• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II finalisasi

N/A
N/A
amir

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II finalisasi"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

A. Kajian Teoretik 1. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan sebuah proses perubahan perilaku secara komprehensif yang dilakukan secara sadar, dalam perubahan perilaku tersebut, terjadi karena sebab akibat dari proses pembelajaran. Selain itu hasil belajar merupakan sebuah pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial dari siswa dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran yang pada dasarnya perubahan tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Perubahan perilaku dapat terjadi bila dilakukan secara komprehensif, sebagai mana dikemukakan oleh Suprijono (2010 : 07) hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja, artinya hasil pembelajaran yang dikategorikan oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprehensif.

10

(2)

Berbeda dengan pendapat di atas hasil belajar merupakan pemekaran kecakapan-kecakapan potensial yang dimiliki oleh siswa. Hal ini dikemukakan oleh Sukmadinata (2005 : 102) yang mengemukakan bahwa Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.

Adapun pendapat lain hasil belajar merupakan suatu akibat dari proses pembelajaran. Hal tersebut ditegaskan oleh Sudjana (2008 : 276) mengemukakan bahwa Hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan pendapat yang berbeda yang diutarakan oleh Nasution (2008 : 276) berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenal pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang

(3)

bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi atau belum.

Dari pendapat sebelumnya Hasil belajar merupakan perubahan individu dalam proses pembelajarannya, sedangkan pendapat yang berbeda oleh Anitah, (2011 : 219) mengemukakan bahwa Hasil belajar merupakan kulminasi dari suatu proses yang telah dilakukan dalam belajar. Kulminasi akan selalu diiringi dengan kegiatan tindak lanjut. Hasil belajar harus menunjukan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif dan disadari. Bentuk perubahan tingkah laku harus menyeluruh secara komprehensif sehingga menunjukan perubahan tingkah laku.

Hasil belajar merupakan pencapaian memperoleh suatu kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.

Pendapat ini diungkapkan oleh Sanjaya (2008 : 13) berpendapat bahwa hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Dengan demikian, tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrumen yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

(4)

Pendapat sebelumnya mengatakan Hasil belajar merupakan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan pembelajaran, sedangkan menurut Juliah, (2004 : 15) Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Di tegaskan oleh Hamalik (2003 : 15) berpendapat hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian- pengertian dan sikap-sikap serta apersepsi dan abilitas. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Hasil belajar adalah kemampuan siswa setelah menerima pengalaman belajar yang dipengaruhi faktor dari dalam diri siswa dan lingkungan dimana terjadi perubahan tingkah laku sehingga siswa dapat mencapai prestasi yang maksimal.

Dari pendapat para ahli di atas, dapat dipahami bahwa hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa dalam proses pembelajaran yang bersifat pengalaman baik dari bentuk penguasaan, pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik.

(5)

b. Karakteristik Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa setelah mengalami proses belajar. Seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Namun, tidak setiap perubahan perilaku merupakan hasil belajar.

Adapun ciri-ciri perubahan perilaku sesuai yang dikemukakan Jihad dan Haris (2008:6) mengemukakan ciri-ciri perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar, yakni perubahan yang bersifat (1) Intensional (disengaja); (2) Positif dan aktif (bermanfaat dan hasil usaha aktif); dan (3) Efektif dan fungsional (berpengaruh dan mendorong timbulnya perubahan baru). Sedangkan, Sagala (2006:53) mengemukakan bahwa, perubahan perilaku sebagai hasil belajar ditandai dengan ciri-ciri perubahan yang spesifik, antara lain: (1) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus menerus, yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya; (2) Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual; (3) Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan; (4) belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan keseluruhan tingkah laku secara integral; (5) Belajar adalah proses interaksi; (6) Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada yang kompleks.

(6)

Ciri perubahan perilaku sebagai hasil belajar yaitu bersifat kontinyu dan fungsional sesuai yang dikemukakan Slameto (2010:3-4) menyatakan bahwa ciri-ciri perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar meliputi: 1) Perubahan terjadi secara sadar;

2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional; 3) Perubahan dalam belajar besifat positif dan aktif; 4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara; 5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah; 6) perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Sejalan dengan pendapat tersebut, Suprijono (2009:4) mengemukakan perubahan perilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri: 1) sebagai hasil tindakan instrumental yaitu perubahan yang disadari; 2) Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya. 3) Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup; 4) positif atau berakumulasi; 5) Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan; 6) permanen atau tetap; 7) Bertujuan dan terarah; 8) mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan.

Berdasarkan beberapa pandangan tentang ciri-ciri hasil belajar di atas, selanjutnya Surya yang dikutip oleh Hamdani, (2011:66-68), menjelaskan ciri-ciri dari perubahan perilaku sebagai hasil belajar, yaitu:

1) Perubahan yang disadari dan disengaja (Intensional)

(7)

Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga, dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan. Seperti bertambahnya pengetahuan dan keterampilannya setelah mengikuti proses belajar.

2) Perubahan yang berkesinambungan (Kontinu)

Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang telah diperoleh itu akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan berikutnya.

3) Perubahan yang fungsional

Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan.

4) Perubahan yang bersifat positif

Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menunjukkan ke arah kemajuan.

5) Perubahan yang bersifat aktif

Untuk memperoleh perilaku baru, peserta didik yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.

(8)

6) Perubahan yang bersifat permanen

Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.

7) Perubahan yang bertujuan dan terarah

Dalam kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Berbagai aktifitas dilakukan dan diarah untuk mencapai tujuan tersebut.

8) Perubahan perilaku secara keseluruhan

Perubahan perilaku belajar bukan sekedar memperoleh pengetahuan, melainkan juga adanya perubahan dalam sikap dan keterampilannya.

c. Prinsip-prinsip Penilaian Hasil Belajar

Penilaian hasil belajar memiliki prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh dalam pelaksanaan penilaiannya. Prinsip merupakan abstraksi suatu proses atau suatu hubungan mengenai kebenaran dasar atau hukum umum yang berlaku dibidang ilmu tertentu. Prinsip mungkin merupakan suatu pernyataan yang berlaku pada sejumlah besar keadaan, dan mungkin pula merupakan suatu dedikasi dari suatu teori atau asumsi. (Sudjana 2010: 26).

(9)

Prinsip di atas, diperjelas oleh Jihad dan Haris (2010: 63) denga mengemukakan pendapatnya bahwa sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut:

1) Menyeluruh dimana penguasaan kompetensi/kemampuan dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut domain kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, prilaku, dan menilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar.

2) Berkelanjutan dimana disamping menyeluruh, penilaian hendaknya dilakukan secara berkelanjutan (direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tidak langsung (dampak pengiring/ nurturan effect) dari proses pembelajaran.

3) Beorientasi pada indikator ketercapaian dimana sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/ kemampuan minimal dan standar kompetensinya.

(10)

Dengan demikian hasil penilaian akan memberikan gambaran mengenai sampai seberapa indikator kemampuan dasar dalam suatu mata pelajaran telah dikuasia oleh siswa.

4) Sesuai dengan pengalaman belajar dimana sistem penilaian dlam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas problem-solving maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) maupun produk/hasil melakukan problem-solving

Sedangkan prinsip-prinsip dalam bentuk penilaian dijelaskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (2011: 5) yaitu dalam melaksanakan penilaian hasil belajar, pendidik perlu memperhatikan prinsip – prinsip sebagai berikut :

1) Valid/sahih

Penialain hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.

2) Objektif

Penilaian hasil belajar peserta didik hendaknya tidak dipengaruhi oleh subjektifitas penilai, perbedaan latar

(11)

belakang agama, sosial ekonomi, budaya, bahasa, gender, dan hubungan emosional.

3) Transparan/ terbuka

Penilaian hasil belajar oleh pendidik bersifat terbuka artinya prosedur penilaian, kriteria penilaian dan dasra pengambilan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.

4) Adil

Penilaian hasil belajar tidak menguntung atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.

5) Terpadu

Penialain hasil belajar oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.

6) Menyeluruh dan berkesinambungan

Penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai,untuk memantau perkembangan perkembangan peserta didik.

7) Sistematis

(12)

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.

8) Akuntabel

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi teknik, prosedur, maupun haslinya

9) Beracuan kriteria

Penilaian hasil belajar oleh pendidik didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

Sementara itu dalam prosesnya prinsip penilaian dijabarkan oleh Dimyati dan Mudjiono (2006: 102) beberapa prinsip belajar tersebut antara lain sebagai berikut:

1) Belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar.

2) Belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantangnya.

3) Belajar menjadi bermakna bila guru mampu memusatkan segala kemampuan mental siswa dalam kegiatan program tertentu.

4) Sesuai dengan perkembangan siswa, maka kebutuhan bahan- bahan belajar siswa semakin bertambah, oleh karena itu, guru

(13)

perlu mengatur bahan dari yang paling sederhana sampai paling menantang.

5) Belajar menjadi menantang bila siswa memahami prinsip penilaian dan faedah nilai belajarnya bagi kehidupan dikemudian hari.

Dari sumber lain prinsip hasil belajar dijelasakan oleh Hermawan dan Riyana (2006:143) Prinsip dalam proses pembelajaran adalah pencapaian tujuan dan hasil belajar: 1).

Prinsip Keaktifan. 2). Prinsip Keterlibatan siswa. 3). Prinsip Pengulangan dan 5). Prinsip Tantangan.

Berdasarkan pedapat beberapa ahli, maka dapa dipahami bahwa prinsip-prinsip penilaian hasil belajar yaitu siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran secara objektif, adil, dan berkesinambungan.

d. Tujuan Penilaian Hasil Belajar

Tujuan utama dalam penilaian hasil belajar adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto yang dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono (2006:200) menyatakan bahwa hasil belajar pada akhirnya difungsikan dan ditujukan sebagai berikut:

(14)

1) Untuk diagnosis dan perkembangan

Penggunaan hasil dari kegiatan hasil belajar sebagai dasar pengdiagnosisan kelemahan dan keunggulan siswa beserta sebab-sebabnya berdasarkan pengdiagnosisan guru mengadakan pengembangan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar serta untuk memahami latar belakang (psikologis, fisik dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.

2) Untuk Seleksi

Hasil belajar sering kali digunakan untukmenentukan siswa- siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan untuk seleksi.

3) Untuk kenaikan kelas (sumatif)

Menentukan apakah siswa dapat naik ke kelas lebih tinggi atau tidak memerlukan informasi yang dapat mendukungn keputusan yang dibuat guru. Berdasarkan hasil belajar guru mengenal sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, maka guru dengan mudah membuat keputusan kenaikan kelas berdasarkan ketentuan yang berlaku.

(15)

4) Untuk penempatan

Agar siswa berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai.

Pendapat ini diperkuat oleh pendapat lain bahwa Hasil belajar difungsikan untuk diagnosis, seleksi, kenaikan kelas /sumatif dan penempatan lainnya dikemukakan oleh Hamalik (2008:159-160) menyatakan bahwa hasil belajar pada akhirnya difungsikan sebagai berikut:

1) Untuk diagnosis dan perkembangan

Hasil evaluasi menggambarkan kemajuan, kegagalan, kesulitan masing-masing siswa. Untuk menentukan jenis dna tingkat kesulitan siswa serta factor penyebabnya dapat diketahui dari hasil belajar atau hasil dari evaluasi. Data yang ada selanjutnya dapat didiagnosis jenis kesulitan apa yang dirasakan oleh siswa, dan selanjutnya dapat dicarikan alternative cara mengatasi kesulitan tersebut melalui proses bimbingan dan pengajaran remedial.

2) Untuk seleksi

Hasil belajar sering kali digunakan untuk menentukan siswa- siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan untuk seleksi.

(16)

3) Untuk kenaikan kelas (sumatif)

Menentukan apakah siswa dapat naik ke kelas lebih tinggi atau tidak memerlukan informasi yang dapat mendukung keputusan yang dibuat guru. Berdasarkan hasil belajar siswa mengenal sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, maka guru dengan mudah membuat keputusan kenaikan kelas berdasarkan ketentuan yang berlaku.

4) Untuk penempatan

Agar siswa berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai.

Penilaian hasil belajar merupakan suatu tingkat kemajuan hasil belajar siswa terhadap materi yang diberikan dalam pembelajaran. Pernyataan tersebut dipertegas oleh Arifin (2011:

15) yang menyebutkan tujuan penilaian hasil belajar adalah:

1) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah diberikan.

2) Untuk mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat, dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran.

3) Untuk mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

(17)

4) Untuk mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

5) Untuk seleksi dalam memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai dengan jenis pendidikan tertentu.

6) Untuk menentukan kenaikan kelas.

7) Untuk menetapkan peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Setiap kegiatan yang dilaksanakan pasti mempunyai tujuan, demikian pula dengan penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar memiliki tujuan umum dan tujuan khusus.Hal ini berkaitan dengan pernyataan Hamdani (2011: 302) menurutnya terdapat dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum meliputi menilai pencapaian kompetensi siswa, memperbaiki proses pembelajaran, dan menyusun laporan kemajuan belajar siswa. Tujuan khususnya untuk mengetahui kemajuan hasil belajar, mendiagnosis kesulitan belajar, memberikan umpan balik atau perbaikan proses belajar.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Tim Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar (2011:5) yang menyatakan hasil belajar memiliki tujuan penilaian hasil belajar diantaranya:

1) Tujuan umum:

a) Menilai pencapaian kompetensi peserta didik.

b) Memperbaiki proses pembelajaran.

(18)

c) Sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan belajar siswa.

2) Tujuan khusus:

a)Mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa.

b)Mendiagnosis kesulitan belajar.

c)Memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar.

d)Penentuan kenaikan kelas.

e)Memotivasi belajar siswa dengan cara mengenal dan memahami diri dan merangsang untuk melakukan usaha perbaikan.

e. Fungsi Penilaian Hasil Belajar

Fungsi penilaian hasil belajar berkaitan dengan sebagai pertimbangan dan penentu kenaikan kelas, umpan balik dan perbaikan proses dikemukakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (2011:5), menyatakan bahwa pengertian fungsi penilaian hasil belajar, fungsi penilaian hasil belajar yaitu: Bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar siswa dan evaluasi diri terhadap kinerja .

Sedangkan fungsi dan tujuan penilaian hasil belajar yang memperkuat pendapat di atas yaitu berkaiatan dengan fungsi formatif, umpan balik untuk perbaikan proses belajar, fungsi

(19)

sumatif dan menentukan nilai untuk laporan kenaikan kelas dikemukakan oleh Arifin (2011:20) mengemukakan bahwa fungsi penilaian hasil belajar adalah sebagai berikut: Fungsi formatif, untuk memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial bagi siswa, fungsi sumatif, untuk menentukan nilai atau angka belajar siswa dalam mata pelajaran tertentu, sebagai bahan laporan untuk kenaikan kelas, fungsi diagnosis, untuk memahami latar belakang (psikologis fisik dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar dan fungsi penempatan, untuk menempatkan siswa dalam situasi pembelajaran yang tepat.

Pendapat yang sama mengenai fungsi dan tujuan hasil belajar yaitu untuk mengetahui perkembangan dan keberhasilan yang didapatkan siswa melalui proses pembelajaran dikemukakan oleh Purwanto (2010:5-7) fungsi dari penilaian hasil belajar yaitu: Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami proses pembelajaran, untuk mengetahui tingkat program pengajaran, untuk keperluan bimbingan dan konseling, untuk pengembangan dan kurikulum di sekolah yang bersangkutan.

Tujuan utama dalam penilaian hasil belajar adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran. Sebagaimana yang

(20)

dikemukakan oleh Arikunto yang dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono (2006:200) menyatakan bahwa hasil belajar pada akhirnya difungsikan dan ditujukan sebagai berikut:

1) Untuk diagnosis dan perkembangan

Penggunaan hasil dari kegiatan hasil belajar sebagai dasar pengdiagnosisan kelemahan dan keunggulan siswa beserta sebab-sebabnya berdasarkan pengdiagnosisan guru mengadakan pengembangan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar serta untuk memahami latar belakang (psikologis, fisik dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.

2) Untuk Seleksi

Hasil belajar sering kali digunakan untuk menentukan siswa- siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan untuk seleksi.

3) Untuk kenaikan kelas (sumatif)

Menentukan apakah siswa dapat naik ke kelas lebih tinggi atau tidak memerlukan informasi yang dapat mendukungn keputusan yang dibuat guru. Berdasarkan hasil belajar guru mengenal sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, maka guru dengan mudah membuat

(21)

keputusan kenaikan kelas berdasarkan ketentuan yang berlaku.

4) Untuk penempatan

Agar siswa berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai.

Pendapat ini diperkuat oleh pendapat lain bahwa Hasil belajar difungsikan untuk diagnosis, seleksi, kenaikan kelas/sumatif dan penempatan lainnya dikemukakan oleh Hamalik yang dikutip oleh (2008:159-160) menyatakan bahwa hasil belajar pada akhirnya difungsikan sebagai berikut:

1) Untuk diagnosis dan perkembangan

Hasil evaluasi menggambarkan kemajuan, kegagalan, kesulitan masing-masing siswa. Untuk menentukan jenis dan tingkat kesulitan siswa serta faktor penyebabnya dapat diketahui dari hasil belajar atau hasil dari evaluasi. Data yang ada selanjutnya dapat didiagnosis jenis kesulitan apa yang dirasakan oleh siswa, dan selanjutnya dapat dicarikan alternative cara mengatasi kesulitan tersebut melalui proses bimbingan dan pengajaran remedial.

2) Untuk seleksi

Hasil belajar sering kali digunakan untuk menentukan siswa- siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis

(22)

pendidikan tertentu. Dengan demikian hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan untuk seleksi.

3) Untuk kenaikan kelas (sumatif)

Menentukan apakah siswa dapat naik ke kelas lebih tinggi atau tidak memerlukan informasi yang dapat mendukung keputusan yang dibuat guru. Berdasarkan hasil belajar siswa mengenal sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, maka guru dengan mudah membuat keputusan kenaikan kelas berdasarkan ketentuan yang berlaku.

4) Untuk penempatan

Agar siswa berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Tim Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar (2011:5) yang menyatakan hasil belajar memiliki fungsi penilaian hasil belajar diantaranya:

1) Bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas.

2) Umpan balik dalam perbaikan proses belajar mengajar.

3) Meningkatkan motivasi belajar siswa.

4) Evaluasi diri terhadap kinerja siswa.

Fungsi penilaian bukan hanya untuk menentukan kemajuan belajar siswa, tetapi lebih luas lagi dari pada itu.Penilaian membantu guru dan siswa untuk mencapai kepentingannya

(23)

dalam kegiatan belajar mengajar.Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (2007: 204) yang menjelaskan fungsi penilaian sebagai berikut:

1) Penilaian membantu siswa merealisasikan dirinya untuk mengubah atau mengembangkan perilakunya.

2) Penilaian membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya.

3) Penilaian membantu guru untuk menetapkan apakah metode mengajar yang digunakannya telah memadai.

4) Penilaian membantu guru membuat pertimbangan administrasi.

f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor. Secara umum faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibagi menjadi dua yaitu faktor intern (faktor dari dalam diri siswa) dan faktor ekstern (faktor dari luar diri siswa).

1) Faktor Internal (faktor dalam diri siswa)

Faktor dari dalam diri siswa (intern) yang berpengaruh terhadap hasil belajar. Faktor internal yaitu keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa, seperti yang kemukakan Syah (2010: 129) mengemukakan pendapat bahwa faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan

(24)

rohani siswa yang meliputi: aspek fisiologis seperti keadaan mata dan telinga, dan aspek psikologis seperti intelegensi.

Lebih lanjut faktor merupakan kecapakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan dan kesehatan serta kebiasaan siswa seperti yang dikemukakan Anitah (2011:27) Faktor dari dalam diri siswa (intern) yang berpengaruh terhadap hasil belajar diantaranya adalah kecapakapan, minat, bakat, usaha, motivasi, perhatian, kelemahan dan kesehatan serta kebiasaan siswa. Salah satu hal penting dalam kegiatan belajar yang harus ditanamkan dalam diri siswa bahwa belajar yang dilakukannya merupakan kebutuhan dirinya. Minat belajar berkaitan dengan seberapa besar individu merasa suka atau tidak suka terhadap materi yang dipelajari siswa. Minat inilah yang harus dimunculkan lebih awal dalam diri siswa. Minat, motivasi dan perhatian siswa dapat dikondisikan oleh guru.

Setiap individu memiliki kecapakan atau ability yang berbeda-beda. Kecapakapan tersebut dikelompokkan berdasarkan kecepatan belajar; yakni sangat cepat, sedang dan lambat. Demikian pula pengelompokkan kemampuan siswa berdasarkan kemampuan penerimaan, misalnya proses pemahamannya harus dengan cara perantara visual, verbal dan atau harus dibantu alat/media.

(25)

Faktor internal merupakan faktor di dalam siswa yang dipengaruhi kemampua belajarnya sesuai pendapat Susanto (2013:12) berpendapat bahwa faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: Kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.

Senada dengan yang di atas, faktor Internal yaitu Fisiologis & Psikologis seperti yang dikemukakan oleh Rosyada, (2010:25) bahwa faktor internal dibagi lagi menjadi dua bagian.

1) Kondisi Fisiologis

Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

2) Kondis Psikologis

Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama karena pada dasarnya anak memiliki psikologis yang berbeda-beda, terutama dalam hal kadar bukan dalam hal jenis, tentunya perbedaan ini

(26)

akan berpegaruh pada proses dan hasi belajar. Berikut faktor-faktor psikologi, antara lain:

a) Intelegensi b) Perhatian

c) Minat dan Bakat d) Motif dan Motivasi e) Kognitif dan Daya nalar

Kemudian pendapat serupa disampaikan Purwanto, (2007:7). bahwa hasil belajar dipengaruhi faktor dalam diri siswa yaitu fisiologi dan psikologi.

1) Faktor dari luar diri siswa (ekstern)

Faktor dari luar diri siswa (ekstern) yang berpengaruh terhadap hasil belajar. Faktor dari luar yaitu faktor lingkungan fisik dan nonfisik. Seperti yang diutarakan Anitah (2011:27) faktor dari luar diri siswa (ekstern) yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya adalah lingkungan fisik dan nonfisik (termasuk suasana kelas dalam belajar, seperti riang gembira, menyenangkan), lingkungan sosial budaya, lingkungan keluarga, program sekolah (termasuk dukungan komite), guru, pelaksanaan pembelajaran, dan teman sekolah. Guru merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap proses maupun hasil belajar, sebab guru merupakan manajer atau sutradara dalam kelas. Dalam hal

(27)

ini, guru harus memiliki kompetensi dasar yang diisyaratkan dalam profesi guru.

Senada dengan pendapat di atas, faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa. Seperti yang dikemukakan Syah (2010: 129) Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa yang meliputi; lingkungan sosial, lingkungan nonsosial (rumah, gedung sekolah, dan sebagainya),dan faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

Hasil belajar dipengaruhi faktor luar yaitu lingkungan dan instrumental sesuai yang dikemukakan Purwanto, (2007:7). Bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu: faktor luar (lingkungan dan instrumental). Kemudian pendapat serupa disampaikan menurut Susanto (2013:12) mengemukakan bahwa faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keluarga yang morat marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya,

(28)

serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik dari orangtua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.

Senada dengan yang di atas Rosyada, (2010:25) mengemukakan faktor eksternal yaitu faktor lingkungan dan faktor instrumental.

a) Faktor Lingkungan

Selama hidup anak didik tidak bisa menghindari diri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya. Interaksi dari kedua lingkungan yang berbeda ini selalu terjadi dalam mengisi kehidupan anak didik. Keduanya mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap belajar anak didik di sekolah. Oleh karena kedua lingkungan ini akan dibahas satu demi satu dalam uraian berikut.

(1) Lingkungan alami dimana lingkungan hidup adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha didalamnya.

(2). Lingkungan sosial budaya

Pendapat yang tak dapat disangkal adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk homo socius. Semacam makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama satu sama lainnya.

(29)

b) Faktor Instrumental

Program sekolah dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar.

(1) Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan.

(2) Program pendidikan di susun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan.

(3) Saran dan fasilitas, dimana sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan dan fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar guru yang harus dimiliki oleh sekolah

(4) Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan, kehadiran guru mutlak diperlukan didalamnya.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat diketahui faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu terdapat dua faktor, faktor yang pertama berkenaan dengan kemampuan siswa (individu), sedangkan faktor kedua merupakan faktor yang datangnya dari luar siswa yaitu faktor lingkungan. Kekuatan kedua faktor ini tidak dapat dipastikan, mana yang paling dominan. Dalam kondisi tertentu faktor internal yang dominan namun pada kondisi lain faktor eksternal yang lebih dominan

(30)

g. Jenis-jenis Hasil Belajar

Hasil belajar memiliki jenis-jenis, seperti yang dikemukakan Usman dikutip oleh Jihad dan Haris (2012 : 16) mengatakan bahwa jenis-jenis hasil belajar yang dicapai dapat dikelompokan kedalam tiga kategori, yakni :

1) Kognitif : a) Pengatahuan, b) pemahaman, c) aplikasi atau penggunaan prinsip atau metode pada situasi baru, d) analisa, e) sintesa, f) evaluasi.

2) Kemampuan sikap : a) menerima atau memperhatikan, b) merespon, c) penghargaan, d) mengorganisasikan, e) mempribadi (watak).

3) Psikomotorik : a) menirukan, b) manipulasi, c) keseksamaan, d) artikulasi, e) naturalisasi.

Jenis-jenis penilaian hasil belajar menurut Suprijono (2013 : 04) yaitu:

1) Perubahan prilaku

Perubahan prilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri : a) Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu

perubahan yang disadari.

b) Kontinu atau kesinambungan dengan prilaku lainnya.

c) Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup.

d) Positif atau berakumulasi.

e) Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan.

(31)

f) Permanen atau tetap, sebagaimana dikatakan oleh Witting, belajar sebagai any relatively permanent change in an organism’s behavioral reperoire that occurs as a result of experience.

g) Bertujuan dan terarah.

h) Mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan.

2) Belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan ingin dicapai. Belajar adalah proses sistematik yang dinamis, konstruktif dan organik. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar.

3) Belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara siswa dengan lingkungannya.

Secara garis besar dibagi menjadi 3 ranah, seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (2009 : 22) secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni :

1) Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

2) Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.

(32)

3) Ranah psikomotoris, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan geraka ekspresif.

Sedangkan jenis-jenis hasil belajar dikategorikan menjadi 3 yaitu kognitif, afektif, psikomotor. Seperti yang dikemukakan Susanto, (2013 : 49) Jenis – jenis hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga bidang, yakni :

1) Bidang kognitif : a) Pengetahuan hafalan (knowledge), b) Pemahaman (comprehention), c) Penerapan (aplikasi), d) Analisis, e) sintesis, f) Evaluasi.

2) Bidang afektif, yang berkenaan dengan sikap dan nilai.

3) Bidang psikomotor, tampak dalam bentuk keterampilan (skill).

Bloom (2011 : 171) mengemukakan aspek yang diukur dalam jenis hasil belajar , meliputi :

1) Aspek kognitif : a) pengetahuan, b) pemahaman, c) penerapan, d) analisis, e) sintesis, f) evaluasi.

2) Aspek psikomotor

Aspek psikomotor atau keterampilan adalah melakukan suatu jenis kegiatan tertentu.

(33)

3) Aspek Afektif

Keberhasilan siswa dinilai dari : a) sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran, b) minat yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran.

h. Cara meningkatkan hasil belajar

Dalam meningkatkan hasil belajar terdapat berbagai cara untuk meningkatkan hasil belajar, baik dengan menerapkan model, memberikan motivasi dan melakukan pendekatan pada siswa, atau melaksanakan pembelajaran secara konkret atau bersifat realistik. Hal ini dapat meningkatkan hasil belajar sebagaimana yang dikemukakan Abdullah, (2013 : 89) bahwa dengan model pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas belajar bersama sejumlah peserta didik dalam satu kelompok untuk saling membentu dalam mencapai tujuan penbelajaran.

Pendapat lain, cara meningkatkan hasil belajar merupakan pengajaran yang lebih ditunjukan pada latihan meneliti dan menemukan, hal ini diutarakan oleh Yufiarti, (2002 : 42) berpendapat bahwa cara meningkatkan hasil belajar yaitu dengan cara meningkatkan kualitas perkembangan kognitif sejak dini diusahakan pengajaran dan pendidikan yang lebih ditunjukkan pada latihan meneliti dan menemukan. Sebab, memberi beban otak dengan pengetahuan hafalan, latihan

(34)

ulangan, drill yang berlebihan, tidak akan menjadikan siswa berpikir yang khusus bersifat konvergen.

Adapun pendapat lain cara meningkatkan hasil belajar yaitu memberikan dorongan atau motivasi, seperti yang dikemukakan Hermawan dan Riyana (2006 : 143) yang mengatakan bahwa Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku yang terarah kepada pencapaian tujuan. Meningkatnya hasil belajar dipengaruhi motivasi baik motivasi intern maupun motivasi ekstern.

Sedangkan cara meningkatkan hasil belajar yaitu dengan memberikan pelajaran secara konkret yang diperkuat oleh pendapat Martini (2014 : 191) bahwa Sebuah usaha penanggulangan kesulitan belajar yang dialami siswa di Sekolah Dasar maka hal yang penting untuk meningkatkan hasil belajar adalah memberikan pengalaman belajar secara konkret.

Pengalaman belajar akan lebih bermakna bila menggunakan sebuah pendekatan yang bersifat konkret atau nyata.

Diperjelas belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan belajarnya, seperti yang dikemukakan oleh Slameto. (2010:74) mengemukakan pendapatnya bahwa belajar yang efektif dapat membantu siswa

(35)

untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan intruksional yang diinginkan.

Pendapat yang berbeda yaitu cara meningkatkan hasil belajar dengan memberikan motivasi, yang dikemukakan oleh Ali, (2011:85) keberhasilan belajar siswa sangat ditentukan oleh motivasi siswa dalam belajar. Bila siswa memiliki motivasi intrinsik, keinginan belajar akan muncul dengan sendirinya dari diri siswa itu sendiri. Pada tahap-tahap awal biasanya siswa belajar bukan atas kehendaknya sendiri tetapi karena adanya dorongan dari luar atau yang disebut dengan motivasi ektrinsik.

Hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.

Peserta didik yang memiliki kemampuan yang baik dalam belajar dan lingkungan yang menunjang akan dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan baik pula.

Hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern kemampuan. Siswa yang memiliki kemampuan yang baik dalam belajar dan lingkungan yang menunjang akan dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan baik pula.

Berdasarkan kajian teoretik di atas dapat disintesiskan bahwa Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada seseorang setelah melalui proses pembelajaran secara

(36)

aktif yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor, yang menimbulkan pengalaman dalam hidupnya, serta dapat dievaluasi secara terukur

2. Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kerangka konseptual yang melukiskan proses pembelajaran yang sistematis dan terorganisasi dalam melaksanakan pembelajaran secara kelompok serta bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep atau memecahkan masalah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dijabarkan oleh Winataputra dikutip oleh Suyanto (2013 : 134) mengartikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang aktvitas belajar mengajar.

Pendapat yang berbeda model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola dalam pelaksanaan pembelajaran yang dikemukakan Trianto. (2011 : 51) bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran yang tutorial.

(37)

Sedangkan pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, Sesuai dengan pendapat Suyatno (2009 : 51) bahwa model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran yang dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan atau inkuiri.

Pendapat serupa pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama, hal ini disampaikan Taniredja, et.al, (2012 : 55) bahwa Pembelajaran kooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.

Pendapat lain kooperatif merupakan pembelajaran yang bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif, Seperti yang dijelaskan Rusman (2012 : 202) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok- kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Pembelajaran dilakukan dengan cara meningkatkan aktivitas belajar bersama sejumlah peserta didik dalam satu

(38)

kelompok. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa untuk saling membantu mencari dan keterampilan. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah melatihkan keterampilan sosial seperti tenggang rasa, bersikap sopan terhadap teman, mengkritik ide orang lain, berani mempertahankan pikiran yang logis, dan berbagai keterampilan yang bermanfaat untuk menjalin hubungan interpersonal. (Abdullah, 2013 : 89).

Ada beberapa variasi jenis model dalam pembelajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah, jenis-jenis model pembelajaran kooperatif tersebut salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif picture and picture.

b. Tujuan pembelajaran kooperatif

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Jauhar (2011: 54) yaitu :

a) Hasil belajar akademik

b) Penerimaan terhadap perbedaan individu c) Pengembangan keterampilan sosial

(39)

Lungdren dikutip oleh Isjoni (2009 : 16) berpendapat tujuan model pembelajaran kooperatif yaitu :

1) Siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama’’

2) Siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau siswa lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

3) Siswa harus berpasangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.

4) Para siswa membagi tugas dan berbagai tanggung jawab diantara para anggota kelompok.

5) Siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

6) Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

7) Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

c. Pegertian model pembelajaran kooperatif picture and picture Model pembelajaran kooperatif picture and picture merupakan model pembelajaran yang menggunakan media gambar. Hal ini diperkuat menurut Tampubolon (2014 : 95)

(40)

bahwa model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dalam proses pembelajarannya dengan menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis.

Senada dengan pendapat sebelumnya pembelajaran kooperatif picture and picture merupakan pembelajaran yang menggunakan media gambar, Seperti yang diutarakan Suprijono, (2013 : 236) model pembelajaran kooperatif picture and picture merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran.

Pendapat serupa kooperatif picture and picture merupakan suatu metode belajar yang menggunakan gambar, Seperti yang dikemukakan oleh Hamdani (2011 : 89) Picture and picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar yang dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis.

Pendapat lain kooperatif picture and picture merupakan pembelajaran yang secara sadaar dan sistematis mengembangkan interaksi siswa, Seperti yang diutarakan Murniasih (2007:44) bahwa pembelajaran kooperatif Picture and Picture adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh dan merupakan metode belajar yang menggunakan gambar yang diurutkan menjadi suatu urutan yang logis.

(41)

d. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif Picture and picture

Dalam model pembelajaran memiliki sintaks atau langkah- langkah dalam pembelajaran, Tampubolon (2014 : 95) berpendapat bahwa langkah-langkah kegiatan pembelajaran (sintaks) model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah :

1) Pendidik menyampaikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang akan dicapai.

2) Pendidik menyampaikan materi sebagai pengantar.

3) Pendidik memperlihatkan gambar yang berkaitan dengan materi.

4) Pendidik memanggil peserta didik secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.

5) Pendidik menanyakan alasan pikiran urutan gambar tersebut.

6) Berdasarkan urutan gambar, pendidik menanamkan konsep/materi sesuai dengan SK/KD yang ingin dicapai.

7) Menyampaikan/merangkum bersama peserta didik.

Senada dengan pendapat sebelumnya, Ngalimun (2012 : 177), Wardoyo (2013 : 55), Suprijono dikutip oleh Huda (2013 : 236) dari ketiga ahli ini menyatakan bahwa model pembelajaran

(42)

kooperatif picture and picture dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini :

1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

2) Menyajikan materi sebagai pengantar.

3) Guru menunjukan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.

4) Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.

5) Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.

6) Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

7) Kesimpulan/rangkuman.

Dari pendapat sebelumnya, lebih dikembangkan lagi oleh Istarani (2011 : 07) bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif picture and picture adalah sebagai berikut :

1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai dan indikator-indikator pembelajaran agar siswa dapat mengukur sampai sejauh mana pelajaran yang harus dikuasai.

(43)

2) Memberikan materi pengantar sebelum kegiatan, karena kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini dan guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian agar siswa dapat tertarik untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.

3) Guru menyediakan gambar-gambar yang akan digunakan (berkaitan dengan materi) dan siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya.

4) Guru menunjuk siswa secara bergilir untuk mengurutkan atau memasangkan gambar-gambar yang ada dengan melakukan inovasi dengan diurutkan, dibuat atau dimodifikasi.

5) Guru memberikan pertanyaan mengenai alasan siswa dalam menentukan urutan gambar. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam pembelajaran akan semakin menarik.

6) Dari alasan tersebut guru akan mengembangkan materi dan menanamkan konsep materi yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, dan pastikan bahwa siswa telah menguasai indikator yang telah ditetapkan.

7) Guru menyampaikan kesimpulan. Diakhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan materi pelajaran.

(44)

e. Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif picture and picture

1) Kelebihan model pembelajaran kooperatif picture and picture Setiap model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, begitupun model pembelajaran kooperatif picture and picture ini. Kelebihan kooperatif yaitu dapat melatih siswa untuk berpikir sistematis dan logis, seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi (2011 : 58) kelebihan dari model ini adalah dapat melatih siswa untuk berpikir logis dan sistematis dan guru dapat lebih mempengaruhi kemampuan dari masing-masing siswanya.

Sedangkan kelebihan kooperatif picture and picture yaitu pembelajaran lebih terarah dan dapat meningkatkan daya nalar/daya pikir serta dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa, seperti yang disampaikan Istarani (2011 : 08) kelebihan model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah :

a) Materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat terlebih dahulu.

b) Siswa lebih cepat menangkap materi ajar karena guru menunjukan gambar-gambar mengenai materi yang di pelajari.

(45)

c) Dapat meningkatkan daya nalar atau daya pikir siswa karena guru meminta siswa untuk menganalisa gambar yang ada.

d) Dapat meningkatkan tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan gambar.

e) Pelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung gambar yang telah dipersiapkan oleh guru.

Selain kelebihan picture and picture guru dapat mengetahui kemampuan siswa dan siswa dapat dilatih untuk berpikir logis dan sistematis melalui gambar-gambar, seperti yang disampaikan Hamdani (2011 : 89) menyatakan bahwa kelebihan model ini adalah guru dapat lebih mengetahui kemampuan dari tiap-tiap siswa dan melalui model pembelajaran ini siswa dapat dilatih untuk berpikir logis dan sistematis melalui gambar-gambar yang disajikan.

2) Kekurangan model pembelajaran kooperatif picture and picture

Kekurangan picture and picture yaitu dalam pembelajarannya banyak memakan waktu dan masih banyak siswa yang pasif, seperti yang dikemukakan oleh Hamdani (2011 : 89) kekurangan dari model pembelajaran kooperatif picture and picture ini adalah memakan waktu dan pada saat pembelajaran masih banyak siswa yang pasif.

(46)

Sedangkan kekurangan picture and picture sulit menentukan gambar dan sulit menemukan gambar karena guru ataupun siswa kurang terbiasa, seperti yang disampaikan Istarani (2011 : 08) kekurangan model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah:

a) Sulit menentukan gambar-gambar yang bagus dan berkualitas serta sesuai dengan materi pelajaran.

b) Sulit menemukan gambar-gambar yang sesuai dengan daya nalar atau kompetensi siswa yang dimiliki.

c) Baik guru ataupun siswa kurang terbiasa dalam menggunakan gambar sebagai bahan utama dalam membahas suatu materi pelajaran.

d) Tidak tersedianya dana khusus untuk menemukan atau mengadakan gambar-gambar yang diinginkan.

Selain itu kekurangan picture and picture siswa lebih banyak yang pasif, seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi (2011 : 58) menyatakan bahwa kekurangan dari model pembelajaran kooperatif picture and picture ini adalah lebih banyak siswa yang pasif dalam pembelajaran dan pembelajaran ini akan lebih banyak memakan waktu.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disintesiskan bahwa model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah suatu model pembelajaran yang memilki langkah-

(47)

langkah (sintaks) dalam proses pembelajaran yang menitik beratkan pada unsur kerjasama antar kelompok ataupun individu dalam sebuah kelompok yang menerapkan konsep pembelajaran dengan menggunakan gambar. Model kooperatif picture and picture memiliki kelebihan dan kekurangan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

B. Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teoretik di atas, dapat disusun kerangka berpikir bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada seseorang setelah melalui proses pembelajaran secara aktif yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor, yang menimbulkan pengalaman dalam hidupnya, serta dapat dievaluasi secara terukur. Hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern kemampuan. Siswa yang memiliki kemampuan yang baik dalam belajar dan lingkungan yang menunjang akan dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan baik pula.

Model pembelajaran kooperatif picture and picture adalah suatu model pembelajaran yang memilki langkah-langkah (sintaks) dalam proses pembelajaran yang menitik beratkan pada unsur kerjasama

(48)

antar kelompok ataupun individu dalam sebuah kelompok yang menerapkan konsep pembelajaran dengan menggunakan gambar.

Model kooperatif picture and picture memiliki kelebihan dan kekurangan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir Tindakan Reflektif dengan Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat diajukan hipotesis tindakan: Penerapan model pembelajaran kooperatif picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas VA Sekolah Dasar Negeri Tarikolot 02 kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor tahun ajaran 2016/2017.

Kondisi awal

Guru/Pendidik

Belum mengoptimalkan model pembelajaran

Siswa

Hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam belum mencapai indikator keberhasilan penelitian

Tindakan

reflektif Guru/Pendidik Menerapkan model pembelajaran kooperatif picture and picture dalam bentuk siklus

Siswa

Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran menjadi meningkat

Kondisi akhir

Guru/Pendidik

Melaksanakan penilaian/

analisis data/ refleksi dibantu oleh kolaborator

Siswa

Hasil belajar siswa baik akademikmaupun non akademik meningkat

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir Tindakan Reflektif dengan Model Pembelajaran Kooperatif Picture And Picture

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Selain dari beberapa karya di atas, Fazlur Rahman pernah menulis artikel yang berjudul “Iqbal in Modern Muslim Thoght” Rahman mencoba melakukan survei terhadap

Dengan mempertimbangkan pilihan-pilihan adaptasi yang dikembangkan PDAM dan pemangku kepentingan, IUWASH juga merekomendasikan untuk mempertimbangkan aksi-aksi adaptasi

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

siswa dalam kelompok untuk mencapai kompetensi belajar (Johnson & Johnson, 1987).  Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok. kecil dan diarahkan untuk mempelajari subtansi

Perlu dilakukan pengujian usulan model pemilihan mahasiswa lulusan terbaik pada contoh kasus yang berbeda sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan

yang direkomendasikan Jika produk ini mengandung komponen dengan batas pemaparan, atmosfir tempat kerja pribadi atau pemantauan biologis mungkin akan diperlukan untuk

Dari yang telah dirumuskan di atas, pokok permasalahan pada tulisan ini yaitu: langkah apa saja yang diambil Pemerintah Indonesia dalam upaya mendukung Palestina agar