• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Entrepreneurship memiliki arti sebagai suatu usaha untuk menciptakan nilai melalui pengamatan atas suatu kesempatan bisnis, dengan melakukan manajemen terhadap risiko yang mungkin timbul serta keterampilan untuk berkomunikasi serta memobilisasi sumber daya yang ada terutama sumber daya manusia sehingga dapat menciptakan sesuatu yang menghasilkan (Hermawan Kartajaya). Euntrepeneur juga memiliki arti sebagai seseorang yang memiliki ide inovatif, dapat mencoba peluang yang ada dipasar dan memiliki pandangan merubah mimpi mereka menjadi kenyataan yang bersinar (Thombery, 2006).

Seiring berkembangnya zaman dan ilmu teknologi informasi, menyebabkan pertumbuhan entrepreneur di Indonesia mengalami peningkatan. Rasio wirausaha di Indonesia terbaru sudah meningkat menjadi 7% lebih dari total penduduk Indonesia. Pada tahun sebelumnya (2014), rasio wirausaha di Tanah Air baru 1,55%, kemudian meningkat menjadi 1,65% di 2016, hingga akhir tahun 2017 telah mencapai lebih dari 3,1%. Angka itu sudah di atas standar internasional yang mematok 2% (Puspayoga, Jakarta, 2018). Salah satu akibat dari pertumbuhan entrepreneur yang meningkat juga membuat pertumbuhan startup di Indonesia juga mengalami peningkatan. Alhasil, tempat kerja bersama menjadi banyak dicari karena dinilai dapat membantu bisnis startup, entrepreneur, dan UKM. Dalam hal ini mengakibatkan tempat kerja bersama yang kekinian dan nyaman atau yang dapat disebut sebagai Coworking Space pada akhirnya juga semakin menjamur dan dikenal oleh banyak orang.

Co-working space muncul sebagai alternatif dari ruang di gedung perkantoran yang relatif mahal. Mahalnya biaya sewa Gedung perkantoran menyebabkan banyak entrepreneur lebih memilih menggunakan coworking space dalam mengatasi masalah tersebut. Kebutuhan atas ruang kerja muncul karena banyak bisnis start-up dan semakin diminatinya freelance job (Mark Corbett, Co-founder

(2)

Pace Ventures). Coworking space didedikasikan untuk para pengusaha yang merasa sendiri dalam menjalankan usaha, khawatir dengan perasaan terisolasi, kehilangan interaksi antar manusia dan mencoba mencari peluang dari bersosialisasi. Melalui coworking space para pengusaha dapat berbagi pengalamannya mereka (Leforestier, 2009, hal. 4).). Jadi pada intinya analisis stategi Coworking space adalah untuk interaksi dan inovasi (Cabral V, Winden WV, 2016).

Keberadaan Coworking Space menjadi ruang kerja kekinian yang dapat mengakomodasi kebutuhan bagi para pelaku ekonomi kreatif, teknologi, dan bisnis serta para pelajar dan mahasiswa di kota Surakarta. Bagi pelajar dan mahasiswa, kehadiran Coworking Space digunakan sebagai tempat belajar bersama, diskusi dan membentuk komunitas yang positif. Di kota Surakarta, kehadiran Coworking Space menjadi ruang kerja kekinian mampu mengakomodasi kebutuhan pelaku ekonomi kreatif dan bisnis yang fleksibel ( Gibran R, 2021).

Kota Surakarta sendiri memiliki banyak peluang dan potensi menunjang bagi para pelaku ekonomi kreatif, teknologi, dan bisnis. Di kota Surakarta sendiri potensial untuk mengembangkan ekonomi kreatif selain itu juga Surakarta merupakan kota yang nyaman dan ramah lingkungan yang cukup konsisten dalam penerapannya. Sebagai contoh ada banyaknya bank sampah di Surakarta, penerapan green lab di UNS yang sangat digencarkan sebagai upaya mengurangi dampak global warming. Global warming merupakan salah satu permasalahan yang cukup complex dan memiliki dampak yang serius. Salah satu penyebab global warming adalah UHI (Urba Heat Island) atau panas perkotaan, UHI ini sangat memengaruhi kualitas udara, memengaruhi kesehatan manusia dan memengaruhi penggunaan energi (Guntara,2016). Adapula efek negative dari UHI antara lain adalah kematian ratusan orang pada musim panas yang disebabkan oleh gelombang panas diperkotaan, pengurangan kualitas air perkotaan sebagai akibat polusi dari panas berlebihan, dan peningkatan pemakaian listrik yang mendorong penambahan penggunaan bahan bakar fosil yang menyebabkan timbulnya pemanasan global (Guntara, 2016).

Surakarta merupakan salah satu kota yang memiliki temperature suhu yang panas, bahkan pernah mecapai disuhu tertinggi hingga 37 derajat celcius ( Iis Widya

(3)

H, Kepala seksi Data dan Informasi BMKG Jawa Tengah, 2019). Daerah kota cenderung memiliki suhu yang lebih panas karena terdapat berbagai aktivitas yang memicu panas. Hal ini diperparah jika terdapat senyawa gas rumah kaca di atmosfer yang dapat menyebabkan panas terperangkap dibawahnya sehingga suhu dapat menjadi semakin panas di daerah kota (Jana dan Saha, 2011; Tjasyono, 2004).

Fenomena tersebut terjadi sebagai salah satu dampak dari masalah lingkungan seperti global warming dan efek rumah kaca, dan ini menjadi salah satu faktor pendorong dibangunnya Coworking Space dengan menerapkan konsep ramah lingkungan. Coworking space merupakan tempat yang dapat memunculkan pikiran kreatif, sehingga perlu tempat yang tenang, sejuk dan memberikan suasana alami untuk ditinggali. Selain itu coworking space juga menjadi salah satu tempat yang sangat cocok untuk mengampanyekan isu global warming. karena banyak orang yang datang diharapkan dapat mempengaruhi cara pandang mereka terhadap lingkungan. Konsep interior yang sangat memedulikan lingkungan ini biasa disebut dengan istilah eco design, dengan eco design nantinya dapat juga menularkan eco green lifestyle dalam menjaga lingkungan bagi para pengunjung. Eco design mengarahkan desain produk untuk tujuan mengurangi dampak lingkungan. Dalam Ecodesign, pemilihan material memainkan peran utama pada biaya produk dan lingkungan kinerja sepanjang siklus hidupnya (Ribeiro I, Peças P, Henriques E, 2013 )

Ketika melihat data mengenai artikel beberapa coworking space yang ada di kota Solo dari situs idntimes, yang ditulis oleh Brahm, 2018 terlihat bahwa kebanyakan dari coworking yang ada di kota Solo lebih menggunakan konsep modern, minimalis hingga industrialis. Seharusnya gaya tidak hanya menyinggung masalah estetika tetapi juga dapat membangun kesadaran masyarakat mengenai permasalahan yang ada, salah satunya adalah masalah lingkungan yang hingga saat ini belum terselesaikan. Maka dengan konsep eco design dinilai lebih tepat dalam mewujudkan coworking space sebagai tempat yang sering dikunjungi dan dapat menjadi alternative kampanye dalam mewujudkan sikap peduli terhadap lingkungan. Dengan penerapan konsep eco design, desain interior dapat menjadi bagian dari upaya untuk turut serta dalam penyelamatan lingkungan. Mengingat

(4)

coworking space juga dikunjungi banyak orang sehigga bisa menyampaikna misi- misi eco design kepada pengunjung.

Keberadaan Coworking Space yang menerapkan konsep Eco Design dengan penuh pada perancangannya belum dijumpai di Surakarta, karena memang masih banyak perancangan yang belum menggunakan konsep ramah lingkungan tersebut.

Kurang sadar dan pedulinya manusia akan pentingnya lingkungan, dan menjaga lingkungan dalam menangani masalah global warming. Berdasarkan Profil Laporan IGRK (Invetarisasi Gas Rumah Kaca) tahun 2012 penyumbang emisi terbesar di Surakarta adalah dari Sumber listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari sektor transportasi, perumahan, pengelolaan sampah (BLH, 2012). Sehingga dengan adanya coworking space yang menerapkan aplikasi konsep eco design ini dapat menjadi salah satu upaya dalam mengatasi dan mengurangi permasalahan Global Warming di Surakarta dan menjadikan pengunjung memiliki gaya hidup selaras dengan eco design. Dengan konsep desain Eco Design yang diaplikaskan di interior Coworking Space menjadikan pengunjung memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan rasa kepedulian akan lingkungan sekitar dan dapat ikut mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan kepada yang lainnya selain itu pengunjung dpat merasa tenang dan nyaman sehingga bekerja menjadi lebih rileks dan produktif.

Berdasarkan potensi yang sudah dijelaskan tersebut, maka akan direalisasikan dalam wujud Desain Interior Coworking Space di Surakarta Dengan Konsep Eco Design yang dapat memberi kenyamanan bagi pengunjung dengan menawarkan gaya kerja kolaboratif dan efektif.

2. Batasan Masalah

Dalam perencanaan proyek tugas akhir Desain Interior Coworking Space di Surakarta Dengan Konsep Eco Design ini dibatasi pada cakupan permasalahan Desain Interior dengan luasan antara 800 m2 - 1200m2. Objek desain dibatasi pada :

1) Lobby & Loker 2) Coworking Area

(5)

3) Perpustakaan 4) Cafetaria 5) Event Space 6) Meeting Room 7) Private Office 8) Ruang Owner 9) Ruang Pengelola 10) Game Space 11) Pantry 12) Toilet 13) Gudang 14) Mushola

3. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dalam proyek tugas akhir Perancangan Interior Coworking Space di Surakarta Dengan Konsep Eco Design adalah : 1. Bagaimana mendesain interior Coworking Space yang memenuhi

fasilitas pengguna yaitu para pelaku ekonomi kreatif, teknologi, dan bisnis serta pelajar dengan memaksimalkan fungsi, kenyamanan dan ketenangan pengunjung?

2. Bagaimana mendesain interior Coworking Space dengan konsep Eco Design?

4. Tujuan

Tujuan yang ingin diraih dari proyek tugas akhir Desain Interior Coworking Space di Surakarta Dengan Konsep Eco Design adalah :

1. Menghasilkan desain interior Coworking Space yang memenuhi fasilitas pengguna yaitu para pelaku ekonomi kreatif, teknologi, dan bisnis serta pelajar yang fungsional, nyaman dan tenang bagi pengunjung

2. Menghasilkan desain interior Coworking Space yang menonjolkan keindahan dan fungsi dari konsep Eco Design.

(6)

5. Manfaat

Manfaat dari proyek tugas akhir Desain Interior Coworking Space di Surakarta dengan konsep Eco Design, antara lain :

1. Bagi Pemerintah dan Masyarakat

a. Memberikan alternatif rancangan interior sebagai sarana penunjang pekerjaan dan mengakomodasi kebutuhan para pelaku ekonomi kreatif, teknologi, dan bisnis serta pelajar dan sarana edukasi melalui perpustakaan yang berada didalam bangunan Coworking Space.

b. Memberikan solusi terhadap program ramah lingkungan melalui konsep Eco Design yang diterapkan dalam bangunan Coworking Space

2. Bagi Desainer

a. Mengenal dan menambah wawasan desain interior terhadap penerapan Eco design dalam perancangan Coworking Space b. Mengembangkan ide gagasan mengenai system interior yang berkaitan dengan bangunan yang edukatif, efektif dan efisien c. Mengembangkan kreativitas desainer dalam perancangan interior bangunan, pemanfaatan ruang, desain furniture serta penggunaan energi dan sumber daya yang efektif dan efisien sebagai perwujudan konsep eco design menjadi kesatuan yang estetis dan sesuai fungsinya.

(7)

6. Proses Desain

Proses desain pada proyek Tugas Akhir dilakukan dengan mengacu pada skema dibawah ini :

Identifikasi masalah

Studi literatur Studi lapangan

Pengembangan desain

Presentasi desain Konsep desain

Analisa data

Merancang desain Latar belakang

Rumusan masalah

Pengembangan desain programming

(8)

7. Metodologi Desain

7.1.1 Progamming

Setelah topic proyek ditetapkan yaitu Desain Interior Coworking Space di Surakarta Dengan Konsep Eco Design, maka dilakukan langkah- langkah pengumpulan data melalui:

a. Survey

Survey terhadap obyek-obyek yang terkait dengan Public Space Interior khususnya tentang Coworking Space serta Konsep Eco Design dan sejenisnya.

b. Observasi

Pengamatan atau observasi dilakukan untuk mendapatkan data lapangan terkait fasilitas sejenis yang telah ada termasuk untuk menangkap suasana interior Coworking Space di Surakarta yang terwujud.

c. Dokumentasi

Dokumentasi melalui pengambilan gambar dengan kamera dan sketsa pada ruang-ruang yang tidak diperkenankan diabadikan dengan peralatan pada saat melakukan survey dan observasi.

7.2. Analisa data

Data yang telah diperoleh kemudian dianalisa untuk disusun konsep skematik yang terdiri dari:

a. Zoning

Zoning dilakukan dengan cara membagi area Coworking Space menjadi area publik, semi publik, area private, dan area service sesuai dengan fungsi dari ruang tersebut.

b. Grouping

Grouping dilakukan dengan membagi zona berdasarkan ruangan yang memiliki kesamaan zona dan fungsi menjadi satu zona. Dalam

(9)

perancangan Coworking Space ini groupingnya adalah sebagai berikut :

1. Area Publik seperti meliputi area resepsionis & ruang tunggu.

2. Area Semi Publik seperti Area indoor (coworking area), Event Space, Perpustakaan, Cafetaria.

3. Area Private seperti Meeting room, Private Office, Owner Room.

4. Area Service meliputi Cafétaria, Mushola, Toilet, Pantry, game room.

c. Besaran ruang

Besaran ruang dihitung berdasarkan perhitungan dari fungsi kebutuhan ruangan sehingga dapat ditemukan perkiraan luasan yang dibutuhkan.

d. Organisasi ruang

Organisasi ruang berdasarkan Penataan ruang dalam satu area yang diorganisir sesuai dengan kebutuhan masing-masing ruang.

e. Alur sirkulasi

Alur sirkulasi pada ruangan diatur berdasarkan pergerakan pengguna sehingga mempermudah gerak pengguna dalam ruangan. Secara keseluruhan dalam perancangan ini adalah menggunakan pola sirkulasi radial. Pola sirkulasi radial memiliki pola jalan yang berkembang dari, atau menuju suatu pusat.

f. Pola hubungan antar ruang

Pola hubungan antar ruang dibuat berdasarkan keterkaitan atau hubungan antar ruang baik yang berhubungan secara langsung, tidak langsung, ataupun tidak berhubungan sama sekali.

(10)

7.3. Pengembangan Ide Gagasan

Pada proyek Desain Interior Coworking Space ini adalah menggunakan konsep eco design. Eco design identik dengan konsep desain yang ramah lingkungan, alami serta berkelanjutan.

Dengan konsep eco design juga diharapkan masyarakat dapat lebih mencintai lingkungan dan menjadi menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya sebagai salah satu upaya dalam mengatasi masalah global warming. Konsep eco design diterapkan pada coworking space, mengingat coworking space juga banyak dikunjungi orang sehingga dapat menyampaikan misi-misi eco design secara menyeluruh kepada pengunjung. Selain itu dengan perancangan tersebut diharapkan akan dapat lebih menarik minat masyarakat untuk berkunjung.

Pada proyek interior ini juga mengaplikasikan ide gagasan dari bentuk batik parang, dimana batik parang sendiri merupakan salah satu batik khas kota Surakarta. Batik parang sendiri merupakan Dari ide gagasan batik parang ini kemudian digunakan sebagai pembeda dan menjadi ciri khas dari desainnya baik itu dari bentuk furniture maupun diaplikasikan pada elemen-elemen interiornya. Selain itu dengan perancangan desain interior coworking space ini diharapkan akan dapat lebih menarik minat masyarakat untuk berkunjung.

7.4. Metode Desain

Pengembangan desain pada proyek Desain Interior Coworking Space Di Surakarta Dengan Konsep Eco Design ini dilakukan dengan menggunakan media gambar sketsa freehand dan dengan aplikasi Sketch up. Langkah yang dilakukan adalah berikut ini:

1. Membuat gambar sketsa interior atau furniture dengan pensil dan kertas

2. Mencari referensi denah

3. Memindah gambar ke dalam aplikasi Sketch up

(11)

4. Membuat variasi bentuk dan ukuran komponen ruang atau furniture dengan aplikasi Sketch up dalam beberapa alternatif

5. Memilih dan menerapkan material

6. Melakukan konsultasi dengan pembimbing proyek 7. Melakukan render hasil akhir dan membuat maket

7.5 Kerangka Berfikir

Berawal dari beberapa permasalahan seperti pertumbuhan entrepreneur yang semakin banyak dibarengi dengan berbagai jenis startup di Indonesia kemudian untuk menyewa kantor membutuhkan biaya yang mahal sehingga entrepreneur resah akan hal tersebut dan jika bekerja seharian dan sendirian di kantor terkadang merasa jenuh yang melatar belakangi dibuatnya fasilitas tempat kerja Bersama atau yang biasa disebut dengan coworking space di kota Surakarta guna memenuhi kebutuhan karyawan startup dengan memaksimalkan fungsi dan kenyamanan pengunjung. Kota Surakarta merupakan kota yang nyaman dan sudah termasuk ramah lingkungan sebagai upaya dalam mengurangi masalah lingkungan seperti global warming.

Global warming merupakn masalah yang serius, penyebabnya adalah UHI (panas perkotaan), polusi berlebihan, boros energi yang menimbulkan pemanasan global. Dalam interior biasanya disebabkan karena penggunaan material yang digunakan dalam ruangan memberi dampak tidak baik bagi lingkungan, pemborosan energi (listrik, air, dsb).

Sebagai solusinya maka digunakan konsep eco design pada perancangan coworking space ini. Coworking space ramai dikunjungi orang sehingga bisa menyampaikan misi-misi eco design kepada pengunjung agar lebih ramah lingkungan sebagai upaya mengurangi dampak global warming.

Didalam coworking space ini menerapkan prinsip eco design menurut Thompson dimana pembahasan dan pengaplikasiannya pada perancangan desain ini adalah sebagai berikut : penggunaan pencahayaan alami dan penghawaan alami diterapkan dengan banyaknya bukaan untuk

(12)

memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami, sehingga terjadi penghematan lampu dan pengkondisian udara pada siang hari. Kemudian memilih material-material yang ramah lingkungan seperti penggunaan bahan finishing yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya, material yang digunakan juga Sebagian besar dari bahan yang mudah terurai dan penggunaan material lokal seperti penggunaan rotan, kayu, dan juga bambu yang memang dikenal sebagai salah satu material ramah lingkungan.

Menggunakan furniture dan barang-barang hasil daur ulang seperti adanya furniture yang terbuat dari palet bekas, kemudian sofa dari drum bekas dan furniture dari kayu daur ulang sebagai edukasi pemanfaatan bahan daur ulang semaksimal mungkin. Adanya lahan cukup untuk sumur resapan dilengkapi dengan ruang hijau atau taman untuk mensuplai udara bersih seperti pada area coworking space ini yang banyak dijumpai ruang hijau dan taman. Adanya instalasi pembuangan air kotor yang benar dan sampah yang dapat didaur ulang Kembali yang banyak dijumpai di beberapa titik area coworking space sehingga menimbulkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan dapat memilah sesuai jenis sampah yang ada.

Konsep eco design dikemas dan menarik agar tidak monoton dan menarik pengunjung. Untuk itu maka didalam coworking space ini menerapkan adaptasi bentuk unik dari alam yang selaras dengan konsep eco design yaitu pengaplikasian transformasi bentuk dari batik parang.

Batik parang sendiri merupakan salah satu batik khas kota Surakarta dan bentuknya menyerupai bentuk ombak yang dicirikan dengan bentuk khas melengkung dan bergelombang yang saling terhubung. Dengan pengaplikasian bentuk ini dibeberapa elemen interior seperti ceiling, dinding dan beberapa furniture menjadikan ciri khas atau pembeda bagi coworking space ini dengan yang lainnya. Bentuk transformasi batik parang ini dibuat selaras dan disesuaikan dengan konsep eco design, sehingga diharapkan dengan ini pengunjung lebih sadar dan mencintai lingkungan alam yang ada.

(13)

8. Sistematika Penulisan

Laporan Tugas Akhir ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Berisi tentang abstrak, latar belakang, rumusan masalah, 13amboo13 masalah, tujuan, manfaat, proses desain, metodologi desain, dan sistematika penulisan

BAB II Kajian Literatur

Berisi tentang pengambilan data bersumber dari buku referensi maupun data yang bersumber dari internet yang digunakan sebagai pedoman dalam pengembangan laporan ini. Kemudian orisinalitas didapat dari 13amboo13 studi pembanding berdasarkan obyek coworking space yang telah ada dan akan menjadi studi pembandingnya dan komparatornya.

BAB III Kajian Lapangan

Berisi tentang hasil observasi yang dilakukan ditempat/objek sejenis dengan proyek desain ini, maka data didapat dari hasil observasi tempat coworking space yang ada.

BAB IV Analisa Dan Pengembangan Desain

Setelah data-data yang diperlukan sudah terkumpul, maka selanjutnya data tersebut diolah dan dianalisis. Analisa data dilakukan untuk mencari konsep desain Coworking Space &

Library.

BAB V Kesimpulan

Berisi tentang kesimpulan dari hasil 13amboo13 data, evaluasi konsep perancangan dan perencanaan serta keputusan desain dari konsep Desain Interior Coworking Space & Library Di Surakarta Dengan Konsep Eco Design

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat sebuah sistem yang menerapkan konsep Internet of Things (loT) dan sistem kendali jaringan (NCS) untuk aplikasi rumah

Sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di sekolah berkaiatan dengan materi pada mata pelajaran IPA, maka dipilih

Apa konsep bisnis yang dapat memberikan layanan untuk owner dan admin dalam menangani masalah sulitnya menginformasi meeting space , working space dan event space serta

Banyak metode ataupun teknik yang digunakan untuk mengatasi nyeri pada bahu, antara lain dengan pemberian Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation dan Stretching untuk

Dalam menganalisis faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk melakukan maintenance mesin Komori, maka langkah yang dapat digunakan untuk mencegah atau mengatasi

Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, dalam penelitian yang berjudul ‖Sistem Kendali Pakan Ikan Jarak Jauh Berbasis IoT Pada Akuaponik‖ ini

Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan pertanyaan yang lebih dari sekedar menggunakan kata tanya apa, dimana dan kapan tapi juga

Dari permasalahan yang ada, penelitian ini akan membuat sebuah perancangan sistem informasi manajemen berbasis website untuk mengatasi permasalahan dalam pembuatan rekap