• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 TINJAUAN KHUSUS METODE PEMASANGAN PELAT PRECAST

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 6 TINJAUAN KHUSUS METODE PEMASANGAN PELAT PRECAST"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

81

BAB 6

TINJAUAN KHUSUS

METODE PEMASANGAN PELAT PRECAST

6.1. Pendahuluan

6.1.1. Pengertian Pelat Precast

Pelat precast adalah pelat pracetak yang dibuat dengan cetakan dengan ukuran yang sudah ditentukan dengan gambar rencana sehingga menghemat biaya dan waktu.

Pada Proyek Pembangunan AEON Mixed Use Sentul City ini, penulangan pelat precast menggunakan sistem prategang.

6.1.2. Definisi Prategang

Beton prategang merupakan beton bertulang yang telah diberikan tegangan tekan dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam akibat beban kerja. (SNI 03- 2847-2002). Beton prategang juga dapat didefinisikan sebagai beton dimana tegangan tariknya pada kondisi pembebanan tertentu dihilangkan atau dikurangi sampai batas aman dengan pemberian gaya tekan permanen, dan baja prategang yang digunakan untuk keperluan ini ditarik sebelum beton mengeras (pratarik) atau setelah beton mengeras (pascatarik).

6.1.3. Konsep Beton Prategang

Perbedaan utama antara beton bertulang dan beton prategang pada kenyataannya adalah beton bertulang mengkombinasikan beton dan tulangan baja dengan cara menyatukan dan membiarkan keduanya bekerja bersama-sama sesuai dengan keinginannya, sedangkan beton prategang mengkombinasikan beton berkekuatan tinggi dan baja mutu tinggi dengan cara - cara “aktif”. Hal ini dicapai dengan cara menarik baja tersebut dan menahannya ke beton, jadi membuat beton dalam keadaan tertekan. Kombinasi aktif ini menghasilkan perilaku yang lebih baik dari kedua bahan tersebut. Baja adalah bahan yang liat dan dibuat untuk bekerja dengan kekuatan tarik yang tinggi oleh prategang. Beton adalah bahan yang getas dan kemampuannya menahan tarikan diperbaiki dengan memberikan tekanan, sementara kemampuannya menahan tekanan tidak dikurangi. Jadi beton prategang merupakan kombinasi yang commit to user commit to user

(2)

ideal dari dua buah bahan modern berkekuatan tinggi. Ada 2 jenis metode pemberian gaya prategang pada beton, yaitu:

a. Pemberian Pratarik (Pretension)

Pada metode pratarik, tendon ditarik sebelum beton dicor. Setelah beton cukup keras tendon dipotong dan gaya prategang akan tersalur ke beton melalui lekatan.

Metode ini sangat cocok bagi produksi massal. Baja prategang diberi pratarik terhadap pengangkeran independen sebelum pengecoran beton di sekitarnya.

Sebutan pratarik berarti pemberian pratarik pada baja prategang, bukan pada baloknya. Pemberian pratarik biasanya dilakukan di lokasi pembuatan beton pracetak.

Gambar 6.1. Metode Pemberian Prategang Pratarik

b. Pemberian Pascatarik (Post Tension)

Pada metode pascatarik, tendon ditarik setelah beton dicor. Sebelum pengecoran dilakukan terlebih dahulu dipasang selongsong untuk alur dari tendon. Setelah beton jadi, tendon dimasukkan ke dalam beton melalui selebung tendon yang sebelumnya sudah dipasang ketika pengecoran. Penarikan dilakukan setelah beton mencapai kekuatan yang diinginkan sesuai dengan perhitungan. Setelah penarikan dilakukan maka selongsong diisi dengan bahan grouting.

(3)

Gambar 6.2. Metode Pemberian Prategang Pascatarik

6.1.4. Dasar Perencanaan

Sebagai dasar perencanaan digunakan standar tata cara yang berlaku di Indonesia, antara lain:

a. Peraturan Beton Bertulang 1971 (PBI 1971) untuk pelaksanaan struktur beton.

b. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung 2002 (SNI 2847 Tahun 2013).

c. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987.

6.1.5. Latar Belakang

Dalam merencanakan suatu struktur bangunan, perlu dilakukan pertimbangan yang baik dalam mengambil keputusan. Seorang perencana harus mampu mendesain struktur yang kuat dengan biaya yang murah serta dapat dilaksanakan dengan cepat.

Adapun latar belakang penggunaan pelat precast, antara lain:

a. Percepatan progress pekerjaan. commit to user commit to user

(4)

b. Status perusahaan kontraktor sebagai Green contractor.

c. Mengurangi sampah sisa bekisting.

d. Mendapat hasil yang lebih presisi.

e. Menghemat biaya pengacian.

f. Ketika pengajuan opsi, precast lebih dipilih karena rambat akan api lebih lama.

Pelat precast digunakan di lantai F1, F2, F3, dan RF. Hal ini karena momen yang dipikul lebih kecil, selain itu elevasi lantai cenderung sama. Adapun area yang tidak dipasang precast meliputi: area penampungan air, area kamar mandi, area pelat yang tidak beraturan, dll.

6.1.6. Jumlah dan Jenis

Jenis pelat precast dari F1, F2, F3, dan RF berjumlah 691 jenis, adapun yang digunakan berjumlah 507 jenis. Total pelat precast yang dipakai berjumlah 4414 precast. Pelat precast yang digunakan berasal dari PT. PP Precast Plant Sadang Purwakarta.

Gambar 6.1. Tabel Pembagian Pelat Precast

Lantai Zone 1 Zone 2 Zone 3 Zone 4 Zone 5 Zone 6 Zone 7 Zone 8 Total

F1 317 323 192 265 125 221 101 85 1629

F2 308 334 198 234 117 182 103 97 1573

F3 137 75 0 79 0 75 0 92 458

RF 70 98 8 122 108 122 109 117 754

Total 832 830 398 700 350 600 313 391 4414

(5)

6.2. Metode Pembuatan Pelat Precast

6.2.1. Persiapan Langkah kerja:

1. Menyiapkan wiremesh dengan diameter 8 cm dan jarak antar tulangan 17 cm.

2. Menyiapkan tulangan dengan diameter 5 cm dan jarak antar tulangan 14,3 cm.

3. Menyiapkan anchor yang digunakan untuk proses penarikan tulangan.

4. Membersihkan cetakan pelat precast supaya bebas dari debu dan memberi pelumas supaya mudah dilepas ketika sudah kering.

Gambar 6.2. Menyiapkan Wiremesh

Gambar 6.3. Menyiapkan Tulangan

Wiremesh d17

Tulangan d5

commit to user commit to user

(6)

Gambar 6.4. Menyiapkan Anchor

Gambar 6.5. Pembersihan Cetakan

6.2.2. Pemasangan Langkah kerja:

1. Pemasangan tulangan diameter 5 cm dengan mesin tarik.

2. Pemasangan wiremesh diameter 8 cm diatas tulangan diameter 5 cm yang sudah ditarik.

3. Setelah pemasangan wiremesh selesai, 4 angkur dipasang untuk pengangkutan dan memasang relat sesuai dengan panjang pelat yang diinginkan.

(7)

4.

Gambar 6.6. Pemasangan Tulangan ke Mesin Penarik

Gambar 6.7. Pemasangan Wiremesh

Gambar 6.8. Pemasangan Angkur dan Relat

Anchor dipasang mesin penarik

Angkur

Relat

commit to user commit to user

(8)

6.2.3. Pengecoran Langkah kerja:

1. Menyiapkan campuran pasir, kerikil, semen, dan air dengan perbandingan komposisi sesuai dengan kualitas yang diinginkan. Pengadukan beton menggunakan mixer.

2. Setelah pengadukan beton selesai tuang adukan beton ke dalam bucket. Setelah itu angkut dan tuang ke cetakan.

Gambar 6.9. Menyiapkan Campuran Beton

Gambar 6.10. Penuangan Beton

6.2.4. Finishing Langkah kerja:

1. Membengkokkan tulangan melintang d8.

Bucket

(9)

2. Karena adanya penambahan toping cor di atasnya, maka perlu dibuat alur pada permukaan pelat untuk lebih merekatkan pelat precast dengan toping.

Kemudian menunggu beton kering sampai waktu yang ditentukan.

3. Matikan mesin penarik dan kemudian potong tulangan d5 dengan alat pemotong.

Gambar 6.11. Pembengkokan Tulangan Melintang

Gambar 6.12. Pembuatan Alur

commit to user commit to user

(10)

Gambar 6.13. Pemotongan Tulangan

6.2.5. Pengangkutan Langkah kerja:

1. Melakukan pengecekan dimensi dan apakah ada keretakan.

2. Setelah pengecekan, angkat pelat dengan menarik angkurnya secara bersamaan.

3. Meletakkan pelat ke atas truk yang sebelumnya telah dipasangi balok kayu atau karet untuk meredam getaran.

Gambar 6.14. Melakukan Pengecekan

(11)

Gambar 6.15. Pengangkatan Pelat

Gambar 6.16. Pengangkutan Pelat dengan Truk

6.3. Metode Pemasangan Pelat Precast

6.3.1. Alat dan Material 1. Bar cutter

2. Relat dan stopcor 3. Concrete vibrator 4. Perancah (PCH) 5. Air compressor 6. Truck mixer

7. Truck concrete pump

8. Pelat precast commit to user commit to user

(12)

9. Tower crane 10. Kalbon 11. Besi tulangan 12. Bendrat 13. Wiremesh 14. Beton ready mix 15. Trowel machine 16. Ecofilm

6.3.2. Pengecekan Langkah kerja:

1. Mengecek kondisi pelat precast, apakah terjadi kerusakan atau retak saat pengiriman. Pengecekan dilakukan langsung oleh QC.

2. Mengecek dimensi pelat precast apakah sesuai dengan gambar detail pelat precast. Apabila terjadi perbedaan ukuran, maka diberi toleransi ± 1 cm. Jika lebih dari batas toleransi, maka pelat precast ditolak.

Gambar 6.17. Pengecekan Pelat oleh Quality Control

6.3.3. Pengumpulan Langkah kerja:

Pelat precast yang sudah lolos pengecekan dikumpulkan di suatu tempat terlebih dahulu. Biasanya, pelat precast dikumpulkan di GF zone 3. Pada saat penumpukan,

commit to user commit to user

(13)

Gambar 6.18. Penumpukan Pelat Precast

6.3.4. Fabrikasi Tulangan Langkah kerja:

Pada atas permukaan pelat precast perlu ditambah toping untuk merekatkan pelat yang satu dengan yang lain. Pada saat pengecoran toping, perlu ditambah tulangan dan wiremesh. Adapun tulangan yang diperlukan adalah tulangan d13. Panjang tulangan d13 yang diperlukan ± 150 cm.

Gambar 6.19. Fabrikasi Tulangan

Bar Cutter

commit to user commit to user

(14)

6.3.5. Pemasangan Perancah Langkah kerja:

1. Pemasangan jack base.

2. Pemasangan standard pch dengan ketinggian 5,8 m.

3. Pemasangan ledger pch sebagai penyambung antar standard pch.

4. Pemasangan u-head jack pada bagian atas standard pch.

5. Pemasangan primary hollow beam di atas u-head jack.

6. Pada pemasangan perancah untuk pelat precast, tidak menggunakan secondary hollow dan tidak menggunakan bekisting pelat.

Gambar 6.20. Pemasangan Perancah

6.3.6. Pemasangan Ecofilm dan Tulangan Balok Langkah kerja:

Pemasangan ecofilm balok pada area pelat precast sama seperti biasanya. Bedanya, pada bagian tembereng balok menahan pelat precast. Penggunaan pelat precast mampu menekan penggunaan ecofilm.

Primary hollow beam

U-head jack

Standard pch Ledger pch

(15)

Gambar 6.21. Pemasangan Ecofilm

6.3.7. Pemasangan Pelat Precast Langkah kerja:

1. Di tempat pengumpulan pelat precast, sebelum diangkut, tulangan dibengkokkan terlebih dahulu. Tulangan memanjang dibengkokkan ke bawah dan tulangan melintang dibengkokkan ke atas.

2. Kemudian pelat precast diangkat menggunakan tower crane. Pelat precast dingkat pada bagian angkurnya.

3. Pelat precast ditempatkan sesuai dengan gambar rencana. Pada tulangan memanjang dimasukkan ke dalam tulangan balok. Setelah pelat precast terpasang, bengkokkan tulangan melintang ke bawah.

Gambar 6.22. Pembengkokan Tulangan Pelat Precast

Tembereng balok Tulangan

balok

commit to user commit to user

(16)

Gambar 6.23. Pengangkatan Pelat Precast dengan Tower Crane

Gambar 6.24. Penempatan Pelat Precast

6.3.8. Pemasangan Wiremesh dan Stopcor Langkah kerja:

1. Pasang wiremesh pada bagian atas pelat precast. Wiremesh ini berfungsi sebagai penahan gaya tarik pada bagian toping atas pelat precast. Kemudian meletakkan tulangan d25 diantara pelat precast dan wiremesh. Tulangan d25 ini sebagai pengganti beton decking.

2. Pasang tulangan ekstra d13 sepanjang ± 150 cm pada bagian atas balok.

Tulangan ekstra ini diperlukan pada area sambungan antar wiremesh yang berfungsi untuk mengurangi lendutan pada area tersebut. Pemasangan tulangan ekstra diikatkan ke tulangan wiremesh menggunakan bendrat.

Tower crane

commit to user commit to user

(17)

akan dicor. Stopcor harus mampu menahan gerakan beton yang dituang. Relat yang dipasang merupakan batas tinggi area yang akan dicor.

Gambar 6.25. Penempatan Wiremesh

Gambar 6.26. Pemasangan Tulangan Ekstra

Gambar 6.27. Pemasangan Stopcor dan Relat

Wiremesh

Tulangan ekstra

Relat Stopcor

commit to user commit to user

(18)

6.3.9. Checklist dan Joint Survey Langkah kerja:

1. Setelah wiremesh dan tulangan terpasang, cek kondisi tulangan apakah sesuai dengan detail gambar rencana atau tidak.

2. Sebelum dilakukan pengecoran, hitung volume pengecoran dengan joint survey.

Adapun volume yang dicek meliputi volume balok, kolom, dan toping pelat.

Joint survey berfungsi untuk mengecek apakah volume yang akan dicor di lapangan sesuai dengan gambar rencana. Selain itu, joint survey juga berfungsi sebagai batas untuk melakukan pemesanan volume beton.

Gambar 6.28. Proses Joint Survey

6.3.10. Pengecoran Langkah kerja:

1. Mempersiapkan alat penunjang pengecoran dan melakukan pembersihan area yang akan dicor.

2. Menyiapkan truck concrete pump dan pipa concrete pump. Kemudian beton ready mix diangkut dari batching plan dengan truck mixer. Setelah sampai lokasi, beton diuji slump dan kuat tekannya terlebih dahulu.

3. Memposisikan truck mixer dan truck concrete pump. Kemudian beton ready mix dituang dari truck mixer ke truck concrete pump.

4. Pada area sambungan ke beton lama diberi kalbon. Kemudian beton yang keluar

Pengecekan dimensi

(19)

5. Menggetarkan beton menggunakan vibrator agar masuk ke celah – celah sempit.

Kemudian ratakan beton menggunakan mesin trowel.

6. Setelah pengecoran, perancah masih terpasang. Perancah di bagian bawah pelat precast dilepas dan disisakan perancah buat menopang balok.

Gambar 6.29. Penuangan Beton

Gambar 6.30. Perancah Penopang Balok

commit to user commit to user

(20)

6.4. Pembahasan

6.4.1. Perbandingan Produktifitas Pekerjaan

Produktifitas pengerjaan pelat precast lebih tinggi dibanding pengerjaan pelat konvensional. Hal ini karena tidak adanya pemasangan bekisting ecofilm pelat dan proses penulangan yang lebih sedikit.

Pada Proyek Pembangunan AEON Mixed Use Sentul City ini, produktifitas pemasangan bekisting pada pelat precast 23,243 m2/hari sedangkan pada pelat konvensional 6,074 m2/hari. Untuk pemasangan besi tulangan pada pelat precast 44,633 m2/hari sedangkan pada pelat konvensional 4,646 m2/hari.

6.4.2. Kelebihan dan Kekurangan a. Kelebihan

1. Hemat biaya bekisting pelat lantai.

2. Penggunaan perancah lebih sedikit.

3. Pemasangan lebih cepat.

4. Kualitas lebih terjamin.

5. Mengurangi sampah sisa material.

b. Kekurangan

1. Pengerjaannya sangat tergantung dengan alat berat.

2. Memerlukan banyak ruang untuk stock penyimpanan sementara.

6.4.3. Evaluasi di Lapangan

1. Ujung pelat precast seharusnya masuk 3 cm ke dalam bekisting balok. Akan tetapi banyak yang kurang dari 3 cm.

2. Adanya celah yang cukup lebar antar pelat precast.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah : (1) Mengetahui lama waktu fermentasi yang optimum untuk menghasilkan tempe kedelai kuning dari Madura dengan

Selepas tempoh 12 bulan tamat, Wood akan menyemak jumlah saham belian yang terdapat pada akaun saham dalam talian anda; hanya saham yang anda beli layak menerima saham padanan.

Dalam rangka menempatkan program akreditasi sebagai bagian dari upaya sekolah/madrasah untuk meningkatkan mutunya secara berkelanjutan, maka sistem akreditasi

Adapun saran-saran yang penulis ajukan adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan Polres Kulon Progo dalam pengaturan waktu saat

Solusi dalam pengabdian masyarakat ini dengan memberikan materi penggunaan media sosial kepada warga RT 002/RW 002 Tegal Parang tentang Penggunaan Media Online

Joint venture/strategic alliance outsourcing, lebih terkait dengan pengembangan pengetahuan baru bagi klien, dan lebih menekankan pada resiko bersama dan

Berdasarkan hasil analisis perbedaan persepsi konsumen pada merek lokal (J.Co) dan nonlokal (Dunkin Donuts) dengan menggunakan One Way ANOVA pada beberapa variabel

Systematic review akan sangat bermanfaat untuk melakukan sintesis dari berbagai hasil penelitian yang relevan, sehingga fakta yang disajikan kepada penentu kebijakan menjadi