• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Reviuw Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian terdahulu peneliti (Mokoagouw et al., 2018), (Atmaja, 2016), (Afiani et al., 2019) masih tedapat hasil berbeda. Hasil review penelitian terdahulu mengenai kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud yang akan dijadikan pedoman peneliti yaitu:

Hasil penelitian (Atmaja, 2016), tentang “Pengaruh Kompetensi, Profesionalisme, dan Pengalaman Audit terhadap Kemampuan Auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam Mendeteksi Fraud dengan Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) sebagai Variabel Moderasi”. Dengan jenis penelitian kuantitatif, data yang digunakan data primer dengan metode Survei Eksplanatif. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Pengambilan sampel dengan metode nonprobabilitas melalui pengambilan sampel yang mudah (convenience sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara Kompetensi, Profesionalisme, dan Pengalaman Audit terhadap Kemampuan Auditor Badan Pemeriksa Keuangan dalam Mendeteksi Fraud. Sementara tidak ada hubungan yang signifikan antara Teknik Audit Berbantuan Komputer (TABK) sebagai Variabel Moderasi.

Hasil penelitian (Afiani et al., 2019), tentang “Skeptisme Profesional, Pelatihan Audit Kecurangan, Pengalaman Audit dan Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan pada Inspektorat Kota dan Kabupaten di Jawa Tengah”. Jenis penelitian kuantitatif, dengan kuesioner dan analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda menggunakan data primer. Pengambilan sampel dengan metode Purposive Sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa skeptisme profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.

Pelatihan audit kecurangan dan Pengalaman audit tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Skeptisme profesional, pelatihan audit kecurangan dan pengalaman audit secara bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.

(2)

Hasil penelitian (Mokoagouw et al., 2018), tentang “Pengaruh Skeptisme Profesional dan Pengalaman Auditor terhadap Kemampuan Auditor Eksternal dalam Mendeteksi Kecurangan (Survei Pada Auditor BPK RI Perwakilan Sulawesi Utara)”. Jenis penelitian kuantitatif dengan survey, dengan data primer. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS Versi 23. Pengambilan sampel metode nonprobability sampling, dengan menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa skeptisme profesional dan pengalaman auditor secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan auditor eksternal dalam mendeteksi kecurangan.

2.2 Kajian pustaka Grand Theory

Teori atribusi merupakan teori yang dicetuskan oleh Fritz Heider yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori ini menjelaskan proses dimana orang menentukan penyebab dan motif untuk tindakan orang lain. Teori atribusi ini mengacu mengenai bagaimana seseorang dapat menjelaskan penyebab perilaku dari orang lain ataupun diri mereka sendiri yang dapat ditentukan dari sisi internal mereka seperti sifat, karakter, sikap, ataupun dari sisi eksternal mereka seperti tekanan situasi atau keadaan tertentu yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku individu (Ilhamsyah, 2018).

Teori ini juga menjelaskan bagaimana seseorang merespon peristiwa dalam hidup mereka dengan mengetahui alasan di balik peristiwa yang mereka alami. Kekuatan internal dan eksternal bergabung untuk menentukan perilaku manusia. Teori ini digunakan untuk menjelaskan pertimbangan (judgement), penilaian kinerja, dan pengambilan keputusan auditor (Indriyani dan Hakim, 2021). Pengaruh internal maupun eksternal dapat mempengaruhi kemampuan dan perilaku dari auditor tersebut. Faktor internal dalam diri auditor menjadi faktor yang paling dominan, sebab faktor-faktor penentu kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud berasal dari dalam diri auditor. Kemampuan seseorang dibentuk melalui usahanya misalnya dengan pencarian keahlian yang didapatnya dari pengalaman, sikap skeptisme profesional, dan kompetensi yang dimiliki auditor (Natalia dan Latrini, 2021). Jika dihubungkan dengan teori maka kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud sangat berpengaruh karna adanya faktor internal (dari dalam diri) dan faktor eksternal (dari keadaan sekitar). Apabila pengaruh dari internal maupun

(3)

eksternalnya tinggi maka besar kemungkinan kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud juga tinggi.

2.3 Landasan Teori 2.3.1 Kompetensi

SPAP (2014) menjelaskan bahwa audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten.4 Kompetensi auditor berdasarkan (Keputusan Dewan Pengurus IAPI) Nomor 4 Tahun 2018 merupakan, “kemampuan professional individu auditor dalam menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan suatu perikatan baik secara bersama-sama dalam suatu tim atau secara mandiri berdasarkan Standar Profesi Akuntansi Publik, kode etik dan ketentuan hukum yang berlaku, kompetensi auditor dapat diperoleh melalui pendidikan pada perguruan tinggi pada bidang akuntansi, kegiatan pengembangan dan pelatihan professional di tempat bekerja, yang kemudian dibuktikan melalui penerapan pada praktik pengalaman kerja serta jumlah jam kerja riil yang telah diperoleh”5

Kompetensi adalah pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh auditor untuk menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya (Natalia dan Latrini, 2021).

Kemampuan auditor untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya dalam melakukan audit sehingga auditor dapat melakukan audit dengan teliti, cermat, intuitif, dan obyektif (Triarini dan Latrini, 2016). Oleh karena itu, pemeriksaan audit harus dilakukan oleh seorang auditor yang berkompeten dibidang auditor.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI (2017) Nomor 38 Tahun 2017 Pasal 1 menjelaskan, “Standar Kompetensi Jabatan Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Standar Kompetensi ASN adalah deskripsi pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang diperlukan seorang Aparatur Sipil Negara dalam melaksanakan tugas jabatan.”6

4 (SPAP, 2014)

5 (Keputusan Dewan Pengurus IAPI, 2018)

6 (Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI, 2017)

(4)

2.3.2 Profesionalisme

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (2011) Nomor 2 Tahun 2011 tentang Kode Etik Badan Pemeriksa Keuangan pasal 1 menyebutkan bahwaProfesionalisme adalah kemampuan, keahlian, dan komitmen profesi dalam menjalankan tugas.7 Atmaja (2016) menjelaskan profesionalisme adalah kemampuan, keahlian, dan komitmen profesi dalam menjalankan tugas disertai prinsip kehati-hatian (due care), ketelitian, dan kecermatan, serta berpedoman kepada standar dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sikap profesional diterapkan dengan sikap skeptisisme profesional (professional skepticism) selama proses audit dan mengedepankan prinsip pertimbangan profesional (professional judgment). Auditor yang memiliki profesionalisme yang bagus, dapat diliat dari sikap apa dan bagaimana yang dilakukan oleh auditor dalam melakukan auditnya. Dimana, auditor juga akan menggunakan fakta yang ada dengan cermat dan seksama dalam pengambilan keputusan auditnya tanpa adanya pengaruh dari pihak lain.

Standar Internasional Praktik Profesional Audit Internal (2017) menjelaskan, bahwa seluruh auditor internal bertanggungjawab untuk mematuhi Standar terkait dengan tanggungjawab individu dalam hal obyektivitas, profisiensi (kecakapan), kecermatan professional dan standar- standar yang terkait dengan pelaksanaan tanggungjawab pekerjaannya8.

2.3.3 Pengalaman Audit

Pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dijelaskan bahwa seorang auditor diisyaratkan memiliki pengalaman kerja yang cukup dalam profesi yang ditekuninya, serta dituntut untuk memenuhi kualifikasi teknis dalam bidang industri yang digeluti dalam Ika Sukriah dan Biana Adha Inapty (2009).

Sedangkan Indriyani dan Hakim (2021) menjelaskan pengalaman audit merupakan faktor dari dalam diri seseorang yang hanya bisa dikembangkan oleh pribadi tersebut

7 (Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, 2011)

8 (Standar Internasional Praktik Profesional Audit Internal, 2017)

(5)

melalui banyaknya penugasan yang dilakukan dan mampu mempengaruhi kemampuan auditor mendeteksi fraud. Semakin sering auditor internal tersebut berpengalaman mengaudit, maka auditor akan semakin mampu dan mahir sehingga cepat dalam penyelesaian laporan atas auditnya. Pengalaman yang dimiliki akan membentuk dari dalam diri auditor tersebut dalam menghadapi kasus- kasus dalam auditnya, tentunya auditor akan kritis dalam mendeteksi fraud.

2.3.4 Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Fraud

Kemampuan auditor dalam mendeteksi ada atau tidaknya kecurangan dalam laporan keuangan sangat penting, adanya SAS No. 99 bertujuan agar auditor mempertimbangkan fraud dalam proses audit dari awal dimulai sampai selesainya proses audit (AICPA, 2003). AICPA (2003) menyatakan bahwa, “SAS No. 99 is a comprehensive, far-reaching audit standard. It has the potential to significantly change the way we think about and perform audits”.9

Menurut The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) yang dikutip dalam buku Tuanakotta (2010) dalam penelitian (Atmaja, 2016) pengertian Fraud adalah Perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu (manipulasi atau memberikan laporan keliru terhadap pihak lain) dilakukan orang-orang dari dalam atau luar organisasi untuk mendapatkan keuntungan pibadi ataupun kelompok secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain.10 Dengan demikian Fraud adalah suatu tindakan yang melawan hukum dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain, atas tindakan tersebut membuat orang lain tertipu dan mengalami kerugian.

2.4 Pengembangan Hipotesis

2.4.1 Pengaruh Kompetensi terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Fraud Penelitian yang dilakukan (Ramadhany, 2015) menjelaskan bahwa semakin tinggi kompetensi yang dimiliki auditor maka auditor semakin tanggung jawab dalam

9 (AICPA, 2003)

10 (Atmaja, 2016)

(6)

mendeteksi kecurangan yang terdapat dalam laporan keuangan. Menurut (Atmaja, 2016) Penilaian yang dilakukan auditor untuk menentukan hasil audit sangat menuntut pengetahuan dan pengalaman yang merupakan unsur dari kompetensi auditor, dimana opini untuk menentukan salah saji material membutuhkan sikap dan pengetahuan. Hal yang sama juga dalam mendeteksi fraud. Kompetensi auditor sangat dibutuhkan untuk membuat auditor mampu mendeteksi ada tidaknya fraud.

Teori atribusi menjelaskan tentang perilaku seseorang yang difaktori oleh faktor internal timbul dari dalam diri seseorang. Kompetensi merupakan faktor dari dalam diri seorang auditor yang hanya bisa diterapkan oleh pribadi tersebut melalui banyaknya pengetahuan yang dimiliki sehingga auditor tersebut berkompeten dibidang audit dan mampu mempengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.

Kompetensi yang dimiliki auditor merupakan salah satu komponen penting dalam melaksanakan audit, karena kompetensi akan mempengaruhi tingkat keberhasilan auditor dalam mendeteksi kecurangan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Mustak et al., 2020) menyatakan bahwa kompetensi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.

Kompetensi mempengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud. Sehingga semakin tinggi kompetensi yang dimiliki auditor maka pengetahuan dan keahlian audit bagus, kemampuan lain terkait audit bagus, mampu memahami objek pemeriksaan audit dengan baik, dan kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud semakin tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi yang dimiliki maka kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud akan tinggi, sehingga kemungkinan bukti audit yang diperoleh semakin akurat. Berdasarkan teori, hasil penelitian terdahulu dan grand theory di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1: Kompetensi berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud

(7)

2.4.2 Pengaruh Profesionalisme terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Fraud

Teori atribusi menjelaskan tentang perilaku seseorang yang disebabkan dari faktor internal yang merupakan dorongan dari dalam diri seseorang dan dapat mempengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud. Auditor yang mempunyai tingkat profesionalisme tinggi akan lebih mudah mendeteksi fraud dikarenakan sifatnya yang teliti dan selalu mencari kebenaran atas bukti yang diterimanya (Indriyani dan Hakim, 2021)

Menurut (Susandya dan Suryandari, 2021) Skeptisme profesional auditor adalah sikap (attitude) auditor dalam melakukan penugasan audit dimana sikap ini mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit. Penelitian yang dilakukan oleh (Mokoagouw et al., 2018), menyatakan bahwa profesionalisme auditor berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan auditor eksternal dalam mendeteksi kecurangan. Dalam melakukan proses pengauditan auditor harus mampu mempertahankan sikap profesionalnya sehingga auditor mudah dalam menemukan adanya fraud di laporan keuangan. Sehingga dengan menggunakan sikap profesionalnya, maka seorang auditor dapat mendeteksi terjadinya salah saji baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun yang disebabkan oleh kecurangan.

Hasil penelitian tersebut didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kusuma et al., 2021), (Natalia dan Latrini, 2021), (Indriyani dan Hakim, 2021) menyatakan bahwa profesionalisme memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud. Profesionalisme mempengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud. Sehingga semakin tinggi profesionalisme yang dimiliki auditor maka auditor memiliki sikap kehati-hatian yang tinggi terhadap bukti audit, cermat dalam pemeriksaan laporan keuangan juga tinggi, tanggung jawabnya tinggi, memiliki sikap independensi yang tinggi, dan kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud semakin tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi profesional yang dimiliki auditor, maka semakin tinggi pula kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud, sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan juga semakin kecil. Berdasarkan teori, hasil

(8)

penelitian terdahulu dan grand theory di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud

2.4.3 Pengaruh Pengalaman Audit terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Fraud

Berdasarkan teori atribusi yang mendeskripsikan perilaku seseorang ditentukan oleh faktor internal yang merupakan karakter dari dalam diri seseorang. Pengalaman audit merupakan faktor dari dalam diri seseorang yang hanya bisa dikembangkan oleh pribadi tersebut melalui banyaknya penugasan yang dilakukan yang mampu mempengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud (Indriyani dan Hakim, 2021).

Menurut (Natalia dan Latrini, 2021) Seorang auditor dengan jam terbang yang tinggi biasanya lebih teliti dalam mendeteksi fraud dibanding auditor dengan jam terbang yang rendah karena auditor yang berpengalaman adalah auditor yang mampu mendeteksi, memahami dan bahkan mencari penyebab dari munculnya kecurangan- kecurangan tersebut. Menurut (Ramadhany, 2015) banyaknya penugasan audit yang pernah dilakukan seorang auditor, akan berpengaruh pada pengalaman auditor. Auditor yang mempunyai pengalaman yang sama dalam menyelesaikan tugas auditnya menunjukkan perbedaan yang besar. Yang berarti auditor dengan tingkat pengalaman yang sama, belum tentu pengetahuan yang dimiliki juga sama pula.

Menurut (Mokoagouw et al., 2018) pengalaman auditor berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan auditor eksternal dalam mendeteksi kecurangan.

Pengalaman audit mempengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.

Sehingga semakin tinggi pengalaman audit yang dimiliki auditor maka auditor memiliki keterampilan mengerjakan suatu pekerjaan itu tinggi, pengetahuan tentang dunia auditing semakin luas, semakin cepat menyelesaikan pekerjaan, mampu menjelaskan temuan audit dan kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud semakin cepat. Hasil penelitian tersebut dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

(9)

(Indriyani dan Hakim, 2021), (Rafnes dan Primasari, 2020), menyatakan bahwa Pengalaman Audit memiliki perngaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambahnya pengalaman auditor dalam melakukan audit maka membuat auditor semakin cepat dalam mendeteksi kecurangan.

Berdasarkan teori, hasil penelitian terdahulu dan grand theory di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3 : Pengalaman Audit berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud

2.5 Kerangka Berpikir

Pada penelitian ini dilakukan untuk menguji dan memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh kompetensi, profesionalisme, dan pengalaman audit pada Inspektorat Kota Batu.

Dimana kompetensi, profesionalisme, dan pengalaman audit ini akan mengacu pada penelitian terdahulu, kemudian peneliti akan menganalisa pengaruh kompetensi, profesionalisme, dan pengalaman audit ini terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud. Sehingga peneliti akan menganalisa apakah kompetensi, profesionalisme, dan pengalaman audit ini merupakan pengaruh kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.

Jika hasil yang diperoleh terdapat indikasi bahwa kompetensi, profesionalisme, dan pengalaman audit ini merupakan faktor penyebab pengendalian internal dan kode etik auditor yang melemah sehingga adanya kecurangan dalam menyajikan laporan keuangan maka bisa dikatakan bahwa hal tersebut memengaruhi kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.

Berdasarkan pengembangan hipotesis yang telah diuraikan diatas, maka dapat disusun gambar terkait dengan paradigma penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

(10)

H1

H2

H3

Gambar 1. Kerangka Berpikir

Keterangan :

Y= Variabel endogen Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Fraud X1= Variabel eksogen Kompetensi

X2= Variabel eksogen Profesionalisme X3= Variabel eksogen Pengalaman Auditor H1,H2,H3= Uji hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka diperoleh hipotesis sebagai berikut :

H1 : Kompetensi berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud H2 : Profesionalisme berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud H3 : Pengalaman Audit berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud

(X1) Kompetensi

(X2) Profesionalisme

(X3) Pengalaman

Audit

(Y) Kemampuan Auditor dalam

Mendeteksi Fraud

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Arus proteksi pada pipa tanpa coating cenderung naik turun dan tidak stabil jika dibandingkan dengan pipa yang diberi coating, hal ini diakibatkan karena pada

37 Hasil penelitian di daerah endemis GAKI dan Kabupaten Magelang menunjukkan hubungan yang signifikan antara paparan asap rokok dengan kejadian hipertiroid,

Dalam menganalisis kinerja keuangan Koperasi Simpan Pinjam Berkat. Laporan keuangan yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan neraca dan laporan rugi

Seperti halnya Marzali, Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Hayami dan Kikuchi (1981) menganalisis hubungan kontrak antara petani dan buruh tani hubungan (Patron

Selaku Ketua Panitia Penyelenggara mengharapkan dukungan dari para Pengurus PERMAPKIN Daerah, Direktur, Pengelola Rumah Sakit, Pimpinan Puskesmas, Pemilik Klinik dan

Kelebihan komposit serat panjang adalah lebih mudah diorientasikan, jika dibandingkan dengan serat pendek. Walaupun demikian serat pendek memiliki rancangan yang lebih

Secara umum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Nganjuk telah dapat melaksanakan tugas pokok yaitu melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang