• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen STATUS KEBERLANJUTAN PENANGKAPAN CUMI-CUMI (Halaman 26-36)

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2021 di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, Jalan Gabion No. 20 Kecamatan Medan Belawan, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis terletak pada posisi koordinat 03º 47’ 00” LU dan 98” 42” BT. Peta lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah laptop, kamera digital, peta administrasi kawasan Medan Belawan, alat bantu kuesioner, aplikasi Microsoft Excel, aplikasi RAPFISH dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series hasil tangkapan, upaya penangkapan Cumi-cumi (Loligo spp.) tahun 2016-2020.

Prosedur Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dimana dalam penelitian ini menggambarkan suatu keadaan secara objektif yang sedang terjadi pada masa sekarang dengan hasil penelitian berupa angka-angka yang memiliki makna yang dilakukan dengan langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, analisis atau pengolahan data yang kemudian dipaparkan secara tertulis oleh penulis. Sedangkan metode analisa hasil menggunakan metode penelitian dengan model surplus produksi

Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer merupakan sumber data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara). Data primer dalam penelitian ini berupa informasi hasil tangkapan cumi-cumi yang didaratkan di PPS belawan /trip. Alat tangkap yang digunakan adalah Bouke Ami dengan hasil tangkapan cumi-cumi.

Data primer diperoleh dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung secara mendalam (In depth interview) serta pengamatan langsung semi partisipatif dengan responden/ahli terpilih yaitu narasumber dengan menggunakan alat bantu kuisioner. Pengolahan data primer menggunakan program Microsoft Excel 2010 dengan menggunakan aplikasi RAPFISH untuk mengetahui status keberlanjutan sumberdaya cumi-cumi di perairan Samudera Belawan. Data yang dibutuhkan terkait keberlanjutan sumberdaya ikan pelagis besar dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang

telah ada. Data sekunder meliputi data dari buku statistik perikanan dan kelautan PPS Belawan Sumatera Utara yaitu data hasil tangkapan dan upaya tangkap Cumi-cumi (Loligo spp.) tahun 2016-2020 dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, data sekunder kemudian diolah dengan menggunakan Microsoft Excel 2010.

Analisis Data

Penentuan Responden

Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara langsung ke nelayan, pihak pemerintah, dan pakar perikanan dengan bantuan kuisioner. Dibutuhkan beberapa responden untuk melakukan kuisioner pada RAPFISH dan dipilih secara acak (simple random sampling) dan penentuan jumlah responden nelayan yang menjadi target utama digunakan rumus Slovin yaitu :

n =

n = 9,72 n = 10 Keterangan :

n = jumlah responden N = jumlah populasi

e = tingkat kesalahan yang ditelorir (10%)

Hasil Tangkapan /Upaya Penangkapan (CPUE)

Catch per Unit Effort (CpUE) diartikan sebagai laju penangkapan ikan per tahun yang didapatkan dengan menggunakan data time series, minimal selama lima (5) tahun. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan berdasarkan pembagian antara jumlah hasil tangkapan (catch) Cumi-cumi (Loligo spp.) dengan

upaya penangkapan (effort). Persamaan yang digunakan adalah berdasarkan persamaan Gulland (1983) sebagai berikut:

Keterangan :

CPUE = Catch Per Unit Effort

Cpi = Hasil tangkapan peralat tangkap ke-i (ton) Fi = Upaya penangkapan pada tahun ke-i (trip)

Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum (Fopt)

Menurut Gulland (1983), data yang digunakan dalam metode produksi surplus berupa hasil tangkapan (catch) dan upaya penangkapan (effort) dan kemudian dilakukan pengolahan data melalui pendekatan model schaefer dan fox.

Model schaefer dan model fox merupakan model analisis regresi dari CPUE (Catch per Unit Effort) terhadap jumlah effort.

a. Model Schaefer

Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah:

Nilai Upaya Optimum (Fopt) adalah

Nilai Potensi Maksimum Lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) adalah:

b. Model Fox

Hubungan antara C (hasil tangkapan) dan f (upaya penangkapan) adalah:

Nilai Upaya Optimum (Fopt) adalah:

CPUE = a f + b (f)2

Fopt = -(a/2b)

𝑀𝑆𝑌 = −𝑎2 / 4b

C = F exp (a+b (f))

Fopt = - 1/ b

Nilai Potensi Maksimum Lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY) adalah:

Keterangan :

C = Jumlah hasil tangkapan persatuan upaya penangkapan (ton/trip) a = Intercept

b = Slope

f = Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i fopt = Upaya penangkapan optimal (trip)

MSY = Nilai potensi maksimum lestari (ton/tahun) Analisis Tingkat Pemanfaaan

Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan

Pendugaan Tingkat pemanfaatan sumberdaya pada Cumi-cumi (Loligo spp.) dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat pemanfaatannya di pps belawan yang dilakukan dengan cara menghitung jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu dengan nilai potensi maksimum lestari (Maximum Sustainable Yield/MSY). Rumus dari tingkat pemanfaatan adalah sebagai berikut:

Keterangan:

Ci : Jumlah hasil tangkapan Cumi-cumi (Loligo spp.) pada tahun ke-i; dan MSY : Maximum sustainable yield (potensi maksimum lestari)

Selain mengetahui tingkat pemanfaatan, maka perlu diketahui pula tingkat pengupayaan. Rumus yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengupayaan, sebagai berikut:

Keterangan:

TPf : Tingkat Pengupayaan pada tahun ke-i (%) MSY = - 1 / b × ln a / b

TP = Ci / MSY × 100%

TPe = ( Ei / Fopt . MSY) x100%

Fs : Upaya penangkapan (Effort standar) pada tahun ke-i (trip) Fopt : Upaya penangkapan optimum (ton/thn)

Total Allowble Catch (TAC)

Dilihat jumlah produksi ikan Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai TAC (Total Allowable Catch) / jumlah tangkapan yang diperbolehkan. TAC (Total Allowable Catch) tersebut adalah 80% dari potensi maksimum lestarinya (CMSY) (Budiasih dan Dewi, 2015) Rumus jumlah tangkapan yang diperbolehkan yaitu:

Keterangan :

TAC = Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (kg/thn) MSY = Maximum Suistainable Yield (kg)

Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB) atau Total Allowabel Catch (TAC) sebesar 80 % dari jumlah hasil tangkapan masksimum berkelanjutan (Maximum Sustainable Yield), jika JTBMSY berarti sudah terjadi over fishing, sehingga perlu adanya pengurangan terhadap upaya penangkapan untuk mengembalikan stok lestari ikan di perairan (Fitriana et al., 2016).

Analisis Status Keberlanjutan

Analisis keberlanjutan dengan teknik RAPFISH ini dilakukan dengan mereview yaitu dengan melihat referensi dari jurnal kemudian mendiskusikan kembali bersama pakar bidang perikanan, mengidentifikasi dan mendefinisikan atribut perikanan yang digunakan. Setelah itu dilakukan penilaian (scoring) perikanan yang dianalisis. Penilaian (scoring) didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan dalam teknik RAPFISH. Data hasil scoring diproses dengan Software RAPFISH yang dipautkan (add-ins) pada MS-Excel. Sesuai masukan

TAC= 80% x MSY

hasil skor atribut yang tersusun dalam matriks 'RapScores’ dalam bentuk lembaran kerja perangkat lunak MS-Excel (Mulyana et al., 2012).

Teknik Rapfish (Rapid Appraissal for Fisheries) merupakan teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada yang merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability dari perikanan secara multidisipliner.

Rapfish didasarkan pada teknik ordinasi yaitu menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS).

Aspek dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan (Nababan et al., 2017)

Analisis keberlanjutan Cumi-cumi (Loligo sp) pada penelitian ini dilakukan secara keberlanjutan yang mencakup 5 dimensi (dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi kelembagaan) tahap penelitian setiap atribut dalam skala koordinasi berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi, analisis koordinasi yang berbasis metode multi dimensional scaling (MDS), penyusunan indeks dan status keberlanjutan sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp) yang dikaji baik umum pada setiap dimensi.

Prosedur analisis dengan metode RAPFISH akan melalui beberapa tahapan sebagai berikut Menurut Pitcher et al (2000) : Analisis terhadap data perikanan lokasi studi melalui data statistic, Analisis data pengamatan lapangan dan studi literatur, Melakukan skoring aspek keberlanjutan perikanan, Melakukan analisis multi dimensional scalling (MDS) dengan template excel untuk menentukan ordinasi dan nilai stress melalui ALSCAl algoritma, Melakukan rotasi untuk menentukan posisi perikanan pada ordinasi bad dan good dan

Melakukan sensitivity analysis (leverage analysis) dan Monte Carlo analysis untuk memperhitungkan aspek ketidakpastian.

Sumber/source : Alder et al. (2000) yang di dalam Nababan et al. (2017)

Identifikasi dan Penentuan Atribut 5 Dimensi Keberlanjutan

Menurut Suryana et al (2012), setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan sustainability, dengan atribut penilaian. Kelima dimensi tersebut antara lain : (1) ekologi; (2) ekonomi; (3) teknologi; (4) sosial dan (5) kelembagaan.

Pada setiap atribut disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan tujuan agar hasil penelitian ini dapat lebih bermanfaatan dan diaplikasikan pada situasi yang lebih bervariasi. Penentuan atribut menunjukkan atribut-atribut setiap dimensi yang diharapkan menjadi bahan penentuan indikator kinerja pembangunan perikanan tangkap, sekaligus sebagai bahan rekomendasi bagi penyusunan kebijakan pengelolaan subsektor perikanan tangkap yang lestari. Dari identifikasi ini juga akan menghasilkan atribut-atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya Cumi-cumi (Loligo spp).

Proses Ordinasi

Secara singkat, hasil ordinasi adalah transformasi keseluruhan atribut dalam suatu dimensi keberlanjutan perikanan, kemudian jarak atau kesamaan matriksnya diperhitungkan kembali. Ketepatan pengukuran dan/atau transformasi ini ditunjukkan oleh nilai stress. Selain itu, koefisien determinasi (R2) yang mengungkapkan proporsi ragam dari masukan data matriks yang dapat dijelaskan oleh hasil skala multi-dimensional (Fauzi dan Anna, 2005).

Tahap analisis teknik penentuan jarak atau ordinasi nilai indek keberlanjutan dengan menggunakan metode Multi Dimensional Scalling (MDS).

Metode MDS ialah salah satu metode ordinasi pada ruang (dimensi) yang diperkecil. Untuk memudahkan ordinasi keberlanjutan Cumi-Cumi (Loligo spp) menggunakan perangkat lunak modifikasi RAPFISH. Perangkat lunak RAPFISH ini merupakan pengembangan MDS yang ada di dalam perangkat lunak SPSS.

Proses Rotasi

Pengolahan data selanjutnya mengunkakan metode trigonometri untuk rotasi masukan matriks V (Nx2 ) menjadi matriks 'Vrotate' pada vektor horizontal atau sejajar absis yang sisi kirinya buruk dan sisi kanannya baik. Untuk memproyeksikan titik-titik tersebut pada garis mendatar dilakukan proses rotasi, dengan titik ekstrem “buruk” diberi nilai skor 0% dan titik ekstrem “baik”

diberikan nilai skor 100%. Kesalahan posisi titik yang bersifat kebalikan cermin (mirror image ambiguity) bisa terjadi dalam MDS, tetapi dengan adanya titik-titik acuan tambahan (anchors) kesalahan ini jaring terjadi. Untuk menjamin tidak terjadinya kesalahan ini maka dalam proses ALSCAL.

Skala Indeks Keberlanjutan

Skala indeks keberlanjutan ketersediaan cumi-cumi mempunyai selang 0 - 100%. Jika sistem yang dikaji mempunyai nilai indeks lebih dari 50% (>50%) maka keberlanjutan dan sebaliknya jika kurang dari 50% (< 50%) maka belum berkelanjutan. Namun demikian ada 4 kategori status berkelanjutan berdasarkan skala besar tersebut, seperti pada tabel 1. Tabel 1. Kategori status keberlanjutan Tabel 1. Kategori Penilaian Status Keberlanjutan

No. Nilai Indeks Dimensi Kategori Keterangan

1. 0 – 25 Buruk Tidak Berkelanjutan

2. 26 Kurang Kurang Berkelanjutan

3. 51 Cukup Cukup Berkelanjutan

4. 76 Baik Berkelanjutan

Sumber : Pitcher dan Preikshot (2001) Analisis Monte Carlo

Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004), tujuan dari analisis ini ialah untuk mengetahui pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut, pengaruh variasi pemberian skor, stabilitas proses analisis Multi Dimensional Scalling (MDS) yang dilakukan berulang, dan kesalahan pemasukan atau hilangnya data (missing data).

Untuk Menggambarkan RAPFISH secara statistik dengan pengukuran nilai stress atau yang dilambangkan dengan S dan r-squared (squared correlation) dari masing masing atribut. Model yang baik ditunjukkan dengan nilai Stress dibawah nilai 0,25, dan nilai R2 di atas kepercayaan 95% atau mendekati nilai 1 (100%)

Tujuan dari analisis monte carlo ini ialah untuk mengetahui 1) Pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut; b) Pengaruh variasi pemberian skor; 3) Stabilitas proses analisis MDS yang dilakukan berulang; dan d) Kesalahan pemasukan atau hilangnya data (missing data).

Dalam dokumen STATUS KEBERLANJUTAN PENANGKAPAN CUMI-CUMI (Halaman 26-36)

Dokumen terkait