Laporan Live In Kalabahu 2022
Di Desa Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur
1. Latar Belakang
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia – LBH Samarinda merupakan Organisasi Non Pemerintahan yang memiliki visi misi terwujudnya sistem hukum yang adil dan berprinsip impersial berbasis gerakan masyarakat sipil. Untuk mendukung kesinambungan dan pencapaian visi itu dibentuklah Karya Latihan Bantuan Hukum (KALABAHU) yang mana melahirkan kader-kader pengabdi bantuan hukum yang kritis, berintegritas, berkomitmen terhadap upaya-upaya pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) dan pemajuan demokrasi serta memiliki sensitivitas sosial utamanya terhadap masyarakat miskin dan termarjinalkan.
Dalam pelaksanaan Karya Latihan Bantuan Hukum LBH Samarinda terdiri dari 8 peserta dan para calon pengabdi bantuan hukum ini juga diberikan materi di kelas (In Class) dan di luar kelas (Live In) sebagai pembekalan terlebih dahulu. Beberapa materi yang diberikan di dalam kelas adalah Pengantar Ideologi, Pengantar HAM, Sejarah Lembaga Bantuan Hukum dan Pengabdi Bantuan Hukum, Bantuan Hukum Struktural (BHS), Ketidakadilan Gender Struktural, Sexual Orientation & Gender Identity, Hak Atas Tanah dan Reforma Agraria, Hak Atas Lingkungan & Daya Rusak Tambang, Hak Perburuhan, Analisis Sosial, Pengorganisasian Komunitas, Strategi Advokasi, Investigasi, Pengantar Safeguarding untuk HRD & Anti SLAPP dan Strategi Kampanye Advokasi.
Para pemateri yang dihadirkan adalah dari orang-orang yang berpengalaman dari profesi yang digeluti.
Agar materi yang diberikan dapat diperdalam secara langsung oleh para peserta dan juga merupakan syarat kelulusan Karya Latihan Bantuan Hukum LBH Samarinda maka dilaksanakan kegiatan di luar kelas (Live In) yang mana peserta diturunkan kelapangan langsung ke daerah-daerah yang sudah ditentukan panitia penyelenggara yaitu daerah Sanga-Sanga Kabupaten Kutai Timur dan Geleo Asa Kabupaten Kutai Barat. Proses live in ini agar peserta mampu merasakan dan mengetahui permasalahan
kehidupan sosial dalam masyarakat secara langsung dan menerapkan materi yang sudah diberikan di kelas sebelumnya.
Maka dalam hal ini kami peserta KALABAHU yang dit empatkan di Kampung Geleo Asa Kabupaten Kutai Barat akan melakukan Analisis Sosial yang mana bertugas memetakan gambaran umum desa, permasalahan yang ada, pemetaan aktor, isu hukum, kesimpulan dan rekomendasi yang ada di Desa Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
2. Gambaran Umum Desa Geleo Asa
Desa Geleo Asa merupakan salah satu dari 5 (lima) desa Muara Asa, Pepas Asa, Ongko Asa dan Juaq Asa yang berada di sekitar Gunung Layung. Geleo Asa secara administrasi termasuk dalam Kecamatan Barong Tongkok, berada di sebelah utara Kabupaten Kutai Barat. Topograpi desa ini termasuk dalam dataran rendah membuatnya cocok untuk digunakan untuk lahan ataupun ladang bagi warga setempat.
Jalan utama untuk menuju desa ini jika berangkat menggunakan jalur sungai maka akan sampai di Pelabuhan Melak dan merupakan pelabuhan terakhir untuk jalur Samarinda-Kubar yang memakan waktu tempuh kurang lebih 20 (dua puluh) jam.
Kemudian melanjutkan jalur darat ke arah utara melewati jalan Sendawar Raya untuk melewati jalur provinsi yang berada di dekat Bandara Melalan. Kondisi dari jalan tersebut cukup baik namun masih banyak jalan yang telah rusak dan berlubang parah hingga hampir menutupi separuh jalan.
Terdapat akses lain yang sebenarnya dapat digunakan oleh warga jika melalui sungai Mahakam untuk menuju desa ini merupakan jalur yang paling dekat dan memiliki jalan yang cukup bagus yang menggunakan beton. Namun disayangkan, desa yang berada di sebelah timur tersebut tidak memiliki Pelabuhan untuk kapal kayu (feri) untuk bersandar.
Berdasarkan luas wilayah sekitar 3.277 Ha, dibagi menjadi beberapa wilayah produktif:
1. Lahan Sawah : 250 Ha 2. Lahan Ladang : 50 Ha 3. Lahan Perkebunan : 410 Ha
4. Hutan : 1.200 Ha
Dengan luasan wilayah tersebut Desa Geleo Asa berbatasan langsung dengan wilayah:
1. Sebelah Utara : Muara Asa 2. Sebelah Selatan : Ombau Asa 3. Sebelah Barat : Ongko Asa
4. Sebelah Timur : Muara Benangaq, Geleo Baru
Dengan memiliki garis wilayah yang cukup luas disertai tanah yang subur, roda perekonomian masyarakat Desa Geleo Asa ditopang oleh penghasilan dari perkebunan seperti karet yang merupakan komoditas utama saat ini, termasuk rotan. Selain itu ada pula beberapa sumber penghasilan warga dengan memanfaatkan lahan yang mereka kelola secara turun temurun dengan penanaman padi, pohon pisang, madu bangris, jagung, dan jenis sayur lainnya, termasuk pula buah durian yang dikenal dengan Durian Melak.
Lahan garapan yang telah dirintis oleh pendahulu secara turun temurun ini juga sudah memiliki legalitas atas kepimilikan atas tanah berupa sertifikat tanah yang telah didaftarkan dibantu oleh pihak Pemkab (BPN) melalui perwakilan perangkat sesepuh adat dengan nama Prona (Program Naisonal Agraria). Yang sebagian bisa dibuktikan dengan bukti fisik dilapangan, pohon karet, pohon bangris, gaharu, rotan, ulin, durian, langsat dan pondok-pondok.
Kondisi penduduk di Desa Geleo Asa secara analisa kami keseluruhan berjumlah 850 jiwa yang terbagi dalam beberapa dimensi masyarakat. Adapun tingkat Pendidikan warga desa rata-rata hanya lulus Sekolah Dasar dan SMA/Sedarajat, tidak banyak yang lulusan Sarjana bahkan ada warga yang tidak lulus sekolah dan putus sekolah. Kemudian menurut hasil analisa yang di dapat beberapa pekerjaan masyarakat setempat adalah pegawai negeri sipil, honorer, petani, nelayan, peternak dan wiraswasta/pedagang.
3. Permasalahan Hukum
Selama mendiami Geleo Asa, masyarakat setempat telah mengelola dan memanfaatkan lahan yang mereka miliki hingga menjadi pekerjaan untuk sumber ekonomi sehari-hari bagi masyarakat dengan berkebun dan berladang. Namun semenjak tahun 2010, PT Kencana Wilsa mendapat izin kegiatan untuk melakukan pencarian titik- titik batubara di lahan milik warga Desa Ongko Asa. Lahan tersebut masuk dalam
wilayah Kecamatan Barong Tongkok dan Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat.
Beberapa tahun kemudian keluar Izin Lingkungan dari DPMPTSP Nomor:
660/507/DPMPTSP-III/IV/2019 tanggal 23 April 2019 untuk PT Kencana Wilsa mulai melakukan kegiatan pertambangan. Diketahui lahan-lahan yang berada di sekitar Muara Asa perlahan mulai dilepas oleh warga.
Rencana kegiatan PT Kencana Wilsa menimbulkan berbagai sikap dan pandangan dalam masyarakat. Sikap dan pandangan ini terkait kekhawatiran dan harapan terhadap kegiatan pertambangan. Salah satu alasan masyarakat yang menyetujui adanya kegiatan pertambangan karena pertambangan adalah program dari pemerintah yang bertujuan untuk kemakmuran rakyat. Alasan lain yang lebih penting adalah masyarakat melihat jika kegiatan pertambangan tersebut dilaksanakan maka perusahaan dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat yang mayoritas hanya sebagai petani dan peternak.
Apalagi banyak dari golongan pemuda belum memiliki pekerjaan dan tidak lagi melanjutkan usaha orangtua mengurus ladang.
Berseberangan dengan pandangan di atas, terdapat beberapa warga yang menolak keras terhadap kegiatan pertambangan dengan tidak menyetujui untuk melepaskan lahan mereka hingga melakukan gerakan aksi penolakan. Kesadaran tersebut karena pemahaman yang telah dimiliki oleh warga terhadap krisis lingkungan yang ditimbulkan akibat pertambangan. Masyarakat menyadari akan terjadi kerusakan pada sumber-sumber air, kerusakan tanah berladang, penyurutan air sungai, dan berbagai masalah lainnya.
Lahan produktif yang masih digarap juga dapat turut terdampak menjadi rusak parah akibat dari aktivitas tersebut. Bahkan faktanya untuk membuat hauling saja PT Kencana Wilsa telah melakukan perbuatan kriminal, berupa memberi ancaman untuk mempidanakan warga yang berusaha menghalangi, semata ditujukan untuk menakuti warga yang tidak ingin lahannya dilewati hauling. Sehingga warga secara terpaksa membiarkan perusahaan menguruk lahan untuk membuat hauling menuju jetty.
Hauling yang dilewati puluhan truck dalam sehari membuat kondisi ladang dan pondok di sekitar penuh dengan debu jika cuaca tidak ada hujan. Kondisi cuaca tidak menentu membuat penumpukan sedimentasi sangat banyak hingga berdampak menjadi endapan lumpur. Penumpukan sedimentasi maupun endapan lumpur tersebut menyebabkan kondisi aliran air yang merupakan sumber utama untuk perairan lahan
warga menjadi tersumbat. Hingga membuat genangan air yang merubah lahan menjadi rawa yang tidak lagi produktif untuk ditanami, pohon-pohon yang ditanam gagal panen dan mati. Akibat lainnya adalah terjadi longsor yang melebar ke arah lahan warga.
Bergeser sedikit ke arah hulu, terdapat permasalahan air yang terjadi semenjak pertambangan masuk, di Geleo Asa sendiri belum terlalu terdampak tetapi sudah mulai terasa dengan penyurutan aliran sungai yang terjadi. Berbeda dengan Desa Muara Asa yang memiliki sungai Ngahan yang telah terdampak pencemaran akibat proses aktivitas tambang hingga menyebabkan aliran air yang menjadi sangat keruh dan tidak dapat digunakan. Adanya kegiatan pertambangan di wilayah permukiman memang membawa petaka ataupun dampak negatif terhadap kualitas air tanah yang ada di permukiman sekitar dan juga akibat pembuangan langsung limbah ke arah sungai tersebut. Jika hal ini dibiarkan terus menerus akan menimbulkan dampak yang sangat serius terhadap kondisi air di desa.
Fakta lain menunjukkan bahwa lahan yang terkena dampak lingkungan perusahaan semakin bermasalah adalah saat pertemuan yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat antara pihak perusahaan dan pemilik lahan yang kemudian membuahkan surat kesepakatan untuk menangani kerusakan lingkungan di tanah milik warga. Warga yang tidak diwakili oleh pendamping hukum kesulitan untuk bernegosiasi dengan pihak perusahaan. Sehingga hasil dari pertemuan tersebut hanya membebankan kepada perusahaan untuk memperbaiki parit buatan agar diuruk, membersihkan debu yang memenuhi pondok. Sementara kerusakan tempat pemandian, genangan air yang menjadi rawa, dan kematian tanaman tidak turut diperhitungkan. Bahkan hingga tenggat waktu yang telah disepakati, pihak perusahaan belum ada melakukan pemulihan lahan tersebut. Hingga muncul masalah lain yaitu terdapat lahan-lahan warga yang diduga tumpang tindih dan diklaim oleh salah seorang yang mendukung pertambangan. Padahal lahan-lahan tersebut adalah peninggalan dari leluhur dan tidak pernah dijual sebelumnya dan surat-surat juga masih dimiliki lengkap.
Secara inisiatif warga desa yang menolak pertambangan membentuk forum yang diberi nama Sempekat Peduli Ekosistem Gunung Layung. Tujuan inisiatif ini jelas untuk memperjuangkan hak-hak warga yang terdampak untuk melawan pertambangan batubara agar lingkungan mereka tidak dirampas begitu saja. Termasuk diantaranya, tekanan-
tekanan kepada pemilik lahan yang dilakukan oleh perusahaan termasuk keluarga sendiri yang mendukung pertambangan. Secara struktur forum ini belum memiliki badan hukum dan belum terdaftar di Balai Desa.
4. Pemetaan Aktor
1) Almarhum Pak Martidin seorang tokoh Kepala Desa Geleo Asa dan sebagai perintis Forum Sempekat Peduli Gunung Layung yang melakukan perlawanan dan penolakan terhadap perusahaan tambang PT Kencana Wilsa yang banyak merusak akses menuju lahannya karena sering kali truck pengangkut melalui hauling menuju dermaga atau jetty.
2) Pak Corneles Detang warga Desa Geleo Asa RT 2 dan Koordinator Forum Sempekat Peduli Gunung Layung yang melakukan perlawanan dan penolakan terhadap perusahaan tambang PT Kencana Wilsa yang merusak akses menuju lahannya karena sering kali dilewati truck pengangkut atau hauling menuju dermaga atau jetty.
3) Pak Renaldo sebagai Sekretaris Forum Sempekat Peduli Gunung Layung yang melakukan perlawanan dan penolakan terhadap perusahaan tambang PT Kencana Wilsa yang merusak akses menuju lahannya karena sering kali dilewati truck pengangkut atau hauling menuju dermaga atau jetty.
4) Pak Yotam Koordinator Forum Sempaket Peduli Gunung Layung Geleo Asa dan Ketua RT 1 Desa Geleo Asa. Tanahnya sering dilewatin alat bor perusahaan.
5) Pak Sahrun Sekretaris Forum Sempaket Peduli Gunung Layung Geleo Asa.
Tanahnya merupakan benteng dari semua lahan warga Geleo Asa karena bertempat di puncak Gunung Layung, jika lahannya jebol di atas maka lahan yang di bawah akan jebol juga dan Pak Sahrun korban penyerobotan perusahaan karena tanahnya diklaim oleh orang lain.
6) Ibu Rina bukan warga dari Geleo Asa tapi termasuk sebagai anggota forum Sempekat Peduli Gunung Layung namun seiring berjalan waktu Bu Rina mulai mengendorkan semangat karena faktor sering didiskriminasi warga yang mendukung dengan perusahan, Bu Rina sempat berpikir untuk melepaskan lahan miliknya karena bukan dia yang akan terdampak dari kerusakan lingkungan oleh tambang.
7) Pak Marsono dan Saradius sebagai Humas Perusahaan mereka membuat aksi tandingan melawan forum mereka pro tambang yang mengharapkan perusahaan tambang bisa mensejahterahkan warga.
8) Pak Natanael Yudas Purnawirawan TNI, dia yang menyerahkan lahannya ke perusahaan sekarang yang sedang beroperasi
9) Pak Poli sebagai warga desa RT 2 yang terdampak dan sudah melaporkan ke perusahaan secara lisan dari tahun 2021 sampai sekarang untuk diperbaiki / ganti rugi namun hanya di IYA IYA kan saja lahan pisang, karet, rotan miliknya dan sekarang sudah meminta bantuan ke Forum Sempekat Peduli Gunung Layung.
10) Pak Noen dan Pak Hingen yang mengklaim lahan pak sahrun padahal pak sahrun sudah ada surat-surat milik tanahnya.
11) Pak Andrianus Anggota Forum yang terdampak yang sudah melaporkan ke DLH dan sudah diperbaiki kebun karet lahannya 2 hektar.
12) Pak Muis RT 2 abu-abu karena menyewakan rumahnya untuk karyawan perusahaan.
13) Pak Nasrun Ketua RT 3 menurut ansos kami pro tambang.
14) Pak Luyus Ketua RT 4 menurut ansos kami pro tambang.
15) Pak Omo Sugianto Kepala Desa abu abu tidak juga menolak tidak juga mendukung, tapi menyewakan rumahnya untuk karyawan perusahaan.
16) Pak Ijuh sebagai kaur pemerintahan pro membela perusahaan.
17) Bang Rupang dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) melakukan pendampingan kepada warga dan memberikan pemahaman mengenai dampak buruk dari pertambangan yang dilakukan di lingkungan desa mereka kepada warga Desa Geleo Asa.
18) Kak tere sebagai Pengurus Jatam melakukan pendampingan dan pemetaan lokasi, mendampingin aksi di DLH.
19) Bang Fatul seorang Lawyer dari Lembaga Bantuan Hukum Samarinda melakukan pendampingan hukum & mengadvokasi warga Geleo Asa jika ada permasalahan hukum yang terjadi.
20) Badan pengawas kampung (BPK) geleo asa cenderung kearah mendukung tambang, setiap kegiatan sosial yang ikut berperan dalam forum Sempaket Peduli Gunung Layung BPK tidak pernah menghadiri kegiatan tersebut.
5. Isu Hukum
1) Intimidasi Dari Perusahaan Tambang
Ancaman-ancaman dengan tudingan menghalangi kegiatan usaha pertambangan atau kegiatan usaha negara, terhadap warga yang menolak lahannya untuk digunakan sebagai jalan hauling untuk mengangkut batubara dari pit menuju jetty yang melintas di Geleo Asa. Dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP dengan tegas menyatakan “barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama 9 (Sembilan) bulan.”
2) Kerusakan Lingkungan Peraturan Pemerintah 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
AMDAL adalah salah satu alat pembangunan berkelanjutan sebagai sarana pengambilan keputusan di tingkat pelaksanaan usaha. Kedudukan dan fungsi AMDAL jelas sebagai rambu-rambu pada tujuan perusahaan. Pasal 4 ayat (2) “usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan.”
3) Tidak berjalannya Fungsi DLH sebagai pengawas terhadap pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 74 ayat 1, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan Dan Atau
Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan Atau Lahan, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup) 4) Penyerobotan - KUHP Pasal 385 ayat (1) jo. Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang (Peraturan Pemerintah) Nomor 51 Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau Kuasanya, Pasal 2 dan 6.
Dalam tindak pidana penyerobotan tanah adalah Pasal 385 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman pidana paling lama empat tahun, dimana barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan credietverband suatu hak tanah yang belum bersertifikat, padahal ia tahu bahwa orang lain yang mempunyai hak atau turut mempunyai hak atau turut mempunyai hak atasnya.
Di dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 51 PRP Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak Atau Kuasanya (UU No 51 PRP 1960) menyatakan bahwa pemakaian tanah tanpa izin dari yang berhak maupun kuasanya yang sah adalah perbuatan yang dilarang, dan dapat diancam dengan hukuman pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan, atau denda sebanyak- banyaknya Rp 5.000 (lima ribu Rupiah) sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU No 51 PRP 1960.
Adapun tindakan yang dapat dipidana sesuai dengan Pasal 6 UU No 51 PRP 1960 adalah (i) barangsiapa yang memakai tanah tanpa izin yang berhak atau kuasanya yang sah, (ii) barangsiapa yang menggangu pihak yang berhak atau kuasanya yang sah di dalam menggunakan suatu bidang tanah, (iii) barangsiapa menyuruh, mengajak, membujuk atau menganjurkan dengan lisan maupun tulisan untuk memakai tanah tanpa izin dari yang berhak atau kuasanya yang sah, atau mengganggu yang berhak atau kuasanya dalam menggunakan suatu bidang tanah, dan (iv) barangsiapa memberi bantuan dengan cara apapun untuk memakai tanah tanpa izin dari yang berhak atau kuasanya yang sah, atau mengganggu pihak yang berhak atau kuasanya dalam menggunakan suatu bidang tanah.
Pihak warga yang tanahnya telah dijual ke pihak perusahaan sehingga telah kehilangan sumber penghasilan, kemudian muncul oknum yang mencoba untuk merebut tanah milik warga secara sepihak, mengklaim dengan memasang patok dengan asal. Perbuatan tersebut dapat dikenakan Pasal 385 ayat (1) “barang siapa dengan maksud menguntungkan orang-orang lain secara melawan hukum, menjual,
menukarkan atau membebani dengan creditverband suatu hak katas tanah yang telah bersertifikat, suatu Gedung, bangunan, penanaman atau pembenihan di atas tanah yang belum bersertifikat, padahal diketahui bahwa yang mempunyai tanah yang belum bersertifikat, padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau turut mempunyai hak di atasnya adalah orang lain.”
5)
Pertanggung jawaban Perusahaan Pencemaran Lingkungan Pasal 53 Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.PT Kencana Wilsa wajib bertanggungjawab atas terjadinya pencemaran lingkungan ke sungai mengakibatkan berubahnya tatanan lingkungan, sehingga mutu kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dapat dikenakan sebagaimana ketentuan Pasal 53 ayat (1) jo Pasal 54 ayat (1) UU PPLH yang menyatakan bahwa “setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib melakukan penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dan wajib melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup”.
Kesimpulan
Masih banyak warga yang perlu diberikan advokasi betapa pentingnya menjaga lingkungan yang baik agar tetap lestari dan berkepanjangan untuk generasi selanjutnya.
Warga perlu meningkatkan kekuatan solidaritas di masyarakat, terus berkomitment, kekompakan di forum Sempekat Peduli Gunung Layung dan forum lainya yang terkena dampak dari kegiatan pertambangan PT Kencana Wilsa.
Warga Geleo Asa dapat melakukan peningkatan sumber pedapatan dengan membuat berbagai usaha dengan konsep pertanian terpadu selain dari agropastura &
agroforestry yang telah diterapkan. Warga juga dapat menjadi produsen yang mengegola hasil pertanian untuk di produksi secara skala besar dan berkepanjangan. Dengan memajukan sumber perekonomian di desa harapannya banyak warga yang tidak mudah menyerahkan lahannya ke tambang hanya karena jumlah uang yang ditawarkan besar.
Rekomendasi
1. Untuk menunjang gerakan kami berpikir betapa pentingnya untuk menduduki posisi pimpinan di pemerintahan kampung dan pimpinan adat.
2.
Dan membuat tapal batas adat di geleo asa dan melegalkan tapal batas adat seperti yang di lakukan di masyarskat di desa ongko asa.3.
Merangkul dan memberdayakan karangtaruna agar turut aktif untuk perjuangan warga desa geleo asa.4. Tokoh-tokoh forum agar bisa mendampingi warga yang memiliki masalah lingkungan.