LAMPIRAN
MODUL
LATIHAN AKTIVITAS MENGGANTI GORDEN DENGAN KERANGKA ACUAN BIOMEKANIK UNTUK MENINGKATKAN ENDURANCE
PADA KONDISI FROZEN SHOULDER DEXTRA DI RSUD dr. SOEDONO MADIUN
Disusun Sebagai Panduan Dalam Memberikan Latihan Aktivitas Mengganti Gorden Pada Pasien Frozen Shoulder
Disusun Oleh :
DUROTUN IRHAS ALIMAH NISA P 27228017131
PROGRAM STUDI DIPLOMA III OKUPASI TERAPI JURUSAN OKUPASI TERAPI
POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA TAHUN 2020
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Frozen shoulder merupakan rasa nyeri yang mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS) pada bahu, keluhan utama yang dialami adalah nyeri dan penurunan kekuatan otot penggerak sendi bahu dan keterbatasan LGS terjadi baik secara aktif atau pasif. Kemungkinan terbesar penyebab dari frozen shoulder antara lain tendinitis, rupture rotator cuff, capsulitis, post immobilisasi lama, trauma serta diabetes mellitus (Donatelli, 2012).
Frozen shoulder merupakan kondisi dimana gerakan bahu menjadi terbatas. Frozen shoulder memiliki tingkat keparahan yang bervariasi mulai dari nyeri ringan sampai berat dan tingkatan keterbatasan seberapa besar terhadap gerakan sendi glenohumeral (Mound, 2012).
Menurut Appley (2005) Masalah yang timbul akibat frozen shoulder antara lain adanya nyeri pada bahu, keterbatasan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot di sekitar bahu. Masalah-masalah keseharian akibat nyeri dan keterbatasan gerak yaitu tidak mampu menggosok punggung saat mandi, menyisir rambut, kesulitan dalam berpakaian, mengambil dompet dari saku belakang, kesulitan memakai
2
breast holder (BH) bagi wanita, dan gerakan lain yang melibatkan sendi bahu, seperti latihan aktivitas mengganti gorden.
Dalam modul ini akan membahas intervensi Okupasi Terapis dengan aktivitas mengganti gorden untuk mengembalikan fungsional bahu, seperti saat mengangkat lengan ke atas yang membutuhkan lingkup gerak sendi yang luas, kekuatan otot dan endurance saat memasang gorden yang akan diganti. Pemilihan aktivitas mengganti gorden karena aktivitas ini merupakan aktivitas rutin bulanan yang dilakukan wanita, sehingga pasien diharapkan mampu melakukan aktivitas mengganti gorden secara mandiri.
Tirai atau gorden adalah potongan kain atau tekstil yang digunakan untuk menghalangi cahaya. Tirai sering digantung di bagian dalam jendela suatu bangunan untuk menghalangi masukknya cahaya. Menurut sifatnya ada 2 jenis tirai yaitu tirai dekoratif dan tirai full-operate (Yuliandri, 2013).
B. Tujuan Modul Pelaksanaan Intervensi
Tujuan pembuatan modul pelaksanaan intervensi ini adalah sebagai pedoman untuk memberikan intervensi dalam meningkatkan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan endurance pada kondisi frozen shoulder.
C. Prosedur Penggunaan Modul 1. Tempat
Pelaksanaan terapi dilakukan di ruang Rehabilitasi Medik di RSUD dr. Soedono Madiun dan di rumah pasien dengan bantuan keluarga.
3 2. Durasi
Durasi dalam setiap sesi terapi adalah 30 menit.
3. Bentuk terapi
Bentuk terapi yang dilakukan adalah terapi individu.
4. Pelaksanaan Intervensi
Pelaksanaan intervensi Okupasi Terapi pada kasus frozen shoulder melalui empat tahapan dalam continuum paradigm yaitu adjuntive methods, enabling methods, purposefful activity, dan occupational performance.
a. Adjuntive methods
Adjuntive merupakan tahap awal untuk mempersiapkan pasien dalam mengikuti proses terapi. Adjunctive ini dilakukan pada saat sesi awal terapi sebagai pemanasan dengan durasi 5 menit. Pasien diminta untuk melakukan gerakan pasif dan aktif pada daerah bahu dengan gerakan fleksi, ekstensi, adduksi, abduksi, horizontal abduksi, horizontal adduksi, internal dan eksternal rotasi.
b. Enabling methods
Aktivitas yang dilakukan pada tahap enabling ini yaitu menggunakan bola, tongkat, cone, dan overhead pulley.
1) Latihan dengan media bola
Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot. Langkah pertama pasien berdiri tegak di depan bola. Kemudian bola diambil dan
4
dilempar ke dalam wadah yang berada di depan pasien dengan tangan kanan dan kiri secara bergantian. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 10 kali pengulangan.
Safety precaution pada tahapan ini yaitu diharapkan pasien berhati-hati dan tidak memaksakan latihan apabila dirasa nyeri yang berlebih. Latihan dihentikan ketika pasien sudah merasa lelah dan diminta untuk beristirahat sejenak.
2) Latihan dengan media tongkat
Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan endurance. Langkah pertama pasien duduk tegak dan kaki dirapatkan. Pegang ujung tongkat dengan kedua tangan, kemudian angkat tongkat ke atas dan tahan selama 10 detik.
Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 kali pengulangan.
Safety precaution pada tahapan ini yaitu diharapkan pasien berhati-hati dan tidak memaksakan latihan apabila dirasa nyeri yang berlebih. Latihan dihentikan ketika pasien sudah merasa lelah dan diminta untuk beristirahat sejenak.
3) Latihan dengan media cone
Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan endurance. Langkah pertama pasien duduk dengan tegak di depan meja dan kaki dirapatkan. Selanjutnya ambil cone satu persatu dengan
5
tangan kanan dan kiri secara bergantian kemudian susun cone naik ke atas.
Safety precaution pada tahapan ini yaitu diharapkan pasien berhati-hati dan tidak memaksakan latihan apabila dirasa nyeri yang berlebih. Latihan dihentikan ketika pasien sudah merasa lelah dan diminta untuk beristirahat sejenak.
4) Latihan dengan media handuk
Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan endurance. Langkah pertama pasien duduk tegak dan kaki dirapatkan. Pegang bagian ujung handuk dalam posisi horizontal dengan kedua tangan dan posisikan kedua tangan di belakang tubuh. Kemudian tarik handuk ke arah atas dan bawah.
Safety precaution pada tahapan ini yaitu diharapkan pasien berhati-hati dan tidak memaksakan latihan apabila dirasa nyeri yang berlebih. Latihan dihentikan ketika pasien sudah merasa lelah dan diminta untuk beristirahat sejenak.
c. Purposeful Activity
Purposeful activity merupakan aktivitas yang bertujuan.
Pada tahapan ini aktivitas langsung kearah fungsional yaitu mengganti gorden dengan kedua tangan secara mandiri.
Langkah pertama pasien berdiri kemudian diminta untuk
6
melakukan aktivitas mengganti gorden (melepas gorden dari pengait, memasang gorden ke pengait, dan merapikan gorden).
d. Occupational Performance
Occupatinal performance merupakan tahapan tertinggi dari kontinuitas penatalaksanaan okupasi terapi ke arah fungsional.
Aktivitas ini bertujuan untuk melatih pasien agar mampu melakukan aktivitas mengganti gorden secara mandiri di rumah.
5. Repetisi
Aktivitas tersebut diulang sebanyak 8 kali.
6. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan menggunakan blangko pemeriksaan (lingkup gerak sendi, kekuatan otot, Fungsional Independence Measurement (FIM), Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) dan Screening test).
D. Prasyarat Penggunaan Modul
1. Aktivitas Prasyarat
Karakteristik pasien yang dapat mengikuti latihan aktivitas mengganti gorden adalah :
a. Aligns yaitu dapat melakukan aktivitas tanpa penyangga tubuh.
b. Stabilisasi yaitu dapat melakukan aktivitas dengan keseimbangan yang baik.
7
c. Kemampuan meraih, grips, pinch, koordinasi lengan-mata- tangan, dan dexterity yang bagus.
d. Endurance yaitu dapat menyelesaikan aktivitas tanpa menunjukkan kelelahan fisik yang jelas.
e. Mampu mobilitas secara mandiri.
f. Tidak memiliki gangguan dalam kemampuan kognitif dan komunikasi (AOTA, 2014).
2. Safety Precaution
a. Pasien melakukan pemanasan sebelum proses terapi.
b. Terapis harus selalu mendampingi pasien selama melakukan intervensi.
c. Pasien diminta untuk berhati – hati dalam melakukan aktivitas mengganti gorden dan tidak memaksakan menggerakkan bahu jika nyerinya bertambah agar tidak memperburuk kondisi pasien.
d. Terapis memberikan jeda waktu untuk pasien beristirahat.
8 BAB II
PENGULURAN DAN PENGUATAN
1. Mengangkat tongkat
Langkah pertama yaitu posisikan duduk tegak dan kaki dirapatkan.
Pegang ujung tongkat dengan kedua tangan. Kemudian angkat tongkat ke atas dan ditahan semala 10 detik kemudian turunkan. Lakukan juga pada saat mengangkat tongkat ke samping kanan dan kiri. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 kali pengulangan dengan memperhatikan nyeri dan lelah yang dirasakan (gambar 2.1 dan 2.2).
Gambar 2.1 Posisi awal Gambar 2.2 Posisi akhir
2. Menarik handuk
Langkah pertama yaitu posisikan tubuh berdiri. Pegang bagian ujung handuk dalam posisi horizontal dengan dan posisikan kedua tangan di belakang tubuh. Kemudian tarik handuk ke arah atas dan tahan 10 detik kemudian turunkan lakukan juga pada saat menarik handuk ke bawah.
9
Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 kali pengulangan dengan memperhatikan nyeri dan lelah yang dirasakan (gambar 2.3 dan 2.4).
Gambar 2.3 Gambar 2.4
Menarik ke atas Menarik ke bawah
3. Mengangkat bahu
Langkah pertama yaitu posisikan duduk dengan rileks. Letakkan kedua lengan berada di samping tubuh lurus ke bawah. Kemudian angkat bahu anda mendekati telinga dan ditahan selama 10 detik kemudian turunkan. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 sampai 10 kali pengulangan (gambar 2.5 dan 2.6).
Gambar 2.5 Gambar 2.6
Posisi mengangkat bahu Posisi menurunkan bahu
10 4. Memutar bahu
Langkah pertama yaitu posisikan duduk dengan nyaman.
Kemudian putar bahu ke arah atas, depan, bawah, dan belakang.
Selanjutnya lakukan ke arah yang berlawanan dari langkah sebelumnya.
Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 10 kali pengulangan (gambar 2.7 dan 2.8).
Gambar 2.7 Gambar 2.8
Memutar bahu ke atas Memutar bahu ke bawah
5. Peregangan
Langkah pertama yaitu posisikan duduk dengan tegak. Posisikan kedua lengan disamping tubuh. Kemudian angkat lengan kanan ke samping menjauhi tubuh dan ditahan selama 5 detik. Kemudian angkat lengan kanan ke atas. Lakukan hal yang sama pada lengan kiri. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 samapi 10 kali pengulangan (gambar 2.9 dan 2.10).
11
Gambar 2.9 Gambar 2.10
Mengangkat lengan ke samping Mengangkat lengan ke atas
6. Menggerakkan bahu rotasi ke luar
Langkah pertama yaitu duduk dengan tegak. Ambil botol yang berisi air di depan anda dan pegang dengan tangan kanan dengan posisi siku membentuk sudut 90o. Kemudian gerakkan lengan menjauhi tubuh dan ditahan selama 5 detik. Lakukan juga pada tangan kiri. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 kali pengulangan dengan memperhatikan rasa nyeri dan lelah yang dirasakan (gambar 2.11 dan 2.12).
Gambar 2.11 Posisi awal Gambar 2.12 Posisi akhir
7. Menggerakkan bahu rotasi ke dalam
Langkah pertama yaitu duduk dengan tegak. Ambil botol yang berisi air di depan anda dan pegang dengan tangan kanan dengan posisi siku membentuk sudut 90o.Kemudian gerakkan lengan mendekati tubuh
12
dan ditahan selama 5 detik. Lakukan juga pada tangan kiri. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 kali pengulangan dengan memperhatikan rasa nyeri dan lelah yang dirasakan (gambar 2.13).
Gambar 2.13 Posisi awal
8. Mengayun lengan
Langkah pertama yaitu posisikam tubuh berdiri. Kemudian posisikan lengan yang sehat ke meja untuk menyangga tubuh. Setelah itu bungkukkan badan dan biarkan lengan yang sakit menggantung rileks.
Ayunkan lengan memutar searah dan berlawanan arah dengan jarum jam dan ke depan-belakang. Aktivitas ini dapat dilakukan dalam 5 sampai 10 kali pengulangan dengan memperhatikan rasa nyeri dan lelah yang dirasakan (gambar 2.14 dan 2.15).
Gambar 2.14 Posisi awal Gambar 2.15 Posisi akhir
13 Safety Precautions :
1. Saat melakukan latihan di atas diharapkan untuk melakukan gerakan dengan tepat dan berhati-hati agar tidak memperparah kondisi.
2. Jangan memaksakan latihan agar tidak memperparah rasa nyeri.
3. Latihan dihentikan ketika sudah merasa lelah dan nyeri yang berlebih.
Evaluasi
Aktivitas Dilakukan (v) / Tidak Dilakukan (x)
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Mengangkat
tongkat Menarik handuk Mengangkat
bahu Memutar bahu
Peregangan Menggerakkan
bahu rotasi keluar Menggerakkan
bahu rotasi ke dalam Mengayunkan
lengan
14 BAB III
MODUL INTERVENSI
A. Prosedur Intervensi
Pasien diminta untuk membaca dan memahami isi dari modul yaitu prasyarat, safety precaution, dan tahapan - tahapan dalam latihan aktivitas mengganti gorden. Pasien diharapkan mampu melakukan aktivitas mengganti gorden secara mandiri untuk mengembalikan fungsional bahu.
B. Tahapan aktivitas
Tahapan dalam aktivitas mengganti gorden dibagi dalam beberapa langkah yaitu :
1. Melepaskan gorden dari pengait kawat
Gambar 1. Melepas gorden dari pengait a. Media : Gorden dan Pengait gorden b. Durasi : 3-5 menit
c. Posisi :
1) Pasien diposisikan berdiri.
15
2) Terapis berada di samping sisi sakit pasien.
3) Pasien diminta untuk melepaskan gorden dari pengait kawat yang sudah disiapkan.
d. Manfaat :
1) Meningkatkan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan endurance.
2) Meningkatkan koordinasi mata dan tangan.
3) Meningkatkan pinch dan grips.
4) Membantu mengembalikan fungsional bahu.
2. Memasangkan gorden ke pengait kawat
Gambar 2. Memasang gorden ke pengait a. Media : Gorden dan Pengait gorden b. Durasi : 3-5 menit
c. Posisi :
1) Pasien diposisikan berdiri.
2) Terapis berada di samping sisi sakit pasien.
3) Pasien diminta untuk memasangkan gorden ke pengait kawat yang sudah disiapkan.
16 d. Manfaat :
1) Meningkatkan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan endurance bahu pasien.
2) Meningkatkan koordinasi mata dan tangan pasien.
3) Meningkatkan kemampuan pinch dan grips.
4) Membantu mengembalikan fungsional bahu.
3. Merapikan gorden
Gambar 3. Merapikan gorden a. Media : Gorden
b. Durasi : 1-2 menit c. Posisi :
1) Pasien diposisikan berdiri.
2) Terapis berada di samping sisi sakit pasien.
3) Pasien diminta untuk merapikan gorden yang sudah terpasang dengan kedua tangannya.
d. Manfaat :
1) Meningkatkan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot bahu pasien.
17
EVALUASI
Nama : Ny. L Usia : 55 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan Pendidikan : -
Diagnosis : Frozen Shoulder Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Kawung Rt. 44 Rw. 11,Madiun Sisi Dominan : Kanan
Keluhan : Pasien mengeluhkan kesulitan dalam aktivitas mengambil atau menaruh benda ke atas seperti aktivitas mengganti gorden, menjemur pakaian, menggosok punggung saat mandi, memakai BH, dan mengambil sesuatu pada saku belakang. Pasien juga mengeluhkan nyeri dan pegal pada bahu saat digerakkan ke arah fleksi, ekstensi, abduksi, dan horizontal abduksi.
No Hari/Tanggal Intervensi Respon
1. Senin, 3 Februari 2020
Evaluasi awal Pasien mengalami keterbatasan gerak saat bahu kanannya diminta untuk digerakkan secara fleksi, ekstensi, abduksi, dan horizontal abduksi.
Pasien merasakan nyeri ketika bahu kanannya digerakkan melebihi batas toleransi gerak pasien baik secara aktif atau pasif.
18 2. Kamis, 6
Februari 2020
Intervensi 1 Pasien merasakan nyeri ketika bahu kanannya digerakkan melebihi batas toleransi gerak pasien baik secara aktif atau pasif.
Saat diminta untuk mengangkat tongkat pasien belum bisa full ROM, pasien mampu mempertahankan selama 10 detik dan mengulang selama 5 kali.
Saat diminta latihan dengan media handuk pasien mengalami kesulitan.
3 Senin, 10 Februari 2020
Intervensi 2 Nyeri yang dirasakan pasien mulai berkurang.
Saat diminta untuk melepaskan gorden dari pengait, pasien mengalami kesulitan.
4. Kamis, 13 Februari 2020
Intervensi 3 Pasien mengalami peningkatan pada gerakan fleksi pada bahu kanannya.
Saat diminta untuk melepaskan
19
gorden dari pengait, pasien mampu melakukan secara mandiri.
5. Senin, 17 Februari 2020
Intervensi 4 Saat diminta untuk memasangkan gorden ke pengait, pasien mengalami kesulitan karena nyeri yang
dirasakan.
Pasien mengalami peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot dan endurance pada gerakan fleksi, abduksi, horizontal abduksi pada bahu kanannya.
6. Kamis, 20 Februari 2020
Intervensi 5 Pasien merasakan sedikit nyeri pada bahu kanannya saat digerakkan.
Saat diminta untuk memasang gorden pasien mampu melakukan dengan sedikit bantuan terapis.
7. Jum’at, 21 Februari 2020
Intervensi 6 Saat diminta untuk memasang gorden ke pengait pasien mampu melakukan secara mandiri.
8. Senin, 24 Februari
Evaluasi akhir Pasien mengalami peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot,
20
2020 dan endurance pada bahu kanannya.
Pasien mampu melakukan aktivitas mengganti gorden secara mandiri dengan sedikit rasa nyeri.
21
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, R. (2015). Rancangan Bangun Sistem Kontrol Otomatis Buka Tutup Jendela Dan Tirai Serta Penerangan Lampu Ruangan. Thesis . http://eprints.polsri.id/2104 Diakses pada 23 April 2020
Mulyani, S. (2015). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Capsulitis Adhesiva Sinistra Di RSUD Salatiga (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surakarta). Naskah Publikasi.
http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/35791 Diakses pada 6 November 2019 Setyawan, E. (2014). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Lansia Dengan Frozen
Shoulder Sinistra (Kiri) Di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Naskah Publikasi Ilmiah http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/32408 Diakses pada 24 Oktober 2019
Suharti, A., Sunandi, R., & Abdullah, F. (2018). Penatalaksanaan Fisioterapi pada Frozen Shoulder Sinistra Terkait Hiperintensitas Labrum Posterior Superior di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Jurnal Vokasi Indonesia, 6(1).
Blangko Pemeriksaan Screening Fisik Dewasa
Blangko Pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi (LGS)
Blangko Functional Independence Measurement (FIM)
Blangko Pemeriksaan Kekuatan Otot (KO)
Blangko Shoulder Pain And Dissability Index (SPADI)
Pemeriksaan Awal
Reevaluasi