BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi
1. Sejarah Singkat Bank Rakyat Indonesia
Bank Rakyat Indonesia atau yang lebih sering dikenal dengan BRI adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Awal mulanya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia/ pribumi). Bank Rakyat Indonesia berdiri tanggal 16 Desember 1895.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1946 Pasal 1 menyebutkan bahwa Bank BRI adalah Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Akibat situasi perang pada tahun 1948 kegiatan Bank Rakyat Indonesia sempat terhenti dan aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari Bank Rakyat Indonesia, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian, berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 9 Tahun 1965, BKTN diintergrasikan ke dalam bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
commit to user
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan Bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang ekspor impor (http://www.bri.co.id).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Undang-Undang Pokok Perbankan dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Undang-Undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rural dan Ekspor impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok Bank Rakyat Indonesia sebagai Bank umum.
Sejak tanggal 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No.
21 tahun 1992 status Bank Rakyat Indonesia berubah menjadi PT.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang kepemilikannya masih 100%
ditangan Pemerintah. PT. BRI (Persero) yang didirikan sejak tahun 1985 didasarkan pelayanan pada masyarakat kecil sampai sekarang tetap konsisten, yaitu dengan fokus pemberian fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Hal ini antara lain tercermin pada perkembangan penyaluran KUK pada tahun 1994 sebesar Ro.
6.419,8 milyar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1 milyar pada tahun 1995 dan pada tahun 1999 sampai dengan bulan September sebesar Rp. 20.466 milyar.
commit to user
2. Visi dan Misi Bank Rakyat Indonesia 1) Visi
Menjadi Bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.
2) Misi
a) Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.
b) Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringaan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dengan melaksanakan praktek good corporate governance.
c) Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
3. Produk Bank BRI 1) Tabungan
Produk tabungan bank BRI di antaranya adalah tabungan BritAma, Simpedes TKI, Simpedes, Haji, BritAma Bisnis, BritAma Dollar, BritAma Valas, BritAma Rencana, BritAma Junior serta TabunganKu.
Produk tabungan yang tersedia sangat beragam, mulai dari tabungan untuk orang dewasa, anak-anak hingga tabungan haji dan asing. Ini akan memudahkan kita dalam memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dalam menyimpan uang.
2) Deposito
Selanjutnya yaitu ada produk deposito Bank BRI. Termasuk diantaranya adalah Deposito Rupiah, On Call dan Valas. Selain deposito, produk bank BRI juga mencakup giro. Produk giro bank BRI meliputi GiroBRI Valas dan GiroBRI Rupiah commit to user
3) Pinjaman
Selain aneka produk simpanan di atas bank BRI juga menawarkan aneka produk pinjaman produk bank BRI pinjaman terbagi ke dalam lima kategori yaitu pinjaman mikro, pinjaman ritel, pinjaman menengah, pinjaman program dan pinjaman Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Usaha untuk pinjaman mikro yang disediakan oleh Bank BRI meliputi Kupedes yang biasanya digunakan di daerah daerah pedesaan.
Selanjutnya ada program pinjaman ritel yang terdiri dari kredit agunan kas, kredit modal kerja, kredit investasi, KMK konstruksi, KMK konstruksi BO 1, KMK Ekspor, Kredit BRIGuna, Kredit SPBU, Kredit Waralaba, Kredit Kepemilikan Gudang, Kredit Resi Gudang, KMK Talangan SPBU, Kredit Waralaba Alfamart, Kredit Batubara, serta Kredit Pola Angsuran Tetap.
Program ritel dari Bank BRI ini lebih ditujukan pada perusahaan atau ritel, bukan untuk perorangan. Sementara yang termasuk dalam produk Bank BRI pinjaman menengah adalah Kredit Agribisnis. Sesuai namanya produk ini dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian atau agribisnis yang dijalankan.
4) Pinjaman Program
Produk bank BRI selanjutnya adalah pinjaman program.
Termasuk dalam produk ini ialah KPEN-RP, KKPE dan KKPE Tebu. Terakhir ialah Pinjaman Kredit Usaha Rakyat atay KUR yang meliputi KUR BRI dan KUR TKI BRI.
Kredit Usaha Rakyat ini akan sangat bermanfaat untuk masyarakat yang hendak membuka usaha sendiri namun terkendala modal. Melalui program KUR, masyarakat atau lembaga UMKM dapat memperoleh modal untuk menjalankan usahanya. Produk yang dikeluarkan Bank BRI tidak hanya commit to user
sebatas untuk nasabah dalam negeri, namun juga secara internasional.
5) Produk Bank BRI Internasional
Produk Bank BRI untuk internasional diantaranya adalah BRI Trade Finance and Services atau layanan jual beli dan keuangan. Termasuk diantaranya adalah ekspor, impor, SKBDN, BRI RTE Online System serta Standby L/C.
Berikutnya BRI juga memiliki produk internasional berupa BRI first ray Mitten serta finansial institusi shion yang terdiri dari produk serta layanan transaksi koresponden banking terakhir dalam produk internasional BRI mencakup BRI Money Changer serta unit kerja luar negeri. Produk Bank BRI selanjutnya turut mencakup aneka jasa lain yang ditawarkan Bank BRI. Jasa bisnis Bank BRI diantaranya adalah jasa kliring, bank garansi, SKBDN hinga remittance. Sementara jasa lain yang ditawarkan ialah layanan ekspor dan impor.
Bank BRI turut memiliki aneka jasa keuangan, meliputi bill payment, transaksi online, jasa penerimaan setoran hingga transfer serta LLG. Sementara untuk jasa kelembagaan Bank BRI mencakup SPP Online serta Cash Management BRI.
6) E-Banking BRI
Produk bank BRI juga tidak lepas dari E-Banking BRI. Ini karena perbankan online sudah begitu menjamur di tengah masyarakat dan sering digunakan. Dukungan E-Banking BRI meliputi ATM BRI, phone banking BRI, SMS banking BRI, internet banking BRI, KIOSK BRI, E-Buzz, Mini ATM BRI, MoCash, BRIZZI hingga EDC Merchant.
BRI turut mengeluarkan aneka treasury yang mencakup Money Market, Foreign Exchange, Fixed Income, produk derivatif serta keunggulan dan juga prosedurnya. Produk bank BRI juga mencakup aneka produk yang dapat dinikmati commit to user
secara langsung dalam bentuk fisik oleh konsumen, atau produk konsumen.
7) Kartu Kredit
Untuk produk ini, BRI menyediakan Kartu Visa, BRI Visa Touch Gold dan BRI Visa Touch Silver. Selain kartu Visa, BRI juga menyediakan kartu Master.
BRI juga tentunya menyediakan Kredit Kepemilikan Rumah atau KPR, yang terdiri dari KPR BRI serta Simulasi. Selain itu, tersedia pula Kredit Kendaraan Bermotor atau KKB yang terdiri dari KKB Mobil Baru dan Bekas, KKB Harley Davidson, KKB Refinancing serta Simulasi.
8) Outlet SKK
Produk bank BRI berikutnya adalah Outlet SKK. Yang tidak tertinggal dari produk BRI ialah investasi perbankan. BRI turut menyediakan berbagai investasi perbankan, di antaranya adalah ORI & SR, DPLK, Jasa Wali Amanat serta Jasa Kustodian.
9) Layanan Prioritas
Produk bank BRI yang terakhir adalah layanan prioritas.
Layanan ini terdiri dari produk, layanan serta privileges. Reksadana juga termasuk ke dalamnya. Layanan prioritas turut mencakup Fund Fact Sheet serta Prospektus.
Layanan prioritas lainnya adalah Kartu BRI Prioritas, Kriteria Nasabah serta Outlet Layanan Prioritas. Dengan menggunakan layanan prioritas ini, nasabah prioritas berdasarkan kriteria tertentu akan didahulukan dibanding nasabah yang lain. Ini akan sangat membantu nasabah dalah mendapatkan layanan perbankan secara lebih cepat dan mudah.
Dari produk-produk Bank BRI yang telah disebutkan diatas, produk yang termasuk mendapatkan treatment Covid-19 adalah fasilitas pinjaman. Sesuai dengan arahan POJK Nomor 11 Tahun 2020 tentang commit to user
Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical, Bank BRI memberikan restrukturisasi kredit bagi nasabah yang terdampak Covid-19 mulai dari usaha mikro, kecil, dan ritel. Kriteria kredit yang mendapatkan keringanan yakni kredit yang tidak termasuk kategori macet sebelum periode pandemi Covid-19.
4. Struktur Organisasi
Di dalam sebuah organisasi bank, baik itu terbentuk organisasi perusahaan maupun organisasi perkumpulan biasa, pasti mempunyai struktur organisasi salah satu tujuannya adalah untuk menggambarkan batas-batas tugas, wewenang dan tanggungjawab serta bagaimana hubungan antara suatu bagian dengan bagian lainnya dalam organisasi tersebut guna mencapai tujuan bersama (Muhrizal, 2017: 92). Untuk menggerakkan organisasi dibutuhkan personil yang memegang jabatan tertentu dalam organisasi dimana masing-masing personil diberi tugas, wewenang dan tanggungjawab sesuai dengan jabatanya. Hubungan dan kerjasama dalam organisasi dituangkan dalam struktur organisasi. Struktur organisasi Bank BRI Surakarta adalah sebagai berikut:
commit to user
60
Sumber: Bank BRI
PEMIMPIN CABANG
MANAJER PEMASARAN
PBO AO KOMERSIAL
FUNDING OFFICER
SUPV. PENUNJANG
BISNIS SUPV. PENUNJANG OPS
AO BRI GUNA
PELAKSANA ADK
KOMERSIAL PELAKSANA
SEKRETARIAT &
PERSON SDM PEMASARAN
AO PROGRAM
PELAKSANA ADK BRI GUNA
ASS. MANAJER OPERASIONAL
SUPV. LAYANAN KAS
SUPV. LAYANAN OPS
PELAKSANA TELLER
MANAJER BISNIS MIKRO
ASS. MANAJER BISNIS
CUSTOMER SERVICE
PELAKSANA TKK
PELAKSANA ADM DJS &
REKONS
22 BRI UNIT PELAKSANA
LOGISTIK
PELAKSANA ADM UNIT
PELAKSANA KLIRING
SATPAM/PKSS
PRAMUBAKTI/PKSS
SOPIR/PKSS PELAKSANA QA
PELAKSANA LAYANAN PELAKSANA IT DAN
E-CHANEL
13 TERAS
commit to user
Berikut ini penjelasan dari setiap bagian organisasi Bank BRI Surakarta:
1) Pimpinan Cabang
Tugas dan tanggung jawab pimpinan cabang, yaitu:
a) Mengkoordinasikan dan memonitor kegiatan perencanaan dan pengembangan atas penyelenggaraan usaha-usaha bank yang meliputi kegiatan pemasaran dan pengelolaan dana, jasa, pinjaman, kegiatan operasional Kanca.
b) Menjabat dan menjalankan fungsi Unit Kerja Khusus (UKK) untuk melaksanakan program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) sesuai ketentuan/kebijakan, sistem dan prosedur yang berlaku dalam upaya mencapai target yang telah ditetapkan.
2) Manajer Pemasaran
Tugas dan tanggung jawab manajer pemasaran, yaitu:
a) Mengkoordinasikan dan memonitor kegiatan penyusunan rencana strategis, pengembangan dan pemasaran pinjaman, simpanan dan cross selling produk BRI lainnya agar mencapai target yang telah ditetapkan.
b) Manajer Pemasaran membawahi langsung bidang Priority Banking Officer (PBO), Funding Officer (FO), Person Pemasaran, Account Officer (AO) Komersial, AO BRIGuna, dan AO Program.
3) Assisten Manajer Operasional
Tugas dan tanggung jawab assisten manajer operasional, yaitu:
a) Mengkoordinasikan dan memonitor kegiatan pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaksanaan operasional di kantor cabang.
b) Memberikan pelayanan prima berdasarkan standar layanan dengan prinsip kehati-hatian.
c) Menjabat dan menjalankan fungsi Unit Kerja Khusus (UKK) untuk melaksanakan program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) sesuai ketentuan/kebijakan, sistem dan prosedur yang berlaku dengan kewenangan bidang tugas dalam upaya mencapai target yang telah ditetapkan.
commit to user
4) Manajer Bisnis Mikro
Tugas dan wewenang manajer bisnis mikro, yaitu:
a) Mengkoordinasikan dan memonitor kegiatan penyusunan rencana strategis, pengembangan dan pemasaran pinjaman, simpanan BRI Unit serta cross selling produk BRI.
b) Melakukan pembinaan pada Unit binaannya sesuai ketentuan atau kebiajakan yang berlaku dan kewenangan bidang tugasnya agar mencapai target yang telah ditetapkan.
5) Supervisor Penunjang Bisnis
Tugas dan tanggung jawab supervisor penunjang bisnis, yaitu:
a) Mensupervisi pengelolaan administrasi dan dokumentasi, pinjaman berdasarkan prosedur yang jelas.
b) Rutin melakukan pengelolaan administrasi yang kompleks untuk meminimalkan risiko.
c) Memperlancar proses operasional pinjaman sesuai target yang ditetapkan dan ketentuan yang berlaku.
d) Supervisor Penunjang Bisnis membawahi langsung bidang Pelaksana ADK Komersial dan Pelaksana ADK BRIGuna.
6) Supervisor Penunjang Operasional
Tugas dan tanggung jawab supervisor penunjang operasional, yaitu:
a) Mensupervisi kegiatan pengembangan, pengelolaan dan administrasi SDM, logistik, IT & e-Channel dan laporan untuk meminimalkan risiko.
b) Menunjang dan memperlancar proses operasional di Kantor Cabang serta unit kerja dibawahnya.
c) Supervisor Penunjang Operasional membawahi langsung bidang Pelaksana Skretariat dan SDM, Pelaksana Logistik, Pelaksana IT dan E- Channel,
d) Pelaksana Adm Unit, Pelaksana Layanan, Pelaksana Quality Assurance (QA), Sopir, Satpam dan Pramubakti.
commit to user
7) Supervisor Layanan Kas
Tugas dan tanggung jawab supervisor layanan kas, yaitu:
a) Mensupervisi kegiatan layanan transaksi pembukuan, kas dan administrasi serta rekonsiliasi.
b) Memberikan pelayanan prima berdasarkan standar layanan serta memperhatikan kecukupan & efektivitas sistem pengendalian intern dan implementasi manajemen risiko untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
c) Supervisor Layanan Kas membawahi langsung bidang Pelaksana Teller dan Pelaksana Tim Kurir Kas (TKK).
8) Supervisor Layanan Operasional
Tugas dan tanggung jawab supervisor layanan operasional, yaitu:
a) Mensupervisi kegiatan layanan dan administrasi produk dan jasa perbankan kepada nasabah berdasarkan standar layanan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
b) Supervisor Layanan Operasional membawahi langsung bidang Customer Service dan Pelaksana Adm DJS dan Rekonsiliasi dan Pelaksanan Kliring.
9) Assisten Manajer Bisnis Mikro
Tugas dan tanggung jawab assisten manajer bisnis mikro, yaitu:
a) Mengkoordinasikan dan memonitor kegiatan penyusunan rencana strategis, pengembangan dan pemasaran pinjaman, simpanan BRI Unit serta cross selling produk BRI lainnya.
b) Melakukan pembinaan pada Unit binaannya sesuai ketentuan atau kebijakan yang berlaku dan kewenangan bidang tugasnya untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
c) Assisten Manajer Bisnis Mikro mengawasi langsung BRI Unit dan Teras BRI.
commit to user
B. Pelaksanaan Penyelesaian Kredit Macet UMKM berdasarkan POJK Nomor 11 Tahun 2020 karena Pandemi Covid-19 di Bank BRI Surakarta
1. Proses Pemberian Kredit UMKM di PT. Bank Rakyat Indonesia Surakarta
Bank BRI menyediakan 2 kategori pinjaman mikro yang dapat dijadikan pilihan untuk UMKM, yaitu Kredit Usaha Mikro (KUR) dan Kupedes. Sesuai dengan namanya, KUR merupakan jenis pinjaman dari Bank BRI yang diperuntukkan bagi pelaku usaha mikro, usaha kecil, dan koperasi, dengan batas pinjaman mencapai Rp 500.000.000.
Sementara Kupedes adalah jenis pinjaman yang diperuntukkan bagi semua sektor ekonomi, baik itu badan usaha maupun individu, selama memenuhi persyaratan yang diberlakukan.
a. Persyaratan Pinjaman KUR
Bagi UMKM yang ingin melakukan pinjaman KUR, syaratnya adalah harus memiliki usaha produktif, layak, serta setidaknya telah berjalan secara aktif kurang lebih minimal 6 bulan.
Selain itu peminjam juga tidak sedang menerima kredit apapun dari perbankan, kecuali untuk keperluan konsumtif, seperti kartu kredit, KPR, KKB, dan lain-lain.
b. Persyaratan Pinjaman Kupedes
Peminjam harus memiliki pengalaman usaha setidaknya minimal 1 tahun, melampirkan legalitas usaha (minimal surat keterangan usaha dari Kepala Desa/Lurah/Pasar), melengkapi identitas diri yang diminta, seperti KTP atau SIM.
commit to user
Cara untuk mendapatkan fasilitas ini, calon debitur dapat mencari informasi tentang persyaratan pengajuan pinjaman BRI BRI untuk UMKM melalui online, yaitu dengan mengunjungi situs bank BRI secara langsung.
UU Cipta Kerja telah mengubah beberapa ketentuan yang ada berlaku di Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UU UMKM).
Salah satu ketentuan yang diubah adalah mengenai kriteria dari UMKM itu sendiri. Namun UU Cipta Kerja hanya menentukan kriterianya saja, tanpa mendeskripsikannya secara jelas. Sehingga, hanya diamanatkan untuk diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah (PP). Hal ini terjawab pada PP UMKM, tepatnya pada Pasal 35-36 PP UMKM.
Dalam pasal tersebut, diatur bahwa pengelompokkan UMKM didasarkan atas modal usaha atau hasil penjualan tahunan. Kriteria modal usaha digunakan untuk pengelompokkan UMKM yang baru ingin didirikan setelah PP UMKM berlaku. Sementara kriteria penjualan tahunan digunakan untuk pengelompokkan UMKM yang telah ada sebelum PP ini berlaku.
Kriteria modal usaha adalah sebagai berikut:
a. Usaha Mikro : Maksimal Rp 1 Milyar b. Usaha Kecil : Lebih dari Rp 1 – 5 Milyar c. Usaha Menengah : Lebih dari Rp 5 – 10 Milyar Semuanya tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
Kriteria hasil penjualan tahunan terdiri atasL a. Usaha Mikro : Maksimal Rp 2 Milyar b. Usaha Kecil : Lebih dari Rp 2 – 15 Milyar c. Usaha Menengah : Lebih dari Rp 15 – 50 Milyar
commit to user
Besaran nominal kriteria tersebut dapat berubah sesuai perkembangan perekonomian (Pasal 35 ayat (7) PP UMKM). Selain itu, dapat pula digunakan kriteria tambahan oleh kementerian/lembaga negara sesuai dengan sektor usahanya (Pasal 36 PP UMKM).
Berdasarkan hasil wawancara penulis yang dilakukan pada tanggal 1-2 Maret 2021 dengan Ibu Ida Nurhayati, S.H., M.H. selaku Credit Supervisor dan Bapak Arif selaku Account Officer (AO) maka penulis dapat mengemukakan bahwa proses pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) dilakukan secara bertahap yaitu sebagai berikut:
1) Tahap Permohonan Kredit
Calon debitur mengajukan permohonan Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara tertulis kepada pihak Bank BRI Surakarta. Calon debitur KUR datang ke kantor Bank BRI Surakarta, kemudian dengan dibantu oleh Account Officer, calon debitur KUR mengisi formulir pendaftaran atau formulir pengajuan permohonan KUR yang sudah disediakan pihak bank, kemudian ditandatangani oleh pemohon. (Hasil wawancara dengan Ibu Ida selaku Credit Supervisor BRI Surakarta pada tanggal 1 Maret 2021 pukul 10.00 WIB).
Calon debitur Kredit Usaha Rakyat diharuskan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam hal pengajuan permohonan Kredit Usaha Rakyat. Kredit Usaha Rakyat diperkenalkan sebagai kredit yang mudah didapat, maka syarat-syarat yang ditetapkan pun sangat sederhana. Syarat-syarat yang perlu disertakan adalah bukti identitas diri berupa fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), fotokopi Kartu
commit to user
Keluarga (KK), dan Surat Keterangan Usaha.
Bank perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam menilai suatu permohonan kredit yaitu sebagai berikut (Gunarto Suhadi, 2003 : 96):
a) Bank hanya memberikan kredit apabila permohonan kredit diajukan secara tertulis. Hal ini berlaku baik untuk kredit baru, perpanjangan jangka waktu, tambahan kredit, maupun permohonan perubahan persyaratan kredit, b) Permohonan kredit harus memuat informasi yang
lengkap dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank.
c) Bank harus memastikan kebenaran data informasi yang disampaikan dalam permohonan kredit.
2) Tahap Analisis Kredit atau Tahap Pemeriksaan Berdasarkan arahan Bank Indonesia sebagaimana termuat dalam SK Direksi Bank Indonesia No.
27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995, setiap permohonan kredit yang telah memenuhi syarat harus dianalisis secara tertulis dengan pinsip sebagai berikut:
a) Bentuk, format, dan kedalaman analisis kredit ditetapkan oleh bank yang disesuaikan dengan jumlah dan jenis kredit.
b) Analisis kredit harus menggambarkan konsep hubungan total permohonan kredit. Ini berarti bahwa persetujuan pemberian kredit tidak boleh berdasarkan semata-mata atas pertimbangan permohonan untuk satu transaksi atau satu rekening kredit dari pemohon, namun harus didasarkan atas dasar penilaian seluruh kredit commit to user
dari pemohon kredit yang telah diberikan dan atau akan diberikan secara bersama-sama oleh bank.
c) Analisis kredit harus dibuat secara lengkap, akurat, dan objektif yang sekurang-kurangnya meliputi:
(1) Menggambarkan semua informasi yang berkaitan dengan usaha dan data pemohon termasuk hasil penelitian pada daftar kredit macet,
(2) Penilaian kelayakan jumlah permohonan kredit dengan kegiatan usaha yang akan dibiayai, dengan sasaran menghindari kemungkinan terjadinya praktek mark up yang dapat merugikan bank,
(3) Menyajikan penilaian yang objektif dan tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan permohonan kredit.
d) Analisa kredit sekurang-kurangnya harus mencakup penilaian tentang prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economy) dan penilaian terhadap sumber pelunasan kredit yang dititikberatkan pada hasil usaha yang dilakukan pemohon serta menyediakan aspek yuridis perkreditan dengan tujuan untuk melindungi bank atas resiko yang mungkin timbul.
e) Dalam penilaian kredit sindikasi harus dinilai pula bank yang bertindak sebagai bank induk.
commit to user
Berdasarkan arahan diatas, tetap terbuka peluang bagi bank-bank untuk mengatur kebijakan kreditnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bank itu sendiri. Bank BRI Surakarta dalam melakukan analisis kredit pun mempunyai kebijakan sendiri yang tentunya tetap berpedoman pada arahan Bank Indonesia. Laporan Keuangan calon debitur merupakan salah satu data pokok mutlak dalam hal analisis.
Pada tahap pemeriksaan, setelah syarat-syarat dilengkapi, pihak BRI Surakarta dalam hal ini Mantri (Account Officer) akan melakukan checking serta peninjauan langsung ke lapangan tentang layak atau tidaknya calon debitur Kredit Usaha Rakyat diberikan pinjaman dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan permohonan KUR tersebut antara lain:
a) Mencocokan fotokopi bukti diri/ identitas lain sesuai dengan aslinya.
b) Menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan usaha calon debitur Kredit Usaha Rakyat. Misalnya:
tentang permodalan, usaha berjalan berapa lama, pinjaman pada pihak lain, dll. Tujuannya adalah untuk menganalisis apakah calon debitur mampu mengembalikan pinjaman atau tidak.
c) Menanyakan tentang cash flow dari usaha yang telah berjalan dan keuntungan per bulan dari usaha calon debitur Kredit Usaha Rakyat tersebut dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan membayar pinjaman.
(Hasil wawancara dengan Bapak Arif R selaku Mantri/Account Officer BRI Surakarta pada tanggal 2 Maret 2021 pukul 10.00 WIB).
commit to user
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan pihak Bank sebagai Kreditur yaitu analisa yang mendalam terhadap calon debitur, dikenal dengan beberapa prinsip 4P dan 7P. Prinsip pemberian kredit 4 P adalah:
a) Personality
“Bank mencari data tentang kepribadian si peminjam seperti riwayat hidupnya (kelahiran, pendidikan , pengalaman, usaha, hobi, keadaan keluarganya dan yang ada kaitannya dengan kepribadian si peminjam).”
b) Purpose
“Mencari data tentang tujuan atau keperluan penggunaan kredit, apakah akan digunakan untuk berdagang, berproduksi atau untuk membeli rumah, dan apakah tujuan penggunaan kredit itu sesuai dengan line of business kredit bank bersangkutan.”
c) Prospect
“Harapan masa depan dari bidang usaha atau kegiatan usaha si peminjam. Ini dapat diketahui dari perkembangan usaha si peminjam selama beberapa bulan atau tahun, perkembangan keadaan ekonomi perdagangan masa lalu dan masa yang akan datang.”
d) Payment
“Mengetahui bagaimana pembayaran kembali pinjaman yang akan diberikan. Hal ini dapat diperoleh dari perhitungan tentang prospect, kelancaran, penjualan dan pendapatan sehingga dapat diperkirakan kemampuan pengembalian pinjaman ditinjau dari waktu serta jumlah pengambilannya.”
commit to user
Selain prinsip 4P, prinsip lainnya yang digunakan oleh lembaga keuangan dalam memberikan kredit adalah prinsip 7P, yaitu:
a) Personality
Kriteria pertama adalah personality, yaitu kepribadian dari calon peminjam yang mengajukan kreditnya. Kriteria ini hampir sama dengan kriteria character dari prinsip 5C yang telah dijelaskan diatas, dimana melihat bagaimana keseluruhan kepribadian nasabah mencakup sikap dan perilakunya sehari-hari.
b) Party
Yang kedua dalam prinsip 7P adalah party, dimana calon peminjam dimasukkan ke dalam beberapa golongan yang terkait dengan kondisi keuangannya. Biasanya pihak bank mengklasifikasikan nasabah berdasarkan modal yang dimiliki, kepribadian, loyalitas, dan lain sebagainya. Dengan adanya perbedaan klasifikasi dan golongan ini, akan ada perbedaan pula dalam pemberian fasilitas kredit nantinya.
c) Purpose
Kriteria yang ketiga adalah purpose, yaitu apa tujuan dari calon peminjam dalam mengajukan kreditnya pada lembaga keuangan. Pihak bank perlu mengetahui untuk apa dana tersebut akan digunakan, misalnya untuk modal usaha, investasi, biaya pendidikan, atau justru kegiatan konsumtif.
Hal ini juga akan menyesuaikan dengan fokus dari bank atau lembaga keuangan tersebut, misalnya jika bank tersebut berfokus pada pengelolaan modal maka akan tepat bagi nasabah yang mengajukan kredit untuk usaha.
commit to user
d) Prospect
Kriteria keempat dari prinsip 7P adalah prospect, yaitu bagaimana prospek dari usaha yang dijalankan oleh calon peminjam. Tentu saja prinsip ini berlaku khusus bagi nasabah yang mengajukan pinjaman untuk modal usaha atau bisnis yang dikelolanya. Dengan mengetahui apakah usaha dan bisnis tersebut memiliki prospek ke depan yang bagus atau tidak, maka bank pun dapat memprediksi bagaimana perkiraan kemampuan bayar dari nasabah.
e) Payment
Masih berkaitan dengan kriteria sebelumnya, kriteria yang kelima ini juga bertujuan mengukur bagaimana kemampuan bayar dari calon peminjam. Prinsip payment dilihat dari sumber pendapatan nasabah, kelancaran usaha yang dijalankan, hingga prospek dari usaha tersebut. Dengan begitu, pihak bank atau lembaga keuangan dapat menilai apakah nasabah tersebut memang dapat membayar kreditnya atau tidak.
f) Profitability
Kriteria keenam adalah profitability, dimana pihak bank melihat bagaimana kemampuan calon peminjam dalam menghasilkan keuntungan atau laba. Sama seperti beberapa kriteria sebelumnya, kriteria ini lebih dikhususkan pada nasabah yang meminjam untuk keperluan usahanya. Semakin tinggi tingkat profitability dari calon peminjam, maka akan semakin tinggi pula kemungkinan kredit yang diajukan dapat disetujui bank.
g) Protection
Tidak jauh berbeda dengan kriteria collateral pada prinsip 5C, kriteria protection ini juga mengacu pada jaminan yang dapat diberikan oleh calon peminjam. Selain jaminan berupa
commit to user
barang seperti aset rumah atau perusahaan, protection ini juga dapat berupa jaminan asuransi yang dimiliki oleh nasabah.
3) Tahap Pemberian Putusan Kredit
Tahap ini, calon debitur akan memperoleh keputusan kredit yang berisi persetujuan akan adanya pemberian Kredit Usaha Rakyat sesuai permohonan yang diajukannya. Keputusan persetujuan permohonan kredit berupa mengabulkan sebagian atau seluruh permohonan kredit dari calon debitur. Pihak Bank BRI Surakarta akan memberitahukan kepada calon debitur untuk mengkonfirmasi kembali beberapa hari menurut hari yang telah ditentukan oleh pihak bank setelah pengajuan permohonan kredit. Biasanya pemberian putusan dilakukan 3-5 hari setelah pendaftaran permohonan kredit usaha rakyat. (Wawancara tanggal 2 Maret 2021 pukul 10.00 WIB, dengan Arif selaku Mantri (AO) Bank BRI Surakarta)
Pada Bank BRI Surakarta, sebelum pemberian putusan kredit, Kepala Unit Bank BRI Surakarta wajib meneliti dan memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berkaitan atau yang mendukung pemberian keputusan kredit masih berlaku lengkap, sah, dan berkekuatan hukum.
Setiap pejabat yang terlibat dalam kebijakan persetujuan kredit harus mampu memastikan hal-hal berikut (Rachmat Firdaus, 2003:51):
a) Setiap kredit yang diberikan telah sesuai dengan prinsip perkreditan yang sehat dan ketentuan perbankan lainnya,
commit to user
b) Pemberian kredit telah sesuai dan didasarkan pada analisis kredit yang jujur, objektif, cermat, dan seksama (menggunakan 5C’s principlesi) serta independent,
c) Adanya keyakinan bahwa kredit akan mampu dilunasi oleh debitur. Kebijakan dari Bank BRI Surakarta, yang dapat diberikan Kredit Usaha Rakyat ini adalah debitur yang memiliki Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM). Bank BRI Surakarta tidak turut serta menyertakan koperasi, karena sampai saat ini Bank BRI Surakarta belum memberlakukan Linkage Program dimana kredit terhadap UMKM dapat disalurkan melalui koperasi.
4) Tahap Pencairan Kredit/Akad Kredit
Setiap proses pencairan kredit (disbursement) harus terjamin asas aman, terarah, dan produktif dan dilaksanakan apabila syarat yang ditetapkan dalam perjanjian kredit telah dipenuhi oleh pemohon kredit (Rachmat Firdaus, dkk. 2003 : 52). Setelah semua persyaratan terpenuhi dan pemberian kredit diikat oleh perjanjian kredit maka debitur dapat mengambil dana pinjaman yang telah dimohonkan kepada bagian teller Bank BRI Surakarta.
Tahap akad kredit/ pencairan meliputi beberapa tahap yaitu tahap persiapan pencairan, penandatangan perjanjian pencairan kredit, fiat bayar dan pembayaran pencairan kredit (Hasil wawancara dengan Ida Nurhayati, S.H., M.H. selaku Credit Supervisor Bank
commit to user
BRI Surakarta pada tanggal 1 Maret 2021 pukul 10.00 WIB).
Adapun penjelasan mengenai langkah-langkah pada tahap akad kredit adalah sebagai berikut:
a. Persiapan Pencairan
Setelah Surat Keterangan Permohonan Pinjam (SKPP) diputus, Costumer Services mencatatnya pada register dan segera mempersiapkan pencairan sebagai berikut:
1) Memberitahukan pada calon debitur bahwa permohonan KURnya telah mendapat persetujuan atau putusan dan kepastian tanggal pencairannya.
2) Menyiapkan Surat Pengakuan Hutang 3) Mengisi kuitansi pencairan KUR b. Penandatanganan Perjanjian Pencairan KUR
Berkas atau kelengkapan pencairan disini adalah Surat Pengakuan Hutang, sebelum penandatanganan berkas pencairan kredit usaha rakyat, Customer Service harus memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pencairan kredit usaha rakyat telah ditandatangani oleh debitur sebagai bukti persetujuan debitur. Setelah itu, Customer Service meminta debitur untuk membaca dan memahami Surat Pengakuan Hutang (SPH) dan menandatangani SPH tersebut selanjutnya diserahkan pada kepala unit untuk diperiksa.
Untuk menjaga keamanan dan melaksanakan prinsip kehati-hatian maka Costumer Service mencocokkan tanda tangan dengan tanda tangan debitur pada waktu pendaftaran, kemudian menyerahkan semua berkas kepada Kepala Unit untuk di fiat bayar.
commit to user
c. Fiat Bayar
Kepala Unit memeriksa berkas tentang kebenaran dan kelengkapan pengisian berkas kredit usaha rakyat untuk dicocokkan dengan syarat yang disebutkan dalam putusan kredit, setelah yakin maka kepala unit membubuhkan tanda tangan sebagai persetujuan fiat bayar. Setelah selesai, kwitansi diserahkan pada teller dan berkas diserahkan pada customer service.
d. Pembayaran Pencairan KUR
Pembayaran pencairan kredit usaha rakyat kepada debitur dilakukan oleh teller berdasarkan kwitansi yang diterima dari kepala unit dengan terlebih dahulu meneliti keabsahan kwitansi.
Apabila terjadi keterlambatan pencairan dana kredit usaha rakyat, disebabkan oleh banyaknya peminat yang hendak menjadi calon debitur kredit usaha rakyat, mengingat jumlah tenaga yang menangani kredit usaha rakyat tidak sebanding dengan jumlah peminat kredit usaha rakyat.
Lamanya proses pencairan dana disebabkan pula oleh penerapan asas kehati-hatian dalam menyalurkan dananya dan tetap berpegang teguh pada lima prinsip dalam penilaian kondisi nasabah atau sering disebut dengan “The Five of Credit Analysis” (Gatot Supramono, 1995 :33-34). Lima prinsip penilaian tersebut antara lain:
a. Character
Character adalah keadaan watak atau sifat dari debitur, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap aspek character ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kemauan dan itikad baik debitur untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian yang telah
commit to user
ditetapkan. Character ini merupakan faktor kunci walaupun calon debitur tersebut mampu menyelesaikan hutangnya, namun kalau tidak mempunyai itikad baik tentu akan menimbulkan kesulitan pada bank di kemudian hari. Alat untuk memperoleh gambaran tentang character dari calon nasabah dapat diperoleh melalui upaya:
1) Meneliti riwayat hidup calon nasabah,
2) Meneliti reputasi calon debitur tersebut di lingkungan usahanya,
3) Melakukan bank to bank information, mencari informasi dari bank ke bank lain tentang calon debitur,
4) Mencari informasi kepada asosiasi-asosiasi usaha di mana calon debitur berada,
5) Mencari informasi apakah calon debitur suka berjudi,
6) Mencari informasi apakah calon debitur suka berfoya-foya.
b. Capacity
Capacity adalah kemampuan calon debitur dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Penilaian ini berfungsi untuk mengukur kemampuan calon debitur dalam mengembalikan hutangnya secara tepat waktu, dari usaha yang diperolehnya. Pengukuran capacity dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan sebagai berikut:
1) Pendekatan historis, yaitu menilai kemampuan yang telah lampau, apakah menunjukkan perkembangan dari waktu ke waktu,
commit to user
2) Pendekatan finansial, yaitu menilai latar belakang pendidikan para pengurus. Hal ini sangat penting untuk perusahaan-perusahaan yang menghendaki keahlian teknologi tinggi dan yang memerlukan profesionalisme tinggi,
3) Pendekatan yuridis, yaitu secara yuridis apakah calon debitur mempunyai kapasitas untuk mewakili badan usaha yang diwakilinya untuk mengadakan perjanjian kredit dengan bank,
4) Pendekatan managerial, yaitu menilai sejauh mana kemampuan dan keterampilan nasabah melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam memimpin perusahaan,
5) Pendekatan teknis, yaitu untuk menilai sejauh mana kemampuan calon nasabah dalam mengelola faktor- faktor produksi seperti tenaga kerja, sumber bahan baku, mesin-mesin, administrasi dan keuangan, hubungan industri dan kemampuan merebut pasar.
c. Capital
Capital adalah jumlah modal sendiri yang dimiliki oleh calon debitur. Kemampuan modal sendiri diperlukan bank sebagai alat indikator kesungguhan dan tanggung jawab debitur dalam menjalankan usahanya karena ikut menganggung risiko dalam kegagalan usaha. “Biasanya jika jumlah modal sendiri (modal netto) cukup besar, perusahaan tersebut akan kuat dalam menghadapi persaingan dari perusahaan-perusahaan sejenis” (Rachmat Firdaus dan Maya Ariyanti, 2003 : 85).
Kemampuan capital ini dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban untuk menyediakan pembiayaan sendiri
commit to user
dalam praktik, yang jumlahnya lebih besar daripada kredit yang dimintakan kepada bank. Bentuk pembiayaan ini tidak harus dalam bentuk uang tunai, namun juga bisa dalam bentuk barang modal, seperti : tanah, bangunan, mesin-mesin dan sebagainya.
d. Collateral
Collateral adalah barang-barang yang diserahkan debitur sebagai agunan terhadap kredit yang diterimanya. Penilaian terhadap agunan ini meliputi jenis jaminan, lokasi, bukti kepemilikkan, dan status hukumnya, untuk menghindari terjadinya pemalsuan bukti kepemilikan, maka sebelum dilakukan pengikatan harus diteliti mengenai status yuridisnya bukti pemilikan dan orang yang menjaminkan. Hakikatnya, bentuk collateral tidak hanya berbentuk kebendaan, tetapi juga yang tidak berwujud atau non material seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi, avalis. Penilaian ini dapat dilihat dari dua segi berikut:
1) Segi ekonomis, yaitu nilai ekonomis dari barang- barang yang akan diagunkan.
2) Segi yuridis, yaitu apakah agunan tersebut memenuhi syarat-syarat yuridis untuk dipakai sebagai agunan.
e. Condition of Economy
Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, yang mempengaruhi usaha calon debitur di kemudian hari. Penelitian
commit to user
mengenai hal-hal seperti keadaan konjungtur, peraturan- peraturan pemerintah, situasi politik, dan perekonomian politik perlu diadakan untuk mendapat gambaran mengenai hal-hal tersebut.
Kelima prinsip di atas yang paling perlu mendapatkan perhatian Account Officer adalah character, karena apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya tidak berarti, atau dengan kata lain permohonannya harus ditolak.
Perjanjian kredit pada umumnya berisi tentang para pihak, obyek perjanjian, affirmative convenant (klausula yang berisi janji- janji nasabah debitur untuk melakukan hal-hal tertentu selama perjanjian kredit berlaku), negative convenant (hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh penerima pinjaman selama jangka waktu kredit seperti pelarangan dalam pembagian dividen, melunasi hutang kepada pihak terafiliasi, menjaminkan harta perusahaan kepada pihak ketiga, dst), klausula yang wajib ada di perjanjian, sell down, perjumpaan hutang, publikasi, dan domisili perkara.
Perjanjian kredit dapat dibuat dengan cara notariil, dibawah tangan, dibawah tangan yang dilegalisir, dan dibawah tangan yang didaftar (waarmerking). Penetapan pilihan pembuatan perjanjian kredit merupakan judgment pejabat. Pemutus dengan mempertimbangkan tingkat risiko, kompleksitas putusan kredit dan kemampuan jajaran ADK unit kerja dalam membuat perjanjian kredit di bawah tangan.
(Hasil wawancara dengan Ibu Ida selaku Credit Supervisor BRI Surakarta pada tanggal 22 Maret 2021 pukul 10.00 WIB).
2. Penyelesaian Kredit Macet UMKM berdasarkan POJK Nomor 11 Tahun 2020 karena Pandemi Covid-19 di PT. Bank Rakyat Indonesia Surakarta
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bu Ida Nurhayati, S.H., M.H. selaku Credit Supervisor di Bank BRI Surakarta,
commit to user
kredit macet atau kredit bermasalah dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang harus diketahui baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal dan eksternal tersebut bisa dari debitur maupun dari pihak Bank BRI sendiri. Hal tersebut terdapat pada kebijakan internal yang dikeluarkan Bank BRI berupa Surat Keputusan PP Nomor 12 – DIR/KRD/12/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kredit Ritel PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBK yang meliputi:
a. Sisi Debitur
Kelemahan dari sisi debitur dapat disebabkan antara lain oleh:
1) Masalah operasional usaha yang kurang dari persyaratan yang ditetapkan (minimal usaha telah berjalan 6 bulan)
2) Manajemen usaha
3) Kecurangan dan/atau ketidakjujuran debitur dalam mengelola kredit (penyalahgunaan kredit dan/atau adanya kesengajaan untuk tidak membayar kewajibannya)
4) Pemutus hubungan bisnis/kontrak b. Sisi Internal Bank BRI
Kelemahan dari sisi internal Bank BRI dapat disebabkan antara lain oleh:
1) Itikad tidak baik dan atau kekurangmampuan dari pejabat/pegawai Bank BRI
2) Kelemahan sejak awal dalam proses pemberian kredit 3) Kelemahan pembinaan kredit
c. Sisi Eksternal Bank BRI dan Debitur
Kelemahan dari sisi eksternal Bank BRI dan debitur dapat disebabkan antara lain oleh:
commit to user
1) Force majeure
2) Perubahan-perubahan eksternal lingkungan (environtment)
Pendekatan terhadap kredit bermasalah di Bank BRI Surakarta adalah seluruh pejabat kredit harus mempunyai persepsi yang sama dalam penyelesaian kredit bermasalah dengan pendekatan sebagai berikut:
a. Tidak membiarkan atau bahkan menutup-nutupi adanya kredit bermasalah.
b. Mendeteksi secara dini adanya kredit bermasalah atau diduga akan menjadi kredit bermasalah.
c. Menangani kredit bermasalah atau diduga akan menjadi kredit bermasalah, harus dilakukan secara dini dan sesegera mungkin.
d. Tidak melakukan penyelesaian kredit bermasalah dengan cara menambah plafond kredit atau tunggakan-tunggakan bunga dan mengkapitalisasi tunggakan bunga tersebut, atau yang lazim dikenal dengan plafondering kredit, kecuali dalam rangka restrukturisasi kredit yang dilaksanakan secara selektif.
e. Tidak melakukan pengecualian dalam penyelesaian kredit bermasalah, khususnya untuk kredit bermasalah kepada pihak-pihak yang terkait dengan Bank BRI dan debitur- debitur besar tertentu.
Tata cara pengelolaan kredit macet terdapat beberapa tahap, yaitu:
a. Penetapan Strategi Penanganan Kredit Bermasalah
Setiap rencana tindakan restrukturisasi dan penyelesaian kredit bermasalah harus dibuat secara tertulis, termasuk identifikasi masalah dan analisa strategi yang diperlukan untuk setiap debitur termasuk koordinasi dengan instansi terkait.
commit to user
Identifikasi tersebut antara lain meliputi:
a. Dokumentasi
Penguasaan, kelengkapan dan keabsahan dokumen merupakan bagian yang sangat penting dari manajemen risiko kredit. Pejabat kredit lini dan administrasi kredit harus melakukan evaluasi dan verifikasi terhadap seluruh dokumen kredit untuk mengetahui posisi Bank BRI terhadap debitur terutama dari aspek hukum.
b. Hubungan dengan Debitur
Analisis dan evaluasi terhadap riwayat hubungan dengan debitur mencakup:
1) Kontribusi yang telah diberikan, integritas, keterbukaan dan kecakapan sebagai ukuran kejujuran dan kemampuan manajemen.
2) Pemenuhan kewajiban-kewajiban selama ini baik berupa pembayaran bunga maupun pokok pinjaman, penyampaian laporan keuangan maupun informasi yang diperlukan.
3) Ketaatan dalam pemenuhan persyaratan kredit.
4) Respons yang diperlihatkan oleh debitur atas kreditnya yang bermasalah.
Dari hasil penilaian tersebut di atas dapat disimpulkan itikad dan kemauan debitur untuk menyelesaikan kewajibannya.
1) Informasi dan Investigasi
Informasi dan investigasi dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam mengenai kondisi terakhir debitur yang bersangkutan terutama kondisi usaha maupun agunannya.
Informasi dapat diperoleh antara lain dari pemasok, pelanggan, relasi bisnis dan internal
commit to user
perusahaan. Pemeriksaan dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke tempat usaha maupun ke lokasi agunan debitur, untuk mengetahui kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya dan untuk menghimpun informasi mengenai nilai jual akun sesuai kondisi riil terkini.
Berdasarkan informasi dan investigasi dapat diketahui posisi BRI terhadap debitur khususnya ditinjau dari usaha dan kondisi agunan. Setelah mengadakan analisa dan evaluasi dari ketiga langkah diatas, dapat diketahui posisi Bank BRI serta dapat menentukan kategori debitur sebagai berikut:
a) Debitur “A”: Itikad baik, prospek usaha/debitur baik
b) Debitur “B”: Itikad baik, prospek usaha/debitur tidak baik
c) Debitur “C”: Itikad tidak baikk, prospek usaha/debitur baik
d) Debitur “D”: Itikad tidak baik, prospek usaha/debitur tidak baik
Dari kategori yang telah ditentukan terhadap debitur tersebut selanjutnya dapat merencanakan tindakan yang akan dilakukan:
a) Terhadap Debitur A, dilakukan negosiasi guna mencari cara restrukturisasi kredit yang dapat disepakati oleh kedua belah pihak.
b) Terhadap Debitur B, dilakukan negosiasi untuk upaya penyelesaian kredit yang dapat disepakati oleh kedua belah pihak.
commit to user
c) Terhadap Debitur C, terlebih dahulu dilakukan langkah-langkah penyelesaian melalui parate/fiat eksekusi agar debitur menjadi kooperatif. Apabila tetap tidak kooperatif maka proses hukum dapat dilanjutkan.
d) Terhadap Debitur D, dilakukan langkah- langkah penyelesaian melalui saluran hukum.
Kondisi agunan akan mempengaruhi efektivitas langkah tindak lanjut berdasarkan penetapan posisi Bank BRI tersebut diatas. Berpijak dari posisi Bank BRI tersebut ditetapkanlah alternatif strategi restrukturisasi atau penyelesaian kredit bermasalah. Pemilihan dan penetapan strategi akhir didasarkan hasil negosiasi dengan melaksanakan penekanan yang tepat guna dan berkesinambungan terhadap debitur. Penetapan strategi tersebut juga harus mempertimbangkan unsur yang sangat penting, yaitu kecepatan atau waktu penyelesaian kredit bermasalah dimaksud.
b. Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Secara umum rencana tindak lanjut penanganan kredit bermasalah dapat berupa pengawasan, restrukturisasi kredit dan penyelesaian kredit.
1) Pengawasan
Jika kondisi usahanya masih baik serta diyakini bahwa segala sesuatu yang dibuat dalam perjanjian kredit masih dipenuhi oleh debitur, maka dilakukan upaya pengawasan dan review terhadap dokumen perkreditan.
commit to user
2) Restrukturisasi kredit
Syarat dan ketentuan restrukturisasi kredit restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan terhadap debitur yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit.
b) Debitur masih memiliki prospek usaha yang baik dan dinilai mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi
Restrukturisasi dilarang dilakukan dengan tujuan untuk:
a) Memperbaiki kualitas kredit
b) Menghindari peningkatan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva (PPA), tanpa memperhatikan kriteria debitur yang dapat direstrukturisasi
3) Penyelesaian Kredit Bermasalah
Adalah upaya penyelesaian kredit yang dilakukan oleh bank terhadap debitur yang usahanya tidak mempunyai prospek lagi atau tidak mempunyai usaha lagi, atau mempunyai itikat tidak baik sehingga kreditnya tidak dapat direstrukturisasi.
a) Penyelesaian Kredit Bermasalah Secara Damai Penyelesaian kredit bermasalah secara damai dilakukan terhadap debitur yang masih mempunyai itikad baik (kooperatif) untuk menyelesaikan kewajibannya meliputi antara lain:
(1) Perubahan atau penurunan tingkat suku bunga kredit.
commit to user
(2) Keringanan tunggakan bunga dan atau denda.
(3) Penjadwalan angsuran.
(4) Penjualan sebagian atau seluruh angsuran secara di bawah tangan oleh debitur atau pemilik agunan untuk angsuran atau penyelesaian kewajiban debitur.
(5) Penundaan pembayaran kewajiban bunga/penalty (deferred interest payment)
b) Penyelesaian Melalui Saluran Hukum
Penyelesaian kredit melalui saluran hukum atau bantuan dari pihak ketiga antara lain meliputi:
(1) Penyelesaian Kredit melalui Pengadilan Negeri: Parate eksekusi, Fiat eksekusi, Gugatan.
(2) Tuntutan Kepailitan Melalui Pengadilan Niaga
c) Penyelesaian dengan Bantuan dari Pihak Ketiga (1) Penyelesaian kredit macet dengan bantuan
kejaksaan
(2) Penyelesaian kredit dengan pengajuan klaim asuransi.
C. Kendala dalam Penyelesaian Kredit Macet karena Covid-19 dan Alternatif Solusinya
Bank BRI Surakarta telah mendukung dan menyukseskan berbagai program pemulihan ekonomi nasional melalui subsidi bunga, penjaminan UMKM, restrukturisasi kredit terdampak Covid-
commit to user
19, penyaluran KUR, Bansos, dan Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM). Dalam hal pemberian restrukturisasi akan dilanjutkan Bank BRI sesuai keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 Tahun 2020 yang memperpanjang masa pemberian relaksasi kredit hingga 2022. Penerapan Peraturan OJK Nomor 11 Tahun 2020 ini merupakan alternatif solusi dalam kendala pelaksanaan penyelesaian kredit macet karena Covid-19.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Arif R selaku Mantri/Account Officer BRI Surakarta pada tanggal 2 Maret 2021 pukul 10.00 WIB, Bank BRI Surakarta memiliki sekitar 1062 nasabah debitur UMKM dan yang diberi restrukturisasi karena pandemi Covid-19 sekitar 550 debitur. Pada tahun 2020, Bank BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 125,3 triliun kepada lebih dari 5,2 juta pelaku UMKM. Dan pada tahun 2021 Bank BRI meningkatkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi Rp
253 triliun
(https://www.cnbcindonesia.com/market/20210102132654-17- 213015/bangkitkan-umkm-ini-strategi-bri-akselerasi-kur-di-2021).
Sepanjang 2020, BRI menjadi partner strategis pemerintah terkait penyaluran stimulus program percepatan. Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). BRI telah merestrukturisasi pinjaman senilai Rp 218,6 triliun kepada 2,8 debitur, menyalurkan subsidi bunga UMKM senilai RP 5,5 triliun kepada lebih dari 6,6 juta penerima, menyalurkan KUR Mikro senilai Rp 116,9 triliun kepada 4,4 juta debitur dan KUR super mikro sebesar RP 8,5 triliun kepada 972 ribu pelaku UMKM (https://www.wartaekonomi.co.id/read321177/bri- fokus-selamatkan-umkm-dirut-2021-mood-nya-masih-
krisis?page=2).
Sebagai lembaga keuangan yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan UMKM di Indonesia, perseroan telah menyusun
commit to user
kebijakan internal sebagai implementasi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 Tahun 2020 pasal 2 butir 4. Dalam regulasi tersebut, bank harus memiliki pedoman untuk menetapkan debitur yang terdampak Covid-19. Disamping itu, Bank BRI juga telah menyusun kriteria debitur beserta sektor yang terdampak sebagaimana dijelaskan pada Pasal 2 butir 5 Peraturan Otoritas Jasa keuangan. Seluruh Relationship Manager (RM) mikro Bank BRI telah dilengkapi dengan aplikasi BRISPOT yang memudahkan untuk melalukan monitoring pinjaman secara offsite.
Terhadap ketentuan tersebut, Bank BRI mengeluarkan kebijakan mengenai restrukturisasi kredit di masa pandemi Covid-19 ini dengan tetap menjalankan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 Tahun 2020. Bank BRI Surakarta menerapkan restrukturisasi berbentuk perpanjangan masa angsuran dan penurunan suku bunga. Menurut Bu Ida Nurhayati selaku Credit Supervisor Bank BRI Surakarta, tunda pokok bunga tidak diterapkan di Bank BRI dikarenakan jika semua bunga ditunda maka akan mengurangi keuntungan Bank BRI. Sehingga penerapan kebijakan stimulus tersebut tetap harus berdasarkan kebijakan masing-masing bank.
Dengan diterapkannya kebijakan stimulus tersebut, Bank BRI telah memberikan keringanan kepada debitur khususnya debitur UMKM yang terdampak Covid-19. Sehingga tercipta keadilan bagi kedua belah pihak. Keadilan berkontrak pun juga tercapai yakni adanya keseimbangan antara para pihak. Pihak debitur mendapatkan keringanan dan permasalahan kredit di Bank BRI pun juga terselamatkan. Dengan begitu hal ini sejalan dengan Teori Keadilan oleh John Rawls, karena keadilan merupakan tujuan yang ingin dicapai pemerintah terkait penanganan permasalahan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Setelah keadilan tercapai, kepastian hukum pun juga terwujud karena dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan.
commit to user
Tujuan dari hukum yaitu untuk memberikan keadilan dan kepastian.
Kepastian hukum merupakan salah satu tujuan hukum dan dapat dikatan upaya mewujudkan keadilan. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 Tahun 2020 yang dikeluarkan pemerintah merupakan bentuk kepastian hukum secara normatif yang mana peraturan tersebut mengatur secara pasti dan logis, dalam hal ini bagi debitur UMKM.
Bank Indonesia mencatat rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) perbankan mengalami peningkatan dari sebelum adanya wabah Covid-19 dan saat pandemi Covid-19 yaitu dari tahun 2018-2021. Dibawah ini adalah grafik peningkatan NPL perbankan 2018-2021:
Grafik 1. Peningkatan Non Performing Loan Perbankan 2018-2021
Sumber: Bank Indonesia
Grafik diatas menunjukkan bahwa NPL tahun 2018 sebesar 2,37%, 2019 sebesar 2,59%, 2020 sebesar 3,06%, dan 2021 sebesar 3,21%. Terdapat peningkatan yang besar dari tahun 2019 ke 2020. Peningkatan NPL ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kredit bermasalah yang dapat
2021 2020 2019 2018
0,00%
0,50%
1,00%
1,50%
2,00%
2,50%
3,00%
3,50%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
commit to user
menimbulkan masalah bagi kesehatan bank. Semakin banyak angka rasio NPL pada sebuah bank maka dapat dipastikan bahwa fungsi kinerja bank tersebut bermasalah.
Dari data diatas, maka skema pengajuan restrukturisasi kredit pada Bank BRI Surakarta yaitu:
a. Nasabah datang ke bank membawa surat pengajuan restrukturisasi.
Surat tersebut dibuat dengan format bebas dan menjelaskan kondisi usaha debitur yang terdampak pandemi Covid-19. Surat permohonan tesebut diajukan ke pimpinan Bank BRI. Pimpinan kemudian mendisposisi kepada RM (Relationship Manager) untuk ditindaklanjuti.
b. Setelah surat pengajuan masuk, RM akan melakukan survey usaha debitur atau yang disebut dengan Laporan Kunjungan Nasabah (LKN). Survey lapangan dilihat usahanya, omsetnya, pendapatannya, dan alasan pengajuan restrukturisasi. Secara administrasi dilihat KTP, KK, NPWP, perizinan-perizinan, Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), ada juga Sistem Informasi Calon Debitur (SICD) dari internal Bank BRI untuk melihat kolektibilitas debitur.
c. Setelah dilakukan survey atau LKN, semua perizinan masuk, RM melakukan analisa neraca sehingga dapat melihat kualitas dari cashflow dan laba rugi debitur. hal ini dilaporkan kepada pimpinan dan dijadwalkan untuk LKN kedua bersama pimpinan.
d. Di LKN kedua yang mengunjungi adalah pimpinan dengan RM.
Pimpinan akan mencocokkan dengan data yang didapat oleh RM.
Pimpinan menggali informasi debitur terkait kemampuan bayar dan menentukan skema kredit seperti apa yang tepat untuk membantu meringankan beban pembayaran sehingga kredit dapat kembali lancar.
e. Setelah semua dilakukan, debitur menunggu hasil putusan pengajuan restrukturisasi dari pemutus kredit (pimpinan).
commit to user
Di masa pandemi Covid-19 ini, Bank BRI memberikan kemudahan pengajuan restrukturisasi kredit. Pengajuan dapat dilakukan secara online.
Tata cara:
a. Pengajuan permohonan restrukturisasi (keringanan) dapat dilakukan dengan cara mengisi formulir yang dapat diunduh (di- download) dari website resmi BRI Finance: www.brifinance.co.id;
b. Pengembalian formulir dilakukan melalui surat elektronik/email (tidak perlu mendatangi kantor BRI Finance) ke alamat email: [email protected] dengan menyampaikan alamat email Bapak/Ibu dan/atau alamat korespondensi lain yang dapat dihubungi;
c. BRI Finance akan melakukan penilaian terhadap kondisi debitur untuk menentukan skema restrukturisasi berat, sedang atau ringan;
d. BRI Finance menentukan bentuk restrukturisasi sesuai dengan kondisi debitur;
e. Persetujuan permohonan restrukturisasi (keringanan) akan diinformasikan oleh BRI Finance melalui email, surat pemberitahuan tertulis dan/atau media komunikasi lainnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu X selaku Debitur yang mengajukan restrukturisasi karena pandemi Covid-19 pada tanggal 13 April 2021 pukul 11.00 WIB, dalam pengajuan restrukturisasi tidak ditemukan kendala selama mengikuti prosedur yang telah ditetapkan dari Bank BRI Surakarta dan menyerahkan persyaratan yang diminta dengan lengkap.
Cara restrukturisasi kredit atau pembiayaan dilakukan sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa keuangan Nomor 11 Tahun 2020 mengenai penilaian kualitas aset, antara lain dengan cara:
a. Penurunan suku bunga b. Perpanjangan jangka waktu c. Pengurangan tunggakan pokok d. Pengurangan tunggakan bunga
commit to user
e. Penambahan fasilitas kredit/pembiayaan; dan/atau
f. Konversi kredit/pembiayaan menjadi Penyertaan Modal Sementara.
Dalam hal ini pemerintah telah memberikan perlindungan hukum kepada debitur atau nasabah dengan mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11 Tahun 2020. Debitur adalah aset negara yang perannya sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perlindungan hukum yang diberikan merupakan implementasi atas prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat martabat manusia yang bersumber dari Pancasila. Sikap yang dilakukan olehpemerintah ini merupakan bentuk implikasi dari Teori Perlindungan Hukum oleh M.
Hadjon dan Prof Isnaeni. Pemerintah telah memberikan perlindungan hukum secara represif dan secara eksternal.
Skema restrukturisasi yang berlaku di Bank BRI bagi debitur perusahaan berdasarkan masing-masing segmen. Nantinya, skema tersebut bisa menjadi referensi bagi para debitur untuk mengajukan keringanan atau restrukturisasi kredit. Pertama pada segmen mikro, kecil dan ritel terdiri dari empat skema. Skema pertama, apabila debitur mengalami penurunan omset sebanyak 30% akan diberikan restrukturisasi berupa penurunan suku bunga dan perpanjangan waktu kredit. Skema kedua, apabila debitur mengalami penurunan omset sekitar 30% sampai 50% akan diberikan keringanan berupa penundaan pembayaran bunga dan angsuran poko selama 5 bulan. Ketiga, kalau debitur mengalami penurunan omset 50% sampai 70%, skema restrukturisasi yang diberikan yakni penundaan pembayaran bunga selama 6 bulan dan penundaan angsuran pokok selama 12 bulan. Skema keempat atau terburuk yakni apabila omset debitur turun di atas 70% akan diberikan penundaan pembayaran bunga selama 12 bulan dan penundaan angsuran pokok selama 12 bulan.
Sebagai tambahan informasi, berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Arif R selaku Account Officer pada tanggal 2 Maret 2021 pukul 10.00 WIB di Bank BRI Surakarta, saat ini semua usaha UMKM dapat dibiayai, akan tetapi pasar sasaran setiap daerah pasti akan berbeda dan juga
commit to user
setiap waktu akan berubah, sesuai dengan situasi ekonomi yang ada pada waktu tersebut. Sebagai contoh sekarang ini pasar sasaran yang dicari adalah bidang kesehatan, karena perekonomian yang saat ini sedang meningkat adalah kesehatan. Usaha yang sementara ini dihindari adalah perhotelan dan Event Organizer (EO) karena perhotelan sedang turun drastis pemasukannya dan EO sekarang tidak ada kegiatan apa-apa mengingat kondisi pandemi tidak diperbolehkan ada kerumunan sehingga acara-acara pun digelar secara online.
Sejauh ini apabila nasabah membayar sesuai kesepakatan yang telah dibuat, program restrukturisasi kredit berjalan efisien sesuai dengan perjanjian restrukturisasi. Namun kendala yang sering dihadapi dalam menyelesaikan kredit macet adalah adanya debitur yang beritikad tidak baik, dimana dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya dalam menyelesaikan masalah kreditnya, selain itu adanya kendala ekonomi akibat Covid-19 yang dihadapi oleh debitur juga dapat menjadi kendala dalam menyelesaikan masalah kredit. Debitur yang memiliki kesulitan ekonomi namun tidak memiliki kesadaran untuk mengajukan restrukturisasi juga akan menambah kendala yang ada.
Upaya yang dapat dilakukan dalam penyelesaian kredit macet karena Covid-19 adalah dengan menerapkan Peraturan OJK Nomor 11 Tahun 2020. Dengan adanya kebijakan tersebut, bank perlu mendata nasabah yang mempunyai kolektibiltas kredit 5 atau macet. Kemudian melakukan survey dan menganalisa untuk dapat menentukan kebijakan yang diberikan kepada debitur yang bermasalah atau yang terdampak langsung Covid-19.
Kebijakan ini juga dapat dimanfaatkan oleh debitur dengan menyampaikan kondisi yang terjadi sehingga restrukturisasi dapat diajukan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. POJK Nomor 11 Tahun 2020 merupakan bentuk kontribusi pemerintah untuk pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Restrukturisasi kredit bertujuan untuk mengembalikan kualitas kredit menjadi lancar, dimana hal tersebut merupakan penyelamatan dari kredit macet. Jika kredit macet terjadi, maka akan memengaruhi laba bank
commit to user
atau bahkan bank mengalami kerugian. Sehingga selain bank, nasabah juga harus aktif agar proses restrukturisasi dapat berjalan dengan baik.
Pernyataan restrukturisasi kredit efektif untuk menjaga kualitas kredit, dimana menyelamatkan dari kredit macet sependapat dengan Kasmir bahwa restrukturisasi kredit merupakan usaha pihak bank untuk menyelamatkan kredit yang terpaksa harus dilakukan bank dengan cara mengubah komposisi biaya (Lukman Dendawijaya, 2005: 83).
commit to user