• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Pengertian dan Hakikat Cerbung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI. A. Pengertian dan Hakikat Cerbung"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

BAB II

LANDASAN TEORI

Didalam melakukan suatu penelitian, diperlukan teori dan pendekatan yang tepat agar sesuai dengan objek yang akan diteliti. Untuk membongkar objek penelitian dibutuhkan teori pendekatan yang sesuai dengan objek yang akan dikaji. Berikut akan dipaparkan teori yang dipergunakan dalam melakukan penelitian.

A. Pengertian dan Hakikat Cerbung

Penelitian ini mengambil objek penelitian berupa cerbung. Adapun cerbung yang diangkat dalam penelitian ini berjudul cerbung “Watesing Kasabaran”. Oleh karena itu untuk melengkapi penelitian ini, maka diperlukan

suatu teori yang membahas pengertian cerbung.

Cerbung merupakan genre berbentuk prosa. Hakikat cerbung adalah pengungkapan jiwa pengarang melalui proses imajinasi yang tetap berpangkal pada kenyataan dan pengalaman. Pengungkapan dan penyajian terpenggal- penggal menurut episodenya. Pemenggalan ini dipergunakan pengarang untuk membuat trik-trik atau tegangan-tegangan sehingga penikmat sastra merasa penasaran dengan episode berikutnya. Sebagai sebuah karya sastra, cerita bersambung menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai pandangannya (Burhan Nurgiyantoro, 2002:2)

(2)

Cerbung merupakan cerita rekaan atau fiksi yang dimuat tidak hanya sekali di dalam majalah atau media lainnya yang dimuat dalam beberapa episode.

Cerbung sangat panjang karena teknik penceritaannya yang mendetail antara kejadian satu dengan kejadian yang lain, serta penuturan satu dengan penuturan yang lain di dalam cerita.

Cerita bersambung juga mempunyai beberapa tokoh disamping tokoh utama, tokoh pembantu yang terdapat di dalam cerita bersambung dan isi cerbung biasanya lebih kompleks dan lebih banyak. Cerbung ini memiliki persamaan novel, cerpen maupun roman yang mana sama-sama memiliki struktur yaitu:

sama-sama memiliki plot/alur, tokoh, latar (setting), judul, sudut pandang (point of view), gaya dan nada serta tema. Fungsi sosial pun sama yaitu sebagai cermin dan respon pengarang terhadap fenomena-fenomena sosial dalam masyarakat.

Perbedaannya terletak pada penyajian yaitu cerita disajikan sebagian demi sebagian, sedangkan novel, cerpen maupun roman tidak disajikan secara periodik.

B. Pendekatan Struktural

Langkah awal dalam meneliti suatu karya sastra adalah dengan pendekatan struktural. Pendekatan struktural dapat juga dinamakan dengan pendekatan obyektif. Struktur merupakan komponen paling utama, yang membentuk karya sastra. Analisis struktural karya sastra yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan atas unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Analisis struktural pada dasarnya

(3)

berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah keseluruhan. Analisis struktural tak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah karya fiksi. Namun yang lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur itu dan sumbangan apa yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai. (Burhan Nurgiyantoro, 2007:37)

Analisis sebuah karya sastra yang menggunakan pendekatan struktural tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena hal ini merupakan langkah awal yang dapat membantu peneliti dalam memberikan makna atas sebuah karya sastra yang akan dianalisis. Dalam prinsip yang lebih tegas, analisis struktural bertujuan membongkar dan memaparkan dengan cermat keterkaitan semua analisis karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. (Suwondo dalam Jabrohim, 2001:55)

Struktur akan bermakna apabila dihubungkan dengan struktur lain.

Struktur tersebut memiliki bagian yang kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubungan antar unsur secara keseluruhan. (Suwardi Endraswara, 2003:49)

Pendekatan struktural merupakan usaha untuk memahami karya sastra berdasarkan unsur-unsur internal pembentuk karya sastra yang menghasilkan makna menyeluruh antara lain meliputi alur, penokohan, latar, tema dan amanat.

Langkah selanjutnya menjabarkan bagaimanakah hubungan antar unsur tersebut sehingga tiap-tiap unsur pembangunan memiliki makna keseluruhan yang satu dan saling melengkapi. Makna karya sastra itu sendiri akan berkurang apabila salah

(4)

satu unsur pembentuknya dihilangkan. Robert Stanton menyatakan bahwa struktur karya sastra meliputi 3 kategori, yaitu: fakta cerita, sarana sastra, dan tema.

1. Fakta-fakta Cerita a. Alur

Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendiri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dapat dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur memiliki hukum-hukum sendiri. Alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinkan, dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam kejutan, serta memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Robert Stanton, 2007:28).

Dua elemen dasar yang membangun alur adalah ‟konflik‟ dan ‟klimaks‟.

Konfliks dibagi atas konfliks internal dan konfliks eksternal. Konflis internal merupakan konfliks antara dua keinginan dalam diri seorang tokoh, sedangkan konfliks eksternal merupakan konfliks antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain (antar tokoh), atau antara tokoh dengan lingkungannya.

‟klimaks‟ adalah saat konfliks terasa sangat intens, sehingga ending tidak dapat dihindari lagi. Klimaks hanya dimungkinkan ada dan terjadi jika ada konflik. Namun, tidak semua konflik harus mencapai klimaks. Hal itu sejalan dengan keadaan bahwa tidak semua konflik harus mempunyai penyelesaian.

b. Karakter

(5)

Karakter dapat berarti ‟pelaku‟ dan dapat pula berarti ‟perwatakan‟, keterkaitan antara seorang tokoh dengan perwatakan yang dimiliki, memang merupakan suatu kesatuan utuh, dapat dikatakan bahwa seorang tokoh dalam cerita diciptakan bersama dengan perwatakan yang dimilikinya.

Karakter biasanya dipakai dalam dua konteks: konteks pertama karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita, konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Dalam sebagian besar cerita dapat ditemui satu karakter utama, yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Dengan pembagian karakter menjadi dua konteks tersebut, setidaknya dapat menganalisis dan mengamati tokoh cerita atau karakter dengan merujuk pada dua hal, yakni antara individu-individu yang muncul dalam cerita, dan pada percampuran berbagai kepentingan dari individu- individu tersebut sehingga bisa ditemukan karakter atau tokoh utama (Robert Stanton, 2007:33)

Alasan seorang tokoh untuk melakukan suatu tindakan dinamakan

‟motivasi‟. Robert Stanton (2007:33), membedakan motivasi menjadi dua jenis, yakni ‟motivasi spesifik‟ dan ‟motivasi dasar‟. Motivasi spesifik seorang tokoh adalah alasan atas reaksi spontan yang mungkin juga didasari, yang ditunjukkan oleh adegan atau dialog tertentu. Motivasi dasar adalah suatu aspek umum dari satu tokoh (hasrat dan maksud yang memandu sang tokoh) dalam melewati keseluruhan cerita. Dari semua motivasi ini, seorang tokoh bisa dicermati atas tindakan yang dilakukan.

(6)

c. Latar

Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semua hal yang dapat berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud dekor (sebuah cafe di Paris, Pegunungan di California, sebuah jalan buntu di sudut kota Dublin, dan sebagainya). Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bukan, dan tahun), cuaca atau satu periode sejarah. Meski secara tidak langsung merangkum sang karakter utama, latar dapat merangkum orang-orang yang menjadi dekor dalam cerita (Robert Stanton, 2007:35)

d. Tema

Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan ‟makna‟ dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat.

Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut dan berdampak.

Bagian awal dan akhir cerita akan menjadi relevan dan sesuai berkat keberadaan tema.

Dalam usaha menemukan dan menafsirkan tema secara lebih rinci, Robert Stanton (2007:44-45), menyatakan adanya sejumlah kriteria yang dapat diikuti sebagai berikut:

Pertama penafsiran tema hendaknya mempertimbangkan tiap detail yang menonjol. Hal ini disebabkan pada detail-detail yang menonjol (ditonjolkan) itulah pada umumnya sesuatu yang ingin disampaikan. Detail cerita yang

(7)

demikian diperkirakan berada di sekitar persoalan utama. Dengan demikian tokoh-masalah-konflik utama merupakan tempat yang paling strategis untuk mengungkapkan tema utama; kedua, penafsiran tema hendaknya tidak bersifat kontradiksi dengan tiap detail cerita; ketiga, penafsiran tema hendaknya tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti yang tidak secara jelas dinyatakan (baik secara langsung maupun tidak langsung). Tema cerita tidak dapat dibayangkan ada dalam cerita atau informasi yang kurang dapat dipercaya; keempat, penafsiran tema haruslah diujarkan pada bukti-bukti yang secara langsung jelas oleh cerita.

Penunjukan tema sebuah cerita haruslah dapat dibuktikan dengan data-data atau detail-detail cerita yang terdapat dalam cerita itu, baik yang berupa bukti-bukti langsung artinya hanya berupa penafsiran terhadap kata-kata yang ada.

Dari fakta-fakta cerita yang ada, didukung dengan sarana-sarana sastra, maka makna totalitas dari suatu karya sastra cenderung dapat dimunculkan melalui analisis dari unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut.

2. Sarana-sarana sastra

Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu, karena dengan sarana-sarana itu pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang.

a. Judul

Pembaca pada umumnya mengira bahwa judul selalu relevan terhadap karya yang diampunya, sehingga keduanya membentuk suatu kesatuan. Pendapat

(8)

ini dapat diterima ketika judul mengacu pada sang karakter utama atau satu latar tertentu, akan tetapi judul seringkali menjadi petunjuk makna cerita yang bersangkutan (Robert Stanton, 2007: 51). Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena merujuk pada karakter, latar, dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Seringkali judul dari karya sastra mempunyai beberapa makna yang terkandung dalam cerita, judul juga dapat merupakan sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang, dapat juga dikatakan sebagai kesimpulan terhadap keadaan yang sebenarnya dalam cerita.

b. Sudut pandang

Sudut pandang dapat dikatakan sebagai dasar berpijak pembaca untuk melihat peristiwa-peristiwa dalam cerita. Pengarang sengaja memilih sudut pandang secara berhati-hati agar dapat memiliki berbagai posisi dan berbagai hubungan dengan setiap peristiwa dalam cerita (baik di dalam maupun di luar tokoh), dan secara emosional terlibat atau tidak.

Robert Stanton (2007:53), berpendapat bahwa pemikiran dan emosi para karakter hanya dapat diketahui melalui berbagai tindakan yang mereka lakukan.

Pendeknya ‟kita‟ memiliki posisi yang berbeda, memiliki hubungan yang berbeda dengan tiap peristiwa dalam cerita (di dalam atau di luar satu karakter, menyatu atau terpisah secara emosional), ‟posisi‟ ini sebagai pusat kesadaran, tempat dimana kita dapat memahami setiap peristiwa dalam cerita, maka dinamakan

‟sudut pandang‟.

(9)

Robert Stanton (2007:53-54), membagi sudut pandang menjadi 4 tipe utama

1. Orang pertama-utama, sang karakter utama bercerita dengan kata- katanya sendiri.

2. Orang pertama-sampingan, cerita dituturkan oleh satu karakter sampingan.

3. Orang ketiga-terbatas, pengarang mengacu pada semua karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga, tetapi hanya mengambarkan apa yang dapat dilihat, didengar, dan diperkirakan oleh satu orang karakter saja.

4. Orang ketiga-tidak terbatas, pengarang mendengar, atau berfikir, atau bahkan saat tidak ada satu karakter pun hadir.

c. Gaya dan Tone

Gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, namun hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek; seperti kerumitan, ritme, panjang- pendek kalimat, pada bagian-bagian, humor, kenyataan, dan banyaknya imaji, serta metafora. Campuran dari berbagai aspek tersebut akan menghasilkan gaya (Robert Stanton, 2007 :61).

Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah ‟tone‟. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa tampak

(10)

dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan. Ketika seorang pengarang mampu berbagai

”perasaan” dengan sang karakter, dan ketika perasaan itu tercermin pada lingkungan, tone menjadi identik dengan ”atmosfer”. Pada posisi tertentu tone dimunculkan oleh fakta-fakta. Satu cerita yang mengisahkan tentang seorang pembunuh berkapak, maka akan memunculkan tone ‟gila‟, akan tetapi yang terpenting adalah pilihan detail pengarang ketika menyodorkan fakta-fakta itu dan tentu saja gaya pengarang sendiri (Robert Stanton, 2007: 63).

d. Ironi

Menurut Robert Stanton, dalam Teori Fiksi ironi dibagi menjadi dua, ironi dramatis dan tone ironis.

1) Ironi Dramatis atau Ironi Alur Ironi dramatis

Ironi Dramatis adalah situasi yang muncul melalui kontras diametris antara maksud dan tujuan seorang karakter dengan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ironi dramatis biasanya terjadi dikarenakan adanya hubungan kausal atau sebab- akibat.

2) Tone Ironis atau ironi verbal

Tone Ironis atau ironi verbal biasanya digunakan untuk mengungkapkan makna dengan cara berkebalikan. Seperti terkadang terdapat ironis antara „sikap‟ pengarang dengan „rasa‟ sesungguhnya

(11)

sudut pandang seorang karakter untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya. (Robert Stanton, 2007, 71-72)

e. Simbolisme

Simbol berwujud detail-detail konkret dan faktual dan memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan dan emosi dalam pikiran pembaca.

Dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Kedua, suatu simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Ketiga sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema. (Robert Stanton, 2007, 64-65)

C. Pendekatan Psikologi Sastra

Psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Bila diartikan secara harfiah psikologi adalah ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala kejiwaan. Jadi psikologi pada mulanya adalah pengetahuan tentang jiwa manusia (Nina A. M dan Ida, 2009:13)

Psikologi yang berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos, yaitu ilmu mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai obyek studi, terutama pada sisi perilaku (behavior atau action) dan jiwa (psyche). Berdasar pengertian singkat tersebut kita bisa memahami formulasi-formulasi yang secara singkat dikategorikan menjadi (1) ilmu atau kajian ilmiah tentang perilaku manusia dan

(12)

(2) ilmu atau kajian ilmu tentang jiwa manusia. Sebagai disiplin ilmu yang memfokuskan studi pada perilaku manusia, psikologi dikategorikan sebagai behavioral science atau ilmu perilaku.

Menurut Sangidu, psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang di dalamnya atau mungkin juga diperankan oleh tokoh faktual (2004: 30).

Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing (Suwardi Endraswara, 2008 : 96). Bahkan, sebagaimana sosiologi refleksi, psikologi sastrapun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang, akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks sastra.

Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh juga kebetulan teks berupa drama maupun prosa. Sedangkan jika berupa puisi, tentu akan tampil melalui larik-larik dan pilihan kata yang khas.

Dalam pandangan Wellek dan Warren (1995) psikologi dalam karya sastra bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, karena tokoh-tokoh dalam karya sastra harus dihidupkan, diberi jiwa. Pengarang baik sadar maupun tidak sadar

(13)

memasukkan jiwa manusia ke dalam karyanya. Hal ini akan terlihat dalam diri tokoh cerita dan lingkungan cerita di mana cerita tersebut terjadi.

Perspektif topografis yang dikemukakan Freud, struktur dalam kehidupan psikis: yang taksadar, yang prasadar, dan yang sadar. Yang taksadar adalah keseluruhan isi yang taksadar dalam wilayah kesadaran yang aktual. Istilah ini mengacu pula pada suatu sistem yang dianggap sebagai tempat pulsi-pulsi yang ada sejak lahir dan hasrat dan kenangan yang ditekan, yang berupaya untuk kembali ke dalam alam sadar dan ke dalam tindakan.

Perpindahan dari yang tak sadar ke yang sadar diatur oleh sensor yang berusaha untuk menghalangi isi alam tak sadar yang ingin masuk ke dalam kesadaran. Di pihak lain, sebenarnya yang pra sadar membentuk suatu sistem dengan yang sadar; keduanya merupakan Ego. Dengan demikian, walaupun ada juga sensor, masih ada kemungkinan perpindahan dari yang prasadar ke yang sadar.

Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh yang taksadar karena semua proses psikis bersumber pada yang taksadar. Bila proses mencapai ambang yang prasadar dapat terjadi represi, dapat pula muncul dalam bentuknya yang kurang lebih tersamar, yaitu gagasan, kata-kata, perasaan, dan tindakan.

Dalam Kajian Psikologi Sastra berusaha mengungkapkan psikoanalisa kepribadian yang dipandang meliputi tiga unsur kejiwaan yaitu id, ego dan super ego. Model kajian ini dikemukakan oleh Sigmund Freud yaitu.

1. Id atau das es, merupakan aspek biologis. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir yaitu insting atau naluri. Id merupakan „reservoir‟ energi psikis

(14)

yang menggerakkan ego dan super ego. Dalam fungsinya, id ialah menghindarkan dari ketidakenakan dan mengejar keenakan dalam artian mencapai kepuasan bagi keinginan naluri sesuai prinsip kenikmatan atau dalam prosesnya id akan berusaha memuaskan keinginan atau menyerahkan kepada ego.

2. Ego atau das ich, merupakan aspek daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organism untuk berhubungan dengan dunia kenyataan.

Dalam fungsinya yang berhubungan dengan dunia kenyataan „prinsip realitas‟ maka ego bereaksi dengan proses sekunder. Tujuan prinsip realitas adalah mencari obyek yang tepat, proses sekunder itu adalah proses berpikir realistis, dengan menggunakan proses sekunder, ego tersebut merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan.

3. Super ego atau das ueber ich, merupakan aspek psikologis kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat.

Super ego dapat dianggap pula sebagai aspek moral kepribadian yang

berfungsi menentukan apakah sesuatu benar atau salah, benar atau tidak, susila atau tidak dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat karena super ego dibentuk melalui jalan internalisasi dalam perkembangan jiwa yang berupa hukuman dan hadiah oleh pendidiknya. Adapun fungsi super ego dapat dilihat dalam hubungannya yang pertama dengan id adalah merintangi terutama insting seksual yang agresif yang dalam kanyataannya sangat ditentang oleh

(15)

commit to user

masyarakat. Yang kedua adalah dengan ego, mendorong ego untuk mengejar hal-hal yang lebih moralistis daripada realistis, dan yang ketiga adalah mengejar kesempurnaan. Jadi super ego cenderung untuk menentang baik id maupun ego dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal (Sumadi Suryabrata, 2003 : 124-128).

Selain menggunakan psikoanalisa kepribadian, dalam penelitian ini juga menggunakan proses mekanisme pertahanan dan konflik yang terdiri dari 9 macam.

1. Represi (Repression)

Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego yang paling kuat dan luas adalah antara lain, represi (repression). Tugas represi ialah mendorong keluar impuls-impuls id yang tak diterima, dari alam sadar dan kembali ke alam bawah sadar. Tujuan dari semua mekanisme pertahanan ego adalah untuk menekan (repress) atau mendorong impuls-impuls yang mengancam agar keluar dari alam sadar. (Albertine Minderop, 2010: 32-33)

2. Sublimasi

Sublimasi terjadi bila tindakan-tindakan yang bermanfaat secara sosial menggantikan perasaan tidak nyaman. Sublimasi sesungguhnya suatu bentuk pengalihan. Misalnya, seorang individu memiliki dorongan seksual yang tinggi, lalu ia mengalihkan perasaan tidak nyaman ini ke tindakan- tindakan yang dapat diterima secara sosial dengan menjadi seorang artis pelukis tubuh model tanpa busana.(Albertine Minderop, 2010:34)

(16)

Mekanisme yang tidak disadari yang melindungi kita dari pengakuan terhadap kondisi tersebut dinamakan proyeksi.

Proyeksi terjadi bila individu menutupi kekurangannya dan masalah yang dihadapi atau pun kesalahannya dilimpahkan kepada orang lain. (Albertine Minderop, 2010:34)

4. Pengalihan (Displacement)

Pengalihan adalah pengalihan perasaan tidak senang terhadap suatu objek ke objek lainnya yang lebih memungkinkan. Misalnya, adanya impuls- impuls agresif yang dapat digantikan, sebagai kambing hitam, terhadap orang (atau objek lainnya) yang mana objek-objek tersebut bukan sebagai sumber frustasi namun lebih aman dijadikan sebagai sasaran. (Albertine Minderop, 2010:35)

5. Rasionalisasi (Rationaliztion)

Rasionalisasi memiliki dua tujuan: pertama, untuk mengurangi kekecewaan ketika kita gagal mencapai suatu tujuan ; dan kedua, memberikan kita motif yang dapat diterima atas perilaku. Rasionalisasi terjadi bila motif nyata dari perilaku individu tidak dapat diterima oleh ego. Motif nyata tersebut digantikan oleh semacam motif pengganti

dengan tujuan pembenaran. Contoh-contoh rasionalisasi: Pertama, rasa suka atau tidak suka sebagai alasan: seorang gadis yang tidak diundang kesebuah pesta, berkata bahwa ia tidak akan pergi walau diundang karena ada beberapa orang yang tidak disukainya yang hadir dipesta tersebut.

Kedua, menyalahkan orang lain atau lingkungan sebagai alasan: seseorang

(17)

yang terlambat karena tertidur akan menyalahkan orang lain yang tidak membangunkannya; atau mengatakan kelelahan karena sibuk sehingga terlelap. Seharusnya ia dapat bangun dengan memasang waker sebelumnya. Ketiga, kepentingan sebagai alasan; seseorang membeli model baru dengan alasan mobil yang lama membutuhkan banyak reparasi. (Albertine Minderop, 2010:35)

6. Reaksi Formasi (Reaction Formation)

Represi akibat impuls anxitas kerap kali diikuti oleh kecenderungan yang berlawanan yang bertolak belakang dengan tendensi yang ditekan: reaksi formasi. Misalnya, seseorang bisa menjadi syuhada yang fanatik melawan kejahatan karena adanya perasaan dibawah alam sadar yang berhubungan dengan dosa. Ia boleh jadi merepresikan impulsnya yang berakhir pada perlawanannya kepada kejahatan yang ia sendiri tidak memahaminya.

Manisfestasi kepedulian yang berlebihan dari seorang ibu terhadap anaknya dapat merupakan upaya menutupi perasaannya yang tidak nyaman terhadap anaknya; sikap yang sangat sopan kepada seseorang dapat merupakan upaya menyembunyikan ketakutan. Reaksi formasi mampu mencegah seorang individu berperilaku yang menghasilkan anxitas dan kerap kali dapat mencegahnya bersikap antisosial. (Albertine Minderop, 2010:37)

7. Regresi

Terdapat dua interpretasi mengenai regresi. Pertama, regresi yang disebut retrogressive behavior yaitu, perilaku seseorang yang mirip anak kecil,

(18)

menangis dan sangat manja agar memperoleh rasa aman dan perhatian orang lain. Kedua, regresi yang disebut primitivation ketika seorang dewasa bersikap sebagai orang yang tidak berbudaya dan kehilangan kontrol sehingga tidak sungkan-sungkan berkelahi. (Albertine Minderop, 2010:38)

8. Agresi dan Apatis

Perasaan marah terkait erat dengan ketegangan dn kegelisahan yang dapat menjurus pada pengrusakan dan penyerangan. Agresi dapat bebrbentuk langsung dan pengalihan (direct aggression dan displaced aggression).

Agresi langsung adalah agresi yang diungkapkan secara langsung kepada seseorang atau objek yang merupakan sumber frustasi. Sedangkan agresi yang dialihkan adalah bila seseorang mengalami frustasi namun tidak dapat mengungkapkan secara puas kepada sumber frustasi tersebut karena tidak jelas atau tersentuh. Pelaku tidak tahu kemana ia harus menyerang;

sedangkan ia sangat marah dan membutuhkan sesuatu untuk pelampiasan.

Penyerangan kadang-kadang tertuju kepada orang yang tidak bersalah atau mencari „kambing hitam‟. Apatis adalah bentuk lain dari reaksi terhadap frustasi, yaitu sikap apatis (apathy) dengan cara menarik diri dan bersikap seakan-akan pasrah. (Albertine Minderop, 2010:39)

9. Fantasi dan Stereotype

Fantasi adalah ketika menghadapi masalah yang demikian bertumpuk, kadangkala kita mencari „solusi‟ dengan masuk ke dunia khayal, solusi yang berdasarkan fantasi ketimbang realitas. Contoh para serdadu perang

(19)

commit to user

yang kerap menempelkan gambar-gambar pin-up girls dibarak mereka yang melambangkan fantasi kehidupan tetpa berlangsung pada saat kehidupan seksualnya terganggu; sebagaimana orang yang sedang lapar membayangkan makanan lezat dengan mengumpulkan potongan gambar berbagai hidangan. Stereotype adalah konsekuensi lain dari frustasi, yaitu perilaku stereotype- memperlihatkan perilaku pengulangan terus-menerus.

Individu selalu mengulangi perbuatan yang tidak bermanfaat dan tampak aneh. (Albertine Minderop, 2010:39)

Psikologi dalam karya sastra mempunyai pengaruh karena pengarang memberikan citra manusia dalam tokoh-tokoh dan melukiskan kehidupanya dalam cerita. Setiap tokoh memiliki permasalahan yang berbeda-beda, baik permasalahan internal maupun ekternal. Sehingga sikap para tokoh juga berbeda dalam menanggapi setiap permasalahan yang ada tersebut. Teori yang dikemukakan oleh Sigmund freud yakni id, ego, dan super ego akan dijadikan acuan untuk menganalisis potret kejiwaan tokoh beserta gejala yang terjadi pada diri tokoh dalam cerbung Watesing Kasabaran karya Tiwiek SA. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan psikologi sastra adalah disiplin ilmu yang mempelajari aspek-aspek kejiwaan suatu karya sastra

Referensi

Dokumen terkait

Kapasitas Industri Menurut Kelompok Industri di Kabupaten Garut Tahun 2009 Rincian Industri Argo dan Hasil Hutan Industri

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, perlu menetapkan

Hasil pengujian menunjukkan bahwa Hedonic Shopping Value dan Fashion Involvement tidak berpengaruh terhadap perilaku Impulse Buying pada Matahari Department Store di

Banyaknya konten berita citizen journalis yang diunggah di instagram @infodenpasar menjadi perhatian peneliti apakah konten berita ini dapat diterima oleh khalayak

Segala puji syukur dan hormat kepada Tuhan Yesus Kristus, oleh karena anugerah, rahmat dan kemurahan hati-Nya telah menuntun dan mengijinkan peneliti untuk menyelesaikan

Penurunan jumlah persentase responden dengan gangguan fungsi kognitif sedang dan peningkatan fungsi kognitif dalam batas tidak ada gangguan kognitif (normal)

[r]

1) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam Machine-to- Machine. 2) Hasil dari penelitian ini