1
PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Oleh :
DINDA CHAIRUNNISA 170302018
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2022
2 Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Dinda Chairunnisa
NIM : 170302018
Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul “Status Keberlanjutan Penangkapan Cumi-Cumi (Loligo sp) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bouke Ami di Pelabuhan Perikanan Samudra Belawan Provinsi Sumatera Utara” adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Medan , Maret 2022
Dinda Chairunnisa
NIM. 170302018
3
DINDA CHAIRUNNISA. Status Keberlanjutan Penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bouke Ami di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh AMANATUL FADHILAH S.Pi, M.Si.
Cumi-cumi (Loligo spp) merupakan salah satu jenis yang paling banyak tertangkap di PPS Belawan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui nilai Catch Per Unit Effort (CPUE) pada tahun 2016-2020 dengan menggunakan alat tangkap Bouke Ami di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dan mengetahui status Keberlanjutan berdasarkan dimensi Ekologi, dimensi Ekonomi, dimensi Teknologi, dimensi Sosial, dimensi Kelembagaan penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) di Perairan Belawan. Dalam penelitian ini digunakan data primer yaitu informasi hasil tangkapan cumi-cumi yang didaratkan di PPS belawan /trip dan data sekunder yaitu data hasil tangkapan dan upaya tangkap Cumi-cumi (Loligo spp.) tahun 2016-2020. Berdasarkan hasil tangkapan cumi-cumi dengan menggunakan alat tangkap bouke ami di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan diperoleh analisis CPUE dalam kurun waktu 5 tahun (2016-2020) yaitu Nilai CPUE tertinggi terdapat pada tahun 2016 sebesar 3.37 ton/trip sedangkan Nilai CPUE terendah terdapat pada tahun 2020 nilai CPUE sebesar 2.20 ton/trip.
Berdasarkan hasil analisis status keberlanjutan menggunakan aplikasi RAPFISH diperoleh berdasarkan dimensi. Pada dimensi ekologi, dimensi teknologi dan dimensi sosial termasuk kedalam kategori kurang berkelanjutan sedangkan pada dimensi ekonomi dan dimensi kelembagaan termasuk kedalam kategori cukup berkelanjutan.
Kata Kunci: Cumi-cumi (Loligo spp.), analisis CPUE, status keberlanjutan, RAPFISH dan Bouke Ami
4
DINDA CHAIRUNNISA. Sustainability Status of Squid (Loligo spp) Catching Using Bouke Ami Fishing Equipment at Belawan Ocean Fishing Port, North Sumatra Province. Guided by AMANATUL FADHILAH S.Pi, M.Si.
Squid (Loligo spp) is one of the most caught species in Belawan PPS. The purpose of this study was to determine the value of Catch Per Unit Effort (CPUE) in 2016-2020 using Bouke Ami fishing gear at the Belawan Ocean Fishing Port and to determine the status of Sustainability based on the Ecological dimension, Economic dimension, Technological dimension, Social dimension, Institutional dimension of fishing. Squid (Loligo spp) in Belawan Waters. In this study, primary data was used, namely information on squid catches landed at PPS Belawan / trip and secondary data, namely data on catches and efforts to catch squid (Loligo spp.) 2016-2020 years. Based on the results of squid catches using bouke ami fishing gear at the Belawan Ocean Fishery Port, CPUE analysis was obtained for a period of 5 years (2016-2020), namely the highest CPUE value was in 2016 of 3.37 tons/trip while the lowest CPUE value was in 2016. 2020 CPUE value of 2.20 tons/trip. Based on the results of the analysis of the sustainability status using the RAPFISH application, it is obtained by dimensions. In the ecological dimension, the technological dimension and the social dimension are included in the less sustainable category, while the economic and institutional dimensions are included in the moderately sustainable category.
Keywords: Squid (Loligo spp.), CPUE analysis, sustainability status, RAPFISH and Bouke Ami
5
Penulis Bernama Dinda Chairunnisa dilahirkan di Kota Medan pada tanggal 10 Oktober 1999.
Merupakan Anak dari pasangan Bapak Zulkarnain dan Ibu Siti Mariana dan merupakan putri ketiga dari 3 bersaudara
Pendidikan formal pertama diawali di SD Negeri 010083 Kisaran pada tahun 2005-2011.
Bersamaan dengan berakhirnya pendidikan dasar, penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 28 Medan dan selesai pada tahun 2014. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMA Negeri 2 Medan dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2017. Pada tahun 2017 penulis melanjutkan pendidikan S-1 di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Selain mengikuti perkuliahan penulis juga aktif sebagai anggota keorganisasian Ikatan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (IMASPERA) periode 2019/2020. Penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Siboro, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara pada tahun 2020. Selaitu itu Penulis juga melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Pelatian dan Penyuluhan Perikanan Belawan Sumatera Utara pada tahun 2021.
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Status Keberlanjutan Penangkapan Cumi-Cumi (Loligo sp) dengan Menggunakan Alat Tangkap Bouke Ami di Pelabuhan Perikanan Samudra Belawan Provinsi Sumatera Utara”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S1 pada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Zulkarnain dan Ibunda Siti Mariana yang telah membesarkan dan merawat dengan curahan cinta dan kasih sayang, serta selalu memberikan dukungan baik secara materi dan moril kepada penulis dan memberikan do’a terbaik yang tak hentinya kepada penulis dan juga Saudara kandung penulis yang selalu memberikan dukungan, bantuan serta motivasi kepada penulis.
2. Ibu Amanatul Fadhilah, S.Pi., M.Si selaku Dosen Pembimbing, Ibu Desrita, S.Pi., M.Si dan Ibu Khairunnisa S.Pi, M.Si selaku Dosen Penguji yang telah sabar memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Desrita, S.Pi., M.Si selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumbedaya Perairan dan Bapak/Ibu dosen serta seluruh staff pegawai Program Studi Manajemen Sumberdaya Peairan.
ii
4. Bapak Arie Prasetya, S.T selaku Kepala Syahbandar Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dan Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan serta Staff pegawai dan seluruh pengurus kapal di Syahbandar Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, yang telah memberikan kesempatan dan izin kepada Penulis untuk pengambilan data dalam melakukan penelitian.
5. Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan sampai saat ini Yuha, Dinda Rani, Suci, Enda, Indun, Asha, Dian, Nurul serta seluruh teman-teman MSP USU 2017.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat sebagai sumber informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang pengelolaan sumberdaya perairan dan perikanan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih
Medan, Maret 2022
Penulis
iii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 2
Kerangka Pemikiran ... 3
Tujuan Penelitian ... 4
Manfaat Penelitian ... 5
TINJAUAN PUSTAKA Cumi-cumi (Loligo spp). ... 6
Distribusi Cumi-cumi (Loligo spp). ... 8
Alat Tangkap Bouke Ami ... 9
Status Berkelanjutan... 11
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 13
Alat dan Bahan Penelitian ... 13
Prosedur Penelitian... 14
Pengumpulan Data ... 14
Analisis Data ... 15
Penentuan Responden ... 15
Hasil Tangkapan /Upaya Penangkapan (CPUE) ... 15
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (Fopt) ... 16
Analisis Tingkat Pemanfaaan ... 17
Analisis Status Keberlanjutan ... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 23
Kondisi Umum Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 23
Produksi Cumi-cumi (Loligo spp) ... 24
Upaya Penangkapan (Effort) Cumi-cumi (Loligo spp) ... 25
Analisis CPUE (Catch per Unit Effort) ... 26
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan ... 30
Status Keberlanjutan Penangkapan Cumi-Cumi (Loligo spp) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 31
Pembahasan ... 41
Produksi Cumi-cumi (Loligo spp) ... 41
Upaya Penangkapan (Effort) Cumi-cumi (Loligo spp) ... 42
iv
CPUE (Catch Per Unit Effort ... 43
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (F opt) ... 45
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan ... 46
Total Allowble Catch (TAC) ... 47
Status Keberlanjutan Perikanan Tangkap Cumi-cumi (Loligo spp). 47
Uji Validitas dan Uji Ketepatan Multi Dimensional Scalling (MDS) Setiap Dimensi ... 53
Diagram Layang (Kite Diagram) ... 54
Rekomendasi Pengelolaan ... 55
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 57
Saran ... 57 DAFTAR PUSTAKA
v
DAFTAR GAMBAR
No. Teks Halaman
1. Cumi-cumi (Loligo spp.) ... 6
2. Alat Tangkap Bouke Ami ... 9
3. Pengoprasian Alat Tangkap Bouke Ami ... 10
4. Lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ... 13
5. Produksi Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016 – 2020 yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Belawan ... 24
6. Effort Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016 – 2020 yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Belawan ... 25
7. Jumlah unit kapal Bouke Ami ... 26
8. Regresi linear antara Effort dan CPUE sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) (Model Schaefer). ... 28
9. Regresi linear antara Effort dan ln CPUE sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) (Model fox). ... 28
10. Grafik Maximum Sustainable Yield (MSY) dan effort optimum sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) (Model Scheafer) ... 29
11. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016-2020 ... 31
12. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Ekologi)... 32
13. Analisis Leverage Dimensi Ekologi... 33
14. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Ekonomi)... 33
15. Analisis Leverage Dimensi Ekonomi... 34
16. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Teknologi) ... 35
17. Analisis Leverage Dimensi Teknologi ... 36
18. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Sosial. ... 36
19. Analisis Leverage Dimensi Sosial. ... 37
20. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Kelembagaan) ... 38
21. Analisis Leverage Dimensi Kelembagaan. ... 39
vi
22. Diagram Layang status keberlanjutan perikanan tangkap cumi-cumi (Loligo spp) ... 40
vii
DAFTAR TABEL
No. Teks Halaman
1. Kategori Penilaian Status Keberlanjutan ... 22 2. Nilai total catch, effort, dan Catch per Unit Effort (CPUE)
sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) pada tahun 2016-2020 ... 27 3. Perbandingan Potensi Lestari sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp)
antara Model Schaefer dan Model Fox. ... 29 4. Kondisi sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016-2020 .. 30 5. Total Allowable Catch Cumi-cumi (Loligo spp) ... 31 6. Hasil analisis Monte Carlo untuk masing-masing dimensi
pengelolaan ... 39 7. Nilai Stress dan R2 (Korelasi Kuadrat) masing – masing
Dimensi. ... 40
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPS Belawan) adalah salah satu kawasan yang bergerak dalam bidang perikanan di Provinsi Sumatera Utara.
Pelabuhan tersebut merupakan satu-satunya Pelabuhan Perikanan Tipe A di Pantai Timur Sumatera. Produksi perikanan yang terdapat di PPS Belawan memiliki peranan cukup besar bagi pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan sehingga diperlukan adanya pengembangan melalui usaha peningkatan produksi perikanan (Sirait, 2016)
Produksi tangkapan di belawan merupakan salah satunya cumi-cumi (Loligo spp). Data statistik Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan pada tahun 2017 menunjukkan bahwa cumi-cumi (Loligo spp) merupakan salah satu jenis yang paling banyak tertangkap di PPS Belawan dengan nilai produksi sebesar 1636,5 ton. Tingginya permintaan konsumen di pasar ikan menyebabkan nelayan melakukan penangkapan skala besar. Kegiatan penangkapan ikan berskala besar ini dianggap dapat mengurangi populasi cumi-cumi (Loligo spp) di perairan Belawan, terutama jika kegiatan penangkapan dilakukan setiap saat.
Keberlanjutan perikanan adalah tantangan mengingat produk perikanan menjadi kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang (intertemporal) sehingga tingkat pemanfaatan akan terus meningkat sejalan dengan tingkat kebutuhan konsumsi lokal dan global. Disisi lain stok sumberdaya ikan dibeberapa lokasi semakin terbatas sekalipun sumberdaya ikan bersifat dapat pulih (renewable). Ketimpangan dan ketidakberlanjutan sumberdaya dapat terjadi apabila pemanfaatannya melampaui kapasitas atau karena kegiatan perikanan
yang hanya mengutamakan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya.
Dengan demikian keberlanjutan perikanan tangkap harus dikaji secara komprehensif yang terdapat di berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut diantaranya aspek ekologi, teknologi, ekonomi, sosial, dan aspek etik kelembagaan dan hukum (Alder et al., 2000).
Menurut FAO (1995) yang mengatakan bahwa tujuan umum dalam pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi 4 (empat) aspek ialah aspek biologi, aspek ekologi, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Tujuan dari masing-masing aspek tersebut yaitu: Tujuan aspek biologi, untuk menjaga sumberdaya ikan pada kondisi /diatas tingkat yang diperlukan bagi keberlanjutan produktivitas. Tujuan aspek ekologi, untuk meminimalkan dampak penangkapan ikan bagi lingkungan dan sumberdaya non-target (by-catch), serta sumberdaya lainnya yang terkait.
Tujuan aspek ekonomi, untuk memaksimalkan pendapatan nelayan. Tujuan aspek sosial, untuk memaksimalkan peluang kerja/mata pencarian nelayan/masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, maka di perlukan penelitian “Status keberlanjutan penangkapan cumi-cumi (Loligo spp) menggunakan alat tangkap bouke ami” dalam membantu pengelolaan sumberdaya cumi cumi yang lebih baik dan efektif dan pengupayaan untuk menghindari penangkapan yang berlebihan (over fishing). Serta dibutuhkan pandangan yang realistis dari stok yang berkembang. Hal tersebut dimaksudkan untuk dapat memanfaatkan stok yang ada di alam secara optimal.
Rumusan Masalah
Sistem pendataan penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) di Belawan hingga saat ini masih kurang baik, terutama mengenai jumlah armada, struktur
alat, maupun hasil tangkapannya. Unit alat tangkap bouke ami adalah unit penangkapan cumi-cumi terbesar yang ada di PPS Belawan. Besarnya potensi perikanan cumi-cumi (Loligo spp) di Perairan Belawan, menyebabkan kegiatan penangkapan cumi-cumi (Loligo spp) semakin meningkat, hal tersebut dapat mengganggu keberlangsungan hidup dan mengurangi stok cumi-cumi (Loligo spp) di Perairan Belawan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengkajian tentang cumi-cumi (Loligo spp) di Perairan Belawan
. P
erumusan masalah yang dapat diambil adalah sebagai berikut:1. Bagaimana nilai Catch Per Unit Effort (CPUE) pada tahun 2016-2020 dengan menggunakan alat tangkap Bouke Ami di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
2. Bagaimana Status Keberlanjutan berdasarkan dimensi Ekologi, dimensi Ekonomi
,
dimensi Teknologi, dimensi Sosial, dimensi Kelembagaan penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) di Perairan BelawanKerangka Pemikiran
Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPS) Belawan merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Sumatera Utara. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya Pelabuhan Perikanan Tipe A di Pantai Timur Sumatera. Potensi perikanan yang ada di Samudra belawan salah satunya adalah Cumi-cumi (Loligo spp). Cumi merupakan kelompok hewan yang cephalopoda besar, atau jenis moluska yang hidup di laut. Tingginya minat masyarakat terhadap Cumi- cumi (Loligo spp) menyebabkan permintaan pasar semakin tinggi yang menyebabkan usaha penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) menjadi meningkat.
Oleh karena itu diperlukan analisis hasil tangkapan Cumi-cumi (Loligo spp). Data
tangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) dapat diperoleh menjadi data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Samudra Belawan yaitu data produksi dari tahun 2016 hingga 2020, jumlah unit alat tangkap dan upaya penangkapan dari masing masing alat tangkap. Data primer didapatkan dengan melakukan wawancara langsung dengan nelayan setempat dan dengan beberapa pakar dengan menggunakan panduan kuisioner yang telah disusun dari beberapa atribut yang telah ditetapkan dari lima dimensi yang digunakan adalah dimensi ekologi, ekonomi, teknologi, sosial, dan kelembagaan. Dari data kuisioner dilakukan analisis keberlanjutan berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan. Kelima dimensi tersebut dianalisis menggunakan RAPFISH (Rapid Apprasial for Fisheries) dengan menggunakan Multi Dimensiomal Scalling (MDS). Analisis MDS ini digunakan untuk menghitung nilai Status keberlanjutan dari setiap dimensi.
Sumber Daya Cumi-cumi (Loligo spp).
Alat Tangkap Bouke Ami Hasil Tangkapan
Data Sekunder 1. Keadaan Umum PPS Belawan
2. Hasil Tangkapan Cumi-cumi (Loligo spp).
Rekomendasi Pengelolaan Keberlanjutan penangkapan Cumi- cumi (Loligo spp) menggunakan alat tangkap Bouke Ami
Dimensi ekologi Dimensi ekonomi Dimensi teknologi Dimensi sosial Dimensi kelembagaan Status Keberlanjutan melalui pendekatan analisis dengan
menggunakan metode rapid asessment technique for fisheries (RAPFISH).
Data Primer
Wawancara langsung dengan panduan kuisioner
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui nilai Catch Per Unit Effort (CPUE) pada tahun 2016-2020 dengan menggunakan alat tangkap Bouke Ami di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
2. Mengetahui Status Keberlanjutan berdasarkan dimensi Ekologi, dimensi Ekonomi
,
dimensi Teknologi, dimensi Sosial, dimensi Kelembagaan penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) di Perairan BelawanManfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk Memberikan informasi penting mengenai usaha penangkapan ikan per unit dan tingkat pemanfaatan dari sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) dan sebagai refrensi penelitian selanjutnya di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan.
TINJAUAN PUSTAKA
Cumi-cumi (Loligo spp).
Menurut Roper et al (1984) Cumi-cumi (Loligo spp) dapat diklasifikasi sebagai berikut :
Kingdom :Animalia Phylum :Mollusca Kelas :Cephalopoda Ordo :Teuthoidea Sub-Ordo :Myopsidae Family :Loliginidae Genus :Loligo Spesies :Loligo spp
Sumber : dokumentasi pribadi
Cumi-cumi (Loligo spp.) di perairan Indonesia umumnya ditangkap dengan alat tangkap pancing cumi (squid jigging), jala jatuh berkapal (cast net) dan bagan apung (bouke ami), dimana persentase hasil tangkapan cumi-cumi dari
Gambar 1. Cumi-cumi (Loligo spp.)
masing-masing alat tangkap ini adalah 100%, 85% dan 80% (KEP. MEN. KP.
Nomor KEP.60/MEN/2010 tentang produktivitas kapal penangkap ikan) cumi- cumi (cephalopoda) dapat ditangkap dengan bagan, payang, pukat cincin, trawl, pancing, sero dan kelong (Triharyuni et al., 2016)
Cumi-cumi secara taxonomi termasuk ke dalam Chepalopoda ialah salah satu sumber daya non ikan yang cukup penting dalam perikanan Indonesia. Cumi- cumi tertangkap hampir di seluruh perairan Indonesia dan biasanya tertangkap bersama-sama species ikan pelagis lainnya. Cumi-cumi yang tertangkap biasanya terdiri dari cumi-cumi (squid), sotong (cuttle fish) dan gurita (octopus) (Atmaja, 2013)
Habitat cumi cumi merupakan perairan laut terbuka. Cumi cumi lebih banyak bergerak pada massa air untuk mengejar mangsanya. Cumi cumi bersifat fototaxis positif, suka atau tertarik mendekati cahaya. Bila merasa terancam, cumi cumi akan bergerak mundur secara cepat dengan cara menyemburkan air dari dalam rongga mantel melalui sifon atau menyemburkan tinta yang berwarna hitam kebiruan. Setelah disemprotkan, cairan tinta tersebut tidaklah segera larut, tetapi tetap mengumpal (Kordi, 2010)
Cumi-cumi memiliki ciri-ciri mantel memanjang, ramping, berujung tumpul, sirip berbentuk belah ketupat, panjang sirip dan panjang mantel bervariasi. Panjang mantel maksimum 400 mm, namun secara umum panjang mantel cumi-cumi yaitu 200 mm. Cumi-cumi menangkap mangsanya menggunakan tentakel, selain itu hewan ini dapat mengelabui musuhnya dengan menyemprotkan cairan tinta berwarna gelap atau merubah warna kulitnya. Cumi- cumi ialah penghuni demersal atau semipelagik pada daerah pantai dan paparan
benua sampai kedalaman 700 m. Pergerakan cumi-cumi dilakukan secara diurnal, yaitu pada siang hari akan berkelompok dekat dasar perairan dan akan menyebar pada kolom perairan ketika malam hari. Cumi-cumi tertarik pada cahaya (fototaksis positif), oleh karena itu sering ditangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Wulandari, 2018)
Distribusi Cumi-cumi (Loligo spp).
Distribusi adalah bagian yang terpenting dalam pemasaran ikan sehingga penanganan ikan perlu diperhatikan selama pendistribusian nya sampai ke daerah tujuan. Cumi-cumi (Loligo spp.) ialah sumberdaya penting karena menjadi komoditas ekspor dan konsumsi dalam negeri baik dikonsumsi dalam bentuk segar maupun bentuk olahan. Hal ini dibuktikan bahwa pada tahun 2017 Indonesia telah mengekspor ikan 10,9 ton dan salah satunya adalah Cumi- cumi (Loligo spp.) (Lubis et al., 2019)
Distribusi cumi-cumi genus Loligo dominan diperairan daerah tropis Indo-Pasifik: mulai dari perairan laut merah dan perairan laut sekitar Arab, menyebar luas dari perairan bagian timur wilayah Mozambika sampai perairan bagian selatan wilayah laut Cina, perairan di sekitar Pilipina hingga Taiwan dan perairan di sekitar laut Andaman. Terdapat 5 spesies Loligo yang terdapat di perairan Samudra Indonesia yakni: L. duvauceli, L. sp Massy (1916); L. sp.
Robbons (1924); L. kobiensis Hoyle (1885) dan L. forbesii Steenstrup (1986), sedang cumi-cumi jenis L. duvauceli berasal dari perairan laut Merah (Rudiana dan Pringgenies, 2004).
Produksi cumi-cumi di Indonesia diperkirakan mencapai 58,25 ribu ton per tahun (KKP, 2013). Cumi-cumi (Loligo spp) sebagai salah satu hasil
tangkapan utama selain ikan, dan lobster menyebabkan tingginya permintaan pasar terhadap Cumi-cumi (Loligo spp) sebagai komoditas ekspor di Indonesia, namun disisi lain, pengetahuan masyarakat mengenai kelompok Cumi-cumi (Loligo spp) masih sangat terbatas sehingga masyarakat perlu mengenal terkait morfologi, jenis dan sebar (Wulandari, 2018)
Alat Tangkap Bouke Ami
Gambar 2. Alat Tangkap Bouke Ami Sumber: Dokumentasi pribadi
Bouke ami ialah alat tangkap yang diklasifikasikan sebagai jaring angkat (lift Net). Nama bouke ami ini berasal dari bahasa Jepang dan alat tangkap ini terkenal dengan nama “stick held dip net”. Pada mulanya alat tangkap ini hanya digunakan untuk menangkap ikan kembung, kemudian digunakan untuk menangkap ikan Saury dengan alat bantu cahaya. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.60/MEN/ 2010 tentang produktivitas kapal penangkap ikan, disebutkan bahwa cumi-cumi dari kapal bouke ami merupakan hasil tangkapan utama, dimana persentase hasil tangkapannya sebesar 80% dari total tangkapannya (Triharyuni et al., 2016)
Bouke Ami merupakan jaring berbentuk mengerucut dengan panjang berkisar antara 14–20 m dan diameter mulut jaring berkisar antara 12–20 m,
menggunakan ukuran benang yang berbeda dan ukuran mata jaring yang berbeda pada setiap bagian jaring nya. Untuk bagian kaki jaring atau juga disebut oleh nelayan dengan Srampatan dengan ukuran benang d/48 dan ukuran mata jaring adalah 3 Inch, Srampatan berfungsi untuk melindungi bagian tepi jaring utama yang diikatkan pada tali ris atas dan tali ris bawah agar bagian pinggir jaring tidak cepat rusak atau sobek. Ukuran benang pada Srampatan (Selvedge) biasanya lebih besar dibandingkan dengan ukuran benang pada jaring utama, selanjutnya pada bagian badan jaring menggunakan ukuran benang d/12 dan ukuran mata jaring 1
¼ - 2 Inch, dan pada bagian ujung/kantong jaring menggunakan benang berukuran d/24 dan ukuran mata jaring 1 ¼ Inch (Yahya dan Ilhamdi, 2018)
Gambar 3. Pengoprasian Alat Tangkap Bouke Ami Sumber : https://youtu.be/XMQ2ULdUQ_g
Pengoperasian bouke ami menggunakan bantuan lampu untuk menarik gerombolan cumi-cumi. Lampu yang digunakan memiliki daya 750-1.500 watt dan berjumlah 24-90 buah. Selain itu gardan juga digunakan sebagai alat bantu dalam penarikan jaring. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan setting ialah 1 jam, sedangkan untuk proses hauling dibutuhkan waktu 30 menit; dengan waktu tunggu 30 menit. Jumlah trip bouke ami berkisar 28 – 103 hari /trip, dalam satu hari dilakukan 5-8 kali setting.. Operasi penangkapan dilakukan pada malam hari
,mulai dari jam 6 sore hingga jam 5 pagi. Jaring yang digunakan memiliki panjang 10-30 m; lebar 6-36 m; kedalaman jaring 5-34 meter; mesh size 1 inch; berbahan polyamide (Triharyuni et al., 2016)
Status Berkelanjutan
Sumberdaya ikan berkelanjutan merupakan pengelolaan yang mengarah kepada bagaimana sumberdaya ikan yang ada saat ini mampu memenuhi kebutuhan sekarang dan kebutuhan generasi yang akan datang, dimana aspek keberlanjutan harus meliputi aspek ekologi, sosial-budaya, ekonomi dan institusi.
Pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan tidak melarang aktifitas penangkapan yang bersifat ekonomi/komersial, tetapi menganjurkan dengan persyaratan bahwa pada tingkat pemanfaatan tidak melampaui daya dukung (carrying capacity) lingkungan perairan atau kemampuan pulih sumberdaya ikan, sehingga generasi mendatang tetap memiliki aset sumberdaya alam yang sama atau lebih banyak dari generasi saat ini (Edwarsyah dan Gazali, 2015).
Analisis keberlanjutan sumber daya perikanan dilakukan dengan teknik multi dimensional scaling (MDS) melalui pendekatan rapid asessment technique for fisheries (RAPFISH) yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Colombia. Tahapan analisis keberlanjutan sumber daya perikanan ialah penentuan atribut tergantung kepada karakteristik yang dikaji dan bisa saja berbeda-beda. Penyusunan atribut keberlanjutan sumber daya perikanan berdasarkan pendekatan 5 (lima) dimensi keberlanjutan yaitu: (1) dimensi ekologi; (2) dimensi ekonomi; (3) dimensi sosial; (4) dimensi kelembagaan; dan (5) dimensi teknologi (Erwina et al., 2015).
Menurut Nur (2011) yang mengatakan bahwa konsep pembangunan perikanan berkelanjutan mengandung dimensi :
1. Keberlanjutan dimensi ekologis ialah suatu kondisi dimana kualitas dan kesehatan ekosistem perairan terpelihara dengan baik agar sumber daya ikan yang hidup di dalamnya dapat tumbuh dan berkembang biak secara optimal, dan pada tingkat penangkapan sumber daya ikan tidak melampaui kemampuan pulihnya (renewable capacity) sehingga hasil tangkapan secara keseluruhan terhadap berbagai tingkatan pemerintahan dan negara dapat berlangsung secara berkelanjutan
2. Keberlanjutan dimensi ekonomi ialah ukuran seberapa baik kesejahteraan ekonomi dipelihara dan ditingkatkan berdasarkan perpaduan indikator sosial dan ekonomi yang relevan, yang meliputi aspek keuntungan yang berkelanjutan, distribusi benefit yang rasional, dan memelihara viabilitas ekonomi di tingkat lokal dan global.
3. Keberlanjutan dimensi teknologi dilakukan untuk mengembangkan perikanan dan teknologi yang mampu menumbuhkan industri dan mengamankan sumberdaya secara konsisten dan bertanggung jawab.
4. Keberlanjutan dimensi sosial dilakukan untuk memperhatikan kesejahteraan pelaku perikanan pada tingkat individu, mempertahankan atau mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi merupakan perhatian keberlanjutan.
5. Keberlanjutan dimensi kelembagaan menyangkut pemeliharaan pada aspek finansial dan administrasi yang sehat sebagai prasyarat ketiga pembangunan perikanan.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2021 di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, Jalan Gabion No. 20 Kecamatan Medan Belawan, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis terletak pada posisi koordinat 03º 47’ 00” LU dan 98” 42” BT. Peta lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop, kamera digital, peta administrasi kawasan Medan Belawan, alat bantu kuesioner, aplikasi Microsoft Excel, aplikasi RAPFISH dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series hasil tangkapan, upaya penangkapan Cumi- cumi (Loligo spp.) tahun 2016-2020.
Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dimana dalam penelitian ini menggambarkan suatu keadaan secara objektif yang sedang terjadi pada masa sekarang dengan hasil penelitian berupa angka-angka yang memiliki makna yang dilakukan dengan langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, analisis atau pengolahan data yang kemudian dipaparkan secara tertulis oleh penulis. Sedangkan metode analisa hasil menggunakan metode penelitian dengan model surplus produksi
Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara). Data primer dalam penelitian ini berupa informasi hasil tangkapan cumi-cumi yang didaratkan di PPS belawan /trip. Alat tangkap yang digunakan adalah Bouke Ami dengan hasil tangkapan cumi-cumi.
Data primer diperoleh dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung secara mendalam (In depth interview) serta pengamatan langsung semi partisipatif dengan responden/ahli terpilih yaitu narasumber dengan menggunakan alat bantu kuisioner. Pengolahan data primer menggunakan program Microsoft Excel 2010 dengan menggunakan aplikasi RAPFISH untuk mengetahui status keberlanjutan sumberdaya cumi-cumi di perairan Samudera Belawan. Data yang dibutuhkan terkait keberlanjutan sumberdaya ikan pelagis besar dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang
telah ada. Data sekunder meliputi data dari buku statistik perikanan dan kelautan PPS Belawan Sumatera Utara yaitu data hasil tangkapan dan upaya tangkap Cumi-cumi (Loligo spp.) tahun 2016-2020 dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, data sekunder kemudian diolah dengan menggunakan Microsoft Excel 2010.
Analisis Data
Penentuan Responden
Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung ke nelayan, pihak pemerintah, dan pakar perikanan dengan bantuan kuisioner. Dibutuhkan beberapa responden untuk melakukan kuisioner pada RAPFISH dan dipilih secara acak (simple random sampling) dan penentuan jumlah responden nelayan yang menjadi target utama digunakan rumus Slovin yaitu :
n =
n = 9,72 n = 10 Keterangan :
n = jumlah responden N = jumlah populasi
e = tingkat kesalahan yang ditelorir (10%)
Hasil Tangkapan /Upaya Penangkapan (CPUE)
Catch per Unit Effort (CpUE) diartikan sebagai laju penangkapan ikan per tahun yang didapatkan dengan menggunakan data time series, minimal selama lima (5) tahun. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan berdasarkan pembagian antara jumlah hasil tangkapan (catch) Cumi-cumi (Loligo spp.) dengan
upaya penangkapan (effort). Persamaan yang digunakan adalah berdasarkan persamaan Gulland (1983) sebagai berikut:
Keterangan :
CPUE = Catch Per Unit Effort
Cpi = Hasil tangkapan peralat tangkap ke-i (ton) Fi = Upaya penangkapan pada tahun ke-i (trip)
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (Fopt)
Menurut Gulland (1983), data yang digunakan dalam metode produksi surplus berupa hasil tangkapan (catch) dan upaya penangkapan (effort) dan kemudian dilakukan pengolahan data melalui pendekatan model schaefer dan fox.
Model schaefer dan model fox merupakan model analisis regresi dari CPUE (Catch per Unit Effort) terhadap jumlah effort.
a. Model Schaefer
Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah:
Nilai Upaya Optimum (Fopt) adalah
Nilai Potensi Maksimum Lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) adalah:
b. Model Fox
Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah:
Nilai Upaya Optimum (Fopt) adalah:
CPUE = a f + b (f)2
Fopt = -(a/2b)
𝑀𝑆𝑌 = −𝑎2 / 4b
C = F exp (a+b (f))
Fopt = - 1/ b
Nilai Potensi Maksimum Lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) adalah:
Keterangan :
C = Jumlah hasil tangkapan persatuan upaya penangkapan (ton/trip) a = Intercept
b = Slope
f = Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i fopt = Upaya penangkapan optimal (trip)
MSY = Nilai potensi maksimum lestari (ton/tahun) Analisis Tingkat Pemanfaaan
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan
Pendugaan Tingkat pemanfaatan sumberdaya pada Cumi-cumi (Loligo spp.) dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pemanfaatannya di pps belawan yang dilakukan dengan cara menghitung jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY). Rumus dari tingkat pemanfaatan adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Ci : Jumlah hasil tangkapan Cumi-cumi (Loligo spp.) pada tahun ke-i; dan MSY : Maximum sustainable yield (potensi maksimum lestari)
Selain mengetahui tingkat pemanfaatan, maka perlu diketahui pula tingkat pengupayaan. Rumus yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengupayaan, sebagai berikut:
Keterangan:
TPf : Tingkat Pengupayaan pada tahun ke-i (%) MSY = - 1 / b × ln a / b
TP = Ci / MSY × 100%
TPe = ( Ei / Fopt . MSY) x100%
Fs : Upaya penangkapan (Effort standar) pada tahun ke-i (trip) Fopt : Upaya penangkapan optimum (ton/thn)
Total Allowble Catch (TAC)
Dilihat jumlah produksi ikan Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai TAC (Total Allowable Catch) / jumlah tangkapan yang diperbolehkan. TAC (Total Allowable Catch) tersebut adalah 80% dari potensi maksimum lestarinya (CMSY) (Budiasih dan Dewi, 2015) Rumus jumlah tangkapan yang diperbolehkan yaitu:
Keterangan :
TAC = Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (kg/thn) MSY = Maximum Suistainable Yield (kg)
Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) atau Total Allowabel Catch (TAC) sebesar 80 % dari jumlah hasil tangkapan masksimum berkelanjutan (Maximum Sustainable Yield), jika JTBMSY berarti sudah terjadi over fishing, sehingga perlu adanya pengurangan terhadap upaya penangkapan untuk mengembalikan stok lestari ikan di perairan (Fitriana et al., 2016).
Analisis Status Keberlanjutan
Analisis keberlanjutan dengan teknik RAPFISH ini dilakukan dengan mereview yaitu dengan melihat referensi dari jurnal kemudian mendiskusikan kembali bersama pakar bidang perikanan, mengidentifikasi dan mendefinisikan atribut perikanan yang digunakan. Setelah itu dilakukan penilaian (scoring) perikanan yang dianalisis. Penilaian (scoring) didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan dalam teknik RAPFISH. Data hasil scoring diproses dengan Software RAPFISH yang dipautkan (add-ins) pada MS-Excel. Sesuai masukan
TAC= 80% x MSY
hasil skor atribut yang tersusun dalam matriks 'RapScores’ dalam bentuk lembaran kerja perangkat lunak MS-Excel (Mulyana et al., 2012).
Teknik Rapfish (Rapid Appraissal for Fisheries) merupakan teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada yang merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability dari perikanan secara multidisipliner.
Rapfish didasarkan pada teknik ordinasi yaitu menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS).
Aspek dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan (Nababan et al., 2017)
Analisis keberlanjutan Cumi-cumi (Loligo sp) pada penelitian ini dilakukan secara keberlanjutan yang mencakup 5 dimensi (dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi kelembagaan) tahap penelitian setiap atribut dalam skala koordinasi berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi, analisis koordinasi yang berbasis metode multi dimensional scaling (MDS), penyusunan indeks dan status keberlanjutan sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) yang dikaji baik umum pada setiap dimensi.
Prosedur analisis dengan metode RAPFISH akan melalui beberapa tahapan sebagai berikut Menurut Pitcher et al (2000) : Analisis terhadap data perikanan lokasi studi melalui data statistic, Analisis data pengamatan lapangan dan studi literatur, Melakukan skoring aspek keberlanjutan perikanan, Melakukan analisis multi dimensional scalling (MDS) dengan template excel untuk menentukan ordinasi dan nilai stress melalui ALSCAl algoritma, Melakukan rotasi untuk menentukan posisi perikanan pada ordinasi bad dan good dan
Melakukan sensitivity analysis (leverage analysis) dan Monte Carlo analysis untuk memperhitungkan aspek ketidakpastian.
Sumber/source : Alder et al. (2000) yang di dalam Nababan et al. (2017)
Identifikasi dan Penentuan Atribut 5 Dimensi Keberlanjutan
Menurut Suryana et al (2012), setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan sustainability, dengan atribut penilaian. Kelima dimensi tersebut antara lain : (1) ekologi; (2) ekonomi; (3) teknologi; (4) sosial dan (5) kelembagaan.
Pada setiap atribut disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan tujuan agar hasil penelitian ini dapat lebih bermanfaatan dan diaplikasikan pada situasi yang lebih bervariasi. Penentuan atribut menunjukkan atribut-atribut setiap dimensi yang diharapkan menjadi bahan penentuan indikator kinerja pembangunan perikanan tangkap, sekaligus sebagai bahan rekomendasi bagi penyusunan kebijakan pengelolaan subsektor perikanan tangkap yang lestari. Dari identifikasi ini juga akan menghasilkan atribut-atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp).
Proses Ordinasi
Secara singkat, hasil ordinasi adalah transformasi keseluruhan atribut dalam suatu dimensi keberlanjutan perikanan, kemudian jarak atau kesamaan matriksnya diperhitungkan kembali. Ketepatan pengukuran dan/atau transformasi ini ditunjukkan oleh nilai stress. Selain itu, koefisien determinasi (R2) yang mengungkapkan proporsi ragam dari masukan data matriks yang dapat dijelaskan oleh hasil skala multi-dimensional (Fauzi dan Anna, 2005).
Tahap analisis teknik penentuan jarak atau ordinasi nilai indek keberlanjutan dengan menggunakan metode Multi Dimensional Scalling (MDS).
Metode MDS ialah salah satu metode ordinasi pada ruang (dimensi) yang diperkecil. Untuk memudahkan ordinasi keberlanjutan Cumi-Cumi (Loligo spp) menggunakan perangkat lunak modifikasi RAPFISH. Perangkat lunak RAPFISH ini merupakan pengembangan MDS yang ada di dalam perangkat lunak SPSS.
Proses Rotasi
Pengolahan data selanjutnya mengunkakan metode trigonometri untuk rotasi masukan matriks V (Nx2 ) menjadi matriks 'Vrotate' pada vektor horizontal atau sejajar absis yang sisi kirinya buruk dan sisi kanannya baik. Untuk memproyeksikan titik-titik tersebut pada garis mendatar dilakukan proses rotasi, dengan titik ekstrem “buruk” diberi nilai skor 0% dan titik ekstrem “baik”
diberikan nilai skor 100%. Kesalahan posisi titik yang bersifat kebalikan cermin (mirror image ambiguity) bisa terjadi dalam MDS, tetapi dengan adanya titik-titik acuan tambahan (anchors) kesalahan ini jaring terjadi. Untuk menjamin tidak terjadinya kesalahan ini maka dalam proses ALSCAL.
Skala Indeks Keberlanjutan
Skala indeks keberlanjutan ketersediaan cumi-cumi mempunyai selang 0 - 100%. Jika sistem yang dikaji mempunyai nilai indeks lebih dari 50% (>50%) maka keberlanjutan dan sebaliknya jika kurang dari 50% (< 50%) maka belum berkelanjutan. Namun demikian ada 4 kategori status berkelanjutan berdasarkan skala besar tersebut, seperti pada tabel 1. Tabel 1. Kategori status keberlanjutan Tabel 1. Kategori Penilaian Status Keberlanjutan
No. Nilai Indeks Dimensi Kategori Keterangan
1. 0 – 25 Buruk Tidak Berkelanjutan
2. 26 Kurang Kurang Berkelanjutan
3. 51 Cukup Cukup Berkelanjutan
4. 76 Baik Berkelanjutan
Sumber : Pitcher dan Preikshot (2001) Analisis Monte Carlo
Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004), tujuan dari analisis ini ialah untuk mengetahui pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut, pengaruh variasi pemberian skor, stabilitas proses analisis Multi Dimensional Scalling (MDS) yang dilakukan berulang, dan kesalahan pemasukan atau hilangnya data (missing data).
Untuk Menggambarkan RAPFISH secara statistik dengan pengukuran nilai stress atau yang dilambangkan dengan S dan r-squared (squared correlation) dari masing masing atribut. Model yang baik ditunjukkan dengan nilai Stress dibawah nilai 0,25, dan nilai R2 di atas kepercayaan 95% atau mendekati nilai 1 (100%)
Tujuan dari analisis monte carlo ini ialah untuk mengetahui 1) Pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut; b) Pengaruh variasi pemberian skor; 3) Stabilitas proses analisis MDS yang dilakukan berulang; dan d) Kesalahan pemasukan atau hilangnya data (missing data).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kondisi Umum Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan mempunyai luas lahan sekitar 58,14 Ha yang terdiri atas 54,94 Ha lahan untuk peruntukan dan 3,2 Ha lahan kosong. Pada Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan di sebelah utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka; sebelah selatan berbatasan dengan Kecamataan Medan Labuhan; sebelah barat dan timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan merupakan satu dari dua PPS yang terletak di wilayah Sumatera selain PPS Bungus yang ada di Kota Padang, PPS Belawan terletak di daerah Medan Belawan yang termasuk wilayah administrasi Kota Medan, Sumatera Utara. Kota Medan merupakan salah satu daerah penghasil perikanan tangkap laut terbesar di Provinsi Sumatera Utara.
Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan mempunyai sarana dan prasarana berupa fasilitas pokok, fasilitas fungsional, fasilitas penunjang, dan kendaraan alat berat/K3 dan mesin. Fasilitas-fasilitas pokok terdiri dari Dermaga dengan luas 1.228,8 m2, Jetty dengan luas 1.008 m2, Turap dengan luas 265 m2, Drainase 1489 m2, Jalan Utama dengan luas 4.3540 m2, dan Alur Pelayaran dengan luas 1.500 m2. Fasilitas-fasilitas fungsional terdiri dari Sarama Bantu Navigasi Pelayaran Lampu Pelabuhan (rambu suar dan lampu navigasi), Kantor Utama Pelabuhan dengan luas 856 m2 , Gedung Syahbandar dengan luas 200 m2 , Menara Pengawas Syahbandar dengan luas 20 m2 , Transit Sheed dengan luas 670 m2 , Gedung Pengawasan Mutu dan Pelayanan SHTI dengan luas 120 m2 ,
Gedung Pengolahan dengan luas m2 , Pasar Ikan Hygienis dengan luas 200 m2, Instalasi Listrik, Rumah
Produksi Cumi-cumi (Loligo spp)
Pendugaan potensi Cumi-cumi (Loligo spp) diolah dengan menggunakan data produksi dan upaya penangkapan yang dilakukan setiap tahunnya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Produksi sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016 – 2020 dan produksi dari setiap alat tangkap yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Belawan dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Produksi Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016 – 2020 yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Belawan
Berdasarkan data jumlah produksi hasil tangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) menggunakan alat tangkap Bouke Ami mengalami fluktuasi dalam kurun waktu 2016-2020 yang menunjukan bahwa hasil tangkapan pada tahun 2016, 2017, 2018 mengalami penurunan sebanyak 1672,52, 163,41, 1073,30 kg kemudian pada tahun 2019 produksi mengalami kenaikan sebanyak 1621,90 kg.
pada tahun 2020 produksi penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp) mengalami penurunan sebanyak 933,89 kg.
Upaya Penangkapan (Effort) Cumi-cumi (Loligo spp)
Upaya penangkapan (Effort) tiap alat tangkap dalam 5 tahun terakhir (2016 – 2020) di Pelabuhan Samudra Belawa dapat dilihat pada gambar 6
Gambar 6. Effort Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016 – 2020 yang didaratkan di Pelabuhan Samudra Belawan
Pada gambar diatas menunjukan bahwa jumlah upaya penangkapan cumi- cumi (Loligo spp) pada tahun 2016 dan 2017 mengalami kenaikan sebesar 496 dan 512 namun pada tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 410, kemudian upaya penangkapan naik kembali pada tahun 2019 sebesar 514, kemudian pada tahun 2020 mengalami penurunan kembali sebesar 424.
Meningkatnya upanya penangkapan (effort) pada tahun 2017 disebabkan oleh jumlah kapal pada tahun 2017 semakin meningkat sehingga terjadinya persaingan antara nelayan yang mengakibatkan upaya penangkapan (effort) semakin menurun dan Menurunnya upaya penangkapan (effort) pada tahun 2020 disebabkan oleh semakin menurunnya jumlah kapal pada tahun 2020 yang ada di PPS Belawan. Faktor dominan yang menyebabkan upaya penangkapan (effort) tidak stabil adalah antara lain faktor cuaca, modal untuk melaut, kondisi nelayan dalam keadaan baik atau tidak, permintaan dan harga cumi-cumi dan kapal Bouke ami itu sendiri .
Gambar 7. Jumlah unit kapal Bouke Ami
Jumlah kapal penangkapan cumi-cumi (Loligo spp) pada alat tangkap bouke ami mengalami peningkatan pada tahun 2016-2019. Dimana pada tahun 2016 sebesar 47 unit kapal, kemudian pada tahun 2017 sebesar 69 unit kapal, kemudian pada tahun 2018 sebesar 76 unit kapal, kemudian pada tahun 2019 sebesar 78 unit kapal, sedangkan pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 72 unit kapal.
Jumlah unit penangkapan pada tahun 2016 masih sedikit dikarenakan kebanyakan pelaku usaha belum mengerti bagaimana pengoprasian alat tangkap bouke ami tersebut. Pada tahun 2017 jumlah unit kapal bouke ami mengalami peningkatan hingga tahun 2019 kemudian mengalami penurunan kembali pada tahun 2020 dikarenakan hasil tangkapan cumi-cumi pada tangkapan sebelumnya cukup sedikit menyebabkan kerugian jika para pelaku usaha memberangkatkan kapal sehingga unit kapal Bouke Ami di PPS Belawan pada tahun 2020 menurun.
Analisis CPUE (Catch per Unit Effort)
Pada hasil perhitungan tangkapan per satuan upaya didapatkan berdasarkan hasil penangkapan dan upaya penangkapan pada satuan unit yang
sama. Nilai perhitungan hasil tangkapan per satuan upaya sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) selama tahun 2016-2020 dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Nilai total catch, effort, dan Catch per Unit Effort (CPUE) sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) pada tahun 2016-2020
Tahun Catch (ton) Effort
(trip) CPUE (ton/trip)
2016 1672.52 496 3.37
2017 1636.41 512 3.20
2018 1073.30 410 2.62
2019 1621.90 514 3.16
2020 933.89 424 2.20
jumlah 6938.02 2356.00 14.54
rata-rata 1387.60 471.2 2.91
Dapat dilihat pada tabel diatas, menunjukan bahwa nilai perhitungan CPUE mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Pada tahun 2016 terdapat nilai CPUE sebesar 3.37 ton/trip, pada tahun 2017 sebesar 3.20 ton/trip, pada tahun 2018 sebesar 2.62 ton/trip, pada tahun 2019 sebesar 3.16 ton/trip dan pada tahun 2020 nilai CPUE sebesar 2.20 ton/trip. Didapati jumlah total nilai CPUE selama 2016- 2020 yaitu sebesar 14.54 ton/trip dengan nilai rata-rata sebesar 2.91 ton/trip.
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (F opt)
Pada analisis pendugaan potensi lestari (MSY) dan upaya optimum (effort) sumberdaya Cumi-umi (Loligo spp) pada penelitian ini ditentukan dengan regresi linear model Schaefer dan model Fox antara jumlah effort dan jumlah CPUE Cumi-cumi (Loligo spp). Dilihat dari hasil analisis potensi sumberdaya Cumi- cumi (Loligo spp) dengan metode surplus produksi menggunakan model Schaefer, regresi linier antara effort dengan CPUE Cumi-cumi (Loligo spp) pada gambar 8. Diperoleh nilai konstanta (a) = -1,05853 dan nilai koefiesien regresi (b)
= 0,00842. Hasil dugaan potensi lestari (MSY) Cumi-cumi (Loligo spp) sebesar
33,2704 ton/tahun dengan effort optimum 62,8612 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar = 0,7594
Gambar 8. Regresi linear antara Effort dan CPUE sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) (Model Schaefer).
Pada analisis potensi sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) dengan metode surplus produksi menggunakan model Fox, regresi linier antara effort dengan ln CPUE Cumi-cumi (Loligo spp) pada Gambar 9, diperoleh konstanta (a) = -0,3726 dan koefisien regresi (b) = -0,00303. Hasil dugaan potensi lestari (MSY) sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) sebesar -83,0111 ton/tahun dengan effort optimum -329,90 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,7409.
Gambar 9. Regresi linear antara Effort dan ln CPUE sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) (Model fox).
Pada hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya tangkapan (f) sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) dilihat dengan menggunakan model Fox dalam persamaan C = f exp 0,3726 + 0,003xf. Hubungan CPUE dengan effort dari persamaan regresi linear model Fox adalah y = 0,003x - 0,3726 dengan R2 = 0,7409. Perbandingan pendugaan potensi lestari antara metode surplus produksi model Schaefer dan model Fox dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perbandingan Potensi Lestari sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) antara Model Schaefer dan Model Fox.
Nilai Schaefer Fox Satuan
A -1.0585 -0.3726 -
B 0.0084 0.003 -
MSY 33.27039 -83.6111 Ton/tahun
F optimum 62.86122 -329.899 Ton/tahun
R² 0.7594 0.7409
Grafik pada Maximum Sustainable Yield (MSY) dan effort optimum Cumi-cumi (Loligo spp) pada (model schaefer) dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Grafik Maximum Sustainable Yield (MSY) dan effort optimum sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) (Model Scheafer)
Dilihat pada grafik (gambar 10) diatas nilai potensi lestari Maximum Sustainable Yield (MSY) Cumi-cumi (Loligo spp) pada setiap tahunnya adalah 33,27 ton/tahun sedangkan nilai effort optimum (fopt) sebesar 62,86 trip/tahun
yang artinya jika upaya penangkapan (effort) dilakukan melebihi nilai upaya penangkapan (effort) optimum maka akan terjadi penurunan terhadap nilai produksi Cumi-cumi (Loligo spp) dimasa yang akan datang. Pada nilai pendugaan MSY, effort standart dan TAC terhadap Cumi-cumi (Loligo spp) selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kondisi sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) tahun 2016-2020 Tahun Produksi
(Ton)
Effort (Trip)
Effort Optimum
(Trip)
MSY (Ton/Tahun)
TAC (Ton/Tahun) 2016 1672.5215 496
62.8612 33.2704 26.6163 2017 1636.4056 512
2018 1073.2976 410 2019 1621.9033 514 2020 933.888 424
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan
Tingkat pemanfaatan dan pengupayaan sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) di PPS Belawan dari tahun 2016-2020 dapat dilihat pada grafik di gambar 11. Grafik tersebut diketahui bahwa nilai pendugaan tingkat pemanfaatan dan pengupayaan Cumi-cumi (Loligo spp) memperlihatkan bahwa tingkat pemanfaatan Cumi-cumi (Loligo spp) mengalami fluktuasi yang melebihi nilai 100%. Tingkat pemanfaatan pada tahun 2016 sebesar 5027,06% dengan tingkat pengupayaan sebesar 789,04%. Tingkat pemanfaatan pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 4918,50% dengan tingkat pengupayaan 814,49%. Pada tahun 2018 tingkat pemanfaatan kembali mengalami penurunan sebesar 3225,98%
dengan tingkat pengupayaan 652,23% kemudian mengalami kenaikan pada tahun 2019 yaitu sebesar 4874,91% dengan tingkat pengupayaan 817,67 lalu mengalami penurunan kembali pada tahun 2020 yaitu sebesar 2806,96% dengan tingkat pengupayaan 674,50%.
Gambar 11. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Cumi- cumi (Loligo spp) tahun 2016-2020
Total Allowable Catch (TAC)
Dapat dilihat pada Hasil dari Total Allowble Catch (TAC) diperoleh dari perkalian antara nilai 80% dengan nilai MSY pada Tabel 5.
Tabel 5. Total Allowable Catch Cumi-cumi (Loligo spp) Tahun Produksi
(Ton)
TAC
(Ton/Tahun) Pemanfaatan (%) Nilai TAC
2016 1672.5215
26.6163
62.84 Sedang
2017 1636.4056 61.48 Sedang
2018 1073.2976 40.32 Sedang
2019 1621.9033 60.94 Sedang
2020 933.888 35.09 Sedang
Status Keberlanjutan Penangkapan Cumi-Cumi (Loligo spp) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
Status keberlanjutan penangkapan Cumi-Cumi (Loligo spp) di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan ditentukan dengan menggunakan analisis RAPFISH dilakukan melalui analisis pendugaan nilai indeks keberlanjutan terhadap kelima dimensi yaitu Dimensi Ekologi, Dimensi Ekonimi, Dimensi Teknologi, Dimensi Sosial dan Dimensi Kelembagaan. Pada hasil analisis pada setiap dimensi tersebut diuraikan dibawah ini.
Dimensi Ekologi
(a)
(b)
Gambar 12. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Ekologi)
Hasil Analisis Keberlanjutan penangkapan cumi-cumi pada ordinasi RAPHFISH dengan teknik MDS yang diperoleh pada Gambar menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 43,58 sedangkan hasil analisis ordinasi RAPHFISH dengan teknik Monte Carlo pada Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 43,13
Analisis keberlanjutan cumi-cumi (Loligo spp) pada dimensi ekologi memliki atribut yang dipilih untuk diteliti pada penelitian ini meliputi ukuran cumi-cumi selama beberapa tahun, lokasi sumberdaya cumi-cumi, hasil sampingan (by catch) yang tertangkap, lokasi melaut selama 5 tahun terakhir, jika
terikut ikan langka, lokasi melaut selama 5 tahun terakhir, hasil tangkapan beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan tiap melaut. Atribut yang sangat berpengaruh yaitu atribut jika terikut ikan langka serta hasil sampingan (by catch)
Gambar 13. Analisis Leverage Dimensi Ekologi
Dimensi Ekonomi
(a)
(b)
Gambar 14. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Ekonomi).
Hasil Analisis Keberlanjutan penangkapan cumi-cumi pada ordinasi RAPHFISH dengan teknik MDS yang diperoleh pada Gambar menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 51,96 sedangkan hasil analisis ordinasi RAPHFISH dengan teknik Monte Carlo pada Gambar 9 menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 51,71
Analisis keberlanjutan cumi-cumi (Loligo spp) pada dimensi ekonomi memiliki atributa yang dipilih untuk diteliti pada penelitian ini meliputi subsidi yang diberikan pemerintah pada nelayan, penyerapan tenaga kerja, rataan pendapatan relative nelayan, pemasaran hasil tangkapan, lama berdirinya usaha perikanan, ketersedian modal, harga jual cumi-cumi, Kelayakan usaha perikanan.
Atribut yang sangat berpengaruh yaitu atribut harga jual cumi-cumi serta pemasaran hasil tangkapan.
Gambar 15. Analisis Leverage Dimensi Ekonomi.
Dimensi Teknologi
(a)
(b)
Gambar 16. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Teknologi)
Hasil Analisis Keberlanjutan penangkapan cumi-cumi pada ordinasi RAPHFISH dengan teknik MDS yang diperoleh pada Gambar 11 menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 45,01 sedangkan hasil analisis ordinasi RAPHFISH dengan teknik Monte Carlo pada Gambar menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 45,16
Analisis keberlanjutan cumi-cumi (Loligo spp) pada dimensi teknologi memiliki atributa yang dipilih untuk diteliti pada penelitian ini meliputi kapasitas pelabuhan perikanan, pertumbuhan armada penangkapan, alat bantu penangkapan, kesesuain ukuran kapal, penangkapan ikan dan alat tangkap sesuai peraturan, hasil
tangkapan berdasarkan alat tangkap yang digunakan, lama trip. Atribut yang sangat berpengaruh yaitu atribut kesesuaian ukuran kapal serta alat bantu penangkapan
Gambar 17. Analisis Leverage Dimensi Teknologi Dimensi Sosial
(a)
(b)
Gambar 18. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) Sosial.
Hasil Analisis Keberlanjutan penangkapan cumi-cumi pada ordinasi RAPHFISH dengan teknik MDS yang diperoleh pada Gambar menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 41,59 sedangkan hasil analisis ordinasi RAPHFISH dengan teknik Monte Carlo pada Gambar 13 menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 41,33
Analisis keberlanjutan cumi-cumi (Loligo spp) pada dimensi sosial memiliki atribut yang dipilih untuk diteliti pada penelitian ini meliputi manfaat mengikuti pelatihan, pelatihan dari pemetintah, ikut serta dalam sosialisasi pemerintah, kelompok nelayan, lama kerja, Pendidikan terakhir nelayan, konflik antar nelayan. Atribut yang sangat berpengaruh yaitu atribut kelompok nelayan serta lama kerja sebagai nelayan
Gambar 19. Analisis Leverage Dimensi Sosial.
Dimensi Kelembagaan
(a)
(b)
Gambar 20. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensional Scalling (MDS) (a) dan Nilai Analisis Monte Carlo (b) (Kelembagaan)
Hasil Analisis Keberlanjutan penangkapan cumi-cumi pada ordinasi RAPHFISH dengan teknik MDS yang diperoleh pada Gambar menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 64,65 sedangkan hasil analisis ordinasi RAPHFISH dengan teknik Monte Carlo pada Gambar 15 menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yang diperoleh sebesar 63,60
Analisis keberlanjutan cumi-cumi (Loligo spp) pada dimensi kelembagaan memiliki atribut yang dipilih untuk diteliti pada penelitian ini meliputi rencana pengelolahan perikanan, kerja sama antar kelembagaan yang terkait, ketaatan
nelayan pada peraturan, peranan stake holder sumberdaya perikanan, peran pemerintah, aturan adat/kearifan lokal, pelanggaran dalam penangkapan ikan, keefektifan PPS belawan terhadap RPP. Atribut yang sangat berpengaruh yaitu atribut aturan adat/kearifan local serta pelanggaran dalam penangkapan ikan
Gambar 21. Analisis Leverage Dimensi Kelembagaan.
Uji validitas
Pada Uji validitas digunakan untuk mengetahui perbandingan antara nilai analisis MDS dengan analisis Monte Carlo. Berdasarkan hasil uji validitas antara analisis MDS dan analisis Monte Carlo terhadap ke lima dmensi pada penelitian ini menunjukkan selisih perbedaan yang kecil yakni kurang dari 5%.
Membandingkan hasil analisis Monte Carlo (MC) dan analisis MDS pada taraf kepercayaan 95% atau tingkat kesalahan 5% sehingga diperoleh bahwa selisih nilai kedua analisis tersebut lebih besar (MC-MDS>5%) atau lebih kecil (MC- MDS<5%) maka hasil analisis MDS tidak memadai.
Tabel 6. Hasil analisis Monte Carlo untuk masing-masing dimensi pengelolaan Dimensi Hasil MDS Hasil Monte Carlo Perbedaan
Ekologi 43,58 43,13 0,45
Ekonomi 51,96 51,71 0,25
Teknologi 45,01 45,16 0,15
Sosial 41,60 41,33 0,27
Kelembagaan 64,65 63,60 1,05
Uji Ketepatan Multi Dimensional Scalling (MDS) Setiap Dimensi
Ketepatan analisis MDS ditentukan oleh nilai stress. Nilai Stress rendah (kurang dari 25%) menunjukkan ketepatan yang tinggi dan nilai Stress yang tinggi (lebih dari 25%) menunjukkan bahwa ketepatan yang rendah, atribut yang digunakan dalam menentukan status keberlanjutan cumi-cumi (Loligo spp) dapat dilihat pada Tabel 4 menunjukkan nilai Stress dan R2 (korelasi kuadrat) masing – masing dimensi.
Tabel 7. Nilai Stress dan R2 (Korelasi Kuadrat) masing – masing Dimensi.
Dimensi Korelasi Kuadrat (R2) Nilai Stress (S)
Ekologi 93,10% 20,41%
Ekonomi 93,64% 13,98%
Teknologi 94,33% 14,98%
Sosial 85,78% 19,21%
Kelembagaan 91,80% 17,02%
Diagram Layang (Kite Diagram)
Hasil nilai status keberlanjutan hasil analisis RAPFISH dari masing- masing dimensi akan disajikan kedalam bentuk diagram layang dengan maksud agar lebih mudah memahami gambaran status keberlanjutan perikanan tangkap cumi-cumi (Loligo spp) pada masing-masing dimensi sebagaimana disajikan pada gambar 17.
Gambar 22. Diagram Layang status keberlanjutan perikanan tangkap cumi-cumi (Loligo spp)