skripsi ini.
Dan, selanjutnya tak lupa pula penulis menghaturkan terima kasih kepada:
Dr. H. A. Rahman Rahim, S.E., M.M., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unisversitas Muhammadiyah Makassar. Sulfasyah, M.A.,Ph.D. Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Unismuh Makassar.
Basri Dorra, S.Pd Kepala Sekolah SD Inpres Maccini Sombala. Bapak Nurjuddin S.Pd wali kelas V SD Inpres Maccini Sombala.
Adindaku tersayang Ridhayani Umar dan Sriwahyuni Umar yang telah memberi semangat kepada penulis. Murid-murid SD Inpres Maccini Sombala khususnya kelas V atas kerjasamanya, motivasi dan semangatnya dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar.
Akhirnya, hanya kepada Allah swt., penulis bermohon semoga berkat dan rahmat serta limpahan pahala yang berlipat ganda selalu dicurahkan. Dan semoga niat baik dan suci serta usaha yang sungguh-sungguh yang mendapat ridha disisi- Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.
Makassar, 2016
Penulis,
Nama Mahasiswa
NIM
Jurusan Fakultas Judul Skripsi
k;
PERSETUJUAN PELTBIMfi ING
:
SULPIANI UMAR:
10540 6AA2 12:
Pendidikan Gur* Sekolah Dasar Sltr
g\$rg$al. teih*f,ap Kernampuan Menulis puisi Eth Sd&selard,i"i ggm bala Kora Ma kassar
.*, #% aircai&ivers,pffi'lrr,r*,"
adiyahJanffari 2017
BE
#
# cffiuir$ingrr
Tasrif Akib, S.Pd...M.Pd.
Mengetahui
=Fq
.858 625
iii
I
fo.mffiingl
kYt* ,/ ,''
,.r-,"",','r)lKetua iPGSD / { .rt1A:';11,", 'l{ '\.ft 'r'q'-'++
/ - o' .41--,. i ...1
- -
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Manusia dapat menyampaikan ide, gagasan, pikiran kepada orang lain melalui bahasa.
Bahasa itu sendiri terdiri dari ragam lisan dan tulis. Ragam lisan biasanya digunakan oleh manusia untuk berinteraksi langsung dengan orang lain ketika lawan bicaranya berada di hadapannya, dan wujud ragam lisan berupa tuturan atau ujaran. Sedangkan ragam tulis biasanya digunakan manusia untuk berinteraksi tak langsung dengan orang lain dan lawan bicaranya tidak berada di hadapannya, wujud ragam tulis berupa tulisan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) merupakan bagian penting dalam kerangka pengembangan pendidikan maksimal yang bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berbahasa yang optimal. Selain itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk:
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia
Pelajaran bahasa lebih diutamakan untuk kepentingan komunikasi dengan memperhatikan kaidah kebahasaan sedangkan sastra tak hanya berhenti pada komunikasi, namun juga pada nilai moral, emosi, seni,
kreativitas, humanitas dan penghayatan nilai-nilai kehidupan, serta kemampuan mengapresiasi karya sastra.
Pengajaran sastra berupa pembelajaran apresiasi sastra dan pembelajaran ekspresi sastra. Pembelajaran ekspresi sastra ada dua macam yaitu ekspresi lisan dan ekspresi tulis. Tujuan pembelajaran ekspresi tulis sastra adalah agar murid mampu mengungkapkan pengalamannnya dalam bentuk sastra tulis. Dalam hal ini siswa diasah kepekaannya terhadap lingkungan dan mampu mengungkapkannya dalam karangan tertulis, baik dalam bentuk prosa maupun bentuk puisi. Tujuan lain pembelajaran ekspresi tulis sastra adalah agar murid memiliki kegemaran menulis karya sastra untuk meningkatkan pengetahuan dan memanfaatkannya dalam kegiatan sehari- hari.
Pembelajaran sastra di Sekolah Dasar dalam pelajaran bahasa indonesia diantaranya bertujuan untuk menumbuhkan keterampilan dan ketertarikan siswa terhadap suatu karya sastra. Pada kenyataannya siswa masih banyak yang kurang menyukai pelajaran yang terkait dengan menulis sastra. Pada umumnya seseorang tidak mau menulis karena tidak mengetahui untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat, dan tidak tahu bagaimana harus menulis. Sedangkan banyak sekali manfaat yang dipetik dari menulis, diantaranya dalam hal peningkatan kecerdasan, pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, penumbuhan keberanian, dan pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi. Hal tersebut tentunya menjadi masalah dalam kegiatan pembelajaran sastra di sekolah. Oleh sebab itu
pembelajaran sastra perlu mendapat perhatian, karena dapat membantu siswa dalam mengembangkan tingkat kreativitas serta bakat dan minat siswa dalam pembelajaran sastra. Pembelajaran sastra tentu banyak jenisnya, namun dalam penelitian ini peneliti memfokuskan kepada pembelajaran menulis sastra khususnya puisi.
Menulis puisi merupakan salah satu keterampilan sastra yang harus dicapai siswa, karena siswa akan memperoleh bayak manfaat dari kegiatan menulis puisi tersebut. Beberapa manfaatnya adalah siswa dapat mengekspresikan pikirannya melalui bahasa yang indah dalam puisi, siswa dapat menjadikan puisi sebagai media untuk menuangkan segala hal yang dirasakan. Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu kemampuan bersastra yang perlu dimiliki oleh seseorang, apalagi seorang murid. Memiliki kemampuan menulis puisi tidaklah semudah yang dibayangkan orang.
Kemampuan menulis puisi bukanlah kemampuan yang diwariskan secara turun–temurun. Namun, kegiatan ini memerlukan latihan dan pengarahan atau bimbingan yang efektif. Keluhan terhadap kemampuan menulis puisi banyak terjadi pada mahasiswa maupun siswa khususnya. Kemampuan menulis puisi murid masih jauh dari memadai.
Rendahnya kemampuan bersastra pada siswa, khususnya menulis puisi pada pembelajaran bahasa Indonesia hingga kini masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaksana dan pemerhati pendidikan.
Berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa telah dilaksanakan dengan jalan motivasi dari diri peserta didik itu sendiri, peningkatan sumber daya manusia (SDM) guru, peningkatan penggunaan media pembelajaran, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, serta memperbanyak membaca buku-buku referensi tentang sastra (Hadi: 2009).
Kemampuan menulis sastra dapat terbina dan dikembangkan yang keberadaannya ditandai terjadinya hubungan langsung antara siswa dan bahan bacaan sastra dan dorongan siswa untuk menulis sastra. Dengan demikian, siswa dapat menciptakan hasil karya sastra, mengadakan kontak dengan hasil karyanya sendiri dan kemudian menikmatinya.
Seorang guru dapat membantu siswa mencurahkan isi hati, ide, dan pengalamannya melalui ungkapan bahasa yang indah dan puitis. Hal ini dapat melatih kepekaan dan kekayaan bahasa yang pada gilirannya dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi.
Cara guru mengajar di kelas mempengaruhi perolehan belajar siswa. Apabila penyajian materi itu menarik, siswa tentu akan senang belajar, karena siswa termotivasi, sebaliknya cara penyajian yang monoton dan tidak banyak melibatkan siswa akan berakibat siswa tidak tertarik dengan pelajaran yang disampaikan guru. Untuk itu dalam proses pembelajaran menulis puisi hendaknya guru menyediakan serangkaian kegiatan yang memungkinkan
siswa senang dan tertarik pada pelajaran. Media pembelajaran yang dipakai oleh guru sebaiknya dapat menarik minat siswa sehingga tingkat pemahaman siswa terhadap konsep menjadi lebih baik dan hasil belajar yang diperoleh meningkat pula.
Salah satu penyebab rendahnya nilai Bahasa Indonesia siswa kelas V SD Inp Maccini Sombala pada materi memabaca dan menulis puisi pada proses belajar mengajar yaitu guru hanya menggunakan buku-buku berupa kumpulan puisi atau contoh-contoh puisi. Guru jarang menggunakan media yang lebih menarik dalam pembelajaran menulis puisi. Hal tersebut Berdasarkan hasil pengamatan dan penjajakan peneliti sebelum melakukan penelitian, di mana peneliti memperoleh informasi bahwa guru dalam menyajikan materi Bahasa Indonesia tentang Membaca dan Menulis Puisi pada SD Inpres Maccini Sombala guru hanya menggunakan media pembelajaran berupa buku – buku kumpulan puisi atau contoh – contoh puisi.
Dalam pembelajaran menulis puisi peran guru sebagai fasilitator sangat penting. Berdasarkan permasalahan tersebut, menulis puisi membutuhkan media pembelajaran yang tidak hanya membantu siswa memahaminya, tetapi juga akan memberikan motivasi untuk menulis puisi.
Adapun media pembelajaran yang ditawarkan oleh penulis yang dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi murid SD Inpres Maccini Sombala adalah media gambar.
Media Gambar atau foto adalah media pembelajaran yang sering digunakan. Media ini merupakan bahasa yang umum, dapat dimengerti, dan
dinikmati oleh semua orang dimana-mana. Gambar atau foto berfungsi untuk menyampaikan pesan melalui gambar yang menyangkut indera penglihatan.
Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Media gambar dalam proses pembelajaran bertujuan untuk memudahkan anak dalam memahami pelajaran secara lebih cepat. Media gambar merupakan salah satu media yang efektif untuk pembelajaran menulis puisi. Media yang memuat berbagai macam gambar dapat dijadikan sebagai sumber ide dalam menulis puisi, karena dengan gambar dapat membangkitkan ide dan imajinasi siswa, sehingga memudahkan siswa untuk menulis puisi. Media pembelajaran ini merupakan media yang dapat membantu siswa memahami sekaligus meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan siswa untuk lebih produktif menciptakan puisi yang indah.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Media Gambar terhadap Kemampuan Siswa Menulis puisi di Kelas V Sekolah Dasar Inpres Maccini Sombala Kota Makassar ”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah, “Apakah ada pengaruh media visual terhadap kemampuan siswa menulis puisi dalam pelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V Sekolah Dasar Inpres Maccini Sombala Kota Makassar ?”
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan media visual terhadap kemampuan murid menulis puisi pada pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V Sekolah Dasar Inpres Maccini Sombala, Kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi tentang peningkatan hasil belajar siswa kelas V Sekolah Dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui penerapan media visual.
2. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap guru-guru sekolah dasar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya guru-guru Sekolah Dasar Inpres Maccini Sombala, Kota Makassar bahwa menerapkan media visual sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Sebagai bahan masukan yang berguna bagi guru, pengelolah sekolah, penyusun buku pelajaran, dan penyusun kurikulum pelajaran dalam menentukan kebijakan pengajaran, khususnya pengajaran Bahasa Indonesia.
4. Penelitian ini memberikan pengalaman, pengetahuan, serta memperluas wawasan peneliti untuk mengoptimalkan media pembelajaran yang tepat dan menarik bagi siswa.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS
A. Kajian Teoritik
1. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Elfia Sukma (2007) diperoleh hasil bahwa dalam upayah meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan strategi pemetaan pikiran telah mampu meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi, dengan hasil berikut: (a) pada tahap pemunculan gagasan, siswa telah mampu memunculkan gagasan yang akan dijadikan sebagai gagasan pokok, (b) pada tahap pengembangan gagasan, siswa telah mampu mengembangkan gagasan secara rinei, logis, menggunakan imaji dan gambar, (c) pada tahap penulisan,siswa telah mampu menulis judul, menyusun kata, mengembangkan kata menjadi kalimat,menata kalimat menjadi puisi dengan memperhatikan kesesuaian isi dengan judul, diksi, imaji serta merevisi puisi, dan (d) pada tahap penyajian, siswa telah mampu membaca puisi dengan memperhatikan lafal, intonasi, dan ekspresi.
Dwi Sulistyorini (2010), memberi kesimpulan mengenai peningkatan keterampilan menulis puisi dengan media gambar bahwa pembelajaran keterampilan menulis puisi dengan menggunakan media gambar yang dilaksanakan dalam penelitian ini telah berhasil sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Marisa Monika (2014) diperoleh hasil: berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka kemampuan menulis puisi dengan pemanfaaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat dinyatakan meningkat dengan baik.
Kemampuan keterampilan menulis puisi siswa menjadi meningkat.
Peningkatan tersebut meliputi peningkatan kemampuan dalam menulis puisi dengan aspek kemampuan menentukan tema puisi yang sesuai dengan gambar, memilih kata (diksi) yang baru dan kreatif, menggunakan rima yang tertata, dan menggunakan majas. Selain itu, peningkatan kemampuan siswa dalam keterampilan menulis puisi secara utuh. Demikian pula terjadi peningkatan pada guru dalam melaksanakan pembelajaran keterampilan menulis dengan menggunakan media gambar. Peningkatan tersebut meliputi membangkitkan skemata siswa tentang menulis puisi, membimbing siswa dalam menulis puisi, memberi respon secara positif, melakukan refleksi untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dalam menulis puisi, dan memberikan pemantapan pemahaman langkah-langkah dalam menulis puisi dengan memperhatikan indikator dalam menulis puisi
2. Hakikat Kemampuan Menulis a. Hakikat Menulis
Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya. Nurudin (2007:4) menyebutkan bahwa menulis adalah segenap rangkaian kegiatan
seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami.
Pembahasan tentang hakikat menulis diuraikan dalam empat bagian. Keempat bagian tersebut antara lain: (1) pengertian menulis, (2) tujuan menulis, (3) manfaat menulis.
1) Pengertian Menulis
Kegiatan menulis merupakan suatu aktifitas komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Menulis juga merupakan proses penyampaian gagasan, pesan, sikap, dan pendapat kepada pembaca dengan simbol-simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati bersama oleh penulis dan pembaca.
Menulis adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami (Nurudin, 2010:4). Pendapat tersebut sejalan dengan Jauhari (2013:24) yang mengatakan bahwa menulis adalah pengungkapan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan seseorang yang diwujudkan dengan lambang-lambang fonem yang telah disepakati bersama.
Menulis merupakan kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis (Suriamiharja 1997:2).
Aktivitas tulis menulis sekurang-kurangnya terdapat empat unsur yang terlibat. Hadi (2009: 26) menyatakan bahwa keempat unsur tersebut adalah (1) penulis sebagai penyampai pesan, (2) pesan atau isi tulisan, (3) saluran tulisan, dan (4) pembaca sebagai penerima pesan. Penulis sebagai penyampai pesan mengandung maksud bahwa sebalum menulis seorang penulis telah memikirkan maksud, gagasan dan ide yang hendak disampaikan kepada pembaca. Ide yang ditulis kemungkinan mempunyai manfaat yang besar bagi orang lain yang membutuhkan. Melalui tulisan ide penulis tersampaikan kepada pembaca. Dengan demikian sebelum menulis seorang penulis sebaiknya memperhatikan apa yang hendak ditulis , saluran, dan bentuk tulisan yang hendak digunakan, serta kepada siapa tulisan ditujukan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Menulis sekurang – kurangnya memiliki empat unsur yaitu, penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran tulisan dan pembaca sebagai penerima pesan.
2) Tujuan Menulis
Seseorang dalam melakukan kegiatan menulis, akan mempunyai tujuan tertentu. Kegiatan menulis dilakukan dengan berbagai tujuan. Hadi (2009:26) menulis mempunyai empat tujuan,
yaitu: untuk mengekspresikan diri, memberikan informasi kepada pembaca, mengajak pembaca serta untuk menghasilkan karya sastra.
Tujuan menulis secara umum adalah untuk menginformasikan, meyakinkan, mengekspresikan diri, dan untuk menghibur.
Tujuan informasi terkait dengan kegiatan menggambarkan suatu peristiwa atau pengalaman, menguaraikan konsep, dan mengembangkan gagasan baru. Tujuan ekspresi terkait dengan kegiatan pengamatan terhadap orang, objek, tempat dan mungkin memasukkan kegiatan memperkirakan serta menginterprestasikan sesuatu.
Tujuan ini sering digunakan untuk hiburan dan kesenangan, atau sebagai kegemaran termasuk menulis puisi. Tujuan persuasif terkait dengan latar belakang informasi, fakta, dan contoh-contoh untuk mendukung pandangan seseorang dalam menulis puisi.
3) Manfaat Menulis
Keuntungan menulis adalah sebagai media untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan kepada orang lain. Namun, mungkin yang lebih penting adalah menulis untuk diri sendiri, memperjelas dan merangsang pikiran (Smith dalam Sukino,2010).
Ketika kita menuliskan gagasan, hal -hal yang samar atau abstrak menjadi jelas dan konkret. Dengan kata lain, menulis dapat membuat seseorang mampu berpikir secara kritis dan sistematis.
Menurut Suparno dalam Jauhari (2013:14) manfaat menulis antara lain untuk:
1. Peningkatan kecerdasan
2. Pengembangan daya inisiatif dan kreativitas 3. Penumbuhan keberanian
4. Pendorong kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi Iryani (2013: 16) mengemukakan bahwa manfaat menulis antara lain: dengan menulis kita dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi diri kita, melalui kegiatan menulis kita mengembangkan berbagai gagasan, kegiatan menulis memaksa kita lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis, menulis berarti mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat, melalui tulisan kita akan dapat meninjau serta menilai gagasan kita sendiri secara lebih objektif, dengan menuliskan di atas kertas, kita akan lebih mudah memecahkan permasalahannya, kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib. Menurut Tarigan (2008:3), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan lain.
Manfaat menulis pertama, menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat suatu realitas di sekitar. Kedua, mendorong kita untuk mencari referensi seperti buku,
majalah, koran, jurnal, dan sejenisnya. Ketiga, kita terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis, dan logis. Keempat, secara psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stress kita. Kelima, hasil tulisan kita dimuat oleh media massa atau diterbitkan oleh suatu penerbit dan hasilnya kita mendapatkan kepuasan batin karena tulisannya dianggap bermanfaat bagi orang lain, selain itu memperoleh honorarium (penghargaan) yang membantu kita secara ekonomi. Keenam, tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang dan membuat sang penulis populer dan dikenal oleh publik pembaca.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis memiliki manfaat yang sangat banyak, antara lain untuk menyampaikan informasi, mengungkapkan perasaan, sarana ekspresi dan hiburan, serta untuk mengembangkan kemampuan diri.
3. Puisi
a. Pengertian Puisi
Menurut Pradopo (2012) puisi merupakan alat mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.
Puisi merupakan rekaman dan interprentasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan. Hadi (2013:33) menyatakan bahwa puisi dibentuk oleh dua unsur yakni: unsur batin dan
unsur fisik. Unsur fisik dan unsur batin lazim disebut bahasa dan isi atau tema dan struktur atau bentuk dan isi.
Menurut Hudson (dalam Kasnadi, 2008: 2) puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai medium penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Adapun Pradopo (2012:7) menyatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam suasana yang berirama.
Selanjutnya, menurut Damayanti (2013:12) puisi adalah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran orang akan suatu pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama dan makna khusus.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa puisi adalah kata – kata yang indah yang merupakan hasil dari sebuah pemikiran, yang dapat merangsang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama sehungga mengandung makna atau maksud tertentu.
b. Unsur-Unsur Puisi
Keutuhan atau kelengkapan sebuah puisi dapat dilihat dari segi unsur-unsur pembentuknya. Beberapa unsur atau aspek puisi tersebut antara lain:
a. Tema
Tema adalah sesuatu yang ingin disampaikan oleh penyair kepada penikmatnya baik pembaca maupun pendengarnya. Sesuatu yang ingin disampaikan itu global atau isi keseluruhan puisi (Jauhari, 2013:143). Tema suatu karya sastra imajinatif merupakan pikiran yang akan ditemui oleh seti ap pembaca yang cermat sebagai akibat membaca karya tersebut.
b. Rasa
Rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya (Damayanti, 2013:21). Pengungkapan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, dan usia.
c. Nada
Nada adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Hal tersebut menggambarkan psikologis seseorang pada waktu menulis puisi (Jauhari, 2013:146). Nada ditentukan oleh situasi, kondisi, tema, dan amanat yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembacanya.
d. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca (Damayanti, 2013:22). Pesan merupakan anjuran atau nasihat penyair kepada pembaca puisi. Anjuran atau nasihat tersebut berupa perbuatan-perbuatan baik atau berhubungan dengan nilai
moral. Pesan atau amanat penyair disampaikan lewat kata demi kata dalam puisi.
c. Jenis-Jenis Puisi
Ditinjau dari bentuk maupun isinya, ragam puisi itu bermacammacam. Ragam puisi itu sedikitnya akan dibedakan antara lain:
1) Puisi naratif, yakni puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita.
2) Puisi lirik, yakni puisi yang berisi luapan batin individual peyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya.
3) Puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yag secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat kelakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu.
4) Puisi romance, yakni puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih.
5) Puisi elegi, yakni puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih seseorang.
6) Puisi himne, yaitu puisi yang berisi puijia kepada tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa ataupun tanah air. (Aminuddin, 2009:135)
4. Menulis Puisi
Menulis puisi merupakan suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni.
Sebagai produk seni, puisi tetap diminati untuk ditulis dan dipublikasi dengan berbagai cara. Berbagai bentuk, tema, dan gaya muncul mengiringi kelahiran sebuah puisi (Sukino, 2010:111)
Menurut Aminuddin dalam Sukino (2010:134) kiat-kiat praktis dalam menulis puisi adalah sebagai berikut :
a. Puisi mengandung unsur keindahan dan kemerduan bunyi, maka diperlukan pemilihan kata atau diksi yang baik dalam penulisannya.
b. Sebuah puisi, sebaiknya menggunakan kata-kata dasar dalam penulisannya. Untuk itu, kata-kata yang dipakai lebih konotatif, bermakna ganda.
c. Dalam menulis puisi, yang harus diperhatikan adalah bagaimana seseorang mau menuliskan apa-apa yang ada dalam obsesi benaknya.
d. Usahakan menulis dengan tanpa ada rasa beban, mengalir cair saja seperti air dalam sungai.
Menurut Kosasih (2008:50) ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menulis puisi:
1. Puisi diciptakan dalam suasana perasaan yang intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat.
2. Puisi yang mendasarkan masalah atau berbagai hal yang menyentuh kesadaran sendiri.
3. Dalam menulis puisi perlu memikirkan cara penyampaiannya. Cara penyampaian ide atau perasaan dalam berpuisi disebut gaya bahasa atau majas.
a) Gaya bahasa adalah perkataan yang terungkap karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati dan mampu menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca.
b) Gaya bahasa membuat kalimat-kalimat dalam puisi menjadi hidup, bergerak, dan merangsang pembaca untuk memberikan reaksi tertentu dan berkontempelasi atas apa yang dikemukakan oleh penyair.
Selanjutnya, menurut Damayanti (2013:24) pemilihan kata (diksi) yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya.
Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Pilihan kata (diksi) dapat diperoleh dengan berbagai cara agar diperoleh diksi puitis. Cara-cara itu dengan menggunakan bahasa kiasan, citraan, gaya bahasa, dan sarana retorika.
Menurut Kasnadi (2008), menulis puisi biasanya berkaitan dengan beberapa hal berikut:
1) Pencarian ide (ilham) 2) Pemilihan tema 3) Pemilihan aliran, 4) Penentuan jenis puisi
5) Pemilihan diksi ( kata ) yang padat dan khas 6) Pemilihan permaianan bunyi
7) Pembuatan larik yang menarik 8) Pemilihan pengucapan
9) Pemanfaatan gaya bahasa,
10) Pembaitan yang memiliki satu subject matter 11) Pemilihan tipografi
12) Pemuatan aspek psikologis (kejiwaan)
13) Pemuatan aspek sosiologis (sosial kemasyarakatan) 14) Penentuan tone dan feeling dalam puisi,
15) Pemuatan pesan (meaning) dan 16) Pemilihan judul yang menarik
5. Pembelajaran Menulis Puisi di Sekolah Dasar
Pembelajaran menulis di Sekolah Dasar merupakan salah satu yang berkedudukan sebagai media pembinaan bahasa Indonesia. Tujuan pembelajaran menulis di Sekoah Dasar adalah siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam menulis.
Dalam materi pembelajaran bahasa yang membahas tentang menulis puisi, banyak para pengajar atau guru yang hanya mengajar dengan cara klasik, yaitu dengan cara menerangkan materi tentang cara menulis puisi lalu menyuruh siswa untuk membuat puisi tersebut sebagai tolak ukur
pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru mengenai menulis puisi. Cara pengajaran tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi dengan cara pengajaran seperti itu, siswa cepat merasa bosan dan jenuh, apalagi untuk memahami cara menulis sebuah puisi yang dipelajarinya.
Pembelajaran menulis puisi di Sekolah Dasar harusnya dibuat semenarik mungkin. Seorang guru dituntut harus kreatif dan inovatif dalam proses belajar mengajar. Guru harus memperhatikan strategi pembelajaran, motode dan media yang tepat digunakan untuk pembelajaran menulis puisi.
Menurut (Hambali: 2007) pembelajaran menulis puisi pada anak- anak sesuai dengan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami oleh anak-anak. Dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa. Pada umumnya dunia anak-anak adalah dunia kini dan di sini, sebagaimana yang mereka saksikan di televisi dan bioskop, mereka baca di koran dan majalah, dan mereka alami di rumah. Bacaan anak-anak sebagai bacaan yang merefleksikan perasaan dan pengalaman anak-anak pada masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak.
Adapun nilai sastra bagi anak-anak yaitu:
(1) Sastra memberi kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak- anak.
(2) Sastra dapat mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka memikirkan alam, insani, pengalaman, gagasan dan berbagai cara.
(3) Sastra dapat mengembangkan wawasan anak menjadi perilaku insan.
(4) Sastra dapat memperkenalkan dan menyajikan kesemestaan pengalaman kepada anak.
(5) Sastra merupakan sumber utama penerusan/ penyebaran warisan sastra dari satu generasi ke generasi berikutnya.
6. Media Pembelajaran
Teori yang dibahas adalah pengertian media, ciri-ciri media, fungsi media, jenis-jenis media, dan kriteria memilih media. Paparan mengenai teori-teori tersebut adalah sebagai berikut.
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Sadiman dkk 2009:6). Menurut para ahli media adalah sebagai berikut.
1. Hamijdjojo (dalam Kustandi dan Bambang 2011:9), memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.
2. Menurut Azhar (1996:3), media adalah alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
3. Gagne dan Briggs (dalam Sadiman 2009:7), menekankan pentingnya media sebagai alat untuk merangsang proses belajar-mengajar.
4. AECT (dalam Kustandi dan Bambang 2011:8), menyatakan media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi.
5. Menurut Sanjaya (dalam Hamdani 2011:243), media pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan pengantar lunak yang mengandung pesan.
6. Menurut Donald P.Ely & Vernon S.Gerlach (dalam Hamdani 2011:243), pengertian media ada dua bagian,yaitu arti sempit dan arti luas.
a. Arti sempit, bahwa media itu berwujud: grafik,foto,alat mekanik dan elektronik yang digunakan untuk menangkap, memproses serta menyampaikan informasi.
b. Menurut arti luas, yaitu kegiatan yang dapat menciptakan suatu kondisi, sehingga memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baru.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah suatu benda yang mempermudah dalam proses pembelajaran dan menjadikan kegiatan belajar menjadi menarik dan aktif.
b. Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Azhar (1996:12), mengemukakan bahwa ada tiga ciri media yang merupakan petunjuk penggunaan media, yaitu.
1. Ciri Fiksatif, ciri ini menggambarkan kemampuan media dalam merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek.
2. Ciri Manipulasi, media harus mampu memanipulasi atau mengubah suatu objek.
3. Ciri Distributif, ciri distributif dari media menggunakan suatu objek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang, dan secara bersamaan, kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa, stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.
c. Fungsi Media
Menurut Hamalik (dalam Azhar 1996:15), media memiliki beberapa fungsi diantaranya, media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Pada tahap orientasi media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain itu media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Sedangkan menurut Kustandi dan Bambang (2011:21), mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususunya media
visual, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris. Fungsi atensi media visual, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepadaisi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.
d. Jenis Media Pembelajaran
Dalam bukunya yang berjudul Strategi Belajar Mengajar, Hamdani (2011:244), membagi beberapa jenis media, antara lain.
1) Media Audio adalah media yang hanya dapat didengar atau yang memiliki unsur suara.
2) Media Visual adalah media yang hanya dapat dilihat dan tidak mengandung unsur suara.
3) Media Audio visual adalah media yang mengandung unsur suara dan juga memiliki unsur gambar yang dapat dilihat.
Adapun variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran menurut Nur dkk (2011: 47-48) adalah pergantian penggunaan jenis media yang satu kepada jenis yang lain mengharuskan anak menyesuaikan alat indra sehingga dapat mempertinggi perhatiannya karena setiap anak perbedaan kemampuan dalam menggunakan alat indranya. Penggunaan alat yang multi media dan relevan dengan tujuan pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar sehinnga lebih bermakna dan tahan lama.
Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah:
1. Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids). Alat ataua media yang termasuk ke dalamjenis ini ialah yang dapat dilihat, antara lain, grafik, bagan, poster, diorama, spesiesmen,gambar, film, dan slide.
2. Variasi atau bahan yang dapat didengar (auditif aids). Suara guru termasuk ke dalam media komunikasi yang utama di dalam kelas.
Rekaman suara, suara radio,musik, deklamasi puisi,sosio drama, telephone,dapat dipakai sebagai penggunaan indra dengar yang divariasikan dengan indra lainnya.
3. Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik) penggunaan yang termasuk dalam jenis ini akan dapat menarik perhatian murid dan dapat melibatkan murid dalam membentuk dan memperagakan kegiatannya, baik secara perorangan maupun secara kelompok. Yang termasuk ke dalam hal
ini, misalnya peragaan yang dilakukan oleh guru atau murid, mode, spesiesmen, patung, topeng, dan diperagakan atau dimanipilasikan.
4. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, dan diraba (audio visual aids) penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang paling tinggi karena melibatkan semua indra yang kita miliki. Hal ini sangat dianjurkan dalam proses pembelajaran. Mendia yang termasuk misalnya film, televisi, radio, slide, projector yang diiringi penjelasan guru, tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
e. Kriteria Memilih Media Pembelajaran
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (dalam Syaiful dan Aswan 2013:
132) dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan intruksional yang telah ditetapkan.
Tujuan-tujuan intruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media pengajaran.
2) Dukungan terhadap isi bahan-bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
3) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa biaya yang mahal, di samping sederhana dan praktis penggunaannya.
4) Keterampilan guru dalam menggunakannya, apa pun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses mengajar. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya tetapi dampak dari penggunaannya oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa dengan lingkungannya.
5) Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
6) Sesuai dengan taraf berpikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa.
Dengan kriteria pemilihan media di atas, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tapi harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran. Oleh sebab itu, media bukan keharusan tetapi sebagai pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi belajar dan mengajar.
7. Media Visual
a. Pengertian Media Gambar atau Foto
Gambar atau foto adalah media pembelajaran yang sering digunakan. Media ini merupakan bahasa yang umum, dapat dimengerti, dan dinikmati oleh semua orang dimana-mana. Gambar atau foto berfungsi untuk menyampaikan pesan melalui gambar yang menyangkut indera penglihatan. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol simbol tersebut perlu dipahami dengan benar agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien.
Selain itu, media grafis mempunyai tujuan untuk menarik perhatian, memperjelas materi, mengilustrasikan fakta atau informasi yang mungkin akan cepat jika diilustrasikan dengan gambar (Kustandi dan Bambang 2011:45).
Gambar/foto adalah media yang paling umum dipakai. Dia merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Oleh karena itu, pepatah Cina yang mengatakan bahwa sebuah gambar berbicara lebih banyak daripada seribu kata (Sadiman, dkk 2009:29).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa media foto merupakan media yang mudah dimengerti oleh semua orang dan media yang sangat sederhana.
Saat siswa memperhatikan suatu gambar, mereka akan terdorong untuk berbicara lebih banyak, berinteraksi baik dengan gambar-gambar
tersebut, maupun dengan sesamanya, membuat hubungan diantara paradox dan membangun gagasan-gagasan baru. Gambar merupakan media visual yang penting dan mudah didapat. Dikatakan penting sebab ia dapat mengganti kata verbal, mengkongkritkan yang abstrak, dan mengatasi pengamatan manusia. Gambar membuat orang dapat menangkap idea tau informasi yang terkandung di dalamnya dengan jelas, lebih jelas daripada yang diungkapkan oleh kata-kata. Akan tetapi, karena setiap orang merasa mudah untuk memperileh gambar, ia menganggapnya sebagai “hal yang biasa” atau “terlalu biasa” sehingga
melupakan manfaatnya. Walaupun hanya menekankan indra penglihatan, kekuatan gambar terletak pada kenyataan bahwa sebagian besar orang pada dasarnya pemikir visual (Muhadi, 2013: 89)
Peneliti menggunakan media gambar atau foto pada pembelajaran menulis puisi agar memudahkan siswa untuk berimajinasi, mengeluarkan idea atau pendapatnya dalam membuat puisi
b. Kelebihan dan Kelemahan Media Visual Gambar atau Foto Kelebihan dari Media Gambar/Foto adalah sebagai berikut:
1. Sifatnya konkret; gambar/foto lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata;
2. Gambarnya dapat mengatasi batasan ruang dan waktu; media gambar/foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita;
3. Foto dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah atau membetulkan kesalahpahaman;
4. Foto harganya murah dan gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus.
Adapun kelemahan dari media gambar/foto adalah:
1. Gambar/foto hanya menekankan persepsi indera mata;
2. Gambar/foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan pembelajaran;
3. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.
B. Kerangka Pikir
Menulis merupakan suatu keterampilan yang sangat penting bagi murid. Murid memerlukan keterampilan menulis baik di sekolah maupun di masyarakat. Salah satu keterampilan menulis yang diajarkan di sekolah adalah menulis puisi. Pentingnya menulis puisi bagi siswa yaitu dapat meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas, menumbuhkan keberanian dalam mengungkapkan ide atau perasaan, serta mendorong keterampilan dan kemauan mengumpulkan informasi.
Umumnya guru mengalami kendala ketika mengajar di kelas. Guru hanya menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran sehingga siswa merasa bosan dan tidak bersemangat untuk belajar. Siswa hanya mendengarkan dan mengikuti apa yang dikatakan gurunya sehingga tampak proses belajar mengajar yang pasif tanpa adanya proses kreatif dan inovatif.
Di samping itu, buku yang digunakan hanya bersumber dari buku paket saja.
Kendala tersebut muncul diakibatkan karena kurangnya teknik pembelajran yang dipakai oleh guru ketika mengajar sastra khususnya menulis puisi di kelas, sehingga yang terjadi adalah keterampilan siswa dalam menulis puisi sangat kurang.
Berdasarkan permasalahan yang ada, penulis memilih penggunaan media yang tepat sehingga dapat mencapai sebuah tujuan pembelajaran.
Media yang digunakan peneliti yaitu media gambar. Dalam hal ini, media gambar dapat dijadikan media dalam pembelajaran menulis puisi. Media gambar ini dapat dimanfaatkan secara efektif dan menarik sebagai sumber inspirasi (ide) cerita. Gambar yang diperlihatkan dapat merangsang panca indera untuk merangkai kata - kata puitis dan kemudian menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.
Dalam pembelajaran menulis puisi, media gambar dijadikan sebagai media pembelajaran untuk mengembangkan inspirasi, sehingga memudahkan siswa dalam menuliskan ide dan kata-kata yang muncul.
Setelah menuliskan hal-hal yang terdapat dalam gambar, siswa dapat mengembangkannya menjadi sebuah puisi dan disesuaikan dengan konsep puisi yang ingin disampaikan oleh masing-masing siswa. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Hasil dari penelitian berupa data dianalisis sehingga menghasilkan temuan. Dari temuan tersebut dapat diketahui pengaruh media gambar dalam
upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam menulis puisi. Secara sederhana kerangka pikir dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Menulis Puisi
Aspek yang diilai 1. Tema
2. Amanat 3. Diksi
4. Gaya bahasa 5. Imajinasi
Media Visual
Pretest Postest
Temuan Hasil Belajar
Menulis Puisi
Hasil Belajar Menulis Puisi
Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang, kajian pustaka, maupun kerangka pikir, dalam penelitian ini digunakan hipotesis sebagai berikut:
Ho : Tidak ada pengaruh penggunaan media visual terhadap kemampuan siswa menulis puisi di kelas V SD Inpres Maccini Sombala Kota Makassar.
Hi : Ada pengaruh penggunaan media visual terhadap kemampuan siswa menulis puisi di kelas V SD Inpres Maccini Sombala Kota Makassar.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian
Untuk memperoleh data yang akurat sesuai dengan masalah penelitian ini dirancang secara deskriptif kuantitatif. Desain adalah rancangan sebagai pedoman atau jalur dalam melakukan penelitian. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian yang bersifat pra-eksperimen dengan pola sebagai berikut:
O1 : Kemampuan menulis puisi sebelum (treatmen) menggunakan media visual.
X : Perlakuan atau penerapan media visual.
O2 : Kemampuan menulis puisi setelah (treatmen) menggunakan media visual.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dan dilakukan sebanyak 3 tahap, yaitu : pretes (sebelum eksperimen), tindakan, dan kegiatan postes (setelah eksperimen) dengan memfokuskan satu kelas yang dijadikan sebagai sampel.
B. Populasi dan Sampel
Dalam sebuah penelitian, proses mengumpulkan data sampai dengan menganalisis data sehingga mendapatkan gambaran yang sesuai dengan apa yang diharapkan dalam penelitian ini maka diperlukan sumber
O
1x O
2data. Pada umumnya sumber data dalam penelitian disebut populasi dan sampel penelitian.
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian penelitian dalam ruang dan waktu tertentu. ” Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Inpres Maccini Sombala, Kota Makassar dengan jumlah 30 orang.
Adapun tabel populasi sebagai berikut:
Tabel 3.1 Jumlah Populasi kelas V SD Negeri Inpres Maccini Sombala
No. Kelas Laki - Laki Perempuan Jumlah
1. V 14 16 30
2. Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel total (total sampling). Artinya seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini. Sampel dalam penelitian adalah seluruh kelas V Sekolah Dasar Inpres Maccini Sombala Kota Makassar sebanyak 30 orang.
C. Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diamati, yaitu variabel X dan variabel Y. Variabel X dalam penelitian ini adalah penggunaan media visual dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai variabel bebas (dependen), sedangkan variabel Y adalah kemampuan menulis
puisi siswa sebagai variabel terikat (independen). Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran mengenai variabel dalam penelitian ini, maka peneliti memperjelas defenisi operasional variabel yang dimaksud, yaitu : 1. Media Visual adalah salah satu media pembelajaran. Media pembelajaran
ini digunakan agar memudahkan siswa untuk berimajinasi, mengeluarkan ide atau pendapatnya dalam membuat puisi. Guru meminta siswa agar meperhatikan gambar yang telah disiapkan. Kemudian memberi arahan tentang menulis puisi dengan melihat gambar tersebut . Kegiatan pembelajaran akan berjalan aktif dan menyenangkan.
2. Hasil belajar siswa (kemampuan menulis puisi) adalah hasil pengukuran (posttest) yang diperoleh siswa melalui suatu tes setelah proses
pembelajaran berlangsung pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi menulis puisi yang dapat menggambarkan tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
D. Instrument Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah pemberian tes menulis puisi yang digunakan untuk pengukur pencapaian siswa setelah proses pembelajaran yang dilakukan pada akhir tindakan pada keseluruhan kelas V.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data di atas diuraikan sebagai berikut :
1. Data menulis puisi disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3.2 Pedoman Penilaian
No. Aspek yang dinilai Skor Maksimal
1. Tema 15
2. Amanat 15
3. Diksi 20
4. Gaya Bahasa 20
5. Imajinasi 30
Jumlah 100
Tabel 3.3 Aspek Penilaian Menulis Puisi
Aspek Skor Kriteria Kategori
Tema
15 Antara judul dan isi memiliki keterkaitan, ide tertata dengan baik, dan memiliki pesan.
Sangat baik
10 Judul dan isi memiliki keterkaitan, ide masih terorganisir, dan memiliki pesan.
Baik 5 Antara judul dan isi kurang keterkaitan, ide
kurang tertata dengan baik, dan pesan yang disampaikan kurang jelas.
Cukup
0 Tidak berisi dan tidak ada pesan yang disampaikan.
Kurang
Amanat
15 Pengungkapan perasaan sangat tepat Sangat baik 10 Pengungkapan perasaan yang tepat Baik
5 Pengungkapan perasaan yang cukup tepat Cukup 0 Pengungkapan perasaan yang kurang tepat Kurang
Diksi
20 Dalam memilih kata-kata yang sangat tepat.
Sangat baik 15 Dalam memilih kata-kata yang ada tepat Baik 10 Dalam memilih kata-kata yang ada
cukup tepat.
Cukup 5 Dalam memilih kata-kata kurang tepat. Kurang Gaya
Bahasa
20 Penggunaan gaya bahasa sangat tepat Sangat baik 15 Penggunaan gaya bahasa yang tepat Baik 10 Penggunaan gaya bahasa cukup tepat Cukup
5 Penggunaan gaya bahasa yang kurang tepat Kurang
Imajinasi
30 Jika pengimajinasiannya berupa penyusunan dengan kata-kata yang sangat tepat dan sesuai dengan wujud benda yang diperlihatkan.
Sangat baik
25 Jika pengimajinasiannya berupa penyusunan dengan kata-kata yang tepat dengan wujud benda yang diperlihatkan.
Baik
15 Jika pengimajinasiannya berupa penyusunan dengan kata-kata yang cukup sesuai dengan wujud benda yang diperlihatkan.
Cukup
10 Jika pengimajinasiannya berupa penyusunan dengan kata-kata yang kurang sesuai dengan wujud benda yang diperlihatkan.
Kurang
2. Data yang diperoleh dari media gambar yaitu gambar pemandangan alam.
Tidak ada gambar Nilai
Ada gambar Nilai
Adapun langkah-langkah prosedur penelitian adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan Awal (Pretes)
Kegiatan awal dilakukan sebelum treatment dengan langkah-langkah berikut:
a. Peneliti melakukan pembelajaran tanpa menggunakan media cetak dalam pembelajaran menulis puisi.
b. Menganalisis hasil observasi awal, siswa ditugasi menulis puisi.
Kegiatan pembelajaran ini dilakukan sebanyak enam kali pertemuan.
2. Pembelajaran dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan. Langkah- langkahnya yaitu, peneliti melakukan pembelajaran dengan memberikan penjelasan tentang menulis puisi dan penggunaan media gambar. Langkah yang di lakukan peneliti, yaitu:
a. Memberikan penjelasan tentang menulis puisi.
b. Guru memperkenalkan dan menerapkan penggunaan media gambar dalam pembelajaran menulis puisi.
c. Guru menugasi siswa menentukan tema puisi melalui media gambar lalu membuat sebuah puisi.
d. Menganalisis hasil tes.
F. Teknik Analisis Data
Pengolahan data hasil penelitian digunakan teknik statistik deskriptif . 1. Analisis Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini, data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif. Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Dalam hal ini digunakan ukuran sampel, nilai rata-rata, standar deviasi, nilai tertinggi dan nilai terendah, serta ketuntasan hasil belajar.
Hasil belajar siswa
Untuk keperluan analisis deskriptif, data skor hasil belajar dikategorikan dengan menggunakan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2003) yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.4 Teknik Kategori Standar Berdasarkan Ketetapan Depdiknas
No. Nilai Kategori
1. 0 – 54 Sangat Rendah
2. 55 – 64 Rendah
3. 65 – 79 Sedang
4. 80 – 89 Tinggi
5. 90 – 100 Sangat Tinggi
Hasil belajar bahasa indonesia siswa dapat dilihat dari hasil belajar secara individual, kriteria seorang murid dikatakan tuntas ketika memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yakni 70 dan ketuntasan klasikal tercapai apabila minimal 75% siswa dikelas tersebut telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM).
Ketuntasan belajar klasikal= jumlah siswa memperoleh skor (KKM) ≥70 X 100 Jumlah seluruh siswa
2. Analisis statistik inferensial
Analisis statistik inferensial dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menganalisis selisih antara nilai pretest dan nilai postest. Menentukan perbandingan hasil pretes dan postes kemampuan siswa menulis puisi melalui media gambar dengan rumus:
t = Σ N(N − 1) Keterangan :
Md = mean dari perbedaan pretest dan postest Xd = deviasi setiap subjek (d-Md)
Σx2d = jumlah kuadrat deviasi
N = subjek pada sampel
(Arikunto, 2013: 349) Kriteria pengujian : Jika thitung > ttabel maka H0ditolak dan H1diterima
sebaliknya Jika thitung < ttabel maka H0 diterima dan H1ditolak dengan taraf nyata α= 0,05 dan peluang
= (1-α).
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Hasil dan analisis data penelitian dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan penelitian tentang hasil belajar bahasa indonesia pada pokok bahasan keterampilan menulis puisi siswa melalui penerapan media visual yang telah dilaksanakan di SD Inpres Maccini Sombala Kota Makassar. Penelitian ini dilaksanakan selama lima kali pertemuan, dimana pertemuan pertama diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan diberikan posttest setelah perlakuan.
1. Hasil Analisis Statistika Deskriptif
a. Tingkat Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Sebelum Diberikan Perlakuan (Treatment) atau Pretest
Untuk memberikan gambaran awal tentang hasil belajar bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi siswa pada kelas V yang dipilih sebagai unit penelitian. Berikut disajikan skor hasil belajar bahasa Indonesia pada kemampuan menulis puisi siswa kelas V sebelum diberikan perlakuan.
43
Tabel 4.1 Deskripsi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas V sebelum diberikan Perlakuan (Treatment) atau Pretest
Statistik Nilai Statistik
Ukuran Sampel Skor Tertinggi Skor Terendah
Skor Ideal Rentang Skor Skor Rata – Rata
Standar Deviasi
30 80 45 100
35 58,83
9,05
Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa rata-rata skor hasil belajar Bahasa Indonesia pada pokok bahasan keterampilan menulis puisi sebelum dilakukan perlakuan (Pretest) adalah 58,83 dari skor ideal 100. Skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 80 dan skor terendah 45, dengan standar deviasi sebesar 9,05 yang berarti bahwa skor hasil belajar Bahasa Indonesia pada pokok bahasan keterampilan menulis puisi siswa pada Pretest di SD Inpres Maccini Sombala tersebar dari skor terendah 45 sampai skor tertinggi 80.
Jika skor tes hasil belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi siswa sebelum perlakuan (Pretest) dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi skor frekuensi dan persentase yang ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V sebelum diberikan Perlakuan ( Treatment ) atau Pretest
No. Skor Kategori Frekuensi Persentasi (%)
1.
2.
3.
4.
5.
0-54 55-64 65-79 80-89 90–100
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
9 10 10 1 0
30 33, 33 33, 33 3,34
0
JUMLAH 30 100
Berdasarkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 dapat digambarkan bahwa dari 30 siswa kelas V SD Inpres Maccini Sombala pada hasil Pretest, pada umumnya memiliki tingkat hasil belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi dalam kategori rendah dengan skor rata - rata 58,83 dari skor ideal 100.
Kemudian untuk melihat persentase ketuntasan belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi siswa sebelum perlakuan (Pretest) dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Belajar Bahasa Indonesia pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas V SD Inpres Maccini Sombala pada Pretest
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
70 – 100 Tuntas 6 20
0 - 69 Tidak Tuntas 24 80
Jumlah 30 100
Berdasarkan Tabel 4.3 sebelum perlakuan (Pretest) dapat digambarkan bahwa yang telah mencapai ketuntasan belajar sebanyak 6 orang dari jumlah keseluruhan 30 orang dengan persentase 20 %, sedangkan yang tidak mencapai ketuntasan belajar sebanyak 24 orang dari jumlah keseluruhan 30 siswa dengan persentase 80 %.
a. Tingkat Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Setelah Diberikan Perlakuan (Treatment) atau Posttest.
Berikut disajikan deskripsi dan persentase hasil belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi siswa Kelas V setelah diberikan perlakuan atau posttest.
Tabel 4.4 Deskripsi Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas V setelah diberikan Perlakuan ( Treatment) atau Posstest
Statistik Nilai Statistik
Ukuran Sampel Skor Tertinggi Skor Terendah
Skor Ideal Rentang Skor Skor Rata-Rata Standar Deviasi
30 100
60 100
40 79,67
8,66
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa rata-rata skor hasil belajar bahasa indonesia pada pokok bahasan keterampilan menulis puisi yang diajarkan dengan menggunakan media visual adalah 79,67 dari skor ideal 100. Skor tertinggi yang dicapai siswa adalah 100 dan skor terendah 60, dengan standar deviasi sebesar 8,66 yang berarti bahwa skor hasil belajar bahasa indonesia pada pokok bahasan keterampilan menulis puisi siswa pada Posttest kelas V SD Inpres Maccini Sombala tersebar dari skor terendah 60 sampai skor tertinggi 100. Jika skor tes hasil belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi siswa yang diajar dikelompokkan kedalam lima kategori, maka diperoleh distribusi skor frekuensi dan persentase yang ditunjukkan pada Tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5 Distribusi dan Persentase Skor Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas V setelah diberikan Perlakuan (Treatment ) atau Posstest
No. Skor Kategori Frekuensi Persentasi (%)
1.
2.
3.
4.
5.
0-54 55-64 65-79 80-89 90–100
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
0 2 7 17
4
0 6,67 23,33 56,67 13,33
JUMLAH 30 100
Berdasarkan tabel 4.4 dan tabel 4.5 di atas, dapat digambarkan bahwa dari 30 siswa kelas V SD Inpres Maccini Sombala yang dijadikan sampel penelitian Posttest, pada umumnya memiliki tingkat hasil belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi dalam kategori tinggi dengan skor rata-rata 79,67 dari skor ideal 100. Kemudian untuk melihat persentase ketuntasan belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis puisi siswa setelah perlakuan (Posttest) dengan menerapkan media visual dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Belajar Bahasa Indonesia pada Keterampilan Menulis Puisi Siswa Kelas V setelah diberikan Perlakuan (Treatment) atau Posstest
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
70 – 100 Tuntas 27 90%
0 – 69 Tidak Tuntas 3 10%
Jumlah 30 100
Berdasarkan Tabel 4.5 setelah perlakuan (Posttest) dengan menerapkan media visual dapat digambarkan bahwa yang telah mencapai ketuntasan belajar sebanyak 27 orang dari jumlah keseluruhan 30 orang dengan persentase 90 %, sedangkan yang tidak mencapai ketuntasan belajar sebanyak 3 orang dari jumlah keseluruhan 30 siswa dengan persentase 10 %. Apabila tabel dikaitkan dengan indikator ketuntasan hasil belajar siswa maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V SD