• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUPATI ACEH BARAT PROVINSI ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BUPATI ACEH BARAT PROVINSI ACEH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BUPATI ACEH BARAT PROVINSI ACEH

DRAFT PERATURAN BUPATI ACEH BARAT NOMOR ... TAHUN 2017

TENTANG

TRANSPARANSI PENGELOLAAN ANGGARAN GAMPONG DI KABUPATEN ACEH BARAT

DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

BUPATI ACEH BARAT,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan Gampong yang transparan dan terciptanya ketertiban dalam pelaksanaan hak masyarakat guna melakukan pengawasan atau pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa, perlu memberikan informasi kepada masyarakat dalam setiap tahapan dalam pembangunan di Gampong;

b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada huruf a perlu menetapkan Trasnparansi Dalam Pengelolaan Anggaran Gampong Di Kabupaten Aceh Barat Dengan Peraturan Bupati.

Mengingat : 1. Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28F, dan Pasal 28 J Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara;

3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851) ;

4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003

(2)

Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

7. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);

8. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61);

9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

10. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495);

11. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58;

12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737) ;

14. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 157);

17. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019;

(3)

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;

22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa;

Permendagri Nomor 110 Tahun 2016 Tentang BPD

23. Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 10 Tahun 2017 Tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Aceh Barat Tahun 2012-2017;

25 Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Qanun Kabupaten Aceh Barat Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Pemerintahan Gampong Perbup Kabupaten Aceh Barat Nomor .... Tahun ....

berkaitan dengan dana gampong MEMUTUSKAN:

Menetapkan : TRANSPARANSI DALAM PENGELOLAAN ANGGARAN GAMPONG DI KABUPATEN ACEH BARAT

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Aceh Barat.

2. Kabupaten Aceh Barat adalah bagian dari daerah Provinsi Aceh sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 yang dipimpin oleh seorang Bupati.

3. Pemerintah Kabupaten adalah penyelenggara urusan pemerintahan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten dan dewan Perwakilan Rakyar Kabupaten sesuai degan fungsi dan kewenangan masing-masing.

4. Bupati adalah Kepala Pemerintahan Kabupaten yang dipilih melalui suatu proses demokratis yang dilakukan berdasarkan azas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

5. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Gampong yang selanjutnya disingkat dengan DPMG adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Gampong Kabupaten Aceh Barat.

6. Camat adalah Perangkat Kabupaten yang memimpin penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan;

7. Gampong adalah kesatuan masyarakat hukum yang berada di bawah mukim dan dipimpin oleh keuchik yang berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri.

8. Pemerintahan Gampong adalah penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Gampong dan Tuha Peut Gampong.

9. Pemerintah Gampong adalah Keuchik beserta aparatur gampong lainnya yang memiliki tugas dalam penyelenggaraan pemerintahan gampong.

(4)

10. Tuha Peut Gampong yang selanjutnya disebut Tuha Peut adalah Badan Permusyawaratan Gampong yang anggotanya dipilih secara langsung dari dan oleh masyarakat gampong setempat yang terdiri dari unsur ulama, tokoh masyarakat setempat termasuk pemuda dan perempuan, pemuka adat dan cerdik pandai/cendekiawan yang ada di gampong yang berfungsi mangayomi adat istiadat. Membuat peraturan gampong, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat setempat serta melakukan pengawasan secara efektif terhadap penyelenggaraan pemerintahan gampong.

11. Keuchik adalah pimpinan suatu gampong yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri.

12. Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong, selanjutnya disingkat APBG adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan gampong yang terdiri dari anggaran pendapatan, anggaran belanja dan pembiayaan.

13. Dana Desa yang selanjutnya deisebut DD adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.

14. Alokasi Dana Gampong disingkat ADG, adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten dalam APBK setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.

15. Transparansi, adalah keterbukaan dalam perencanaan pembangunan yang melibatkan Badan Publik lainnya dengan menyediakan informasi publik yang memungkinkan setiap orang dapat mengetahui proses perencanaan pembangunan;

16. Dokumen, adalah data, catatan dan atau keterangan yang dibuat atau diterima oleh badan publik dalam rangka pelaksanaan kegiatannya baik tertulis diatas kertas atau sarana lain maupun terekam dalm bentuk corak apapun yang dapat dilihat, dibaca atau didengar;

17. Media masa, adalah alat untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat yang terdiri dari media cetak dan media elektronik;

BAB II

MAKSUD, DAN TUJUAN Bagian Kesatu

Maksud Pasal 2

Maksud Pelaksanaan Transparansi Pengelolaan Anggaran Gampong adalah untuk memberi ruang keterbukaan informasi dan mekanismenya dalam proses pembangunan Gampong kepada masyarakat.

Bagian Ketiga Tujuan Pasal 3

Tujuan Transparansi dalam pengelolaan anggaran pembangunan gampong adalah:

a. membuka akses masyarakat terhadap informasi publik;

(5)

b. membuka ruang partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan;

c. mendorong peningkatan kualitas aspirasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan;

d. mewujudkan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan Pemerintahan Gampong tepat sasaran;

e. partisipasi masyarakat dalam pengawasan pembangunan gampong; dan

f. memberikan tempat atau ruang bagi Tuha Peut sebagai lembaga penampung aspirasi masyarakat.

BAB III RUANG LINGKUP

Pasal 4

Ruang lingkup transparansi dalam proses pengelolaan pembangunan meliputi kegiatan:

a. perencanaan;

b. pelaksanaan anggaran;

c. Penatausahaan;

d. Pelaporan; dan

e. pertanggung jawaban.

BAB IV

KEWAJIBAN PENYELENGGARA PEMERINTAHAN GAMPONG Pasal 5

(1) Pemerintah Gampong berkewajiban memberikan informasi kepada masyarakat Gampong menyangkut tata kelola anggaran gampong;

(2) Dalam melakukan tata kelola anggaran gampong pada setiap tahapan, Keuchik beserta perangkatnya berkewajiban menginformasikan kepada masyarakat baik secara lisan, tertulis, maupun media massa, elektronik , serta media lainnya.

(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mengikuti ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.

BAB V

HAK DAN TANGGUNGJAWAB MASYARAKAT Bagian Ke Satu

Pasal 6Hak

(1) Masyarakat berhak memperoleh informasi tata pengelolaan anggaran Gampong;

(2) Hak atas informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa informasi atas dokumen perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, penata usahaan, hingga pelaporan dan pertanggungjawaban.

Bagian Ke Dua Tanggung Jawab

Pasal 7

(6)

Masyarakat bertanggungjawab mempergunakan sesuai peraturan perundang-undangan setiap informasi atau dokumen sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 6.

BAB VI

MEKANISME PENGAWASAN Bagian Kesatu

Tuha Peut Pasal 8

(1) Dalam pengelolaan anggaran Gampong, Tuha Peut berperan sebagai berikut:

a. membahas dan menyepakati Rancangan Qanun APBG bersama dengan Pemerintah Gampong;

b. melakukan pengawasan terhadap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penata usahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban;

c. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat gampong kepada Pemerintah Gampong; dan

d. hasil pengawasan dan peninjauan lapangan yang dilakukan tuha peut terlebih dahulu disampaikan kepada Pemerintah Gampong untuk dicarikan jalan keluar.

(2) Terhadap penyelesaian masalah yang disampaikan kepada pemerintah Gampong, sebagaimana dimaksud pada (1) huruf d, tidak melahirkan kesepakatan, Tuha Peut menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Bupati melalui Camat.

Bagian Kedua Masyarakat

Pasal 9

(1) Masyarakat berperanserta dalam melakukan pengawasan terhadap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penata usahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban.

(2) Temuan hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaporkan kepada Tuha Peut secara tertulis maupun lisan dengan menyertakan dokumen-dokumen pendukungnya.

(3) Setiap laporan masyarakat yang diterima oleh Tuha Peut baik lisan maupun tertulis wajib diberikan surat tanda terima laporan atau dicatat dalam Buku Penerimaaan Pelaporan.

(4) Dalam hal Tuha Peut tidak menindaklanjuti sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan terhadap temuan hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) selama 1 (satu) bulan sejak dilaporkan, masyarakat berhak meneruskan kepada camat dengan menyertakan dokumen pendukung.

(5) Setiap laporn yang diterma sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Camat wajib memberikan bukti penerimaan laporan.

(6) Dalam hal Camat tidak menindaklanjuti sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan terhadap lapaoran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) selama 1 (satu) bulan sejak dilaporkan, masyarakat berhak meneruskan kepada Bupati dengan menyertakan dokumen pendukung.

(7)

Bagian Ketiga Inspektorat

Pasal 10 (1) Inspektorat berwenang untuk:

a. menjadi tim pendamping Sistem Keuangan Desa (SISKEUDes) tingkat Kabupaten;

b. melakukan pembinaan atas pengelolaan anggaran Gampong;

c. melakukan audit operasional;

d. melakukan audit khusus atas penugasan Bupati; dan e. melakukan tindak lanjut atas hasil temuan audit.

(2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b, c, d, dan, e dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

BAB VIII

MONITORING DAN EVALUASI Pasal 11

(1) Camat dan Dinas Pembrdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) berwenang melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban anggaran gampong.

(2) Wewenang Camat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebagai berikut:

a. melakukan monitoring, pembinaan, dan evaluasi dalam tata kelola Dana Gampong;

b. memverifikasi laporan pengelolaan anggaran gampong;

c. melakukan koordinasi dengan instansi terkait pengelolaan anggaran gampong;

d. menyampaikan realisasi penyerapan anggaran gampong yang dilengkapi dengan dokumen kepada pemerintah kabupaten; dan

e. merekomendasikan kemajuan pencairan dana desa (DD) dan alokasi dana gampong (ADG) yang diajukan oleh keuchik.

(3) Wewenang Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sebagai berikut:

a. melakukan pembinaan kepada pemerintah gampong dalam tatakelola anggaran gampong;

b. melakukan verifikasi dokumen anggaran;

c. menerima, mengumpulkan dan menghimpun data kemajuan gampong dalam mengelola keuangan gampong;

d. memberikan evaluasi laporan terhadap realisasi dan serapan terhadap alokasi dana desa dan dana bantuan pendamping gampong;

e. membuat petunjuk teknis penggunaan DD dan ADD;

f. mkukan rapat koordinasi dengan instansi terkait; dan

g. mengeluarkan rekomendasi penyaluran anggaran gampong.

BAB IX

KETENTUAN PENUTUP

(8)

Pasal 12

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Aceh Barat

Ditetapkan di Meulaboh

Pada tanggal ....November 2017 M 1439 H BUPATI ACEH BARAT,

RAMLI MS Diundangkan di Meulaboh

pada tanggal 2017 M

1438 H SEKRETARIS DAERAH

KABUPATEN ACEH BARAT,

BUKHARI

BERITA DAERAH KABUPATEN ACEH BARAT TAHUN 2017 NOMOR :

Referensi

Dokumen terkait

Pengadaan Mobiler Kantor Untuk Pemerintahan Gampong Dalam Kabupaten Aceh Barat.. 1

Sebagaimana dalam peran Pengawasan yang dilaksanakan oleh Pelaksanaan Pengawasan Inspektorat Daerah atas penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Aceh Jaya, maka

Proses impregnasi dilakukan selama 24 jam, hasil yang diperoleh direaksikan dengan hidrogen peroksida sehingga diperoleh silika termodifikasi sulfonat.Karakterisasi yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kooperasi dan kompetisi secara parsial terhadap kinerja perusahaan, pengaruh kompetisi dan kooperasi

Scorecard merupakan sebuah sistem manajemen untuk mengimplementasikan strategi,mengukur kinerja yang tidak hanya dari sisi finansial semata melainkan juga melibatkan sisi

Suyanto (2006) melakukan studi pelaksanaan prinsip syariah terhadap kinerja dan kesejahteraan masyarakat dalam lingkungan kegiatan bank syariah di Indonesia selama

Dalam rangka menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel, peningkatan pengawasan, tanggap, profesional, efisien dan efektif, transparan, pelaksanaan,kesetaraan,

Dalam rangka mewujudkan terciptanya pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan bertanggung jawab serta untuk meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya